Orang Percaya dalam Bara Api

Tinggalkan Komentar


Sebelum ibu mereka dipenjarakan atas tuduhan penghujatan, Isha dan Isham sangat dekat dengan ibunya. Akan tetapi, sejak penahanan ibu mereka pada bulan Juni 2009, mereka hanya bertemu beberapa kali saja.

"Mama cinta kami," kata Isham kepada kontak kami. "Dia biasanya membawa kami ke pasar hiburan, dan biasanya aku membantu membersihkan rumah atau melakukan pekerjaan sederhana lainnya. Sedangkan Mama biasanya membantu kami mempersiapkan perlengkapan dan buku-buku sekolah kami sebelum berangkat bekerja."

Isha, yang berusia 12 tahun, dan Isham, yang berusia 8 tahun, hidup tanpa ibu mereka lebih dari 2 tahun terakhir ini dan mereka bertemu terakhir kalinya pada bulan Maret tahun 2011.

Ketika putri-putri Bibi Asia berdoa untuk kebebasannya dari penjara, dia duduk seorang diri di dalam sel berukuran 19 x 26 meter, menunggu hukuman mati yang sudah menantinya. "Kejahatannya" adalah dia berbicara kebenaran tentang imannya. Asia adalah orang Kristen Pakistan biasa, seorang buruh pemetik buah, tetapi dia sekarang menjadi perantara dalam rencana Tuhan untuk membawa kebenaran-Nya ke seluruh Pakistan dan dunia.

Hari-hari ini di Pakistan, militan "Agama Lain" memandang Asia dan penginjil berani Kristen Pakistan lainnya sebagai penghujat. Mereka tersinggung dan marah oleh karena kebenaran Injil, mereka berpikir sedang melayani Tuhan mereka dengan cara membakar gedung gereja dan memenjarakan atau membunuh orang-orang Kristen.

Setelah Asia dipenjarakan, suaminya, Ashiq, sering kali tidak membawa anak-anak mereka saat mengunjungi Asia. Akan tetapi, suatu hari pada bulan Mei, Asia meminta Ashiq untuk membawa anak-anak mereka karena dia sangat merindukan anak-anaknya. Tentu saja hal ini disambut anak-anaknya dengan penuh kegembiraan.

Walaupun kunjungan Isha dan Isham hanya sebentar, mereka sangat senang bertemu ibunya. "Ketika Mama melihat aku, Mama berkata, 'Oh, putriku sudah besar!'" cerita Isham. "Aku ingin Mama memelukku, tetapi ada jeruji kawat penjara yang menghalangi kami." Asia dan putri-putrinya hanya bisa saling menyentuh ujung-ujung jari mereka melalui lubang-lubang kawat jeruji penjara.

Ketika Ashiq dan putri-putri mereka akan meninggalkan penjara, Isham berkata kepada ibunya, "Cepat pulang ya, Ma." Sukacita yang dia rasakan ketika bertemu ibunya seketika meleleh menjadi kesedihan ketika pulang ke rumah -- sebuah rumah tanpa kehadiran sang ibu, rumah yang sunyi tanpa adanya nasihat dan pengertian dari sang ibu, rumah tanpa kehangatan pelukan seorang ibu.

Sebelum Bibi Asia dipenjarakan, dia bekerja sebagai pemetik buah untuk seorang pemilik kebun di provinsi Punjab. Suatu hari ketika dia menolong membawakan air minum untuk teman sekerjanya dari "Agama Lain" yang sedang bekerja, ia menolak meminumnya, mengatakan bahwa gelas yang dibawa oleh Bibi Asia telah tercemar oleh tangan kafirnya. Orang-orang "Agama Lain" menghina Asia oleh karena iman Kristennya, mengatakan bahwa nabi-Nya (Yesus) lahir tanpa seorang ayah. Asia membalas, "Kristus kami mengorbankan nyawa-Nya di atas kayu salib demi menebus dosa-dosa kami. Lalu, apa yang nabimu lakukan untuk kami? Kristus kami hidup, nabimu sudah mati. Kristus kami adalah nabi Allah yang benar, dan nabimu tidak."

Teman kerja Asia melaporkan kata-kata "hujatannya" kepada pemimpin "Agama Lain" setempat. Lima hari kemudian, beberapa pemimpin dan orang-orang "Agama Lain" setempat membawa Asia dari tempat kerjanya secara paksa menggunakan sepeda motor dan membawanya ke pusat desa. Di sana, dia dipukuli beramai-ramai oleh orang-orang yang sudah berkumpul di tempat itu. Dia tidak diperkenankan untuk membela dirinya terhadap tuduhan penghujatan. Beberapa orang desa datang untuk membelanya, tetapi orang-orang garis keras mengancam untuk memukul mereka juga jika mereka tidak pergi.

