RSS Wanita

Subscribe to RSS Wanita feed
Updated: 1 minggu 5 days ago

Aplikasi Publikasi SABDA

Kam, 20/09/2018 - 11:14

Publikasi elektronik YLSA merupakan salah satu wujud pelayanan literatur yang diselenggarakan oleh Yayasan Lembaga SABDA. Selain melalui sistem jaringan milis I-KAN (Internet -- Komputer Alkitab Network), kini Anda bisa mendapatkan publikasi elektronik YLSA melalui aplikasi Android Publikasi SABDA. Sebanyak lebih dari 20 publikasi dari berbagai bidang pelayanan, dengan jadwal terbit publikasi yang bervariasi (mingguan, dwimingguan, dan bulanan), bisa Anda nikmati di mana saja dan kapan saja. Dengan adanya aplikasi Publikasi SABDA, bahan-bahan kekristenan yang bermutu dan alkitabiah ini pun bisa lebih mudah disebarkan kepada rekan-rekan Anda. Segeralah mengunduh aplikasi Publikasi SABDA dan mari kita bersama-sama bertumbuh dalam Kristus.

Anda bisa mengunduh aplikasi Publikasi SABDA melalui tautan berikut ini:

Download Aplikasi Publikasi SABDA

Kepedulian Tuhan kepada Ibu Tunggal

Kam, 20/09/2018 - 11:13
edisi - 180 Menjadi Ibu Tunggal

Minyak Janda

2 Raja-Raja 4:1-7

Dia sangat putus asa. Seorang janda dengan dua anak laki-laki. Suaminya telah meninggal dan meninggalkan dia dengan utang yang tidak dapat dia bayar. Oh, dia orang yang baik, bahkan orang religius. Dan, dia berusaha keras untuk melakukan pembayaran. Namun, hari ini, dompetnya kosong dan lemarinya kosong. Berita telah sampai kepadanya bahwa penagih utang menuntut pembayaran dan akan mengambil kedua anaknya untuk bekerja sebagai budak guna melunasi utang suaminya.

Dengan putus asa, dia berlari ke rumah Elisa. Dia adalah “orang suci”, seorang nabi, seorang pria yang dikhususkan oleh Allah. Pendeta lokal hari ini. Dia mengenal suaminya dari komunitas religius tempat mereka bekerja sama. Janda muda itu menumpahkan kesedihannya kepada Elisa. “Hambamu, yaitu suamiku, sudah mati,” isaknya, “dan engkau mengetahui bahwa hambamu itu takut akan TUHAN. Namun, sekarang penagih utang datang untuk mengambil kedua anakku untuk menjadi budaknya.”

Elisa bertanya kepadanya, “Apa yang dapat aku perbuat? Beritahukanlah apa yang kamu punya di rumah.”

“Tidak ada sesuatu apa pun di rumah hambamu ini,” katanya, “selain hanya sebuah buli-buli berisi minyak.”

Lalu, Elisa menyuruhnya melakukan hal yang aneh. Dia menyuruhnya, “Pergi, dan mintalah bejana-bejana dari luar, dari semua tetanggamu bejana-bejana yang kosong. Namun, jangan mengumpulkan sedikit. Sesudah itu, masuk dan tutuplah pintu sesudah anak-anakmu masuk. Kemudian, tuanglah minyak itu ke dalam seluruh bejana dan angkatlah yang sudah berisi penuh.”.

Mengetahui sedikit minyak yang dimilikinya di rumah, wanita ini bisa dengan mudah menuliskan nasihat aneh ini sebagai pikiran yang tidak berguna dari seorang fanatik religius. Namun, ternyata tidak. Dia memiliki iman dalam dirinya dan situasi yang benar-benar membutuhkan keajaiban. Jadi, dia pergi bersama anak-anaknya untuk mengumpulkan bejana-bejana. Dan, bukan hanya sedikit! Tidak bisakah Anda membayangkan gumaman di lingkungan ini karena ibu muda dan anak-anaknya itu mengetuk pintu demi pintu dengan pertanyaan, “Bisakah saya meminjam bejana cadangan yang Anda miliki?”

Kemudian, ketika mereka punya banyak bejana, saat meja mereka tertutup oleh bejana-bejana itu seperti juga di lantai, ibu menutup pintu setelah anak-anaknya masuk. Dia meraih ke dalam lemari berisi sebotol kecil minyak dan mulai menuangkannya. Satu bejana terisi, lalu dua, lalu tiga. Anak-anak membawa bejana-bejana kepadanya dan dia terus menuang.

Bayangkan kegembiraan yang muncul di rumah kecil itu karena masing-masing bejana diisi dari botol kecil itu. Bayangkan semua bejana di atas meja penuh dan anak-anak mulai mengangkat bejana-bejana dari lantai. Ibu melirik ke buli-buli minyak kecil itu. Masih ada minyak di sana! Dia tersenyum kepada anak-anaknya dan mereka membalas senyumnya. Sebuah kegembiraan yang diam-diam muncul saat mereka menyadari bahwa mereka menyaksikan sebuah keajaiban, sebuah demonstrasi pribadi tentang kemurahan dan anugerah Allah. Keajaiban yang diam-diam itu hanya bisa terjadi karena iman dan ketaatan seorang ibu yang mengambil risiko.

“Dekatkanlah kepadaku bejana lainnya,” katanya kepada anaknya. Akan tetapi, anaknya menjawab, “Tidak ada lagi bejana.” Kemudian, minyak itu pun berhenti mengalir.

Dengan gembira, wanita itu berlari kembali ke rumah Elisa dan memberi tahu Elisa apa yang telah terjadi. Kata-katanya pasti berantakan saat dia menceritakan keajaiban itu. Elisa berkata, “Pergi dan juallah minyak itu untuk membayar utangmu, sehingga kamu dan anak-anakmu dapat hidup dari sisanya.”

Bagaimana lingkungannya pasti membicarakan desas-desus saat ibu dan anak-anaknya membawa bejana-bejana ke pasar dan menjual minyaknya. Betapa iman pasti tumbuh dalam hati wanita dan anak-anaknya saat uang dikumpulkan, masuk ke dalam sakunya. Betapa bersyukurnya dia saat dia dengan penuh syukur membayar penagih utang yang mengejar.

Betapa nyenyak tidurnya malam itu karena mengetahui bahwa dia memiliki Allah yang dapat melakukan mukjizat. Dia memiliki Allah yang peduli kepadanya dan kedua anaknya. Ya, dia punya Allah yang bisa diandalkan. Betapa bersyukurnya dia bahwa dia telah mengambil risiko mengumpulkan bejana-bejana tersebut saat dia tahu dia tidak memiliki minyak untuk mengisinya. Betapa luar biasa keajaiban yang mungkin saja mereka lewatkan!

Bayangkan bagaimana dia dan anak laki-lakinya menceritakan ulang kisah itu berulang-ulang pada tahun-tahun mendatang. Allah bisa diandalkan!!

Allah yang kemarin masih tetap adalah Allah hari ini. Allah dari janda itu masih tetap adalah Allah yang sama, yang peduli dengan Anda dan anak-anak Anda. Dia masih melakukan keajaiban. Dia masih mencari hati yang akan memercayai Dia, hati yang akan mengambil risiko untuk percaya dan taat.

Jika Anda membutuhkan keajaiban hari ini, datanglah kepada Allah dan mintalah pertolongan dari Dia. Temukan orang yang saleh untuk berdoa bersama Anda. Percayalah kepada-Nya, taatilah Dia, dan perhatikan Dia bekerja.

“Marilah kita datang menghampiri takhta anugerah supaya kita menerima belas kasihan dan menemukan anugerah untuk menolong kita, ketika kita membutuhkannya.” (Ibrani 4:16, AYT)

“Engkau telah menjadi penolong bagi para yatim piatu.” (Mazmur 10:14b, AYT) (t/Jing-Jing)

Download Audio

Diterjemahkan dari: Nama situs : The Christian Woman Alamat situs : http://www.thechristianwoman.com/christian-women-topics/gods-care-single-mom Judul asli artikel : God's Care for A Single Mom Penulis artikel : Gail Rodgers Tanggal akses : 15 Juni 2017 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: DUNIA WANITAkategori: KELUARGA

Menjadi Ibu Tunggal

Kam, 20/09/2018 - 11:06

Salam dalam kasih Kristus,

Menjadi ibu tunggal bukanlah pilihan bagi kebanyakan wanita. Namun, situasi hidup terkadang membuat seseorang harus menyandang gelar tersebut, meski itu bukan kondisi yang ideal untuk membesarkan anak. Selain beban ekonomi yang harus ditanggung sendiri, ibu tunggal juga harus berperan sebagai kepala keluarga sekaligus pengasuh tunggal dalam mendidik dan membesarkan anak. Namun, situasi para ibu tunggal tentu tidak akan terluput dari kasih dan pemeliharaan Allah. Allah adalah tempat perlindungan yang aman bagi mereka yang lemah dan berbeban berat. Dia tidak akan mengabaikan situasi sulit yang harus dihadapi oleh para ibu tunggal jika mereka berseru kepada-Nya. Melalui kisah yang terdapat dalam 2 Raja-Raja 4:17, kita akan melihat bagaimana Allah peduli dan memelihara kehidupan seorang ibu tunggal dengan cara yang luar biasa. Melalui kisah tersebut dan juga kisah para ibu tunggal lain dari Alkitab maupun dari pribadi-pribadi yang kita kenal, kita akan melihat peran Allah sebagai kepala rumah tangga sekaligus Bapa yang baik dalam rumah tangga mereka. Sajian kami kali ini akan menegaskan pernyataan tersebut kepada Anda, sekaligus juga memberikan wawasan tentang kesalahan apa yang harus dihindari oleh para ibu tunggal. Selamat membaca sajian kami. Tuhan Yesus memberkati.



