Badai Pembawa Bahagia

Peluit berbunyi panjang ketika seseorang duduk di kursi sebelahku. Aku tidak begitu memperhatikan karena mataku sedang menatap suatu berita. Kereta mulai melaju dan aku menghela nafas lega, akhirnya kereta tua ini berangkat juga. Aku turunkan sejenak surat kabar, dan aku sangat terkejut..

"Pak Burhan?" suara teguran sangat simpatik dari sampingku. Aku menoleh heran, "Maaf, saudara siapa ya?" ujarku ragu. "Theo, Pak" kata pemuda yang berwajah cerah, berpenampilan penuh wibawa dan senyum yang ramah. "Theo ...yang ...?" seruku dengan heran. "Benar pak, Theo yang morfinis." jawab pemuda itu dengan senyum ramahnya.

Aku heran dan bercampur kagum menatap pemuda itu. Betulkah ini morfinis bekas murid SMA yang dulu terpaksa aku keluarkan karena bertahun-tahun tidak naik kelas? Yang sering tidak masuk sekolah,yang kami kira akan memberikan pengaruh buruk pada teman-temannya? Inikah Theo?

"Bagaimana dan melalui apa kamu dapat sembuh? Bukankah kamu dulu sudah parah,dengan sering keluar masuk rumah sakit?" tanyaku masih dengan heran. "Benar pak, saya bahkan sudah berkali-kali mencoba bunuh diri. Tetapi Tuhan sangat baik dan memiliki rencana yang sangat indah pada saya." katanya dengan penuh kelembutan.

"Tuhan? kamu sekarang percaya akan Tuhan, bagaimana itu mungkin terjadi?" tanyaku masih dengan penuh rasa tidak percaya. Dengan suara mantap dan penuh kelembutan, Theo mulai bercerita. "Setelah 3 tahun saya dikuasai oleh morfin, saya diajak pindak oleh kakak ke suatu kota. Setiba di kota lain itu, malam harinya kakak mengajak membaca Alkitab bersama. Dengan malas saya menuruti kemauan kakak saya, saya merasa bahwa jiwa dan hati saya sudah dirusak oleh morfin sehingga saya merasa tidak lagi memiliki hati. Saya merasa sudah berada di tempat yang sangat gelap dan hanya ada jurang menanti didepan. Kuasa morfin semakin hari semakin kuat membawa saya ke ujung jurang untuk melemparkan saya kejurang itu. Saya semakin ketagihan dan tergantung dengan barang itu, tidak ada kuasa saya untuk dapat melepaskan diri dari kuasa setan itu. Saya merasa benar-benar telah tenggelam dalam lumpur penyesalan!

Malam itu, kakak membaca tentang Tuhan Yesus yang melintasi danau dan mendatangi murid-murid-Nya dalam perahu yang dipermainkan badai. Di perahu itu Yesus menghardik badai dan surutlah angin sehingga danau menjadi kembali tenang ... Tatkala berbaring di kamar, kasih Tuhan datang dan menerangi Firman yang kami baca tadi. Sebagaimana murid yang kepayahan menghjadapi badai, begitu juga saya yang merasa kacau dan kepayahan menghadapi badai kehidupan yang saya alami. Saat itulah Yesus menawarkan ketenangan serta kemenangan jika saya mau mengundang-Nya untuk masuk ke dalam perahu hidup saya. Dengan air mata penuh penyesalan dan pertobatan, saya menerima tawaran yang penuh kelembutan itu dan menyerahkan kemudin atas perahu kehidupan saya."

Aku sungguh sangat terharu mendengar apa yang disampaikannya, dan tidak sanggup untuk berkata-kata. Wajah Theo bersinar-sinar penuh kebahagiaan, sungguh suatu kemenangan telah diperolehnya. "Theo, terus sekarang kemana tujuanmu?" tanyaku masih dengan penuh tanda tanya.

"Ke kota Malang, Pak Pur" saya akan menyelesaikan sekolah Theologia yang tinggal beberapa tahun lagi disana. Saya ke Jakarta hanya untuk berlibu ... "katanya dengan senyum ramah. Sungguh kagum aku akan kuasa Tuhan yang telah mampu memerdekakan anak yang disayangiNya, dan aku semakin yakin bahwa Tuhan memiliki rencana yang paling indah dalam kehidupan Theo sekarang ini karena Theo yang sekarang bukan lagi Theo yang dulu.

Diambil dari:

Judul buku : Untaian Mutiara
Penulis : Besty. T
Penerbit : Gandum Mas, Malang
Halaman : 43 -- 45
Kategori: 

Tinggalkan Komentar