RSS Wanita

Subscribe to RSS Wanita feed
Updated: 1 hari 3 hours ago

Hana

Jum, 22/09/2017 - 12:45
edisi - 168 Perempuan Misionaris dalam Alkitab

Wanita yang Menjadi Misionaris Kristen Pertama

Referensi Alkitab: Lukas 2:36-38

Arti nama: Kemurahan hati, atau anugerah. Nama Hana (atau Anna di beberapa versi terjemahan) sama dengan nama Hana di Perjanjian Lama, dan adalah nama Fenisia yang digunakan oleh Virgil untuk saudara perempuan Dido, Ratu Carthage.

Hubungan Keluarga: Hana adalah putri dari Fanuel, nama yang identik dengan Pniel, dan artinya "wajah atau penampilan Allah". Nama suaminya yang mati muda tidak diberikan. Seperti Hana, tidak diragukan lagi ia juga menanti-nantikan keselamatan Allah. Ayahnya adalah dari suku Asyer -- salah satu (suku) yang disebut "suku-suku yang hilang". Inilah semua yang kita ketahui tentang nenek moyang Hana, yang, meskipun biografinya adalah salah satu yang tersingkat dalam sejarah Alkitab, hidupnya harum. Namanya adalah salah satu nama yang populer untuk anak perempuan. Elsdon C. Smith dalam The Story of Our Names mengatakan bahwa ada lebih dari setengah juta anak perempuan dan perempuan dewasa di Amerika saja yang memiliki nama Hana (Anna, dalam bahasa Inggris -- Red.).

Dalam penjelasan kami tentang janda yang paling terkenal di Alkitab ini, kami anggap terbaik untuk mengambil catatan mengenai dirinya yang diberikan oleh dokter yang terkasih, Lukas, yang mengatakan tentang dirinya bahwa -- ia adalah seorang nabi perempuan.

Ia Adalah Seorang Nabi Perempuan

Izebel, seorang nabi perempuan gadungan dan palsu, adalah satu-satunya perempuan lain dalam Perjanjian Baru (Wahyu 2:20) yang menyandang sebutan ini. Empat putri Filipus juga bernubuat (Kisah Para Rasul 21:9). Narasi tersebut tidak memberitahukan mengapa ia (Hana) dikenal sebagai nabi perempuan. Mungkin suaminya yang telah lama meninggal tadinya adalah nabi, atau karena oleh ilham ilahi ia sendiri mengatakan kejadian masa depan, atau karena ia menghabiskan waktunya untuk menyanyikan syukur dan puji-pujian kepada Allah (1 Samuel 10:5; 1 Tawarikh 25:1-3). Bernubuat berarti memberitakan pesan ilahi, dan kepada Hana diberikan kemampuan untuk mengetahui peristiwa-peristiwa, sebelumnya dan sesudahnya, dan melalui dia, Allah berbicara kepada orang lain. Hana pasti disertakan dalam garis keturunan berkelanjutan nabi dan nabi perempuan yang menggembar-gemborkan kedatangan Mesias melalui generasi berikutnya. Saat ia menatap wajah Bayi Betlehem, Hana tahu bahwa prediksi masa lalu tentang Dia telah terpenuhi. Melalui hidupnya yang panjang dan saleh, pikirannya telah dipenuhi dengan nubuatan Perjanjian Lama tentang kedatangan benih perempuan yang akan meremukkan kepala ular. Menunggu dengan tak henti-hentinya akan Kristus, ia percaya, bersama dengan Simeon, bahwa Putra sulung Maria itu benar-benar adalah tunas yang akan keluar dari batang pohon Isai (Yesaya 11:1; Mikha 5:2).

Ia Sudah Berusia Lanjut

Hana menikah selama 7 tahun, dan tetap menjadi seorang janda selama 84 tahun. Ini berarti bahwa ia pastinya berusia lebih dari 100 tahun ketika matanya yang tua melihat Juru Selamat yang sangat diharapkannya. Ia bertambah tua dalam pelayanan di Bait Allah, dan setelah melihat, bersama dengan Simeon, keselamatan Allah, ia siap untuk pergi dalam damai sejahtera. Betapa menguatkan melihat orang-orang yang melalui hidupnya yang panjang tetap setia kepada Tuhan dan orang-orang yang rambut abu-abunya dihormati karena kehidupannya yang dijalani dalam kehendak ilahi, dan yang, ketika mereka meninggal, siap untuk kemuliaan.

Dia Adalah Janda

Paulus menasihati Timotius muda untuk "menghormati janda yang benar-benar janda", dan Hana, seorang janda yang menjadi teladan, seharusnya dihormati oleh semua. Bahkan, kita bertanya-tanya apakah Rasul mengingat Hana yang tua itu ketika ia memberi Timotius pemikiran ini:

Hormatilah janda-janda yang betul-betul janda. Sedangkan janda yang betul-betul janda dan hidup seorang diri, ia harus menaruh harapannya kepada Allah serta terus menaikkan permohonan dan doa siang dan malam
(1 Timotius 5:3, 5).

Hana kesepian, yang berarti sendirian atau terpencil. Seorang janda dapat memahami apa artinya menghadapi hidup yang panjang, kesepian, dan muram, dan kesendirian menjadi lebih akut karena mengingat hari-hari bahagia. Namun, tidak demikian dengan Hana. Ketika muda, sebagai istri yang tidak memiliki anak, Allah menarik dirinya dari cinta duniawi yang dinikmatinya, tetapi ia tidak mengubur harapannya di kuburan. Untuk menggantikan apa yang Allah ambil, ia memberikan dirinya lebih kepada-Nya, dan ia mengabdikan diri kepada Dia yang telah berjanji untuk menjadi Suami bagi janda, dan melalui menjandanya yang lama tak pernah lelah dalam pengabdian kepada-Nya. Ia "percaya kepada Allah", dan rambutnya yang beruban adalah mahkota kemuliaan (Amsal 16:31). Jiwa yang tenang adalah miliknya selama 85 tahun karena satu hal yang diinginkannya adalah memiliki rumah Allah sebagai tempat tinggalnya sepanjang hidupnya.

Ia Tidak Beranjak dari Bait Allah

Ketika kematian melanda keluarganya sendiri, Hana berbalik dari semua kekhawatiran yang sah dan bergabung dengan kumpulan perempuan suci yang mengabdikan diri untuk hadir terus-menerus "beribadah siang dan malam di Bait Allah". Ia bukan pengunjung sesekali atau anggota mati, melainkan seorang penyembah yang konstan dan taat. Tempat duduknya di Bait Allah selalu terisi. Sungguh seorang jemaat yang menjadi inspirasi bagi seorang pendeta yang setia, yang merasa dia dapat melayani lebih leluasa ketika mereka hadir karena dukungan doa mereka! Ketika kursi mereka kosong di gereja, ia tahu pasti ada sesuatu yang tidak biasa yang menjadi penyebab ketidakhadiran mereka.

Ia Beribadah kepada Allah dengan Puasa dan Doa

Tanpa ragu, Hana adalah salah satu pilihan Allah sendiri, yang berseru siang dan malam kepada-Nya, dan yang didengar ketakutannya. Bukan di sudut pensiunan tertentu di Bait Allah dia berdoa, atau di sudut tempat perempuan hanya memohon kepada Allah. Ia akan bergabung dengan orang lain secara terbuka di hadapan jemaat dan mencurahkan jiwanya terdengar di Bait Allah. Dia (Yesus), yang kelahiran-Nya ia (Hana) saksikan itu, mengatakan bahwa berdoa dan berpuasa adalah syarat yang diperlukan dalam kehidupan yang dipakai oleh Allah, dan Hana tidak hanya berdoa, tetapi juga berpuasa. Ia bersedia tidak makan untuk menggunakan lebih banyak waktu di hadapan Allah. Hidupnya adalah kehidupan penguasaan diri yang saleh. Dia telah belajar bagaimana menyalibkan daging untuk melayani Allah dengan lebih pantas.