Pemimpin Redaksi e-Wanita,
N. Risanti

Lima Hal untuk Dilakukan Sementara Anda Melajang

Kam, 06/09/2018 - 08:34

Hidup melajang bukanlah sebuah penyakit. Ini adalah sebuah kesempatan bagi Anda untuk bertumbuh, belajar, dan mengalami hidup sedemikian rupa yang tidak bisa Anda lakukan ketika Anda menikah.

Berikut adalah lima hal untuk dilakukan sementara Anda melajang:

1. Jadilah teguh di dalam iman Anda.

Bangunlah iman Anda pada sebuah fondasi yang tidak bisa digoncangkan, siapa pun yang Anda temui. Ini tidak hanya akan mendatangkan damai selama masa melajang Anda, tetapi juga akan menolong Anda di dalam perjalanan Anda menemukan orang yang Anda rencanakan untuk bersama dengan Anda selama sisa hidup Anda. Jangan biarkan kepercayaan Anda berubah tergantung pada siapa yang ingin Anda buat terkesan. Taktik ini akan selalu kembali merugikan Anda dalam jangka panjangnya. Temukan seseorang yang melengkapi pengabdian Anda kepada Allah.

2. Mantap dalam identitas pribadi Anda.

Kenalilah siapa diri Anda sebelum mencoba menjelaskannya kepada orang lain. Yakinlah dengan tujuan Anda, tubuh Anda, identitas Anda dan pilihan-pilihan hidup Anda. Hubungan-hubungan tidak akan memperbaiki masalah identitas Anda, tetapi hal tersebut bisa menjadi tambahan yang besar kepada siapa diri Anda sebagai seseorang.

3. Fokuslah dengan sekolah, atau mulailah karir Anda.

Anda memiliki banyak waktu dengan tangan Anda. Daripada menggunakannya dalam kubangan hidup melajang Anda, pergilah lakukan sesuatu untuk diri Anda sendiri. Anda lebih berharga daripada sekadar duduk-duduk di bangku menantikan signifikansi yang orang lain tentukan bagi Anda. Melangkahlah keluar ke dalam dunia dan jadilah dewasa dengan langsung melakukannya. Mulailah membangun masa depan Anda daripada sekadar memimpikannya.

4. Belajarlah untuk mandiri sampai hal sebaliknya diperlukan.

Tidak ada salahnya menginginkan untuk menjadi ibu yang tinggal di rumah, atau bahkan menjadi seorang laki-laki yang bekerja dari rumah. Akan tetapi, sampai salah satu dari kesempatan itu terjadi, Anda perlu memastikan Anda melakukan segala yang mungkin untuk mencukupi kebutuhan Anda sendiri, keluarga masa depan Anda dan keinginan masa depan Anda. Jangan hidup dari hari ke hari. Rencanakan masa depan, jadilah penatalayan yang baik dari apa yang Anda miliki, dan pandanglah aneka kemungkinan. Anda berutang kepada diri Anda sendiri untuk menjadi dewasa dalam semua aspek hidup Anda.

5. Berhentilah berpacaran dengan orang-orang yang Anda tahu tidak tepat untuk Anda.

Sementara Anda masih melajang, jauhi pengalaman kencan buta. Jika Anda tidak berpacaran dengan kesungguhan, itu akan selalu berakhir dengan kehancuran. Jika Anda mengenal seseorang yang tidak sesuai dengan kriteria Anda, jangan beri waktu kepadanya. Semua yang Anda lakukan akan menyakiti mereka dan mengakibatkan kehancuran pada diri Anda sendiri. Berhentilah berpacaran dengan orang-orang yang salah dan mulailah berfokus untuk menjadi orang yang Allah kehendaki. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Church Leaders URL : https://churchleaders.com/outreach-missions/outreach-missions-articles/3... Judul asli artikel : 5 Things to Do While You Are Single Penulis artikel : Jarrid Wilson Tanggal akses : 27 Juli 2018 Kategori Tips: LAJANGTipe Bahan: Tips

Mari Bergabung dalam Diskusi "Mengenal John Calvin" di Grup Facebook Bio-Kristi!

Kam, 16/08/2018 - 15:39
Mari Bergabung dalam Diskusi "Mengenal John Calvin" di Grup Facebook Bio-Kristi!



Johanes Calvin adalah seorang pemimpin gerakan reformasi gereja di Swiss. Ia merupakan generasi kedua dalam jajaran pelopor dan pemimpin gerakan reformasi gereja pada abad ke-16, tetapi peranannya sangat besar dalam gereja-gereja reformatoris. Gereja-gereja yang mengikuti ajaran dan tata gereja yang digariskan Calvin tersebar di seluruh dunia.

Untuk bersama-sama mengetahui lebih dalam mengenai tokoh reformasi sekaligus tokoh besar di belakang gereja-gereja beraliran reformasi ini, mari bergabung bersama kami dalam diskusi Bio-Kristi "Mengenal John Calvin". Diskusi akan berlangsung pada tanggal 17 -- 28 September 2018 di Grup Facebook Bio-Kristi.

Jika Anda tertarik, silakan mendaftarkan diri ke:



Email Bio-Kristi


Grup Bio-Kristi

Tujuh Kualitas yang Wanita Bawa dalam Tim Kepemimpinan

Kam, 16/08/2018 - 15:37
edisi - 179 Pemimpin Wanita

Perdebatan panjang mengenai perempuan dalam kepemimpinan pada pelayanan telah berlangsung sejak lama. Ini bukanlah hal yang baru meskipun perdebatan tersebut, yang kini berlangsung secara daring, membuatnya jadi terasa seolah-olah baru. Namun, benar, percakapan ini telah berlangsung selama beberapa dekade, dan, jika Anda bertanya kepada saya, kita telah membuat sedikit kemajuan.

Kedua pihak menggunakan kitab suci untuk mempertahankan posisi mereka. Keduanya yakin sepenuhnya bahwa mereka benar. Keduanya menganggap Allah ada di pihak mereka.

Dan, sangat sedikit yang pernah “memenangkan” seseorang ke pihak lawan.

Sejujurnya, saya lelah berdebat tentang hal itu. Bahkan, saya pikir saya tidak ingin terlibat dalam perdebatan tersebut lebih lama lagi. Apa yang ingin saya lakukan, sebaliknya, adalah merayakan berbagai karunia wanita yang sudah menjadi pembicaraan di mana-mana.

Tidak satu pun dari kualitas ini terbatas hanya bagi wanita, juga tidak semua wanita memiliki sifat-sifat ini. Akan tetapi, dalam beberapa tahun, saya bekerja di dalam dan di sekitar gereja, dan dengan para pendeta, saya telah menemukan banyak wanita yang telah membawa sifat-sifat tidak ternilai ini ke dalam pembicaraan, dan tim kami akan menjadi lebih buruk tanpa mereka.

Karunia apa yang dapat Anda lewatkan dengan tidak melibatkan wanita dalam komunitas Anda?

1. Empati.

Saya telah bekerja dengan wanita yang memiliki kemampuan untuk berempati dengan situasi, orang, dan keadaan, dengan cara yang tampaknya asing bagi saya dan banyak rekan kerja saya. Bahkan, ada saat-saat ketika tampaknya para wanita ini memiliki indra keenam untuk apa yang terjadi di bawah permukaan konflik, masalah, atau ketegangan dalam rapat.

Dengan menggunakan keterampilan empati mereka, para wanita yang dengannya saya telah bekerja telah mampu menavigasi keadaan yang sulit ini untuk mencapai hasil yang lebih positif bagi semua yang terlibat.

2. Kemampuan untuk mengerjakan banyak hal sekaligus.

Saya tidak memaknai kemampuan untuk melakukan banyak hal sekaligus dalam bentuk kata yang paling sederhana. Saya tidak berbicara tentang kemampuan untuk berjalan dan berbicara pada saat yang bersamaan. Saya berbicara tentang kemampuan untuk fokus pada banyak tujuan yang berbeda, untuk melihat hal-hal dengan cara yang memiliki nuansa, dan memperhatikan kaitan antara hal-hal yang mungkin tidak disadari oleh orang lain.

Ini sangat penting bagi lingkungan gereja karena, tidak peduli apa pun yang sedang kami kerjakan, selalu ada banyak lapisan yang terlibat. Kita tidak hanya berusaha mencapai tujuan yang nyata (seperti menyusun suatu kebaktian Minggu) tetapi juga perlu menjadi selaras dengan tujuan yang lebih abstrak -- seperti mendengarkan arahan spiritual dan mencoba melayani komunitas orang-orang dengan kebutuhan dan keinginan unik.

3. Kelembutan.

Banyak wanita yang bekerja dengan saya memiliki kemampuan luar biasa untuk mengomunikasikan pesan sedemikian rupa sehingga kebenaran tidak dikorbankan, tetapi juga tidak dengan mengesampingkan kelembutan.

Baik dalam komunikasi publik dan komunikasi antarpribadi, saya telah melihat banyak hati menjadi lembut atas pesan yang sulit karena karunia yang harus dikomunikasikan seorang wanita dengan cara yang menyenangkan.

4. Gairah.

Hanya karena wanita yang bekerja dengan saya dalam pelayanan sangatlah lembut, tidak berarti mereka tidak bersemangat. Faktanya, salah satu hal yang saya sukai dari bekerja dengan wanita di gereja adalah mereka penuh dengan ide dan pemikiran serta tidak takut untuk menceritakan apa yang mereka pikirkan.

Gairah yang mereka miliki seperti mesin yang kuat, yang membuat kendaraan bergerak, bahkan ketika keadaan menjadi sulit.

