Apa yang Didapat di Hari Natal?

Tinggalkan Komentar


Beberapa saat sebelum membuat tulisan ini aku mengirimkan SMS ke abangku yang tinggal di tanah kelahiranku. Aku bertanya padanya, apakah tradisi khusus perayaan Natal di kota pesisir itu masih ada? Lalu ia menjawab, "Tradisi perayaan Natal seperti itu sudah tidak ada lagi. Kami pergi ke gereja pukul 17.00 WIB, dan pulang larut malam, pada saat itu, kota telah sepi." Wah ... aku kaget mendengar jawaban itu! Jauh dalam lubuk hatiku muncul rasa kehilangan sesuatu. Apa yang terjadi dengan kota kelahiranku? Apakah di kota itu, Natal tidak lagi menjadi momen penting yang harus diperingati?

Aku lahir di ibu kota kabupaten Tapanuli Tengah. Posisi kota ini sebagian dilingkupi Bukit Barisan, dan sebagian lain menghadap ke lautan lepas Samudra Indonesia (Hindia). Jadi, dapat dibayangkan betapa indah kota pesisir itu. Kalau kita naik mobil dari Medan, maka menjelang tiba ke kota itu -- khususnya pada malam hari -- kita akan melihat pemandangan nyala lampu rumah-rumah di kota itu dan juga nyala lampu bagan-bagan nelayan yang tengah menangkap ikan di laut! Indah sekali! Aku masih ingat kota tersebut dijuluki "Hong Kong"-nya Indonesia! Nah, karena kondisi geografis seperti itu, maka tidak heran jika rumah-rumah penduduk ada yang dibangun di dataran rendah/pesisir dan ada yang dibangun di atas bukit. Rumah keluargaku berada di dalam kota, di dataran rendah. Adapun beberapa temanku tinggal di atas bukit. Sangat menyenangkan ketika menjemput teman-teman yang tinggal di atas bukit itu untuk pergi bersama-sama jalan kaki ke sekolah di tengah kota.

Di belakang rumahku terdapat sebuah pelabuhan. Di sana kerap terlihat orang-orang duduk menikmati matahari terbenam dengan deburan ombak yang besar. Acap kali aku datang ke tempat itu bersama Abang ataupun sendirian menikmati panorama tersebut sembari menikmati kacang bakar yang dijual di situ.

Dalam situasi seperti itulah aku menikmati malam Natal. Walaupun di kota dan bukit sudah terdapat aliran listrik, tetapi suasana tetap saja agak gelap karena penerangan jalan dan rumah-rumah belum maksimal. Suasana itu ternyata sangat mendukung kebiasaan masyarakat pada waktu itu, yakni menyalakan dan menempelkan lilin-lilin di sekeliling rumah! Ada yang di pagar, di tanah, di ranting pohon, mereka menyalakan puluhan lilin mengelilingi rumah itu! Wow... indah sekali pemandangan malam itu! Kelap-kelip nyala lilin sungguh mendatangkan suasana tersendiri, apalagi jika mata kita memandang ke atas bukit ... wahhh ... lebih indah dan syahdu. Di antara pepohonan di atas bukit itu, nyala lilin berkelap-kelip dari sekeliling rumah. Rasanya betah berjam-jam menikmati suasana itu, terlebih ditambah sesekali terdengar bunyi dentuman meriam bambu! Seolah-olah memberi tanda dan penghormatan pada hari Natal yang penuh makna bagi umat manusia atas kelahiran sang Juru Selamat!

Tetapi kini, setelah sekian tahun aku meninggalkan kota itu, kemajuan zaman telah menggerus tradisi masyarakat yang penuh makna tersebut.

Apa yang didapat di hari Natal? Dengan jujur kukatakan bahwa Natal adalah suasana penuh makna yang menggiring hati dan ingatanku pada di malam penuh bintang gemerlap dan terdapat satu bintang berukuran besar. Di sebuah kandang dua ribu tahun silam, bayi Yesus dilahirkan. Bukankah sampai saat ini, kita masih mencari dan menciptakan suasana khusus dalam ibadah dan perayaan Natal di gereja? Mengapa nyala lampu listrik harus dipadamkan saat memasuki acara penyalaan lilin yang diiringi pujian Malam Kudus? Saya pikir hal itu memerlukan suasana khusus. Tidak sedikit di antara kita yang bergetar hatinya saat menikmati suasana saat semua jemaat menyanyikan Malam Kudus dan lilin-lilin menyala di tengah kegelapan. Luar biasa, bukan? Persoalannya sekarang, suasana khusus yang menggetarkan hati itu apakah juga turut menggetarkan kasih kita kepada sesama manusia di hari Natal tersebut maupun di hari-hari yang kita lalui? Tindakan kasih memang bukan hal yang mudah. Masih lebih mudah mengucapkan kasih!

