Search the Site:

Archive - Feb 2007

Tanggal
  • All
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15
  • 16
  • 17
  • 18
  • 19
  • 20
  • 21
  • 22
  • 23
  • 24
  • 25
  • 26
  • 27
  • 28

Menapaki Tanah-tanah Terabaikan

Manusia sering merasa gagal saat hidup tidak sesuai harapannya. Itu pula yang pernah dialami Abimelek "Aby" Letedara (47). Ia pernah mencoba bunuh diri. Namun perjumpaannya dengan Yesus Kristus, Sang Guru Kehidupan, menjadikan semuanya berubah. Hidup menjadi teramat berarti baginya. Kini, Aby adalah salah satu pembawa kabar baik di suku terabaikan di tanah Papua.

Keluarga Broken Home

Aby terlahir Kristen. Saat kelas 2 SD, orangtuanya bercerai karena papanya menikah lagi. Akibatnya, ia dan tiga saudaranya membantu mamanya mencukupi kebutuhan hidup dan biaya sekolah mereka. Tamat SD, Aby diasuh saudara mamanya di kota Ambon.

"Di tengah keluarga orangtua angkat, saya jadi anak paling besar. Tanggung jawab saya pun besar. Hampir seluruh pekerjaan rumah saya yang kerjakan," kata suami Ria Rahamis ini.

Lulus SMEP, Aby melanjutkan di SMOA (Sekolah Menengah Olahraga Atas). "Setelah lulus, saya ingin kuliah di Sekolah Tinggi Olahraga. Ternyata mereka setuju. Padahal masa itu tidak banyak orang melanjutkan ke perguruan tinggi," ungkap pria kelahiran Pulau Leti Serwaru, Maluku Tenggara.

Tahun 1979, Aby kuliah di Ujung Pandang. Jauh dari orangtua membuat sesuatu berubah. Aby bak burung lepas dari sangkar. Bebas. Ia mengikuti banyak kegiatan tanpa ada pertimbangan dari orangtua. Ia mati-matian melatih diri menjadi atlet beladiri dan lari jarak jauh. Ia ingin menjadi orang terkenal.

Jalan itu terbuka. Setahun di Ujung Pandang, Aby dipilih mewakili daerah itu menjadi komandan barisan Tri Lomba Juang. Dari prestasinya ini, Aby mendapat beasiswa dari pemerintah. Penghargaan dari pemerintah dan prestasi yang ia peroleh ternyata tidak cukup membuatnya bangga. Aby merasa itu semua masih jauh dari harapan. Padahal, waktu dan perhatiannya dicurahkan untuk olahraga.

"Saya pernah berpikir untuk mengakhiri hidup. Saya merasa gagal. Namun, pikiran itu saya buang. Tahun 1983, saya benar-benar kacau. Saya capek dengan semua latihan tanpa hasil yang maksimal. Saya merasa hidup tak berharga. Saya nekad minum minyak kayu putih setengah botol besar. Saya pingsan. Puji Tuhan, saya nggak mati waktu itu," tutur Aby mengenang.

Aby juga aktif mengikuti paduan suara. Suatu ketika, dia diundang nyanyi dalam acara perpisahan mahasiswa praktik dari STT Batu, Malang. Firman Tuhan yang disampaikan dari Mazmur 112:1-2 tentang keturunan orang benar akan diberkati. Dalam khotbah itu diterangkan hasil penelitian dua keluarga besar di Amerika yang takut Tuhan dan keluarga yang tidak takut Tuhan. Sampai generasi yang keempat, kedua keturunan itu nampak sangat berbeda.

Khotbah itu menggelisahkan hati Aby. Dia merasa berada dalam keluarga yang tidak takut Tuhan. "Sejak kecil, saya dididik secara Kristen dengan baik dan rajin ke Sekolah Minggu. Tapi dihadapkan pada kenyataan orangtua cerai, saya sendiri kacau! Waktu itu banyak pacar. Jadi, saya ini Kristen macam apa? Timbul ketakutan yang sangat mengganggu pikiran saya," ujar pria kelahiran Nuwewang 17 Agustus 1958.