5. Kecerdasan relasional.

Pelayanan pastoral bersifat sangat relasional, dan kecuali kita memiliki orang-orang dalam tim kepemimpinan kita yang dikaruniai dengan kemampuan untuk mengembangkan dan mengembangkan hubungan, gereja kita akan mengalami kesulitan.

Tentu saja, kecerdasan relasional tidak terbatas pada wanita, tetapi saya telah melihat banyak wanita dalam pelayanan dapat menangani masalah relasional yang sulit di tempat kerja dan saya tidak ingin kehilangan kualitas ini.

6. Optimisme.

Wanita cenderung lebih optimis daripada pria. Mereka cenderung melihat gelas sebagai setengah penuh dan mencari peluang, bahkan dalam situasi terburuk. Ini bukan hanya pendapat saya. Itu terbukti benar.

7. Integritas.

Jika Anda mengeklik artikel Forbes, Anda akan melihat wanita juga cenderung menunjukkan integritas dan kehormatan yang lebih tinggi daripada pria. Saya harus mengatakan, dalam pengalaman saya, ini benar.

Meskipun saya telah bekerja dengan semua jenis pria dan wanita yang memiliki integritas luar biasa, saya bersyukur atas cara para wanita dalam tim kami bersifat terbuka dan menerima akan keyakinan dari Roh Kudus, dan cenderung mengarahkan kami kembali kepada Yesus. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari: Nama situs : Church Leaders Alamat situs : https://churchleaders.com/pastors/pastor-articles/174133-justin-lathrop-qualities-women-bring-to-a-leadership-team.html Judul asli artikel : 7 Qualities Women Bring to a Leadership Team Penulis artikel : Justin Lathrop Tanggal akses : 16 Mei 2018 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: WAWASAN WANITAkategori: PELAYANAN

Debora: Wanita yang "Bertindak Benar"

Kam, 16/08/2018 - 15:27
edisi - 179 Pemimpin Wanita

Hakim-Hakim 4:1-5:31

Hakim Debora tidak melepaskan penjahat dengan ejekan sarkasme dan mengusir dengan tangannya. Sebaliknya, Debora di Alkitab adalah seorang nabi wanita yang terkenal, hakim yang terhormat, dan teladan ideal bagi setiap wanita yang dipanggil untuk memimpin orang lain.

Tiga ribu tahun yang lalu, Debora duduk di bawah pohon kurma tempat “orang Israel datang kepadanya untuk menghakimi mereka” (Hakim-Hakim 4:5). Tidak diragukan lagi perselisihan terbesar mereka berkisar pada penindas mereka, orang Kanaan. Sesuatu harus dilakukan, dan Debora adalah wanita untuk pekerjaan itu.

Ketika dia memerintahkan Barak, sekretaris pertahanannya, untuk mengumpulkan tentara, Debora menjelaskan siapa yang memerintah sebagai panglima tertinggi: “Tuhan, Allah Israel, yang memerintahkanmu” (Hakim-Hakim 4:6). Tidak seperti Izebel yang memerintah, yang tidak meminta nasihat siapa pun, Debora yang bijaksana mematuhi Tuhan dan meminta dengan tegas agar kehendak-Nya -- bukan kehendaknya sendiri -- yang harus dilakukan.

Bahkan, jika “tentara” kita adalah sekelompok kecil sukarelawan atau dapur yang penuh dengan anak-anak, kita dapat belajar dari gaya kepemimpinan Debora dengan mengesampingkan agenda pribadi, mendengarkan arahan Tuhan yang jelas, dan membiarkan orang lain tahu siapa yang sesungguhnya mengendalikan.

Tidak Takut dalam Pertempuran

Dengan berani dan juga bijak, Debora berjanji untuk menarik Sisera, komandan musuh, ke tepi sungai dan menyerahkannya ke tangan Barak yang sedang menunggu. Debora yang bijaksana mematuhi Tuhan dan meminta dengan tegas agar kehendak-Nya -- bukan kehendaknya sendiri -- yang harus dilakukan.

Namun, Barak menolak keras. “Jika engkau maju menyertaiku, aku pun maju. Jika engkau tidak maju menyertaiku, maka aku pun tidak akan maju.” (Hakim-Hakim 4:8) Apa kesepakatannya? Apakah dia seorang pengecut yang lemah? Atau, apakah Barak berpikir bahwa Tuhan akan memberkati usahanya hanya jika Debora yang saleh ada di sisinya?

Menggali lebih dalam:

  1. Bagaimana Mazmur 18:32-41 menggambarkan kemenangan Daud atas musuh-musuhnya? Dengan cara apa hal itu paralel dengan perang Debora melawan tentara Sisera?
  2. Menurut Ulangan 32:35 dan Nahum 1:2-3, bagaimana kita bisa memastikan jiwa-jiwa yang tidak saleh seperti Sisera memiliki pasak tenda pada masa depan?
  3. Membaca Mazmur 47:9 mengingatkan kita bahwa tidak peduli siapa yang duduk di atas takhta di dunia, hanya Satu yang benar-benar memerintah. Bagaimana mengetahui hal itu menghibur Anda sehubungan dengan kejadian-kejadian di dunia saat ini?

Apa pun masalahnya, tanggapannya cepat. “Baiklah,” kata Debora, “Aku akan pergi bersamamu” (Hakim-Hakim 4:9). Sebagai mitranya yang modern, mantan Perdana Menteri Inggris, Margaret Thatcher, pernah berkata, “Dalam dunia politik, jika Anda menginginkan sesuatu untuk dikatakan, mintalah seorang pria. Jika Anda menginginkan sesuatu untuk dikerjakan, mintalah seorang wanita.”

Debora benar-benar mengambil tindakan, tetapi memperingatkan Barak bahwa dia telah kehilangan klaim apa pun dalam kemenangan tersebut: “Akan tetapi, engkau tidak akan mendapat kehormatan atas perjalanan yang engkau tempuh ini, sebab Tuhan akan menyerahkan Sisera ke dalam tangan seorang perempuan” (Hakim-Hakim 4:9).

Ingatlah nubuat itu, dan bersiaplah untuk beberapa kejutan.

Perintah Atasan kepada Pasukan untuk Berangkat

Kedua pasukan dikerahkan: Sisera yang kejam dengan kereta besi dan orang yang sangat banyak beradu melawan Barak dengan 10.000 pasukan berjalan kaki, bukannya naik kereta. Sebelum Barak kehilangan keberaniannya, Debora memberitahunya, “Bangkitlah, sebab inilah hari pada waktu TUHAN menyerahkan Sisera ke dalam tanganmu. Bukankah TUHAN yang akan maju di depanmu?” (Hakim-Hakim 4:14).

Sekali lagi, Debora menolak keinginan untuk dianggap bahwa dia pantas dipuji atau mengambil alih, dan menjelaskan rantai komando. Oh, saya memperhatikan cerita Debora belasan tahun yang lalu! Dalam tugas singkat saya sebagai majikan, mengawasi tiga wanita yang bekerja untuk saya, saya menemukan sifat berkemauan keras saya tidak selalu berguna bagi saya. Gaya manajemen saya adalah “ikuti saya” dan “lakukan dengan cara saya”. Namun, seperti yang Debora tunjukkan, mengikuti Tuhan dan melakukan berbagai hal menurut cara-Nya, itulah memimpin orang lain yang sesungguhnya.

Grand Final (Babak Final)

Sama seperti yang diharapkan, kehendak Allah menang di medan perang: “Seluruh tentara Sisera tewas oleh mata pedang, tidak seorang pun sampai terluput” (Hakim-Hakim 4:16). Satu-satunya pengecualian adalah Sisera sendiri, yang melarikan diri dengan berjalan kaki dan mencari perlindungan di dalam tenda seorang wanita bernama Yael.

Bukan tempat yang aman karena Yael memiliki pasak tenda, palu, dan dua tangan yang kuat ....

Saya akan menyingkat kisah kematian Sisera yang menyedihkan dan beralih ke tanggapan Debora. Ketika dia mengetahui nubuatnya bahwa Tuhan akan menyerahkan Sisera kepada seorang wanita menjadi kenyataan, suara musik terdengar di seluruh negeri. Lagu Debora, fragmen sastra Ibrani tertua yang masih ada, dipersembahkan untuk Dia yang dikasihinya: “Aku mau bernyanyi; aku akan bermazmur bagi Tuhan, Allah Israel” (Hakim-Hakim 5:3).

Dia juga menyanyikan pujian tentang orang-orang yang melayani dia dengan baik -- "Hatiku tertuju kepada para panglima Israel, yang dengan sukarela telah menyerahkan dirinya" (Hakim-Hakim 5:9) -- dan dia sangat memuji Yael, menyebutnya “diberkatilah di antara perempuan-perempuan lain -- perempuan di kemah”(Hakim-Hakim 5:24). Pelajaran terakhir tentang kepemimpinan Debora: Akui usaha orang lain, daripada menepuk punggung Anda sendiri.

Dari awal sampai akhir, Debora adalah wanita Allah. Jika Tuhan memanggil Anda untuk memimpin orang lain, perhatikan untuk menjadikan motto Debora sebagai motto Anda: “Majulah hai jiwaku; dengan kekuatan!” (Hakim-Hakim 5:21). (t/Jing-Jing)

Download Audio

Diterjemahkan dari: Nama situs : Today's Christian Woman Alamat situs : http://www.todayschristianwoman.com/articles/2007/march/9.22.html Judul asli artikel : Deborah: A "Do Right" Woman Penulis artikel : Liz Curtis Higgs Tanggal akses : 13 Juni 2017 Tipe Bahan: Tokoh WanitaKolom e-Wanita: POTRET WANITAkategori: KEHIDUPAN ROHANI

Pemimpin Wanita

Kam, 16/08/2018 - 15:20

Salam dalam kasih Kristus,

Di antara wanita-wanita yang terdapat dalam Alkitab, Debora adalah salah satu nama yang tidak akan pernah dilupakan. Sebagai salah satu hakim Israel pada masa ketika bangsa itu belum memiliki raja, Debora menjadi wakil Allah untuk memimpin bangsanya menghadapi serangan bangsa Kanaan. Suatu tugas yang berat dan tidak lazim bagi seorang wanita pada zaman itu, untuk memimpin satu bangsa pilihan Allah yang bersifat patriarki. Namun, Debora berhasil, dan musuh Israel berhasil dikalahkan. Keberhasilan itu bukan berasal dari kecakapan atau kehebatan diri Debora semata, tetapi juga karena dia adalah wanita yang taat kepada Allah. Seperti kalimat yang terdapat dalam artikel kolom Potret Wanita dalam sajian kami di bawah ini: “Mengikuti Tuhan dan melakukan berbagai hal menurut cara-Nya, itulah memimpin orang lain yang sesungguhnya”. Itulah rahasia sejati dari keberhasilan Debora sebagai pemimpin.

Dalam rangka menyambut peringatan 73 tahun kemerdekaan Indonesia, e-Wanita kali ini menyajikan tema Pemimpin Wanita. Dalam kolom Potret Wanita, kita akan bersama-sama belajar bagaimana menjadi pemimpin yang berhasil dan berdampak melalui sosok Debora, seorang hakim dan pemimpin wanita pada masa Perjanjian Lama. Lalu, dalam kolom Wawasan Wanita kita akan belajar kualitas apa saja yang menjadi kelebihan dari seorang wanita untuk menjadi pemimpin. Kiranya melalui sajian kami kali ini, wawasan kita akan diperkaya dan batin kita akan semakin diasah untuk menjadi pemimpin yang beriman dan berhasil dalam setiap wilayah kehidupan kita masing-masing. Dirgahayu Republik Indonesia, Tuhan Yesus memberkati bangsa dan negara kita senantiasa!



Pemimpin Redaksi e-Wanita,
N. Risanti

DAPATKAN APLIKASI CERITA INJIL AUDIO (CIA) UNTUK GAWAI ANDA!

Sen, 23/07/2018 - 14:52
DAPATKAN APLIKASI CERITA INJIL AUDIO (CIA) UNTUK GAWAI ANDA!

Nikmatilah cerita-cerita INJIL dalam CIA, sebuah aplikasi alkitabiah yang menarik, bergambar dan beraudio yang berisi kompilasi 350+ gambar/cerita-cerita/audio!

CIA adalah aplikasi android GRATIS yang dibuat untuk memudahkan kita membaca kisah-kisah dalam Alkitab, terutama untuk mengenal siapakah Tuhan Yesus Kristus. Kisah-kisah ini dilengkapi dengan ayat-ayat Alkitab, ilustrasi bergambar, dan juga dapat didengarkan secara audible. CIA diperuntukkan bagi segala umur -- dari anak sekolah minggu sampai lansia! Bagikanlah cerita-cerita INJIL ini melalui berbagai jejaring sosial yang Anda miliki agar Kabar Baik semakin tersiar kepada generasi digital abad ini.

Dapatkan aplikasi CIA (Cerita INJIL Audio) sekarang juga di Play Store dan sebarkan informasi ini kepada keluarga dan rekan-rekan Anda!

» Aplikasi Cerita Injil Audio (CIA)

Yokhebed

Sen, 23/07/2018 - 14:51
edisi - 178 Menjadi Ibu dan Pendidik

POTRET WANITA
Yokhebed

Arti Nama : Yehova itu mulia Ayat Alkitab : Keluaran 2:1-10; Keluaran 6:20; Bilangan 26:59 Karakteristik : Beriman, Berinisiatif

Kisah tentang Yokhebed dimulai dalam pasal ke-2 dari kitab Keluaran. Di sini, kita diberi tahu bahwa dia melahirkan seorang anak laki-laki bernama Musa. Kisah Para Rasul 7:20 berkata bahwa "anak [Musa] itu cantik", yang berarti dia elok di mata Allah. Dari awal kehidupannya, ibunya tahu bahwa Musa adalah seorang anak yang "baik sekali, sesuai, dan luar biasa elok". Dia juga tahu bahwa dia harus melindungi Musa dari titah raja Mesir yang bermaksud membunuh semua putra sulung dari bangsa Israel. Iman adalah karakteristiknya yang menonjol.

Telaahlah kehidupan yang dia jalani. Di Israel, para laki-laki maupun wanita bekerja keras sebagai budak orang Mesir. Yokhebed telah memiliki dua orang anak ketika Firaun menitahkan bahwa semua anak laki-laki Ibrani yang lahir harus dibunuh. Ketakutan pasti telah berusaha mencengkeram hati "keibuannya", tetapi kita diberi tahu dalam Ibrani 11:23 bahwa dia tidak menyerah kepada ketakutan tersebut. Imannya kepada Allah dan nilai anaknya bagi dirinya membuat dia tidak takut dihukum atas ketidaktaatannya terhadap titah Firaun. Sebaliknya, dia mengurus kelahiran putranya, lalu menyembunyikan dan merawatnya sendiri di rumah selama tiga bulan.

Ketika Musa sudah terlalu besar untuk disembunyikan di dalam rumah, dia menemukan suatu rencana yang cerdik. Dia membuat sebuah keranjang yang anti air, menempatkan bayi kecilnya ke dalamnya, meletakkannya di antara alang-alang di tepi sungai, dan memberikan anak perempuannya, Miryam, tanggung jawab untuk menjaganya. Kita tidak diberi tahu berapa hari dia mengirim keduanya keluar dengan doa, iman, dan keprihatinan seorang ibu sebelum Musa ditemukan oleh putri Firaun. Namun, selamanya dia akan menjadi teladan dari seorang yang memiliki iman yang supranatural yang mengalahkan ketakutan alamiahnya. Iman kepada Allah akan selalu menempatkan kita di posisi yang tidak terjangkau oleh jerat rasa takut kepada manusia!

Kita semua pernah mengalami situasi yang membuat kita cemas. Bagi banyak orang, hal itu adalah suatu peperangan sehari-hari ketika kita berusaha mencari jalan keluar atau jalan untuk menerobos ujian kita. Kita perlu belajar sebuah pelajaran penting dari Yokhebed -- kita harus belajar membuang kekhawatiran tertentu yang kita hadapi ke sungai kasih Tuhan. Dengan iman, kita perlu untuk percaya bahwa Tuhan akan membuat kita mampu untuk melalui situasi kita yang kelam. Kita perlu terus-menerus menyerahkan persoalan dan keprihatinan kita kepada Tuhan setiap hari. Kita perlu percaya kepada-Nya seperti Yokhebed. Kita dapat yakin bahwa Yokhebed tidak pergi dan mengecek keselamatan putranya setiap jam. Dia menyerahkan penjagaan anaknya kepada Allah, bersandar hanya pada pemeliharaan-Nya. Kita perlu sungguh-sungguh menyerahkan semua kekhawatiran kita kepada-Nya sampai kita melihat persoalan kita diselesaikan.

Dalam kasus Yokhebed, jawaban Allah melalui putri Firaun tampaknya merupakan solusi yang paling tidak mungkin terjadi atas persoalan tersebut. Sering kali, seperti itu jugalah yang akan terjadi atas kita! Seperti yang dilakukan-Nya kepada Yokhebed, Allah sering kali menuntut suatu reaksi iman dari kita yang mungkin tampak tidak masuk akal bagi pikiran kita. Namun, ketika menanggapinya dengan taat, Dia akan menyelesaikan berbagai rencana-Nya yang lebih besar dalam hidup kita. Dalam saat-saat yang tersulit, adalah tepat dan baik bagi kita untuk bergantung kepada semua maksud hati Allah, dan menyerahkan semua jalan kita kepada-Nya.

Yokhebed mendapat balasan yang luar biasa untuk iman dan apa yang dianggapnya kebutuhan-kebutuhan pada masa mendatang. Dalam kelanjutan kisah ini, putranya dikembalikan kepadanya, dan dia mendapat kehormatan dan hak istimewa untuk mengajar dan mendidiknya dalam jalan-jalan Allah selama bertahun-tahun. Tahun-tahun awal seorang anak itu sangat penting. Pengaruh seorang ibu terhadap hidup seorang anak sangat menentukan. Betapa jelas terlihat bahwa Yokhebed telah melakukan tugasnya dengan rajin dan tekun. Ketiga anaknya menjadi pemimpin-pemimpin besar di Israel. Bahkan, putranya, Musa, yang mewarisi iman dan keberanian ibunya, mungkin menjadi seorang pemimpin yang terbesar sepanjang masa. Kita juga harus memiliki kerinduan besar untuk karunia iman yang sama ini sehingga karunia ini bisa diberikan kepada semua anak jasmani dan rohani kita. Kita harus memiliki kerinduan untuk menjadi seorang ibu dari bangsa Israel rohani yang akan merawat dan membimbing anak-anak muda yang Tuhan percayakan kepada kita.

Download Audio

Diambil dari: Judul buku : Wanita yang Berpengaruh dan Istimewa dalam Alkitab Judul bab : Yokhebed Penulis buku : Betsy Caram Penerbit : Voice of Hope, Jakarta 2004 Halaman : 58 -- 59 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: POTRET WANITAkategori: KEHIDUPAN ROHANI

Apakah Lebih Baik bagi Para Ibu untuk Tinggal di Rumah?

