Disembuhkan dari Osteogenesis Imperfecta

Tinggalkan Komentar


Ditulis oleh: Yanne Katrina

Aku bukanlah orang yang berani berbicara di depan banyak orang. Karena itu, aku punya kebiasaan untuk menulis apa yang aku pikirkan dan yang ingin aku ungkapkan. Pada kesempatan kali ini, aku ingin menuliskan perjalanan hidupku bersama dengan Tuhan.

Aku ingin semua orang yang membaca, melihat, bahkan yang bersama-sama menjalani semua ini bersamaku, mengerti dan tahu, bahwa Tuhan adalah satu-satunya ALLAH yang pantas untuk disembah dan dipercaya.

Apabila ada orang berkata, "Mukjizat tidak terjadi lagi pada zaman sekarang," aku adalah orang pertama yang akan membantah perkataan tersebut. Aku adalah orang yang telah menerima mukjizat. Dengan mendekap erat iman dalam Tuhan, pengharapanku sepenuhnya tertuju kepada Tuhan.

Inilah kesaksianku ....

Aku dilahirkan dengan keadaan normal dan sehat, tidak ada satu hal aneh yang harus membuat orang tuaku cemas akan kondisiku. Hingga akhirnya, saat aku berusia 1 tahun, aku mengalami kecelakaan saat sedang bermain dan mengalami patah tulang kaki. Saat itu, orang tuaku berpikir bahwa itu hanya kejadian biasa yang sering terjadi pada anak seusiaku. Sampai kejadian yang sama terulang kembali, aku kembali mengalami patah tulang hanya karena terjatuh atau terbentur, bahkan hanya karena dipukuli pakai sebuah handuk.

Kecemasan mulai mengusik hati kedua orang tuaku, dan mereka pun memutuskan untuk memeriksakan kondisiku ke rumah sakit. Dari hasil pemeriksaan, dokter mendiagnosa bahwa aku mengalami kelainan tulang sejak lahir. Lebih tepatnya, aku menderita kerapuhan tulang dan badanku tidak boleh terkena benturan keras. Penyakitku ini hampir mirip dengan Osteoporosis. Bedanya, osteoporosis sebagian besar dialami oleh wanita yang sudah lanjut usia. Sedangkan aku, sudah mengalaminya sejak kecil.

Hal terburuk dari semua hal yang aku alami adalah, penyakitku ini tidak ada obatnya. Dokter hanya menyarankan agar orang tuaku terus mengawasiku selama 24 jam penuh. Dokter memberi tahu kedua orang tuaku untuk terus menjagaku, dan berpesan agar aku jangan sampai mengalami benturan keras. Kedua orang tuaku menuruti apa yang telah dikatakan dokter, mereka berdua memutuskan untuk merawat dan menjagaku semampu mereka.

Waktu terus berlalu dan merebut semua kebahagiaanku. Aku tersadar bahwa aku berbeda dari anak-anak seusiaku. Kondisi semacam ini menjadikan aku tumbuh menjadi gadis pemalu, tidak percaya diri, selalu pesimis dan cengeng. Aku merasa bahwa aku sama sekali tidak memiliki masa depan yang cerah, semuanya terasa gelap bagiku.

Saat lulus dari sekolah dasar, aku memutuskan untuk berhenti sekolah dan tidak melanjutkan sekolah lagi. Hatiku selalu sakit setiap kali aku melihat penderitaan kedua orang tuaku yang setiap hari harus terus kerepotan membagi waktu untuk menjagaku di sekolah, mengantar, serta menjemputku sepulang sekolah. Aku bahkan harus merelakan beasiswa sekolah demi keputusanku itu. Akan tetapi, bagiku, pengorbanan itu tidak sebesar pengorbanan yang sudah dilakukan oleh kedua orang tuaku. Saat itu, yang penting aku sudah bisa berhitung dan baca tulis, itu sudah lebih dari cukup. Saat teman-temanku sibuk beradaptasi dengan sekolah baru mereka, aku malah sibuk beradaptasi dengan kesendirianku. Aku menghabiskan waktuku dengan mengurung diri di kamar.

Aku mengisi hidupku ini dengan menghadiri KKR kesembuhan. Di mana ada KKR, di situ pasti ada Mama dan aku. Harapan kami hanya satu, kalau dokter tidak bisa menyembuhkan penyakitku, YESUS pasti bisa! Karena Dia adalah dokter di atas segala dokter. Saat itu, walaupun hidupku penuh derita, aku tidak berhenti percaya pada janji-janji-Nya. Hingga akhirnya ketika aku berusia 13 tahun, ada teman Mama yang merekomendasikan seorang hamba Tuhan yang 'katanya' bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit dan sudah terbukti.

