Kesombongan Menghancurkan Persahabatanku

Pada saat saya masih kuliah, saya merasa bahwa saya merasa mampu melakukan segala sesuatu dengan kemampuan saya sendiri. Saya semakin senang dan besar kepala ketika teman-teman saya mengakui bahwa saya memang mampu melakukan tugas-tugas dengan benar. Saya menjadi sombong dan meremehkan setiap tugas yang saya dapat karena nilai-nilai saya bagus dan nyaris sempurna. Namun, saya tidak menyadari kalau semua itu berkat dari Tuhan, dan keberhasilan saya hanya karena pertolongan Tuhan.

Hingga pada suatu saat, tepatnya pada semester akhir kuliah saya, saya menghadapi masalah dalam mengerjakan tugas akhir sebagai syarat kelulusan kuliah. Saya sakit selama beberapa hari hingga tidak bisa masuk kuliah. Saya sangat sedih karena selama saya sakit tidak ada seorang teman pun yang datang menjenguk atau memberi informasi terkait dengan mata kuliah maupun keadaan kelas di kampus. Saya sadar bahwa saya sudah ketinggalan banyak materi pelajaran, dan hal ini akan berpengaruh pada kelulusan saya. Setelah saya sembuh, saya segera bertanya kepada teman saya, tetapi mereka tidak memberikan jawaban yang jelas dan seolah tidak memedulikan pertanyaan saya. Dengan kejadian ini, saya diingatkan Tuhan akan kesalahan saya. Selama ini saya tidak menyadari bahwa kemampuan saya itu adalah pemberian Tuhan Yesus; tanpa pertolongan-Nya saya tidak mampu mengerjakan apa pun dengan kekuatan saya sendiri.

Saya mulai sadar apa yang telah saya perbuat, saya terlalu membanggakan diri sendiri, saya begitu sombong dengan kepintaran saya dalam melakukan segala hal, dan cenderung tidak mau kalah dalam berdebat dengan siapa pun. Saya bersyukur Tuhan mengingatkan saya akan kesombongan saya ini. Namun demikian, saya merasa bahwa penyesalan saya ini sudah terlambat karena teman-teman saya tidak ada yang mau memedulikan saya dan menolong saya dengan memberikan penjelasan kepada saya tentang tugas kuliah yang harus saya kerjakan.

Dalam keadaan seperti ini, saya pun segera pulang dan berdoa kepada Tuhan Yesus dengan sungguh-sungguh, merendahkan hati, dan meminta pengampunan kepada-Nya karena saya terlalu membanggakan diri sendiri dan sombong. Dan saat itu pula, hati saya digerakkan Tuhan untuk meminta maaf kepada teman-teman saya karena kelakuan saya, kesombongan saya, dan segala kesalahan saya.

Keesokan harinya, saya meminta maaf kepada teman-teman saya, tetapi mereka hanya diam saja. Saya merasa tidak dianggap dan tidak enak hati. Dan, ketika saya mau pergi, ada seorang yang menanggapi permintaan maaf saya dan menjelaskan kepada teman-teman saya bahwa kita harus mengampuni orang yang bersalah kepada kita, sama seperti Tuhan mengampuni kesalahan kita. Lalu, ia tersenyum dan mengatakan bahwa dia memaafkan saya. Tidak lama kemudian, teman-teman saya memaafkan saya. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan Yesus karena melalui sakit yang saya dapat, Dia menyadarkan saya bahwa Dia mengasihi saya dan menghendaki saya untuk rendah hati di hadapan orang, dan terlebih lagi di hadapan-Nya.

Sumber Kesaksian: Yans

"Siapa menutupi pelanggaran, mengejar kasih, tetapi siapa membangkit-bangkitkan perkara, menceraikan sahabat yang karib." (Amsal 17:9)
< http://alkitab.sabda.org/?Amsal+17:9 >

Kategori: 

Tinggalkan Komentar