Percaya Saja

Ditulis oleh: Dedy Yanuar

Orang berkata, "Tak kenal, maka tak sayang." Nama saya Dedy Yanuar. Usia saya saat menulis kesaksian ini 27 tahun 10 bulan. Saya adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Saya memiliki seorang kakak laki-laki dan satu adik perempuan. Saya masih lajang sehingga saya lebih bebas dalam melayani Tuhan.

Saya merasa bahwa saya belum menjadi orang yang sukses. Sering kali, saya diremehkan atau dipandang sebelah mata oleh orang lain. Saya merasa bahwa saya belum layak memberi kesaksian untuk memotivasi orang lain yang mungkin mengalami hal yang sama dengan saya. Akan tetapi, kali ini saya mencoba untuk menuliskannya. Saya berharap kesaksian saya dapat menjadi berkat bagi para pembaca.

Saya adalah orang yang memiliki cacat fisik. Sebuah anugerah yang tak ternilai harganya sehingga saya dipercaya Tuhan untuk menderita suatu penyakit yang memaksa saya untuk beraktivitas di atas kursi roda. Kira-kira sudah 7 tahun saya memakai kursi roda, sungguh pengalaman yang luar biasa. Sebab, ada begitu banyak pengalaman yang tidak akan bisa dibayangkan oleh orang-orang normal.

Dalam 2 Korintus 12:9 dituliskan, "Tetapi jawab Tuhan kepadaku: 'Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna. Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.'"

Kelemahan tidak selamanya buruk. Kelemahan bisa menjadi sumber mukjizat dari Tuhan. Semakin banyak kelemahan kita, semakin banyak mukjizat yang dapat kita lihat, asalkan kita tetap percaya dan hidup berkenan kepada-Nya.

Kelemahan memang sering menimbulkan masalah. Alangkah baiknya jika kita tidak menambah masalah dengan mengkhawatirkan kelemahan-kelemahan itu. Sebab, tidak ada gunanya mengkhawatirkan kelemahan yang kita miliki. Hendaklah kita "percaya saja", maka kita akan melihat bahwa Tuhan akan memberikan hal-hal yang tidak pernah kita duga dan pikirkan.

Suatu hari, ada sebuah acara jalan-jalan bersama guru-guru sekolah minggu. Teman-teman pelayanan saya di sekolah minggu memaksa saya untuk ikut. Acara jalan-jalan itu adalah ke Kawah Putih. Para pembaca tentu tahu seperti apa Kawah Putih itu. Di sana, ada begitu banyak tangga naik dan turun untuk menuju Kawah Putih itu. Apakah Anda percaya kalau orang seperti saya bisa sampai di perairan Kawah Putih? Bisa! Saya bisa mencapai Kawah Putih itu. Di sana, saya diangkat oleh empat orang guru sekolah minggu. Saya beserta kursi roda saya diangkat. Dalam hati, saya seakan-akan bagaikan seorang raja yang duduk di atas tandu dalam perjalanan menuju Kawah Putih ini.

Sebelum memasuki area tanjakan, saya sempat menolak untuk turut. Saya merasa ngeri karena tempat itu tinggi sekali, dan setelah itu areanya turun. Awalnya, saya berpikir bahwa saya akan ditolong untuk diangkat sampai di atas saja, tetapi ternyata saya diangkat sampai ke dekat air yang berada di Kawah Putih.

Ada begitu banyak tempat yang saya kunjungi. Terkadang, beberapa tempat tidak memiliki lift maupun eskalator sehingga saya diangkat beberapa orang untuk naik maupun turun dari tangga. Dan, jangan heran jika ketemu dengan saya di mal atau tempat-tempat hiburan yang memiliki tanda silang untuk pengguna kursi roda.

Saya kira tidak ada salahnya jika Anda mempunyai keluarga yang duduk di kursi roda. Sesekali, ajaklah dia ke mal atau tempat-tempat hiburan, seperti Taman Raya Bogor, Puncak Safari, atau restoran-restoran. Mungkin keluarga kita yang duduk di kursi roda itu tidak mau dan menolak ajakan kita. Akan tetapi, sekali-kali Anda dapat memaksa keluarga Anda untuk turut serta.

Pada awalnya, saya juga demikian. Saya tidak mau diajak ke mana-mana. Saya takut merepotkan orang lain. Saya mengalami cacat fisik, tepatnya tujuh tahun yang lalu. Saya masih muda belia waktu itu. Masa awal di mana saya mengalami sakit ini, orang-orang menatap saya dengan mata mereka melotot seakan-akan hampir keluar. Beberapa orang yang bertemu dengan saya juga berkata kepada saya, "Bagaimana bisa seorang yang masih muda duduk di atas kursi roda?" Semua hal ini membuat saya minder dan tidak mau keluar dari rumah. Hingga akhirnya, saya sedikit demi sedikit berani untuk keluar rumah. Saya mulai belajar untuk memulai aktivitas di luar rumah, yang dulu sering saya lakukan.

Pandangan paling "sinis" yang pernah saya terima adalah ketika saya diajak oleh koordinator guru sekolah minggu untuk mengikuti acara pelatihan menjadi guru sekolah minggu. Pada hari Minggu selanjutnya, saya ditatap "sinis" bukan hanya oleh guru-guru sekolah minggu, melainkan juga oleh para orang tua anak sekolah minggu. Mungkin mereka semua berpikir, "Ini orang mau berbuat apa sih? Sudah cacat dan memakai kursi roda, bisa apa coba?"

Para guru sekolah minggu pasti tahu bahwa salah satu hal yang paling dibutuhkan untuk jadi guru sekolah minggu adalah rasa percaya diri yang tinggi. Sedangkan saya adalah orang yang sangat minder. Selain itu, guru sekolah minggu harus aktif bergerak saat puji-pujian, sedangkan saya kadang kaku, dan berada di kursi roda sehingga sulit melakukan hal itu.

Singkat cerita, 6 tahun berlalu sejak kejadian itu, dan saya masih menjadi guru sekolah minggu sampai sekarang. Absensi atau ketidakhadiran saya pada ibadah sekolah minggu bisa dihitung dengan jari. Mungkin tidak sampai 5 kali selama 6 tahun itu. Karena itu, saya makin banyak dipercayakan dalam hal lainnya. Bukan karena saya hebat atau pintar, tetapi oleh karena kemurahan Tuhan sehingga saya dapat dipakai oleh-Nya sampai sekarang.

Saat ini, selain menjadi guru sekolah minggu, saya juga diberi kepercayaan untuk melayani sebagai koordinator bagian LCD, bergabung dalam tim pembuat warta gereja, dan pelayanan yang lainnya. Mungkin pada kesempatan berikutnya saya akan menceritakan hal-hal lainnya itu.

"Sebab sekiranya aku hendak bermegah juga, aku bukan orang bodoh lagi, karena aku mengatakan kebenaran. Tetapi aku menahan diriku, supaya jangan ada orang yang menghitungkan kepadaku lebih dari pada yang mereka lihat padaku atau yang mereka dengar dari padaku." (2 Korintus 12:6)

Demikian jugalah Anda. Apabila Anda telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepada Anda, hendaklah Anda berkata, "Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan" (Lukas 17:10).

Percaya saja, bahwa Tuhan tidak akan memberikan sesuatu hal di luar kemampuan kita. Percayalah ... Percayalah ....

Catatan: Dedy Yanuar adalah anggota aktif komunitas PESTA. Ia juga terlibat sebagai moderator kelas PESTA yang dibuka oleh Yayasan Lembaga SABDA

"Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu!" (2 Tawarikh 15:7)

Tinggalkan Komentar