Aku Simon dari Kirene

Aku Simon dari Kirene

Aku Simon dari Kirene. Namaku menunjukkan bahwa aku tinggal di benua Afrika. Meski demikian, kulitku tidak hitam dan bibirku pun tidak tebal. Dan meskipun sudah selama beberapa generasi keluargaku berdiam di Kirene, ibu kota Kireneika -- sebuah kota Yunani di Afrika Utara yang terkenal karena kemakmuran dan para ahli filsafatnya -- kulitku tidaklah putih.

Aku Simon dari Kirene. Aku orang Yahudi asli sampai ke jantung hati. Sejak kecil, kutaati semua hukum agama tanpa kecuali, walaupun aku tak lagi fasih berbahasa Aram akibat dibesarkan dalam masyarakat yang berbahasa Yunani.

Aku Simon dari Kirene. Aku tidak ingin berkisah tentang diri sendiri. Juga tidak tentang semua pengalaman hidupku. Aku cuma ingin bercerita tentang pengalamanku yang satu itu. Pengalaman yang kemudian mengubah seluruh jalan hidupku. Dan seluruh jalan hidup Anda, sekiranya Anda juga mengalaminya.

Hari itu adalah hari Jumat. Aku baru saja tiba di Yerusalem pagi itu. Tujuanku melakukan perjalanan yang jauh itu adalah untuk merayakan hari raya Paskah. Setiap tahun aku melakukannya. Tidak sedikit pun aku heran melihat orang-orang penuh sesak memadati kota. Walaupun letih, segera setelah menaruh barang-barangku di hotel dan membersihkan badan, aku keluar berjalan-jalan untuk menikmati keriuhan kota yang sedang larut dalam semarak pesta. Lengking jeritan anak-anak yang berlari ria kian kemari, teriakan membujuk bahkan kadang-kadang memaksa para pedagang yang menjajakan barang-barangnya, dan bau asap dupa atau suara syahdu orang-orang yang menyanyikan kidung-kidung pujaan -- semua itu membuat aku lupa akan keletihanku. Suasana yang agak liar ini memang berbeda benar dengan suasana Kirene yang sopan dan tertib. Namun, lebih hidup.

Tiba-tiba ada kegaduhan yang tak biasa. Para serdadu Roma menyeruak massa. "Ah, lagi-lagi pawai laskar-laskar Romawi untuk mengingatkan siapa yang berkuasa di negeri ini," pikirku. Akan tetapi tidak. Di baris paling depan, ada seorang serdadu yang memegang panji bertulis: "Yesus, orang Nazaret, raja orang Yahudi." Aku memang belum pernah berjumpa dengan-Nya. Akan tetapi, nama "Yesus", siapa yang tak mengenal-Nya? Dia adalah tokoh paling kontroversial. Yang tak dapat kumengerti, mengapa serdadu Romawi mengarak panji seperti itu. Karena itu, aku mendekat untuk melihat lebih dekat. Di tengah pagar betis laskar-laskar Roma itu, tiga orang melangkah pelan memanggul salib. "Penjahat-penjahat besar," pikirku. Namun, apa hubungannya dengan panji itu? Kemudian aku semakin mengerti. Riuh rendah massa rakyat menyebut-nyebut nama Yesus sambil mencemooh-Nya. Tidak kurang pula yang meludahi-Nya. Akan tetapi, yang manakah Yesus di antara ketiga orang itu?

Aku Simon dari Kirene. Aku semakin mendekat. Lalu aku tahu dengan pasti yang mana Yesus. Dia paling kecil, hampir tidak berotot. Rambut panjang-Nya terurai, lekat di sana-sini oleh darah kering yang berasal dari duri-duri yang teranyam di kepala-Nya. Sekujur tubuh-Nya biru lebam. Langkah-Nya tertatih-tatih. Amat letih. Akan tetapi mata-Nya -- meski merah sebab kurang tidur -- namun tetap tajam menusuk setiap kali menatap. Anehnya, juga begitu lembut menyejukkan. Aku tak dapat lepas memandang mata-Nya itu. Penuh wibawa, tapi juga begitu menenangkan dan kebapakan.

Lalu Dia roboh. Tubuh-Nya yang kecil dan nyaris hancur itu tak kuat lagi menahan bobot salib di pundak-Nya. Massa berteriak kesenangan bagai binatang liar yang haus darah. Cemeti melayang menyayat punggung-Nya. Darah muncrat. Dan Dia pun bangkit lagi pelan-pelan. Keletihan. Tapi mata-Nya itu, oi, mata-Nya. Lalu Dia berjalan beberapa langkah. Namun, roboh lagi. Arak-arakan berhenti. Massa semakin buas. Cemeti melayang berulang-ulang. Darah muncrat. Namun, Dia tak mampu bangun kembali.

Aku Simon dari Kirene. Entah mengapa, aku tak terkesan benar oleh semua itu. Kecuali oleh tatapan mata-Nya. Mata-Nya itu, oi, mata-Nya. Sebab itu, aku bagaikan tak sadar ketika seorang serdadu tiba-tiba menarik aku. Dan meletakkan salib itu ke atas pundakku. Aku tak merasa apa-apa. Yang aku tahu hanyalah betapa dekatnya Dia denganku sekarang. Dia tidak berbicara apa-apa. Diam seribu bahasa. Namun, mata-Nya mampu mengganti ribuan kata.

Aku Simon dari Kirene. Aku ke Golgota memanggul salib-Nya. Dan melalui itulah aku ikuti setiap peristiwa demi peristiwa. Melalui itulah aku mengenal Dia begitu dekat, begitu akrab. Kukenal Dia begitu akrab, walau tak sepatah kata pun terucap dari mulut-Nya. Kukenal Dia, karena telah kupanggul salib-Nya dalam langkah-langkah mengikuti Dia ke Golgota. Bila ada satu hal terpenting yang ingin kukatakan kepada Anda, para pembaca, maka hal itu adalah bahwa kita tidak memilih salib kita sendiri. Salib itu dibebankan ke pundak kita begitu saja. Tanpa kita duga. Tanpa dinyana. Namun, bila kita mau memanggulnya dan berjalan bersama Dia, maka kita akan mengenal Dia begitu dekat dan begitu akrab. Dan ketika kita mengenal-Nya begitu dekat dan begitu akrab, ketika kita hanya mau memandang tatap mata-Nya, maka salib itu tak akan terasa menekan pundak.

Aku Simon dari Kirene. Setelah kupanggul salib yang tak kupilih itu, seluruh jalan hidupku pun berubah sama sekali. Anak-anakku, Aleksander dan Rufus, telah memilih Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat mereka. Istri, ibu, dan anak-anakku telah dianggap sebagai ibu sendiri oleh Paulus, sang pengabar Injil terbesar itu. Dan kami bahagia. Amat bahagia.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Mengapa Harus Salib?
Penulis : Pdt. Eka Darmaputera, Ph.D.
Penerbit : Gloria Graffa, Yogyakarta 2002
Halaman : 59 -- 63
Kategori: 

Tinggalkan Komentar