Ia Juga Menyatakan Terima kasih kepada Tuhan

Doa Hana dibarengi dengan pujian. Betapa penting kalimat ini, "ketika itu juga datanglah ia ke situ." Ini bukanlah suatu kebetulan belaka. Melalui ziarahnya yang panjang, hari demi hari, ia pergi ke Bait Allah untuk berdoa bagi kedatangan Mesias, dan meskipun ia tampaknya lebih lama menunggu-Nya, ia percaya bahwa Dia akan datang. Lalu, pada suatu hari keajaiban terjadi karena saat memasuki Bait Allah ia mendengar suara kegembiraan dan sukacita jauh di pelataran dalam, dan kemudian dari bibir Simeon yang terhormat ia mendengar kata-kata, "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu pergi dalam damai, mataku telah melihat keselamatan-Mu." Menatap Anak Kudus yang tak lain adalah Mesias yang lama dicari, Hana juga sudah siap untuk pergi dalam damai sejahtera dan bersatu dengan suaminya di atas.

Ia Menceritakan tentang Dia kepada Semua Orang

Hana tidak hanya berdoa dan memuji, tetapi pergi keluar untuk memberitakan kabar gembira kepada mereka yang memiliki harapan dan iman yang sama dengannya. Sekali lagi, perhatikan pandangan sekilas yang kita miliki tentang Hana dalam catatan singkatnya. Kita melihatnya, pertama-tama, sebagai:

  • Putri Fanuel dari suku Asyer -- fakta yang cukup menarik, melihat bahwa dia adalah satu-satunya orang dari suku Asyer yang disebutkan dalam Alkitab meskipun namanya berarti berkat.
  • Seorang Janda pada usia yang lanjut.
  • Seorang Penyembah yang taat beribadah kepada Allah yang hidup.
  • Seorang Nabi Perempuan yang memberitakan firman kenabian.

Sekarang, ia menunjukkan peran lain. Meskipun tua, ia pergi ke luar untuk menjadi seorang misionaris.

Hana adalah salah satu dari sisa-sisa orang saleh di Israel yang, selama berabad-abad, bahkan pada hari-hari paling gelap sebelum Kristus datang, mencari Surya pagi dari tempat tinggi. Dengan demikian, saat ia mendengar pujian Simeon atas nubuatan yang digenapi, ia pergi kepada teman-teman salehnya untuk menyampaikan kabar gembira. Melalui tahun penantian yang panjang, iman dianugerahkan dan ia menjadi pemberita wanita pertama tentang Inkarnasi kepada semua orang yang mencari Penebus di Yerusalem. Di dalam diri Hana kita memiliki "teladan iman seorang perempuan berusia lanjut yang menanti dengan iman, seperti halnya Simeon adalah teladan iman seorang pria berusia lanjut". Berbahagialah mereka yang dengan sabar dan berdoa menanti kedatangan Kristus yang kedua (Ibrani 9:28). (t/Jing-Jing)

Download Audio

Diterjemahkan dari: Nama situs : Bible Gateway Alamat situs : https://www.biblegateway.com/resources/all-women-bible/Anna Judul asli artikel : Anna Penulis artikel : Herbert Lockyer Tanggal akses : 12 Januari 2017 Tipe Bahan: Tokoh WanitaKolom e-Wanita: POTRET WANITAkategori: TOKOH

Perempuan Misionaris dalam Alkitab

Jum, 22/09/2017 - 12:42

Salam dalam kasih Kristus,

Tuhan memanggil setiap laki-laki dan perempuan untuk menjadi bagian dari rencana-Nya yang mulia dalam mewartakan kabar sukacita tentang keselamatan. Meski panggilan itu bersifat umum dan setara, tetapi setiap pribadi yang dipanggil untuk menjalankannya tentu akan mengalami proses pembentukan yang berbeda dan unik. Dalam edisi bulan ini, kita akan belajar dari tokoh Hana -- nabi perempuan yang menyambut bayi Yesus di Bait Suci (Lukas 2:36-38). Tidak banyak dari kita yang mungkin menyadari bahwa sesungguhnya dialah wanita yang pertama kali mewartakan tentang kedatangan Mesias sehingga kita dapat menyebutnya sebagai salah satu misionaris dalam Alkitab. Kisah hidupnya memang hanya disebutkan secara singkat dalam Alkitab, yaitu pada masa tuanya. Namun, justru pada masa tuanya itulah, Hana dipakai Tuhan untuk menjadi misionaris perempuan pertama yang menyampaikan kabar sukacita kepada banyak orang. Ia menjadi salah satu pribadi yang dipakai Allah untuk menjadi jalan keselamatan bagi banyak orang. Selain Hana, kita juga akan membaca kisah dari Sofia Osman, perempuan yang memiliki dasar iman yang teguh pada Kristus saat harus menerima ujian atas imannya. Untuk melihat pelajaran iman dari kedua wanita ini, mari segera saja kita simak e-Wanita edisi 168 ini.

Staf Redaksi e-Wanita,
Margaretha I.

Cara untuk Hidup dengan Pikiran Kristus

Sen, 04/09/2017 - 14:47

Salah satu pengungkapan terbesar dalam hidup saya adalah: saya dapat memilih pikiran saya dan berpikir pada hal-hal yang menjadi tujuan. Dengan kata lain, saya tidak harus hanya berpikir tentang apa pun yang masuk ke dalam pikiran saya. Ini adalah pengungkapan yang mengubah hidup bagi saya sebagai mana yang dikatakan oleh Amsal 23:7 (TB) berkata, "Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia." Saya ingin mengatakannya seperti ini: Ke mana pikiran pergi, orang pun mengikutinya.

Sekarang, Allah peduli dengan apa yang berada di dalam hati seseorang, yaitu kehidupan batin kita. Kehidupan batin kita adalah apa yang kita pikirkan. Dan, seperti kitab suci di atas mengatakan cara kita berpikir menentukan bagaimana kita hidup dan siapa kita. Itu sebabnya kita perlu berpikir tentang apa yang kita pikirkan.

Sangatlah penting bagi kita untuk memahami hal tersebut karena jika kita tidak belajar bagaimana untuk menangani segala pikiran dan menaklukkannya dalam ketaatan kepada Kristus (lihat 2 Korintus 10:4-5), kita tidak akan menghidupi kehidupan yang untuknyaitu Yesus mati bagi kita - sebuah kehidupan yang berdamai dengan Allah, berdamai dengan diri kita sendiri, hubungan yang baik, sukacita nyata, dan kemampuan untuk menjadi semua yang menjadi tujuan penciptaan Allah atas kita. Itu terjadi dengan memilih untuk percaya pada apa yang dikatakan Allah (kebenaran) lebih dari pada kita mempercayai perasaan kita, apa yang orang lain katakan, atau keadaan kita.

Alkitab secara khusus berbicara tentang tiga hal yang harus kita lakukan untuk mengembangkan pikiran yang selaras dengan Allah. Saya ingin membagikan manfaat dari masing-masing.

"Tetapkan pikiran Anda dan peliharalah itu pada perkara-perkara yang ada di atas (hal-hal yang lebih tinggi ..." (Kolose 3:2, AYT). Ini adalah kunci untuk menolak godaan. Lihatlah, ketika kita menetapkan pikiran kita ke depan untuk apa yang akan kita lakukan dan tidak, maka ketika godaan datang, kita telah meletakkan dasar untuk membuat pilihan yang tepat dan lebih mungkin untuk berhasil mengatasi godaan. Misalnya, sebelum Anda masuk ke dalam sebuah situasi sosial, putuskan "Saya tidak akan bergosip. Saya tidak akan merusak reputasi seseorang dan menyinggung Roh Kudus." Godaan lain mungkin mengharuskan Anda untuk memutuskan hal-hal seperti "Saya tidak akan makan empat permen hari ini. "Atau" saya tidak akan melihat pornografi di Internet." Atau "Saya tidak akan bergaul dengan orang-orang yang memiliki pengaruh buruk." Maksud saya di sini adalah, kita tidak ingin menunggu sampai godaan datang dan kemudian bereaksi didasarkan pada bagaimana kita merasa tentang hal-hal tersebut.

"Janganlah menjadi sama dengan dunia ini, tetapi berubahlah (diubah) oleh (seluruh) pembaruan akal budimu.." (Roma 12:2, AYT). Memperbaharui pikiran adalah proses yang berkelanjutan. Setiap hari kita perlu mengambil waktu untuk mempelajari Firman sehingga kita secara sengaja dapat berpikir sesuai dengan apa yang dikatakan. Dan, kita tidak bisa mempertahankan satu atau dua wilayah "bermutu rendah" dalam kehidupan pemikiran kita karena itu terus menghalangi kita dari hal terbaik yang Allah berikan bagi kita. Saya tidak mengatakan kita harus menjadi sempurna dengan hal tersebut, tetapi kita perlu membuat kemajuan setiap hari sehingga kita dapat terus memperbarui pikiran kita dan bertumbuh dalam hubungan kita dengan Allah.

"Karena itu, siapkanlah akal budimu dan waspadalah.." (1 Petrus 1:13, AYT). Mungkin Anda berpikir, apakah maksud dari ayat itu? Ayat itu pada dasarnya mengatakan bahwa kita perlu untuk mengeluarkan semua sampah dari pikiran kita, untuk keluar dari hidup kita, sehingga kita dapat terus menjalankan perlombaan kita di dalam Yesus Kristus dan meraih kemenangan yang dikehendaki oleh Allah untuk kita capai. Dengan demikian, kita siap untuk melakukan apa yang menjadi rencana Allah bagi kehidupan kita.

Salah satu cara praktis sehingga kita dapat mencapai tiga arahan tersebut dari Allah adalah untuk memiliki waktu untuk berpikir setiap hari. Duduk saja dan berkata, "Aku akan memikirkan beberapa hal yang memiliki tujuan." Lalu, gunakan beberapa waktu untuk berpikir tentang firman Tuhan yang memperbarui pikiran Anda dengan kebenaran yang Allah katakan - tentang cinta-Nya bagi Anda, rencana-Nya bagi Anda, tentang bagaimana Dia ingin Anda untuk hidup dan berperilaku ... Gunakan sebuah konkordansi untuk menemukan ayat-ayat yang mencakup wilayah di mana Anda sedang berjuang di dalamnya atau yang perlu untuk Anda ketahui. Saya ingin mendorong Anda untuk menulis beberapa dari hal-hal tersebut dan menempatkannya di tempat di mana Anda akan melihatnya setiap hari, seperti cermin kamar mandi atau kulkas.

Jika Anda akan berkomitmen untuk menetapkan pikiran Anda pada Firman Tuhan, memperbaharui pikiran Anda dengan kebenaran, dan menyingkirkan 'pikiran-pikiran' busuk yang keluar dari hidup Anda, maka Anda akan mengalami kepenuhan hidup baru yang kita semua dapat miliki di dalam Kristus. Yang dibutuhkan adalah sedikit lagi kemajuan di tiap-tiap harinya. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Joyce Meyer.org Alamat URL : https://www.joycemeyer.org/articles/ea.aspx?article=live_with_the_mind_o... Judul asli artikel : The Way to Live with the Mind of Christ Penulis artikel : Joyce Meyer Tanggal akses : 22 September 2016 Kategori Tips: KEHIDUPAN ROHANITipe Bahan: Tips

Rosa Parks

Sel, 22/08/2017 - 11:34
edisi - 167 Kemerdekaan dalam Kristus

Sebagian besar sejarawan menetapkan waktu awal gerakan hak-hak sipil modern di Amerika Serikat pada tanggal 1 Desember 1955. Itu adalah hari ketika seorang penjahit tak dikenal di Montgomery, Alabama, menolak untuk menyerahkan kursinya di bis kepada penumpang kulit putih. Wanita pemberani ini, Rosa Parks, ditangkap dan didenda karena melanggar peraturan kota, tetapi tindakan pembangkangannya yang seorang diri tersebut memulai sebuah gerakan yang mengakhiri hukum pemisahan di Amerika, dan membuatnya menjadi inspirasi bagi pecinta kebebasan di mana-mana.

Rosa Parks terlahir dengan nama Rosa Louise McCauley di Tuskegee, Alabama, dari pasangan James McCauley, seorang tukang kayu, dan Leona McCauley, seorang guru. Pada usia dua tahun, ia pindah ke peternakan kakek-neneknya di Pine Level, Alabama, dengan ibunya dan adiknya, Sylvester. Pada usia sebelas tahun, ia masuk ke Montgomery Industrial School for Girls (Sekolah Industri Montgomery untuk Para Gadis), sebuah sekolah swasta yang didirikan oleh perempuan berpikiran liberal dari Amerika Serikat Utara. Filosofi sekolah tentang harga diri konsisten dengan saran Leona McCauley untuk "mengambil keuntungan dari peluang, tidak peduli betapapun sedikit hal itu".

Peluang memang sedikit. "Waktu itu," Nyonya Parks mengingat dalam sebuah wawancara, "kami tidak punya hak-hak sipil. Masalah kami merupakan soal kelangsungan hidup, untuk tetap ada dari satu hari ke hari berikutnya. Saya ingat ketika masih kecil, saat akan tidur, saya mendengar derapan Klan (kelompok rasis di Amerika yang gemar main hakim sendiri terhadap orang-orang kulit hitam - Red.) pada malam hari dan mendengar hukuman mati tanpa pengadilan, dan merasa takut jika rumah akan dibakar." Dalam wawancara yang sama, ia mengutip rasa takut yang menyertainya seumur hidup dijadikan sebagai alasan untuk keberanian relatifnya dalam memutuskan untuk mempertahankan keyakinannya di pemboikotan bus. "Saya tidak punya rasa takut tertentu," katanya. "Lega rasanya ketika mengetahui bahwa saya tidak sendirian."

Setelah studinya di Alabama State Teachers College, Rosa yang masih muda menetap di Montgomery, bersama suaminya, Raymond Parks. Pasangan ini bergabung dengan dalil lokal dari NAACP dan bekerja diam-diam selama bertahun-tahun untuk meningkatkan kumpulan orang Afrika-Amerika di selatan yang terpisah.

"Saya bekerja di sejumlah kasus bersama dengan NAACP," Nyonya Parks bercerita, "tetapi kami tidak mendapatkan publisitas. Ada kasus pencambukan, pekerjaan sewa, pembunuhan, dan perkosaan. Kami tampaknya tidak memiliki terlalu banyak keberhasilan. Itu lebih merupakan tentang mencoba untuk menantang kekuasaan yang ada dan membiarkan hal itu diketahui bahwa kami tidak ingin terus menjadi warga negara kelas dua."

Insiden bus tersebut menyebabkan pembentukan Montgomery Improvement Association, yang dipimpin oleh pendeta muda dari Gereja Baptis Dexter Avenue, Dr. Martin Luther King, Jr.. Asosiasi menyerukan pemboikotan bus kota milik perusahaan. Pemboikotan berlangsung selama 382 hari dan membuat Nyonya Parks, Dr. King, dan perkara mereka menjadi perhatian dunia. Sebuah Keputusan Mahkamah Agung menghentikan aturan Montgomery, yang di bawahnya Nyonya Parks telah didenda, dan melarang pemisahan rasial pada transportasi umum.

Pada tahun 1957, Nyonya Parks dan suaminya pindah ke Detroit, Michigan tempat Nyonya Parks bertugas sebagai staf dari anggota Dewan Amerika Serikat John Conyers. The Southern Christian Leadership Council kemudian membuat Rosa Parks Freedom Award tahunan untuk menghormatinya.

Setelah kematian suaminya pada tahun 1977, Nyonya Parks mendirikan Rosa and Raymond Parks Institute for Self-Development (Lembaga Pengembangan Diri Rosa dan Raymond Parks). Lembaga itu mensponsori program tahunan musim panas untuk remaja yang disebut Pathways to Freedom (Jalan Menuju Kebebasan). Orang-orang muda mengadakan tur untuk mengelilingi negara dengan naik bus, di bawah pengawasan orang dewasa, mempelajari sejarah negara mereka dan gerakan hak-hak sipil. Presiden Clinton menganugerahi Rosa Parks dengan Presidential Medal of Freedom pada tahun 1996. Dia menerima Congressional Gold Medal pada tahun 1999.

Ketika ditanya apakah dia menjalani hidup yang bahagia setelah pensiun, Rosa Parks menjawab, "Saya melakukan yang terbaik yang saya bisa untuk memandang hidup dengan optimisme dan harapan, dan berharap untuk hari yang lebih baik, tetapi saya tidak percaya ada kebahagiaan yang lengkap. Sungguh menyakitkan bagi saya, bahwa masih banyak kegiatan Klan dan rasisme. Saya pikir ketika Anda mengatakan Anda bahagia, berarti Anda memiliki semua yang Anda butuhkan dan segala sesuatu yang Anda inginkan, dan tidak ada lagi yang diharapkan. Saya belum mencapai tahap itu."

Nyonya Parks menghabiskan tahun-tahun terakhirnya dengan hidup tenang di Detroit, tempat dia meninggal pada tahun 2005 di usia 92. Setelah kematiannya, peti matinya ditempatkan di Rotunda, di Balai Kota Amerika Serikat selama dua hari, sehingga bangsa itu bisa memberikan penghormatan kepada wanita pemberani yang telah mengubah kehidupan begitu banyak orang. Dia adalah satu-satunya wanita dan orang Afrika-Amerika kedua dalam sejarah Amerika yang disemayamkan di Gedung Balai Kota, suatu kehormatan yang biasanya diberikan kepada Presiden Amerika Serikat. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari: Nama situs : Academy of Achievement Alamat situs : http://www.achievement.org/achiever/rosa-parks/ Judul asli artikel : Rosa Parks Penulis : of Tim Academy of Achievement Tanggal akses : 7 Juli 2015 Tipe Bahan: Tokoh WanitaKolom e-Wanita: POTRET WANITAkategori: TOKOH

Apa Artinya Memiliki Kemerdekaan dalam Kristus?

Sel, 22/08/2017 - 11:17
edisi - 167 Kemerdekaan dalam Kristus

Dengan pembongkaran Uni Soviet pada tahun 1991 dan dibukanya tirai besi setelah itu, Eropa Timur dengan penuh sukacita merayakan kemerdekaan mereka yang telah lama ditolak.

Namun, beberapa "kemerdekaan" pertama yang dilaksanakan di negara-negara yang sebelumnya berpaham komunis ini adalah mengumbar pornografi, prostitusi, narkoba, dan kejahatan yang terorganisir.

Beberapa orang pasti memiliki konsep yang keliru mengenai kemerdekaan.

Secara teologis, beberapa orang merasakan kemerdekaan yang sama dengan tidak mengamati apa yang mereka anggap sebagai praktik-praktik "Perjanjian Lama". Mereka merasa bebas dari hukum. Mereka merasa bahwa beban hukum telah diangkat, dan mereka tidak lagi terikat. Mereka percaya bahwa mereka bebas dari "tata cara Yahudi" dan bahwa Kristus telah melakukan segala sesuatu untuk mereka, membebaskan mereka dari segala praktik kecuali kewajiban samar-samar untuk "mengasihi" Allah dan sesama mereka.

Kemerdekaan palsu dinubuatkan.

Alkitab memperingatkan tentang janji-janji kebebasan yang palsu. Salah satu peringatan tersebut berasal dari Petrus, "Sebab mereka mengucapkan kata-kata yang congkak dan hampa dan mempergunakan hawa nafsu cabul untuk memikat orang-orang yang baru saja melepaskan diri dari mereka yang hidup dalam kesesatan. Mereka menjanjikan kemerdekaan kepada orang lain, padahal mereka sendiri adalah hamba-hamba kebinasaan, karena siapa yang dikalahkan orang, ia adalah hamba orang itu. Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juru Selamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula. Karena itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka. Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: 'Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya'" (2 Petrus 2:18-22).

Tidak seorang pun berpendapat bahwa Kristus tidak datang untuk membawa kebebasan. Lukas menulis bahwa Yesus pergi ke Nazaret, "tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. Kepada-Nya diberikan kitab Nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: 'Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.'" (Lukas 4:16-19, penekanan ditambahkan dalam keseluruhan.)

Yesus Kristus membawa kemerdekaan sejati.

Kristus datang untuk membebaskan kita dari dosa melalui korban penebusan-Nya. Ibrani 2:14-15 memberi tahu kita bahwa Yesus "menjadi sama dalam kemanusiaan mereka sehingga dengan kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut, dan membebaskan mereka yang sepanjang hidup mereka berada dalam perhambaan oleh karena takut kepada maut" (New International Version).

Upah dosa adalah maut (Roma 6:23). Kristus membayar hukuman mati bagi kita, membebaskan kita dari hukuman mati melalui pengorbanan-Nya. Kita telah dibebaskan, tetapi, seperti yang ditulis Paulus, kebebasan ini tidak memberikan lisensi atau izin untuk terus melakukan hal-hal yang membawa pada hukuman kematian (Roma 6:11-22). Paulus menulis dalam Galatia 5:13, "Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih" (Galatia 5:13).

Panggilan Tuhan membebaskan kita dari konsep-konsep rohani yang salah. Galatia 4:3-7 mengatakan: "Demikian pula kita: selama kita belum akil balig, kita takluk juga kepada roh-roh dunia. Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak. Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: 'ya Abba, ya Bapa!' Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah".

Seorang Kristen dipanggil keluar dari takhayul, kesalahan, perbudakan, penipuan, rasa bersalah, kebejatan, kebodohan, dan kehidupan destruktif, dari menjadi tawanan Setan dan menghadapi kematian kekal. Dia dipanggil menuju kemerdekaan dalam Kristus, menerima pengampunan dosa melalui darah-Nya yang tercurah, sekarang mengetahui kebebasan dari rasa bersalah, kesadaran akan kebenaran Allah, dan sebagai pemberian cuma-cuma, pengharapan hidup yang kekal.

Namun, Kitab Suci memang menunjukkan bahwa kebebasan rohani yang sesungguhnya harus mencakup kriteria berikut, yang terkait dengan pengorbanan Yesus untuk dosa-dosa kita. Mari secara singkat kita melihat hal-hal ini.

Kemerdekaan melalui kebenaran Allah.

Kristus berdiskusi dengan sekelompok orang yang menipu diri mereka sendiri untuk mengira bahwa mereka bebas. "Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya kepada-Nya. Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: 'Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.' Jawab mereka: 'Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?'" (Yohanes 8:31-33).

Jelas, mereka menipu diri mereka sendiri, tidak mengakui bahwa bahkan pada waktu itu tanah mereka tidak lebih dari wilayah yang diduduki di bawah penaklukan Kekaisaran Romawi yang perkasa. Semua orang sangat menyadari bahwa mereka adalah orang-orang tawanan.

Dalam tiga ayat berikutnya, Yesus menjawab, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka."

Menurut Kristus, seseorang tidak bisa bebas secara rohani kecuali dia memiliki kebenaran, yang adalah firman Tuhan (Yohanes 17:17). Jelas, orang itu harus mengerti kebenaran itu. Banyak orang memiliki Alkitab di dalam rumah mereka, tetapi tidak membacanya ataupun tidak bisa memahaminya. Hanya sedikit orang menyadari tentang kemerdekaan yang datang dari pemahaman akan firman Tuhan.

Kemerdekaan melalui Roh Kudus.

Kitab Suci menunjukkan bahwa Roh Allah menuntun kita kepada kebenaran (Yohanes 16:13). Hal ini membantu kita memahami Alkitab (1 Korintus 2:10-14). Pemahaman rohani ini mengarah kepada kemerdekaan.

Paulus menulis dalam 2 Korintus 3:17, "Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan".

Kita tahu bahwa Roh Kudus adalah karunia yang berharga yang diberikan oleh Allah berdasarkan pertobatan, penerimaan Kristus, baptisan air, kesediaan untuk taat dan penumpangan tangan (Kisah Para Rasul 2:38; 5:32; 8:14-17).

Kemerdekaan melalui hukum Allah.

Semua orang sangat membutuhkan kebebasan, tetapi kita dengan cepat menyadari bahwa kebebasan menuntut harga. Seseorang dengan nada bercanda berkata, "kebebasan mutlak adalah mampu melakukan apa yang Anda mau tanpa mempertimbangkan siapa pun kecuali pasangan Anda dan anak-anak Anda, perusahaan dan bos, tetangga dan teman-teman, polisi dan pemerintah, dokter dan gereja."

Dalam masyarakat manusia, kekacauan terjadi jika kita hanya memperhatikan kepentingan kita sendiri. Hukum diperlukan untuk menjamin kebebasan. Hal ini juga berlaku dengan hukum rohani Allah. Mazmur 119 merupakan penghargaan yang indah untuk kebebasan yang datang melalui ketaatan kepada hukum Allah. Perhatikan ayat 44 dan 45: "Aku hendak berpegang pada Taurat-Mu senantiasa, untuk seterusnya dan selamanya. Aku hendak hidup dalam kelegaan, sebab aku mencari titah-titah-Mu".

Yakobus menyebut hukum Tuhan "hukum yang memerdekakan," atau kebebasan ketika ia mengatakan bahwa "barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya" (Yakobus 1:25). Dia melanjutkan di pasal berikutnya: "Berkatalah dan berlakulah seperti orang-orang yang akan dihakimi oleh hukum yang memerdekakan orang" (ayat 12).

Sayangnya, beberapa orang mengklaim kebebasan beragama melalui Kristus sementara merendahkan hukum-Nya dan menolak untuk tunduk kepadanya. Yesus Kristus, sebagai contoh sempurna dari kebebasan, menaati perintah Allah (Yohanes 15:10). Kebebasan sejati tidak mungkin terpisah dari, tetapi harus datang dari keselarasan dengan, perintah-perintah Allah. Seperti yang ditanyakan Kristus dalam Lukas 6:46, "Mengapa kamu berseru kepada-Ku 'Tuhan, Tuhan,' padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?" Juga: "Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah" (Matius 19:17).

Ketaatan penuh kasih pada hukum Allah bukanlah upaya untuk mencapai keselamatan oleh perbuatan, melainkan merupakan sebuah respons tulus, jujur, ingin melayani, dan menyenangkan Allah penguasa alam semesta yang besar, yang memberi hukum rohani-Nya untuk kesejahteraan kita sendiri. Ini bukan soal apa yang nyaman, tetapi tentang apa yang menyenangkan Allah. Adalah sebuah ironi bahwa, sementara kita mendapatkan kebebasan melalui Kristus, kita menjadi hamba-Nya, sebagaimana tercantum dalam 1 Korintus 7:22: "Sebab seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan-Nya, adalah orang bebas, milik Tuhan. Demikian pula orang bebas yang dipanggil Kristus, adalah hamba-Nya".

Pada akhirnya, kebebasan sejati datang melalui kebangkitan pada saat kedatangan Kristus. Seperti yang dijelaskan Paulus dalam Roma 8:21, "makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah".

Allah, percepatlah hari itu! (t/Jing-Jing)

Download Audio

Diterjemahkan dari: Nama situs : United Church of God Alamat situs : https://www.ucg.org/the-good-news/what-does-it-mean-to-have-freedom-in-christ Judul asli artikel : What Does It Mean to Have Freedom in Christ? Penulis artikel : Rainer Salomaa Tanggal akses : 7 September 2016 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: DUNIA WANITAkategori: KEHIDUPAN ROHANI

Kemerdekaan dalam Kristus

Sel, 22/08/2017 - 08:33

Salam dalam kasih Kristus,

Makna kemerdekaan sejati bagi orang percaya sejatinya adalah hidup yang terbebas dari keinginan dosa dan mampu melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Paham yang kita anut mengenai kemerdekaan memang jauh berbeda dari pandangan dunia, dan karena itu diperlukan pula perjuangan untuk melakukannya. Namun, ketika Kristus sudah menebus kita dari perbudakan dosa, kita pun akan dimampukan, dengan pertolongan Roh Kudus, untuk hidup bebas sebagai anak-anak Allah yang mencerminkan kemuliaan-Nya. Untuk itu, mari kita beryukur kepada Allah atas kemerdekaan yang sudah diberikan-Nya kepada kita sebagai pribadi, maupun sebagai bangsa Indonesia yang sudah terlepas dari tangan penjajahan.

Dirgahayu Republik Indonesia. Merdeka terus dalam kasih karunia Tuhan!

Pemimpin Redaksi e-Wanita,
N. Risanti

Mengapa Orang Kristen Perlu Persekutuan

Rab, 02/08/2017 - 16:58

1 Yohanes 1:7 "Tetapi jika kita hidup dalam terang sama seperti Dia di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari segala dosa"

Persekutuan berasal dari kata Yunani, KOINONIA, yang berarti"berbagi kesamaan." Persekutuan Kristen lebih daripada menghadiri Gereja - itu merupakan "asimilasi" ke dalam tubuh orang percaya, menjadi "satu" dalam menyembah, mengasihi, peduli dan berbagi.

Menurut Alkitab, persekutuan bukan pilihan bagi orang percaya. Ia mengatakan, "jika hidup dalam terang [dalam persekutuan dengan Allah] ... ini menyebabkan kita memiliki persekutuan seorang dengan yang lain." Dan dari hasil persekutuan ini, "darah Yesus, Anak-Nya, menyucikan kita dari segala dosa."(1 Yohanes 1:7).

Tubuh Memerlukan Sirkulasi Darah yang Tepat

Apa kaitan persekutuan dengan saudara-saudara dengan menyucikan kita dari dosa? Seperti kita ketahui, Alkitab mengatakan "nyawa ada di dalam darah" (Im. 17:11). Ini adalah fakta, baik secara biologis maupun rohani. Darah dalam tubuh Anda adalah agen pembersih yang akan membersihkan racun dan bakteri dalam sistem kita, dan memasok oksigen ke daerah vital yang diperlukan untuk kelangsungan hidup kita. Setiap menit, jantung Anda memompa dan mengedarkan darah bermil-mil dari pembuluh darah dan arteri yang saling terkoneksi, melewati ginjal untuk menyaring, dan kembali ke siklus beredar yang sama. Namun, seandainya tubuh Anda harus dipisahkan dari aliran darah, tidak adanya sirkulasi darah akan menyebabkan bagian itu terinfeksi - itu akan menjadi gangren dan akan mati. Kelangsungan hidup adalah tidak mungkin tanpa sirkulasi darah secara terus-menerus.

Demikian juga dalam tubuh Kristus, Gereja (1 Kor. 12:27). Karena darah Yesus Kristus memiliki efek penyucian yang terus menerus atas dosa-dosa kita, kita harus tetap melekat pada tubuh Kristus. Jika kita memutuskan persekutuan dengan tubuh-Nya, kita berisiko memotong sirkulasi darah yang menyucikan!

Perlu diingat, keselamatan berdasarkan "iman", dan tidak diperoleh dengan melakukan "perbuatan" seperti menghadiri Gereja (Efesus 2: 8-9). Namun, persekutuan dengan tubuh Kristus, gereja, sangat penting dalam membantu untuk mempertahankan iman Anda dengan memberikan pelayanan, dorongan, dan suasana "penyucian" dan pertumbuhan rohani.

Hubungan kita dengan Yesus Kristus jelas menjadi dasar untuk pengampunan dosa-dosa kita, tetapi Alkitab menunjukkan bahwa kita tidak dapat memiliki hubungan yang benar dengan Kristus tanpa hubungan yang benar dengan tubuh-Nya. Misalnya, kitab suci menunjukkan bahwa ibadah kita kepada Allah tidak dapat diterima kecuali kita berbuat hal yang benar terhadap saudara-saudara kita. "Oleh karena itu jika engkau membawa persembahanmudi atas mezbah, dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau," tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu, dan pergilah berdamai dengan saudaramu, dan kemudian kembali untuk persembahanmu itu "(Matius 5: 23-24).

Persekutuan adalah Praktik Mengasihi Saudara-saudara

Tidak hanya Alkitab mengatakan bahwa "persekutuan" adalah bukti hidup dalam terang (1 Yohanes 1:7), tetapi juga mengatakan bahwa "mengasihi saudara-saudara" adalah bukti hidup itu. "Dia yang mengasihi saudaranya tetap ada di dalam terang, dan di dalam dirinya tidak ada penyesatan" (1 Yohanes 2:10). Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang kuat, tak terpisahkan antara "persekutuan" dan "mengasihi saudara-saudara." Akibatnya, tampak bahwa persekutuan dimaksudkan untuk menjadi praktik mengasihi saudara-saudara, yang membantu menjaga kita dalam hubungan yang benar dengan Kristus sehingga darahNya dapat meneruskan efek penyuciaannya secara penuh!

Banyak ayat-ayat di Alkitab mengkonfirmasi bahwa "kasih terhadap saudara-saudara" adalah bukti dari keselamatan kita. "Kita tahu bahwa kita sudah berpindah dari kematian kepada kehidupan, karena kita mengasihi saudara kita ..." (1 Yohanes 3:14). Pada intinya, kita perlu saudara-saudara untuk memiliki hubungan yang benar dengan Allah. Kita mampu melihat hubungan kita dengan Tuhan dari refleksi hubungan kita dengan saudara-saudara kita di dalam Kristus. "... karena orang yang tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya" (1 Yohanes 4:20).

Persekutuan dengan saudara-saudara adalah tindakan kasih yang membawa kita ke arah kedewasaan rohani. Hubungan Anda dengan saudara-saudara adalah termometer yang mengukur suhu rohani Anda. Tingkat kasih Anda terhadap saudara-saudara adalah pengukur yang menunjukkan kasih kita kepada Allah. "... Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita" (1 Yohanes 4:12).

Persekutuan dengan tubuh Kristus adalah di mana kasih diuji dan terbukti. Ini adalah kesempatan untuk belajar bagaimana mengasihi satu sama lain - itu adalah kelas besar Allah untuk pengembangan karakter Kristen. Kita diuntungkan oleh keduanya, kekuatan dan kelemahan persekutuan. Yang dewasa membantu memperkuat dan mendorong kita, sedangkan yang lemah karena kurang dewasa memberi kita kesempatan untuk berlatih - untuk menguji pertumbuhan rohani kita dalam sifat-sifat seperti kesabaran, lama menderita, kelembutan, kelemahlembutan, dll (Semua kebajikan rohani harus ditantang dan diuji untuk mendatangkan kemajuan.)

Pada beberapa waktu Anda mungkin bertemu dengan beberapa orang percaya yang kasar, menyinggung, yang tidak dewasa dalam tubuh Kristus. Mereka membutuhkan orang seperti Anda untuk menunjukkan kepada mereka kasih dan kesabaran (sehingga mereka akan bertumbuh), dan Anda membutuhkan mereka untuk berlatih dan mengembangkan kasih Anda untuk saudara-saudara. Ketika Anda dapat tetap mengasihi dan setia, bahkan jika saudara-saudara itu mengatakan hal-hal negatif tentang Anda, mengecewakan Anda, atau melakukan hal-hal yang menyinggung, kasih Anda sedang disempurnakan - Anda akan bertumbuh sebagai seorang Kristen dan menjadi lebih seperti Kristus!

Menolak Persekutuan Menjauhkan Anda dari Allah

Berapa banyak kasih yang Anda miliki untuk saudara-saudara Anda? Alkitab mengatakan bahwa kita seharusnya siap untuk menyerahkan hidup kita untuk saudara-saudara kita. Namun, apakah Anda kira Anda benar-benar akan menyerahkan hidup Anda bagi mereka jika Anda tidak bersedia, bahkan untuk datang bersama-sama dengan mereka beberapa kali seminggu untuk ibadah? "Dengan ini kita tahu kasih Kristus, yaitu Ia telah menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. Dan kita juga harus menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara "(1 Yohanes 3:16).

Yesus menyatakan bahwa kita harus berkomitmen untuk mengasihi saudara-saudara dengan cara yang sama seperti Dia. Dia menyatakan bahwa kasih kepada saudara-saudara ini adalah bukti yang diperlukan untuk membuktikan keaslian kita sebagai orang Kristen kepada dunia. "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu mengasihi satu sama lain; seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. "Dengan ini semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jika kamumengasihi satu sama lain" (Yohanes 13: 34-35).

Adalah penting bagi setiap orang percaya untuk menjadi bagian yang aktif dari persekutuan Kristen. Penolakan yang sengaja terhadap persekutuan adalah bukti tidak hidup dalam terang. Seorang pengkhotbah yang terkenal pernah berkata "tunjukkan seorang Kristen yang mengaku jarang menghadiri Gereja, dan saya akan menunjukkan orang murtad yang hatinya perlu dibenarkan di hadapan Allah."

Sepanjang Perjanjian Baru, Yesus menunjukkan kepada kita bahwa Dia menganggap penting, bagaimana kita berhubungan dengan tubuh-Nya. Kasih, ekspresi kebaikan, dan pelayanan kita kepada salah satu saudara-saudara kita di dalam Kristus diterima seolah-olah hal tersebut dilakukan untuk Tuhan, diri-Nya. "... segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25:40). Oleh karena itu, akankah kita menolak untuk berkumpul dengan Yesus ketika kesempatan diberikan? Jika kita menolak untuk berkumpul dengan saudara-saudara kita, kita telah, pada kenyataannya, menolak untuk berkumpul dengan Yesus. "Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka" (Matius 18:20).

Persekutuan dengan tubuh Kristus bukan hanya sebuah pilihan, tapi sangat penting bagi kelangsungan hidup kita sebagai orang Kristen. Kita perlu pemberitaan dan pengajaran dari Firman Allah, suasana ibadah dan pujian, dorongan yang kita dapatkan dari saudara-saudara kita, peluang pelayanan Kristen, dan kita memerlukan kesempatan untuk mempraktikkan kasih kepada orang-orang Kristen lainnya.

Terlibatlah dan tetaplah setia dalam persekutuan dengan tubuh Kristus! Jangan lari jika sesuatu mengecewakan Anda atau perasaan Anda terluka - itu hanya menunjukkan ketidakdewasaan dan menempatkan Anda dalam bahaya lebih lanjut dari kehilangan akan Allah.

Jika Anda mengasingkan diri dari persekutuan, Anda akan membatasi aliran darah yang memberi kehidupan dari tubuh Kristus, dan akan mundur menyusuri jalan yang menjauh dari Allah.

Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan pekerjaan baik, tidak menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat. Karena jika kita berbuat dosa dengan sengaja setelah menerima pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu "(Ibr.10: 24-26).
(t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Victorious.org Alamat URL : http://www.victorious.org/pub/need-fellowship-103 Judul asli artikel : Why Christians Need Fellowship Penulis artikel : Dale A. Robbins Tanggal akses : 7 September 2016

Tujuh Tip untuk Mengajar Anak Anda Mencintai dan Menggunakan Alkitab

Jum, 21/07/2017 - 08:32
edisi - 166 Mendidik Anak Cinta Alkitab

Kendala terbesar Anda sebagai orangtua dalam membantu anak-anak Anda mencintai dan menggunakan Alkitab bukanlah televisi atau internet. Kegigihan Anda yang tak tergoyahkan itulah yang akan membuat perbedaan terbesar. Dalam era internet, perjalanan tim olahraga, dan televisi, orangtua harus membuat lebih banyak usaha untuk menjalin Kitab Suci ke dalam kehidupan sehari-hari keluarga mereka. Tip-tip berikut akan membuat Anda berada di jalur yang benar.

1. Akui Ketergantungan Anda pada Allah untuk Terus Menindaklanjuti

Kepada TUHAN, hai suku-suku bangsa, kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan! (Mazmur 96:7)

Semua niatan terbaik di dunia tidak akan meyakinkan anak-anak Anda untuk mencintai dan menggunakan Alkitab. Ada banyak alasan baik yang akan bertumbuh menjadi kendala utama, yang akan menghalangi Anda untuk secara konsisten berelasi dengan Kitab Suci di dalam keluarga Anda. Sebelum Anda memulai perjalanan hidup ini, berdoalah dan mintalah kepada Tuhan untuk hikmat, kekuatan, dan kearifan demi mewujudkannya.

2. Praktikkan Apa yang Anda Ajarkan tentang Alkitab

Jadilah pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; jika tidak, kamu menipu diri sendiri. (Yakobus 1:22, AYT)

Anak-anak yang telah belajar untuk mencintai dan mempraktikkan kebenaran Alkitab mempunyai orangtua yang telah menjadi teladan terlebih dahulu. Donald Miller menuliskannya dengan baik, "Apa yang saya katakan saya percayai bukanlah apa yang saya percayai; Apa yang saya percayai adalah apa yang saya lakukan." Luangkan waktu untuk merefleksikan hidup Anda, selama setahun terakhir, dan selama beberapa hari terakhir -- di manakah Alkitab menjadi hidup dalam perkataan, sikap, atau tindakan Anda, terutama di dalam keluarga? Usahakanlah dengan sungguh-sungguh untuk menghidupi apa yang Anda percayai tentang firman Allah.

3. Masukkan Kebenaran Alkitab ke Dalam Kehidupan Sehari-Hari Anda

haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. (Ulangan 6:7)

Ketika anak-anak bertumbuh, terutama dari masa bayi ke usia-usia balita, orangtua memiliki kesempatan yang luar biasa untuk membuat firman Tuhan menjadi hidup. Mempelajari ilustrasi teks Alkitab dengan ilustrasi yang berwarna-warni akan memberi mereka visualisasi tentang Allah dan kebenaran-Nya yang akan tetap terpatri dalam hati mereka sepanjang sisa hidup mereka. Saat mereka tumbuh dewasa, tetaplah praktikkan kebenaran firman Tuhan yang sama ketika waktu makan, liburan, pertemuan anggota gereja, dan reuni.

4. Membuat Ayat Hafalan Menjadi Menyenangkan

Kamu harus bersukaria di hadapan TUHAN, Allahmu, kamu ini, anakmu laki-laki dan anakmu perempuan. (Ulangan 12:12)

Ada banyak cara untuk melibatkan anak-anak Anda dengan ajaran Alkitab: membuat sebuah teka-teki silang atau kata pencarian dengan ayat hafalan minggu ini, atau menulis sebuah ayat Alkitab di sebuah papan tulis putih dan setiap hari menghapus satu kata sampai seluruh ayat habis -- sesudah itu, suruhlah salah satu dari anak-anak Anda untuk menulis ayat Alkitab itu secara utuh. Berikan hadiah yang unik bagi mereka yang melakukannya -- pastikan bahwa ibu/ayah juga mendapat tantangan yang sama -- mungkin dengan lebih banyak ayat untuk dihafal.

5. Manfaatkan Alkitab sebagai Sumber untuk Memecahkan Masalah Kehidupan

Semua Kitab Suci dinapasi oleh Allah dan bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan, dan untuk mendidik dalam kebenaran. Dengan demikian, manusia milik Allah akan cakap dan diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik. (2 Timotius 3:16-17, AYT)

Kata-kata Kitab Suci bisa menjadi semacam obat yang menenangkan dan menyegarkan selama masa-masa sulit di depan.

Membesarkan anak-anak Anda dalam keluarga Kristen menjadikan mereka semakin menjadi target godaan kedagingan, dunia, dan Iblis. Mereka akan ditantang dalam apa yang mereka percayai di sekolah, di lingkungan, dan bahkan di gereja. Selalu arahkan perhatian mereka kepada pengungkapan dari Alkitab. Jadilah bijaksana dan cerdas sehingga Alkitab tidak menjadi tongkat untuk dipukulkan di atas kepala mereka. Sebaliknya, kata-kata Kitab Suci bisa menjadi semacam obat yang menenangkan dan menyegarkan selama masa-masa sulit di depan.

6. Buat Tema Alkitab Tahunan/Bulanan untuk Keluarga Anda

dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu. (Ulangan 6:9)

Desember adalah bulan yang baik untuk mencari arahan Allah untuk tahun mendatang. Dalam doa dan puasa, temukan firman yang benar-benar berbicara kepada hati Anda untuk keluarga Anda. Pada hari pertama tahun ini, pasanglah firman ini di tempat yang semua orang bisa melihatnya dan jadikan itu sebagai tema firman Tuhan bagi keluarga Anda untuk tahun ini. Setelah Januari, tantanglah (dengan cara yang menyenangkan) keluarga Anda untuk melakukan studi Alkitab bulanan atau mingguan yang berasal dari tema tahunan Anda.

7. Mendorong Anak-Anak Anda untuk Membacakan Alkitab

siapa yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah. (1 Petrus 4:11, AYT)

Ini bukanlah pola sekolah minggu dengan berdiri dan membaca di depan kelompok -- meskipun hal ini baik untuk dilakukan sesekali. Akan lebih baik bila pembacaan ini dilakukan di meja makan atau di dalam mobil saat Anda membicarakan tentang kejadian di seluruh dunia, di sekolah mereka, dan/atau di sekitar lingkungan rumah, atau gereja. Tanyakan kepada mereka apa yang Alkitab ajarkan tentang bagaimana menangani situasi sulit dan biarkan anak-anak Anda mengulangi kembali firman Allah yang telah mereka pelajari kepada Anda.

Suruhlah bangsa itu berkumpul kepada-Ku, maka Aku akan memberi mereka mendengar segala perkataan-Ku, sehingga mereka takut kepada-Ku selama mereka hidup di muka bumi dan mengajarkan demikian kepada anak-anak mereka. (Ulangan 4:10)

Adalah mungkin bagi anak-anak dalam usia berapa pun untuk mencintai dan menggunakan Alkitab; Namun, ada tantangan bagi setiap keluarga. Tip yang paling penting adalah bahwa Anda, sebagai orangtua, tetap menjaga hubungan Anda dekat dengan Allah untuk mencari hikmat-Nya tentang cara melakukan perjalanan ini. Ini bukanlah tentang seberapa banyak jumlah firman Tuhan yang mereka ketahui atau seberapa baik mereka dapat membacakannya. Ini adalah tentang satu ayat yang Allah rangkai ke dalam jiwa mereka sehingga bahkan ketika mereka sudah dewasa, hal itu tidak akan pernah berhenti bergema di hati mereka. Jadilah duta Allah untuk memastikan hal ini terjadi seakan itu sangat bergantung kepada Anda dan biarkan Roh Kudus mengerjakan selebihnya. (t/N. Risanti)

Download Audio

Diterjemahkan dari: Nama situs : What Christian Want To Know Alamat situs : http://www.whatchristianswanttoknow.com/7-tips-to-teach-your-children-to-love-and-use-the-bible/ Judul asli artikel : 7 Tips to Teach Your Children to Love and Use the Bible Penulis : Crystal McDowell Tanggal akses : 27 Oktober 2016 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: WAWASAN WANITAkategori: KEHIDUPAN ROHANI

Bawa Anak Anda ke Dalam Alkitab

Jum, 21/07/2017 - 08:31
edisi - 166 Mendidik Anak Cinta Alkitab

Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau. (Mazmur 119:11)

Sebagai seorang anak, pelatihan Alkitab saya terdiri dari doa syukur waktu makan dan doa sebelum tidur. Baru pada saat bergabung dengan kelompok pemuda gereja, saya menemukan banyak inspirasi dan penghiburan yang tersedia bagi saya dalam halaman-halaman firman Tuhan. Saya tahu bahwa ketika saya memiliki anak, saya ingin melakukan sesuatu yang berbeda. Keinginan saya bagi mereka adalah supaya mereka bertumbuh dengan mengetahui tentang mukjizat nyata, para pahlawan iman yang luar biasa, dan tentang kasih Allah bagi dunia yang jatuh -- keinginan yang merupakan mandat Alkitab. Ulangan 11:19 menyatakan, "Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun."

Yesus juga memiliki pandangan yang jelas tentang cara kita melibatkan anak-anak kecil kita. Dalam Matius 19:14, kita membaca, "Biarkanlah anak-anak kecil itu. Jangan menghalangi mereka datang kepada-Ku sebab Kerajaan Surga adalah milik orang-orang yang seperti anak-anak kecil ini."

Meskipun saya memutuskan untuk mendidik anak-anak saya dalam Kitab Suci, saya tidak yakin bagaimana saya akan memulainya. Saya kemudian menemukan tentang ketersediaan berbagai sumber bahan melalui sebuah gereja. Dimulai dengan Alkitab balita, saya berusaha mengembangkan Alkitab anak-anak yang saya temukan di toko buku Kristen lokal saya, tempat saya juga memperoleh persediaan audio dan video yang terkait.

Precept Ministries menjangkau lebih dari 80 juta orang di 150 negara dalam 70 bahasa setiap hari untuk tujuan tunggal, yaitu membangun orang-orang dalam firman Allah. Saat ini, pelayanan yang berkembang ini menyediakan alat lain untuk studi Alkitab. Mereka menerbitkan program studi 17 buku untuk anak-anak yang disebut, Discover 4 Yourself (Temukan Sendiri). Setiap buku dilanjutkan dengan komitmen untuk studi induktif dan telah menemukan cara-cara kreatif untuk menjangkau para penggemar Dora the Explorer dan Spiderman yang sangat menginginkan petualangan.

Misalnya, dalam buku Boy, Have I Got Problems para pembaca mengambil peran sebagai seorang kolumnis pemberi saran, yang mendidik orang lain tentang cara mengatasi masalah anak yang umum dengan mengandalkan wawasan yang bermanfaat dari kitab Yakobus. Semua buku memberikan banyak teka-teki, permainan, dan aktivitas menyenangkan yang dirancang untuk anak-anak usia 9-12 tahun. Melalui sumber daya ini, saya bisa membukakan firman kepada anak-anak saya setiap hari di samping mengajak mereka ke gereja.

Pada masa lalu, saya telah jatuh ke dalam perangkap untuk memercayai bahwa saya perlu memaksa anak-anak saya untuk menjadi orang Kristen. Menurut Kay Arthur, rekanan-pendiri Precept Ministries, saya tidak sendirian dalam kebingungan saya: "Orangtua diberitahukan bahwa jika Anda tidak berhasil menjadikan seorang anak ketika dia masih kecil dan 'membuat' dia menjadi seorang Kristen, Anda akan kehilangan dirinya dan dia tidak akan diselamatkan. Jika ini benar, keselamatan tidak berasal dari Allah. Dan, apa yang terjadi kemudian adalah kita mendorong keselamatan dan membawa anak-anak ke dalam keamanan yang palsu, dan mengatakan kepada mereka bahwa mereka diselamatkan karena mereka menaikkan sebuah doa. Namun, mereka tidak diselamatkan."

Di tengah-tengah begitu banyaknya tanggung jawab, amat menggoda bagi para ibu dan ayah untuk percaya bahwa keselamatan anak-anak kita terletak dalam ranah kewajiban kita. Saya telah mendapati bahwa tanggung jawab kita adalah untuk mengajarkan mereka tentang bagaimana cara melakukan pendekatan pada studi dan interpretasi Alkitab. Roh Kuduslah yang menyelamatkan jiwa, dan meskipun fakta ini tidak membebaskan orangtua dari semua tanggung jawab, itu tentunya meringankan beban.

Haruslah dinyatakan bahwa tugas kita tidak hanya pengajaran alkitabiah, tetapi juga peneladanan peran. Melatih anak-anak saya bukan hanya tentang mengajar mereka tentang firman Allah, melainkan juga tentang menunjukkan kehidupan Kristen tepat di sini, di rumah. Ini melibatkan keinginan dari diri saya setiap hari pada tugas untuk menghidupi iman saya serta kesediaan untuk meminta maaf kepada Allah dan kepada anak-anak saya ketika saya gagal. Ada hari-hari baik dan hari-hari buruk, tetapi semua hari berakhir dengan saling memaafkan dan bergerak maju dengan anugerah dari Allah kita.

Pada suatu hari, saya bertanya-tanya apakah semua upaya pengajaran saya berguna. Apakah mereka benar-benar mengerti? Apakah saya melakukannya dengan benar? Ketika putra saya datang kepada saya setelah menyelesaikan satu pelajaran Alkitab kami dan berkata, "Allah sangat menyenangkan!" saya tahu bahwa itu adalah indikasi yang baik bahwa saya berada di jalur yang benar. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari: Nama situs : Focus on The Family Alamat situs : http://www.focusonthefamily.com/parenting/spiritual-growth-for-kids/draw-your-children-into-the-bible/draw-your-children-into-the-bible Judul asli artikel : Draw Your Children Into the Bible Penulis artikel : Lynne Thompson Tanggal akses : 27 Oktober 2016 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: DUNIA WANITAkategori: KEHIDUPAN ROHANI

Tinggalkan Komentar