Ombak-Ombak Kehidupan

Setiap hari Minggu, aku suka membawa papan selancar ke Laut Pasifik untuk menikmati olahraga berselancar. Walaupun masih pemula, berselancar merupakan kegiatan yang menyegarkan untuk mengungsikan pikiranku dari cecaran kesibukan kehidupan.

Di salah satu kegiatan selancarku, aku ingat berjalan menuju lautan dan mengamati ombak-ombak berdatangan dari kaki langit menuju pantai. Mereka kelihatan kecil, tetapi sesungguhnya lebih tinggi daripada kelihatannya. Dengan memijakkan selancarku pada air laut, aku menerabas ombak-ombak itu sampai tinggi air mencapai pinggang. Apa yang ada di luar sana? Aku belum mengetahuinya. Pelan-pelan aku memasuki perairan yang misterius dengan penasaran pada apa yang ditawarkan oleh lautan biru yang terhampar luas.

Ketika aku menoleh ke masa lalu hidupku beberapa tahun ini, aku dapat melihat bahwa perjalananku melalui sekolah bisnis sangat mirip dengan belajar berselancar. Walaupun sangat menantang, aku berhasil bangkit dan berdiri teguh dengan Tuhan di sisiku.

Menceburkan Diri

Sejak masa-masa kuliah kesarjanaan, gelar Master of Business Administration sudah merupakan tujuan yang kukejar, untuk memperluas kemampuan dan dapat memperoleh posisi manajemen di masa depan. Pada bulan April 2007, aku memulai program MBA tengah waktu di Universitas California, Irvine. Pada waktu itu, aku juga sekaligus bekerja penuh waktu sebagai insinyur kelistrikan di sebuah perusahaan kedirgantaraan di California Selatan.

Aku cukup beruntung bekerja pada seorang majikan yang menawarkan penggantian biaya kuliah, selama aku terus bekerja penuh waktu. Aku tidak yakin dengan keputusan ini, tetapi kelihatannya hal ini tidak akan berjalan buruk-buruk amat. Tidak kuketahui bahwa keputusanku ini menjerumuskanku pada sebuah tantangan yang hebat.

Pada kuartal-kuartal pertama, aku harus beradaptasi kembali dalam kehidupan belajar. Hari-hari umumnya dimulai dari jam 5.35 pagi, yang diikuti dengan bekerja delapan jam, lalu bergegas dari pekerjaan ke kampus untuk memperbudak diri dalam tugas-tugas kuliah, lalu masuk kelas dari jam 7 hingga 10 malam. Selain itu, aku juga harus mengikuti rapat-rapat kelompok, melakukan berbagai studi kasus, berlatih presentasi kelompok, dan masih banyak lagi yang lain. Itu adalah jadwal paling ketat yang pernah aku hadapi, dan aku merasa kewalahan.

Jadwalku menjadi semakin padat di penghujung tahun 2007 ketika aku dipilih menjadi majelis kepengurusan bagian umum di gerejaku. Umumnya tanggung jawabku bersifat logistik, seperti memeriksa inventaris gereja, membeli dan menyuplai keperluan-keperluan, dan menyediakan bantuan akomodasi dan transportasi bagi saudara-saudara seiman yang datang dari luar kota.

Namun, menjadi majelis tidak terbatas pada urusan-urusan yang kusebutkan di atas. Aku juga harus mendengarkan banyak persoalan jemaat dan menyediakan nasihat. Pada titik itu, aku merasa sudah memasuki lautan dalam dan kehidupanku berpacu semakin cepat.

Jatuh dan Mulai Tenggelam

Aku berjibaku dengan tiga tanggung jawab: pekerjaan penuh waktu, anggota majelis gereja, dan mahasiswa sekolah bisnis. Setiap hari tekanan memburuku ke mana pun aku pergi, entah itu di kantor, kampus, bahkan gereja. Kadang-kadang tekanan itu rasanya seperti suatu ombak kuat menghantamku dari belakang sehingga aku jatuh dari papan selancar dan sejumlah besar air laut tertelan masuk ke dalam tenggorokanku.

Satu kali, aku sedang menghadapi berbagai ujian sekaligus dan studi-studi kasus, dan pada minggu yang sama aku harus mengurusi acara retret di gereja. Aku dapat merasakan tekanan yang dilalui Nabi Elia ketika ia lari dari Izebel yang berusaha membunuhnya (1 Raja-Raja 19). Rasanya waktu tak pernah cukup. Aku juga mengalami rasa takut dan lemah iman, seperti Petrus ketika ia berjalan di atas air (Matius 14:28-31).

Aku mulai merasa tekanan bertubi-tubi yang tak reda dari tiga arah ini mulai memengaruhi imanku secara negatif. Aku mengetahui ada yang tidak beres karena aku tidak menerima istirahat jasmani maupun rohani di hari Sabat. Aku pergi ke gereja, tetapi sakit kepala seharian. Ini suatu pertanda bahwa aku harus meninjau ulang hidupku dan mengambil tindakan.

Mencari Keseimbangan

Pada bulan Mei 2008, di suatu rapat majelis, aku mengungkapkan kesulitanku dalam melaksanakan tugas-tugas kepengurusan umum karena tingkat tekanan yang aku hadapi dan keterbatasan waktu. Walaupun anggota-anggota majelis belum pernah merasakan kegelisahanku sebelumnya, mereka semua sangat memahami pergumulanku. Mereka menganjurkanku untuk mendelegasikan lebih banyak tugas kepada jemaat-jemaat yang lain, yang mengingatkanku untuk mengambil inisiatif untuk bertahan melawan ombak yang berdatangan sampai aku dapat memperoleh kembali keseimbanganku.

Aku juga berbicara kepada teman-teman di gereja, keluarga, dan pendeta, yang sangat membantu menjadi tempat tumpahan perasaan. Berbagi dengan saudara-saudari seiman sangat penting mereka dapat memahami dan menyediakan ketenteraman dan nasihat dalam perkara-perkara gereja dan iman.

Selain mendelegasikan, aku mulai bekerja lebih banyak dalam pemupukan rohani karena aku menyadari bahwa di situlah akar permasalahanku. Bagaimanakah aku dapat menjadi pekerja yang patut bagi Tuhan apabila imanku tidak didasari pada landasan yang kuat? Sebelumnya, aku merasa cukup jauh dari Tuhan, dan hal ini sangat menggangguku. Walaupun aku sudah berusaha untuk bersikap normal dan memperlihatkan keceriaan, di lubuk hati aku merasa terkapar dan menyedihkan. Aku menyadari bahwa aku harus berbalik pada firman Tuhan dan Roh-Nya untuk membangun diri sendiri dan melegakan kegelisahanku. Aku tahu bahwa aku lapar akan roti-Nya agar aku memperoleh kembali kedamaian dan kekuatan.

Aku mengadakan puasa siang setiap hari Sabat untuk mengesampingkan segala beban dan kekhawatiranku di hadapan Tuhan. Aku memohon agar Tuhan menuntun segala pekerjaanku, agar aku dapat melakukan semuanya tanpa merasa tertekan. Aku juga memohon agar Tuhan membantuku mengelola waktu dan prioritas.

Pada saat yang sama, aku menjadi lebih serius dalam membangun kebiasaan membaca Alkitab yang lebih baik, agar aku senantiasa memperoleh asupan firman Tuhan. Aku menemukan makna baru pada ayat pilihanku: "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan" (Yeremia 29:11).

Beberapa bulan kemudian, setiap kali aku berhasil menghadapi satu ombak, ombak berikutnya menyambutku, dan rasanya seperti sebuah peperangan abadi; tetapi aku mulai menemukan pengharapan di dalam Tuhan setelah melakukan beberapa perubahan dalam hidupku. Seperti yang dinyatakan dalam Mazmur 89:9, "Engkaulah yang memerintah kecongkakan laut, pada waktu naik gelombang-gelombangnya, Engkau juga yang meredakannya." Hanya dalam waktu sebulan, aku dapat merasakan Tuhan menolongku.

"Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu." (Amsal 24:10)
< http://alkitab.sabda.org/?amsal+24:10 >

Diambil dan disunting dari:

Nama buletin : Warta Sejati
Judul artikel : Ombak-Ombak Kehidupan
Penulis : Andy Wang
Penerbit : Departemen Literatur Gereja Yesus Sejati Indonesia, Jakarta 2015
Halaman : 42 -- 45

Tinggalkan Komentar