RSS Wanita

Subscribe to RSS Wanita feed
Updated: 1 hari 54 min ago

Aplikasi Konseling Mobile - HE Cares

Sen, 19/02/2018 - 15:47

Tidak dapat dimungkiri bahwa kebutuhan akan konseling makin bertambah seiring dengan bertambah banyaknya masalah dalam kehidupan manusia. Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, permasalahan manusia selalu ada sepanjang zaman, bahkan cenderung semakin banyak dan semakin kompleks. Sebagai orang percaya, kita mengerti bahwa solusi permasalahan manusia ada di dalam firman Tuhan. Firman Tuhanlah yang merupakan jawaban atas permasalahan kehidupan manusia, dan Konseling Alkitabiah membawa manusia yang bergumul dengan masalahnya kepada firman Tuhan.

Dalam konteks kebutuhan konseling, Yayasan Lembaga SABDA mengembangkan aplikasi konseling dengan nama HE Cares (DIA Peduli). Dengan satu praanggapan pemahaman bahwa Allah itu ada: Dia mendengar; Dia berbicara kepada kita melalui Firman-Nya; Dia peduli; kami mengumpulkan bahan-bahan alkitabiah seputar masalah konseling di dalam aplikasi HE Cares ini.

Anda bisa mengunduh aplikasi HE Cares melalui tautan berikut ini: Download Aplikasi HE Cares

Susanna Wesley

Sen, 19/02/2018 - 12:26
edisi - 173 Berbagi Iman

Susanna Wesley

Susanna Wesley: Ibu Orang Kristen

Ketika Susanna Annesley, anak ke-25 Dr. Annesley lahir dari istri keduanya, mungkin tidak banyak pembicaraan tentang dia atau masa depannya. Hampir tidak terbayangkan oleh keluarganya bahwa dia akan menjadi ibu dari John dan Charles Wesley, pendiri Methodisme di seluruh dunia. Susanna adalah "wanita tua berusia 19 tahun" (pernikahan yang terlambat pada zaman itu) ketika ia menjadi istri Samuel Wesley, pendeta Anglikan.

Keluarga Wesley menelusuri garis keturunan mereka sampai abad ke-10, tetapi silsilah keluarga tidak banyak membantu masalah pernikahan 44 tahun mereka. Mereka menderita penyakit, kemiskinan, dan kematian anak. Api dua kali menghancurkan rumah mereka. Namun, melalui itu semua, Susanna menerima kehendak Allah dan menyerahkan dirinya dan keluarganya di tangan-Nya.

Secara politik, Samuel dan Susanna adalah pengikut partai Tory, tetapi sementara Samuel menerima William dari Orange sebagai Raja William III, Susanna menganggap James II sebagai raja yang sesungguhnya. Sekali waktu, pada tahun 1701, Susanna menolak untuk mengatakan "Amin" atas doa Samuel untuk Raja William. Ketegangan pun terjadi. Samuel berangkat ke London sebagai pengawas Convocation selama satu tahun. Ia kembali pada tahun 1702 ketika Ratu Anne, yang keduanya mengakui sebagai yang sah, naik takhta. Jadi, dalam arti sebenarnya, kita bisa mengatakan bahwa John adalah anak dari rekonsiliasi mereka.

Susanna melahirkan antara tujuh belas sampai sembilan belas anak-anak; sepuluh selamat. Ketidakhadiran suaminya yang sering pergi untuk urusan gereja membuat manajemen rumah tangga ada di tangannya. Melalui itu semua, dia tetap menjadi seorang Kristen teguh yang mengajar tidak hanya melalui Kitab Suci, tetapi juga melalui teladannya sendiri mengenai kepercayaan sehari-hari pada Allah. Dia pernah menulis: Kita harus mengenal Allah berdasarkan pengalaman supaya hati memandang dan mengenal Dia menjadi yang paling baik, satu-satunya kebahagiaan. Jiwa tidak akan merasa dan mengenal sehingga ia tidak dapat memiliki ketenangan, tidak ada damai, tidak ada sukacita, kecuali dalam mengasihi dan dikasihi oleh-Nya.

Anak-anaknya dibesarkan dengan ketat. Mereka diajarkan untuk menangis pelan, makan apa yang di hadapan mereka, dan tidak menaikkan suara mereka atau bermain dengan ribut. Hukuman fisik diterapkan, tetapi pengakuan kesalahan bisa menghindarkannya. Semua, kecuali satu, dari anak-anaknya belajar membaca dari usia lima tahun, termasuk anak-anak perempuan. (Susanna membuat aturan untuk dirinya sendiri, yaitu menggunakan satu jam sehari dengan masing-masing anak selama periode satu minggu.) Setelah kebakaran pada tahun 1709, disiplin keluarga rusak, tetapi Susanna berhasil mengembalikannya pada kemudian hari. Dia memberikan perhatian khusus kepada John, yang hampir hilang dalam kebakaran itu. John menyebut dirinya sebagai "yang direnggut dari api pembakaran", dan ibunya mengatakan bahwa ia dimaksudkan untuk menjadi lebih sangat hati-hati dengan jiwa anak ini yang "dengan murah hati telah Engkau berikan, lebih daripada yang aku alami sebelumnya, supaya kiranya aku berusaha untuk menanamkan dalam benaknya disiplin rohani dan kebajikan-Mu yang sejati."

Dikatakan bahwa pada usia enam atau tujuh tahun, John berpikir bahwa dia tidak akan pernah menikah "karena aku tidak pernah bisa menemukan seorang wanita seperti yang ayahku dapatkan". Setelah Samuel Wesley meninggal pada 1735, Susanna tinggal bersama anak-anaknya, terutama pada tahun terakhirnya, dengan John. Dia meninggal pada 23 Juli 1742 dan dimakamkan di London Bunhill Fields, tempat John Bunyan dan Isaac Watts juga dimakamkan. Anaknya memenangkan puluhan ribu jiwa bagi Kristus. Dia tidak akan berharap lebih lagi. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari: Nama situs : Christianity.com Alamat situs : http://www.christianity.com/church/church-history/timeline/1701-1800/susanna-wesley-christian-mother-11630240.html Judul asli artikel : Susanna Wesley: Christian Mother Penulis artikel : Diane Severance, Ph.D. Tanggal akses : 12 Oktober 2017 Tipe Bahan: Tokoh WanitaKolom e-Wanita: POTRET WANITAkategori: TOKOH

Komunikasi dalam Bersaksi

Sen, 19/02/2018 - 12:03
edisi - 173 Berbagi Iman

"Apakah Anda seorang Kristen?"
"Uh, tidak, saya bukan orang Kristen."
"Baiklah, kalau begitu Anda akan masuk neraka!"

Itu mungkin bukan cara terbaik untuk membawa orang kepada Kristus. Saya telah melihat orang-orang Kristen yang bermaksud baik, yang sangat bersemangat tentang Yesus sehingga mereka secara praktis memberikan penekanan yang berulang atau dengan keras kepada jiwa-jiwa yang tidak tahu apa-apa tentang Injil dan terkejut dengan reaksi yang dimunculkannya. Orang akan berhenti mendengarkan ketika mereka merasa bahwa keyakinan mereka diserang. Fenomena inilah yang saya sebut Screaming in a Deaf Man's Ear (berteriak di telinga orang tuli, atau perbuatan yang sia-sia - Red.). Dia tidak bisa mendengar apa yang Anda katakan, tetapi Anda pasti membuatnya marah. Bagaimana Anda mengatakan sesuatu bisa menjadi lebih penting daripada apa yang Anda katakan.

Jadi, apa hal yang paling menyakitkan yang terjadi jika Anda mendekati seseorang dengan cara yang salah tentang Yesus? Yang terburuk yang bisa mereka lakukan adalah mengatakan tidak, bukan? Salah! Seseorang yang telah diberi tahu berulang kali bahwa mereka dalam keadaan yang buruk dan sedang menuju kehancuran, mungkin akan mulai merasa lelah (bosan) dengan orang yang menegurnya dengan hal-hal rohani. Ini akan membuat mereka mengatakan hal-hal yang tidak mengenakkan tentang Yesus, kekristenan, atau orang Kristen pada umumnya. Itu bisa berlaku juga pada orang Kristen lainnya yang tidak memiliki pandangan persis seperti Anda. "Jangan membuat orang tersandung, baik orang Yahudi, orang Yunani, maupun Jemaat Allah." (1 Kor. 10:32, AYT)

Berikut adalah beberapa tip untuk komunikasi yang lebih baik saat sedang bersaksi:

1. Kenali pendengar Anda.

Setiap orang melihat dunia secara berbeda dan masing-masing dari kita memiliki pengalaman yang berbeda, yang membuat kita sampai pada titik ini. Anda tidak dapat mengharapkan untuk menyajikan topik dengan cara yang sama kepada semua orang. Beberapa orang siap untuk mendengar tentang Tuhan dan sangat ingin menemukan alasan untuk menerima Dia ke dalam hati mereka. Beberapa orang tidak pernah memikirkan masalah ini secara serius. Lainnya, ada yang marah. Mereka sangat lelah dengan orang-orang yang berteriak "pendosa" sehingga mereka berhenti mendengarkan saat seseorang menyebutkan hal tentang Yesus. Anda tidak bisa mendekati mereka dengan satu pembicaraan yang sama kepada semua orang dan mengharapkan mereka untuk menafsirkan pesan Anda dengan cara yang sama.

2. Berhati-hatilah terhadap kepercayaan orang lain.

Jangan pernah menghina keyakinan seseorang. Itu tidak pernah membuat Anda memikat orang lain dan hampir tidak ada peluang meyakinkan siapa pun bahwa posisi/keyakinan mereka salah.

Salah: "Bagaimana mungkin Anda memercayainya?!"
Lebih baik: "Apa yang kamu percaya tentang Allah?"

3. Jangan pernah mendesak terus-menerus.

Jika seseorang mengatakan kepada Anda bahwa mereka tidak tertarik untuk mendengar tentang Tuhan, mereka sedang tidak terbuka untuk mendengarkan sekarang. Semakin banyak Anda membicarakan topik tersebut, mereka akan semakin menolaknya. Ingat bahwa kita tidak memiliki kekuatan untuk "menobatkan" siapa pun. Itu adalah pekerjaan Allah. Kita hanya alat-Nya. Terkadang, kita hanya menanam benih di kebun-Nya. Terkadang, kita menyirami mereka, dan terkadang kita membantu panen. Jika kita terus-menerus memberikan penekanan yang keras tentang Alkitab, kita tidak menunjukkan kasih Kristus.

4. Ingatlah bahwa Tuhan yang mengubah hati.

Jika kita ingat bahwa Tuhanlah yang mengubah hati, kita tidak akan merasakan tekanan untuk membawa setiap pertemuan pada kesimpulan tersebut. Kita juga menyadari bahwa Tuhan tidak memaksa kita untuk menerima Dia. Dia hanya menunjukkan kasih-Nya kepada kita dan Dia membiarkan kita untuk memilih. Anggaplah itu lebih sebagai "menceritakan" iman Anda dengan orang lain, dan bukan "menobatkan" mereka.

5. Hindari pembicaraan Kristen/kristiani.

Ada kata-kata yang digunakan orang Kristen yang asing bagi beberapa orang atau bisa membuat mereka pergi tanpa memberi kesempatan kepada Anda untuk bersaksi kepada mereka. "Puji Tuhan!" Bagi beberapa orang, mengutip ayat Alkitab dapat menyebabkan mereka memasang penghalang, yang mencegah mereka untuk mendengarkan Anda.

6. Biarkan iman Anda bersinar melalui tindakan Anda.

Terkadang, Anda bahkan tidak memerlukan kata-kata untuk mengenalkan orang kepada kasih Yesus. Mereka bisa melihatnya dengan melihat hidup Anda. Mereka bisa melihat kedamaian yang Anda miliki melalui cara Anda berhubungan dengan orang lain. Tunjukkan kepada orang lain kasih Kristus dengan tindakan yang Anda lakukan untuk menolong orang lain. Hal-hal ini dapat melayani orang lain sekuat kata-kata yang dapat Anda pergunakan. Saya tidak mengatakan bahwa Anda seharusnya tidak menyaksikan iman kepada orang-orang, tetapi terkadang dengan hanya menjalani hidup Anda sebagai seorang teladan Kristen dapat cukup menyaksikan tentang Yesus yang akan membuat seseorang merasa heran atau bertanya.

Kita juga tidak boleh lupa bahwa kita adalah teladan hidup iman Kristen hanya dalam cara kita menjalani hidup kita. Ada cerita yang beredar di internet tentang seorang wanita yang ditarik oleh seorang petugas polisi karena dia sedang berteriak dan mengutuk di mobilnya. Petugas polisi menariknya keluar karena dia memiliki simbol ikan (salah satu simbol kekristenan -- Red) di mobilnya dan menyimpulkan bahwa mobil itu sebenarnya adalah curian! Komunikasi yang kita kirim bisa menarik orang kepada Tuhan atau menarik mereka pergi!

7. Mengajak orang-orang yang bermasalah untuk berdoa bersama.

"Bolehkah saya berdoa dengan Anda?" Cara yang bagus untuk melayani orang lain yang terluka adalah dengan bertanya apakah Anda dapat berdoa bersama mereka? Sangat sedikit orang yang akan tersinggung akan hal itu. Hal terburuk yang bisa mereka katakan adalah tidak. Mereka setidaknya akan memiliki perasaan yang baik tentang Anda, dan orang Kristen, dan mungkin juga Yesus!

8. Akhirnya ... jangan menyembunyikan iman Anda di bawah gantang.

Saya memperingatkan Anda untuk tidak menjadi batu sandungan bagi orang yang tidak percaya dengan bersikap kasar atau datang dengan sikap memaksa, tetapi saya tidak ingin Anda berpikir bahwa saya meminta Anda untuk meminta maaf karena menjadi seorang Kristen. Jangan merasa malu dengan iman Anda. Jangan menghindar dari suatu kesempatan untuk membantu orang lain mengenal Yesus. Jangan takut untuk menyebutkan Nama-Nya! Saya hanya ingin Anda memikirkan orang yang sedang sakit. Orang yang membutuhkan kasih Yesus. Temui dia di tempatnya berada. Berikan apa yang dia butuhkan.

Jika Anda mengingat hal-hal tersebut dan mendekati orang-orang dengan kerendahan hati, kejujuran, dan cinta, Anda akan membawa kemuliaan dan kehormatan kepada Bapa. (t/N. Risanti)

Download Audio

Diterjemahkan dari: Nama situs : The Christian Woman Alamat situs : http://www.thechristianwoman.com/christian-women-topics/communication-of-witnessing Judul asli artikel : Communication of Witnessing Penulis artikel : JoJo Tabares Tanggal akses : 14 Juni 2017 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: WAWASAN WANITAkategori: KEHIDUPAN ROHANI

Berbagi Iman

Sen, 19/02/2018 - 11:46

Salam dalam kasih Kristus,

Menceritakan Injil atau berita keselamatan adalah panggilan yang Kristus nyatakan kepada pengikut-Nya. Itu bukan pilihan, melainkan hal yang harus dilakukan oleh setiap orang yang mengaku diri sebagai pengikut Tuhan. Namun, kita tidak bisa menafikan bahwa ada banyak kendala dan tantangan untuk melakukan tugas tersebut. Tidak hanya dari dalam diri, tetapi seringnya hal itu berasal dari luar. Meski tugas kita sesungguhnya hanya menceritakan tentang Kristus dan keselamatan yang Ia tawarkan, tetapi dalam kenyataannya, kita mesti berhadapan dengan dunia yang tidak mengenal-Nya dan bahkan menolak-Nya. Ini tentu bukan tugas yang mudah dan memerlukan pertolongan Tuhan dalam pelaksanaan-Nya. Namun, kita mesti mengingat bahwa Dia yang memberi tugas tersebut juga menyediakan janji untuk menyertai kita senantiasa. Yang perlu kita lakukan hanya taat dan menyediakan diri untuk dipakai sebagai alat-Nya, dan Dialah yang kemudian akan memampukan kita untuk melakukannya.

Dalam edisi e-Wanita Februari ini, kami menyajikan tema tentang berbagi iman. Melalui artikel dalam kolom Wawasan Wanita, kita akan diajak untuk memahami bagaimana sesungguhnya cara yang efektif dalam berkomunikasi sebagai saksi Kristus. Sementara dalam kolom Potret Wanita, kita akan bersama-sama melihat bagaimana iman yang hidup dari Susanna Wesley berbuah dan menghasilkan dampak yang manis bagi banyak pengikut Kristus di dunia. Melalui kedua bahan tersebut, kiranya kita semakin diperlengkapi untuk menjadi saksi-saksi Kristus yang menggemakan kabar keselamatan-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Pemimpin Redaksi e-Wanita,
N. Risanti

Kunjungi Situs Berdoa.co

Sel, 23/01/2018 - 14:37

Anda rindu melihat pemulihan terjadi atas keluarga, gereja, kota, dan bangsa Anda? Anda membutuhkan bahan-bahan Alkitabiah untuk memperlengkapi pelayanan doa Anda? Kunjungi situs Berdoa.co yang memperlengkapi setiap orang percaya, terkhusus mereka yang telibat dalam pelayanan doa di gereja atau di komunitas pelayanan lainnya. Melalui situs ini, Anda bisa menemukan bahan-bahan pilihan yang berkualitas dan alkitabiah seputar doa, berbagai situs doa dalam negeri maupun mancanegara, serta beragam komunitas dan forum doa yang dapat Anda ikuti.

Nah, segera kunjungi situs Berdoa.co! Beritahukan informasi ini kepada rekan-rekan pendoa yang lain sehingga kita semua mendapat berkat dan menjadi berkat bagi orang lain.

Tuhan Yesus memberkati.

Bagaimana Saya Dapat Mengetahui Kehendak Allah?

Sel, 23/01/2018 - 14:36
edisi - 172 Memahami Kehendak Allah

"Saya benar-benar bingung. Bagaimana mungkin saya mengetahui kehendak Allah bagi hidup saya?" Saya tidak ingat berapa kali selama bertahun-tahun, saya telah mendengar pertanyaan itu.

Saya bisa menuliskan, setidaknya, sepuluh cara Allah menuntun anak-anak-Nya hari ini, tetapi saya akan membatasi diri dengan empat hal yang saya pikir adalah metode yang paling signifikan tentang pimpinan Allah.

1. Allah menuntun kita melalui firman-Nya yang tertulis.

Seperti pemazmur mengatakan, "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku" (Mazmur 119:105).

Setiap kali Anda melihat frasa "Ini adalah kehendak Allah" dalam Alkitab, Anda dapat memercayainya: itulah kehendak Allah. Anda juga tahu bahwa tidak taat berarti menolak firman-Nya. Indikasi jelas lainnya adalah perintah dan prinsip-prinsip-Nya di dalam Alkitab.

Perintah dinyatakan dengan kalimat yang jelas, seperti "Jauhkanlah dirimu dari percabulan." Itu seperti berkata, "Batas Kecepatan 35." Apa itu mengebut? Berapa pun yang lebih dari 35 mil per jam. Itulah perintah.

Lalu, ada prinsip-prinsip di dalam Alkitab, dan ini adalah panduan umum yang membutuhkan ketajaman dan kedewasaan untuk memahaminya. Paulus menulis tentang "damai sejahtera Allah" yang memelihara dan membimbing hati dan pikiran kita (Filipi 4:7). Itu seperti tanda yang menyatakan, "Hati-hati mengemudi." Ini mungkin berarti 40 mil per jam di jalan yang sepi dan tidak ramai sekali, atau mungkin berarti kurang dari 10 mil per jam pada tikungan yang tertutup es. Akan tetapi, selalu berarti bahwa kita harus waspada dan menyadari kondisi, kita harus memahaminya. Tidak ada tanda-tanda yang cukup besar untuk semua pilihan yang Anda miliki ketika Anda berada di belakang kemudi. Jadi, Anda harus tahu aturan jalan, mengikuti tanda-tanda yang ada, dan menggunakan semua penilaian terbaik Anda dikombinasikan dengan pemahaman.

Anda tidak akan pernah salah dalam mencari nasihat dari Alkitab. Pastikan Anda memperhatikan konteksnya. Jangan menggunakan "metode buka-jendela", membiarkan angin bertiup di halaman Alkitab Anda dan kemudian menutup mata Anda dan menunjuk ke satu ayat dan berkata, "Ini adalah pimpinan Allah atas hal itu." Jika Anda melakukannya, Anda bisa berakhir dengan "Yudas pergi dan menggantung diri" sebagai ayat Anda untuk hari itu! Jangan berbuat itu.

2. Allah menuntun kita melalui dorongan Roh Kudus dalam batin.

Bacalah pernyataan berikut dengan saksama:

"Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya." (Filipi 2:12-13)

Dorongan Roh Kudus dalam batin memberi kita perasaan pimpinan Allah meskipun pimpinan itu tidak selalu apa yang kita sebut pengalaman "merasa-baik". Dalam kehidupan saya sendiri, keputusan saya untuk menerima jabatan presiden di Dallas Theological Seminary adalah tidak mudah. Pada akhirnya, itu adalah keputusan "dalam-damai", tetapi itu bukanlah apa yang saya inginkan atau pilih. Saya menemukan segala macam cara untuk menolak ketika posisi itu pertama kali ditawarkan kepada saya. Saya menulis surat sebanyak dua halaman pada presiden dan ketua, yang dengan baik dipikirkan, dinyatakan dengan hati-hati, dan penuh dengan ayat Alkitab. Seharusnya, siapa pun yakin bahwa saya adalah orang yang salah untuk pekerjaan itu, kecuali bahwa Allah sedang sibuk meyakinkan mereka -- dan, kemudian, saya -- bahwa saya adalah orang yang tepat. Meskipun itu bertentangan dengan keinginan saya sendiri pada waktu itu, saya tidak bisa menolak dorongan Roh Kudus yang menarik dengan kuasa penuh.

Jadi, saya bisa bersaksi dari pengalaman pribadi sehingga Anda bisa percaya bahwa Anda benar-benar tahu kehendak Allah, dan Anda mungkin akan sangat salah. Namun, jika Anda salah, dorongan Roh Kudus akan menyentuh Anda di dalam.

"Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya" (Amsal 16:9).

Lebih mudah untuk mengarahkan mobil yang bergerak -- hanya menggulirkan mobil dan Anda dapat mendorongnya ke stasiun pengisian untuk mendapatkan bensin. Namun, sulit untuk menggerakkannya dari mobil yang benar-benar berhenti. Jadi, Anda berada di tengah jalan, Anda membuat rencana Anda, Anda memikirkan jalan keluarnya. Dalam prosesnya, tetaplah terbuka. Dengan demikian, Anda akan bisa merasakan bisikan batin dari Roh Kudus yang mengemudikan Anda.

Dorongan dalam batin itu sangat penting karena sering kali kita tidak bisa mengetahuinya.

"Langkah orang ditentukan oleh TUHAN, tetapi bagaimanakah manusia dapat mengerti jalan hidupnya?" (Amsal 20:24).

(Saya suka itu!) Ketika semua dikatakan dan dilakukan, Anda akan berkata, "Jujur, saya tidak mengetahui hal ini. Pasti itu Allah." Bicara tentang misterius, semakin lama saya menjalani kehidupan Kristen, semakin saya kurang mengetahui mengapa Dia memimpin sebagaimana yang dilakukan-Nya. Namun, saya benar-benar yakin bahwa Dia memimpin.

3. Allah menuntun kita melalui nasihat orang-orang yang bijaksana, yang memenuhi syarat, yang dapat dipercaya.

Ini bukan berarti beberapa guru di Tibet atau orang asing yang bertampang serius di halte bus. Ini mengacu pada seorang individu yang telah membuktikan dirinya bijaksana dan dapat dipercaya, dan karena itu, memenuhi syarat untuk memberi nasihat tentang masalah tertentu. Biasanya, orang tersebut lebih tua dan lebih dewasa daripada kita. Selain itu, mereka tidak memperoleh untung atau rugi. Ini juga berarti bahwa mereka sering kali bukan di dalam keluarga dekat kita. (Anggota keluarga dekat biasanya tidak ingin kita melakukan sesuatu yang akan membuat kita jauh dari mereka atau menyebabkan kita atau mereka tidak nyaman atau khawatir.)

Pada saat-saat kritis dalam kehidupan saya sendiri, saya telah mencari nasihat dari orang yang berpengalaman -- dan mereka jarang salah. Itu pengalaman saya. Namun, Anda harus memilih konselor Anda dengan sangat hati-hati. Dan, karena konselor terbaik biasanya bukan keluarga Anda, sering kali mereka juga bukan teman terbaik Anda. Konselor yang bijaksana dan dapat dipercaya adalah orang yang hanya menginginkan apa yang Allah inginkan untuk Anda. Orang tersebut akan tetap objektif, mendengarkan dengan saksama, dan menjawab perlahan. Sering kali, mereka tidak akan memberikan jawaban pada saat Anda memintanya. Mereka ingin merenungkannya; mereka ingin berpikir dan berdoa tentang hal itu.

4. Allah membawa kita ke dalam kehendak-Nya dengan memberikan kita kepastian kedamaian.

"Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu," Paulus menulis kepada jemaat Kolose," karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah." (Kolose 3:15) Jaminan kedamaian Allah dalam batin akan bertindak sebagai wasit dalam hati Anda.

Meskipun kedamaian adalah emosi, saya mendapati bahwa itu sangat meyakinkan ketika saya bergumul dengan kehendak Tuhan. Kedamaian yang mendalam, yang diberikan Allah ini datang terlepas dari hambatan atau rintangan, di luar risiko atau bahaya. Ini hampir seperti cara Allah ketika berkata, "Aku ada dalam keputusan ini ... lanjutkan ... percayalah kepada-Ku melalui itu."

Kehendak Allah bagi hidup kita bukanlah beberapa teori yang ada di awang-awang; itu adalah kenyataan. Kita telah melihat beberapa cara Allah membawa kita kepada kehendak-Nya. Sekarang, sampai ke intinya: kita harus menjalani kehendak-Nya di dunia nyata.

Melakukan kehendak Allah menuntut keputusan. Dan, keputusan itu membutuhkan iman dan tindakan. Anda tidak dapat melihat akhirnya, sehingga Anda harus percaya kepada-Nya dalam iman dan kemudian melangkah keluar. Anda harus bertindak. Iman dan ketaatan seperti pribadi kembar; mereka berjalan bersama-sama.

Ibrani 11:6 mengatakan bahwa "... tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia." (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari: Nama situs : One Place Alamat situs : http://www.oneplace.com/ministries/insight-for-living/read/articles/how-can-i-discover-gods-will-16014.html Judul asli artikel : How Can I Discover God's Will? Penulis artikel : Charles R. Swindoll Tanggal akses : 31 Oktober 2017 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: WAWASAN WANITAkategori: KEHIDUPAN ROHANI

Jadilah Kehendak-Mu

Sel, 23/01/2018 - 14:33
edisi - 172 Memahami Kehendak Allah

... jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. (Matius 6:10)

Kita kerap berdoa, memohon agar kehendak Allah dinyatakan dalam hidup kita. Namun, apakah kita bersungguh-sungguh meminta hal ini? Bagaimana jika kehendak Allah ternyata berseberangan dengan keinginan dan kepentingan kita? Bagaimana jika kehendak Allah ternyata merugikan kita secara pribadi? Pernahkah Anda merenungkan hal ini?

Kehendak Allah, dalam doa yang diajarkan Yesus, baru terwujud jika kita memuliakan nama Allah dan menantikan Kerajaan-Nya. Hal itu merupakan tiga serangkai yang perlu kita utamakan. Ketiganya tidak dapat dipotong, apalagi dipisahkan. Baru setelah kita memuliakan Allah dan hidup dalam kedaulatan Allah, kita akan bersyukur jika hanya kehendak Allah yang terjadi di dunia ini.

Sebaliknya, jika mengutamakan kepentingan pribadi, kita bisa berkehendak dan bertindak berlawanan dengan maksud Allah. Doa kita menjadi egois. Kesaksian iman kita menyanjung diri sendiri. Pelayanan menjadi sekadar aksi yang mengundang pujian bagi diri sendiri. Ibadah menjadi ajang pamer kebesaran gereja kita sendiri. Kasih menjadi sekadar tindakan yang memesona mata orang lain. Ujungnya ialah pemuliaan pribadi, penegakan kerajaan pribadi, dan terlaksananya keinginan pribadi di bumi ini. Betapa berbahaya!

Marilah kita memeriksa batin kita. Kiranya Allah, dan bukan diri sendiri, yang menjadi pusat segala pengabdian kita. Kiranya kedaulatan-Nya yang mengarahkan segala langkah kita. Kiranya kehendak-Nya sajalah yang kita tempuh walaupun jalan-jalan-Nya terjal, naik turun, berliku, dan berkelok tajam; jika dibandingkan dengan kemauan kita sendiri. Berani? -- DKL

BERDOA IALAH MENYERAHKAN KEHENDAK DIRI KE DALAM KEDAULATAN KEHENDAK ALLAH

Download Audio

Diambil dari: Nama situs : SABDA Alamat situs : http://sabda.org/publikasi/e-rh/2009/05/26/ Judul asli artikel : Jadilah Kehendak-Mu Penulis artikel : DKL Tanggal akses : 2 November 2017 Tipe Bahan: RenunganKolom e-Wanita: RENUNGAN WANITAkategori: KEHIDUPAN ROHANI

Memahami Kehendak Allah

Sel, 23/01/2018 - 14:30

Salam dalam kasih Kristus,

Apa kabar Anda semua, Pelanggan e-Wanita, pada tahun yang baru ini? Kami sungguh berharap kita semua senantiasa dalam kasih karunia Tuhan dan siap untuk menjalani tahun yang baru dengan semangat dan harapan yang baru.

Untuk memulai perjumpaan kita pada awal tahun ini, kami rindu menyajikan artikel bertema Kehendak Allah. Sebagai orang percaya, kita hidup bukan untuk diri kita sendiri, melainkan untuk melakukan apa yang Allah kehendaki dan untuk melayani orang lain. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui apa yang menjadi kehendak-Nya dalam kehidupan ini. Melalui kolom Renungan serta Wawasan Wanita, kami mengajak Anda untuk semakin memahami apa itu kehendak Allah dan apa yang mesti menjadi sikap kita mengenai hal tersebut. Kami berharap sajian kali ini menjadi berkat bagi pertumbuhan iman kita, sehingga kita semakin dapat menjadi alat yang berguna bagi perluasan Kerajaan-Nya

Selamat tahun baru 2018. Allah senantiasa beserta kita!

Pemimpin Redaksi e-Wanita,
N. Risanti

Belajar Bagaimana Berhemat

Sel, 09/01/2018 - 16:28

Bagi saya, berhemat memiliki dua bagian. Yang pertama adalah keengganan untuk menghabiskan uang. Anda harus benar-benar memperhatikan kebiasaan belanja Anda dan memutuskan mana yang merupakan kebutuhan dan mana yang bukan. Jika Anda bisa hidup tanpa barang itu, jangan membelinya. Belajar menikmati menabung sebanyak mungkin jika tidak lebih dari sekedar kenikmatan yang Anda dapatkan dari memiliki barang tertentu.

Ini bukan berarti Anda tidak dapat membeli apa pun murni untuk kesenangan, tetapi jadilah sangat selektif dengan apa yang Anda pilih untuk dibelanjakan dengan uang Anda. Bagian kedua dari berhemat adalah pengeluaran sesedikit mungkin untuk kebutuhan. Belanja dengan penawaran terbaik, harga yang sudah dibandingkan, dan pikirkan barang bekas. Butuh lebih banyak waktu untuk mendapatkan harga terbaik tetapi layak untuk diusahakan.

Apakah kondisi keuangan Anda sulit atau tidak, ada baiknya Anda duduk dan membuat anggaran bulanan untuk pengeluaran Anda. Dengan merinci pengeluaran Anda selama beberapa bulan, Anda mungkin sangat terkejut berapa banyak pengeluaran Anda di wilayah tertentu. Jika Anda belum siap untuk benar-benar berhemat, pilih satu atau dua wilayah untuk dihemat terlebih dahulu.

Bagi orang yang baru berhemat, anggaran makanan adalah tempat yang baik untuk memulai. Carilah cara untuk menghemat belanjaan, belajarlah untuk membuat makanan yang lebih murah dan kurangi makan di luar. Setelah Anda merasa nyaman dengan belanja bahan makanan Anda, pindahlah ke area lain dan carilah hal-hal yang harus dipotong atau cara untuk menabung. Saya sangat merekomendasikan buku The Tightwad Gazette kepada semua orang untuk tip dan ide berhemat.

Terlepas dari tingkat pendapatan Anda, saya akan mendesak semua orang Kristen untuk benar-benar memperhatikan anggaran mereka untuk cara menghemat uang. Yang terpenting, apakah Anda menjadi penatalayan yang baik dengan uang yang Allah telah berikan kepada Anda? Jika uang sudah ketat maka tidak sulit untuk mencoba dan belanja lebih sedikit. Banyak orang harus sangat berhemat hanya untuk membayar tagihan mereka setiap bulannya. Namun, bagi Anda di luar sana di mana uang tidak menjadi masalah, saya akan mendorong Anda untuk belajar bersikap hemat untuk meningkatkan pemberian persembahan Anda.

"Tidak ada orang yang dapat melayani dua tuan karena ia akan membenci tuan yang satu dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada tuan yang satu dan meremehkan yang lain. Kamu tidak dapat melayani Allah dan mamon." Matius 6:24
(t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : The Christian Woman.com URL : http://www.thechristianwoman.com/frugal-tips/learning-frugal Judul asli artikel : Learning How to be Frugal Penulis artikel : Carrie Balrok Tanggal akses : 15 Juni 2017 Kategori Tips: KEUANGANTipe Bahan: Tips

Lima Cara Menjadi Ibu yang Lebih Baik Hari Ini

Sel, 09/01/2018 - 08:19

Inilah saatnya untuk mengembalikan sukacita Anda sebagai seorang ibu.

Saya duduk di sebuah café yang benar-benar dikususkan untuk para ibu. Ada taman bermain berwarna-warni di dalamnya, ruang latihan untuk kelas mama dan aku, dan meja kopi bundar kecil untuk para ibu mengobrol. Saya mengobrol dengan ibu lain sementara anak-anak saya bermain perosotan. Mereka sekitar satu tahun dan tiga tahun saat itu, dan saya sangat menginginkan percakapan orang dewasa.

Saya bertanya kepadanya tentang hobinya, dan dia langsung bersemangat. Hasratnya adalah bermain di liga voli. "Kapan Anda bermain sekarang?" Tanya saya. "Oh, belum pernah, sejak saya jadi seorang ibu."

Ini terdengar sangat familiar, bukan? Saat kita menjadi ibu, banyak kepentingan kita sendiri yang dikesampingkan selama satu musim. . . atau lebih lama lagi. Alih-alih berfokus pada pengembangan pribadi, kita berfokus pada anak-anak kita yang sedang bertumbuh. Meskipun itu benar-benar diperlukan untuk beberapa tahun pertama kehidupan, rata-rata para ibu hari ini tidak beralih dari berpusat pada anak menjadi berpusat pada orangtua. Seiring bertambahnya usia anak-anak Anda, Anda tetap menyediakan makanan, melayani, membantu, meminta, mengelilingi, menyuap, dan menjanjikan. Tak heran jika banyak dari kita tidak mengalami kepuasan kerja sebagai ibu! Kita bukan pemimpin di rumah kita; kita adalah pelayan yang stres. Keluarga tidak seharusnya seperti demikian.

"Anak-anak, taatilah orang tuamu dalam Tuhan karena ini adalah hal yang benar," Efesus 6:1 mengatakan. Bukan sebaliknya. Orangtua tidak seharusnya mematuhi anak-anak mereka, tetapi jika Anda mengamati anak-anak di toko bahan makanan atau restoran, seringkali mereka adalah orang-orang yang jelas-jelas mengendalikan.

Kenakan Kaus Kakimu Sendiri

Anak saya yang paling besar, Ethan, dan saya menjalani ritual tidur ini. Saya akan membawa sepasang kaus kaki putih bersih dan memasangkannya di kakinya setiap malam. Saya benar-benar melakukannya untuk dia. Suatu malam – ketika dia kelas lima –- saya sadar, Ethan sudah terlalu besar untuk ini. Apa yang sedang saya lakukan ini? Saya mengatakan kepadanya apa yang saya baru sadari itu, dan dia tertawa, "Tapi saya suka saat kau melakukannya; kau adalah pelayan saya!" Dia pun mengenakan kaus kakinya sendiri sejak saat itu.

Anda tahu, kebanyakan bukanlah anak-anak kita yang memiliki kesulitan mengasumsikan peran dan tanggung jawab baru untuk urusan rumah – masalahnya terletak pada kita. Kita tidak ingin melepaskan perasaan dibutuhkan dan penting. Kita mengeluh karena cemas, lelah, dan tersinggung karena terlalu banyak pekerjaan atau tekanan untuk melakukan setiap hal kecil seputar anak-anak kita, namun kita sendirilah yang membangun ketergantungan itu.

Jika Anda ingin menjadi ibu yang lebih bahagia, inilah saatnya membuat beberapa perubahan. Inilah lima cara untuk menemukan kembali sukacita Anda sebagai seorang ibu:

1. Menjadi sehat.

Saya menyukai kata-kata dari Erma Bombeck ini: "Secara umum anak-anak saya menolak untuk makan apapun yang tidak ditayangkan di televisi." Seperti apa makanan anak Anda, begitupun makanan Anda. Saya tahu saya bukan satu-satunya yang menghabiskan sisa makanan dari piring anak-anak saya. Saya punya seorang teman yang juga seorang ibu yang memiliki ungkapan untuk ini, "Saya bukan tempat sampah." Buatlah komitmen, untuk diri sendiri dan anak-anak Anda, untuk makan makanan sehat. Anda akan merasa lebih baik, memiliki lebih banyak energi, dan tidur lebih nyenyak. Saat Anda menggabungkan makanan bergizi dengan olahraga teratur dan istirahat malam yang nyenyak, Anda akan jauh lebih bahagia (dan lebih baik).

2. Menjadi Berorientasi pada tindakan.

Anda menatap tak percaya saat anak Anda melakukan kesalahan yang sama untuk kesekian kalinya. Anda telah memberi nasihat tentang pekerjaan rumah yang terlupakan, kamar yang berantakan, dan tugas-tugas yang tidak diselesaikan. Kuatkan hati Anda – perang dimenangkan oleh ibu pintar yang tidak menanggapi dengan penjelasan tanpa henti tetapi dengan tindakan. Tetapkan diri Anda sebagai pemimpin dalam cara Anda berbicara, bahkan dengan postur tubuh Anda. Berdiri tegak dan berikan instruksi sekali. Sampaikan dengan jelas dan tidak menyesal bila konsekuensi harus diberikan.

Pola pikir di sini adalah "Majulah," bukan "Saya harap dia tidak menantang saya untuk membuktikan ucapan saya." Amsal 15:32 mengatakan, "Mereka yang mengabaikan didikan menghina dirinya sendiri, tetapi mereka yang mendengarkan teguran memperoleh pengertian." Jika Anda plin-plan dalam disiplin Anda, anak Anda akan menolak otoritas Anda. Pola ini bisa merugikan hubungannya dengan Tuhan, guru, atasan di masa depan, atau bahkan dengan anggota keluarga.

3. Berdoalah dengan sungguh.

Ketika dihadapkan dengan masalah, ke mana Anda akan berpaling terlebih dahulu? Jika kita jujur, berkali-kali jawabannya adalah Google. Namun Alkitab tidak mengatakan, "Saya mengangkat mataku ke hp saya – dari mana akan datang pertolonganku? Pertolongan saya berasal dari Internet, pemegang semua informasi." Jika Anda membutuhkan kebijaksanaan sebagai ibu (dan siapa yang tidak?), pertama-tama berpalinglah kepada Tuhan dalam doa. Anda tidak memerlukan gelar Doktor untuk menjadi ibu yang berdoa dengan efektif. Anda bisa memanjatkan doa cepat sampai ke surga, berpartisipasi dalam sebuah Kelompok Doa Para Ibu, atau berdoa menggunakan ayat-ayat Alkitab untuk menyelaraskan doa Anda dengan kehendak Tuhan. Misalnya, Anda bisa berdoa: "Tuhan, saya berdoa agar (sebutkan nama anak Anda) akan mencari hikmat, karena itu jauh lebih berharga daripada batu-batu permata dan segala sesuatu yang diinginkan orang. Tidak ada yang diinginkan oleh anak saya yang bisa dibandingkan dengan hal itu." (Amsal 8:11).

4. Bertekun.

Menjadi ibu bukanlah lari jarak pendek; tetapi adalah lari maraton. Kita bisa tergoda untuk menyerah dengan mudahnya ketika sesuatu tidak berhasil di awal. Ingat Anda berada di dalamnya untuk jangka panjang. Luangkan waktu menjauh dari anak-anak Anda, seperti melakukan retret wanita selama akhir pekan, rencanakan liburan bersama suami Anda setahun sekali, atau hadiri kelompok ibu atau studi Alkitab tanpa anak-anak Anda. Seiring dengan berjalannya waktu, Anda akan kembali menjadi ibu yang lebih bersemangat dan terfokus yang bisa bertahan lebih lama dari balita atau remaja.

5. Dipenuhi dengan "Ya".

Carilah hal-hal yang ya dalam menjadi ibu. Sadarilah bahwa gagasan ini nampaknya agak berlawanan dengan intuisi, seperti mengatakan ya untuk mengabaikan keluarga Jones, ya untuk menjadi keluarga yang melayani, dan ya untuk menjadi keluarga yang menyenangkan. Anda juga bisa mengatakan ya untuk hobi Anda. (Saya harap ibu yang saya temui di kafe ibu itu bermain bola voli lagi sekarang.) Alih-alih berpikir bahwa saya tidak dapat melakukan itu karena saya adalah seorang ibu, pikirkan banyak hal hebat yang masih dapat Anda lakukan sebagai seorang ibu.

Saat anak bungsu saya, Lucy berusia empat tahun, dia melihat seekor burung hitam hinggap di pagar kami. Beberapa saat kemudian, burung itu terbang menjauh. Dia berkata dengan santai layaknya anak prasekolah, "Biasanya saat mereka sampai di pagar, mereka bersiap untuk terbang." Saya tersedak, dan buru-buru menuliskan kata-kata itu agar saya tidak lupa.

Suatu hari nanti ketiga anak saya akan meninggalkan sarangnya. Mereka akan hinggap di pagar dan terbang menjauh. Ketika hari itu tiba, saya ingin melihat ke belakang dan berkata, "Wow, saya sangat menikmati menjadi ibu saat berada di rumah." Saya ingin anak-anak saya memiliki kenangan tentang seorang ibu yang bahagia daripada sopir atau pengambil pesanan yang tertekan. Saya kira itu juga yang Anda inginkan. Saat Anda memusatkan perhatian pada lima cara untuk mengembalikan sukacita Anda sebagai seorang ibu, senyum Anda akan menjadi lebih cerah – begitu juga senyum anak-anak Anda. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Today's Christian Woman URL : http://www.todayschristianwoman.com/articles/2015/june/5-ways-to-become-... Judul asli artikel : 5 Ways to Become a Better Mom Today Penulis artikel : Arlene Pellicane Tanggal akses : 13 Juni 2017 Kategori Tips: PENGASUH ANAKTipe Bahan: Tips

Natal

Kam, 21/12/2017 - 17:00

Salam dalam kasih Kristus,

Apa yang akan kita rayakan dalam Natal tahun ini? Akankah itu perayaan Natal yang meriah, dihadiri oleh teman, kerabat, dan kolega serta adanya makanan dan hadiah yang menyenangkan? Akankah itu berupa perayaan Natal di gereja yang juga tidak kalah menarik dan menghibur? Ataukah, pada Natal kali ini, kita akan sungguh-sungguh menghadirkan Kristus dalam hati dan kehidupan kita? Kristus hadir untuk menjadi suluh, menerangi kekelaman yang melanda dunia dan segala ciptaan semenjak kejatuhan manusia ke dalam dosa. Sebagai pengikut-Nya, tentu kita juga mesti mengikuti jejak-Nya untuk menjadi terang dunia. Sebagaimana Kristus telah menjadi Pribadi yang begitu memengaruhi jalannya sejarah, kehidupan kita pun seharusnya membawa dampak bagi mereka yang ada di sekitar kita -- menjadi pembawa damai, pengharapan, sukacita, kebaikan, dan penghiburan.

Seluruh staf redaksi e-Wanita mengucapkan Selamat Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 kepada seluruh pelanggan publikasi e-Wanita di mana pun Anda berada. "Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya." (Yohanes 1:5) Soli Deo Gloria!

Pemimpin Redaksi e-Wanita,
N. Risanti

Misi Kristus dan Perayaan Natal

Kam, 21/12/2017 - 16:58
edisi - 171 Natal

RENUNGAN WANITA
Misi Kristus dan Perayaan Natal
Ditulis oleh: N. Risanti

Kristus datang untuk mati. Tampaknya pernyataan itu sudah sering kita dengar, tetapi mungkin tidak terlalu meresap ke dalam hati kita. Jika sudah, mungkin kita tidak akan merayakan Natal dalam cara-cara yang sekarang justru mengemuka di gereja-gereja maupun komunitas kristiani. Jika sudah, mungkin kita akan lebih memaknai Natal dengan rasa syukur dan perasaan kasih yang lebih besar kepada Allah. Jika sudah, mungkin kita akan lebih memuliakan Allah dalam tindakan kita daripada sibuk menghias rumah, mencari hadiah, membeli baju atau sepatu baru, atau memikirkan kue apa yang akan kita buat atau beli pada tahun ini.

Dua ribu tahun yang lalu, Kristus datang dengan sepenuhnya menyadari misi-Nya di dalam dunia. Ia datang untuk menolong manusia yang dalam keberdosaannya tidak dapat menolong dirinya sendiri. Ia, yang adalah Allah Pencipta Alam, datang dalam rupa hamba dan sebagai domba yang siap disembelih (Yohanes 1:29) untuk menggenapi janji Allah (Kejadian 3:15). Ia menjadi pesakitan bagi kita meski sesungguhnya kita tidak layak untuk menerima pengorbanan tersebut. Untuk apa Ia melakukannya? Bukankah Allah dapat saja menghukum dan memusnahkan kita semua, lalu menciptakan dunia yang baru dalam skenario tanpa dosa? Atau, bukankah Tuhan hanya perlu melakukan satu perbuatan yang dahsyat untuk diketahui oleh semua umat manusia bahwa Ia adalah Juru Selamat hingga semua orang menjadi percaya dan bertobat? Jawaban untuk itu adalah karena Ia tidak dapat menyangkal hakikat diri-Nya sendiri sebagai Pribadi yang setia, penuh kasih, dan kudus. Hanya melalui salib, kesetiaan Allah untuk menyelamatkan umat-Nya dapat digenapi. Hanya melalui salib, kasih dan keadilan Allah dapat ditegakkan di dalam diri-Nya. Dan, hanya melalui salib, murka Allah terhadap dosa dapat dipuaskan (1 Yohanes 4:10).

Setelah misi Kristus dituntaskan dengan sempurna, kita, sebagai pengikut Kristus, kini mewarisi misi-Nya untuk memberitakan Kabar Kesukaan bagi dunia. Karena itu, alih-alih merayakan Natal dalam kemeriahan, tidakkah lebih baik bila kita merayakan Natal pada tahun ini dengan melakukan berbagai kegiatan yang akan meningkatkan kasih dan keinginan kita untuk berbagi Kristus kepada yang lain? Masih ada banyak orang di luar sana yang membutuhkan kasih Kristus, dan sudah menjadi tugas kita untuk mengabarkan berita Natal dan keselamatan dari Tuhan kepada mereka yang membutuhkannya. Tentu saja, untuk itu, ada harga yang mesti dibayar, dan kesenangan diri mesti dipangkas. Namun, ingatlah bagaimana Ia sudah mengosongkan diri-Nya untuk mengambil posisi kita, yang justru senantiasa ingin mengambil alih tempat Allah dalam hati dan kehidupan kita. Jika Ia saja, yang adalah Allah Semesta Alam, penguasa kehidupan, dan pencipta segala sesuatu, mau merendahkan diri-Nya dan tidak menganggap keilahian-Nya sebagai milik yang harus dipertahankan, lantas siapakah kita sehingga ingin senantiasa mendahulukan harga diri dan kepentingan kita? Siapakah kita, yang selalu saja berusaha untuk mengendalikan hidup kita sendiri dan orang lain? Dan, siapakah kita sehingga tidak mau membalas kasih-Nya dengan memberi yang terbaik untuk-Nya dalam panggilan kita masing-masing?

Selamat Natal. Tuhan Yesus mengasihi kita semua!

Download Audio

Sumber referensi:

  • Piper, John. 2013. "Penderitaan Yesus Kristus. The Passion of Jesus Christ". Surabaya: Penerbit Momentum. Hal. 10 -- 11.
  • Alkitab SABDA. Dalam http://alkitab.sabda.org/.
Tipe Bahan: RenunganKolom e-Wanita: RENUNGAN WANITAkategori: NATAL

Natal dan Rasa Cukup

Kam, 21/12/2017 - 16:55
edisi - 171 Natal

DUNIA WANITA
Natal dan Rasa Cukup

Natal akan segera tiba. Bagi orang dunia, kebiasaan dan perayaan yang menghabiskan banyak uangpun dimulai. Pada masa Natal, kita dimanjakan oleh banyak pilihan -- mulai dari makanan enak, pakaian baru, pusat perbelanjaan yang harus dikunjungi, tempat wisata untuk berlibur, sampai jenis telepon genggam model baru yang harus dibeli. Semuanya tersedia dan ditawarkan. Bukan hanya itu, penawaran biasanya juga disertai dengan diskon yang menggiurkan sehingga mudah sekali jatuh dalam kenyataan membeli barang-barang yang sebenarnya tidak terlalu kita butuhkan.

Semua hal di atas pada intinya didasari oleh keinginan untuk memuaskan diri dan mengejar kenikmatan diri yang sebesar-besarnya. Apa pun yang diri kita inginkan harus dipenuhi. Jangan tahan-tahan, hidup ini hanya sekali, nikmati semua yang bisa diperoleh. Konsumerisme dan hedonisme adalah saudara kembar yang tanpa disadari merajalela dan menguasai hidup kita.

Perilaku ini juga secara tidak sadar menginvasi kekristenan. Ketika kita datang ke suatu kebaktian atau perayaan Natal, kita juga mendasari kehadiran kita atas pertanyaan apakah kebaktian atau perayaan tersebut dapat memberikan kenikmatan atau fulfillment bagi jiwa atau kerohanian kita. Dengan demikian, kita pun mudah kecewa atau mengkritisi atau bahkan meninggalkan kebaktian tersebut jika acaranya tidak bisa memenuhi keinginan kita untuk mendapatkan lebih banyak perhatian, persekutuan yang lebih hangat, doktrin pengajaran yang lebih "dalam", dan seterusnya.

Mentalitas yang menuntut lebih dan lebih dengan sendirinya akan membentuk tendensi untuk menggampangkan atau menyepelekan (take it for granted) banyak hal dalam hidup kita. Karena kita berfokus untuk mendapatkan lebih banyak lagi untuk diri, kita sering lupa untuk mensyukuri hal-hal yang sudah kita miliki. Misalnya, pernahkah kita bersyukur kepada Tuhan yang menciptakan sistem respirasi tubuh kita yang tersusun atas otot tidak sadar sehingga kita tidak perlu terus-menerus diingatkan untuk mengambil napas (andai kata sistem respirasi terdiri atas otot sadar)? Masihkah kita berterima kasih kepada Tuhan setiap kali kita merasakan kehangatan sinar matahari yang tidak pernah gagal untuk terbit setiap hari? Seberapa sering kita menunjukkan betapa kita menghargai orang-orang yang kita cintai, yang berada di sekeliling kita -- orang tua, kakak, adik, teman-teman?

Dalam suasana Natal berlimpah yang ditawarkan dunia ini, kita perlu merenungkan apa kata Alkitab tentang satu karakter: contentment (rasa cukup) sebagai pemusnah racun konsumerisme dan hedonisme yang begitu merajalela.

Now there is great gain in godliness with contentment. (1 Timothy 6:6, ESV)

Melihat konteks ayat-ayat sebelumnya, Rasul Paulus menegur beberapa jemaat yang "mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cedera, fitnah, curiga, percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan" (1 Timotius 6:3-5). Kita pun mungkin dengan mudah jatuh ke dalam kategori seperti ini, misalnya melayani Tuhan dengan motivasi mencari keuntungan material atau untuk mendapatkan kehormatan manusia.

Oleh karena itu, Rasul Paulus menasihati mereka bahwa "memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar" (Terjemahan ESV lebih jelas mengatakan there is great gain in godliness with contentment). Dalam bahasa Yunani, contentment (autarkeia, transliterated) boleh didefinisikan sebagai "kecukupan atas kebutuhan sehari-hari" (sufficiency of the necessities of life). Juga dihubungkan dengan ayat 8, Rasul Paulus berkata, "asal ada makanan dan pakaian, cukuplah" (dalam kultur Yunani, istilah "makanan dan pakaian" merujuk pada kebutuhan dasar keseharian). Dengan kata lain, Rasul Paulus mengatakan bahwa kita akan memperoleh keuntungan besar (great gain) ketika kita memiliki rasa cukup.

Natal dan Rasa Cukup

Ada tiga hal yang bisa kita pelajari dari nasihat Rasul Paulus ini:

Pertama, rasa cukup dikontraskan dengan keinginan menjadi kaya yang menyebabkan banyak orang jatuh ke dalam jerat dan nafsu yang hampa (ayat 9-10). Bagaimana kita bisa merasa cukup dalam hal ini? Menurut Rasul Paulus, kuncinya adalah dengan memiliki sikap dan cara pandang seperti seorang musafir yang "tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan tidak dapat membawa apa-apa ke luar" (ayat 7). Berapa banyakpun uang yang kita miliki atau kehormatan yang kita dapatkan, semuanya akan kita tinggalkan di dunia ini dan tidak akan kita bawa ke dalam kekekalan. Ingat perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh pada Lukas 12:13-21.

Memiliki sikap atau perilaku seperti seorang musafir adalah langkah awal hidup yang penuh rasa cukup. Ketika kita menyadari bahwa kita tidak membawa apa pun ke dalam dunia dan apa pun ke luar, kitapun akan memikirkan dengan serius apa yang berharga dan apa yang harus kita dapatkan dalam hidup ini. Pada akhirnya, ini akan memimpin kita untuk menggumulkan apa maksud Tuhan menempatkan kita di dunia ini.

Kita akan mulai mencoba memikirkan bagaimana cara pandang dan rencana Tuhan bagi hidup kita. Kata seorang teolog, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar daripada kebahagiaan ketika kita menyadari bahwa jalan hidup kita dan apa yang kita usahakan tepat berada dalam rencana dan kehendak Tuhan. Ketika sikap yang berfokus pada Tuhan ini memengaruhi seluruh aspek hidup kita, maka tepatlah kata Rasul Paulus bahwa rasa cukup (contentment) akan menghasilkan hidup yang beribadah (godliness).

Kedua, rasa cukup tidaklah dihasilkan oleh aktivitas yang menekan kebutuhan (need-suppressing efforts), melainkan berdasarkan keyakinan akan pemeliharaan Tuhan (lihat Ibrani 13:5-6). Hal ini melegakan. Ini berarti kita akan bisa merasa cukup ketika pemeliharaan Tuhan bersama kita. Tuhan telah menjanjikan bahwa "sekali-kali Aku tidak meninggalkan atau melupakan engkau", maka kita bisa berkata, "Tuhanlah penolongku, aku tidak takut, apa yang manusia dapat lakukan kepadaku?" Rasa cukup akan berkata, "Saya merasa cukup atas apa pun yang saya miliki dan alami karena Tuhanlah yang memelihara hidup saya sampai saat ini dan Tuhan tidak pernah salah atau kurang dalam menyediakan bagi saya."

Ini bukan berarti dari kacamata dunia kita selalu berkelimpahan atau kaya raya. Tidaklah demikian. Akan tetapi, apa pun yang kita miliki (banyak atau sedikit, berkecukupan atau berkekurangan) kita syukuri sebagai hal yang Tuhan sediakan. Kita pun bisa puas dalam Tuhan, dan Tuhan pun dimuliakan. Sebagaimana John Piper pernah berkata, "God will be mostly glorified in us when we are truly satisfied in Him." (Tuhan akan lebih dipermuliakan di dalam kita ketika kita sungguh dipuaskan di dalam Dia - Red.)

Akan tetapi, rasa cukup tidaklah berarti Rasul Paulus mengecilkan atau menyepelekan kerinduannya pada Tuhan (passion for God) dan usahanya untuk semakin serupa dengan Kristus. Rasul Paulus merasa cukup dengan apa yang ia miliki, tetapi ia tetap "berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus" (Filipi 3:14). Ia merasa cukup dengan keadaannya di dunia ini, tetapi ia terus berkeinginan untuk "mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati" (Filipi 3:10-11).

Rasa cukup tidak ada kaitannya dengan spiritual complacency (puas diri secara spiritual). Oleh karena itu, sebagaimana halnya dengan Rasul Paulus, kita harus hidup dengan rasa cukup tanpa kehilangan semangat juang untuk terus menjadi serupa dengan Kristus.

Rasul Paulus merasa cukup, tetapi itu bukan berarti ia menjadi seorang yang minimalis atau yang bekerja dan melayani seadanya saja. Sebaliknya, ia "bekerja lebih keras daripada mereka semua" (1 Korintus 15:10). Rasul Paulus dan tim juga "bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun" (1 Tesalonika 2:9). Rasa cukup tidak berteman dengan kemalasan dan bersantai-santai.

Terakhir, rasa cukup adalah suatu hal yang perlu kita pelajari, sebagaimana Rasul Paulus sebutkan di Filipi 4:11 bahwa ia telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Rasa cukup tidaklah terjadi secara instan -- dibutuhkan latihan kebiasaan dan disiplin dalam kehidupan kita, misalnya tidak membeli barang-barang lebih dari yang kita butuhkan, tidak menjerat diri dalam keinginan untuk mengejar uang sebanyak-banyaknya, belajar melatih diri untuk mensyukuri setiap hal dalam hidup, menempatkan Tuhan sebagai yang utama dalam hidup kita. Melatih rasa cukup adalah bagian dari disiplin rohani.

Marilah pada masa Natal ini, di tengah-tengah tawaran konsumerisme yang menggiurkan, kita mengejar hidup beribadah yang disertai dengan rasa cukup karena keuntungan besar yang tersedia bagi kita! Sikap seorang musafir, meyakini dan menikmati penyediaan Tuhan, dan terus belajar melatih disiplin diri adalah tiga hal yang kita bisa lakukan untuk mengejar hidup yang dipenuhi rasa cukup.

Diambil dari: Nama situs : PILLAR - Buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia Alamat situs : http://www.buletinpillar.org/artikel/natal-dan-rasa-cukup Judul asli artikel : Natal dan Rasa Cukup Penulis artikel : Lisman Komaladi Tanggal akses : 12 Januari 2017 Kolom e-Wanita: DUNIA WANITAkategori: NATAL

Aplikasi Dari Sabda Android: Renungan Oswald Chambers (ROC)

Kam, 21/12/2017 - 16:52
Aplikasi Dari Sabda Android: Renungan Oswald Chambers (ROC)

My Utmost For His Highest adalah karya besar Oswald Chambers yang sangat disukai oleh banyak orang Kristen dari seluruh dunia dan termasuk dalam sepuluh besar buku Kristen terlaris. Sekarang, Anda bisa menikmati renungan harian ini secara langsung dari smarthphone Android dan iOS Anda dengan aplikasi Renungan Oswald Chambers (ROC) dari SABDA.

Mari, unduh aplikasi Renungan Oswald Chambers dan nikmati saat teduh Anda setiap saat melalui gawai Anda!

Download: https://play.google.com/store/apps/details?id=org.sabda.renunganchambers
Informasi lebih lengkap: http://android.sabda.org

Mengenal Tokoh-Tokoh Besar Kristiani Melalui Bio-Kristi

Kam, 16/11/2017 - 15:05

Allah telah menggunakan hidup dari banyak pribadi untuk menyatakan rencana dan karya-Nya. Perjalanan hidup dari tokoh-tokoh besar itu menyiratkan berbagai kesaksian yang indah tentang bagaimana Ia bekerja, mengubah, dan melakukan berbagai hal yang mengungkapkan pemeliharaan-Nya kepada manusia di berbagai abad, tempat, dan bangsa. Jika Anda rindu untuk semakin mengenal pribadi-pribadi yang sungguh mengasihi Allah serta hidup bagi tujuan-Nya, bergabunglah menjadi pelanggan publikasi Bio-Kristi.

Caranya mudah. Silakan mengirimkan email kosong ke < subscribe-i-kan-bio-kristi@hub.xc.org > atau kepada redaksi Bio-Kristi di: < biografi@sabda.org >. Dengan menjadi pelanggan, Anda akan menerima secara gratis publikasi Bio-Kristi setiap Rabu minggu kedua di mailbox Anda.

Kunjungi juga situs Bio-Kristi di < http://biokristi.sabda.org/ > atau situs arsip publikasi kami di < http://www.sabda.org/publikasi/bio-kristi >.

Mari, dapatkan inspirasi dari hidup yang mengasihi Allah bersama Bio-Kristi!



Situs Bio-Kristi


Bio-Kristi


@sabdabiokristi

Mengenali Penyembahan Berhala dalam Keinginan

Kam, 16/11/2017 - 15:03
edisi - 170 Berhala pada Era Modern

Beberapa pembaca tampaknya suka melihat pokok berita pada blog ini dan memutuskan bahwa mereka tidak perlu membaca sebuah artikel tentang Perjanjian Lama, mungkin mereka malah lebih suka memilih sebuah blog tentang kepemimpinan.

Lagi pula, Anda mungkin tidak memiliki ukiran patung batu di dalam rumah, dan Anda belum pernah bepergian ke Asia dan membeli patung lambang suku atau hal lain yang menggambarkan ilah yang salah. Jadi, mengapa sebuah percakapan tentang pemujaan berhala menjadi kepentingan untuk Anda?

Tidak Ada yang Baru di Bawah Matahari

Percaya atau tidak, peringatan yang paling umum tentang dosa di dalam Alkitab bukanlah tentang berbohong, bergosip, berzina, mencuri, atau membunuh. Dosa yang paling umum di dalam Alkitab yang harus kita hindari, tolak, dan jauhi adalah pemujaan berhala.

Dan, itu bukan hanya tiang Asyera di dalam Perjanjian Lama.

Nyatanya, dalam Perjanjian Lama, 1 Yohanes 5:21 (AYT) berkata, "Anak-anakku, jauhkanlah dirimu dari berhala-berhala." Jadi, kelihatannya pemujaan berhala masih mencoba masuk ke dalam hidup kita dan mengacaukan kita dari penyembahan dan ketaatan kepada Allah.

Pemujaan berhala bukan hanya sekadar isu penyembahan berhala. Itu bukan hanya masalah dalam Perjanjian Lama atau masalah orang Yahudi. Itu merupakan masalah pada manusia.

Apakah itu dikarenakan pahatan kayu atau perunggu setinggi 12 inci dapat menjadi sesuatu yang buruk bagi kita? Atau, apakah itu dikarenakan kita berbuat sesuatu yang mengerikan pada diri kita ketika kita menempatkan pemujaan dan perhatian yang seharusnya untuk Allah pada hal yang lainnya?

Ketika berbicara tentang pemujaan berhala, bahayanya bukanlah berada dalam bendanya, melainkan pada diri kita sendiri.

Adalah John Calvin yang mengatakan bahwa hati kita merupakan pabrik berhala. Dalam dunia yang fana, orang-orang terus-menerus mencari sesuatu yang bisa disembah walaupun Sang Pencipta ada di hadapan kita secara jelas.

Kita semua mencari sesuatu untuk disembah dan dilayani. Berhala datang dengan mudah, tetapi sulit menjauh.

Ada tema konsisten tentang pemujaan berhala di keseluruhan Alkitab dan juga di dalam hidup kita.

Dalam 1 Tesalonika 1:9-10, Alkitab menjelaskan hidup kita yang baru, kelahiran baru kita dalam Kristus dengan cara: "kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar." Tentu saja, dibandingkan dengan berhala yang mati dan salah, melayani Allah yang hidup adalah hal yang pasti.

Berhala Tidak Mengenal Batasan

Apakah menjadi seorang penyembah Allah yang benar berarti kita tidak lagi harus bersaing dengan masalah pemujaan berhala? Saya harap sesederhana itu.

Apa pun yang bukan dari Allah membuat dirinya menentang Allah, bahkan dalam hidup kekristenan. Jadi, kita terus-menerus memiliki berhala yang muncul dalam hidup kita. Kita harus mengusir mereka, tetapi mereka akan selalu ada selama kita masih hidup di bumi.

Bagaimana dengan para pemimpin? Apakah kepemimpinan berarti kita mendapat pembebasan dari ancaman pemujaan berhala dalam hidup kita? Hmm ... tidak. Beberapa dari kita memiliki "pemujaan berhala pelayanan" dalam hidup kita -- hal-hal yang kita kejar dalam tempat yang seharusnya bagi Allah.

Jika Anda ingin menjadi seorang pendeta yang setia atau seorang guru Alkitab yang setia dalam konteks pelayanan, Anda harus mengenali kesamaan yang kita semua miliki terhadap berhala-berhala di dunia. Setiap adat menciptakan berhala-berhala, dan kita harus waspada untuk berbalik dari mereka, bahkan menghancurkan mereka.

Terusiklah dengan Berhala Anda Sendiri

Kisah Para Rasul 17 menceritakan cerita Paulus di Athena, dan bagaimana rohnya "merasa disusahkan di dalam dirinya karena ia melihat kota itu penuh dengan patung-patung berhala" (Kisah Rasul 17:16, AYT). Ini merupakan pesan yang menarik yang sering kita abaikan. Apakah roh kita merasa susah di dalam diri kita karena berhala-berhala yang ada di dalam budaya kita?

Saya tidak menunjuk hanya pada berhala-berhala "di luar sana". Ini bukan hanya tentang berhala-berhala tetangga. Kita harus mengenali bahwa kita semua tertarik pada beberapa berhala tersebut. Dan, orang-orang di gereja kita pun semuanya tertarik dengan berhala-berhala itu juga.

Melihat orang-orang terperangkap dalam pemujaan berhala harus membangkitkan rasa kasihan untuk jiwa-jiwa mereka sebagaimana mereka terperangkap dalam kebodohan-kebodohan mereka. Namun, hal itu juga harus memicu rasa benci pada semua hal yang akan mengatur dirinya melawan satu Allah yang benar.

Pendeta-Pendeta, Berkhotbahlah Melawan Berhala

Berhala-berhala tidak akan pergi dengan sendirinya. Dengan kuasa Injil, kita harus meruntuhkannya -- menghancurkan mereka. Kita perlu membuang mereka dari hidup kita dan meninggalkan mereka. Para pendeta perlu mengindentifikasinya dan berkhotbah melawan berhala.

Sebagaimana kasih kita kepada Allah bertumbuh, toleransi kita pada pemujaan berhala akan semakin menurun.

Berhala besar apakah yang ada dalam budaya kita yang lebih luas? Berhala apa yang ada dalam budaya gereja? Dan, berhala spesifik apa yang dibangun dalam konteks kepemimpinan pelayanan? (t/Illene)

Diterjemahkan dari: Nama situs : Christianity Today Alamat situs : http://www.christianitytoday.com/edstetzer/2014/october/idolatry-is-alive-today-why-modern-church-leaders-still-fig.html Judul asli artikel : Idolatry Is Alive Today: Why Modern Church Leaders Still Fight an Old Battle Penulis artikel : Ed Stetzer Tanggal akses : 22 September 2016 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: WAWASAN WANITAkategori: KEHIDUPAN ROHANI

Pemujaan Berhala Masih Ada Hari Ini: Mengapa Pemimpin Gereja Modern Masih Melawan Pertempuran Lama

Kam, 16/11/2017 - 15:00
edisi - 170 Berhala pada Era Modern

Beberapa pembaca tampaknya suka melihat pokok berita pada blog ini dan memutuskan bahwa mereka tidak perlu membaca sebuah artikel tentang Perjanjian Lama, mungkin mereka malah lebih suka memilih sebuah blog tentang kepemimpinan.

Lagi pula, Anda mungkin tidak memiliki ukiran patung batu di dalam rumah, dan Anda belum pernah bepergian ke Asia dan membeli patung lambang suku atau hal lain yang menggambarkan ilah yang salah. Jadi, mengapa sebuah percakapan tentang pemujaan berhala menjadi kepentingan untuk Anda?

Tidak Ada yang Baru di Bawah Matahari

Percaya atau tidak, peringatan yang paling umum tentang dosa di dalam Alkitab bukanlah tentang berbohong, bergosip, berzina, mencuri, atau membunuh. Dosa yang paling umum di dalam Alkitab yang harus kita hindari, tolak, dan jauhi adalah pemujaan berhala.

Dan, itu bukan hanya tiang Asyera di dalam Perjanjian Lama.

Nyatanya, dalam Perjanjian Lama, 1 Yohanes 5:21 (AYT) berkata, "Anak-anakku, jauhkanlah dirimu dari berhala-berhala." Jadi, kelihatannya pemujaan berhala masih mencoba masuk ke dalam hidup kita dan mengacaukan kita dari penyembahan dan ketaatan kepada Allah.

Pemujaan berhala bukan hanya sekadar isu penyembahan berhala. Itu bukan hanya masalah dalam Perjanjian Lama atau masalah orang Yahudi. Itu merupakan masalah pada manusia.

Apakah itu dikarenakan pahatan kayu atau perunggu setinggi 12 inci dapat menjadi sesuatu yang buruk bagi kita? Atau, apakah itu dikarenakan kita berbuat sesuatu yang mengerikan pada diri kita ketika kita menempatkan pemujaan dan perhatian yang seharusnya untuk Allah pada hal yang lainnya?

Ketika berbicara tentang pemujaan berhala, bahayanya bukanlah berada dalam bendanya, melainkan pada diri kita sendiri.

Adalah John Calvin yang mengatakan bahwa hati kita merupakan pabrik berhala. Dalam dunia yang fana, orang-orang terus-menerus mencari sesuatu yang bisa disembah walaupun Sang Pencipta ada di hadapan kita secara jelas.

Kita semua mencari sesuatu untuk disembah dan dilayani. Berhala datang dengan mudah, tetapi sulit menjauh.

Ada tema konsisten tentang pemujaan berhala di keseluruhan Alkitab dan juga di dalam hidup kita.

Dalam 1 Tesalonika 1:9-10, Alkitab menjelaskan hidup kita yang baru, kelahiran baru kita dalam Kristus dengan cara: "kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar." Tentu saja, dibandingkan dengan berhala yang mati dan salah, melayani Allah yang hidup adalah hal yang pasti.

Berhala Tidak Mengenal Batasan

Apakah menjadi seorang penyembah Allah yang benar berarti kita tidak lagi harus bersaing dengan masalah pemujaan berhala? Saya harap sesederhana itu.

Apa pun yang bukan dari Allah membuat dirinya menentang Allah, bahkan dalam hidup kekristenan. Jadi, kita terus-menerus memiliki berhala yang muncul dalam hidup kita. Kita harus mengusir mereka, tetapi mereka akan selalu ada selama kita masih hidup di bumi.

Bagaimana dengan para pemimpin? Apakah kepemimpinan berarti kita mendapat pembebasan dari ancaman pemujaan berhala dalam hidup kita? Hmm ... tidak. Beberapa dari kita memiliki "pemujaan berhala pelayanan" dalam hidup kita -- hal-hal yang kita kejar dalam tempat yang seharusnya bagi Allah.

Jika Anda ingin menjadi seorang pendeta yang setia atau seorang guru Alkitab yang setia dalam konteks pelayanan, Anda harus mengenali kesamaan yang kita semua miliki terhadap berhala-berhala di dunia. Setiap adat menciptakan berhala-berhala, dan kita harus waspada untuk berbalik dari mereka, bahkan menghancurkan mereka.

Terusiklah dengan Berhala Anda Sendiri

Kisah Para Rasul 17 menceritakan cerita Paulus di Athena, dan bagaimana rohnya "merasa disusahkan di dalam dirinya karena ia melihat kota itu penuh dengan patung-patung berhala" (Kisah Rasul 17:16, AYT). Ini merupakan pesan yang menarik yang sering kita abaikan. Apakah roh kita merasa susah di dalam diri kita karena berhala-berhala yang ada di dalam budaya kita?

Saya tidak menunjuk hanya pada berhala-berhala "di luar sana". Ini bukan hanya tentang berhala-berhala tetangga. Kita harus mengenali bahwa kita semua tertarik pada beberapa berhala tersebut. Dan, orang-orang di gereja kita pun semuanya tertarik dengan berhala-berhala itu juga.

Melihat orang-orang terperangkap dalam pemujaan berhala harus membangkitkan rasa kasihan untuk jiwa-jiwa mereka sebagaimana mereka terperangkap dalam kebodohan-kebodohan mereka. Namun, hal itu juga harus memicu rasa benci pada semua hal yang akan mengatur dirinya melawan satu Allah yang benar.

Pendeta-Pendeta, Berkhotbahlah Melawan Berhala

Berhala-berhala tidak akan pergi dengan sendirinya. Dengan kuasa Injil, kita harus meruntuhkannya -- menghancurkan mereka. Kita perlu membuang mereka dari hidup kita dan meninggalkan mereka. Para pendeta perlu mengindentifikasinya dan berkhotbah melawan berhala.

Sebagaimana kasih kita kepada Allah bertumbuh, toleransi kita pada pemujaan berhala akan semakin menurun.

Berhala besar apakah yang ada dalam budaya kita yang lebih luas? Berhala apa yang ada dalam budaya gereja? Dan, berhala spesifik apa yang dibangun dalam konteks kepemimpinan pelayanan? (t/Illene)

Diterjemahkan dari: Nama situs : Christianity Today Alamat situs : http://www.christianitytoday.com/edstetzer/2014/october/idolatry-is-alive-today-why-modern-church-leaders-still-fig.html Judul asli artikel : Idolatry Is Alive Today: Why Modern Church Leaders Still Fight an Old Battle Penulis artikel : Ed Stetzer Tanggal akses : 22 September 2016 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: DUNIA WANITAkategori: KEHIDUPAN ROHANIPELAYANAN

Berhala pada Era Modern

Kam, 16/11/2017 - 13:51

Salam dalam kasih Kristus,

Jika kita tidak hidup bagi Yesus, kita akan hidup bagi sesuatu yang lain. Perkataan ini sungguh nyata jika dikaitkan dengan pernyataan Yesus bahwa kita tidak dapat melayani dua tuan dalam hidup kita. Hati kita pasti akan memiliki kecondongan kepada salah satunya. Tentu saja, penyembahan berhala pada era modern ini tidak lagi identik dengan penyembahan berhala berupa patung seperti yang dilakukan ketika paganisme masih marak dilakukan oleh berbagai suku bangsa di dunia. Penyembahan berhala pada era modern ini mungkin berbentuk samar dan bahkan tidak kita sadari karena kita tidak memiliki pengetahuan akan hal tersebut, atau hal tersebut juga sudah umum dilakukan atau terjadi dalam masyarakat zaman ini. Keluarga, pasangan, anak, pekerjaan, materi, dan kecanduan adalah sebagian hal yang sesungguhnya dapat menjadi berhala dalam hidup kita. Apa pun yang merenggut perhatian dan tujuan kita dari Allah dan kehendak-Nya adalah berhala dalam kehidupan kita. Untuk lebih dalam mengetahui mengenai topik berhala pada era modern ini, mari kita segera menyimak sajian e-Wanita bulan ini.

Pemimpin Redaksi e-Wanita,
N. Risanti

Tinggalkan Komentar