RSS Wanita

Subscribe to RSS Wanita feed
Updated: 7 hours 22 min ago

Mengapa Kita Mendidik Anak-Anak Perempuan kita

Jum, 29/03/2019 - 15:55
disi - 187 Pendidikan bagi Anak Perempuan

Pada 14 April 2014, kelompok teroris Islam yang disebut Boko Haram menculik lebih dari 270 anak perempuan, sebagian besar berusia antara enam belas dan delapan belas tahun, dari Sekolah Menengah Gadis Chibok Government di timur laut Nigeria.

Boko Haram berarti "Pendidikan Barat adalah berdosa". Sebagian dari motivasi di balik serangan itu adalah keyakinan mereka bahwa adalah hal yang penuh dosa bagi para gadis untuk sepenuhnya dididik secara formal. Mendidik anak perempuan adalah upaya Barat untuk merusak pandangan Islam tentang keluarga.

Pemimpin Boko Haram, Abubakar Shekau, berkata dalam sebuah rekaman, "Pendidikan Barat harus berakhir .... Para gadis, kalian harus pergi dan menikah." Dia memperingatkan bahwa dia akan membuat mereka menikah karena mereka adalah budak kami. Kami akan menikahi mereka pada usia sembilan tahun. Kami akan menikahi mereka pada usia dua belas."

Sementara kami melakukan advokasi dengan upaya kuat untuk pengembalian gadis-gadis muda tersebut, dan sementara kita berdoa bagi mereka dan para penculik mereka yang jahat, sangatlah tepat untuk mengingatkan diri kita mengapa kita sebagai orang Kristen mendorong para gadis dan remaja putri kita untuk mendapatkan pendidikan penuh. Yang saya maksud dengan "penuh" akan menjadi jelas.

1. Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan menurut gambar-Nya.

"Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka." (Kejadian 1:27) Kapasitas manusia yang unik untuk mengenal Allah dan mencintai Allah adalah milik para pria dan wanita.

Kapasitas untuk mengetahui bahwa dunia adalah berasal dari Allah dan melalui Allah dan untuk Allah, adalah milik para pria dan wanita. Kapasitas untuk menikmati semua hal yang baik, berdasarkan ucapan syukur kepada Allah dan untuk kemuliaan Allah, adalah milik para pria dan wanita.

Memaksimalkan kapasitas-kapasitas ini dalam ibadat kepada Allah dan pemanfaatan dunia yang bermanfaat adalah mandat ilahi bagi pria dan wanita. "Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka, 'Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah.'" (Kejadian 1:28).

2. Allah telah mengungkapkan kemuliaan-Nya dalam dunia ciptaan, dan Dia berkehendak agar semua makhluk ciptaan melihat keajaiban-Nya dan memberi-Nya pujian.

Salah satu tujuan utama pendidikan adalah untuk menanamkan kebiasaan berpikir yang dapat melihat cakupan terluas keajaiban Allah di dalam dunia yang telah Dia ciptakan (Mazmur 19:1; 104:24). Pujian dari para wanita akan meningkat seiring dengan kemampuan mereka untuk melihat dan memahami karya-karya indah Allah di dunia (Mazmur 105:2).

3. Allah telah menyatakan diri-Nya secara lebih lengkap dalam firman Allah yang dinapasi-Nya dibandingkan pernyataan-Nya dalam dunia ciptaan.

Fakta bahwa Allah mengungkapkan diri-Nya dalam sebuah buku adalah kenyataan besar dengan implikasi untuk pendidikan, mulai dari kelahiran sampai kematian. Semua yang berkeinginan untuk mengenal dan mengasihi Allah sepenuhnya akan berkeinginan untuk belajar membaca buku Allah.

Alkitab adalah buku paling penting di dunia karena itu merupakan pernyataan Allah tentang apa yang perlu diketahui manusia untuk keselamatan dan keberhasilan, yang tidak dapat kita temukan dengan cara lain. Dari dalamnyalah, Allah dapat benar-benar dikenal, dan sepenuhnya dikasihi. Pendidikan adalah proses menanamkan kebiasaan dan keterampilan membaca yang memungkinkan manusia untuk mengenal Allah dan mencintai Allah semaksimal mungkin.

Allah menghendaki para wanita untuk mengenal-Nya dan mengasihi-Nya sepenuh mungkin. Dia menghendaki agar mereka berkomunikasi dengan-Nya secara langsung -- sebagai anak perempuan kepada Bapa -- melalui perjumpaan mereka dengan Alkitab. Wanita adalah sesama pewaris dari anugerah kehidupan (1 Petrus 3:7) dan tidak terbatas dalam aksesnya kepada Bapa atau firman-Nya.

"Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu" (Matius 22:37) bukanlah perintah yang diberikan hanya kepada kaum laki-laki. Perempuan akan menahan diri untuk mengetahui dan mengasihi Allah sebisa mungkin, jika mereka menahan diri dari membentuk kebiasaan dan keterampilan membaca -- bukan hanya keterampilan pembaca kelas tiga, tetapi keterampilan untuk memahami kekayaan penuh dari pewahyuan alkitabiah mengenai pekerjaan agung Anak Allah dalam kehidupan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Ini adalah karya pendidikan yang hebat.

4. Semua peran yang ke dalamnya Allah memimpin wanita agar memiliki pola pikir yang dimaksudkan oleh pendidikan untuk berkembang.

Ini termasuk kebiasaan:

  • mengamati semua hal secara akurat dan menyeluruh,
  • memahami dengan jelas apa yang diamatinya,
  • mengevaluasi secara adil dalam penegasan tentang apa yang benar,
  • merasakan kesesuaian berdasarkan nilai dari apa yang telah dievaluasinya,
  • menerapkan secara bijaksana dan bermanfaat ke dalam hidup dari apa yang telah dia mengerti dan rasakan,
  • dan mengekspresikan dalam pidato serta tulisan serta melakukan apa yang telah dilihat, dipahami, dirasakan, dan diterapkan, sedemikian rupa sehingga keakuratan, kejelasan, kebenaran, nilai, dan bantuannya dapat diketahui dan dinikmati oleh orang lain.

Apakah dia adalah seorang pelayan gereja, pemerhati global, memiliki kesadaran politik, tetangga, dan ibu rumah tangga penuh waktu, atau seorang rekan bersama suaminya dalam penyedia nafkah, atau wanita karier yang belum menikah, atau peran lainnya, panggilan Allah dalam hidupnya adalah untuk:

Ini adalah tujuan dari pendidikan penuh. Ini adalah tujuan dari pemuridan Kristen. Ini adalah tujuan dari kewanitaan yang meninggikan Kristus. Tanpa hal-hal tersebut, pengetahuan kita tentang Kristus, dunia-Nya, keselamatan-Nya, hidup-Nya dalam sejarah, dan jalan ketaatan kita akan terus menjadi tidak dewasa. Allah tidak memanggil anak-anaknya, para pria atau wanita, ke dalam ketidakmatangan. Oleh karena itu, Dia memanggil mereka semua untuk mendapatkan pendidikan secara penuh. (t/N. Risanti)

Download Audio

Diterjemahkan dari: Nama situs : desiringGod.org Alamat situs : https://www.desiringgod.org/articles/why-we-educate-our-girls Judul asli artikel : Why We Educate Our Girls Penulis artikel : John Piper Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: DUNIA WANITAkategori: PENGASUH ANAK

Apakah Anda Mengejar Kebahagiaan atau Kekudusan?

Sen, 04/03/2019 - 15:18

Pertanyaan seperti itu sebetulnya memperlihatkan kesalahan umum, yaitu mengadu kekudusan dan kebahagiaan antara satu dengan yang lain. "Allah lebih tertarik agar Anda menjadi kudus daripada bahagia," begitu disebutkan dalam kata-katanya.

Salah satu teolog favorit terpengaruh dengan dikotomi tidak kentara ini dalam sebuah buku yang akan dikeluarkan tahun depan. Secara umum ini adalah buku yang bagus sekali (dengan banyak hal untuk dipuji nanti), tetapi di sini saya ingin membuat perubahan yang berguna ke beberapa paragraf dari itu:

Dalam dunia psikologis ini, Allah Maha Pengasih adalah Allah yang mengasihi dengan tepat dan hanya karena Dia menawarkan kepada kita balsam batin. Kosong, gelisah, melantur, dan merasa tidak puas, kita datang kepadanya memohon pertolongan. Penuhilah kami, kita memohon, dengan rasa yang sempurna! Isilah kekosongan kami! Berikan kami petunjuk di tengah simpang siurnya jalan dan banyaknya suara yang bersaing di dunia modern! Isilah kekosongan yang menyakitkan dalam kami!

Beginilah yang dipikirkan oleh banyak orang di gereja hari ini, terutama dalam gereja Injili. Beginilah cara mereka berdoa. Mereka merindukan sesuatu yang lebih nyata dalam diri mereka sendiri daripada apa yang mereka miliki saat ini. Ini juga berlaku pada orang dewasa dan remaja juga. Ya, kita mengatakan dengan sungguh, penuh harap, mungkin bahkan sedikit prihatin, jadilah Allah yang Maha Pengasih bagi kami!

Mereka yang tinggal dalam dunia psikologis ini berpikir berbeda dengan mereka yang tinggal di dunia moral. Dalam dunia psikologis, kita membutuhkan terapi; dalam dunia moral, dunia benar dan salah dan baik dan jahat, kita membutuhkan penebusan. Dalam dunia psikologis, kita ingin bahagia. Dalam dunia moral, kita ingin kudus. Di dunia yang satu, kita ingin merasa baik, tetapi di dunia yang satunya kita ingin jadi baik.

