Ketika Natal yang Telah Lalu Datang Kembali

Tinggalkan Komentar


Kenangan saya akan Natal beberapa tahun belakangan ini di kota Lynchburg, Ohio, masih terbayang jelas di mata saya. Ayah biasanya mengangkat tubuh saya tinggi-tinggi agar bisa menekan bel rumah nenek, dan semua orang berlarian masuk ke dalam ketika pintu dibuka. Saya bisa mencium bau lemak lilin-lilin yang dinyalakan di atas pohon Natal dan aroma permen buatan nenek yang masih bergolak di panci yang masih menyala. Merupakan pengalaman yang menggetarkan ketika bangun tidur dan menemukan sebuah jeruk di kaus kaki, dan saya tidak pernah lupa betapa menyenangkannya tahun itu ketika saya mendapatkan sepotong pisang! Kami berasal dari keluarga pendeta desa dan kami sangat miskin. Namun, kami mengalami masa-masa yang menyenangkan.

Selama setahun, saya dan saudara saya, Bob, memimpikan mendapat hadiah sepeda. Berbulan-bulan kami mendatangi toko untuk melihat-lihat dan bertengkar tentang warna sepeda yang kami inginkan. Akhirnya, kami sepakat: sepeda itu harus berwarna merah.

Pada pagi hari saat Natal, kami berlari menuju ke bawah. Di bawah pohon Natal ada beberapa hadiah kecil -- tetapi tidak ada sepeda. Kemudian, ibu berkata kepada kami, "Ayo, kita pergi ke stasiun kereta api. Mungkin sinterklas melupakan sesuatu dan bisa saja sesuatu akan datang bersamaan kereta pagi."

Jadi, pergilah kami ke stasiun B & O untuk menunggu kereta tersebut. Pintu bagasi mobil dibuka dan di sana terlihat -- sepeda dengan sebuah lampu di depannya. Itu memang sepeda bekas dan kami berdua harus bergantian saat memakainya, tetapi itu milik kami dan warnanya merah! Beberapa saat kemudian, saya mengetahui kalau ibu tetap menggunakan mantel tuanya agar kami bisa memiliki sepeda yang diimpikan.

Ketika saya berusia sekitar 7 tahun, keluarga kami tinggal di Cincinnati, dekat dengan jalur para pembalap mobil jalanan berada. Sebuah mobil khusus datang untuk meminyaki jeruji-jeruji mobil para pembalap; dan kami, anak-anak yang ada di sana, -- saya malu mengakuinya -- kerap mengolok-olok pria tua bermuka cemberut yang mengendarainya. "Dick Minyak," teriak kami ketika ia datang. "Hai, Dick Minyak!"

Suatu hari, sehari sebelum Natal, ayah meminta saya ikut karena mendapat panggilan untuk berkunjung ke rumah sakit. "Seseorang yang kamu kenal sedang tidak enak badan," ujarnya. Terbaring di tempat tidur rumah sakit, Dick Minyak! Ayah saya memperkenalkan saya kepadanya dengan nama Dick yang sebenarnya, seperti Dick adalah seorang pria terhormat, dan saat ia menggenggam tangan saya, tidak terasa berminyak sama sekali. "Aku berharap kamu akan bertumbuh menjadi pria yang baik seperti ayahmu," ujarnya. Ayah berdoa untuk Dick, dan menepuk bahunya. Ketika kami pulang, ayah berkata, "Ingat Norman, ia bukanlah Dick Minyak; ia adalah salah satu teman kita. Dan, dia adalah anak Allah."

Saat beranjak dewasa, saya menyadari hal berharga yang telah diberikan ayah kepada saya. Beliau mengajar saya untuk selalu melihat hal baik dari setiap orang. Itu adalah hadiah Natal yang sangat memengaruhi seluruh kehidupan saya, dan satu hal yang selalu saya doakan untuk bisa saya bagikan kepada sesama.

Suatu kali, seorang perempuan muda di Switzerland, Ursula, tinggal bersama keluarga saya di New York. Saat Natal mendekat, ia ingin memberikan hadiah kepada keluarga saya sebagai tanda terima kasih.

Ia pergi ke toko perlengkapan anak, membeli sebuah baju bayi yang indah, dan membungkusnya dengan kertas kado. Kemudian, ia mendekati salah seorang sukarelawan Salvation Army (Bala Keselamatan) di sudut ruangan. "Tuan," ujarnya, "saya memiliki sebuah baju untuk bayi yang membutuhkannya. Apakah Anda bisa merekomendasikan bayi yang mau menerimanya?"

"Sepertinya, ada lebih dari satu bayi yang mau."