Mencari Tuhan dalam Kegelisahan

Kegelisahan itu mendorongnya membaca Alkitab. Ia membaca kisah Raja Yosafat yang ketakutan karena dikepung tentara. Yosafat mencari Tuhan. Waktu ia mencari Tuhan, Tuhan memberi pertolongan. "Saya membaca kisah itu seperti melihat diri saya sendiri. Saya ketakutan karena dosa-dosa saya. Saya seperti Yosafat, saya mencari Tuhan," katanya mengenang.

Aby mulai sering berdoa sendiri. Ada kerinduan baru mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Ia aktif di persekutuan YPPII dan PERKANTAS, serta kunjungan doa di rumah sakit. Ia mulai berani bicara mengenai Yesus kepada teman-temannya.

Aby kerap mendengar suara yang berkata, "Itu belum cukup". Suatu siang dalam keadaan lelah setelah pelayanan, ia berdoa di tempat tidur dan berkata pada Tuhan: "Tuhan, apa yang Engkau maksud dengan apa yang saya lakukan belum cukup?" "Siang itu, sesuatu terjadi, saya mendapat penglihatan. Lembah yang sangat hijau dan melihat iblis merantai tangan orang-orang di sana. Lalu terdengar suara, bertolaklah lebih dalam dan tebarkan jala."

Aby bingung dengan pengalaman itu. Tapi, Aby ingat pernah mendengar kata-kata itu sebelumnya. Ya, itu ada di Alkitab! Di Lukas 1:1-4, tentang cerita Yesus memanggil murid murid yang pertama. Aby seperti mendapat pengertian bahwa itu adalah panggilan misi. "Saya ambil keputusan drastis, akan berhenti kuliah dan pergi menginjil. Tapi semua dosen tak setuju karena memang saya dipersiapkan untuk jadi dosen. Saya urungkan niat itu dan selesaikan kuliah," kata pria yang mengantongi sertifikat mengajar Akta 5 ini.

Singkat cerita, Aby dan paduan suara Shalom pergi ke Batu, Malang untuk rekaman kaset bagi penginjilan. Bersama dengan itu, YPPII sedang mengadakan kebaktian tahunan. Khotbah Brother Andrew tentang keselamatan dan damai yang hanya diperoleh dalam Yesus menyentuh hati Aby. Usai pemberitaan firman, seorang bernama Jhony Sinaga mendatanginya dan mengajaknya berbincang-bincang. Aby pun menceritakan banyak hal yang menggelisahkan hidupnya. "Dia ajak saya berdoa dan saya merasakan kedamaian yang luar biasa. Rupanya kekosongan kasih dan kenyataan yang jauh dari harapan membuat saya hampa. Saat itu saya menangis meraung-raung," cerita Aby mengenang.

Melayani di Pedalaman

Kerinduan melayani di pedalaman tak dapat dibendung. Namun, Yayasan Misi menolaknya karena tidak memiliki latar belakang theologia. Akhirnya, Aby kuliah di STT III Batu, Malang. Di kampus itu, Aby berjumpa Ria Rahamis yang dinikahinya setelah lulus kuliah.

Pasangan ini punya hati yang sama, melayani Tuhan bagi suku terabaikan. Hatinya tertuju bagi banyak jiwa yang sama sekali belum pernah mendengar tentang Yesus. Mereka selalu bergetar setiap kali mendengar dan melihat peta wilayah yang jauh tertinggal dari kemajuan zaman.

Proses panjang dilalui oleh Aby dan Ria. Mereka tidak bisa begitu saja masuk ke daerah pedalaman. Lebih dahulu mereka belajar di Institut Pendidikan Misi dan praktik di pulau Taliabu, Maluku Utara.

Tahun 1995, Aby mengikuti pertemuan hamba-hamba Tuhan di Sentani. Hati Aby tersentuh ketika mendengar tentang suku Yetfa. Suku di daerah pedalaman yang benar-benar belum tersentuh Injil. Di tahun itu pula, Aby melihat wilayah kesembilan dari 14 suku terabaikan itu.