Allah berdiri di hadapan kita bukan sebagai Terapis atau Pengasuh. Dia berdiri di hadapan kita sebagai Allah yang benar-benar murni, yang kepada Dia kita bertanggung jawab secara moral. Dia objektif terhadap kita dan tidak kendur dalam kabut rasa dunia batiniah kita. Firman-Nya datang kepada kita dari luar diri kita karena itu adalah firman kebenaran-Nya. Itu memanggil kita untuk berdiri di hadapan Allah semesta alam, untuk mendengar perintah-Nya, yaitu kita harus mengasihi Dia dan mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Dia ada di hadapan kita bukan untuk dimanfaatkan oleh kita. Dia ada di sana bukan memohon untuk masuk ke dunia batiniah kita dan memuaskan kebutuhan terapi kita. Kita ada di hadapan-Nya untuk mendengar perintah-Nya. Dan, perintah-Nya adalah kita harus kudus, yang adalah hal yang jauh lebih besar daripada bahagia.

Benar bahwa ada manfaat psikologis dalam mengikut Kristus, dan kebahagiaan mungkin adalah hasilnya. Meskipun demikian, ini bukanlah hal mendasar mengenai apa iman Kristen itu. Ini adalah tentang Allah yang lain daripada diri kita sendiri, Dia adalah Allah yang kekal dan murah hati.

Nah, sangatlah tepat untuk menolak definisi kebahagiaan secara budaya (seperti materialisme yang berpusat pada konsumen, kebebasan seks, dan berpusat pada diri sendiri dalam segala bentuknya). Dan, sangat benar untuk menolak pemahaman bahwa kekudusan adalah bukan hal mendasar dalam kehidupan Kristen. Dan, sangatlah benar untuk menentang pemahaman bahwa Allah tidak lebih daripada seorang Santa Claus yang memenuhi kebutuhan yang kita rasakan. Keberadaan diri Allah adalah di luar kita. Dia adalah Pencipta yang seutuhnya murni, yang kepada Dia semua ciptaan akan memberi pertanggungjawaban.

Akan tetapi, dengan menjauhkan kekudusan dari kebahagiaan, kita menciptakan dikotomi yang salah.

Bahagia atau Kudus?

Saat ragu-ragu, pandanglah Redwood gereja, Puritan. Dua hal khususnya bisa membantu kita menanggapi upaya zaman ini untuk memisahkan kebahagiaan dari kekudusan dengan begitu jelas. Misalnya, Thomas Brooks (1608 -- 1680) mengarang buku 450 halaman dengan judul yang mengena: The Crown and Glory of Christianity: Or, Holiness, The Only Way To Happiness (1662). Itu adalah sebuah pembelaan besar-besaran terhadap tidak berhubungannya kebahagiaan manusia dan kekudusan yang terus-menerus terjadi, poin demi subpoin, untuk menjadikan kasus itu jelas tidak terbantahkan dari Kitab Suci.

"Kekudusan tidak beda dengan kebahagiaan, tetapi hanya lain sebutan," Brook dengan berani menulis di awal bukunya. "Kekudusan adalah kebahagiaan dalam kuncup, dan kebahagiaan adalah kekudusan yang mekar. Kebahagiaan tidak lain adalah contoh murni kekudusan." Di akhir bukunya, dia mengulangi pertanyaan poin, "Sebuah kepenuhan kekudusan yang mutlak akan menjadikan kepenuhan kebahagiaan yang mutlak. Ketika kekudusan kita sempurna, kebahagiaan kita akan sempurna; dan jika ini bisa dicapai di bumi, akan ada sedikit alasan bagi manusia untuk mendambakan berada di surga."

Atau, kita bisa memuji Matthew Henry yang hebat (1662 -- 1714), ahli Alkitab yang terkenal yang melihat hal yang sama. "Hanya mereka yang bahagia, benar-benar bahagia, adalah yang kudus, benar-benar kudus," tulisnya tentang Mazmur 1:1-3, dia bahkan menulis "kebaikan dan kekudusan bukan hanya jalan menuju kebahagiaan, tetapi adalah kebahagiaan itu sendiri."

Orang-orang Puritan mengetahui ini dengan baik. Kebahagiaan sejati pada dasarnya bukan hasil kebetulan dari kekudusan. Kebahagiaan sejati adalah kekudusan sejati.

Baru-baru ini, John Piper menghubungkan poin itu dengan penyesuaian yang bahkan lebih bagus dalam Ask Pastor John podcast (episode 13): "Kebahagiaan adalah bagian dari kekudusan," katanya. "Jika Anda berusaha untuk menjelaskan kepada saya apa artinya menjadi orang yang kudus, dengan meninggalkan kebahagiaan dalam Allah, Anda tidak bisa melakukan itu. Tidak ada kekudusan minus kebahagiaan dalam Allah. Kebahagiaan dalam Allah adalah -- saya akan ambil risiko -- esensi dari kekudusan."