Waktu terus berjalan, dan hingga tiba waktunya ketika aku memiliki kesempatan untuk didoakan oleh hamba Tuhan tersebut. Aku begitu bahagia kala itu, pikirku aku pasti akan sembuh! Aku kemudian pergi ke tempat hamba Tuhan itu bersama Mama dan Papa. Awalnya, semuanya berjalan baik, sampai hamba Tuhan itu menyuruhku untuk maju ke depan. Saat aku sudah berada di depannya, dia mulai mendoakanku, dan setelah selesai berdoa, dia kemudian menyuruhku untuk melompat. Katanya, jika aku benar-benar yakin sudah sembuh, buktikanlah dengan melompat.

Saat itu, dengan kepercayaan dan keyakinan penuh kalau aku sudah sembuh, aku pun melompat. Akan tetapi, bukan sebuah kesembuhan yang aku dapat, melainkan kedua kaki dan tangan kananku patah! Sakit rasanya, tetapi hatikulah yang lebih sakit. Aku kecewa pada Bapa! Aku marah, aku terluka, dan aku hancur. Keruntuhan kepercayaanku justru terjadi pada saat aku sedang berdiri teguh pada keyakinan terdalamku bahwa Dia sanggup untuk menyembuhkanku.

Mengapa Bapa melakukan semua ini kepadaku? Bukankah seharusnya aku mendapatkan kesembuhan? Akan tetapi, mengapa penyakitku justru semakin parah? Inikah harga yang harus kubayar atas kepercayaanku kepada Bapa? Apakah dosa-dosaku kepada Bapa? Dosa apakah yang telah dilakukan oleh orang tuaku sehingga aku harus menanggung semua ini?

Kejadian malam itu mengubah seluruh hidupku, aku bukan lagi gadis yang memiliki kepercayaan penuh pada Bapa. Aku benar-benar tidak ingin lagi menjalin hubungan dengan Bapa. Bagiku, Dia bukan lagi tempat yang tepat untuk bergantung. Aku sungguh kecewa, dan aku memutuskan untuk tidak mau lagi membaca firman Tuhan. Alkitabku kusimpan di dalam bagian almari yang paling dalam. Mulutku tidak lagi menyenandungkan pujian bagi-Nya. Bahkan, untuk hal yang kecil seperti makan, aku tidak mau mengawalinya dengan doa. Aku benar-benar melepaskan diriku dari kasih Bapa. Aku memutuskan untuk hidup dengan jalanku sendiri dan aku tidak tahu di mana jalanku ini akan berakhir.

Empat tahun kemudian, saat aku berusia 17 tahun. Aku mengalami sakit lagi. Aku mengalami patah tulang di kaki dan tanganku. Waktu itu, aku sungguh tidak tahu harus berbuat apa. Kehidupanku sungguh jauh dari Tuhan, dan mulai muncul pertanyaan-pertanyaan yang membuatku memikirkan kembali keputusan untuk meninggalkan Tuhan. Aku merasa bahwa rasa sakit yang aku alami jauh lebih besar ketika aku menjauh dari Tuhan. Maka, aku bertobat, aku kembali percaya kepada Tuhan dengan sepenuhnya. Sekalipun aku masih kecewa, iman yang muncul dalam hatiku jauh lebih besar.

Lalu, aku mengambil kembali Alkitab yang sudah aku simpan sekian lama dalam almari. Aku berdoa kepada Tuhan dan dalam doaku aku berkata, "Bapa, entah berapa banyak hari yang telah aku lalui tanpa memanggil-Mu, Bapa. Aku telah berusaha menjalani semuanya dengan kekuatanku sendiri. Itu semua karena aku telah kecewa dan marah kepada Engkau. Sekarang, aku lelah Bapa, aku lelah menghadapi semua ini. Ampunilah semua kebodohanku. Jika aku memang harus hidup dalam keadaan seperti ini selamanya, aku akan menerimanya. Hanya saja, mampukanlah aku untuk menjalani semua ini. Biarlah aku dapat menyukakan hati-Mu, baik dalam keadaan kuat maupun sakitku. Amin"

Setelah itu, aku mulai membuka Alkitab, dan aku menemukan ayat dalam Yohanes 9:2-3. Dituliskan dalam ayat tersebut seperti berikut, "Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: 'Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?' Jawab Yesus: 'Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.'" Aku menangis saat aku membaca ayat ini. Semua pertanyaanku yang aku ajukan kepada Tuhan tentang apa dosaku dan dosa orang tuaku hingga aku harus menanggung hal ini terjawab sudah dalam Yohanes 9:2-3. Aku percaya bahwa pekerjaan Allah akan dan harus dinyatakan di dalam hidupku. Sejak saat itu, aku mulai belajar untuk mencintai segala yang ada padaku, aku mencintai semua yang sudah Tuhan berikan dalam hidupku, entah itu baik ataupun buruk.