Tahun 1996, bersama istrinya, Aby "membuka kampung". Tentu banyak kenangan indah, lucu, dan mengharukan yang akan terus disimpannya. "Waktu kami datang pertama kali, penduduk di sana terus memandangi kami. Menyentuh tangan kami dan berlari-lari memperlihatkan tangannya yang telah menyentuh tangan kami. Kami mengajari mandi, menggosok gigi, dan memakai sabun. Pernah dari mereka sakit perut ternyata ketika kami tanya, mereka makan sabun dan odol yang kami sediakan. Setelah merasa dekat, kami memberi pengertian tentang pentingnya kebersamaan untuk kepentingan bersama. Kami membuat lapangan terbang dengan alat seadanya seperti cangkul, sabit, dan bambu yang kami runcingkan. Tidak ada alat berat. Bagaimana mau masuk kalau tidak ada lapangan udara. Semua transportasi di sana hanya bisa dilakukan dengan pesawat," ujar ayah Gabriel, Solagratia, dan Talitakum ini. Lapangan udara hasil kerja bareng masyarakat suku Yetfa yang dikerjakan tahun 1996 sudah bisa dipakai tiga tahun kemudian.

Aby masih terus setia menapaki "tanah-tanah terabaikan". Masyarakat di sana sudah memakai pakaian. Anak kecil dan orang dewasa belajar membaca dan menulis di kelas yang sama. Kemajuan yang luar biasa.

Kini, di tanah Papua terdengar nyanyian pujian, kesukaan bagi Tuhan ...

Aby! Hidupmu amatlah berarti.

Kata Bijak

Buku

Karena Dia

Judul Kesaksian

Menapaki Tanah-tanah Terabaikan

Penulis

Niken Maria Simarmata

Penerbit

ANDI

Halaman

61 - 69

Keterangan Lain

-

Harta hilang, Kembali Berlipat Ganda

Kalaupun rumah, mobil, dan seluruh harta yang ada saya jual, itu tidak cukup untuk membayar hutang saya pada puluhan supplier. Untunglah, mereka sangat mengerti keadaan saya pada waktu itu. Saya terharu dengan kebaikan mereka. Mereka tidak menekan saya untuk bayar hutang, tapi malah sebaliknya, mereka memberi dorongan saya untuk bangkit," kata Jemmy Suhadi, pemilik Chic's Musik, toko alat musik dan Lembaga Pendidikan Musik di JI. Pemuda 65 Rawamangun, Jakarta Timur.

Dijarah dan Dibakar

Peristiwa penyerbuan kantor Partai Demokrasi Indonesia (PDI) 27 Juli 1996 di JI. Diponegoro itu tak mungkin terhapus dalam kenangan Jemmy. Dalam peristiwa itu, tokonya yang berjarak kira-kira 1 km dari kantor PDI dijarah dan dibakar massa.

Siang jam 13.00 WIB, massa memenuhi jalan di sekitar kantor PDI. Demi keamanan, Jemmy menyuruh semua karyawan perempuan untuk segera pulang. Teriakan "Bakar! Bunuh!" terasa makin dekat di telinga Jemmy. Lalu karyawan laki-laki pun diperbolehkan pulang. Namun, akhirnya balik lagi karena tidak bisa keluar. Massa tumpah ruah, memadati jalan.

Dari lantai dua tokonya, Jemmy melihat semua yang terjadi di sekitarnya. Jam 14.00 WIB, massa mengeluarkan barang-barang dan membakar isi rumah milik adik Presiden Soeharto yang berjarak dua rumah dari tokonya itu. Api berkobar. Asap membubung tinggi. Satu jam kemudian, minimarket di dekat Chic's dijebol dan dijarah.

"Pintu besi di bawah sudah kami tutup. Saya dan sembilan karyawan berada di atas. Saya berdoa, berserah pada Tuhan. Permohonan saya pada waktu itu adalah, 'Tuhan kalau terjadi apa-apa, tetaplah Engkau menjagai kami, agar di antara kami nggak kenapa-kenapa'."

Jam 16.00 WIB listrik mati. Gelap total dan gedung terasa panas. Situasi di luar semakin ramai. Jemmy mencoba tenang. Ia masih bisa menelepon keluarga dan beberapa teman lewat handphone. Karena beberapa pertimbangan, ia tetap bertahan.