Namun, apakah Kitab Suci mendukung pernyataan seperti itu tentang betapa eratnya kekudusan terjalin dengan kebahagiaan?

Kekudusan Bahagia yang Sejati

Mazmur dengan luar biasa menjelaskan di sini. Pemazmur sering menulis diberkatilah -- dan dengan diberkatilah, itu mengartikan mereka yang benar-benar bahagia. Jadi, siapa yang diberkati, yang benar-benar bahagia?

Yang benar-benar bahagia adalah mereka yang, sebagian, benar-benar kudus, dan ini adalah tema yang dibawa di seluruh Mazmur di tempat-tempat seperti Mazmur 1:1-2; 19:8; 32:8-11; 34:8-14; 40:4; 106:3; 112:1; 119:1-2, 22-24, 69-70, 143-144; 128:1-6.

Akan tetapi, bukan saja kekudusan dan kebahagiaan (atau diberkati) digabungkan dalam Mazmur; mereka dikaitkan bersama dalam Amsal, dan sangat erat dikaitkan oleh Yesus dalam Ucapan Bahagia-Nya (Matius 5:2-12).

Dan, setiap kemungkinan sebelumnya tentang mendapatkan kekudusan bahagia sejati adalah kenyataan yang sangat besar bahwa dosa kita pastilah permanen dan selamanya dihilangkan di hadapan Allah yang kudus. Kenyataan yang indah tentang pembenaran dalam Kristus, hanya oleh iman, menjembatani kekudusan bahagia dari Pemazmur dan pengampunan kita dalam Kristus, hanya oleh iman (Mazmur 32:1-2; Roma 4:7-8).

Betapa pun tidak sempurnanya, orang Kristen mencicipi kekudusan bahagia saat kita tinggal dalam kesatuan dengan Kristus. Dalam Dia, kita mendapatkan koneksi organik yang tidak terpisahkan antara ketaatan dan sukacita kita, antara pengejaran kita akan kekudusan yang sejati dengan pengalaman kita akan kebahagiaan yang sejati (Yohanes 15:1-17).

Allah yang Kudus-Bahagia

Jadi, dalam inti keberadaan kita, kita tidak mau bahagia atau kudus. Kita ingin bahagia kudus, seperti Allah. Allah adalah sumber sukacita dan kesukaan; Dia adalah Allah yang bahagia, puas dengan kesukaan diri-Nya sendiri yang kekal, dan kebahagiaan ini adalah bagian dari kemuliaan-Nya (1 Timotius 1:11). Dan, Allah kita yang mulia, pada saat yang bersamaan, adalah kobaran mengagumkan dari kekudusan yang tidak tercemar, ditentang oleh semua kebejatan manusia (1 Timotius 1:8-10).

Karena itu, apa yang telah disatukan oleh Allah, jangan dipisahkan oleh teolog.

Pilihan yang Kita Hadapi Hari Ini

Kenyataannya, pengejaran kita untuk kebahagiaan digerakkan oleh keinginan utama, sebuah keinginan yang sama kunonya dengan laki-laki dan perempuan pertama, sebuah keinginan yang sudah ada lebih dahulu sebelum postmodernisme, modernisme, pencerahan, dan Freud.

Sama seperti generasi sebelumnya, kita menghadapi pilihan kuno yang sama, dan itu bukanlah pilihan antara kebahagiaan dan kekudusan, tetapi antara dua pengejaran kebahagiaan yang berbeda (yang satu jahat, yang satunya kudus).

Pengejaran 1 adalah pengejaran kebahagiaan yang dijanjikan oleh rasa aman dan kenyamanan dan berhala palsu dunia kita, tetapi ternyata merupakan kebohongan palsu yang mendukakan.

Pengejaran 2 adalah kebahagiaan sejati yang ada dalam Allah, kesukaan sejati dalam Dia, harta kekal, dan tidak berakhir akan kemuliaan dan kekudusan-Nya di atas segala yang lain.

Jadi, di situlah kuncinya. Peperangan untuk kebahagiaan kudus yang benar ini adalah peperangan rohani setiap hari agar iman memilih kebahagiaan yang benar.

Kembali ke episode podcast yang sama, Piper dengan baik menyimpulkan peperangan-iman setiap hari akan kekudusan-bahagia: "Ketika kita mengatakan Allah paling dimuliakan dalam Anda ketika Anda paling puas dalam Dia, maka kita mengatakan esensi peperangan dari kekudusan, atau pengudusan, adalah peperangan untuk menjadi puas dalam Allah."

Pernyataan itu mengandung kebenaran yang sangat penting yang patut direnungkan secara mendalam. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari: Nama situs : desiringGod.org Alamat situs : http://www.desiringgod.org/articles/are-you-chasing-happiness-or-holiness Judul asli artikel : Are You Chasing Happiness or Holiness? Penulis artikel : Tony Reinke

Hancurkan Hatiku Tuhan

Sen, 04/03/2019 - 15:17

"Mataku sembap karena air mata, dan batinku bergejolak. Hatiku ditumpahkan ke tanah karena kehancuran putri bangsaku." (Ratapan 2:11)

"Mataku mendukakan jiwaku karena semua putri di kotaku." (Ratapan 3:51)

Pernahkah Anda mengalami firman Allah menyerang hati nurani Anda? Saya pernah. Ketika pertama kali saya datang ke Amerika, saya tidak mau terlibat dengan pelayanan wanita di gereja. Saya terutama tidak menyukai kaum wanita dan lebih memilih untuk melayani remaja. Akan tetapi, Allah tidak membiarkan kita memilih untuk melayani mereka yang paling kita sukai! Dia ingin saya melayani kaum wanita.

Saya dengan enggan menjawab sebuah undangan untuk pergi ke Memphis, Tennessee, dan berbicara dalam acara retret kaum wanita. Saya tidak punya alasan lain untuk pergi selain bahwa Stuart tahu tentang pekerjaan itu dan mendorong saya untuk pergi.

Seorang wanita mengesankan yang suka bekerja bersama kaum wanita memimpin acara retretnya. Celaka, pikir saya, mengamati dia dengan sembunyi-sembunyi. Dia akan mengetahui bahwa saya tidak ingin ada di sini. Saya benar. Dia tahu karena sikap saya menunjukkannya. Sikap buruk itu selalu mengintip di bawah perilaku kita seperti rok dalam yang ada di bawah gaun. Dia berbicara kepada saya di akhir konferensi. "Anda seorang pembicara yang baik secara teknis, Jill, tetapi jelas Anda tidak menyukai wanita!"

"Aduh!" jawab saya. "Anda benar, dan lagi saya tidak ingin menyukai mereka karena jika ya, saya takut Allah akan memberi saya lebih banyak wanita untuk saya sukai!"

Saya benar-benar terganggu dengan kejadian itu. Ketika saya pulang ke rumah, saya menggunakan waktu sendirian dengan Allah dan memberanikan diri memohon agar Dia berbicara kepada saya dari firman-Nya tentang hal ini. Sebuah ayat dari Ratapan "datang ke" atau "terjadi pada" saya malam itu: "Mataku terasa pedih oleh sebab keadaan puteri-puteri kotaku," ratap Yeremia (Ratapan 3:51). Ada seorang laki-laki yang meratapi para wanita, sementara wanita ini, saya, tidak peduli dengan sesamanya. Hati Yeremia hancur untuk putri-putri Yerusalem dan keadaan mereka yang suram. Hati saya tidak. Akan tetapi, saya bisa mempersilakan Allah untuk mengambil palu firman-Nya dan menghancurkan hati saya juga. Dan, itulah tepatnya yang saya lakukan malam itu!

Kelegaan malam itu jelas. Mulai dengan enam wanita di sebuah rumah mempelajari Alkitab dengan menyelidikinya, Allah memberi saya hati untuk wanita yang kemudian menjangkau ribuan wanita di seluruh dunia dengan firman-Nya.

Semua yang Dia inginkan dari Anda dan saya adalah mengatakan, "Hancurkan hatiku, Allah," dan Dia akan melakukannya. Dia akan memakai palu firman-Nya ke landasan hidup Anda, dan Anda akan mengalami sendiri apa yang dialami oleh Yeremia.

Jika firman Allah tinggal dengan kaya dalam kita, kita akan hidup dan bekerja dengan hati yang hancur -- dan itu akan terlihat.

Tuhan, hancurkan hati saya untuk hal-hal yang membuat hati-Mu hancur. Ampuni saya yang terkadang pemilih dan tidak mempersilakan Engkau memilih siapa yang seharusnya saya kasihi, layani. Saya bisa begitu picik dan melewatkan beberapa berkat terbesar sebagai akibatnya. Pakailah firman-Mu seperti palu dalam hidup saya untuk menggerakkan saya kepada kehendak dan tujuan-Mu yang sempurna. Saya ingin firman-Mu tinggal tetap dan mendalam di hidup saya sehingga saya selalu selaras dengan Roh Kudus-Mu. Berikan kepada saya kasih sayang untuk orang-orang di sekitar saya, terutama mereka yang mungkin tidak saya sukai. Amin. (t/Jing-Jing)

Download Audio

Diterjemahkan dari: Nama situs : Just Between Us.org Alamat situs : https://justbetweenus.org/faith/devotions/break-my-heart-god/ Judul asli artikel : Break My Heart Lord Penulis artikel : Jill Briscoe

Pergi dan Beritakan: Peran Perempuan dalam Pelayanan

Kam, 17/01/2019 - 16:48
edisi - Natal

Anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat.

Melayani sebagai juru bicara Tuhan, Nabi Yoel dengan gembira menyatakan, “Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia. Anak-anakmu laki-laki dan anak-anakmu perempuan akan bernubuat, orang-orang tua akan mendapat mimpi, pemuda-pemuda akan mendapat penglihatan. Bahkan, kepada para hamba laki-laki dan kepada hamba perempuan, Aku akan mencurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu.” (Yoel 2:28-29). Melalui Yoel, Tuhan meramalkan panggilan-Nya atas laki-laki dan perempuan yang, dengan curahan Roh Kudus, akan menubuatkan berita-Nya sehingga “siapa yang berseru kepada nama TUHAN akan diselamatkan” (Yoel 2:32). Sesungguhnya, nubuat Yoel adalah panggilan penginjilan yang berlaku untuk laki-laki dan perempuan.

Terlepas dari penggenapannya pada hari Pentakosta (Kisah Para Rasul 2:16-21), lebih dari dua ribu tahun yang lalu, banyak orang Kristen yang tetap berhati-hati -- atau bahkan anti -- berkenaan dengan peran perempuan dalam pelayanan. Haruskah seorang perempuan berkhotbah, berdoa bersama dengan laki-laki, atau melakukan peran sebagai pemimpin di sebuah gereja? Mereka yang menjawab “tidak” terhadap pertanyaan-pertanyaan semacam itu sering kali mengutip dua kalimat Paulus ini: “Perempuan harus tetap diam dalam jemaat karena mereka tidak diizinkan untuk berbicara, melainkan harus tunduk sebagaimana Hukum Taurat juga mengatakannya.” (1 Korintus 14:34)

“Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar atau memerintah laki-laki; perempuan harus tetap tenang.” (1 Timotius 2:12)

Kitab Suci menginterpretasikan Kitab Suci.

Tentu saja, ketika dipisahkan, ayat-ayat ini tampak mengganggu bagi mereka yang mendukung pengkhotbah perempuan, atau nubuat Yoel, untuk persoalan tersebut. Akan tetapi, sebagaimana yang diketahui oleh pembaca, kalimat hanya bisa sepenuhnya dipahami jika dibaca dalam konteksnya. Aturan sederhana yang utama adalah Kitab Suci menginterpretasikan Kitab Suci. Dan, dengan mempelajari seluruh Kitab Suci, Anda akan mendapati bahwa Israel, para rasul, dan para penulis kitab Injil, dan Yesus sendiri, semuanya mendukung pandangan bahwa Allah memakai perempuan dengan cara yang luar biasa.

Didukung oleh Israel.

Kitab Hakim-Hakim menceritakan tentang seorang nabi perempuan bernama Debora yang diangkat oleh Allah untuk menjadi hakim dan membebaskan umat-Nya dari Raja Yabin yang jahat. Tidak terlewatkan untuk diperhatikan, Yael, istri Heber, juga memainkan peran yang signifikan dalam kisah itu. Dia membunuh komandan tentara Yabin, Sisera, yang menyelamatkan Israel dari pasukannya. Debora dan Yael, keduanya dipakai oleh Allah dengan luar biasa dalam pembebasan umat-Nya (lihat Hakim-Hakim 4-5).

Budaya Yahudi memperkenalkan wanita yang dipakai oleh Allah.

Karya sastra kuno Ibrani di luar Perjanjian Lama memiliki dongengnya sendiri tentang perempuan yang dipakai oleh Allah dengan luar biasa. Kisah tentang Yudith, meskipun fiktif, adalah dongeng kuno tentang seorang perempuan yang menjadi alat Allah bagi orang-orang yang tertindas. Dia mengecoh musuh-musuh Israel dengan menggunakan kewanitaannya sebagai senjata.

Kisah ini menunjukkan bahwa sebelum kekristenan, perempuan, dari zaman ke zaman, diangkat oleh Allah untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang mengagumkan, dan budaya Yahudi tidak menutup-nutupi kejadian ini, tetapi pada beberapa kesempatan memperkenalkan kejadian-kejadian itu.

Didukung oleh rasul-rasul.

Bertentangan dengan kalimat Paulus dalam surat-suratnya kepada jemaat di Korintus dan kepada Timotius, dia menyebutkan banyak perempuan yang bekerja bersama-sama dengan dirinya. Dalam Pasal 16, pada suratnya kepada jemaat di Roma, dibuka dengan menyerahkan Febe, pelayan jemaat di Kengkrea. Selain itu, dia menyapa Priskila dengan suaminya Akwila, pasangan yang bersama-sama melayani “semua jemaat non-Yahudi”. Maria, dia kemudian menyebutkan, “telah berkerja keras di antara kamu.” Yang terakhir, Yunia (ditunjuk sebagai seorang perempuan oleh bapa-bapa jemaat mula-mula) yang dianggap oleh Paulus sebagai “yang menonjol di antara rasul-rasul”. Tentu saja, Paulus tidak akan memperkenalkan perempuan-perempuan ini sebagai rekan sekerja dan (setidaknya, satu orang) rasul, jika dia tidak ingin menyebutkan mereka dalam pelayanan kepada orang banyak.

