RSS Wanita

Subscribe to RSS Wanita feed
Updated: 23 hours 25 min ago

DAPATKAN APLIKASI CERITA INJIL AUDIO (CIA) UNTUK GAWAI ANDA!

Sen, 23/07/2018 - 14:52
DAPATKAN APLIKASI CERITA INJIL AUDIO (CIA) UNTUK GAWAI ANDA!

Nikmatilah cerita-cerita INJIL dalam CIA, sebuah aplikasi alkitabiah yang menarik, bergambar dan beraudio yang berisi kompilasi 350+ gambar/cerita-cerita/audio!

CIA adalah aplikasi android GRATIS yang dibuat untuk memudahkan kita membaca kisah-kisah dalam Alkitab, terutama untuk mengenal siapakah Tuhan Yesus Kristus. Kisah-kisah ini dilengkapi dengan ayat-ayat Alkitab, ilustrasi bergambar, dan juga dapat didengarkan secara audible. CIA diperuntukkan bagi segala umur -- dari anak sekolah minggu sampai lansia! Bagikanlah cerita-cerita INJIL ini melalui berbagai jejaring sosial yang Anda miliki agar Kabar Baik semakin tersiar kepada generasi digital abad ini.

Dapatkan aplikasi CIA (Cerita INJIL Audio) sekarang juga di Play Store dan sebarkan informasi ini kepada keluarga dan rekan-rekan Anda!

» Aplikasi Cerita Injil Audio (CIA)

Yokhebed

Sen, 23/07/2018 - 14:51
edisi - 178 Menjadi Ibu dan Pendidik

POTRET WANITA
Yokhebed

Arti Nama : Yehova itu mulia Ayat Alkitab : Keluaran 2:1-10; Keluaran 6:20; Bilangan 26:59 Karakteristik : Beriman, Berinisiatif

Kisah tentang Yokhebed dimulai dalam pasal ke-2 dari kitab Keluaran. Di sini, kita diberi tahu bahwa dia melahirkan seorang anak laki-laki bernama Musa. Kisah Para Rasul 7:20 berkata bahwa "anak [Musa] itu cantik", yang berarti dia elok di mata Allah. Dari awal kehidupannya, ibunya tahu bahwa Musa adalah seorang anak yang "baik sekali, sesuai, dan luar biasa elok". Dia juga tahu bahwa dia harus melindungi Musa dari titah raja Mesir yang bermaksud membunuh semua putra sulung dari bangsa Israel. Iman adalah karakteristiknya yang menonjol.

Telaahlah kehidupan yang dia jalani. Di Israel, para laki-laki maupun wanita bekerja keras sebagai budak orang Mesir. Yokhebed telah memiliki dua orang anak ketika Firaun menitahkan bahwa semua anak laki-laki Ibrani yang lahir harus dibunuh. Ketakutan pasti telah berusaha mencengkeram hati "keibuannya", tetapi kita diberi tahu dalam Ibrani 11:23 bahwa dia tidak menyerah kepada ketakutan tersebut. Imannya kepada Allah dan nilai anaknya bagi dirinya membuat dia tidak takut dihukum atas ketidaktaatannya terhadap titah Firaun. Sebaliknya, dia mengurus kelahiran putranya, lalu menyembunyikan dan merawatnya sendiri di rumah selama tiga bulan.

Ketika Musa sudah terlalu besar untuk disembunyikan di dalam rumah, dia menemukan suatu rencana yang cerdik. Dia membuat sebuah keranjang yang anti air, menempatkan bayi kecilnya ke dalamnya, meletakkannya di antara alang-alang di tepi sungai, dan memberikan anak perempuannya, Miryam, tanggung jawab untuk menjaganya. Kita tidak diberi tahu berapa hari dia mengirim keduanya keluar dengan doa, iman, dan keprihatinan seorang ibu sebelum Musa ditemukan oleh putri Firaun. Namun, selamanya dia akan menjadi teladan dari seorang yang memiliki iman yang supranatural yang mengalahkan ketakutan alamiahnya. Iman kepada Allah akan selalu menempatkan kita di posisi yang tidak terjangkau oleh jerat rasa takut kepada manusia!

Kita semua pernah mengalami situasi yang membuat kita cemas. Bagi banyak orang, hal itu adalah suatu peperangan sehari-hari ketika kita berusaha mencari jalan keluar atau jalan untuk menerobos ujian kita. Kita perlu belajar sebuah pelajaran penting dari Yokhebed -- kita harus belajar membuang kekhawatiran tertentu yang kita hadapi ke sungai kasih Tuhan. Dengan iman, kita perlu untuk percaya bahwa Tuhan akan membuat kita mampu untuk melalui situasi kita yang kelam. Kita perlu terus-menerus menyerahkan persoalan dan keprihatinan kita kepada Tuhan setiap hari. Kita perlu percaya kepada-Nya seperti Yokhebed. Kita dapat yakin bahwa Yokhebed tidak pergi dan mengecek keselamatan putranya setiap jam. Dia menyerahkan penjagaan anaknya kepada Allah, bersandar hanya pada pemeliharaan-Nya. Kita perlu sungguh-sungguh menyerahkan semua kekhawatiran kita kepada-Nya sampai kita melihat persoalan kita diselesaikan.

Dalam kasus Yokhebed, jawaban Allah melalui putri Firaun tampaknya merupakan solusi yang paling tidak mungkin terjadi atas persoalan tersebut. Sering kali, seperti itu jugalah yang akan terjadi atas kita! Seperti yang dilakukan-Nya kepada Yokhebed, Allah sering kali menuntut suatu reaksi iman dari kita yang mungkin tampak tidak masuk akal bagi pikiran kita. Namun, ketika menanggapinya dengan taat, Dia akan menyelesaikan berbagai rencana-Nya yang lebih besar dalam hidup kita. Dalam saat-saat yang tersulit, adalah tepat dan baik bagi kita untuk bergantung kepada semua maksud hati Allah, dan menyerahkan semua jalan kita kepada-Nya.

Yokhebed mendapat balasan yang luar biasa untuk iman dan apa yang dianggapnya kebutuhan-kebutuhan pada masa mendatang. Dalam kelanjutan kisah ini, putranya dikembalikan kepadanya, dan dia mendapat kehormatan dan hak istimewa untuk mengajar dan mendidiknya dalam jalan-jalan Allah selama bertahun-tahun. Tahun-tahun awal seorang anak itu sangat penting. Pengaruh seorang ibu terhadap hidup seorang anak sangat menentukan. Betapa jelas terlihat bahwa Yokhebed telah melakukan tugasnya dengan rajin dan tekun. Ketiga anaknya menjadi pemimpin-pemimpin besar di Israel. Bahkan, putranya, Musa, yang mewarisi iman dan keberanian ibunya, mungkin menjadi seorang pemimpin yang terbesar sepanjang masa. Kita juga harus memiliki kerinduan besar untuk karunia iman yang sama ini sehingga karunia ini bisa diberikan kepada semua anak jasmani dan rohani kita. Kita harus memiliki kerinduan untuk menjadi seorang ibu dari bangsa Israel rohani yang akan merawat dan membimbing anak-anak muda yang Tuhan percayakan kepada kita.

Download Audio

Diambil dari: Judul buku : Wanita yang Berpengaruh dan Istimewa dalam Alkitab Judul bab : Yokhebed Penulis buku : Betsy Caram Penerbit : Voice of Hope, Jakarta 2004 Halaman : 58 -- 59 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: POTRET WANITAkategori: KEHIDUPAN ROHANI

Apakah Lebih Baik bagi Para Ibu untuk Tinggal di Rumah?

Sen, 23/07/2018 - 14:48
edisi - 178 Menjadi Ibu dan Pendidik

Saya adalah seorang penulis dan eksekutif utama di sebuah biro iklan ketika saya memutuskan untuk meninggalkan profesi saya untuk tinggal di rumah dan membesarkan anak-anak saya. Saya ingin menjadi orang yang mengasuh dan mendidik anak-anak kami, dan pekerjaan saya yang sibuk tidak memberi cukup waktu untuk melakukannya dengan baik.

Di satu sisi, ketika saya meninggalkan dunia bisnis, saya tidak pernah menengok ke belakang. Saya senang berada bersama anak-anak saya, dan saya mulai menemukan penyaluran-penyaluran kreatif di dalam dan di sekitar rumah. Saya memperdalam kehidupan doa saya. Tentu ada beberapa penghargaan. Namun, di sisi lain, meninggalkan pekerjaan saya sangatlah sulit. Terus terang, saya benar-benar bergumul tentang identitas saya.

Saya bekerja di bidang periklanan selama dua tahun sebelum berhenti dengan dua rekan untuk memulai agensi baru. Saya berusia 25 tahun pada saat itu. Pada tahun yang sama, saya menjadi seorang Kristen yang lahir baru. Sungguh suatu perjalanan yang menggairahkan! Kami bekerja selama sepuluh atau dua belas jam sehari, dan mengalami beberapa keberhasilan. Bisnis baru mengalir kepada kami. Asosiasi periklanan memperhatikan dan memuji pekerjaan kami. Kami tiba-tiba memenangkan klien-klien dari kota lain. Saya bahkan punya klien di negara lain.

Saya adalah seorang wanita yang sukses di dunia kaum pria. Saya benar-benar "meraih mimpi". Saya mengasihi Yesus dan menjadi seorang Kristen, tetapi identitas utama saya adalah "seorang profesional sukses". Pekerjaan saya adalah sumber utama penegasan dan pencapaian pribadi saya. Saya bisa menjalankan kendali, melihat hasilnya secara teratur, dan diberi imbalan untuk itu, baik dengan pengakuan maupun kompensasi.

Kurang Mencapai yang Terbaik

Beberapa tahun kemudian, saya menikahi pria yang luar biasa (yang kebetulan adalah salah satu rekan bisnis saya!), dan tidak lama kemudian, kami memiliki seorang putra. Saya mencoba bekerja paruh waktu dan (seperti yang saya tahu bahwa begitu banyak wanita juga) sering merasa tercabik dan bersalah. Saya merasa seperti saya kurang memberi yang terbaik di kedua tempat saya.

Kemudian, saya melahirkan seorang putra lagi. Saya tidak bertahan sampai seminggu dalam pekerjaan paruh waktu itu. Meski pendapatan kami berkurang, dan penganggaran ketat menjadi kenyataan, saya memutuskan untuk pulang ke rumah untuk selamanya. Selain kehilangan pendapatan itu, saya dan suami juga merasa terpanggil untuk mulai memberikan 10% dari apa yang kami dapatkan untuk gereja. Meski kami tinggal di rumah kecil dengan karpet tua dan mengorbankan banyak "hal baik", dengan anugerah Allah, kami tidak pernah lalai memberikan uang itu.

"Saya Hanya Seorang Ibu"

Saya sangat suka berada di rumah. Saya senang menjadi pengasuh utama bayi saya. Saya suka menyaksikan "pengalaman pertama mereka". Saya menyukai ikatan yang terjadi dengan anak-anak saya. Saya suka berbagi tentang Yesus dengan anak-anak kami, dan mengajar mereka untuk mengasihi Dia. Saya senang bisa mengenal beberapa ibu di lingkungan sekitar. Saya menyukai kesempatan untuk melakukan sedikit pekerjaan menjahit dan belajar memasak.

Namun, ada juga hal yang tidak saya sukai. Saya tidak menyukai bahwa tidak ada pekerjaan yang pernah selesai. Di tempat kerja, saya menyelesaikan proyek. Di rumah, saya bisa bekerja sepanjang hari, dan pada akhirnya, sama sekali tidak ada bukti bahwa saya telah melakukan sesuatu. Selalu ada lebih banyak cucian untuk dicuci, kekacauan lain di ruang tamu, makanan lain untuk disediakan, popok lain untuk diganti. Di tempat kerja, saya tahu kapan saya melakukan pekerjaan dengan baik. Di rumah, saya berjuang untuk memiliki kepercayaan terhadap kemampuan saya. Saya mencurahkan diri saya untuk anak-anak saya, tetapi perubahannya begitu bertahap sehingga saya tidak tahu apakah yang saya ajarkan kepada mereka ada yang membuahkan hasil. Apakah investasi waktu dan energi saya benar-benar membuat perbedaan?

Namun, kondisinya lebih buruk dari itu. Di rumah, sering kali kelihatannya seperti tidak ada yang memperhatikan atau memuji apa pun yang saya lakukan. Di tempat kerja, saya menjadi profesional muda yang bersinar, yang membantu orang-orang menjadi sukses dan membantu bisnis berkembang. Saya punya portofolio! Saya bergerak naik! Saya seorang yang penting! Sekarang, saya adalah wanita malang yang Anda lihat di toko bahan makanan, yang jelas tidak punya waktu untuk mandi atau memperbaiki rambutnya, mengenakan pakaian kusut, yang terlihat lelah saat menolak memberi balitanya satu lagi makanan manis.

Jika saya pergi ke suatu acara profesional bersama suami saya dan seseorang bertanya kepada saya apa yang saya kerjakan, saya meringis dan berkata, "Saya hanya seorang ibu."

Pekerjaan yang Bertahan

Bertahun-tahun kemudian, saya merasa malu untuk melihat seberapa besar nilai yang saya berikan pada pencapaian dan aklamasi yang berpusat pada manusia. Saya adalah seorang Kristen yang tulus dengan hubungan yang bertumbuh dengan Yesus. Saya sedang mengajar anak-anak saya tentang Dia dengan sukacita, tetapi saya belum belajar untuk menemukan nilai dan harga saya dalam diri-Nya. Dan, saya belum mengetahui mana yang memiliki nilai kekal dan mana yang akan segera dilupakan.

Jika saya harus menunjukkan hasil kerja "spektakuler" yang saya lakukan pada hari-hari saya berbisnis, itu pasti akan terlihat benar-benar usang dan tidak relevan saat ini. Di sisi lain, ketika saya melihat anak-anak saya, Allah menunjukkan bukti dan penghargaan yang tidak ternilai harganya untuk pengorbanan dan investasi yang saya buat selama tahun-tahun pertumbuhan mereka.

Tentu saja, saya tidak mengatakan bahwa bekerja di dunia bisnis atau dalam pekerjaan apa pun itu buruk. Sama sekali bukan itu! Segala jenis pekerjaan adalah cara indah yang Allah berikan untuk orang-orang di seluruh bumi. Dan, Allah memanggil banyak wanita untuk bekerja di luar rumah -- bahkan mereka yang memiliki anak kecil.

Amsal 31 memuji wanita yang dengan sigap menyeimbangkan kepentingan-kepentingan bisnis di luar rumah sambil memberikan perawatan dan pemeliharaan kepada keluarganya. (Namun, saya akan menunjukkan bahwa bahkan untuk dia, sepertinya tidak ada banyak waktu untuk tidur!) Pekerjaan itu sendiri tidak buruk -- meskipun sebagian besar akan berlalu.

Nilai Seorang Ibu

Yang menjadi masalah bagi saya adalah ketika pekerjaan saya menjadi identitas saya, ketika pekerjaan saya adalah sumber "harga diri" saya dan membuat saya merasa lebih "penting", ketika pekerjaan saya terasa lebih layak karena hal itu lebih menarik dari hari ke hari, ketika pekerjaan saya diperlukan untuk mendapatkan penerimaan, pujian, dan aklamasi.

Allah mengatakan kepada saya bahwa Dia mengasihi saya dan memilih saya menjadi putri-Nya sebelum dunia dijadikan, entah saya bekerja di rumah atau di Wall Street (Efesus 1:3-4). Dia mengatakan bahwa meskipun saya benar-benar orang berdosa yang memberontak melawan Allah yang kudus (Roma 3:23), dengan pengorbanan Yesus, saya diampuni, dibeli, dan dibayar -- terlepas dari apakah saya seorang barista atau di rumah mengganti popok (Efesus 1:7-8; Roma 5:8; 1 Korintus 7:23). Sebagai anak Allah yang dilahirkan kembali, saya adalah pewaris bersama Kristus dari segala hal, entah saya mengawasi satu tim dengan seratus orang atau mengawasi satu sarang dengan tiga orang (Roma 8:14-17; Ibrani 1:2). Mengingat semua ini, tidak rasional bagi saya untuk mencari aklamasi di bumi untuk membuat saya merasa dihargai dan berharga.