Sen, 23/07/2018 - 14:48
edisi - 178 Menjadi Ibu dan Pendidik

Saya adalah seorang penulis dan eksekutif utama di sebuah biro iklan ketika saya memutuskan untuk meninggalkan profesi saya untuk tinggal di rumah dan membesarkan anak-anak saya. Saya ingin menjadi orang yang mengasuh dan mendidik anak-anak kami, dan pekerjaan saya yang sibuk tidak memberi cukup waktu untuk melakukannya dengan baik.

Di satu sisi, ketika saya meninggalkan dunia bisnis, saya tidak pernah menengok ke belakang. Saya senang berada bersama anak-anak saya, dan saya mulai menemukan penyaluran-penyaluran kreatif di dalam dan di sekitar rumah. Saya memperdalam kehidupan doa saya. Tentu ada beberapa penghargaan. Namun, di sisi lain, meninggalkan pekerjaan saya sangatlah sulit. Terus terang, saya benar-benar bergumul tentang identitas saya.

Saya bekerja di bidang periklanan selama dua tahun sebelum berhenti dengan dua rekan untuk memulai agensi baru. Saya berusia 25 tahun pada saat itu. Pada tahun yang sama, saya menjadi seorang Kristen yang lahir baru. Sungguh suatu perjalanan yang menggairahkan! Kami bekerja selama sepuluh atau dua belas jam sehari, dan mengalami beberapa keberhasilan. Bisnis baru mengalir kepada kami. Asosiasi periklanan memperhatikan dan memuji pekerjaan kami. Kami tiba-tiba memenangkan klien-klien dari kota lain. Saya bahkan punya klien di negara lain.

Saya adalah seorang wanita yang sukses di dunia kaum pria. Saya benar-benar "meraih mimpi". Saya mengasihi Yesus dan menjadi seorang Kristen, tetapi identitas utama saya adalah "seorang profesional sukses". Pekerjaan saya adalah sumber utama penegasan dan pencapaian pribadi saya. Saya bisa menjalankan kendali, melihat hasilnya secara teratur, dan diberi imbalan untuk itu, baik dengan pengakuan maupun kompensasi.

Kurang Mencapai yang Terbaik

Beberapa tahun kemudian, saya menikahi pria yang luar biasa (yang kebetulan adalah salah satu rekan bisnis saya!), dan tidak lama kemudian, kami memiliki seorang putra. Saya mencoba bekerja paruh waktu dan (seperti yang saya tahu bahwa begitu banyak wanita juga) sering merasa tercabik dan bersalah. Saya merasa seperti saya kurang memberi yang terbaik di kedua tempat saya.

Kemudian, saya melahirkan seorang putra lagi. Saya tidak bertahan sampai seminggu dalam pekerjaan paruh waktu itu. Meski pendapatan kami berkurang, dan penganggaran ketat menjadi kenyataan, saya memutuskan untuk pulang ke rumah untuk selamanya. Selain kehilangan pendapatan itu, saya dan suami juga merasa terpanggil untuk mulai memberikan 10% dari apa yang kami dapatkan untuk gereja. Meski kami tinggal di rumah kecil dengan karpet tua dan mengorbankan banyak "hal baik", dengan anugerah Allah, kami tidak pernah lalai memberikan uang itu.

"Saya Hanya Seorang Ibu"

Saya sangat suka berada di rumah. Saya senang menjadi pengasuh utama bayi saya. Saya suka menyaksikan "pengalaman pertama mereka". Saya menyukai ikatan yang terjadi dengan anak-anak saya. Saya suka berbagi tentang Yesus dengan anak-anak kami, dan mengajar mereka untuk mengasihi Dia. Saya senang bisa mengenal beberapa ibu di lingkungan sekitar. Saya menyukai kesempatan untuk melakukan sedikit pekerjaan menjahit dan belajar memasak.

Namun, ada juga hal yang tidak saya sukai. Saya tidak menyukai bahwa tidak ada pekerjaan yang pernah selesai. Di tempat kerja, saya menyelesaikan proyek. Di rumah, saya bisa bekerja sepanjang hari, dan pada akhirnya, sama sekali tidak ada bukti bahwa saya telah melakukan sesuatu. Selalu ada lebih banyak cucian untuk dicuci, kekacauan lain di ruang tamu, makanan lain untuk disediakan, popok lain untuk diganti. Di tempat kerja, saya tahu kapan saya melakukan pekerjaan dengan baik. Di rumah, saya berjuang untuk memiliki kepercayaan terhadap kemampuan saya. Saya mencurahkan diri saya untuk anak-anak saya, tetapi perubahannya begitu bertahap sehingga saya tidak tahu apakah yang saya ajarkan kepada mereka ada yang membuahkan hasil. Apakah investasi waktu dan energi saya benar-benar membuat perbedaan?

Namun, kondisinya lebih buruk dari itu. Di rumah, sering kali kelihatannya seperti tidak ada yang memperhatikan atau memuji apa pun yang saya lakukan. Di tempat kerja, saya menjadi profesional muda yang bersinar, yang membantu orang-orang menjadi sukses dan membantu bisnis berkembang. Saya punya portofolio! Saya bergerak naik! Saya seorang yang penting! Sekarang, saya adalah wanita malang yang Anda lihat di toko bahan makanan, yang jelas tidak punya waktu untuk mandi atau memperbaiki rambutnya, mengenakan pakaian kusut, yang terlihat lelah saat menolak memberi balitanya satu lagi makanan manis.

Jika saya pergi ke suatu acara profesional bersama suami saya dan seseorang bertanya kepada saya apa yang saya kerjakan, saya meringis dan berkata, "Saya hanya seorang ibu."

Pekerjaan yang Bertahan

Bertahun-tahun kemudian, saya merasa malu untuk melihat seberapa besar nilai yang saya berikan pada pencapaian dan aklamasi yang berpusat pada manusia. Saya adalah seorang Kristen yang tulus dengan hubungan yang bertumbuh dengan Yesus. Saya sedang mengajar anak-anak saya tentang Dia dengan sukacita, tetapi saya belum belajar untuk menemukan nilai dan harga saya dalam diri-Nya. Dan, saya belum mengetahui mana yang memiliki nilai kekal dan mana yang akan segera dilupakan.

Jika saya harus menunjukkan hasil kerja "spektakuler" yang saya lakukan pada hari-hari saya berbisnis, itu pasti akan terlihat benar-benar usang dan tidak relevan saat ini. Di sisi lain, ketika saya melihat anak-anak saya, Allah menunjukkan bukti dan penghargaan yang tidak ternilai harganya untuk pengorbanan dan investasi yang saya buat selama tahun-tahun pertumbuhan mereka.

Tentu saja, saya tidak mengatakan bahwa bekerja di dunia bisnis atau dalam pekerjaan apa pun itu buruk. Sama sekali bukan itu! Segala jenis pekerjaan adalah cara indah yang Allah berikan untuk orang-orang di seluruh bumi. Dan, Allah memanggil banyak wanita untuk bekerja di luar rumah -- bahkan mereka yang memiliki anak kecil.

Amsal 31 memuji wanita yang dengan sigap menyeimbangkan kepentingan-kepentingan bisnis di luar rumah sambil memberikan perawatan dan pemeliharaan kepada keluarganya. (Namun, saya akan menunjukkan bahwa bahkan untuk dia, sepertinya tidak ada banyak waktu untuk tidur!) Pekerjaan itu sendiri tidak buruk -- meskipun sebagian besar akan berlalu.

Nilai Seorang Ibu

Yang menjadi masalah bagi saya adalah ketika pekerjaan saya menjadi identitas saya, ketika pekerjaan saya adalah sumber "harga diri" saya dan membuat saya merasa lebih "penting", ketika pekerjaan saya terasa lebih layak karena hal itu lebih menarik dari hari ke hari, ketika pekerjaan saya diperlukan untuk mendapatkan penerimaan, pujian, dan aklamasi.

Allah mengatakan kepada saya bahwa Dia mengasihi saya dan memilih saya menjadi putri-Nya sebelum dunia dijadikan, entah saya bekerja di rumah atau di Wall Street (Efesus 1:3-4). Dia mengatakan bahwa meskipun saya benar-benar orang berdosa yang memberontak melawan Allah yang kudus (Roma 3:23), dengan pengorbanan Yesus, saya diampuni, dibeli, dan dibayar -- terlepas dari apakah saya seorang barista atau di rumah mengganti popok (Efesus 1:7-8; Roma 5:8; 1 Korintus 7:23). Sebagai anak Allah yang dilahirkan kembali, saya adalah pewaris bersama Kristus dari segala hal, entah saya mengawasi satu tim dengan seratus orang atau mengawasi satu sarang dengan tiga orang (Roma 8:14-17; Ibrani 1:2). Mengingat semua ini, tidak rasional bagi saya untuk mencari aklamasi di bumi untuk membuat saya merasa dihargai dan berharga.

"Janganlah mencintai dunia ini atau hal-hal yang ada di dalam dunia. Jika seseorang mencintai dunia, kasih Bapa tidak ada di dalam dia. Sebab, semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging, keinginan mata, dan kesombongan hidup tidak berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dunia ini sedang lenyap bersama dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah akan hidup selama-lamanya." (1 Yohanes 2:15-17, AYT).

Lebih Baik Tinggal di Rumah?

Apakah lebih baik bagi para ibu untuk tinggal di rumah? Saya tidak menganggap diri memiliki jawaban pasti untuk pertanyaan itu, atau untuk mengetahui kehendak Allah bagi wanita lain. Namun, saya mendorong ibu muda untuk mempertimbangkan alasan mereka ingin bekerja di luar rumah. Jika penghasilan Anda dibutuhkan untuk menyediakan makanan di atas meja dan pakaian di lemari keluarga Anda, mungkin Anda perlu bekerja di luar rumah.

Saya patah hati untuk ibu-ibu yang akan memberikan segalanya untuk bisa tinggal di rumah bersama anak-anak mereka, tetapi berbagai keadaan membuat mereka tetap berada di tempat kerja. Jika itu Anda, ketahuilah bahwa Allah mengetahui hati Anda, bahwa Dia telah memanggil Anda kepada pekerjaan yang Dia berikan kepada Anda, dan bahwa dia akan memberkati keluarga Anda bahkan saat Anda patuh kepada-Nya dalam hal-hal yang sulit ini. Mungkin ada alasan-alasan lain yang masuk akal mengapa Allah sungguh-sungguh dan pasti memanggil Anda untuk berkorban dengan bekerja di luar rumah. Hal yang paling penting adalah untuk mencari-Nya dan patuh pada panggilan yang Dia berikan kepada Anda.

Namun, jika Anda bekerja di luar rumah terutama karena hal itu membuat Anda merasa nyaman dengan diri Anda sendiri, atau karena Anda benar-benar menikmatinya, atau karena tampaknya lebih menarik, Anda mungkin perlu berdoa mengenai apakah ini benar-benar panggilan Allah dalam hidup Anda -- atau apakah kepentingan-kepentingan yang egois sedang membimbing keputusan Anda.

Tinggal dan Memuridkan

Selama bertahun-tahun, saya mengetahui bahwa hidup saya di rumah tidak harus membosankan. Saya mulai menghargai bahwa hal-hal yang saya lakukan sangat penting, dan melakukannya dengan baik membuat perbedaan. Allah mengatasi keangkuhan besar dalam hati saya, dan menggunakan waktu saya di rumah bersama anak-anak saya untuk mulai menumbuhkan buah Roh dalam diri saya. Yang terbaik dari semuanya itu, sepanjang tahun-tahun itu, Yesus menjadi harta terbesar saya.

Yesus menyuruh kita untuk memuridkan, dan membesarkan anak adalah peluang paling terkonsentrasi yang kita miliki untuk menaati perintah itu. Saat saya melihat kembali hidup saya sebagai ibu di rumah, saya tahu bahwa saya tidak akan pernah menyesali saat-saat yang saya habiskan untuk mengasuh, mengajar, dan bermain dengan anak-anak saya. Merupakan hak istimewa untuk memiliki peran sentral dalam mendisiplinkan anak-anak saya dalam setiap tahap perkembangan mereka. Saya sangat bersyukur bahwa Allah membuatnya menjadi mungkin bagi saya dan keluarga kami. (t/Aji)

Diterjemahkan dari: Nama situs : Desiring God Alamat situs : http://www.desiringgod.org/articles/is-it-better-for-moms-to-stay-at-home Judul asli artikel : Is It Better for Moms to Stay at Home? Penulis artikel : Adrien Segal Tanggal akses : 25 Agustus 2017 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: DUNIA WANITAkategori: KARIERKELUARGA

Menjadi Ibu dan Pendidik

Sen, 23/07/2018 - 14:29

Salam dalam kasih Kristus,

Dunia kini telah memberi banyak pilihan bagi kaum wanita untuk berpartisipasi dalam berbagai aspek kehidupan. Tidak hanya menjadi pendamping suami atau ibu rumah tangga, kaum wanita kini dapat memiliki profesi apa pun yang mereka inginkan. Langit adalah batasnya, dan emansipasi wanita sudah menjadi persoalan yang usang. Namun, ketika wanita bekerja untuk mengejar karier atau hasrat mereka, akankah rumah tangga dan pengasuhan anak dapat berjalan dengan baik? Tentu saja, jika para suami mendukung keputusan tersebut dan berkomitmen bersama untuk melakukan yang terbaik dalam kehidupan berkeluarga. Yang menjadi masalah adalah jika para wanita menganggap karier sebagai panggilan yang utama dalam kehidupan mereka di atas keluarga dan pengasuhan anak. Kita harus memahami bahwa panggilan utama seorang wanita yang menikah adalah untuk menjadi rekan sekerja Allah dalam membangun keluarga yang memuliakan Allah. Di dalamnya berarti pula mendidik dan memuridkan anak-anak bagi Kristus, baik jika Anda menjadi ibu rumah tangga purnawaktu atau ibu yang berkarier. Ketika kita memilih untuk menjalani panggilan hidup berkeluarga, keluarga adalah tanggung jawab utama yang Allah berikan. Karena itu, apa pun pilihan kita saat ini, baik menjadi ibu rumah tangga purnawaktu ataupun berkarier, mari kita bertekad untuk menjadi ibu dan istri yang memuliakan Allah, yang memberi dampak kekekalan pada apa pun yang kita kerjakan.

Pemimpin Redaksi e-Wanita,
N. Risanti

Tujuh Cara Positif Penggunaan Media Sosial oleh Orang-Orang Kristen

Rab, 04/07/2018 - 17:07

Dalam salah satu postingan sebelumnya, saya membagikan tujuh peringatan kepada para pemimpin Kristen mengenai cara mereka memakai media sosial. Postingan tersebut, berdasarkan topiknya sendiri, tidaklah positif. Akan tetapi, saya sungguh percaya bahwa media sosial dapat digunakan untuk kebaikan dan bagi kemuliaan Allah.

Dalam postingan kali ini, saya menunjukkan sisi lain dari media sosial. Saya melakukannya dengan keyakinan kuat bahwa banyak orang percaya telah menyikapi media sosial sebagai suatu wadah untuk membagikan Injil dan mendemonstrasikan kasih Kristus. Berikut ini tujuh saran yang dengan rendah hati saya tambahkan pada diskusi ini.

1. Berdoalah sebelum mengunggah suatu postingan. Satu hal yang telah saya pelajari dari media sosial adalah bahwa saya bukan orang paling cerdas. Saya memerlukan hikmat Allah untuk berkomunikasi dengan cara yang sedemikian agar membawa hormat dan kemuliaan bagi Dia. Itulah sebabnya saya harus memulai dengan doa.

2. Berikan dorongan kepada orang lain dalam media sosial. Sebagian nasihat terbaik yang pernah saya peroleh berasal dari orang-orang dalam media sosial. Saya sangat bersyukur atas banyak orang Kristen yang menggunakan wadah ini dalam ketaatan pada firman Allah, "Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan." (1 Tes.5:11)

3. Berilah jawaban dengan roh yang lemah lembut. Hendaknya kerinduan kita ialah untuk memenangkan hati, bukan memenangkan perdebatan.

4. Ingatlah siapa yang menyaksikan Anda dalam media sosial. Perkataan yang kita sampaikan satu sama lain sebagai orang Kristen dilihat oleh dunia. Wadah ini merupakan kesempatan yang sangat baik untuk menampilkan kasih Kristus lewat perbuatan. Hal ini mengantar kita pada saran berikutnya.

5. Pakailah media sosial sebagai kesempatan untuk mendemonstrasikan buah Roh. Allah melakukan pekerjaan besar melalui orang-orang dalam media sosial yang berusaha menyatakan buah Roh setiap kali mereka mengirim posting. "Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri." (Gal. 5:22-23)

6. Ciptakanlah suatu pelayanan doa melalui media sosial. Ingatlah senantiasa untuk mendoakan banyak hal yang Anda baca atau saksikan dalam media sosial. Beritahukan pada mereka bahwa Anda berdoa bagi mereka. Dalam blog ini, saya meminta orang-orang Kristen di seluruh dunia untuk berdoa bagi gereja-gereja tertentu setiap hari Minggu.

7. Usahakanlah untuk mencapai kesatuan tubuh Kristus malalui media sosial. Tentu saja ada banyak yang memisahkan diri. Namun, lebih banyak dari antara kita yang bisa dipakai Allah menjadi kekuatan besar untuk membawa persatuan bagi orang-orang Kristen seluruh dunia. Paulus mengatakannya dengan tepat: "Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan." (Kol. 3:14).

Saya sangat bersyukur atas begitu banyak di antara Anda yang menjadi saksi-saksi yang baik bagi Kristus lewat media sosial. Amat mudah bagi kita untuk menjadi negatif, karena hal-hal negatif menarik lebih banyak perhatian dan menciptakan arus yang lebih besar. Saya menantikan cerita Anda tentang penggunaan sosial media untuk membagikan Injil, mendorong sesama, menampilkan buah Roh, dan menunjukkan kasih Kristus dengan begitu banyak cara.
(t/Joy)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Thom Rainer.com URL : http://thomrainer.com/2014/08/seven-positive-ways-christians-can-use-soc... Judul asli artikel : Seven Postive Ways Chistians Can Use Sociel Media Penulis artikel : Thom S. Rainer Tanggal akses : 21 September 2017

Amsal 8:11

Kategori Tips: PELAYANANTipe Bahan: Tips

Kunjungi Situs Injil.co

Rab, 27/06/2018 - 16:29
edisi - 177 Pekerjaan dan Misi Kunjungi Situs Injil.co

Dapatkan kumpulan tulisan terbaik seputar Injil di situs Injil.co. Situs Injil.co yang dinaungi oleh Yayasan Lembaga SABDA memiliki banyak bahan untuk memperlengkapi pelayanan Anda. Situs ini menyediakan artikel untuk penginjilan, profil-profil penginjil terdahulu, Penafsiran Alkitab, dan masih banyak jenis bahan yang lain. Melalui semua bahan ini, Anda pun dapat berbagi berkat dengan rekan-rekan pelayanan Anda.

Ayo kunjungi Injil.co sekarang juga! Tuhan Yesus memberkati.

Kolom e-Wanita: STOP PRESS

Sepuluh Cara yang Tidak Menjengkelkan untuk Menyaksikan Iman Anda di Tempat Kerja

Rab, 27/06/2018 - 16:28
edisi - 177 Pekerjaan dan Misi

Gunakan gagasan ini untuk membantu Anda mengintegrasikan iman dan pekerjaan.

Saya punya kenalan, "Alice", yang telah dipecat dua kali karena bersaksi di tempat kerja. Nah, begitulah cara dia menjelaskannya. Mungkin penjelasan yang lebih baik adalah bahwa pendekatan Alice terhadap penginjilan adalah "langsung menantang".

Jika ada karikatur seorang penginjil di acara populer The Office, Alice benar-benar memiliki kualitasnya secara sempurna. Dia mewujudkan semua stereotip negatif yang dimiliki budaya kita tentang orang-orang Kristen yang menginjili: dia menghakimi semua hal sekuler, dia sering merujuk pada "Tuhan" dalam setiap dan semua percakapan, dia menjadi begitu bersemangat saat membicarakan keyakinannya sehingga perilakunya terlihat aneh, dia benar-benar (dan sengaja) tidak bersentuhan dengan budaya, dan dia secara teratur menanyai rekan kerja dan pelanggan hal yang sama, yaitu apa yang akan terjadi pada mereka jika mereka mengalami kecelakaan mobil saat meninggalkan toko? Akankah Allah membiarkan mereka masuk surga atau membakar mereka di neraka?

Alice menganggap setiap usaha oleh seorang supervisor untuk membuatnya "mengecilkan" penginjilannya di tempat kerja sebagai penganiayaan, mendorongnya untuk melakukannya dengan lebih bersemangat lagi. Singkat kata, Alice menjengkelkan.

Tidak satu pun dari kita ingin menjadi seperti Alice, jadi kita naik ke pendulum dan berayun menjauh ke arah yang lain. Alih-alih melakukan penginjilan di tempat kerja, usaha kita untuk menyaksikan iman kita mungkin lebih "halus" dan "tidak kentara". Bahkan, hal-hal tersebut mungkin sangat tidak kentara sehingga tidak terlihat.

Atau kita mungkin menunggu -- untuk kesempatan yang tepat, hubungan yang benar, jalur pembicaraan yang tepat. Masalah datang saat kita menunggu waktu yang sangat lama ... seperti bertahun-tahun.

Bagaimana kita bisa menyaksikan iman kepada rekan kerja sambil mempertahankan tingkat integritas yang tinggi tentang apa yang tepat di tempat kerja? Inilah sepuluh gagasan yang tidak menjengkelkan:

1. Saat Anda memperdalam persahabatan dengan rekan kerja, ajukan pertanyaan yang tulus dan benar-benar dengarkan dengan penuh perhatian saat mereka menceritakan kehidupan mereka. Bila tepat, beri tahu orang lain bahwa Anda sedang berdoa untuk mereka. (Kemudian, pastikan Anda benar-benar berdoa!)

2. Jadikan sebagai kebiasaan sehari-hari untuk berdoa saat Anda berkendara ke tempat kerja atau saat Anda memasuki kantor; mintalah Allah untuk membantu Anda melihat tempat kerja Anda sebagai ladang misi.

3. Jangan menyembunyikan atau mengecilkan pentingnya iman Anda. Bila secara alami sesuai dengan percakapan, bicarakan secara bebas tentang peran gereja, doa, Alkitab, dan komunitas Kristen Anda dalam kehidupan Anda. Biarkan orang lain melihat sukacita dan tujuan yang Anda temukan dalam iman Anda.

4. Tekankan pentingnya kasih Tuhan kepada semua orang dengan memprakarsai kesempatan untuk memimpin rekan kerja Anda dalam pelayanan atau kegiatan amal. Misalnya, pimpin gerakan makanan kalengan untuk makanan lokal atau atur gerakan bank darah tahunan perusahaan Anda. Bila sesuai, ceritakan dalam percakapan bagaimana Anda termotivasi untuk membantu orang lain dengan karakter Tuhan dan kasih-Nya.

5. Mulailah atau ikuti studi Alkitab pada waktu istirahat makan siang atau kelompok doa malam hari di kantor Anda.

6. Berusahalah untuk mencapai kesempurnaan dan integritas dalam pekerjaan Anda. Jangan menjadi pemalas atau pekerja yang buruk; jadilah orang yang bisa diandalkan oleh rekan kerja dan atasan untuk melakukan pekerjaan yang solid.

7. Bentuk kemitraan doa dengan rekan kerja Kristen; bertemu bersama secara teratur untuk mendiskusikan usaha Anda untuk menjadi terang Kristus di tempat kerja, dan berdoa untuk hubungan rekan kerja yang spesifik.

8. Saat Anda memperdalam hubungan Anda dengan rekan kerja non-Kristen, mintalah dia untuk makan siang di luar atau pergi pada malam akhir pekan untuk menonton film dan minum kopi. Berada di luar lingkungan tempat kerja akan memberi suasana yang lebih terbuka saat Anda berbicara dan saling mengenal dengan lebih baik. Pergi ke luar juga akan memungkinkan Anda memiliki lebih banyak kebebasan untuk berbicara secara langsung tentang iman Anda dan untuk membagikan Injil.

9. Undanglah rekan kerja yang berminat untuk menghadiri acara sosial bersama teman-teman Kristen Anda, ke studi Alkitab kelompok kecil Anda, atau ke acara di gereja Anda. Saat liburan seperti menjelang Natal atau Paskah, mintalah rekan kerja untuk pergi ke gereja bersama-sama; banyak orang yang tidak menghadiri gereja secara teratur akan terbuka untuk hari raya yang penting.

10. Peka terhadap pimpinan Roh Kudus. Bila Anda tidak yakin apakah akan mengatakan sesuatu tentang iman Anda atau tidak, tanyalah kepada Allah. Dia akan mendorong Anda ke arah yang benar dan akan memberi Anda kata-kata untuk diucapkan (Markus 13:11).

Allah menempatkan Anda tepat di tempat yang Dia inginkan -- Dia punya rencana supaya Anda bersinar terang di tempat kerja Anda! Jadi, undanglah Allah untuk menantang Anda menyatakan iman Anda. Anda mungkin terkejut dengan bagaimana penginjilan -- yang tidak seperti Alice -- di tempat kerja dapat terjadi! (t/Jing-Jing)

Download Audio

Diterjemahkan dari: Nama situs : Today's Christian Woman Alamat situs : http://www.todayschristianwoman.com/articles/2011/august/10nonobnoxious.html Judul asli artikel : Ten Non-Obnoxious Ways to Share Your Faith at Work Penulis artikel : Kelli B. Trujillo Tanggal akses : 15 Juni 2017 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: WAWASAN WANITAkategori: KARIER

Tuhan Memberkati Para Pekerja yang Bekerja dari Pukul 9 hingga Pukul 5

Rab, 27/06/2018 - 16:26
edisi - 177 Pekerjaan dan Misi

Pekerjaan penuh waktu Anda adalah pelayanan Kristen penuh waktu.

Dalam kapasitas saya dengan pelayanan 4word kepada profesional Kristen, saya sering mendengar dari pria dan wanita yang menginginkan lebih banyak pekerjaan "yang bermakna". Mereka ingin merasa bersemangat dan memiliki tujuan tertentu saat mereka pergi ke kantor pada Senin pagi. Dan, siapa yang tidak? Memiliki tujuan adalah motivator yang hebat, dan ini adalah rasa lapar yang saya pikir dibangun oleh Allah dalam hati kita. Namun, dalam mencari tujuan, orang terlalu memperhatikan sasaran-sasaran "gambaran besar" dari sebuah pekerjaan dan tidak cukup memperhatikan proses dari menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Sentimen ini tercermin dalam satu pertanyaan tertentu yang pernah saya dengar dengan variasinya berulang-ulang: "Bagaimana saya bisa menemukan tujuan dalam pekerjaan saya ketika perusahaan saya hanya ada untuk menghasilkan uang?"

Tidak berharga atau berguna?

Memang benar, beberapa jenis pekerjaan tampak lebih memiliki tujuan daripada yang lain. Dokter dan perawat bekerja menyelamatkan nyawa, petugas polisi melindungi masyarakat, para guru mendidik dan menginspirasi. Sangat menggoda untuk membuat sesuatu tampak lebih baik tentang profesi-profesi penting semacam itu, terutama jika Anda memiliki masalah dalam melihat nilai yang lebih besar dalam misi perusahaan Anda sendiri.

Namun, sebenarnya, "misi yang bermakna" tidak harus mengarah pada karier yang memiliki tujuan atau memotivasi. Jika memang demikian, profesional medis, petugas polisi, dan guru tidak akan terus-menerus terdapat pada daftar profesi dengan tingkat tertinggi untuk kelesuan/kelelahan mental dan depresi.

Sebaliknya, perhatikan kisah Vivian, pelayan hotel yang bekerja dengan sukacita dan inspirasi sehingga dia menarik perhatian dan kekaguman dari pemilik jaringan hotel. Pengusaha hotel Chip Conley menggambarkan pendekatannya yang luar biasa untuk bekerja dalam Ted Talk yang dibawakannya pada 2010, Measuring What Makes Life Worthwhile (Mengukur Apa yang Membuat Hidup Berharga - Red.):

"(Vivian) tidak mendapatkan sukacita dalam membersihkan toilet. Tugasnya, tujuannya, dan panggilannya bukanlah untuk menjadi pembersih toilet terbesar di dunia. Yang penting bagi Vivian adalah hubungan emosional yang dia ciptakan dengan rekan kerja dan tamu kami. Dan, apa yang memberinya inspirasi dan makna adalah kenyataan bahwa dia melayani orang-orang yang berada jauh dari rumah. Sebab, Vivian tahu bagaimana rasanya berada jauh dari rumah."

Conley kemudian menjelaskan bagaimana Vivian membantu menginspirasinya untuk mengevaluasi kembali keseluruhan pendekatan perusahaannya terhadap manajemen karyawan dan kepuasan klien. Vivian tidak memiliki pekerjaan yang tampak seperti "pekerjaan yang memiliki tujuan", tetapi dia bekerja dengan tujuan, dan dengan berbuat demikian, dia dengan diam-diam merevolusi seluruh tempat kerjanya.

Tiga Cara Membuat Pekerjaan Jadi Bermakna

Apa arti pekerjaan Anda bagi Anda? Apakah itu menginspirasi dan menyegarkan, atau apakah itu terasa membosankan? Apakah Anda membuat dampak atau hanya melakukan apa yang harus Anda lakukan? Seperti apa rasanya mulai bekerja dengan tujuan? Berikut adalah tiga cara untuk memulai:

1. Terhubung dengan orang. Bagaimana Anda memperlakukan orang-orang di sekitar Anda di tempat kerja akan mengomunikasikan lebih banyak tentang nilai dan keyakinan Anda daripada hampir semua hal lain yang Anda lakukan di sana. Saat menulis kepada jemaat di Filipi, Paulus memberikan hal yang cukup spesifik tentang bagaimana orang Kristen seharusnya berhubungan dengan orang-orang di sekitar mereka: "Jangan melakukan apa pun dari ambisi yang egois atau kesombongan yang sia-sia; tetapi dengan kerendahan hati, anggaplah orang lain lebih penting daripada dirimu sendiri" (Filipi 2:3-4).

Baru-baru ini, saya mengalami anugerah dari seseorang yang memberi perhatian kepada saya. Sebagai pemimpin nirlaba, salah satu tanggung jawab terbesar saya adalah memastikan bahwa organisasi tersebut aman secara finansial dan bertanggung jawab secara fiskal. Ini adalah pekerjaan penting, tetapi bisa sangat menguras tenaga. Minggu lalu, saya menerima telepon dari pemimpin utama yang memberi selamat kepada saya atas kemajuan salah satu bantuan aplikasi kami. Teleponnya datang pada saat yang tepat, pada hari yang berat, dan kenyataan bahwa dia ingin mengucapkan terima kasih dan mengingat saya, itu memberikan kekuatan. Percakapan dua menit itu merupakan sesuatu yang sederhana bagi dirinya, tetapi itu membuat hari saya jadi berarti dan menolong saya untuk melewati sepanjang minggu itu.

Berusahalah untuk dikenal di tempat kerja Anda sebagai orang yang membangun orang lain, bukan orang yang mematahkan semangat. Bila Anda perlu menghadapi atau mengoreksi karyawan atau rekan kerja, lakukanlah dengan rasa hormat. Jangan terlibat dalam gosip apa pun. Kenali nama orang dan nama anak-anak mereka, bukan hanya orang-orang yang duduk di dekat Anda, melainkan juga satpam dan petugas kebersihan. Semua kehidupan yang terjadi di sekitar Anda memiliki konsekuensinya, dan Anda tidak pernah tahu ketika hanya terhubung dengan yang lain dalam waktu yang singkat ternyata dapat memengaruhi kehidupan mereka secara positif. Lama setelah rekan kerja Anda melupakan laporan terbaru yang pernah Anda sampaikan, mereka akan mengingat bagaimana (atau apakah) Anda mengakui kontributor lainnya.

2. Bekerja dengan sangat baik. Alkitab mengarahkan Anda untuk melakukan pekerjaan apa pun yang ditetapkan di depan Anda "dengan segenap hati Anda", dan melakukannya "dalam nama Tuhan Yesus" (Kolose 3:17, 23). Secara praktis, melakukan sesuatu dengan "segenap hatimu" berarti melampaui apa yang baik. Ini berarti menantang diri Anda untuk terus berkembang, belajar, dan bertumbuh.

Adalah sangat membantu untuk memiliki beberapa ukuran objektif pada pekerjaan Anda sehingga Anda dapat menetapkan tujuan. Di 4word, staf dan relawan kami merencanakan acara dan menawarkan layanan di seluruh Amerika Serikat. Awalnya, sulit untuk mengetahui bagaimana usaha mereka diterima. Namun, baru-baru ini, kami mulai menggunakan sistem survei seluler yang memungkinkan orang memberi umpan balik hampir segera. Ini menyenangkan dan berpengaruh kuat bagi kita semua untuk dapat benar-benar melihat bagaimana keadaan kita saat kita bekerja menuju kesempurnaan.

Majikan/atasan Anda mungkin sudah menawarkan beberapa alat untuk membantu Anda menilai bagaimana Anda bekerja, tetapi meskipun mereka tidak melakukannya, ada cara lain untuk mencoba mengukur kemajuan Anda. Mintalah umpan balik dari manajer atau klien Anda jika sesuai, dan tunjukkan kepada mereka keterbukaan dan keinginan Anda untuk memperbaiki diri. Mendekati pekerjaan Anda dengan cara ini memberi energi bagi Anda, dan sering kali bagi orang-orang di sekitar Anda juga.

3. Pilihlah sukacita. Ada banyak hal tentang pekerjaan Anda yang tidak dapat Anda kendalikan, tetapi sikap Anda bukanlah salah satunya. Pilihlah untuk mencari yang positif dalam setiap proyek, setiap pertemuan staf, setiap permintaan yang diajukan ke meja kerja Anda. Temukan koneksi ke sesuatu yang menyalakan percikan untuk Anda, dan fokuskan pikiran Anda ke sana. Ikuti instruksi Paulus dalam Filipi 4:8, "semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang indah, semua yang terpuji, semua yang sempurna, semua yang patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu". Saya menghabiskan puluhan tahun membangun karier di bidang real estate komersial, tetapi kebetulan saya tidak menemukan penyewa, penawaran pembangunan, atau proyek konstruksi raksasa yang sangat mengilhami. Namun, saya suka bertemu dan berhubungan dengan orang lain. Jadi, ketika sebuah kesepakatan atau proyek baru muncul, saya memusatkan perhatian pada kesempatan yang ada untuk bekerja dengan orang-orang baru dan belajar bagaimana melayani mereka dengan baik. Melakukan hal itu membuat pekerjaan lebih menyenangkan bagi saya, dan ini membuat saya lebih baik dalam pekerjaan saya.

Tempat Kerja Anda: Lahan Misi Anda

Banyak orang Kristen yang saya ketahui sepertinya membayangkan sebuah pemisah antara pekerjaan fisik dan pekerjaan yang Allah pedulikan. Orang-orang ini tidak meninggalkan prinsip-prinsip Kristen mereka di pintu kantor, tetapi mereka cenderung memandang waktu mereka di tempat kerja sebagai sesuatu yang kurang berharga atau bermakna daripada waktu yang digunakan bersama dengan keluarga, relawan, atau menghadiri studi Alkitab.

Jika Anda bekerja 30-40 jam seminggu selama karier Anda, itu akan menambah sekitar 80.000 jam seumur hidup Anda. Itu berjam-jam lebih banyak daripada yang mungkin Anda habiskan di gereja atau bahkan bersama keluarga Anda. Itu lebih dari waktu yang Anda miliki untuk menjadi relawan, pengembangan diri, atau hobi lainnya. Allah bisa melakukan perhitungannya. Jika Dia memanggil Anda untuk bekerja, itu bukan karena Dia ingin mengisi waktu Anda di bumi ini dengan aktivitas yang "kurang signifikan".

Untuk bekerja dengan tujuan, Anda harus mengerti bahwa pekerjaan Anda bukanlah gangguan atau pengalihan dari rencana Allah. Ketahuilah bahwa pekerjaan Anda adalah bagian penting dari tujuan dan misi Allah yang sempurna untuk hidup Anda, dan mulailah menganggapnya seperti itu. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari: Nama situs : Today's Christian Woman Alamat situs : http://www.todayschristianwoman.com/articles/2015/august/god-blesses-9-to-5-workers.html Judul asli artikel : God Blesses The 9 to 5 Workers Penulis artikel : Diana Paddison Tanggal akses : 13 Juni 2017 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: DUNIA WANITAkategori: KARIER

Pekerjaan dan Misi

Rab, 27/06/2018 - 16:22

Salam dalam kasih Kristus,

Beberapa orang Kristen mungkin tidak menyadari bahwa tempat kita bekerja adalah lahan misi sehingga banyak di antara mereka yang menyia-nyiakan kesempatan untuk bermisi di sana. Sebagai orang percaya, kita seharusnya memiliki perspektif yang baru, yaitu untuk bermisi di tempat kerja kita. Ketika bekerja dan bertemu dengan banyak orang, kita pasti pernah bertemu dengan orang-orang yang belum mengenal Tuhan. Injil harus diberitakan di tempat kerja kita dan kita perlu menjadi berkat sehingga banyak orang berkesempatan mendengar dan menjadi percaya kepada Kristus. Dalam edisi kali ini, publikasi e-Wanita menyajikan sebuah artikel dan wawasan wanita yang bisa mendorong kita untuk berani memulai bermisi di tempat kerja. Beranikah Anda untuk memulainya? Percayalah bahwa Tuhan Allah, sang Empunya ladang, akan memberi kekuatan dan pertolongan kepada kita untuk menjadi saksi-Nya di tempat kerja kita. Selamat bermisi. Imanuel!



Staf Redaksi e-Wanita,
Amidya

Tinggalkan Komentar