Juga disebutkan di surat kedua Yohanes, yang ditujukan kepada “ibu yang dipilih” (dan anak-anaknya) (2 Yohanes 1:1). Beberapa orang percaya bahwa perempuan ini adalah yang menyediakan rumahnya untuk menjadi tempat jemaat berkumpul.

Didukung oleh para penulis kitab-kitab Injil.

Para ahli setuju bahwa surat-surat Paulus ditulis sebelum empat kitab Injil. Dan, karenanya, mungkin adalah benar untuk berasumsi bahwa jika sentimen jemaat mula-mula menentang perempuan dalam pelayanan, ini akan tampak dalam kitab-kitab Injil kemudian. Akan tetapi, para penulis kitab-kitab Injil menceritakan banyak kisah tentang perempuan dalam penginjilan.

Dalam kisah tentang perempuan Samaria di dekat sumur, Yohanes mengatakan bahwa setelah bercakap-cakap dengan Yesus, perempuan itu kembali ke kotanya dan memberitahukan kepada orang-orang tentang Dia. Yohanes memperlihatkan, “Banyak orang Samaria dari kota itu menjadi percaya kepada Dia karena perkataan perempuan itu” (lihat Yohanes 4:1-42). Jelas, perempuan Samaria ini tidak diam!

Dalam catatan Lukas tentang tindakan rasul-rasul, dia mencatat Priskila dan suaminya Akwila menarik ke samping orang Yahudi yang terpelajar itu dan menjelaskan “Jalan Allah dengan lebih tepat” (Kisah Para Rasul 18:26).

Didukung oleh Yesus.

Yang terakhir, dalam kitab Yohanes, Yesus menugaskan Maria Magdalena untuk menjadi juru bicara pertama yang memberi tahu dunia tentang kebangkitan-Nya. Dia, seorang perempuan, menerima tugas khusus dari Yesus untuk “pergi kepada saudara-saudara-Ku dan katakan kepada mereka, ‘Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu’” (Yohanes 20:17). Misi pergi dan beritakan ini signifikan karena itu adalah pertama kalinya dalam kitab Injil Yohanes, Yesus mengatakan Allah sebagai Allah-Ku dan Allahmu. Melalui Maria Magdalena, Yesus mempersonalisasi Allah, menyatakan “kebapaan”-Nya adalah sama bagi semua orang percaya. Sungguh, ini adalah pesan yang baru dan Yesus memercayakan itu kepada seorang perempuan. Yang terakhir, adalah tepat untuk menyebutkan bahwa Maria Magdalena adalah pengikut Yesus yang radikal dan dikenal oleh jemaat mula-mula sebagai “rasulnya rasul-rasul”.

Bagaimana dengan Paulus?

Lalu, bagaimana menanggapi dua pernyataan Paulus dalam surat-suratnya kepada jemaat di Korintus dan kepada Timotius? Setelah melakukan survei pada beberapa referensi tentang perempuan-perempuan Allah yang hebat di seluruh Alkitab, termasuk yang disebutkan oleh Paulus sendiri, jelas bahwa dia tidak bermaksud agar perempuan tidak boleh menjadi pemimpin atau tidak boleh berkhotbah. Kita harus ingat bahwa surat-surat Paulus ditujukan kepada jemaat-jemaat dan orang-orang tertentu, pada waktu yang khusus, untuk alasan yang khusus. Dalam hal ini, Paulus tampaknya berbicara kepada perempuan yang tidak tertib, berisik, dan mengganggu di dalam gereja. Dikatakan bahwa pengaturan tempat duduk dalam ibadah di jemaat mula-mula adalah sangat berbeda dengan saat ini. Perempuan ada di satu sisi dan laki-laki di sisi yang lain. Mungkin karena kurangnya pendidikan, diperkirakan perempuan akan berteriak kepada laki-laki dan menanyakan apa yang diajarkan. Nasihat Paulus kepada perempuan agar tetap diam bukan karena dia tidak memiliki pandangan bahwa mereka harus menyebarkan Injil, tetapi supaya ibadah berjalan dengan tertib.

Pergi dan Beritakan

Jika Anda seorang perempuan, merasa bebaslah untuk dengan berani memproklamasikan Kabar Baik tentang Kristus tanpa takut pada ketidaksetujuan Allah (atau manusia). Hari ini, perempuan terus mengalami nubuat Yoel tentang pencurahan Roh Kudus ke semua manusia dan sedang melakukan kontribusi yang signifikan dalam penginjilan. Sama seperti Maria Magdalena, perempuan-perempuan di gereja ditugaskan oleh Allah dalam cara yang dramatis untuk membawa berita yang baru dan segar kepada umat-Nya. Allah telah mengurapi dan memberikan misi kepada ANDA untuk “pergi dan beritakan!” (t/Jing-Jing)