"Janganlah mencintai dunia ini atau hal-hal yang ada di dalam dunia. Jika seseorang mencintai dunia, kasih Bapa tidak ada di dalam dia. Sebab, semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging, keinginan mata, dan kesombongan hidup tidak berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dunia ini sedang lenyap bersama dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah akan hidup selama-lamanya." (1 Yohanes 2:15-17, AYT).

Lebih Baik Tinggal di Rumah?

Apakah lebih baik bagi para ibu untuk tinggal di rumah? Saya tidak menganggap diri memiliki jawaban pasti untuk pertanyaan itu, atau untuk mengetahui kehendak Allah bagi wanita lain. Namun, saya mendorong ibu muda untuk mempertimbangkan alasan mereka ingin bekerja di luar rumah. Jika penghasilan Anda dibutuhkan untuk menyediakan makanan di atas meja dan pakaian di lemari keluarga Anda, mungkin Anda perlu bekerja di luar rumah.

Saya patah hati untuk ibu-ibu yang akan memberikan segalanya untuk bisa tinggal di rumah bersama anak-anak mereka, tetapi berbagai keadaan membuat mereka tetap berada di tempat kerja. Jika itu Anda, ketahuilah bahwa Allah mengetahui hati Anda, bahwa Dia telah memanggil Anda kepada pekerjaan yang Dia berikan kepada Anda, dan bahwa dia akan memberkati keluarga Anda bahkan saat Anda patuh kepada-Nya dalam hal-hal yang sulit ini. Mungkin ada alasan-alasan lain yang masuk akal mengapa Allah sungguh-sungguh dan pasti memanggil Anda untuk berkorban dengan bekerja di luar rumah. Hal yang paling penting adalah untuk mencari-Nya dan patuh pada panggilan yang Dia berikan kepada Anda.

Namun, jika Anda bekerja di luar rumah terutama karena hal itu membuat Anda merasa nyaman dengan diri Anda sendiri, atau karena Anda benar-benar menikmatinya, atau karena tampaknya lebih menarik, Anda mungkin perlu berdoa mengenai apakah ini benar-benar panggilan Allah dalam hidup Anda -- atau apakah kepentingan-kepentingan yang egois sedang membimbing keputusan Anda.

Tinggal dan Memuridkan

Selama bertahun-tahun, saya mengetahui bahwa hidup saya di rumah tidak harus membosankan. Saya mulai menghargai bahwa hal-hal yang saya lakukan sangat penting, dan melakukannya dengan baik membuat perbedaan. Allah mengatasi keangkuhan besar dalam hati saya, dan menggunakan waktu saya di rumah bersama anak-anak saya untuk mulai menumbuhkan buah Roh dalam diri saya. Yang terbaik dari semuanya itu, sepanjang tahun-tahun itu, Yesus menjadi harta terbesar saya.

Yesus menyuruh kita untuk memuridkan, dan membesarkan anak adalah peluang paling terkonsentrasi yang kita miliki untuk menaati perintah itu. Saat saya melihat kembali hidup saya sebagai ibu di rumah, saya tahu bahwa saya tidak akan pernah menyesali saat-saat yang saya habiskan untuk mengasuh, mengajar, dan bermain dengan anak-anak saya. Merupakan hak istimewa untuk memiliki peran sentral dalam mendisiplinkan anak-anak saya dalam setiap tahap perkembangan mereka. Saya sangat bersyukur bahwa Allah membuatnya menjadi mungkin bagi saya dan keluarga kami. (t/Aji)

Diterjemahkan dari: Nama situs : Desiring God Alamat situs : http://www.desiringgod.org/articles/is-it-better-for-moms-to-stay-at-home Judul asli artikel : Is It Better for Moms to Stay at Home? Penulis artikel : Adrien Segal Tanggal akses : 25 Agustus 2017 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: DUNIA WANITAkategori: KARIERKELUARGA

Menjadi Ibu dan Pendidik

Sen, 23/07/2018 - 14:29

Salam dalam kasih Kristus,

Dunia kini telah memberi banyak pilihan bagi kaum wanita untuk berpartisipasi dalam berbagai aspek kehidupan. Tidak hanya menjadi pendamping suami atau ibu rumah tangga, kaum wanita kini dapat memiliki profesi apa pun yang mereka inginkan. Langit adalah batasnya, dan emansipasi wanita sudah menjadi persoalan yang usang. Namun, ketika wanita bekerja untuk mengejar karier atau hasrat mereka, akankah rumah tangga dan pengasuhan anak dapat berjalan dengan baik? Tentu saja, jika para suami mendukung keputusan tersebut dan berkomitmen bersama untuk melakukan yang terbaik dalam kehidupan berkeluarga. Yang menjadi masalah adalah jika para wanita menganggap karier sebagai panggilan yang utama dalam kehidupan mereka di atas keluarga dan pengasuhan anak. Kita harus memahami bahwa panggilan utama seorang wanita yang menikah adalah untuk menjadi rekan sekerja Allah dalam membangun keluarga yang memuliakan Allah. Di dalamnya berarti pula mendidik dan memuridkan anak-anak bagi Kristus, baik jika Anda menjadi ibu rumah tangga purnawaktu atau ibu yang berkarier. Ketika kita memilih untuk menjalani panggilan hidup berkeluarga, keluarga adalah tanggung jawab utama yang Allah berikan. Karena itu, apa pun pilihan kita saat ini, baik menjadi ibu rumah tangga purnawaktu ataupun berkarier, mari kita bertekad untuk menjadi ibu dan istri yang memuliakan Allah, yang memberi dampak kekekalan pada apa pun yang kita kerjakan.

Pemimpin Redaksi e-Wanita,
N. Risanti

Tujuh Cara Positif Penggunaan Media Sosial oleh Orang-Orang Kristen

Rab, 04/07/2018 - 17:07

Dalam salah satu postingan sebelumnya, saya membagikan tujuh peringatan kepada para pemimpin Kristen mengenai cara mereka memakai media sosial. Postingan tersebut, berdasarkan topiknya sendiri, tidaklah positif. Akan tetapi, saya sungguh percaya bahwa media sosial dapat digunakan untuk kebaikan dan bagi kemuliaan Allah.

Dalam postingan kali ini, saya menunjukkan sisi lain dari media sosial. Saya melakukannya dengan keyakinan kuat bahwa banyak orang percaya telah menyikapi media sosial sebagai suatu wadah untuk membagikan Injil dan mendemonstrasikan kasih Kristus. Berikut ini tujuh saran yang dengan rendah hati saya tambahkan pada diskusi ini.

1. Berdoalah sebelum mengunggah suatu postingan. Satu hal yang telah saya pelajari dari media sosial adalah bahwa saya bukan orang paling cerdas. Saya memerlukan hikmat Allah untuk berkomunikasi dengan cara yang sedemikian agar membawa hormat dan kemuliaan bagi Dia. Itulah sebabnya saya harus memulai dengan doa.

2. Berikan dorongan kepada orang lain dalam media sosial. Sebagian nasihat terbaik yang pernah saya peroleh berasal dari orang-orang dalam media sosial. Saya sangat bersyukur atas banyak orang Kristen yang menggunakan wadah ini dalam ketaatan pada firman Allah, "Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan." (1 Tes.5:11)

3. Berilah jawaban dengan roh yang lemah lembut. Hendaknya kerinduan kita ialah untuk memenangkan hati, bukan memenangkan perdebatan.

4. Ingatlah siapa yang menyaksikan Anda dalam media sosial. Perkataan yang kita sampaikan satu sama lain sebagai orang Kristen dilihat oleh dunia. Wadah ini merupakan kesempatan yang sangat baik untuk menampilkan kasih Kristus lewat perbuatan. Hal ini mengantar kita pada saran berikutnya.

5. Pakailah media sosial sebagai kesempatan untuk mendemonstrasikan buah Roh. Allah melakukan pekerjaan besar melalui orang-orang dalam media sosial yang berusaha menyatakan buah Roh setiap kali mereka mengirim posting. "Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri." (Gal. 5:22-23)

6. Ciptakanlah suatu pelayanan doa melalui media sosial. Ingatlah senantiasa untuk mendoakan banyak hal yang Anda baca atau saksikan dalam media sosial. Beritahukan pada mereka bahwa Anda berdoa bagi mereka. Dalam blog ini, saya meminta orang-orang Kristen di seluruh dunia untuk berdoa bagi gereja-gereja tertentu setiap hari Minggu.

7. Usahakanlah untuk mencapai kesatuan tubuh Kristus malalui media sosial. Tentu saja ada banyak yang memisahkan diri. Namun, lebih banyak dari antara kita yang bisa dipakai Allah menjadi kekuatan besar untuk membawa persatuan bagi orang-orang Kristen seluruh dunia. Paulus mengatakannya dengan tepat: "Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan." (Kol. 3:14).

Saya sangat bersyukur atas begitu banyak di antara Anda yang menjadi saksi-saksi yang baik bagi Kristus lewat media sosial. Amat mudah bagi kita untuk menjadi negatif, karena hal-hal negatif menarik lebih banyak perhatian dan menciptakan arus yang lebih besar. Saya menantikan cerita Anda tentang penggunaan sosial media untuk membagikan Injil, mendorong sesama, menampilkan buah Roh, dan menunjukkan kasih Kristus dengan begitu banyak cara.
(t/Joy)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Thom Rainer.com URL : http://thomrainer.com/2014/08/seven-positive-ways-christians-can-use-soc... Judul asli artikel : Seven Postive Ways Chistians Can Use Sociel Media Penulis artikel : Thom S. Rainer Tanggal akses : 21 September 2017

Amsal 8:11

Kategori Tips: PELAYANANTipe Bahan: Tips

Kunjungi Situs Injil.co

Rab, 27/06/2018 - 16:29
edisi - 177 Pekerjaan dan Misi Kunjungi Situs Injil.co

Dapatkan kumpulan tulisan terbaik seputar Injil di situs Injil.co. Situs Injil.co yang dinaungi oleh Yayasan Lembaga SABDA memiliki banyak bahan untuk memperlengkapi pelayanan Anda. Situs ini menyediakan artikel untuk penginjilan, profil-profil penginjil terdahulu, Penafsiran Alkitab, dan masih banyak jenis bahan yang lain. Melalui semua bahan ini, Anda pun dapat berbagi berkat dengan rekan-rekan pelayanan Anda.

Ayo kunjungi Injil.co sekarang juga! Tuhan Yesus memberkati.

Kolom e-Wanita: STOP PRESS

Sepuluh Cara yang Tidak Menjengkelkan untuk Menyaksikan Iman Anda di Tempat Kerja

Rab, 27/06/2018 - 16:28
edisi - 177 Pekerjaan dan Misi

Gunakan gagasan ini untuk membantu Anda mengintegrasikan iman dan pekerjaan.

Saya punya kenalan, "Alice", yang telah dipecat dua kali karena bersaksi di tempat kerja. Nah, begitulah cara dia menjelaskannya. Mungkin penjelasan yang lebih baik adalah bahwa pendekatan Alice terhadap penginjilan adalah "langsung menantang".

Jika ada karikatur seorang penginjil di acara populer The Office, Alice benar-benar memiliki kualitasnya secara sempurna. Dia mewujudkan semua stereotip negatif yang dimiliki budaya kita tentang orang-orang Kristen yang menginjili: dia menghakimi semua hal sekuler, dia sering merujuk pada "Tuhan" dalam setiap dan semua percakapan, dia menjadi begitu bersemangat saat membicarakan keyakinannya sehingga perilakunya terlihat aneh, dia benar-benar (dan sengaja) tidak bersentuhan dengan budaya, dan dia secara teratur menanyai rekan kerja dan pelanggan hal yang sama, yaitu apa yang akan terjadi pada mereka jika mereka mengalami kecelakaan mobil saat meninggalkan toko? Akankah Allah membiarkan mereka masuk surga atau membakar mereka di neraka?

Alice menganggap setiap usaha oleh seorang supervisor untuk membuatnya "mengecilkan" penginjilannya di tempat kerja sebagai penganiayaan, mendorongnya untuk melakukannya dengan lebih bersemangat lagi. Singkat kata, Alice menjengkelkan.

Tidak satu pun dari kita ingin menjadi seperti Alice, jadi kita naik ke pendulum dan berayun menjauh ke arah yang lain. Alih-alih melakukan penginjilan di tempat kerja, usaha kita untuk menyaksikan iman kita mungkin lebih "halus" dan "tidak kentara". Bahkan, hal-hal tersebut mungkin sangat tidak kentara sehingga tidak terlihat.

Atau kita mungkin menunggu -- untuk kesempatan yang tepat, hubungan yang benar, jalur pembicaraan yang tepat. Masalah datang saat kita menunggu waktu yang sangat lama ... seperti bertahun-tahun.

Bagaimana kita bisa menyaksikan iman kepada rekan kerja sambil mempertahankan tingkat integritas yang tinggi tentang apa yang tepat di tempat kerja? Inilah sepuluh gagasan yang tidak menjengkelkan:

1. Saat Anda memperdalam persahabatan dengan rekan kerja, ajukan pertanyaan yang tulus dan benar-benar dengarkan dengan penuh perhatian saat mereka menceritakan kehidupan mereka. Bila tepat, beri tahu orang lain bahwa Anda sedang berdoa untuk mereka. (Kemudian, pastikan Anda benar-benar berdoa!)

2. Jadikan sebagai kebiasaan sehari-hari untuk berdoa saat Anda berkendara ke tempat kerja atau saat Anda memasuki kantor; mintalah Allah untuk membantu Anda melihat tempat kerja Anda sebagai ladang misi.

3. Jangan menyembunyikan atau mengecilkan pentingnya iman Anda. Bila secara alami sesuai dengan percakapan, bicarakan secara bebas tentang peran gereja, doa, Alkitab, dan komunitas Kristen Anda dalam kehidupan Anda. Biarkan orang lain melihat sukacita dan tujuan yang Anda temukan dalam iman Anda.

4. Tekankan pentingnya kasih Tuhan kepada semua orang dengan memprakarsai kesempatan untuk memimpin rekan kerja Anda dalam pelayanan atau kegiatan amal. Misalnya, pimpin gerakan makanan kalengan untuk makanan lokal atau atur gerakan bank darah tahunan perusahaan Anda. Bila sesuai, ceritakan dalam percakapan bagaimana Anda termotivasi untuk membantu orang lain dengan karakter Tuhan dan kasih-Nya.

5. Mulailah atau ikuti studi Alkitab pada waktu istirahat makan siang atau kelompok doa malam hari di kantor Anda.

6. Berusahalah untuk mencapai kesempurnaan dan integritas dalam pekerjaan Anda. Jangan menjadi pemalas atau pekerja yang buruk; jadilah orang yang bisa diandalkan oleh rekan kerja dan atasan untuk melakukan pekerjaan yang solid.

7. Bentuk kemitraan doa dengan rekan kerja Kristen; bertemu bersama secara teratur untuk mendiskusikan usaha Anda untuk menjadi terang Kristus di tempat kerja, dan berdoa untuk hubungan rekan kerja yang spesifik.

8. Saat Anda memperdalam hubungan Anda dengan rekan kerja non-Kristen, mintalah dia untuk makan siang di luar atau pergi pada malam akhir pekan untuk menonton film dan minum kopi. Berada di luar lingkungan tempat kerja akan memberi suasana yang lebih terbuka saat Anda berbicara dan saling mengenal dengan lebih baik. Pergi ke luar juga akan memungkinkan Anda memiliki lebih banyak kebebasan untuk berbicara secara langsung tentang iman Anda dan untuk membagikan Injil.

9. Undanglah rekan kerja yang berminat untuk menghadiri acara sosial bersama teman-teman Kristen Anda, ke studi Alkitab kelompok kecil Anda, atau ke acara di gereja Anda. Saat liburan seperti menjelang Natal atau Paskah, mintalah rekan kerja untuk pergi ke gereja bersama-sama; banyak orang yang tidak menghadiri gereja secara teratur akan terbuka untuk hari raya yang penting.

10. Peka terhadap pimpinan Roh Kudus. Bila Anda tidak yakin apakah akan mengatakan sesuatu tentang iman Anda atau tidak, tanyalah kepada Allah. Dia akan mendorong Anda ke arah yang benar dan akan memberi Anda kata-kata untuk diucapkan (Markus 13:11).

Allah menempatkan Anda tepat di tempat yang Dia inginkan -- Dia punya rencana supaya Anda bersinar terang di tempat kerja Anda! Jadi, undanglah Allah untuk menantang Anda menyatakan iman Anda. Anda mungkin terkejut dengan bagaimana penginjilan -- yang tidak seperti Alice -- di tempat kerja dapat terjadi! (t/Jing-Jing)

Download Audio

Diterjemahkan dari: Nama situs : Today's Christian Woman Alamat situs : http://www.todayschristianwoman.com/articles/2011/august/10nonobnoxious.html Judul asli artikel : Ten Non-Obnoxious Ways to Share Your Faith at Work Penulis artikel : Kelli B. Trujillo Tanggal akses : 15 Juni 2017 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: WAWASAN WANITAkategori: KARIER

Tuhan Memberkati Para Pekerja yang Bekerja dari Pukul 9 hingga Pukul 5

Rab, 27/06/2018 - 16:26
edisi - 177 Pekerjaan dan Misi

Pekerjaan penuh waktu Anda adalah pelayanan Kristen penuh waktu.

Dalam kapasitas saya dengan pelayanan 4word kepada profesional Kristen, saya sering mendengar dari pria dan wanita yang menginginkan lebih banyak pekerjaan "yang bermakna". Mereka ingin merasa bersemangat dan memiliki tujuan tertentu saat mereka pergi ke kantor pada Senin pagi. Dan, siapa yang tidak? Memiliki tujuan adalah motivator yang hebat, dan ini adalah rasa lapar yang saya pikir dibangun oleh Allah dalam hati kita. Namun, dalam mencari tujuan, orang terlalu memperhatikan sasaran-sasaran "gambaran besar" dari sebuah pekerjaan dan tidak cukup memperhatikan proses dari menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Sentimen ini tercermin dalam satu pertanyaan tertentu yang pernah saya dengar dengan variasinya berulang-ulang: "Bagaimana saya bisa menemukan tujuan dalam pekerjaan saya ketika perusahaan saya hanya ada untuk menghasilkan uang?"

Tidak berharga atau berguna?

Memang benar, beberapa jenis pekerjaan tampak lebih memiliki tujuan daripada yang lain. Dokter dan perawat bekerja menyelamatkan nyawa, petugas polisi melindungi masyarakat, para guru mendidik dan menginspirasi. Sangat menggoda untuk membuat sesuatu tampak lebih baik tentang profesi-profesi penting semacam itu, terutama jika Anda memiliki masalah dalam melihat nilai yang lebih besar dalam misi perusahaan Anda sendiri.

Namun, sebenarnya, "misi yang bermakna" tidak harus mengarah pada karier yang memiliki tujuan atau memotivasi. Jika memang demikian, profesional medis, petugas polisi, dan guru tidak akan terus-menerus terdapat pada daftar profesi dengan tingkat tertinggi untuk kelesuan/kelelahan mental dan depresi.

Sebaliknya, perhatikan kisah Vivian, pelayan hotel yang bekerja dengan sukacita dan inspirasi sehingga dia menarik perhatian dan kekaguman dari pemilik jaringan hotel. Pengusaha hotel Chip Conley menggambarkan pendekatannya yang luar biasa untuk bekerja dalam Ted Talk yang dibawakannya pada 2010, Measuring What Makes Life Worthwhile (Mengukur Apa yang Membuat Hidup Berharga - Red.):

"(Vivian) tidak mendapatkan sukacita dalam membersihkan toilet. Tugasnya, tujuannya, dan panggilannya bukanlah untuk menjadi pembersih toilet terbesar di dunia. Yang penting bagi Vivian adalah hubungan emosional yang dia ciptakan dengan rekan kerja dan tamu kami. Dan, apa yang memberinya inspirasi dan makna adalah kenyataan bahwa dia melayani orang-orang yang berada jauh dari rumah. Sebab, Vivian tahu bagaimana rasanya berada jauh dari rumah."

Conley kemudian menjelaskan bagaimana Vivian membantu menginspirasinya untuk mengevaluasi kembali keseluruhan pendekatan perusahaannya terhadap manajemen karyawan dan kepuasan klien. Vivian tidak memiliki pekerjaan yang tampak seperti "pekerjaan yang memiliki tujuan", tetapi dia bekerja dengan tujuan, dan dengan berbuat demikian, dia dengan diam-diam merevolusi seluruh tempat kerjanya.

