Perjalanan hidup pasangan suami istri, Pdm. Ungke Godfried Dirk dan Ester Widyawati sangat unik. Mereka sama-sama mempunyai masa lalu yang kelam. Ester, anak pendeta yang getol belajar bela diri dan tari ular. Sementara Ungke, dari kecil sudah belajar karate, judo, dan silat di Perguruan Kayutsi, serta mempelajari kekebalan tubuh dan doyan berkelahi. Karena kemampuan bela dirinya, Ungke pernah menjadi pelatih di lingkungan Akabri dan Polri Yogyakarta. "Meskipun kami berdua dari keluarga Kristen, kami sama-sama punya masa lalu yang kelam. Namun, Tuhan begitu sabar terhadap kami, Ia terus menuntun kami mengenal-Nya," kata Ester yang dulu kerap mempertontonkan kebolehannya menari ular di kampus ataupun acara di kampung.
Mereka menikah di GPIB Margamulya, Yogyakarta, 12 Mei 1989. Seminggu setelah menikah, Ungke berangkat berlayar. Dia pulang setahun sekali untuk menemui Ester yang bekerja di Jakarta. Merasa kurang pas berkeluarga "jarak jauh", tahun 1992, Ungke mencari pekerjaan di darat agar bisa terus bersama-sama Ester. Singkat cerita, Ungke yang lahir 21 September 1961 ini diterima bekerja sebagai sopir di GBI Bukit Kalvari yang digembalakan oleh Pdt. Ade Manuhutu, tempat ia beribadah. Beberapa tahun kemudian, Ungke melanjutkan kuliah di STII Jakarta. Kedua lingkungan baru itu semakin mendekatkan mereka pada Tuhan.
Menanti Buah Hati
Setelah melewati lima tahun usia pernikahan, Ester yang lahir pada 27 Oktober 1963 ini belum juga hamil. Seperti pasangan suami istri lainnya, mereka mulai gelisah. Berbagai usaha pun dilakukan. Hasil pemeriksaan dokter kandungan di YPK Theresia, Menteng Jakarta Pusat menunjukkan ada penyumbatan di sisi kanan dan kiri rahim Ester. Untuk membukanya, dokter melakukan tindakan "tiup".
Setelah sekian lama, usaha ini tak berhasil, Ester pun pindah kepada dokter di Semarang. Namun karena tak sanggup untuk selalu bolak-balik Jakarta-Semarang, pengobatan itu pun dihentikan. Bisa dipahami, "bolak-balik" ke dokter bukan hal ringan -- memakan waktu, tenaga, pikiran, dan biaya yang tak sedikit. Apa lagi tahun 1998, krisis moneter menerpa Indonesia. Ester tidak lagi bekerja.
Tahun 1999, seorang dokter menganjurkan Ester untuk menjalani sebuah operasi dengan perkiraan biaya sebesar Rp 5 juta. Sayangnya, anjuran dokter itu tidak dapat mereka penuhi karena alasan biaya. "Dari peristiwa ini, saya dan Ungke cuma bisa pasrah dan berserah pada Tuhan. Hari-hari selanjutnya, kami berdoa agar semakin mengerti kehendak Tuhan dalam pernikahan kami. Ketika saya berhenti bekerja, saya mulai sibuk terlibat pelayanan bersama Ungke yang memang melayani sepenuh waktu," kenang Ester.
Berkat di Tengah Badai
Lambat-laun mereka mulai "lupa" de