Percaya dan Lakukan

Tinggalkan Komentar


Tanggal 20 November 2000, kira-kira pukul 13.00 WIB, saya sedang membuat bakpau. Saya harus memakai tenaga yang kuat untuk membuat adonannya, tetapi saya takut mengganggu tetangga yang tinggal di bawah apartemen tempat saya tinggal. Jadi, saya berniat membanting adonan itu hanya satu kali saja. Tetapi tiba-tiba saya merasa sepertinya kepala saya mau pecah, dan saya sangat terkejut karena ketika hendak mengambil kantong plastik dengan tangan kiri, ternyata tangan kiri saya tidak dapat digerakkan. Saat itu saya masih dalam posisi berdiri.

Saya ingin memberitahu suami bahwa saya terkena stroke, tapi saya tidak dapat berbicara dengan jelas, lidah saya tidak dapat dikendalikan dan air liur keluar dari mulut saya. Suami saya cepat-cepat mengambil obat yang segera saya minum, tetapi akhirnya saya muntahkan kembali. Lalu suami menuntun saya ke kamar karena saat itu saya tidak dapat berjalan dengan normal, seperti orang yang mabuk. Sesampainya di kamar, saya berlutut berdoa kepada Tuhan, memohon pertolongan kepada Tuhan. Setelah itu saya berbaring di tempat tidur sambil menunggu anak-anak saya pulang dari kantor pada malam harinya. Ketika anak-anak sampai di rumah, mereka terkejut melihat keadaan saya dan segera membawa saya ke rumah sakit. Setelah diperiksa, ternyata ada pendarahan di otak saya. Waktu mendengar hal itu saya sangat takut, tapi selama terbaring di rumah sakit, saya terus berdoa kepada Tuhan.

Di rumah sakit, suster dan dokter yang merawat saya menyuruh saya mengepalkan tangan dan mengayunkan kaki untuk melihat apakah ada kekuatan pada tangan dan kaki saya. Puji Tuhan! Ternyata pada tangan dan kaki saya masih ada kekuatan. Pada hari kedua di rumah sakit, saudara-saudara seiman datang menjenguk dan mendoakan saya. Kemudian pada hari ketiga, saat dokter fisioterapi datang memeriksa, sekali lagi ia menyuruh saya mengayunkan kaki dan mengepalkan tangan. Maka dengan sekuat tenaga saya mencoba mengayunkan kaki saya. Dokter itu juga menyuruh saya untuk turun dari tempat tidur dan mencoba berjalan. Puji Tuhan! Ternyata saya dapat melakukan semua yang diperintahkan dokter. Dan pada hari yang keempat, saya diperbolehkan pulang.

Namun saya masih harus menjalani rawat jalan, dan selama itu saya sering merasa tidak memiliki nafsu makan, pusing, dan mual yang berkepanjangan. Saya juga tidak dapat tidur. Tetapi setiap hari Minggu saya selalu berusaha datang ke gereja dan setiap hari saya berdoa 4 sampai 5 kali. Ketika pemeriksaan rutin, dokter menemukan ternyata dosis obat yang saya minum terlalu tinggi. Setelah dosisnya dikurangi, saya merasa lebih enak.

Tanggal 29 Desember, sekitar pukul 24.00 WIB, saat saya berdoa, Roh Kudus memberitahukan bahwa penyakit saya sudah sembuh. Saya sangat bersukacita. Keesokan harinya saya kembali berdoa memohon pimpinan Tuhan. Sungguh heran, sewaktu hendak tidur, ada suara di telinga saya yang mengucapkan tiga kata dalam bahasa Mandarin: "Percaya", "Lakukan", "Maka akan merasakan". Saya sangat terkejut mendengar kata-kata itu. Saya pun bangun dari tempat tidur dan terus merenungkannya. Akhirnya saya dapat memahami maksudnya. Sungguh benar, jika kita percaya kepada Allah dan melakukan kehendak-Nya, kita akan merasakan sendiri hasilnya. Sejak itu saya terus berdoa setiap hari, percaya bahwa Tuhan yang menyembuhkan penyakit saya. Saya juga memohon agar setelah tahun baru 2001, saya dapat pulih kembali.

Tanggal 13 Januari 2001 saya kembali memeriksakan diri ke dokter. Saat otak saya dipindai (scan), saya berdoa dalam hati, dua kali mengucapkan permohonan yang sama: "Dalam Nama Tuhan Yesus, hapuskan pendarahan di otak saya!" Dua hari kemudian saya kembali ke dokter untuk melihat hasilnya. Puji Tuhan! Dokter mengatakan bahwa saya sudah sembuh dan pendarahan di otak saya sudah hilang. Seketika itu juga hati saya mengucapkan syukur kepada Tuhan atas segala pertolongan-Nya. Biarlah segala kemuliaan hanya bagi nama Tuhan! Amin.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buletin : Warta Sejati, Edisi 27/November -- Desember 2001
Penulis : Dkns. Elisabeth
Penerbit : Departemen Literatur Gereja Yesus Sejati Pusat Indonesia, Jakarta
Halaman : 29 -- 30

Download audio