Namun sungguh di luar perkiraan, massa merangsek sampai di depan Chic's Musik. Jemmy terhenyak, kepalanya merunduk, beberapa lama ia memejamkan mata. Ya, Tuhan! Apa yang akan terjadi? Degup jantung Jemmy tak beraturan. Karyawan yang mendampinginya pun tak kalah panik. Namun jelas tak bisa berbuat apa-apa. Mau keluar lewat pintu depan, jelas tidak mungkin. Lagi-lagi Jemmy mendengar teriakan, Bunuhhhh! Bakarrr!

Sekitar 18.00 WIB, Jemmy mendengar pintu besi digedor hingga menimbulkan bunyi sangat keras dan memekakkan telinga. Suara massa semakin gaduh bercampur dengan suara pintu yang dibuka paksa. Situasi rawan! Tak ada jalan lain. Kalau mau keluar, satu-satunya jalan adalah lewat atas. Tak mungkin lagi mereka bertahan.

"Kami berlari. Kami panik karena selisih tiga ruko dari kami, api berkobar. Kami jebol plafon dan keluar lewat genteng. Saya dan karyawan gantian lompat. Saya terjatuh di genteng rumah orang yang kebetulan adalah pemilik tempat yang saya sewa untuk Chic's rnusik itu. Saya ditolong mereka," kata pria kelahiran Medan, 7 Mei 1957 yang mendirikan toko alat musik pada 1 Oktober 1989.

Tangan Tuhan dalam Berbagai Bentuk

Jemmy amat terpukul dengan peristiwa itu. "Kalaupun rumah, mobil dan seluruh harta yang ada saya jual paling banter sekitar 250 juta. Itu tidak cukup untuk membayar hutang saya pada puluhan supplier sekitar 1 M. Artinya, kalaupun saya jual seluruh harta dan kami sekeluarga hidup di kolong jembatan, itu tidak menyelesaikan masalah," kata Jemmy sambil menggelengkan kepalanya.

Jemmy mendengar dari beberapa orang, massa berhasil menjebol tokonya dan menjarah alat musik. Ada yang menentengnya, namun beberapa penjarah menggunakan gerobak dan bajaj untuk mengangkut hasil jarahan.

"Apa yang saya kumpulkan selama tujuh tahun, ludes dalam sekejap dan menyisakan hutang. Meskipun yang saya alami adalah kasus force majeure, saya tetap melihatnya sebagai hutang," jelasnya.

Hari-hari setelah peristiwa itu, Jemmy banyak termenung. "Dia shock berat. Setiap kali dengar kata massa, api atau suara mobil pemadam kebakaran, dia langsung seperti orang bingung. Satu bulan lebih, Pak Jemmy diam saja. Diajak berdoa pun, dia hanya ngangguk, matanya menerawang. Tidak merespons," jelas Ninawati, istri Jemmy.

Nina terus berusaha menguatkan Jemmy walaupun ia sendiri juga tak kalah bingung. Akhir 1995, Nina telah mengundurkan diri dari Korea Indonesia Petrolium Company (KIPCO) karena ingin lebih konsentrasi mengurus anak dan pelayanan. Mereka tidak punya penghasilan. "Banyak teman seiman datang dan berdoa bagi kami. Beberapa dari mereka memberi uang. Bahkan yang sangat mengagetkan, mantan boss saya di KIPCO menelepon dan meminta saya datang ke kantor untuk mengambil "gaji" selama tiga bulan. Coba bayangkan? Meski saya bukan karyawan lagi, selama tiga bulan berturut-turut, saya masih "gajian". Karya Tuhan memang luar biasa," kata Nina bersemangat.

Didorong Supplier

Para supplier terus mendorong Jemmy untuk segera mencari tempat baru. "Masih mau usaha nggak? Pertanyaan itu kerap mereka lontarkan. Saya mulai bangkit, tidak boleh larut dalam masalah," kenangnya.