Perlahan tetapi pasti, saya merasakan Tuhan memulihkan hidup saya. Saya kembali mendisiplin hidup saya dengan belajar memahami firman Tuhan, berdoa, dan berpuasa. Sepanjang hari, saya terus menantikan janji Tuhan dan berharap kiranya pertolongan Tuhan dinyatakan dalam hidupku. Aku sungguh sangat bersyukur karena pada masa aku dalam keadaan sakit, Tuhan memberikan aku keluarga yang siap menolongku. Kedua orang tuaku tidak pernah lelah untuk menjagaku, juga kakak perempuanku yang selalu berusaha membuatku bahagia. Mereka adalah orang-orang yang mengasihiku. Kasih yang mereka berikan adalah wujud kasih Allah untukku.

Tiga tahun kemudian, saat aku berusia 20 tahun, aku memutuskan untuk mengikuti sakramen SIDI. Hari itu, aku diteguhkan untuk menjadi anggota SIDI jemaat baru. Dengan langkah kakiku, aku tertatih-tatih memasuki ruangan gereja. Aku maju ke depan didampingi dua orang majelis gereja. Tak pernah kubayangkan, begitu banyak mata memandangiku, bahkan ada jemaat yang menangis melihatku berjalan tertatih memasuki gereja.

Setelah mengikuti SIDI dan aku menyerahkan hidupku sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan, aku mulai melihat dan merasakan mukjizat Tuhan nyata di dalam hidupku. Mungkin itu adalah waktu-Nya Tuhan, aku bisa berdiri sendiri tanpa dipegangi oleh orang lain. Kemudian, aku mulai bisa melangkah. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, dan seterusnya. Aku bisa berjalan! Aku bisa berjalan tanpa merasakan sakit di kakiku. Tidak berhenti pada saat itu saja, Tuhan terus menunjukkan mukjizat-Nya kepadaku. Tidak hanya berjalan, aku juga mulai bisa melakukan hal-hal yang sebelumnya sangat mustahil untuk kulakukan. Aku sungguh bersyukur karena mukjizat masih ada, aku sangat beruntung karena merasakan sendiri mukjizat Tuhan.

Belakangan ini, aku baru mengetahui bahwa aku menderita osteogenesis imperfecta. Penyakit ini adalah sebuah penyakit langka yang menyerang 1:20.000 kelahiran. Penyakit ini tidak dapat disembuhkan, penderita penyakit ini mengalami patah tulang di sepanjang hidupnya. Aku bersyukur karena aku sembuh. Tuhan menjamahku sehingga hidupku berubah seketika. Lebih dari itu, aku sudah bisa beraktivitas dengan normal!

Semua hal yang terjadi dalam hidupku membuktikan bahwa Bapa masih bekerja dan sanggup melakukan mukjizat! Yang perlu kita lakukan hanyalah tetap beriman dan tetap berpengharapan di dalam Dia. Satukanlah iman dan pengharapan di dalam doa dan ucapan syukur kepada Tuhan. Maka, Anda pasti akan melihat mukjizat-Nya nyata dalam hidup Anda.

Biarlah melalui kesaksianku ini, semua orang yang membaca akan dikuatkan dalam pengharapan kepada Tuhan. Biarlah yang lemah dapat dikuatkan. Kesaksianku adalah bukti bahwa Tuhan Allah masih bekerja untuk memberikan mukjizat bagi orang-orang yang percaya kepada Dia. Percayalah, janji Tuhan itu Ya dan Amin! Tuhan Yesus memberkati.

"Sembuhkanlah aku, ya TUHAN, maka aku akan sembuh; selamatkanlah aku, maka aku akan selamat, sebab Engkaulah kepujianku!" (Yeremia 17:14)
http://alkitab.sabda.org/?Yeremia+17:14 >

Kategori: