RSS Wanita

Subscribe to RSS Wanita feed
Updated: 16 hours 57 min ago

Mengenal Tokoh-Tokoh Besar Kristiani Melalui Bio-Kristi

Kam, 16/11/2017 - 15:05

Allah telah menggunakan hidup dari banyak pribadi untuk menyatakan rencana dan karya-Nya. Perjalanan hidup dari tokoh-tokoh besar itu menyiratkan berbagai kesaksian yang indah tentang bagaimana Ia bekerja, mengubah, dan melakukan berbagai hal yang mengungkapkan pemeliharaan-Nya kepada manusia di berbagai abad, tempat, dan bangsa. Jika Anda rindu untuk semakin mengenal pribadi-pribadi yang sungguh mengasihi Allah serta hidup bagi tujuan-Nya, bergabunglah menjadi pelanggan publikasi Bio-Kristi.

Caranya mudah. Silakan mengirimkan email kosong ke < subscribe-i-kan-bio-kristi@hub.xc.org > atau kepada redaksi Bio-Kristi di: < biografi@sabda.org >. Dengan menjadi pelanggan, Anda akan menerima secara gratis publikasi Bio-Kristi setiap Rabu minggu kedua di mailbox Anda.

Kunjungi juga situs Bio-Kristi di < http://biokristi.sabda.org/ > atau situs arsip publikasi kami di < http://www.sabda.org/publikasi/bio-kristi >.

Mari, dapatkan inspirasi dari hidup yang mengasihi Allah bersama Bio-Kristi!



Situs Bio-Kristi


Bio-Kristi


@sabdabiokristi

Mengenali Penyembahan Berhala dalam Keinginan

Kam, 16/11/2017 - 15:03
edisi - 170 Berhala pada Era Modern

Beberapa pembaca tampaknya suka melihat pokok berita pada blog ini dan memutuskan bahwa mereka tidak perlu membaca sebuah artikel tentang Perjanjian Lama, mungkin mereka malah lebih suka memilih sebuah blog tentang kepemimpinan.

Lagi pula, Anda mungkin tidak memiliki ukiran patung batu di dalam rumah, dan Anda belum pernah bepergian ke Asia dan membeli patung lambang suku atau hal lain yang menggambarkan ilah yang salah. Jadi, mengapa sebuah percakapan tentang pemujaan berhala menjadi kepentingan untuk Anda?

Tidak Ada yang Baru di Bawah Matahari

Percaya atau tidak, peringatan yang paling umum tentang dosa di dalam Alkitab bukanlah tentang berbohong, bergosip, berzina, mencuri, atau membunuh. Dosa yang paling umum di dalam Alkitab yang harus kita hindari, tolak, dan jauhi adalah pemujaan berhala.

Dan, itu bukan hanya tiang Asyera di dalam Perjanjian Lama.

Nyatanya, dalam Perjanjian Lama, 1 Yohanes 5:21 (AYT) berkata, "Anak-anakku, jauhkanlah dirimu dari berhala-berhala." Jadi, kelihatannya pemujaan berhala masih mencoba masuk ke dalam hidup kita dan mengacaukan kita dari penyembahan dan ketaatan kepada Allah.

Pemujaan berhala bukan hanya sekadar isu penyembahan berhala. Itu bukan hanya masalah dalam Perjanjian Lama atau masalah orang Yahudi. Itu merupakan masalah pada manusia.

Apakah itu dikarenakan pahatan kayu atau perunggu setinggi 12 inci dapat menjadi sesuatu yang buruk bagi kita? Atau, apakah itu dikarenakan kita berbuat sesuatu yang mengerikan pada diri kita ketika kita menempatkan pemujaan dan perhatian yang seharusnya untuk Allah pada hal yang lainnya?

Ketika berbicara tentang pemujaan berhala, bahayanya bukanlah berada dalam bendanya, melainkan pada diri kita sendiri.

Adalah John Calvin yang mengatakan bahwa hati kita merupakan pabrik berhala. Dalam dunia yang fana, orang-orang terus-menerus mencari sesuatu yang bisa disembah walaupun Sang Pencipta ada di hadapan kita secara jelas.

Kita semua mencari sesuatu untuk disembah dan dilayani. Berhala datang dengan mudah, tetapi sulit menjauh.

Ada tema konsisten tentang pemujaan berhala di keseluruhan Alkitab dan juga di dalam hidup kita.

Dalam 1 Tesalonika 1:9-10, Alkitab menjelaskan hidup kita yang baru, kelahiran baru kita dalam Kristus dengan cara: "kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar." Tentu saja, dibandingkan dengan berhala yang mati dan salah, melayani Allah yang hidup adalah hal yang pasti.

Berhala Tidak Mengenal Batasan

Apakah menjadi seorang penyembah Allah yang benar berarti kita tidak lagi harus bersaing dengan masalah pemujaan berhala? Saya harap sesederhana itu.

Apa pun yang bukan dari Allah membuat dirinya menentang Allah, bahkan dalam hidup kekristenan. Jadi, kita terus-menerus memiliki berhala yang muncul dalam hidup kita. Kita harus mengusir mereka, tetapi mereka akan selalu ada selama kita masih hidup di bumi.

Bagaimana dengan para pemimpin? Apakah kepemimpinan berarti kita mendapat pembebasan dari ancaman pemujaan berhala dalam hidup kita? Hmm ... tidak. Beberapa dari kita memiliki "pemujaan berhala pelayanan" dalam hidup kita -- hal-hal yang kita kejar dalam tempat yang seharusnya bagi Allah.

Jika Anda ingin menjadi seorang pendeta yang setia atau seorang guru Alkitab yang setia dalam konteks pelayanan, Anda harus mengenali kesamaan yang kita semua miliki terhadap berhala-berhala di dunia. Setiap adat menciptakan berhala-berhala, dan kita harus waspada untuk berbalik dari mereka, bahkan menghancurkan mereka.

Terusiklah dengan Berhala Anda Sendiri

Kisah Para Rasul 17 menceritakan cerita Paulus di Athena, dan bagaimana rohnya "merasa disusahkan di dalam dirinya karena ia melihat kota itu penuh dengan patung-patung berhala" (Kisah Rasul 17:16, AYT). Ini merupakan pesan yang menarik yang sering kita abaikan. Apakah roh kita merasa susah di dalam diri kita karena berhala-berhala yang ada di dalam budaya kita?

Saya tidak menunjuk hanya pada berhala-berhala "di luar sana". Ini bukan hanya tentang berhala-berhala tetangga. Kita harus mengenali bahwa kita semua tertarik pada beberapa berhala tersebut. Dan, orang-orang di gereja kita pun semuanya tertarik dengan berhala-berhala itu juga.

Melihat orang-orang terperangkap dalam pemujaan berhala harus membangkitkan rasa kasihan untuk jiwa-jiwa mereka sebagaimana mereka terperangkap dalam kebodohan-kebodohan mereka. Namun, hal itu juga harus memicu rasa benci pada semua hal yang akan mengatur dirinya melawan satu Allah yang benar.

Pendeta-Pendeta, Berkhotbahlah Melawan Berhala

Berhala-berhala tidak akan pergi dengan sendirinya. Dengan kuasa Injil, kita harus meruntuhkannya -- menghancurkan mereka. Kita perlu membuang mereka dari hidup kita dan meninggalkan mereka. Para pendeta perlu mengindentifikasinya dan berkhotbah melawan berhala.