Rasanya tidak adil jika saya tidak menyinggung tentang kado Natal. Yang saya alami saat masih kecil adalah saya sangat senang ketika mendapat kado yang dibungkus dengan kertas kado Natal. Apalagi jika disusul dengan sejumlah uang, senang sekali rasanya. Saat itu, aku tidak terpikir untuk memberi kado kembali kepada si pemberi. Yang kutahu dan kunikmati hanya menerima kado. Setelah beranjak dewasa -- dan setelah memiliki teman wanita -- mau tidak mau aku harus "berjuang" mengumpulkan uang untuk membeli kado untuknya! Maklum, waktu itu aku masih jadi mahasiswa dengan suplai dana yang pas-pasan dari orang tua. Dan, baru setelah mulai bekerja dan memiliki penghasilan yang relatif cukup, kualitas dan harga kado untuk orang-orang khusus -- bukan hanya pacar, melainkan juga untuk keluarga dan teman-teman -- meningkat.

Bagaimana dengan Anda? Kado Natal telah mewarnai hidup kita saat-saat menjelang Natal. Bagaimana sebenarnya isi hati kita ketika memberikan kado dan ucapan selamat Natal pada seseorang? Bagaimana pula sebenarnya isi hati orang-orang yang memberikan ucapan selamat maupun kado Natal kepada kita? Ah, seandainya kita saling mengetahui isi hati, dan ternyata yang terlihat adalah sebuah hati yang tulus, putih bersih, oh, alangkah bersukacitanya kita; alangkah damai sejahteranya hati kita! Dan betapa mungkin, Tuhan juga tersenyum melihat ketulusan hati tersebut.

Aku mengenal dua wanita yang telah bersahabat sejak SMA dengan baik yang memiliki kebiasaan baik. Kini mereka telah berusia hampir 40 tahun. Yang satu sudah memiliki dua orang anak yang beranjak remaja, yang satu lagi belum menikah dan sedang menempuh studi di luar negeri. Tentu saja setiap Natal mereka saling bertukar kado dan ucapan selamat Natal. Tetapi, ternyata tidak hanya sampai di situ. Belum lengkap dan belum sempurna rasanya merayakan dan memaknai Natal setiap tahun jika mereka belum saling mendoakan. Maka, sekalipun jarak keberadaan mereka melintasi benua, itu tidak menjadi penghalang. Melalui telepon, mereka bergantian mendoakan. Jenis permintaan mereka bermacam-macam. Mereka mendoakan permohonan yang spesifik kepada Tuhan untuk satu tahun ke depan. Ya! Mereka saling mendukung dalam doa, dan saling berbagi kasih di dalam Tuhan. Mereka mendapatkan sesuatu yang luar biasa di hari Natal, yaitu kekuatan doa!

Lalu, bagaimana fenomena pergaulan sosial kita saat ini? Suasananya sangat berbeda jika dibanding dua puluh tahun silam. Bukan rahasia lagi jika teman-teman nonkristiani kita enggan secara langsung mengucapkan selamat Natal sembari menyalami kita di hari Natal dan sesudahnya. Tentu kita tidak bisa memaksanya. Namun, hal ini tidak terlalu saya ambil pusing. Dua tahun terakhir ini, sebagian kecil teman-temanku SMA yang berbeda iman toh tetap saja mengucapkan selamat Natal padaku di milis alumni. Aku sangat menghargai keberanian dan ketulusan mereka!

Bagiku, makna Natal sesungguhnya adalah bukan menanti orang-orang mendatangi kita untuk memberi ucapan selamat Natal maupun kado Natal. Terlalu sempit jika makna Natal dipagari dengan hal macam itu. Natal adalah proaktif dalam bentuk memberi, mendatangi, memancarkan, menolong, menjadi saluran berkat dan kasih pada sesama manusia di mana pun, kapan pun, dalam aktivitas kita sehari-hari yang dimulai pada hari Natal dan yang tidak berakhir.

Bukankah Allah sangat proaktif memberikan kasih-Nya kepada umat manusia? Dia telah mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk menyelamatkan kita dari dosa kekal sehingga kita memperoleh keselamatan dan hidup yang kekal. Inilah kado Natal yang sesungguhnya kita dapatkan! Karena Dia telah menyelamatkan kita, berarti Dia selalu beserta kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

Diambil dan disunting dari:

Judul buku : My Favourite Christmas
Penulis : Tema Adiputra
Penerbit : Gloria Cyber Ministries Yogyakarta, 2006
Halaman : 27 -- 34
Kategori: