Saat Harus Memilih

Gambar: AYT

Sejak kecil saya memang sudah dicap anak nakal. Saat SMA saya sering bolos sekolah. Bukan sekadar bolos, bahkan bersama teman-teman kami pergi ke tempat disko pada jam sekolah. Di sanalah saya mulai mengenal narkoba. Kenakalan saya mungkin disebabkan oleh kurangnya perhatian dari orang tua dan juga lingkungan pergaulan saya. Untuk menghilangkan stres di rumah karena orang tua sering bertengkar, saya terbiasa meminum obat penenang beberapa butir sekaligus, agar bisa tidur dan melupakan segala masalah. Akibatnya tingkat stres saya bertambah tinggi saat saya tidak mengonsumsi obat-obat tersebut.

Kebandelan saya tidak sampai di situ. Dengan maksud untuk melindungi diri, saya mempelajari ilmu hitam yang membuat saya kebal terhadap benda-benda tajam. Memang saya jadi kebal, tapi efeknya saya menjadi sensitif, mudah emosi, dan marah-marah. Perpaduan dari obat terlarang dan ilmu hitam yang saya pelajari justru membuat hidup saya bertambah hancur. Saya menjadi sering stres dan perasaan sangat tidak tenang.

Saat saya berusia dua puluh tahun, ayah saya meninggal karena komplikasi jantung. Hidup saya yang sudah kacau semakin terguncang. Apalagi setelah mengetahui ternyata ayah meninggalkan banyak sekali hutang dalam bisnis semasa hidupnya. Segera pihak bank menuntut pembayaran hutang tersebut, sementara sayalah yang harus bertanggung jawab karena saya anak laki-laki dalam keluarga. Kematian ayah sudah merupakan sebuah pukulan berat bagi saya, sekarang ditambah tekanan hutang yang harus dibayar, hingga timbul keinginan untuk bunuh diri saja agar selesai semua masalah itu.

Saya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat saya.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Suatu hari tanpa sengaja saya menonton sebuah program acara kristen di televisi. Pembawa acara itu menunjuk saya dengan telak, sambil mengatakan bahwa ada seseorang sedang merencanakan bunuh diri sekarang ini! Tentu saja hal itu membuat saya sangat terkejut, karena saya tahu sayalah yang dimaksudkannya. Ia mengatakan agar saya menghentikan niat itu, bertobat dan mengikuti Tuhan Yesus, mohon pertolongan-Nya, maka saya akan dipulihkan dan dipakai Tuhan untuk menjadi hamba-Nya. Kemudian pria itu berdoa bagi saya. Walaupun hanya didoakan melalui televisi, kuasa Tuhan memang bekerja tanpa batas. Hari itu juga saya dibebaskan dan damai sejahtera Tuhan turun atas saya sehingga niat untuk bunuh diri hilang sama sekali.

Setelah hari itu, walaupun saya sudah dibebaskan, namun saya kembali lagi pada kesenangan lama. Masih bersama teman-teman pergi ke diskotek dan pesta narkoba. Padahal waktu itu tidak lama lagi saya akan menikah, dan calon mertua saya selalu berpesan agar saya percaya kepada Yesus. Namun saya tidak terlalu menghiraukannya. Suatu hari saat pergi ke toko, saya merasa ada sesuatu yang merasuki saya -- memang saya baru saja pulang dari diskotek pukul 05.30 WIB. Setiba di toko, saya menjadi seperti kerasukan dan tidak sadarkan diri. Saya menjerit-jerit ketika melihat ibu saya, para karyawan, dan seorang pembeli, semuanya sedang memegang senjata seolah ingin membunuh saya. Saya langsung mengejar tamu pembeli itu dan ingin memukulnya, namun untunglah seorang teman menahan tangan saya.

Roh jahat yang merasuki saya memperlihatkan sebuah tanah pekuburan dan mengatakan tempat saya sudah disiapkan di sana. Saya ketakutan dan berteriak-teriak pada ibu saya agar membelikan saya sebotol valium. Ibu tidak mengabulkan permintaan saya, karena dia tahu saya akan mati kalau meminum dosis seperti itu, sehingga membuat saya berteriak-teriak mengatakan mengapa ibu ingin membunuh saya. Karena belum sadar juga, saya dibawa masuk ke dalam ruangan kantor saya. Tapi, sebelum masuk ke dalamnya, saya melihat ada salib bersinar di atas pintu kantor saya. Saat itu juga, saya melihat roh jahat mendekati saya dan dia bertanya apakah saya tetap mengikutinya atau menjadi pengikut Yesus, sambil menunjuk salib itu. Saya menjawab bahwa saya akan mengikuti Yesus. Tiba-tiba karena jawaban itu, sebuah cahaya terang menyorot ke tubuh saya. Sebuah perasaan sejuk dan damai melingkupi saya.

Anehnya sejak terang Tuhan Yesus menyinari tubuh saya, semua keterikatan saya dengan obat-obatan dan rokok terlepas semuanya, padahal saya tidak menjalani pengobatan di rehabilitasi. Teman-teman saya banyak yang tidak percaya saya bisa berhenti total dari kecanduan dan kesenangan di dunia malam. Menurut mereka, bagaikan mobil yang dipacu dengan kencang, tidak mungkin berhenti dengan mendadak tanpa melalui langkah-langkah yang seharusnya. Saya dibaptis sebagai langkah iman saya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat saya.

Download Audio

Diambil dari:
Judul buletin : SUARA, Edisi 76, Tahun 2004
Penulis : Michael Candra
Penerbit : Yayasan Persekutuan Usahawan Injili Sepenuhnya Internasional (PUISI), Jakarta
Halaman : 20 -- 23
Kategori: 

Tinggalkan Komentar