Sebagaimana kasih kita kepada Allah bertumbuh, toleransi kita pada pemujaan berhala akan semakin menurun.

Berhala besar apakah yang ada dalam budaya kita yang lebih luas? Berhala apa yang ada dalam budaya gereja? Dan, berhala spesifik apa yang dibangun dalam konteks kepemimpinan pelayanan? (t/Illene)

Diterjemahkan dari: Nama situs : Christianity Today Alamat situs : http://www.christianitytoday.com/edstetzer/2014/october/idolatry-is-alive-today-why-modern-church-leaders-still-fig.html Judul asli artikel : Idolatry Is Alive Today: Why Modern Church Leaders Still Fight an Old Battle Penulis artikel : Ed Stetzer Tanggal akses : 22 September 2016 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: WAWASAN WANITAkategori: KEHIDUPAN ROHANI

Pemujaan Berhala Masih Ada Hari Ini: Mengapa Pemimpin Gereja Modern Masih Melawan Pertempuran Lama

Kam, 16/11/2017 - 15:00
edisi - 170 Berhala pada Era Modern

Beberapa pembaca tampaknya suka melihat pokok berita pada blog ini dan memutuskan bahwa mereka tidak perlu membaca sebuah artikel tentang Perjanjian Lama, mungkin mereka malah lebih suka memilih sebuah blog tentang kepemimpinan.

Lagi pula, Anda mungkin tidak memiliki ukiran patung batu di dalam rumah, dan Anda belum pernah bepergian ke Asia dan membeli patung lambang suku atau hal lain yang menggambarkan ilah yang salah. Jadi, mengapa sebuah percakapan tentang pemujaan berhala menjadi kepentingan untuk Anda?

Tidak Ada yang Baru di Bawah Matahari

Percaya atau tidak, peringatan yang paling umum tentang dosa di dalam Alkitab bukanlah tentang berbohong, bergosip, berzina, mencuri, atau membunuh. Dosa yang paling umum di dalam Alkitab yang harus kita hindari, tolak, dan jauhi adalah pemujaan berhala.

Dan, itu bukan hanya tiang Asyera di dalam Perjanjian Lama.

Nyatanya, dalam Perjanjian Lama, 1 Yohanes 5:21 (AYT) berkata, "Anak-anakku, jauhkanlah dirimu dari berhala-berhala." Jadi, kelihatannya pemujaan berhala masih mencoba masuk ke dalam hidup kita dan mengacaukan kita dari penyembahan dan ketaatan kepada Allah.

Pemujaan berhala bukan hanya sekadar isu penyembahan berhala. Itu bukan hanya masalah dalam Perjanjian Lama atau masalah orang Yahudi. Itu merupakan masalah pada manusia.

Apakah itu dikarenakan pahatan kayu atau perunggu setinggi 12 inci dapat menjadi sesuatu yang buruk bagi kita? Atau, apakah itu dikarenakan kita berbuat sesuatu yang mengerikan pada diri kita ketika kita menempatkan pemujaan dan perhatian yang seharusnya untuk Allah pada hal yang lainnya?

Ketika berbicara tentang pemujaan berhala, bahayanya bukanlah berada dalam bendanya, melainkan pada diri kita sendiri.

Adalah John Calvin yang mengatakan bahwa hati kita merupakan pabrik berhala. Dalam dunia yang fana, orang-orang terus-menerus mencari sesuatu yang bisa disembah walaupun Sang Pencipta ada di hadapan kita secara jelas.

Kita semua mencari sesuatu untuk disembah dan dilayani. Berhala datang dengan mudah, tetapi sulit menjauh.

Ada tema konsisten tentang pemujaan berhala di keseluruhan Alkitab dan juga di dalam hidup kita.

Dalam 1 Tesalonika 1:9-10, Alkitab menjelaskan hidup kita yang baru, kelahiran baru kita dalam Kristus dengan cara: "kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar." Tentu saja, dibandingkan dengan berhala yang mati dan salah, melayani Allah yang hidup adalah hal yang pasti.

Berhala Tidak Mengenal Batasan

Apakah menjadi seorang penyembah Allah yang benar berarti kita tidak lagi harus bersaing dengan masalah pemujaan berhala? Saya harap sesederhana itu.

Apa pun yang bukan dari Allah membuat dirinya menentang Allah, bahkan dalam hidup kekristenan. Jadi, kita terus-menerus memiliki berhala yang muncul dalam hidup kita. Kita harus mengusir mereka, tetapi mereka akan selalu ada selama kita masih hidup di bumi.

Bagaimana dengan para pemimpin? Apakah kepemimpinan berarti kita mendapat pembebasan dari ancaman pemujaan berhala dalam hidup kita? Hmm ... tidak. Beberapa dari kita memiliki "pemujaan berhala pelayanan" dalam hidup kita -- hal-hal yang kita kejar dalam tempat yang seharusnya bagi Allah.

Jika Anda ingin menjadi seorang pendeta yang setia atau seorang guru Alkitab yang setia dalam konteks pelayanan, Anda harus mengenali kesamaan yang kita semua miliki terhadap berhala-berhala di dunia. Setiap adat menciptakan berhala-berhala, dan kita harus waspada untuk berbalik dari mereka, bahkan menghancurkan mereka.

Terusiklah dengan Berhala Anda Sendiri

Kisah Para Rasul 17 menceritakan cerita Paulus di Athena, dan bagaimana rohnya "merasa disusahkan di dalam dirinya karena ia melihat kota itu penuh dengan patung-patung berhala" (Kisah Rasul 17:16, AYT). Ini merupakan pesan yang menarik yang sering kita abaikan. Apakah roh kita merasa susah di dalam diri kita karena berhala-berhala yang ada di dalam budaya kita?

Saya tidak menunjuk hanya pada berhala-berhala "di luar sana". Ini bukan hanya tentang berhala-berhala tetangga. Kita harus mengenali bahwa kita semua tertarik pada beberapa berhala tersebut. Dan, orang-orang di gereja kita pun semuanya tertarik dengan berhala-berhala itu juga.

Melihat orang-orang terperangkap dalam pemujaan berhala harus membangkitkan rasa kasihan untuk jiwa-jiwa mereka sebagaimana mereka terperangkap dalam kebodohan-kebodohan mereka. Namun, hal itu juga harus memicu rasa benci pada semua hal yang akan mengatur dirinya melawan satu Allah yang benar.

Pendeta-Pendeta, Berkhotbahlah Melawan Berhala

Berhala-berhala tidak akan pergi dengan sendirinya. Dengan kuasa Injil, kita harus meruntuhkannya -- menghancurkan mereka. Kita perlu membuang mereka dari hidup kita dan meninggalkan mereka. Para pendeta perlu mengindentifikasinya dan berkhotbah melawan berhala.

Sebagaimana kasih kita kepada Allah bertumbuh, toleransi kita pada pemujaan berhala akan semakin menurun.

Berhala besar apakah yang ada dalam budaya kita yang lebih luas? Berhala apa yang ada dalam budaya gereja? Dan, berhala spesifik apa yang dibangun dalam konteks kepemimpinan pelayanan? (t/Illene)

Diterjemahkan dari: Nama situs : Christianity Today Alamat situs : http://www.christianitytoday.com/edstetzer/2014/october/idolatry-is-alive-today-why-modern-church-leaders-still-fig.html Judul asli artikel : Idolatry Is Alive Today: Why Modern Church Leaders Still Fight an Old Battle Penulis artikel : Ed Stetzer Tanggal akses : 22 September 2016 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: DUNIA WANITAkategori: KEHIDUPAN ROHANIPELAYANAN

Berhala pada Era Modern

Kam, 16/11/2017 - 13:51

Salam dalam kasih Kristus,

Jika kita tidak hidup bagi Yesus, kita akan hidup bagi sesuatu yang lain. Perkataan ini sungguh nyata jika dikaitkan dengan pernyataan Yesus bahwa kita tidak dapat melayani dua tuan dalam hidup kita. Hati kita pasti akan memiliki kecondongan kepada salah satunya. Tentu saja, penyembahan berhala pada era modern ini tidak lagi identik dengan penyembahan berhala berupa patung seperti yang dilakukan ketika paganisme masih marak dilakukan oleh berbagai suku bangsa di dunia. Penyembahan berhala pada era modern ini mungkin berbentuk samar dan bahkan tidak kita sadari karena kita tidak memiliki pengetahuan akan hal tersebut, atau hal tersebut juga sudah umum dilakukan atau terjadi dalam masyarakat zaman ini. Keluarga, pasangan, anak, pekerjaan, materi, dan kecanduan adalah sebagian hal yang sesungguhnya dapat menjadi berhala dalam hidup kita. Apa pun yang merenggut perhatian dan tujuan kita dari Allah dan kehendak-Nya adalah berhala dalam kehidupan kita. Untuk lebih dalam mengetahui mengenai topik berhala pada era modern ini, mari kita segera menyimak sajian e-Wanita bulan ini.

Pemimpin Redaksi e-Wanita,
N. Risanti

Ikutilah Diskusi Online "Alkitab dan Reformasi" di Facebook Grup Teologi Reformed

Sen, 23/10/2017 - 08:31

Sebelum Reformasi, kaum awam jelas tidak memiliki kedudukan yang penting dalam gereja. Semua urusan gereja merupakan tugas "para klerus" (pendeta-pendeta yang ditahbiskan), sedangkan kaum awam (jemaat) hanya menjadi objek. Setelah Reformasi, terjadi perubahan yang radikal karena prinsip-prinsip gereja yang salah dan tidak alkitabiah didobrak, salah satu hasilnya adalah konsep "keimaman orang percaya".

Melalui grup ini, Anda dapat belajar dan membuka wawasan dengan para peserta untuk menumbuhkan pengetahuan yang benar dan alkitabiah melalui artikel "Alkitab dan Reformasi". Diskusi ini akan berlangsung pada 30 Oktober 2017 -- 13 November 2017. Anda juga dapat berbagi pengalaman serta memperluas jaringan pelayanan melalui komunitas ini sehingga kita senantiasa bergairah dalam Kristus untuk mewartakan Injil kepada sesama.

Nah, bergabunglah dan dapatkan wawasan dan berbagai pengajaran yang benar seputar Teologia Reformed melalui: Grup Diskusi Reformed

Kami tunggu!

Bebas dari Uang, Kaya di Hadapan Allah

Sen, 23/10/2017 - 08:30
edisi - 169 Wanita Kristen dalam Dunia Materialisme

Mari kita berbicara tentang uang. Yesus berkata,

"Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusaknya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." (Matius 6:19-21)

Yesus berbicara tentang uang lebih banyak daripada tentang seks, surga, dan neraka. Uang adalah masalah besar menurut Yesus. Pasti ada sesuatu yang benar-benar berbahaya tentang uang. Ia berkata, "Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah" (Matius 19:24).

Dugaan saya adalah banyak orang kaya segera keberatan, mengatakan sesuatu seperti: "Tidak, dikatakan bahwa cinta uang adalah akar dari segala kejahatan (1 Timotius 6:10). Uang tidaklah buruk." Maaf? Lebih sulit "bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga", titik! Bukan orang kaya yang mencintai uangnya. Lebih sulit bagi orang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga daripada seekor unta masuk melalui lubang jarum. Uang itu berbahaya. Jika Anda memilikinya dan bergantung padanya, ia akan membunuh Anda. Jika Anda tidak memilikinya dan menginginkannya, ia akan membunuh Anda. Uang bisa membunuh kita karena ia mengungkapkan hati kita. Pertanyaan saya adalah: Apa artinya mengumpulkan harta di surga, bukan harta di bumi? Mari kita lihat apakah kita bisa mendapatkan bantuan dari Yesus.

Memaksimalkan Allah atau Uang?

Berikut adalah kisah yang harus diceritakan. Kita berada pada Lukas 12, ketika tanah seorang pria telah menghasilkan lebih dari yang diharapkan. Dia berkata, "Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku" (Lukas 12:17). Jawabannya? "Aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar" (Lukas 12:18). Itulah yang akan aku lakukan dengan semua kekayaanku di sini pada akhir tahun ketika pasar saham akan melonjak sangat tinggi. Apa yang akan Anda lakukan dengan semua uang ekstra Anda, orang kaya? Dia akan membangun lumbung-lumbung yang lebih besar.

Lalu, ia berkata kepada dirinya sendiri, "Diriku, beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah karena kamu memiliki barang yang tersimpan untuk bertahun-tahun lamanya." Kamu bodoh. "Malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu." (Lukas 12:20) Kemudian, muncul kalimat penting di ayat 21. "Demikianlah jadinya dengan orang -- yaitu si bodoh -- yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah." (Lukas 12:21)

Apa artinya "Kaya di hadapan Allah"? Saya menggumuli itu selama bertahun-tahun. Tentu itu bukan berarti memberi banyak uang kepada Allah. Dia tidak membutuhkan uang. Dia memiliki beribu-ribu hewan di gunung (Mazmur 50:10). Bukan, menjadi kaya di hadapan Allah bukan berarti memperkaya Allah. Menurut saya, artinya adalah menganggap Allah sebagai kekayaan Anda. Jika Anda berusaha menemukan di mana untuk menjadi kaya, fokuslah pada Allah. Dia adalah upah besar Anda. Dia adalah kekayaan. Oleh karena itu, kumpulkanlah bagimu harta di surga berarti hidup dengan cara sedemikian rupa untuk memaksimalkan Allah sebagai harta Anda. Menangani uang Anda dengan cara sedemikian rupa untuk menunjukkan bahwa Allah, dan bukan uang, adalah harta Anda.

Anda Tidak Dapat Melayani Dua Tuan

Berikut adalah perkataan lain dari Yesus tentang uang. Dia berkata, "Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." (Matius 6:24) Apa artinya mengabdi kepada uang? Saya kira hal itu akan menjelaskan apa artinya mengabdi kepada Allah. Bagaimana Anda mengabdi kepada uang? Anda tidak melakukan apa yang uang katakan. Uang tidak berbicara dengan Anda, seperti uang kertas dolar kecil dengan mulut di atasnya mengatakan lakukan ini atau lakukan itu. Mengabdi kepada uang berarti menganggap semua perilaku Anda, semua hidup Anda, untuk memaksimalkan apa yang dapat diberikan uang kepada Anda, selalu menanyakan apa manfaat yang bisa Anda peroleh dari uang. Itulah mengabdi kepada uang. Saya pikir sebagian besar orang mungkin akan setuju dengan itu.

Jadi, apa artinya mengabdi kepada Allah? Jangan membawa makna yang bertentangan dari luar perbandingan ini. Jika Anda tetap berpegang pada perbandingan itu, mengabdi kepada Allah berarti melakukan segala sesuatu yang Anda lakukan, menganggap semua perilaku Anda untuk memaksimalkan kesenangan yang bisa Anda dapatkan dari Allah, semua manfaat yang bisa Anda dapatkan dari Allah dalam Kristus.

Anda tidak dapat mengabdi kepada Allah dan uang dengan cara itu. Mereka saling berkaitan. Entah Anda membelok untuk menjadikan Allah sebagai harta Anda dalam segala hal atau Anda membelok untuk membuat uang sebagai harta Anda dalam segala hal. Jadi, kumpulkanlah bagimu harta di surga berarti menganggap semua perilaku Anda untuk memaksimalkan manfaat yang Anda dapatkan dari Allah, manfaat yang Anda miliki dalam Allah melalui Yesus Kristus.

Jual Harta Anda

Terakhir, mari kita lihat Lukas 12:32-34, salah satu bagian favorit saya untuk ditulis. Ayat itu berbunyi seperti ini,

"Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu. Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." (Lukas 12:32-34)

Ada hubungan antara mengumpulkan bagi Anda harta di surga (yang kita sudah lihat) dan menjual barang-barang Anda dan memberi diri Anda sendiri dompet atau kantong uang yang tidak menjadi tua. Anda harus memberi kepada diri kantong uang dan harta yang tidak pernah rusak, dan Anda harus memberi kepada orang miskin. Yesus mengatakan: Perintah kedua adalah bagaimana Anda melakukannya yang pertama. Juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang yang membutuhkan, dan dengan demikian (putuskan sendiri jika memasukkan kata itu tampaknya cocok) menyediakan bagimu harta di surga.

Saya pikir jawabannya di sini tentang bagaimana Anda memberi diri Anda sendiri harta di surga adalah bahwa Anda mengambil uang Anda dan Anda menunjukkan kebebasan Anda darinya. Uang bukan Allah Anda. Uang bukan harta Anda. Anda mencintai orang, dan Anda ingin agar orang-orang mencintai Allah sehingga Anda menunjukkan kasih Allah kepada mereka dengan berbagi lebih dan lebih dari apa yang Anda miliki. Dan, dalam melakukan itu, sukacita Anda dalam Allah, penghargaan Anda tentang Dia, bertambah.

Gembala, Bapa, dan Raja

Yesus memberi kita motif untuk gaya hidup seperti itu di ayat 32, "Jangan takut, hai kamu kawanan kecil!". Kita cenderung takut. Kita mengira jika kita memberikan sebanyak ini untuk gereja atau jika sebanyak ini untuk pelayanan yang peduli pada orang miskin, kita mungkin tidak akan memiliki cukup. Yesus berkata, "Jangan takut, hai kamu kawanan kecil!" Dan, jika Dia memanggil kita kawanan, siapa Dia? Allah adalah Gembala kita. "Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu ..." -- Jadi, sekarang kita memiliki Bapa dan kita memiliki Gembala -- "telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu." Sekarang Dia adalah Raja.

Yesus menambahkan ilustrasi tentang Allah untuk menghapus ketakutan kita untuk memberi dan mengumpulkan harta di surga. Dia adalah Gembala. Dia adalah Bapa. Dia adalah Raja. Gembala tahu segala yang dibutuhkan domba-domba untuk hidup, dan menyediakan bagi mereka. Bapa merawat anak-anak mereka dengan luar biasa. Raja memiliki kewenangan dan kekuasaan untuk menyelesaikannya. Allah adalah semua itu untuk Anda. Jadi, jangan takut. Jadilah pemberi yang bebas, murah hati, dan rela. Perlakukan Allah sebagai harta Anda di atas semua harta, lalu tunjukkan betapa Dia adalah harta Anda dengan memberi dan memberi dan memberi kepada mereka yang membutuhkan.

"Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: 'Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.'"(Ibrani 13:5-6) Oleh karena itu, di antara semua orang di planet ini, kiranya orang-orang Kristen menjadi pemberi yang paling bebas, murah hati, lepas, dengan risiko besar bagi diri mereka sendiri. (t/Jing-Jing)

Download Audio

Diambil dari: Nama situs : desiringGod.org Alamat situs : http://www.desiringgod.org/articles/free-from-money-rich-toward-god Judul asli artikel : Free from Money, Rich Toward God Penulis artikel : John Piper Tanggal akses : 22 September 2016 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: DUNIA WANITAkategori: KEHIDUPAN ROHANI

Bahagia Tanpa

Sen, 23/10/2017 - 08:27
edisi - 169 Wanita Kristen dalam Dunia Materialisme

Bacaan: 1 Timotius 6:6-11

Seorang Filsuf Yunani kuno, yakni Socrates (469 -- 399 SM), percaya bahwa jika Anda sungguh-sungguh bijak, Anda tidak akan terobsesi oleh kekayaan. Untuk mempraktikkan apa yang ia khotbahkan secara ekstrem itu, ia bahkan menolak untuk mengenakan sepatu.

Socrates suka mengunjungi pasar, tetapi ia hanya memandang beraneka ragam pakaian yang dipamerkan dengan penuh kekaguman. Saat seorang teman bertanya mengapa ia demikian terpesona, ia menjawab, "Saya suka pergi ke sana dan menyadari betapa saya bahagia meski tak memiliki banyak hal yang ada di sana."

Sikap di atas bertentangan dengan iklan yang terus-menerus menyerang mata dan telinga kita. Para pemasang iklan menghabiskan jutaan rupiah untuk mengatakan bahwa kita tak akan bahagia bila tidak memiliki produk terbaru mereka.

Rasul Paulus menasihati anak rohaninya, Timotius, demikian, "Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup memberi keuntungan besar. Sebab, kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia, dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah" (1 Timotius 6:6-8). Jika kita terpikat pada harta benda, Paulus memperingatkan, kita bisa melenceng dari iman dan frustrasi karena keinginan daging (ayat 9, 10).

Marilah kita bertanya kepada diri sendiri, "Hal-hal apakah yang meski tidak kumiliki, tetapi tidak mengurangi kebahagiaanku?" Jawaban atas pertanyaan ini akan mengungkapkan banyak tentang hubungan kita dengan Tuhan dan kepuasan kita terhadap Dia.

KEPUASAN BUKAN BERASAL DARI HARTA YANG BERLIMPAH, TETAPI DARI KEINGINAN YANG SEDIKIT.

Diterjemahkan dari: Nama situs : SABDA.org Alamat situs : http://sabda.org/publikasi/e-rh/2003/01/24/ Judul asli renungan : Bahagia Tanpa Penulis renungan : Vernon Grounds Tanggal akses : 23 Januari 2017 Tipe Bahan: RenunganKolom e-Wanita: RENUNGAN WANITAkategori: KEHIDUPAN ROHANI

Wanita Kristen dalam Dunia Materialisme

Sen, 23/10/2017 - 08:23

Salam dalam kasih Kristus,

Dalam dunia yang dipenuhi dengan rupa-rupa keinginan daging, materialisme selalu menjadi tema yang mengemuka dalam kehidupan orang percaya. Kita hidup dalam dunia yang menilai segala sesuatu dari tampilan luar, kesuksesan duniawi, kepemilikan, dan popularitas. Dan, keempatnya sering kali sangat terkait dengan isu-isu material, baik dalam motif, proses, tujuan, maupun pencapaian. Meski telah dipanggil untuk hidup dalam terang firman Allah, tidak dapat disangkal bahwa hal-hal tersebut adalah godaan menyilaukan, yang sering kali meruntuhkan iman atau menghambat pertumbuhan rohani kita. Terlalu banyak cerita yang kita ketahui mengenai orang-orang Kristen yang gagal mencapai tujuan dan kehendak Allah karena terikat dalam materialisme.

Lalu, bagaimana wanita Kristen seharusnya menyikapi persoalan materialisme ini? Bagaimana seharusnya kita memandang materi dan segala daya tariknya dalam terang kebenaran Allah? Dua kolom sajian kami akan mengupas tentang hal itu pada edisi kali ini. Materialisme adalah hal yang dangkal dan fana sifatnya, dan nilainya tidaklah sebanding dengan Kerajaan Allah. Kiranya setelah membaca sajian kami, kita semua akan semakin rindu untuk mengenal dan mengikut Tuhan daripada berpaling ke godaan materialisme. Amin.

Pemimpin Redaksi e-Wanita,
N. Risanti

Disiplin Spiritual yang Berpusat pada Injil

Sen, 02/10/2017 - 09:06

Apa itu spiritualitas?

Bagi banyak orang, spiritualitas berarti menghabiskan waktu sesekali dalam refleksi pribadi. Bagi orang lain, ini mungkin berarti secara sadar mencoba menjalani prinsip-prinsip tertentu, atau berusaha memikirkan masalah penting seperti lingkungan atau tunawisma.

Disiplin spiritual yang berpusat pada Injil

Namun, persepsi umum tentang spiritualitas bukanlah ajaran yang alkitabiah. Saya berpendapat bahwa spiritualitas mencakup – namun melampaui – roh manusia, dan melibatkan pencarian akan Allah dan hal-hal dari Allah, melalui Yesus Kristus, dengan kuasa Roh Kudus, sesuai dengan penyataan diri Allah (yaitu, Alkitab).

Spiritualitas dan Injil

Spiritualitas semacam ini tidak diusahakan oleh dirinya sendiri. Melainkan adalah salah satu hasil dari kehidupan rohani baru yang Allah ciptakan di dalam jiwa saat Dia bekerja melalui Injil. Dengan kata lain, spiritualitas Kristen adalah bagian dari kehidupan yang dijalani sebagai tanggapan terhadap Injil. Dalam istilah teologis, spiritualitas adalah aspek pengudusan yang harus dimulai pada dan setelah pembenaran.

Pikirkanlah seperti ini: Kita datang kepada Allah melalui Injil dan kita hidup untuk Allah melalui Injil. Rasul Paulus menulis, "Karena kamu telah menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan, hiduplah terus di dalam Dia" (Kolose 2:6). Melalui Injil oleh iman kita menerima Kristus, dan melalui Injil oleh iman kita berjalan di dalam Kristus.

Dalam sebuah ungkapan, Injil adalah tentang pribadi dan karya Yesus Kristus. Itulah mengapa kita dapat berbicara tentang kehidupan Kristen sebagai kehidupan yang berpusat pada Injil. Kita datang kepada Tuhan pada awalnya atas dasar iman kepada siapa Yesus dan apa yang telah Dia lakukan untuk kita. Dan kita terus datang kepada Tuhan dan menjalani hidup yang menyenangkan hati-Nya atas dasar yang sama. Mengutip Paulus dalam Galatia 3:3, yang telah dimulai oleh Roh melalui Injil, kita disempurnakan (dikuduskan, dijadikan serupa Kristus) dengan cara yang sama - oleh Roh melalui Injil.

Peran disiplin spiritual

Karena Roh Kudus memberi orang percaya keinginan dan kekuatan untuk spiritualitas alkitabiah, pemformatan ulang kehidupan dan kebiasaan tertentu juga harus terjadi. Jadi, Paulus juga menulis, "Latihlah dirimu untuk hidup dalam kesalehan" (1 Timotius 4:7). Ini tidak mengacu pada latihan fisik, yang hanya untuk aktivitas tubuh – meski memiliki manfaat kesehatan – tidak dengan sendirinya membangun kesalehan, karena ayat berikutnya sangat jelas. Sebaliknya, jenis latihan yang menghasilkan kesalehan (yaitu, keserupaan dengan Kristus) adalah latihan spiritual.

Tidak ada orang Kristen yang langsung dengan mudah menjadi serupa dengan Kristus. Kesalehan, menurut teks ini, membutuhkan latihan. Beberapa terjemahan Alkitab menerjemahkan "melatih" sebagai "latihan" (KJV) atau "disiplin" (NASB). Dengan demikian, cara alkitabiah dan praktis dalam kehidupan sehari-hari menjalankan perintah ini yaitu "melatih diri Anda untuk hidup dalam kesalehan" sering disebut "latihan spiritual" atau "disiplin spiritual." (Catatan: beberapa guru palsu juga menggunakan ungkapan-ungkapan ini, tapi itu tidak membuat turunan istilah-istilah yang diturunkan secara alkitabiah seperti penggunaan kata "Trinitas" yang sesat itu membatalkan penggunaan istilah ortodoks kita.) Apa yang berlaku di masa Paulus masih berlaku: melalui disiplin rohani yang terdapat dalam Kitab Suci itulah kita harus mengejar kesalehan.

Tentu saja, legalisme selalu menjadi bahaya spiritualitas. Apa pun yang bisa dihitung, diukur, atau dicatat oleh orang Kristen, juga bisa mengubahnya menjadi sesuatu yang salah dengan ini – bukan kecukupan hidup dan kematian Yesus – dia lebih aman secara rohani atau disukai oleh Tuhan. Tapi hanya karena kita bisa menyalahgunakan disiplin kesalehan tidak berarti kita harus mengabaikannya. "Latih dirimu untuk hidup dalam kesalehan" adalah perintah Tuhan. Oleh karena itu, pasti bisa mengejar ketaatan tanpa legalisme.

Bagaimana orang Kristen mempraktikkan spiritualitas yang berpusat pada Injil?

Pertama, praktikkan disiplin yang benar – disiplin spiritual pribadi dan interpersonal yang terdapat di Alkitab. Spiritualitas yang berpusat pada Injil adalah spiritualitas sola scriptura. Untuk latihan individu, disiplin spiritual pribadi yang paling penting adalah asupan Kitab Suci dan doa. Yang lainnya berhubungan dengan keduanya. Disiplin spiritual interpersonal yang harus kita amati adalah terutama praktik alkitabiah yang terkait dengan kehidupan bersama di gereja lokal.

Kedua, praktikkan disiplin yang benar dengan tujuan yang benar – dengan Yesus sebagai fokus, mengejar keintiman dengan Kristus dan selaras (baik dalam maupun luar) dengan Kristus. Singkatnya, melalui disiplin spiritual alkitabiah berusahalah untuk bersama Yesus dan seperti Yesus.

Ketiga, praktikkan disiplin yang benar dengan cara yang benar. Tekankan secara masing-masing pribadi dan karya Yesus. Melalui hal tersebut, belajar dari, memandang, dan menikmati siapa Yesus dan apa yang telah Dia lakukan. Biarkan jiwa Anda dipulihkan melalui kebenaran Injil.

Terlibatlah dalam disiplin spiritual yang diberikan oleh Tuhan di dalam Kitab Suci sehingga Anda terus-menerus menunjukkan kebutuhan Anda akan Kristus dan tersedianya kasih karunia dan belas kasihan yang tak terbatas didapatkan melalui iman kepada Yesus Kristus. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Lifeway.com URL : http://m.lifeway.com/Article/gospel-centered-spiritual-disciplines-train... Judul asli artikel : Gospel-Centered Spiritual Disciplines Penulis artikel : Donald S. Whitney Tanggal akses : 14 Juli 2017 Kategori Tips: KEHIDUPAN ROHANITipe Bahan: Tips

Publikasi e-Leadership: Bahan-Bahan Kepemimpinan Kristen Berkualitas

Jum, 22/09/2017 - 12:49

Setiap orang adalah pemimpin, minimal pemimpin bagi diri sendiri, bahkan banyak juga yang sudah menjadi pemimpin bagi kelompok. Untuk itu, kita perlu membekali diri kita dengan prinsip-prinsip kepemimpinan Kristen yang alkitabiah supaya kita bisa memimpin diri sendiri dan orang lain sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Kami mengajak Anda untuk berlangganan Publikasi e-Leadership. Publikasi ini berisi bahan-bahan kepemimpinan Kristen yang akan dikirim ke email Anda setiap Selasa minggu ketiga, secara gratis. Yuk, berlangganan sekarang juga! Kirimkan email Anda ke < subscribe-i-kan-leadership@hub.xc.org >.

Tingkatkan pula wawasan dan relasi Anda dengan para pemimpin Kristen yang lain dengan bergabung di komunitas e-Leadership. Selamat memimpin!



e-Leadership


@sabdaleadership

Hana

Jum, 22/09/2017 - 12:45
edisi - 168 Perempuan Misionaris dalam Alkitab

Wanita yang Menjadi Misionaris Kristen Pertama

Referensi Alkitab: Lukas 2:36-38

Arti nama: Kemurahan hati, atau anugerah. Nama Hana (atau Anna di beberapa versi terjemahan) sama dengan nama Hana di Perjanjian Lama, dan adalah nama Fenisia yang digunakan oleh Virgil untuk saudara perempuan Dido, Ratu Carthage.

Hubungan Keluarga: Hana adalah putri dari Fanuel, nama yang identik dengan Pniel, dan artinya "wajah atau penampilan Allah". Nama suaminya yang mati muda tidak diberikan. Seperti Hana, tidak diragukan lagi ia juga menanti-nantikan keselamatan Allah. Ayahnya adalah dari suku Asyer -- salah satu (suku) yang disebut "suku-suku yang hilang". Inilah semua yang kita ketahui tentang nenek moyang Hana, yang, meskipun biografinya adalah salah satu yang tersingkat dalam sejarah Alkitab, hidupnya harum. Namanya adalah salah satu nama yang populer untuk anak perempuan. Elsdon C. Smith dalam The Story of Our Names mengatakan bahwa ada lebih dari setengah juta anak perempuan dan perempuan dewasa di Amerika saja yang memiliki nama Hana (Anna, dalam bahasa Inggris -- Red.).

Dalam penjelasan kami tentang janda yang paling terkenal di Alkitab ini, kami anggap terbaik untuk mengambil catatan mengenai dirinya yang diberikan oleh dokter yang terkasih, Lukas, yang mengatakan tentang dirinya bahwa -- ia adalah seorang nabi perempuan.

Ia Adalah Seorang Nabi Perempuan

Izebel, seorang nabi perempuan gadungan dan palsu, adalah satu-satunya perempuan lain dalam Perjanjian Baru (Wahyu 2:20) yang menyandang sebutan ini. Empat putri Filipus juga bernubuat (Kisah Para Rasul 21:9). Narasi tersebut tidak memberitahukan mengapa ia (Hana) dikenal sebagai nabi perempuan. Mungkin suaminya yang telah lama meninggal tadinya adalah nabi, atau karena oleh ilham ilahi ia sendiri mengatakan kejadian masa depan, atau karena ia menghabiskan waktunya untuk menyanyikan syukur dan puji-pujian kepada Allah (1 Samuel 10:5; 1 Tawarikh 25:1-3). Bernubuat berarti memberitakan pesan ilahi, dan kepada Hana diberikan kemampuan untuk mengetahui peristiwa-peristiwa, sebelumnya dan sesudahnya, dan melalui dia, Allah berbicara kepada orang lain. Hana pasti disertakan dalam garis keturunan berkelanjutan nabi dan nabi perempuan yang menggembar-gemborkan kedatangan Mesias melalui generasi berikutnya. Saat ia menatap wajah Bayi Betlehem, Hana tahu bahwa prediksi masa lalu tentang Dia telah terpenuhi. Melalui hidupnya yang panjang dan saleh, pikirannya telah dipenuhi dengan nubuatan Perjanjian Lama tentang kedatangan benih perempuan yang akan meremukkan kepala ular. Menunggu dengan tak henti-hentinya akan Kristus, ia percaya, bersama dengan Simeon, bahwa Putra sulung Maria itu benar-benar adalah tunas yang akan keluar dari batang pohon Isai (Yesaya 11:1; Mikha 5:2).

Ia Sudah Berusia Lanjut

Hana menikah selama 7 tahun, dan tetap menjadi seorang janda selama 84 tahun. Ini berarti bahwa ia pastinya berusia lebih dari 100 tahun ketika matanya yang tua melihat Juru Selamat yang sangat diharapkannya. Ia bertambah tua dalam pelayanan di Bait Allah, dan setelah melihat, bersama dengan Simeon, keselamatan Allah, ia siap untuk pergi dalam damai sejahtera. Betapa menguatkan melihat orang-orang yang melalui hidupnya yang panjang tetap setia kepada Tuhan dan orang-orang yang rambut abu-abunya dihormati karena kehidupannya yang dijalani dalam kehendak ilahi, dan yang, ketika mereka meninggal, siap untuk kemuliaan.

Dia Adalah Janda

Paulus menasihati Timotius muda untuk "menghormati janda yang benar-benar janda", dan Hana, seorang janda yang menjadi teladan, seharusnya dihormati oleh semua. Bahkan, kita bertanya-tanya apakah Rasul mengingat Hana yang tua itu ketika ia memberi Timotius pemikiran ini:

Hormatilah janda-janda yang betul-betul janda. Sedangkan janda yang betul-betul janda dan hidup seorang diri, ia harus menaruh harapannya kepada Allah serta terus menaikkan permohonan dan doa siang dan malam
(1 Timotius 5:3, 5).

Hana kesepian, yang berarti sendirian atau terpencil. Seorang janda dapat memahami apa artinya menghadapi hidup yang panjang, kesepian, dan muram, dan kesendirian menjadi lebih akut karena mengingat hari-hari bahagia. Namun, tidak demikian dengan Hana. Ketika muda, sebagai istri yang tidak memiliki anak, Allah menarik dirinya dari cinta duniawi yang dinikmatinya, tetapi ia tidak mengubur harapannya di kuburan. Untuk menggantikan apa yang Allah ambil, ia memberikan dirinya lebih kepada-Nya, dan ia mengabdikan diri kepada Dia yang telah berjanji untuk menjadi Suami bagi janda, dan melalui menjandanya yang lama tak pernah lelah dalam pengabdian kepada-Nya. Ia "percaya kepada Allah", dan rambutnya yang beruban adalah mahkota kemuliaan (Amsal 16:31). Jiwa yang tenang adalah miliknya selama 85 tahun karena satu hal yang diinginkannya adalah memiliki rumah Allah sebagai tempat tinggalnya sepanjang hidupnya.

Ia Tidak Beranjak dari Bait Allah

Ketika kematian melanda keluarganya sendiri, Hana berbalik dari semua kekhawatiran yang sah dan bergabung dengan kumpulan perempuan suci yang mengabdikan diri untuk hadir terus-menerus "beribadah siang dan malam di Bait Allah". Ia bukan pengunjung sesekali atau anggota mati, melainkan seorang penyembah yang konstan dan taat. Tempat duduknya di Bait Allah selalu terisi. Sungguh seorang jemaat yang menjadi inspirasi bagi seorang pendeta yang setia, yang merasa dia dapat melayani lebih leluasa ketika mereka hadir karena dukungan doa mereka! Ketika kursi mereka kosong di gereja, ia tahu pasti ada sesuatu yang tidak biasa yang menjadi penyebab ketidakhadiran mereka.

Ia Beribadah kepada Allah dengan Puasa dan Doa

Tanpa ragu, Hana adalah salah satu pilihan Allah sendiri, yang berseru siang dan malam kepada-Nya, dan yang didengar ketakutannya. Bukan di sudut pensiunan tertentu di Bait Allah dia berdoa, atau di sudut tempat perempuan hanya memohon kepada Allah. Ia akan bergabung dengan orang lain secara terbuka di hadapan jemaat dan mencurahkan jiwanya terdengar di Bait Allah. Dia (Yesus), yang kelahiran-Nya ia (Hana) saksikan itu, mengatakan bahwa berdoa dan berpuasa adalah syarat yang diperlukan dalam kehidupan yang dipakai oleh Allah, dan Hana tidak hanya berdoa, tetapi juga berpuasa. Ia bersedia tidak makan untuk menggunakan lebih banyak waktu di hadapan Allah. Hidupnya adalah kehidupan penguasaan diri yang saleh. Dia telah belajar bagaimana menyalibkan daging untuk melayani Allah dengan lebih pantas.

Ia Juga Menyatakan Terima kasih kepada Tuhan

Doa Hana dibarengi dengan pujian. Betapa penting kalimat ini, "ketika itu juga datanglah ia ke situ." Ini bukanlah suatu kebetulan belaka. Melalui ziarahnya yang panjang, hari demi hari, ia pergi ke Bait Allah untuk berdoa bagi kedatangan Mesias, dan meskipun ia tampaknya lebih lama menunggu-Nya, ia percaya bahwa Dia akan datang. Lalu, pada suatu hari keajaiban terjadi karena saat memasuki Bait Allah ia mendengar suara kegembiraan dan sukacita jauh di pelataran dalam, dan kemudian dari bibir Simeon yang terhormat ia mendengar kata-kata, "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu pergi dalam damai, mataku telah melihat keselamatan-Mu." Menatap Anak Kudus yang tak lain adalah Mesias yang lama dicari, Hana juga sudah siap untuk pergi dalam damai sejahtera dan bersatu dengan suaminya di atas.

Ia Menceritakan tentang Dia kepada Semua Orang

Hana tidak hanya berdoa dan memuji, tetapi pergi keluar untuk memberitakan kabar gembira kepada mereka yang memiliki harapan dan iman yang sama dengannya. Sekali lagi, perhatikan pandangan sekilas yang kita miliki tentang Hana dalam catatan singkatnya. Kita melihatnya, pertama-tama, sebagai:

  • Putri Fanuel dari suku Asyer -- fakta yang cukup menarik, melihat bahwa dia adalah satu-satunya orang dari suku Asyer yang disebutkan dalam Alkitab meskipun namanya berarti berkat.
  • Seorang Janda pada usia yang lanjut.
  • Seorang Penyembah yang taat beribadah kepada Allah yang hidup.
  • Seorang Nabi Perempuan yang memberitakan firman kenabian.

Sekarang, ia menunjukkan peran lain. Meskipun tua, ia pergi ke luar untuk menjadi seorang misionaris.

Hana adalah salah satu dari sisa-sisa orang saleh di Israel yang, selama berabad-abad, bahkan pada hari-hari paling gelap sebelum Kristus datang, mencari Surya pagi dari tempat tinggi. Dengan demikian, saat ia mendengar pujian Simeon atas nubuatan yang digenapi, ia pergi kepada teman-teman salehnya untuk menyampaikan kabar gembira. Melalui tahun penantian yang panjang, iman dianugerahkan dan ia menjadi pemberita wanita pertama tentang Inkarnasi kepada semua orang yang mencari Penebus di Yerusalem. Di dalam diri Hana kita memiliki "teladan iman seorang perempuan berusia lanjut yang menanti dengan iman, seperti halnya Simeon adalah teladan iman seorang pria berusia lanjut". Berbahagialah mereka yang dengan sabar dan berdoa menanti kedatangan Kristus yang kedua (Ibrani 9:28). (t/Jing-Jing)

Download Audio

Diterjemahkan dari: Nama situs : Bible Gateway Alamat situs : https://www.biblegateway.com/resources/all-women-bible/Anna Judul asli artikel : Anna Penulis artikel : Herbert Lockyer Tanggal akses : 12 Januari 2017 Tipe Bahan: Tokoh WanitaKolom e-Wanita: POTRET WANITAkategori: TOKOH

Perempuan Misionaris dalam Alkitab

Jum, 22/09/2017 - 12:42

Salam dalam kasih Kristus,

Tuhan memanggil setiap laki-laki dan perempuan untuk menjadi bagian dari rencana-Nya yang mulia dalam mewartakan kabar sukacita tentang keselamatan. Meski panggilan itu bersifat umum dan setara, tetapi setiap pribadi yang dipanggil untuk menjalankannya tentu akan mengalami proses pembentukan yang berbeda dan unik. Dalam edisi bulan ini, kita akan belajar dari tokoh Hana -- nabi perempuan yang menyambut bayi Yesus di Bait Suci (Lukas 2:36-38). Tidak banyak dari kita yang mungkin menyadari bahwa sesungguhnya dialah wanita yang pertama kali mewartakan tentang kedatangan Mesias sehingga kita dapat menyebutnya sebagai salah satu misionaris dalam Alkitab. Kisah hidupnya memang hanya disebutkan secara singkat dalam Alkitab, yaitu pada masa tuanya. Namun, justru pada masa tuanya itulah, Hana dipakai Tuhan untuk menjadi misionaris perempuan pertama yang menyampaikan kabar sukacita kepada banyak orang. Ia menjadi salah satu pribadi yang dipakai Allah untuk menjadi jalan keselamatan bagi banyak orang. Selain Hana, kita juga akan membaca kisah dari Sofia Osman, perempuan yang memiliki dasar iman yang teguh pada Kristus saat harus menerima ujian atas imannya. Untuk melihat pelajaran iman dari kedua wanita ini, mari segera saja kita simak e-Wanita edisi 168 ini.

Staf Redaksi e-Wanita,
Margaretha I.

Cara untuk Hidup dengan Pikiran Kristus

Sen, 04/09/2017 - 14:47

Salah satu pengungkapan terbesar dalam hidup saya adalah: saya dapat memilih pikiran saya dan berpikir pada hal-hal yang menjadi tujuan. Dengan kata lain, saya tidak harus hanya berpikir tentang apa pun yang masuk ke dalam pikiran saya. Ini adalah pengungkapan yang mengubah hidup bagi saya sebagai mana yang dikatakan oleh Amsal 23:7 (TB) berkata, "Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia." Saya ingin mengatakannya seperti ini: Ke mana pikiran pergi, orang pun mengikutinya.

Sekarang, Allah peduli dengan apa yang berada di dalam hati seseorang, yaitu kehidupan batin kita. Kehidupan batin kita adalah apa yang kita pikirkan. Dan, seperti kitab suci di atas mengatakan cara kita berpikir menentukan bagaimana kita hidup dan siapa kita. Itu sebabnya kita perlu berpikir tentang apa yang kita pikirkan.

Sangatlah penting bagi kita untuk memahami hal tersebut karena jika kita tidak belajar bagaimana untuk menangani segala pikiran dan menaklukkannya dalam ketaatan kepada Kristus (lihat 2 Korintus 10:4-5), kita tidak akan menghidupi kehidupan yang untuknyaitu Yesus mati bagi kita - sebuah kehidupan yang berdamai dengan Allah, berdamai dengan diri kita sendiri, hubungan yang baik, sukacita nyata, dan kemampuan untuk menjadi semua yang menjadi tujuan penciptaan Allah atas kita. Itu terjadi dengan memilih untuk percaya pada apa yang dikatakan Allah (kebenaran) lebih dari pada kita mempercayai perasaan kita, apa yang orang lain katakan, atau keadaan kita.

Alkitab secara khusus berbicara tentang tiga hal yang harus kita lakukan untuk mengembangkan pikiran yang selaras dengan Allah. Saya ingin membagikan manfaat dari masing-masing.

"Tetapkan pikiran Anda dan peliharalah itu pada perkara-perkara yang ada di atas (hal-hal yang lebih tinggi ..." (Kolose 3:2, AYT). Ini adalah kunci untuk menolak godaan. Lihatlah, ketika kita menetapkan pikiran kita ke depan untuk apa yang akan kita lakukan dan tidak, maka ketika godaan datang, kita telah meletakkan dasar untuk membuat pilihan yang tepat dan lebih mungkin untuk berhasil mengatasi godaan. Misalnya, sebelum Anda masuk ke dalam sebuah situasi sosial, putuskan "Saya tidak akan bergosip. Saya tidak akan merusak reputasi seseorang dan menyinggung Roh Kudus." Godaan lain mungkin mengharuskan Anda untuk memutuskan hal-hal seperti "Saya tidak akan makan empat permen hari ini. "Atau" saya tidak akan melihat pornografi di Internet." Atau "Saya tidak akan bergaul dengan orang-orang yang memiliki pengaruh buruk." Maksud saya di sini adalah, kita tidak ingin menunggu sampai godaan datang dan kemudian bereaksi didasarkan pada bagaimana kita merasa tentang hal-hal tersebut.

"Janganlah menjadi sama dengan dunia ini, tetapi berubahlah (diubah) oleh (seluruh) pembaruan akal budimu.." (Roma 12:2, AYT). Memperbaharui pikiran adalah proses yang berkelanjutan. Setiap hari kita perlu mengambil waktu untuk mempelajari Firman sehingga kita secara sengaja dapat berpikir sesuai dengan apa yang dikatakan. Dan, kita tidak bisa mempertahankan satu atau dua wilayah "bermutu rendah" dalam kehidupan pemikiran kita karena itu terus menghalangi kita dari hal terbaik yang Allah berikan bagi kita. Saya tidak mengatakan kita harus menjadi sempurna dengan hal tersebut, tetapi kita perlu membuat kemajuan setiap hari sehingga kita dapat terus memperbarui pikiran kita dan bertumbuh dalam hubungan kita dengan Allah.

"Karena itu, siapkanlah akal budimu dan waspadalah.." (1 Petrus 1:13, AYT). Mungkin Anda berpikir, apakah maksud dari ayat itu? Ayat itu pada dasarnya mengatakan bahwa kita perlu untuk mengeluarkan semua sampah dari pikiran kita, untuk keluar dari hidup kita, sehingga kita dapat terus menjalankan perlombaan kita di dalam Yesus Kristus dan meraih kemenangan yang dikehendaki oleh Allah untuk kita capai. Dengan demikian, kita siap untuk melakukan apa yang menjadi rencana Allah bagi kehidupan kita.

Salah satu cara praktis sehingga kita dapat mencapai tiga arahan tersebut dari Allah adalah untuk memiliki waktu untuk berpikir setiap hari. Duduk saja dan berkata, "Aku akan memikirkan beberapa hal yang memiliki tujuan." Lalu, gunakan beberapa waktu untuk berpikir tentang firman Tuhan yang memperbarui pikiran Anda dengan kebenaran yang Allah katakan - tentang cinta-Nya bagi Anda, rencana-Nya bagi Anda, tentang bagaimana Dia ingin Anda untuk hidup dan berperilaku ... Gunakan sebuah konkordansi untuk menemukan ayat-ayat yang mencakup wilayah di mana Anda sedang berjuang di dalamnya atau yang perlu untuk Anda ketahui. Saya ingin mendorong Anda untuk menulis beberapa dari hal-hal tersebut dan menempatkannya di tempat di mana Anda akan melihatnya setiap hari, seperti cermin kamar mandi atau kulkas.

Jika Anda akan berkomitmen untuk menetapkan pikiran Anda pada Firman Tuhan, memperbaharui pikiran Anda dengan kebenaran, dan menyingkirkan 'pikiran-pikiran' busuk yang keluar dari hidup Anda, maka Anda akan mengalami kepenuhan hidup baru yang kita semua dapat miliki di dalam Kristus. Yang dibutuhkan adalah sedikit lagi kemajuan di tiap-tiap harinya. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Joyce Meyer.org Alamat URL : https://www.joycemeyer.org/articles/ea.aspx?article=live_with_the_mind_o... Judul asli artikel : The Way to Live with the Mind of Christ Penulis artikel : Joyce Meyer Tanggal akses : 22 September 2016 Kategori Tips: KEHIDUPAN ROHANITipe Bahan: Tips

Tinggalkan Komentar