Download Audio

Diterjemahkan dari: Nama situs : Charisma Magazine Alamat situs : https://www.charismamag.com/spirit/church-ministry/20354-go-and-tell-the-role-of-women-in-ministry Judul asli artikel : Go and Tell: The Role of Women in Ministry Penulis artikel : Kyle Winkler Tanggal akses : 8 Januari 2019 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: DUNIA WANITAkategori: PELAYANAN

Pelayanan Rohani

Kam, 17/01/2019 - 16:45
edisi - Natal

Orang-orang yang termasuk dalam kasta brahmana di India tidak pernah melakukan pekerjaan kasar. Oleh sebab itu, betapa terkejutnya Shriman Naraarayan tatkala menghabiskan waktu di Ashram Gandhi (pusat retret rohani bagi para pemeluk agama Hindu). Dia diberi sebuah tugas yang dianggapnya dapat menurunkan martabat.

Pria muda itu datang ke Ashram dengan tujuan meminta petunjuk tentang masa depannya. Pada saat itu, dia baru saja meraih gelar doktor dari London School of Economics. Dia tidak tahu sebelumnya bahwa setiap orang yang datang ke Ashram memang diberi beberapa tugas khusus, dan tugas yang harus dilakukan oleh Shriman adalah membersihkan toilet. Dengan sangat tersinggung, dia segera menemui Gandhi dan mengadu, “Saya ini bergelar doktor. Saya bisa melakukan hal-hal yang besar. Mengapa Anda menyia-nyiakan waktu dan bakat saya dengan menyuruh saya membersihkan toilet?” Gandhi menjawab, “Aku tahu kau mampu melakukan hal-hal besar, tetapi aku juga harus melihat kemampuanmu dalam melakukan hal-hal kecil.”

Mungkin, Anda benar-benar memenuhi syarat untuk melayani Tuhan dengan sangat baik. Berkat latihan serta dukungan talenta yang Anda miliki, Anda mungkin berpotensi untuk melakukan pelayanan yang hebat dan efektif. Namun, maukah Anda dengan rendah hati melakukan tugas-tugas yang kasar jika Dia menugaskan Anda? Maukah Anda membersihkan toilet atau membasuh kaki orang lain? (Yohanes 13:14, 15). Itulah arti ketaatan dalam pemuridan.

APAKAH ANDA CUKUP RENDAH HATI SEHINGGA DAPAT DIPAKAI OLEH ALLAH?

Diambil dari: Nama situs : SABDA.org Alamat situs : http://sabda.org/publikasi/e-rh/2001/02/24/ Judul asli renungan : Pelayanan Rohani Penulis renungan : VCG Tanggal akses : 4 Oktober 2018 Tipe Bahan: RenunganKolom e-Wanita: RENUNGAN WANITAkategori: KEHIDUPAN ROHANI

Pelayanan Rohani

Kam, 17/01/2019 - 15:42

Orang-orang yang termasuk dalam kasta brahmana di India tidak pernah melakukan pekerjaan kasar. Oleh sebab itu, betapa terkejutnya Shriman Naraarayan tatkala menghabiskan waktu di Ashram Gandhi (pusat retret rohani bagi para pemeluk agama Hindu). Dia diberi sebuah tugas yang dianggapnya dapat menurunkan martabat.

Pria muda itu datang ke Ashram dengan tujuan meminta petunjuk tentang masa depannya. Pada saat itu, dia baru saja meraih gelar doktor dari London School of Economics. Dia tidak tahu sebelumnya bahwa setiap orang yang datang ke Ashram memang diberi beberapa tugas khusus, dan tugas yang harus dilakukan oleh Shriman adalah membersihkan toilet. Dengan sangat tersinggung, dia segera menemui Gandhi dan mengadu, “Saya ini bergelar doktor. Saya bisa melakukan hal-hal yang besar. Mengapa Anda menyia-nyiakan waktu dan bakat saya dengan menyuruh saya membersihkan toilet?” Gandhi menjawab, “Aku tahu kau mampu melakukan hal-hal besar, tetapi aku juga harus melihat kemampuanmu dalam melakukan hal-hal kecil.”

Mungkin, Anda benar-benar memenuhi syarat untuk melayani Tuhan dengan sangat baik. Berkat latihan serta dukungan talenta yang Anda miliki, Anda mungkin berpotensi untuk melakukan pelayanan yang hebat dan efektif. Namun, maukah Anda dengan rendah hati melakukan tugas-tugas yang kasar jika Dia menugaskan Anda? Maukah Anda membersihkan toilet atau membasuh kaki orang lain? (Yohanes 13:14, 15). Itulah arti ketaatan dalam pemuridan.

APAKAH ANDA CUKUP RENDAH HATI SEHINGGA DAPAT DIPAKAI OLEH ALLAH?

Diambil dari: Nama situs : SABDA.org Alamat situs : http://sabda.org/publikasi/e-rh/2001/02/24/ Judul asli renungan : Pelayanan Rohani Penulis renungan : VCG Tanggal akses : 4 Oktober 2018

Tinggalkan Komentar