Tiada Lagi Asap Mengepul

Sudah lebih dari dua jam kami mengobrol santai setelah dua tahun lamanya tidak pernah bertemu karena Yanti harus pergi meninggalkan rumah menjadi pelayan Tuhan, aku sadar ada kejanggalan dari diri adikku. "Yanti, apa aku tak salah lihat? Sejak tadi...tak ada sedikitpun asap mengepul dari antara jari tanganmu."

Yanti tertawa sambil membenarkan roknya yang terlihat sedikit kusut,dan dengan senyum riang dia menjawab. "Kakak tidak salah lihat. Aku memang sudah berhenti merokok, sudah hampir satu tahun ini." "Kamu bisa berhenti merokok setelah 15 tahun menjadi pecandu rokok? Bagaimana bisa kamu membebaskan diri setelah sangat lama dikuasai nikotin, kata orang sulit melepaskan diri dari kecanduan itu?"

Pandangan Yanti menerawang sangat jauh kembali kemasa lalunya dengan racun nikotin yang disebutnya barusan. "Bagi orang lain mungkin sulit, tapi aku mendapat kesadaran melalui suatu pengalaman yang sangat berharga, itu bedanya dengan orang lain" kata yanti menanggapi pertanyaanku dengan sangat lembut sambil tertawa. "Kakak tahu, waktu aku berangkat ke Malang adalah untuk melayani Tuhan dalam bidang literatur bukan? Nah dalam perjalanan, di kereta api aku baru sungguh -sungguh menyadari akan makna melayani Tuan. Dalam hati aku mengulangi ikrar: Tuhan, inilah hidupku yang kupersembahkan kepadaMu. Seluruh jiwa ragaku, Tuhan."

"Disaat berikutnya seakan-akan aku dapat melihat persembahanku. Aku melihat tubuh yang kurus kering dimakan racun nikotin, yang tergoncang-goncang menahan batuk. Tubuh yang mungkin hanya diberi sedikit lagi waktu untuk hidup sebelum asap racun menggumpal dalam paru-paru menjadi jaringan kanker! Bayangan yang sangat mengerikan, dan akupun menyadadari betapa najisnya korban yang akan aku persembahkan ini, seandainya aku tidak mengadakan penyucian atas korbanku. Aku harus menghentikan rokokku, karena itulah satu-satunya kenajisan yang masih melekat pada tubuhku. Setelah itu barulah aku boleh datang padanya, dan berkata: Pakailah aku Tuhan Yesus. Itulah yang aku lakukan, saat itu juga aku tidak pernah menyentuh sebatang rokokpun."

"Kenapa dengan sangat mudahnya kamu melakukan itu?" tanyaku masih dengan rasa tidak percaya. "Ya, bukankah segalanya menjadi sangat mudah dilakukan jika sebelum melakukannya kita berdoa dan mohon bimbingan serta bimbingan dari Tuhan?" jawab Yanti.

Aku tercenung mendengar jawaban Yanti yang sangat menyakinkan, aku lihat wajahnya yang tenang tetapi memancarkan semangat hidup yang tinggi. Aku rasakan keteduhan dalam hatinya, seakan-akan terangkat suatu beban kekhawatiran dalam hatinya. Aku yakin, kini Yanti adikku yang manja telah menjadi pribadi yang sangat mantap dan mandiri. "Tuhan menyertaimu, Yanti," kataku.

Kata Bijak:

Jika dengan penuh keyakinan kita melakukan, dan yakin itulah yang terbaik untuk kita lakukan; ada banyak jalan yang sangat mudah untuk dapat melepaskan diri dari jerat dan kekuasaan jahat yang kita alami. Karena Tuhanlah jalan itu.
Judul buku : Untaian Mutiara
Penulis : Betsy. T
Penerbit : Gandum Mas, Malang
Halaman : 129 -- 131
Kategori: 

Tinggalkan Komentar