Asia ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara. Petugas yang menjaganya mengatakan kepadanya, seandainya dia menjadi "Agama Lain", mereka akan melepaskannya. Akan tetapi, dia menolak dengan berkata kepada mereka, "Kamu bisa membunuh saya, tetapi saya tidak akan meninggalkan Yesus."

Kontak kami sudah membantu Asia dan keluarganya sejak pertama kali kami mendengar tentang penahanannya. Kontak kami juga telah membantu Asia mengajukan banding atas hukuman matinya. Keluarganya dipaksa oleh keadaan untuk berpindah-pindah dalam 17 bulan terakhir karena ancaman yang ditujukan kepada mereka. Kontak kami membantu mereka dengan memberikan biaya kebutuhan hidup sehari-hari dan juga membiayai sekolah anak-anaknya sehingga mereka bisa terus bersekolah.

Tujuh belas bulan setelah penahanan Asia, dia secara meyakinkan diputus bersalah melanggar pasal C Undang-Undang Pakistan No. 295 - penghujatan terhadap nabi Muhammad - dan dijatuhi hukuman mati. Tidak ada orang Kristen di Pakistan pernah dijatuhi hukum mati di bawah Undang-Undang Penghujatan, tetapi dalam beberapa kasus, orang-orang garis keras pernah membunuh orang-orang Kristen selepas dari penjara. Hukuman yang dijatuhkan kepada Asia telah menarik perhatian dunia internasional atas Undang-Undang Pakistan tentang penghujatan. Orang-orang Kristen menyerukan pembebasan Asia dan peninjauan kembali undang-undang tersebut, sementara orang-orang garis keras terus meminta agar dia dihukum mati. Maulana Yusuf Qureshi, seorang pemimpin di Peshawar, barat-laut Pakistan, telah mengeluarkan fatwa atas Asia, menawarkan $6000 bagi siapa pun yang membunuhnya. Keluarga dan sahabat-sahabatnya khawatir bahwa dia bisa saja dibunuh oleh sesama narapidana atau penjaga, atau bahkan diracun oleh tukang masak penjara. Demi keamanannya, dia dipenjarakan di dalam sel tersendiri dan dia memasak makanannya dengan menggunakan peralatan masak yang diberikan oleh suaminya.

Walaupun Asia tidak bisa membaca, dia menyimpan sebuah Alkitab di dalam selnya. Seorang wanita Kristen diperbolehkan membacakan Alkitab untuknya. Dia juga berdoa bersama Asia.

Ashiq mengunjungi Asia setiap 15 hari dan menguatkannya selama pertemuan mereka berlangsung. "Saya selalu mengatakan kepadanya tentang organisasi kalian dan bahwa kalian telah bersama-sama dengan kami dari awal kasus ini dan masih terus akan bersama-sama dengan kami hingga hari ini," kata Ashiq. "Saya mengatakan kepadanya bahwa banyak saudara seiman berdoa untuk kita; jangan khawatir, membutuhkan waktu yang agak lama menyelesaikan kasus ini karena ini kasus besar. Saya mengatakan kepadanya untuk menguatkan hatinya."

Ashiq mengatakan penangkapan dan pemenjaraan Asia telah membantunya dan anak-anaknya untuk bertumbuh makin kuat dalam iman. "Ketika saya memperingatkan mereka (anak-anak) untuk tidak bermain-main di luar rumah karena ada ancaman-ancaman terhadap keluarga kami, tetapi mereka selalu berkata, 'Jika mereka membunuh kami karena Kristus, hal itu tidak menjadi masalah. Kami sudah siap.'"

Ashiq meminta supaya kita terus berdoa bagi kebebasan istrinya sehingga keluarganya bisa berkumpul kembali.Dia percaya Tuhan telah mengizinkan keluarganya mengalami pencobaan ini karena Tuhan sedang menguji mereka. "Orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat (Matius 24:13)," kata Ashiq.

Diambil dan disunting dari:

Judul buletin : Kasih Dalam Perbuatan
Edisi buletin : November -- Desember 2011
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Yayasan Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya 2011
Halaman : 4 -- 5

"Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya." (1 Korintus 9:23)
< http://alkitab.sabda.org/?1korintus+9:23 >

Kategori: