RSS Wanita

Subscribe to RSS Wanita feed
Updated: 16 hours 20 min ago

Aplikasi Konseling Mobile - HE Cares

Rab, 23/05/2018 - 10:46

Kabar gembira! Yayasan Lembaga SABDA baru saja meluncurkan aplikasi Konseling untuk Android.

Tidak dapat dimungkiri bahwa kebutuhan akan konseling makin bertambah seiring dengan bertambah banyaknya masalah dalam kehidupan manusia. Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, permasalahan manusia selalu ada sepanjang zaman, bahkan cenderung semakin banyak dan semakin kompleks. Sebagai orang percaya, kita mengerti bahwa solusi permasalahan manusia ada di dalam firman Tuhan. Firman Tuhanlah yang merupakan jawaban atas permasalahan kehidupan manusia, dan konseling alkitabiah membawa manusia yang bergumul dengan masalahnya kepada firman Tuhan.

Dalam konteks kebutuhan konseling, Yayasan Lembaga SABDA mengembangkan aplikasi konseling dengan nama HE Cares (DIA Peduli). Dengan satu praanggapan pemahaman bahwa Allah itu ada: Dia mendengar; Dia berbicara kepada kita melalui firman-Nya; Dia peduli; kami mengumpulkan bahan-bahan alkitabiah seputar masalah konseling di dalam aplikasi HE Cares ini.

Anda bisa mengunduh aplikasi HE Cares melalui tautan berikut ini:

Aplikasi HE Cares »

Saat Anda Menginginkan Apa yang Dimilikinya

Rab, 23/05/2018 - 10:45
edisi - 176 Konflik dengan Keluarga

Anda bangun pagi ini dalam suasana hati yang sangat baik. Semua sepertinya berjalan sesuai keinginan Anda. Sepatu baru yang Anda beli akhir pekan ini telah menambahkan sedikit pantulan di langkah Anda. Anda yakin jeans Anda membuat Anda terlihat sepuluh pon lebih langsing hari ini. Rambut Anda tampil selaras dengan apa yang Anda inginkan, akhirnya. Anda merasa percaya diri.

Dan, kemudian, itu terjadi -- apa pun itu. Mungkin Anda memperhatikan bahwa pelayan di tempat makan siang Anda sangat cantik. Dia lebih kurus. Tiba-tiba, jeans yang membuat Anda terlihat sepuluh pon lebih langsing, sekarang Anda benci. Mungkin ada seorang gadis baru di tempat kerja menerima penghargaan tidak terhitung jumlahnya, dan Anda telah melakukan pekerjaan Anda dengan baik selama lima tahun tanpa menerima ucapan terima kasih yang sama. Atau, mungkin sebelumnya Anda sangat bersyukur atas Honda Civic 1992 Anda, sampai seorang perempuan berambut pirang berada di samping Anda pada lampu merah dengan mengendarai Mercedes 2014-nya.

Apa yang dia miliki yang tidak saya miliki? Jarang sekali kita mengungkapkannya dengan terus terang, tetapi kita pasti memikirkannya. Kita terus-menerus membandingkan apa yang dimiliki orang lain dan apa yang tidak kita miliki. Perbandingan adalah pencuri sukacita. Itu adalah jurang keraguan diri dan penghinaan diri sendiri. Perbandingan adalah perasaan mengingini, dan itu menggantikan rasa syukur. Hal itu dengan egoisnya mengarahkan pikiran kepada diri sendiri. Andai saja saya memiliki tubuh seperti dia, pekerjaannya, kehidupannya, suaminya. Yang benar adalah ketika kita bersikeras membandingkan kehidupan kita dengan orang lain, hidupnya, pekerjaannya, dan suaminya, hal itu tetap tidak akan pernah cukup. Rumput akan selalu lebih hijau di tempat lain.

Jika Anda menemukan diri Anda berada di lubang itu, berikut beberapa hikmat Alkitab tentang cara menanganinya:

1. Perhatikan baik-baik pekerjaan Anda sendiri karena dengan begitu, Anda akan mendapatkan kepuasan atas pekerjaan yang dilakukan dengan baik dan tidak perlu membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Sebab, kita masing-masing bertanggung jawab atas tindakan kita sendiri (Galatia 6:4-5).

Dengan kata lain, lakukan apa yang Allah ingin Anda lakukan. Jalankan pertandingan Anda. Tetaplah di jalur Anda. Berfokuslah melakukan pekerjaan Anda dengan baik daripada berfokus pada jalan yang ditempuh orang lain.

2. Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah dalam Tuhan (3-1a). Menuliskan hal ini lagi kepadamu tidaklah berat bagiku dan memberi kepastian kepadamu (Filipi 3:1).

Sungguh-sungguh bersukacitalah dengan orang lain saat mereka diberkati. Saat teman Anda menikah, bersyukurlah atas pasangan barunya yang Anda tahu telah dia doakan, daripada memusatkan perhatian pada kesepian Anda sendiri. Saat tetangga mendapat mobil baru, bersukacitalah dengan mereka. Bersyukurlah ketika melihat Allah bergerak dalam kehidupan seseorang. Dia juga memiliki rencana baik untuk Anda. Mungkin terlihat berbeda. Mungkin pada waktu yang berbeda. Namun, rencana itu tetap saja baik.

3. Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan (Filipi 4:11-12).

Belajarlah untuk bersyukur atas apa yang Allah taruh di tangan kita, bukan apa yang kita pikir seharusnya kita miliki. Percayalah bahwa Allah menaruh perhatian terbesar pada hati kita. Dia mengenal kita sebelum kita dilahirkan. Dia memilih kita. Dia mencintai kita.

Perbandingan menyebabkan perpecahan. Hal itu mengakibatkan kita tidak menyukai pelayan cantik yang melayani kita, gadis baru di tempat kerja, dan pemilik Mercedes. Kita semua memiliki salib kita sendiri untuk ditanggung. Kita semua memiliki kemenangan dan kekalahan, kegembiraan dan sakit hati. Jangan diam-diam berharap memiliki kehidupan seperti dia. Jadilah penuh dengan rasa syukur atas diri Anda sendiri. (t/N. Risanti)

Download Audio

Diterjemahkan dari: Nama situs : Crosswalk Alamat situs : http://www.crosswalk.com/blogs/jennifer-maggio/what-does-she-have-that-i-dont.html Judul asli artikel : When You Want What SHE Has Penulis artikel : Jennifer Maggio Tanggal akses : 2 Agustus 2017 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: WAWASAN WANITAkategori: KEHIDUPAN ROHANI

katan Keluarga: Ketika Konflik Menyerang Dekat dengan Rumah

Rab, 23/05/2018 - 10:42
edisi - 176 Konflik dengan Keluarga

Keluarga penting bagi Allah. Itu sebabnya, hanya sedikit hal yang lebih menyakitkan daripada konflik keluarga yang belum terselesaikan. Mertua yang mendominasi, remaja yang bandel, atau anak tiri yang cemburu dapat mengubah setiap keluarga yang bahagia menjadi zona perang. Isu-isu seperti giliran siapa yang bertugas mengambil sampah dan apakah anak remaja Anda telah menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum menyalakan komputer adalah masalah yang relatif kecil mengganggu, yang umumnya dapat diselesaikan dengan gangguan minimal terhadap kehidupan keluarga.

Masalah-masalah lainnya menghadirkan tantangan yang lebih besar -- putra yang mengabaikan ajaran Kristennya, tetapi malah melakukan hubungan homoseksual; pelecehan dan manipulasi dari ibu mertua yang mengancam menghancurkan perkawinan dan kesehatan seorang wanita; ayah dengan penyakit mental yang melakukan kekerasan kepada anak-anaknya. Situasi ini nyata; sayangnya, hal-hal itu terjadi dalam keluarga Kristen. Sementara beberapa situasi dapat diselesaikan seiring berjalannya waktu, yang lain dapat berlangsung selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Tanya saja Karen.

Kisah Karen

Karen dan suaminya, Paul, seorang pendeta, baru saja menerima tawaran di sebuah gereja besar di sebuah komunitas baru.* Hal-hal tampaknya berjalan dengan baik sampai Sarah, putri mereka yang berumur 17 tahun, mengumumkan bahwa dia hamil di luar nikah. Yang membuat masalah jadi lebih rumit, Sarah jatuh cinta pada pria muda yang berasal dari ras lain; bayinya blasteran. Menurut gereja baru mereka, kencan antarras adalah terlarang. Kehamilan itu mengakibatkan pertengkaran antara Karen dan putrinya. Ketika ketegangan meningkat, diskusi berakhir dengan argumen yang hebat. Karen bersikeras agar Sarah menyerahkan bayi itu untuk diadopsi.

Setelah persalinan, Sarah menyerahkan bayi itu kepada seorang pekerja sosial yang menempatkan bayinya di sebuah panti asuhan. Sebagai ibu kandung, Sarah diberi masa tenggang lima belas hari untuk menyerahkan hak asuhnya. Selama lima belas hari itu, Allah berbicara kepada Karen melalui firman-Nya, menghukumnya akan keegoisan prasangkanya, dan kemunafikannya. "Saya mengubah pikiran saya tentang adopsi," kata Karen. Dia dan Paul berbicara dan setuju bahwa bayi Sarah akan pulang untuk tinggal bersama mereka. "Kami melihat ini sebagai kehendak Allah yang sempurna untuk bayi laki-laki yang berharga ini dan ibunya yang baik."

Konflik berbulan-bulan itu pun berakhir karena ketiganya bersukacita atas hasil yang tidak terduga. Kasih karunia Tuhan mengubah situasi yang menyakitkan menjadi berkat yang luar biasa.

Sayangnya, situasi dari Tom tidak berubah menjadi baik.

Kisah Tom

Setelah dituntun kepada Tuhan oleh bibinya, Tom terkejut mengetahui bahwa bibinya itu telah mencuri uang dari rekening pensiunan neneknya. Bibinya telah diberi kuasa oleh pengacara ketika neneknya meminjam uang untuk beberapa tahun. "Salah satu rekening, yang memiliki lebih dari $100.000 di dalamnya, dikuras menjadi $3.000 dalam tiga tahun," kata Tom. Bibi Tom terus menghamburkan-hamburkan uang, sementara rumah neneknya dibiarkan terbengkalai -- toilet rusak, rayap memenuhi rumah, dan rumah itu dibiarkan sepenuhnya rusak. Setelah banyak berdoa, Tom menemui bibinya. "Saya disebut lancang, motif saya dipertanyakan, dan iman saya ditantang," katanya. Dapat dimengerti, situasinya sangat memengaruhi Tom dan berdampak negatif pada pernikahannya. Dia mampu memaafkan bibinya, tetapi sampai hari ini, konflik tetap tidak terselesaikan.

Mengelola Konflik Keluarga

Kedekatan hubungan keluarga membuat pengelolaan konflik menjadi lebih sulit. Ketika menghadapi konflik keluarga, berikut ini beberapa panduan umum yang perlu diingat:

Buat batasan yang tepat. Konflik keluarga sering melibatkan batasan-batasan yang kabur -- seorang pemuda menikah, tetapi gagal "meninggalkan orang tuanya dan bersatu dengan istrinya"; seorang anak yang sudah dewasa pindah dari rumah, tetapi terus-menerus menelepon ke rumah untuk mendapatkan uang; seorang anak perempuan yang sudah dewasa meninggalkan ketiga anaknya bersama ibunya setiap hari meskipun ibunya telah memintanya untuk tidak melakukannya. Batasan yang tepat bersifat alkitabiah dan memungkinkan Anda menetapkan batasan dengan tetap mengasihi orang lain.

Selalu mengutamakan hubungan. Ketika menghadapi konflik keluarga, selalu tegaskan hubungan, dan lakukan semua yang Anda bisa untuk mempertahankannya. Misalnya, ketika berbicara dengan putra Anda yang sudah dewasa, Anda dapat berkata:

"Eric, aku mengasihimu. Kuharap kamu mengetahuinya. Aku menyesal bahwa kamu terlibat dengan obat-obatan. Kamu dapat tinggal di sini selama beberapa bulan, tetapi hanya jika kamu bertanggung jawab atas masalahmu dan mendapatkan bantuan atasnya. Jika kamu menginginkan bantuanku, kamu perlu menemui konselor atau menjalani rehabilitasi. Terlepas dari apa yang kamu putuskan untuk dilakukan, aku akan selalu mencintaimu."

Kenali batasan Anda dan serahkan hubungan itu kepada Allah. Dibutuhkan dua hati yang lembut agar rekonsiliasi terjadi. Jika satu orang terus berperilaku dosa dan menolak koreksi, hubungan itu akhirnya akan rusak. Kadang-kadang, individu lain yang terlibat akan keluar dari relasi itu. Jika Anda menemukan diri Anda dalam situasi seperti ini, jangan menyerah. Teruslah berdoa, berharap, dan mengasihi. "Jika mungkin, sekiranya hal itu tergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang," (Roma 12:18, AYT) kata firman Allah. Ketika Anda telah melakukan semua yang Anda bisa untuk memulihkan hubungan, tetapi konflik tetap tidak terselesaikan, serahkan hubungan itu kepada Allah. Anda bebas dalam Kristus.

Keluarga adalah gagasan Allah. Dia sanggup menjaga apa yang Anda percayakan kepada-Nya (2 Timotius 1:12). Kita dapat merasa tenang karena mengetahui bahwa Allah mengasihi kita dan akan terus menyusun mengerjakan rencana dan tujuan-Nya dalam keluarga kita. (t/N. Risanti)

*beberapa nama telah diubah untuk menjaga identitas pribadi

Diterjemahkan dari: Nama situs : Focus on The Family Alamat situs : https://www.focusonthefamily.com/lifechallenges/relationship-challenges/conflict-resolution/family-tieswhen-conflict-strikes-close-to-home Judul asli artikel : Family Ties: When Conflict Strikes Close to Home Penulis artikel : Mary J. Yerkes Tanggal akses : 6 April 2018 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: DUNIA WANITAkategori: KELUARGA

Konflik dengan Keluarga

Rab, 23/05/2018 - 10:39

Salam dalam kasih Kristus,

Keluarga sering kali justru menjadi asal atau sumber konflik dalam kehidupan kita. Meski sesungguhnya, Allah menciptakan keluarga untuk menjadikan orang-orang di dalamnya saling menopang dan mendukung dalam kehidupan, tetapi kita hidup dalam situasi dosa yang menyebabkan kita saling menyakiti, termasuk dengan sesama anggota keluarga. Tidak sedikit keluarga menjadi hancur dan menjadi musuh satu dengan yang lain karena adanya konflik. Lalu, bagaimana kita sebagai wanita Kristen menyikapi konflik dalam keluarga ini? Bagaimana kita dapat menghadapi konflik di tengah-tengah keluarga dan melakukan apa yang benar di hadapan Allah? Untuk membantu kita semua dalam menghadapi atau menyikapi konflik dalam keluarga ini, maka kolom Dunia Wanita edisi kali ini menyajikan artikel yang sangat inspiratif bagi Anda terkait dengan permasalahan tersebut. Baca juga kolom Wawasan Wanita yang akan memberi kita beberapa hikmat Alkitab tentang cara menangani perasaan iri hati terhadap orang lain. Menarik bukan? Nah, tanpa berlama-lama lagi, mari kita simak bersama e-Wanita edisi 176 di bawah ini. Tuhan Yesus memberkati.

Pemimpin Redaksi e-Wanita,
N. Risanti

Dapatkan Publikasi 40 Hari Doa, Mengasihi Bangsa Dalam Doa!

Jum, 04/05/2018 - 08:28
Dapatkan Publikasi 40 Hari Doa, Mengasihi Bangsa Dalam Doa!

Yayasan Lembaga SABDA melalui publikasi 40 Hari Doa mengajak Anda bersatu hati untuk mendoakan saudara-saudara kita yang akan melaksanakan ibadah puasa pada Mei-Juni mendatang. Dengan bergabung dalam gerakan doa ini, kita akan bersama-sama memohon kuasa Tuhan dinyatakan bagi saudara-saudara kita sehingga mereka dapat beroleh jalan kepada Kristus, sang Kebenaran Sejati.

Jika Anda rindu untuk bergabung dalam gerakan doa ini, silakan kirimkan alamat e-mail Anda ke: subscribe-i-kan-buah-doa@hub.xc.org. Anda juga dapat mengajak teman-teman Anda untuk bergabung menjadi pendoa dengan mengirimkan alamat e-mail mereka ke Redaksi e-Doa di: doa@sabda.org. Setelah terdaftar menjadi pelanggan, Anda akan menerima kiriman publikasi kami melalui email.

Mari, kita bersatu hati dan berdoa supaya setiap suku bangsa memuliakan nama-Nya. Amin.

"... supaya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa." (Mazmur 67:2)

Delapan Hal yang Orang Kristen Perlu Lakukan Lebih Banyak di Media Sosial

Jum, 04/05/2018 - 08:26
edisi - 175 Dampak Media Sosial

Internet tidak harus menjadi tempat yang mengerikan.

Saya takut bahwa karena media sosial, seluruh dunia dapat melihat kata-kata saya. Itu berarti saya bisa menyakiti lebih dari sekadar hanya orang-orang yang berada di hadapan saya setiap kali saya memilih untuk tidak hidup seperti Yesus.

Namun, apa yang kemudian saya temukan adalah, banyak orang tidak menyadari risiko ini. Kita masih memperlakukan media sosial seolah-olah itu merupakan pengecualian untuk bertanggung jawab atas kata-kata dan tindakan kita.

Kita perlu mengatasi kekuatan yang membuat kita merasa bisa mengatakan apa pun yang kita inginkan di media sosial, dan malah merangkul kekuatan untuk mengatakan apa yang baru saja dibangun. Ketika kita melakukan ini, kita bisa menggunakan media sosial sebagai alat untuk perubahan -- sesuatu yang akan menghormati kehidupan Yesus dan bukannya mempermalukannya.

Sangat mungkin untuk hidup dan mencintai seperti Yesus di media sosial. Adalah mungkin untuk memuliakan Allah dengan aktivitas media sosial kita. Kita hanya memerlukan beberapa panduan untuk mengarahkan kita ke arah yang benar:

1. Berjuang untuk Koneksi, Bukan Perhatian

Ada dua jenis pengguna media sosial: Orang dengan perspektif "Lihatlah saya!" dan orang dengan perspektif "Mari terhubung!". Media sosial dibuat untuk yang terakhir.

Ini tidak berarti Anda tidak dapat berbagi karya Anda dengan orang lain secara daring. Ini berarti Anda tidak boleh menggunakan suka dan berkomentar sebagai validasi untuk diri Anda sendiri. Bertujuanlah untuk terhubung.

2. Jadilah Transparan, Tetapi Jangan Terlalu Transparan

Yesus mengungkapkan informasi pribadi kepada murid-murid-Nya, bukan untuk semua orang. Ini berarti kita harus berusaha untuk bersikap transparan dengan orang-orang yang mencintai kita dan berada di sekitar kita dalam kehidupan nyata. Sementara media sosial membuka hidup kita ke seluruh dunia, seluruh dunia tidak perlu mengetahui tentang segala hal. Jadilah transparan, tetapi kebanyakan dengan teman dekat Anda dalam kehidupan nyata.

3. Tanyakan pada Diri Sendiri: Bisakah Saya Mengatakan Hal yang Sama Ini di Depan Seseorang?

Media sosial menjauhkan kita dari dampak kata-kata kita. Kita bisa mengatakan sesuatu dan kemudian berjalan menjauh dari keyboard kita, menjadi buta terhadap bagaimana orang lain bereaksi terhadapnya.

Namun, hanya karena kita tidak bisa melihat dampak kata-kata kita dalam kehidupan nyata tidak berarti kata-kata kita tidak membuat percikan. Jika kita mengatakan hal-hal yang tidak akan menjadi kata-kata yang akan kita katakan di depan wajah seseorang, kita seharusnya tidak mengatakannya sama sekali.

4. Jangan Terpengaruh dengan Budaya "Katakanlah Apa yang Harus Dikatakan"

Pada media sosial, semua orang "mengatakan apa yang perlu dikatakan". Namun, ketika semua orang melakukannya, sulit untuk menyaring apa yang sebenarnya perlu dikatakan. Cara yang lebih baik untuk menyampaikan pesan adalah mengatakan apa yang perlu dikatakan, tetapi juga menghayatinya dalam kehidupan nyata. Inilah yang Yesus lakukan. Dia memberikan Khotbah di Bukit, dan kemudian segera sesudahnya, Dia mulai menyembuhkan orang. Sebuah pesan lebih baik dikomunikasikan bila tidak hanya dikatakan, tetapi juga dilakukan.

5. Belajar Mendengarkan Lebih Baik

Ketika orang melihat status yang tidak mereka setujui, mereka dengan cepat menyatakan pendapat mereka pada bagian komentar. Namun, ini membuat kita tidak bisa mendengarkan. Dalam kehidupan nyata, kita harus menunggu giliran kita untuk berbicara, tetapi dengan adanya bagian komentar, kita hanya perlu menggulir ke bawah. Beginilah cara beberapa artikel dan diskusi daring bisa begitu lepas kendali -- orang menolak untuk mendengarkan dan malah mengalihkan topik menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda.

Alih-alih cepat menyuarakan pendapat Anda, cernalah kata-kata yang Anda baca terlebih dahulu. Tawarkan tanggapan yang bijaksana hanya setelah mendengarkan.

6. Hindari Mengaduk Pot dengan Artikel yang Anda Bagi

Banyak orang Kristen suka mengaduk pot (memperburuk masalah - Red.) melalui artikel yang mereka bagikan pada isu-isu hot-button (isu-isu yang mengundang kontroversi - Red.). Akan tetapi, saya akan mendesak Anda untuk memantau berapa banyak artikel yang Anda bagikan yang sesuai dengan ideologi Anda. Bila Anda melakukannya, Anda dapat mengarah pada bahaya membuat keyakinan Anda murni hanya tentang berdebat pendapat daripada hidup untuk Kristus, yang merupakan pesan buruk untuk dinyatakan kepada orang-orang yang tidak percaya.

Anda tidak perlu mengaduk panci untuk menunjukkan kepada orang-orang tentang Kristus; Anda hanya perlu hidup dan mengasihi seperti diri-Nya.

7. Jangan Berkomentar Rasis

Yang ini sudah jelas, tetapi rupanya perlu dikatakan. Hanya karena teman Anda di media sosial berbagi nilai yang sama tidak berarti Anda dapat mengatakan apa pun yang Anda inginkan kepada mereka. Sebenarnya, saat Anda berada di media sosial, Anda tidak hanya berbicara kepada teman Anda -- Anda sedang berbicara kepada dunia. Dan, satu hal yang dunia tidak butuhkan adalah kata-kata untuk mengabadikan stereotip dan kebencian rasial.

8. Hindari Menjadi Kejam bagi Para Blogger

Media sosial bukanlah jalan keluar di mana Anda dapat menjadi kejam kepada yang lain karena Anda tidak setuju dengan mereka. Jika kita tidak menyukai karya seni seseorang, kita harus secara konstruktif mengasahnya untuk berpikir lebih baik, tetapi kita seharusnya tidak merobeknya. Seni adalah hal yang pribadi, dan Anda merobek jiwa seseorang setiap kali Anda memilih untuk mengutuk pekerjaan mereka dibanding mempertajamnya. Sebagai gantinya, dorong mereka untuk menjadi lebih baik dengan cara yang lembut.

Media sosial adalah wilayah yang berbahaya, tetapi adalah mungkin untuk hidup seperti Yesus di tengah komplikasinya. Kuncinya adalah melepaskan akal palsu yang membuat kita berpikir bahwa kita dapat melakukan apa pun yang kita inginkan secara daring, dan malah mengadopsi kasih dan karakter Yesus Kristus untuk mengasah kata-kata kita. Pada akhirnya, itulah kata-kata yang akan membuat perbedaan. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari: Nama situs : Relevant Magazine Alamat situs : https://relevantmagazine.com/culture/tech/8-things-christians-need-do-more-social-media Judul asli artikel : 8 Things Christians Need to Do More on Social Media Penulis artikel : Neal Samudre Tech Tanggal akses : 21 September 2017 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: WAWASAN WANITAkategori: PELAYANAN

Yesus dan Media Sosial

Jum, 04/05/2018 - 08:22
edisi - 175 Dampak Media Sosial

Dalam masyarakat modern, ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk berkomunikasi satu sama lain. Akibatnya, dunia menjadi semakin kecil, atau begitulah tampaknya. Namun, bahkan dengan kemajuan teknologi, beberapa hal tidak akan pernah berubah, terlepas dari jumlah tahun-tahun yang telah berlalu.

Apa yang sedang saya bicarakan? Saya mengacu pada kebutuhan manusia untuk diakui dan diterima. Sebelumnya, ini tidak pernah lebih terasa dibandingkan dengan zaman kita hidup sekarang, dengan berbagai cara untuk mem-posting apa yang kita lakukan dan hal-hal yang kita nikmati atau benci di internet.

Kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain dan dihubungi kembali oleh mereka yang mengenal kita adalah sesuatu yang akan selalu kita rindukan. Saya teringat kisah tentang bagaimana seorang wanita Samaria yang pergi ke sumur pada siang hari dan menemui Orang yang tidak hanya memulai percakapan dengannya, tetapi juga menerimanya sebagaimana dirinya. Orang itu tidak lain adalah Tuhan dan Juru Selamat kita, Yesus Kristus.

Apakah Yesus hanya kebetulan datang ke sumur karena Dia haus? Saya memilih untuk berpendapat bahwa bukan itu yang terjadi; sebenarnya, saya ingin menyodorkan pemikiran bahwa Dia datang ke sumur, tidak hanya untuk minum, tetapi juga untuk bertemu dengan orang-orang. Sebab, sumur adalah tempat di mana orang berkumpul dan mengobrol saat mereka mengambil air di sana.

Dalam konteks zaman ini, "sumur" itu tidak lagi menjadi ruang fisik, tetapi telah menjadi ruang virtual, menjadi apa yang sekarang dikenal sebagai media sosial. Melalui berbagai topik yang menarik, seseorang bisa melempar percakapan ke hampir semua orang di dunia melalui Facebook, Twitter, blog, bahkan game online. Media sosial telah terintegrasi dengan kehidupan kita.

Dan, seperti wanita Samaria di sumur, ada banyak orang di luar sana, di dalam dunia situs yang luas yang mencari penerimaan. Akankah kita mengikuti teladan Yesus untuk melibatkan mereka ke dalam percakapan, mengenal mereka, dan membawa mereka ke Satu Teman yang sejati?

Meskipun saya telah menyebutkan hal virtual, ada banyak "sumur" lainnya -- tempat dan platform -- tempat kita bisa memulai percakapan dengan seseorang. Dan, salah satu tempat seperti itu bisa saja adalah meja makan dan rumah Anda. Saya berharap, suatu hari ibu saya akan datang untuk mengenal Juru Selamat kita yang besar dan ajaib itu. Sampai itu terjadi, saya akan terus berdoa baginya dan mencari peluang dalam menemukan kebutuhan dan kepeduliannya sehingga saya dapat menceritakan Kristus kepadanya.

Maukah Anda bergabung dengan saya, berdoa untuk orang yang Anda kasihi, yang belum mendengar Kabar Baik? Saya tahu bahwa saya akan melakukannya dan saya memilih untuk percaya kepada Dia, yang terlebih dulu telah memercayai kita.

Di sumur saya menunggu,
Siang berlalu hingga matahari makin memanas,
Mencari air abadi,
Yang rasanya tidak saya ketahui,
Mencari Yesus di dekat sumur.
(t/N. Risanti)

Download Audio

Sumber asli: Nama situs : YMI Alamat situs : http://ymi.today/2014/02/jesus-and-social-media/ Judul artikel : Jesus and Social Media Penulis artikel : Shawn Quah Tanggal akses : 2 Maret 2016 Diambil dari: Nama situs : Pelayanan Remaja Kristen Alamat situs : http://remaja.sabda.org/yesus-dan-media-sosial Tanggal akses : 10 November 2017 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: DUNIA WANITAkategori: PELAYANAN

Dampak Media Sosial

Jum, 04/05/2018 - 08:19

Salam dalam kasih Kristus,

Jejaring adalah wajah pada era digital. Itu adalah pernyataan dari salah satu tokoh politik dalam sebuah surat kabar nasional terkemuka, yang mau tidak mau harus kita sepakati kebenarannya. Melalui gawai di tangan, kita dapat berelasi dengan siapa pun, bahkan mengakses informasi apa pun melalui aplikasi media sosial. Semua orang percaya tentu akan ikut dalam arus besar ini, bahkan harus terlibat di dalamnya. Namun, jika dunia menggunakan media sosial sebagai sarana untuk keinginan duniawi, orang-orang percaya justru harus menjadi garam dan terang di ladang yang baru ini. Amanat Agung harus menjadi hal yang kita kerjakan di dalamnya, dan berbagai pelayanan penjangkauan, misi, pemuridan, doa, literatur kristiani, bahkan konseling, semakin terbuka luas untuk digarap. Ada begitu banyak orang yang membutuhkan Kristus dan berita keselamatan-Nya, dan kita bisa menjadi rekan sekerja Allah untuk menghampiri mereka dengan gawai yang kita miliki. Meski dunia nyata masih menjadi tempat berpijak kita untuk melakukan pelayanan bagi orang-orang dalam kehidupan kita, dunia maya menjadi lahan baru yang harus dikerjakan agar terang Allah berada di dalamnya. Ladang baru media sosial sudah terbuka dan membutuhkan banyak pekerja. Karena itu, mari kita turut berkontribusi untuk menjadi dampak yang mewartakan Injil dan kebenaran Kristus di dalamnya.

Pemimpin Redaksi e-Wanita,
N. Risanti

Ibu yang Letih, Datanglah Pada-Ku

Sen, 02/04/2018 - 10:22

Pekerjaan ibu itu sulit. Dapatkah saya mendapat jawaban amin?

Sementara kita menanggung aspek fisik yang sulit dari menjadi ibu, pikiran dan hati kita bersama dan menuduh kita mengalami kemalasan, ketidacakapan, dan kegagalan. Mungkin itulah satu alasan mengapa Yesus memerintahkan kita untuk mengasihi Allah kita dengan segenap hati, seluruh jiwa, dan seluruh pikiran kita (Matius 22:37).

Kita kurang mengalami sukacita dalam menjadi ibu - serta kenikmatan dan kedamaian dalam Juru Selamat kita - saat kita menjauh dari Injil dan mencoba melakukan "hal sebagai ibu" ini sendiri. Sebagai gantinya, saat kita menjadi ibu, kita perlu mengingatkan diri kita setiap hari tentang kebenaran firman Tuhan, khususnya Injil.

Temukan Perhentian Sejati

Yesus dengan penuh rasa hormat dan penuh kasih mengingatkan kita berkali-kali untuk datang kepada-Nya.

"Datanglah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, dan Aku akan memberimu kelegaan. Pikullah kuk yang Kupasang, dan belajarlah dari-Ku karena Aku lemah lembut dan rendah hati, dan kamu akan mendapatkan ketenangan dalam jiwamu. Sebab, kuk yang Kupasang itu mudah dan beban-Ku ringan.." (Matius 11:28--30, AYT)

Sangat mudah untuk mendengar tawaran ini dan menduga bahwa Yesus hanya berbicara kepada orang-orang Farisi abad pertama. Mereka dianggap bijak oleh standar duniawi (Matius 11:25), dan Yesus sering memarahi mereka karena harga diri dan kesombongan mereka. Namun, di sini kita melihat Yesus memanggil kita semua untuk menjadi seperti anak-anak:

"Pada waktu itu Yesus berkata, "Aku memuliakan Engkau, Bapa, Tuhan atas langit dan bumi, bahwa Engkau menyembunyikan semua ini dari orang-orang yang bijaksana dan pandai, dan mengungkapkannya kepada anak-anak kecil. Ya, Bapa, karena seperti itulah yang berkenan di hadapan-Mu.." (Matius 11:25--26)

Adalah kehendak Bapa yang agung bahwa kita tidak hanya akan menerima keselamatan tetapi juga memahami dan mengalami perhentian sejati yang Yesus tawarkan. Kita mengkhotbahkan kebenaran ini kepada anak-anak kita, tetapi kita harus menjadi seperti mereka untuk menerima dan beristirahat dalam kabar baik untuk diri kita sendiri.

Mari, Anak-Anak Perempuan yang Lelah

Yesus mengundang kita untuk datang. Ia berbicara kepada kita secara langsung: Anda, anak-anak perempuan yang letih, datanglah kepada-Ku.

Bukankah kabar baik bahwa Ia tidak memberi syarat pada ajakannya? Ia tidak meminta kita untuk menunggu sampai kita memiliki kedamaian untuk datang. Ia tidak meminta kita untuk datang bebas dari rasa khawatir. Tidak, Yesus dengan penuh kasih memanggil kita untuk datang dengan segenap perhatian kita, semua ketakutan kita, dan semua beban kita.

Jika kita haus, kita tidak menuju ke oven guna menemukan sesuatu untuk memuaskan dahaga kita. Tidak, kita berlari ke arah air keran. Kita menemukan sumber air yang akan memenuhi kebutuhan kita. Demikian pula, jika kita mati, kering, dan letih, kita tidak berlari ke padang gurun mengasihani diri sendiri dan bekerja keras. Tidak, kita bertemu dengan Yesus yang berkata, "Jika ada yang haus baiklah ia datang kepada-Ku dan minum." (Yohanes 7:37). Ia mengajak kita untuk datang karena Ia satu-satunya sumber yang akan memberikan kepuasan sejati dan abadi. Ia menyegarkan dan memenuhi kebutuhan terdalam kita.

Ia mengundang Anda, ibu, yang bekerja dan berbeban berat. Anda yang telah bekerja keras untuk menjadi yang terbaik, hanya untuk menyadari bahwa usaha Anda justru membuat Anda lebih tertekan dan meragukan dibandingkan merasa disegarkan dan didorong. Ia mengundang Anda yang telah berusaha untuk mendapatkan kemurahan hati di hadapan Allah berdasarkan kinerja Anda dibandingkan beristirahat dalam pekerjaan-Nya yang telah selesai untuk Anda di kayu salib. Ia mengajak Anda dan saya untuk menemukan istirahat yang sempurna dan sejati di dalam diri-Nya.

Ia mengajak kita untuk mengambil kuknya dan belajar dari-Nya. Sebuah kuk, menurut definisi, adalah sebuah kayu crosspiece (kayu yang berbentuk salib - Red.) u yang diikatkan di atas leher dua hewan dan menempel pada bajak atau gerobak yang harus mereka tarik. Beban kayu dan berat yang Anda tarik sebagai ibu, yang Yesus Anda tukarkan. Kuknya mudah, dan bebannya ringan. Ia ingin menarik beban yang berat bagi Anda. Apa yang Anda terima sebagai balasannya? Istirahat untuk jiwa Anda yang lelah.

Kejarlah Perhentian yang Nyata

Sulit untuk menikmati kebebasan keselamatan, kegembiraan menjadi ibu, dan pemberian akan anak saat kita terbebani dengan beban. Kita membutuhkan karya transformasi Roh untuk membuka mata kita terhadap kebenaran bahwa Yesus dapat dan akan menanggung beban kita bagi kita.

Hari ini, mintalah Bapa Anda yang di surga untuk membuktikan diri-Nya setia. Mintalah Ia untuk mengangkat beban yang telah Anda bawa. Bawa kuk-Nya yang mudah dan ringan. Ia menawarkannya kepada Anda sebagai anugerah karunia yang cuma-cuma. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Desiring God URL : https://www.desiringgod.org/articles/weary-mom-come-to-me Judul asli artikel : Weary Mom, Come to Me Penulis artikel : Trillia Newbell Tanggal akses : 5 Maret 2018

Situs e-Misi, Mengabarkan Injil ke Seluruh Indonesia dan Dunia!

Sen, 26/03/2018 - 16:11

Berita Injil adalah berita yang diperlukan oleh segenap umat manusia yang telah jatuh ke dalam dosa untuk mengalami anugerah keselamatan yang telah Allah sediakan melalui Anak-Nya yang Tunggal, Tuhan Yesus Kristus. Sudahkan Anda membawa Kabar Baik itu kepada mereka yang belum dijangkau?

Yayasan Lembaga SABDA mempersembahkan Situs e-Misi untuk memberikan informasi-informasi seputar pekerjaan-pekerjaan MISI, termasuk tokoh, artikel, kesaksian, renungan, dsb., baik di Indonesia maupun di dunia. Situs ini juga hadir untuk mendorong kita terjun dan ikut ambil bagian dalam pekerjaan MISI di mana pun kita berada.

Berkunjunglah ke situs e-Misi dan mari kita melihat kuasa Allah yang begitu luar biasa itu bekerja memulihkan pribadi-pribadi yang dikasihi-Nya. Tuhan Yesus memberkati!

Apakah Anda Memercayai Paskah?

Sen, 26/03/2018 - 13:50
edisi - 174 Paskah

Edith Burns adalah seorang wanita Kristen yang luar biasa; dia tinggal di San Antonio. Edith Burns memiliki kebiasaan untuk memperkenalkan dirinya sendiri kepada semua orang dengan cara: "Halo, nama saya Edith Burns. Apakah Anda memercayai Paskah?" Kemudian, dia akan menjelaskan arti Paskah kepada orang yang ditemuinya, dan melalui dia, banyak orang diselamatkan.

Suatu ketika, laporan lab mengatakan bahwa Edith terkena kanker dan tidak akan bertahan hidup lebih lama. Namun, semua orang di tempat dia dirawat kagum dengan Edith, kecuali Phyllis Cross, kepala perawat. Suatu pagi, dua perawat yang seharusnya menjaga Edith sakit sehingga Phyllis Cross terpaksa menggantikan mereka. Ketika dia masuk kamar Edith, Edith memberikan senyum lebar dan berkata, "Phyllis, Tuhan mengasihimu, dan aku telah berdoa bagimu." Phyllis menjawab, "Silakan hentikan doamu karena tidak ada gunanya bagiku." Edith menjawab, "Baiklah, aku akan berdoa meminta agar Tuhan tidak memanggilku sebelum kamu datang kepada Tuhan." Phyllis Cross memotong, "Baiklah, kamu tidak akan pernah mati karena hal itu tidak akan terjadi!" Lalu, dia meninggalkan ruangan.

Sesudah peristiwa itu, setiap kali Phyllis Cross melintasi ruangannya, Edith selalu berkata, "Tuhan mengasihimu Phyllis, dan saya mengasihimu; saya berdoa bagimu." Suatu hari, Phyllis Cross seperti ditarik magnet masuk ke ruangan Edith. "Saya sangat senang kamu mau datang, sebab Tuhan berkata padaku bahwa ini merupakan hari khususmu," kata Edith. "Ya, Edith, kamu bertanya kepada setiap orang di sini, 'Apakah Anda memercayai Paskah?' Akan tetapi, kamu tidak pernah menanyakannya kepadaku." Edith menjawab, "Phyllis, sebenarnya saya ingin, tetapi Tuhan berkata kepadaku untuk menunggu sampai kamu meminta, dan sekarang kamu telah meminta." Edith Burns lalu mengambil Alkitabnya dan berbagi dengan Phyllis Cross mengenai Paskah mulai dari kematian sampai kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Edith bertanya, "Phyllis, apakah kamu memercayai Paskah? Percayakah kamu bahwa Tuhan Yesus hidup dan Dia ingin tinggal di dalam hatimu?" Phyllis Cross berkata, "Saya percaya dengan segenap hati saya, dan saya menginginkan Yesus tinggal dalam hidup saya." Kemudian, Phyllis Cross berdoa dan mengundang Yesus Kristus masuk ke dalam hatinya.

Pada hari minggu Paskah, Phyllis Cross datang ke rumah sakit. Dia ingin mengunjungi Edith, memberikan bunga lili serta mengucapkan selamat Paskah. Namun, terlambat, Edith telah terbaring tanpa nyawa. Alkitab hitam ada di pangkuannya. Tangan kirinya ada di atas Yohanes 14:2, "Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada." Tangan kanannya ada di atas Wahyu 21:4, "Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu." Ada senyum manis pada wajahnya. Phyllis Cross menatap tubuh Edith dan mengangkat wajahnya ke atas, dan air matanya mengalir di pipinya, dan dia berkata "Selamat Paskah, Edith!"

Phyllis Cross meninggalkan Edith dan berjalan keluar. Saat bertemu dengan dua siswa perawat, ia berkata, "Halo, nama saya Phyllis Cross. Apakah kamu memercayai Paskah?"

Download Audio

Diterjemahkan dari: Nama situs : Situs Paskah Indonesia Alamat situs : http://paskah.sabda.org/apakah_anda_memercayai_paskah_1 Judul asli artikel : Apakah Anda Memercayai Paskah? Penulis artikel : Tidak dicantumkan Tanggal akses : 17 Januari 2017 Tipe Bahan: RenunganKolom e-Wanita: RENUNGAN WANITAkategori: PASKAH

Paskah

Sen, 26/03/2018 - 13:48

Salam dalam kasih Kristus,

Waktu berlalu begitu cepat dan tanpa terasa, kita kembali menghadapi momen Paskah. Setelah sekian lama menjadi pengikut Kristus, kiranya karya kematian dan kebangkitan Kristus sungguh-sungguh telah kita alami dalam diri dan kehidupan yang kita jalani. Kasih-Nya lebih besar dari hidup dan kuasa kebangkitan-Nya sungguh memberi pengharapan yang abadi bagi iman percaya kita. Adalah suatu anugerah yang besar jika sekarang kita telah menerima keselamatan menjadi pengikut Kristus, Tuhan dan Juru Selamat kita.

Dalam menyambut Paskah tahun ini, publikasi e-Wanita menampilkan tampilan yang berbeda dari biasanya. Selain kolom Renungan Paskah, kami juga menampilkan dua artikel dalam kolom Dunia Wanita dan Wawasan Wanita yang terambil dari situs Wanita Kristen dan situs Paskah. Dalam tema besar Paskah, kami rindu untuk membagikan artikel-artikel yang akan menginspirasi Anda untuk semakin hidup dan berkarya bagi Kristus, baik dalam keluarga, pelayanan, pekerjaan, maupun dalam masyarakat. Kristus sudah mati bagi kita, mari sekarang kita hidup bagi Dia.

Pemimpin Redaksi e-Wanita,
N. Risanti

Tinggalkan Komentar