Bersama-sama, mereka memanggil taksi dan sukarelawan Salvation Army ini memberi sebuah alamat di pinggir kota. Saat taksi berhenti di depan sebuah rumah petak yang bobrok, sukarelawan Salvation Army membawa paket hadiah ini. "Bilang saja hadiah ini dari seseorang yang merasa diberkati dan ingin membagi berkat tersebut kepada orang lain," ujar Ursula.

Ketika sopir taksi mengantarkan Ursula sampai di depan rumah kami, ia memberi tahu Ursula bahwa ongkos taksi gratis; tidak dikenai biaya. "Tak usah khawatir," kata sopir itu. "Saya merasa telah dibayar lebih besar dari argo ini." Ursula memberi tahu kami tentang hadiahnya di pagi hari. Cerita itu merupakan salah satu hadiah terbaik yang pernah kami terima.

Setelah ketiga anak kami beranjak dewasa dan memiliki keluarga sendiri, suatu kali saya dan istri, Ruth, berada di London untuk berlibur. Kami ingin berpetualang ala Charles Dickens. Pada malam Natal, kami makan malam dalam porsi besar, kemudian berjalan kaki, bunyi sepatu kami bergema di jalan yang kering. Perjalanan terasa suram, dan pada saat semangat Natal kami sepertinya menurun, kami mendengar suara nyanyian dari arah yang agak jauh.

Saat kami berjalan mendekat, bunyi trompet dan suara paduan suara terdengar semakin keras. "O Come, All Ye Faitfhful!" (Hai Mari Berhimpun), "It Came Upon the Midnight Clear!" (Di Malam Sunyi Bergema). Kami mendengar keseluruhan lagu tersebut. Saat kami mendekat ke Trafalgar Square, kami bisa melihat kerumunan ribuan orang di sana. Band dari Salvation Army bermain di atas panggung. Cuaca agak dingin, tetapi orang-orang tersebut sedang bersukacita, menyanyikan lagu "Joy to the World!" (Hai Dunia Bersoraklah) sekencang-kencangnya.

Di sinilah, kami berdiri, beribu-ribu kilometer dari rumah dan merasa di "rumah" karena semangat yang mengelilingi kami. Kami merasakan hal yang sama beberapa tahun yang lalu saat membawa semua anak dan cucu kami dalam perjalanan ke Afrika, dan duduk di luar tenda di bawah kelap-kelip bintang-bintang. Kami membaca cerita kelahiran Kristus dari Injil Lukas.

Ada sebuah kisah tentang anak laki-laki Afrika yang memberi hadiah Natal sebuah kerang laut yang indah dan unik kepada misionarisnya, cerita ini sangat berpengaruh bagi saya dan Ruth. Anak laki-laki ini berjalan melalui jarak yang sangat jauh, melewati daerah yang berbatu-batu, untuk mencapai daerah yang pantainya memiliki jenis kerang tertentu, yang hanya ditemukan di sana. Guru tersebut sangat tersentuh. "Kamu menempuh perjalanan yang sangat jauh untuk membawakanku hadiah yang indah ini," ujarnya. Wajah anak laki-laki ini terlihat penuh teka-teki, kemudian matanya membesar dengan penuh kesenangan, "Oh ya, Guru," jelasnya, "perjalanan panjang adalah bagian dari hadiah."

Tentu saja, banyak sekali waktu di sepanjang tahun dipakai untuk berbelanja sebelum Natal, menulis khotbah, serta mengatur jadwal kebaktian terlihat sangat menyibukkan kami sehingga saya dan istri sering tergoda untuk mengangkat tangan dan berkata, "Arrgh, semua kesibukan ini sangat merepotkan!" Namun, kemudian, kami berdua saling memandang dan berkata, "Perjalanan panjang adalah bagian dari hadiah." Dan, akhirnya, kami berdua tertawa dan kembali bekerja.

Cerita-cerita di atas adalah bagian dari benang merah yang mengikat keluarga kami menjadi satu serta menguatkan selama bertahun-tahun. Natal adalah penegasan yang terus berlanjut tentang idealisme dan kenyataan yang tak pernah terpikirkan oleh manusia. Manusia merasa lahir baru dan dikuatkan. Terus-menerus selama bertahun-tahun.

Melihat ke masa lalu tidak membuat saya bernostalgia dan merasa sedih -- sama sekali tidak. Kenangan itu memberikan saya kejutan penuh kegembiraan untuk terus melanjutkan hidup. Dan, kenangan tersebut menambah kekayaan untuk menikmati perayaan Natal saat ini.

Diambil dan disunting dari:

Judul buku : Kisah-Kisah Iman Natal
Penulis : Norman Vincent Pale
Penerbit : Gospel Press, Batam 2006
Halaman : 302 -- 309

"Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik." (Ibrani 10:24)

< http://alkitab.sabda.org/?Ibr+10:24 >

Kategori: