Keajaiban Jasmaniah

Bapa Yang Baik

Saya (HH) lahir dari keluarga Kristen, dari orangtua yang takut akan Tuhan. Mereka mengajarkan kami sepuluh bersaudara sejak kecil untuk taat beribadah dan mendidik kami dengan bijaksana. Dengan penghasilan ayah yang pas-pasan, hidup kami berpindah-pindah dari satu rumah kontrakan ke rumah kontrakan lain. Namun, kami merasakan pemeliharaan Tuhan atas kehidupan kami.

Cerita ini berawal ketika saya berumur satu tahun. Pada waktu itu saya pernah mengalami kejang selama 7 jam. Dokter sudah angkat tangan, bahkan dia mengatakan kalaupun saya bisa sembuh, kemungkinan besar saya akan menjadi bisu tuli, atau bahkan lebih parah lagi -- idiot. Read more... about Bapa Yang Baik

Tenggelam dalam Lautan Berkat-Nya

Saya (CG) lemas saat mendengar dokter menjelaskan bahwa hidup saya tidak lama lagi -- mungkin hanya sekitar tiga bulan --, kecuali kalau saya melakukan kemoterapi seminggu tiga kali sebagai upaya penyembuhan. Ketakutan untuk menghadapinya menyesakkan hati saya. Kekecewaan juga ikut menyusup karena menurut saya hubungan saya dengan Tuhan berjalan dengan baik. Teringat saat pertama kali saya mengenal Tuhan Yesus, yaitu melalui persekutuan doa kampus di Yogyakarta. Saat itu saya adalah seorang mahasiswa yang berjuang untuk tetap kuliah, karena tidak dapat mengharapkan kiriman uang dari ibu saya yang sangat terbatas dan ayah saya sudah meninggal saat saya masih kecil. Saya bekerja di sana-sini, mulai usaha kecil-kecilan hingga bekerja di sebuah pabrik, untuk membiayai kuliah saya. Tuhan menyertai dan memberi semangat sehingga saya dapat lulus dan meraih gelar sarjana. Read more... about Tenggelam dalam Lautan Berkat-Nya

Tidak Perlu Dipasang Ring

Saya (AH), terus terang adalah seorang pria dan seorang ayah yang hidup semaunya sendiri dan tidak pernah berani bertanggung jawab. Semboyan hidup saya ialah saya bekerja dan berusaha mencari uang untuk memuaskan keinginan hati sendiri. Itulah sebabnya, lebih dari 25 tahun saya hidup dalam kesia-siaan. Setiap kali saya kembali ke rumah, istri saya selalu mencium aroma alkohol keluar dari mulut saya. Tetapi, ketika ia menasihati agar saya berhenti mengonsumsi minuman keras, maka emosi saya selalu meluap disertai dengan mengeluarkan perkataan kasar. Read more... about Tidak Perlu Dipasang Ring

Asal Percaya Saja

Ketika saya (TS) berkonsultasi dengan seorang dokter di kota Bandung, dokter tersebut mengatakan bahwa saya harus dioperasi dan akan memakai kantung seumur hidup. Berdasarkan hasil konsultasi itu, saya mengambil keputusan dan mengatakan kepada istri, "daripada memakai kantung seumur hidup, lebih baik saya tidak dioperasi." Bulan Desember 1998, kakak saya menyarankan untuk berobat ke Jerman, kepada seorang ahli 'onkologi' (ilmu tentang tumor, Red) di kota Bottrop. Read more... about Asal Percaya Saja

Katakan Saja yang Sebenarnya!

Tuhan, saya tidak mengerti apa yang sedang terjadi di sini. Katakan saja yang sebenarnya! Itulah yang saya minta, yaitu kebenaran! Saya putus asa. Saya harus tahu bahwa Yesus itu benar-benar ada. Hal pertama yang saya lihat dalam pikiran saya sebagai seorang anak laki-laki kecil, seperti biasa; api neraka. Seumur hidup, saya belajar di sekolah yang berpandangan sempit. Pertemuan pertama saya dengan Yesus Kristus ketika saya berumur sepuluh tahun -- saya masih mengingatnya sampai sekarang. Read more... about Katakan Saja yang Sebenarnya!

Nathania Kembali

Saat itu bulan November tahun 2002, saya (HW) dalam kondisi keuangan yang sangat sulit saat anak pertama saya lahir, Nathania. Dia lahir prematur -- kehamilan saya baru berusia 7 bulan. Berat tubuhnya hanya 1,6 kg, sehingga ia terlihat sangat kecil dan ringkih. Waktu itu paru-parunya belum mengembang sehingga ia sangat kesulitan bernapas, dan ia harus berjuang dengan kekuatannya sendiri. Nathania tidak seperti bayi normal pada umumnya, yang bernapas dengan refleks dan otomatis. Dokter tidak mengetahui bahwa bayi saya tidak dapat bernapas otomatis, dan hal ini berakibat fatal bagi Nathania. Saat saya tanyakan suster, dia menyuruh saya untuk bertemu dengan dokter. Read more... about Nathania Kembali

Penerang Abadi

Saya, MH, lahir di tahun kemerdekaan negeri kita. Dengan latar belakang kepercayaan leluhur ditambah tradisi Kejawen, hampir tiap malam Jumat saya "nyekar" (menabur bunga, Red.) ke kuburan. Kalau menyebut nama Patih Gajah Mada, maka saya merasa menjadi kuat dan orang lain akan menjadi takut dan segan kepada saya.

Saya menyadari bahwa saya bukanlah seorang ayah yang baik. Saya lebih banyak mengejar kesenangan pribadi daripada memikirkan keluarga. Saya biasa pamit pada istri untuk pergi tiga hari, tapi baru sebulan kemudian saya kembali ke rumah. Keluarga saya seperti saya terlantarkan. Anak-anak saya pun tidak saya perhatikan, bahkan saat salah satu anak saya hampir mati ketika ia sedang bermain, saya tidak begitu peduli. Read more... about Penerang Abadi

Menabur Kasih Menuai Berkat

Saya (HS) sering pergi ke Gunung Kawi untuk mencari "keselamatan" bagi seluruh keluarga besar kami. Sekalipun ketika kecil saya pernah mengikuti ibadah di gereja di daerah kadipaten bahkan pernah ikut memainkan sandiwara yang bernapaskan Kristen, namun saya tidak pernah memimpikan atau membayangkan untuk menjadi seorang Kristen atau pengikut Yesus. Pada 20 April 1977, saat saya sedang bekerja pada salah satu bank di Bandung, saya bertemu dengan seorang gadis, nasabah saya. Setelah berkenalan, kemudian pada tanggal 10 Oktober 1977 saya melamarnya. Karena neneknya adalah seorang Kristen yang sangat taat, maka ia menghendaki supaya kami menikah di gereja. Tanggal 26 Februari 1978, demi cinta saya kepadanya, saya rela pernikahan kami diteguhkan di gereja, kemudian ketika istri saya sedang mengandung anak kami yang pertama barulah kami menikah resmi di catatan sipil. Read more... about Menabur Kasih Menuai Berkat

Mengharapkan Seorang Anak

Masa-masa awal pernikahan adalah masa-masa bahagia bagi kami. Tuhan telah memberikan saya WG, seorang istri yang terbaik bagi saya. Kami menikah tahun 1985 di catatan sipil karena orang tua menolak mengadakan upacara pemberkatan di gereja. Mereka menginginkan kami menikah secara adat leluhur yang secara tegas kami tolak. Saat usia pernikahan telah menginjak tahun yang ketiga, kami menjadi lebih sering merasa kesepian. Kami merasa masih ada sesuatu yang kurang di dalam kebahagiaan berumah tangga kami: seorang anak. Banyak dokter spesialis telah kami kunjungi; berbagai obat, terapi, serta bermacam tes dengan biaya yang tidak sedikit telah kami lakukan namun tak satu pun yang dapat membantu istri saya hamil. Read more... about Mengharapkan Seorang Anak

Pages

Tinggalkan Komentar