Salah satu yang membesarkan hati adalah setiap hari, 13 karyawannya "berkantor" di rumah Jemmy kendati belum ada pekerjaan. Itu juga yang membuatnya tidak bisa selamanya diam. Bukankah mereka juga mengharapkan pekerjaan?

Jemmy mulai mencari kontrakan dan 3 bulan kemudian, November 1996, ia mendapat tempat yang lebih luas yaitu di Jl. Pemuda no. 9 Rawamangun, Jakarta Timur. "Semua bekerja keras. Karyawan perempuan ikut juga mengecat tembok," kenang Jemmy sembari tertawa. Di tempat baru inilah, Jemmy membuka les musik. Satu per satu, murid berdatangan. Tak pernah menyangka, tahun pertama terkumpul 200 murid. Jumlah yang tidak sedikit.

"Ide sekolah musik itu bermula dari ngobrol dengan beberapa musisi yang ingin menyalurkan bakat. Di sisi lain, ada orang yang mau belajar tapi bingung mau belajar pada siapa. Nah, Chic's menjadi media bagi mereka. Bertemulah mereka di sini."

Lembaga pendidikan musik yang melibatkan musisi terkenal yang tak diragukan lagi kualitasnya itu menjadi nilai tersendiri bagi Chic's. Murid terus bertambah, mencapai 500 orang. Jumlah yang fantastik! Ruang belajar akhirnya tak dapat lagi menampung.

Ketika kontrakan habis, Jemmy berniat mencari tempat lain yang lebih luas. Salah satu konsumennya yang tak seiman kebetulan bekerja di bank bagian kredit dan mendorongnya untuk membeli saja. "Wah, nggak kepikir, uang dari mana? Saya tidak punya aset untuk jaminan. Bapak itu bilang tempat yang dibeli itulah jaminannya."

April 2000, lewat proses bank yang sangat ajaib, terbelilah tempat dengan luas tanah 740 ml, seharga 2,25 M! Setelah renovasi selama setahun, Juli 2001, Chic's mus ik pindah. Di atas tanah itulah, kini berdiri bangunan seluas 1500 m2, dua lantai terdiri dari ruang kelas, showroom, ruang kantor, dan auditorium. Kini Chic's mempekerjakan 25 karyawan. Sementara, di lembaga pendidikan musiknya, ada 45 guru pengajar yang handal.

Tak pernah terbayangkan. Semua itu seperti mimpi! "Sering kali saat melihat tempat ini, saya seperti tak percaya, ini diberikan Tuhan bagi kami. Tuhan telah mengembalikan berlipat apa yang pernah hilang dulu. Setiap kali kami membayar kewajiban kami di bank, Tuhan selalu menyediakan dananya," ujar bapak Thomas Sebastian dan Gladys Priskila tersenyum.

Aktif Pelayanan Penjara

Sisi lain yang menarik dari Jemmy adalah pelayanannya. Dari tahun 1991, ia aktif pelayanan penjara. Tiga tahun lalu, setelah gedung ini ada, bersama empat hamba Tuhan lainnya, mereka mengadakan ibadah untuk mantan napi dan keluarganya. Awalnya, Jemmy hanya menyediakan tempat dan dana. Namun, pada perkembangan selanjutnya, ketika ada permintaan menikah atau baptis, mereka tak dapat melakukannya karena yayasan. Hal ini membawa mereka menjadi anggota GBI pada September 2003.

Dari tim pelayanan yang ada, Jemmy diajukan untuk menjadi gembala sidang. Lewat Sidang Majelis Daerah Juli 2004, Jemmy ditahbiskan menjadi Pendeta pembantu.

Hidup Jemmy adalah hidup yang berbagi dan memberi. Hidup yang berkorban bagi orang lain. Ia sadar betul bahwa semua yang dimilikinya hanyalah anugerah Allah semata.

Jemmy tak akan pernah lupa pada tangan-tangan yang telah menopang saat kesusahan menimpanya. Itu tangan Tuhan!

Kata Bijak

Buku

Karena Dia

Judul Kesaksian

Harta Hilang, Kembali Berlipat Ganda

Penulis

Niken Maria Simarmata

Penerbit

ANDI

Halaman

51 - 60

Keterangan Lain

-