Tiga Cara Membuat Pekerjaan Jadi Bermakna

Apa arti pekerjaan Anda bagi Anda? Apakah itu menginspirasi dan menyegarkan, atau apakah itu terasa membosankan? Apakah Anda membuat dampak atau hanya melakukan apa yang harus Anda lakukan? Seperti apa rasanya mulai bekerja dengan tujuan? Berikut adalah tiga cara untuk memulai:

1. Terhubung dengan orang. Bagaimana Anda memperlakukan orang-orang di sekitar Anda di tempat kerja akan mengomunikasikan lebih banyak tentang nilai dan keyakinan Anda daripada hampir semua hal lain yang Anda lakukan di sana. Saat menulis kepada jemaat di Filipi, Paulus memberikan hal yang cukup spesifik tentang bagaimana orang Kristen seharusnya berhubungan dengan orang-orang di sekitar mereka: "Jangan melakukan apa pun dari ambisi yang egois atau kesombongan yang sia-sia; tetapi dengan kerendahan hati, anggaplah orang lain lebih penting daripada dirimu sendiri" (Filipi 2:3-4).

Baru-baru ini, saya mengalami anugerah dari seseorang yang memberi perhatian kepada saya. Sebagai pemimpin nirlaba, salah satu tanggung jawab terbesar saya adalah memastikan bahwa organisasi tersebut aman secara finansial dan bertanggung jawab secara fiskal. Ini adalah pekerjaan penting, tetapi bisa sangat menguras tenaga. Minggu lalu, saya menerima telepon dari pemimpin utama yang memberi selamat kepada saya atas kemajuan salah satu bantuan aplikasi kami. Teleponnya datang pada saat yang tepat, pada hari yang berat, dan kenyataan bahwa dia ingin mengucapkan terima kasih dan mengingat saya, itu memberikan kekuatan. Percakapan dua menit itu merupakan sesuatu yang sederhana bagi dirinya, tetapi itu membuat hari saya jadi berarti dan menolong saya untuk melewati sepanjang minggu itu.

Berusahalah untuk dikenal di tempat kerja Anda sebagai orang yang membangun orang lain, bukan orang yang mematahkan semangat. Bila Anda perlu menghadapi atau mengoreksi karyawan atau rekan kerja, lakukanlah dengan rasa hormat. Jangan terlibat dalam gosip apa pun. Kenali nama orang dan nama anak-anak mereka, bukan hanya orang-orang yang duduk di dekat Anda, melainkan juga satpam dan petugas kebersihan. Semua kehidupan yang terjadi di sekitar Anda memiliki konsekuensinya, dan Anda tidak pernah tahu ketika hanya terhubung dengan yang lain dalam waktu yang singkat ternyata dapat memengaruhi kehidupan mereka secara positif. Lama setelah rekan kerja Anda melupakan laporan terbaru yang pernah Anda sampaikan, mereka akan mengingat bagaimana (atau apakah) Anda mengakui kontributor lainnya.

2. Bekerja dengan sangat baik. Alkitab mengarahkan Anda untuk melakukan pekerjaan apa pun yang ditetapkan di depan Anda "dengan segenap hati Anda", dan melakukannya "dalam nama Tuhan Yesus" (Kolose 3:17, 23). Secara praktis, melakukan sesuatu dengan "segenap hatimu" berarti melampaui apa yang baik. Ini berarti menantang diri Anda untuk terus berkembang, belajar, dan bertumbuh.

Adalah sangat membantu untuk memiliki beberapa ukuran objektif pada pekerjaan Anda sehingga Anda dapat menetapkan tujuan. Di 4word, staf dan relawan kami merencanakan acara dan menawarkan layanan di seluruh Amerika Serikat. Awalnya, sulit untuk mengetahui bagaimana usaha mereka diterima. Namun, baru-baru ini, kami mulai menggunakan sistem survei seluler yang memungkinkan orang memberi umpan balik hampir segera. Ini menyenangkan dan berpengaruh kuat bagi kita semua untuk dapat benar-benar melihat bagaimana keadaan kita saat kita bekerja menuju kesempurnaan.

Majikan/atasan Anda mungkin sudah menawarkan beberapa alat untuk membantu Anda menilai bagaimana Anda bekerja, tetapi meskipun mereka tidak melakukannya, ada cara lain untuk mencoba mengukur kemajuan Anda. Mintalah umpan balik dari manajer atau klien Anda jika sesuai, dan tunjukkan kepada mereka keterbukaan dan keinginan Anda untuk memperbaiki diri. Mendekati pekerjaan Anda dengan cara ini memberi energi bagi Anda, dan sering kali bagi orang-orang di sekitar Anda juga.

3. Pilihlah sukacita. Ada banyak hal tentang pekerjaan Anda yang tidak dapat Anda kendalikan, tetapi sikap Anda bukanlah salah satunya. Pilihlah untuk mencari yang positif dalam setiap proyek, setiap pertemuan staf, setiap permintaan yang diajukan ke meja kerja Anda. Temukan koneksi ke sesuatu yang menyalakan percikan untuk Anda, dan fokuskan pikiran Anda ke sana. Ikuti instruksi Paulus dalam Filipi 4:8, "semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang indah, semua yang terpuji, semua yang sempurna, semua yang patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu". Saya menghabiskan puluhan tahun membangun karier di bidang real estate komersial, tetapi kebetulan saya tidak menemukan penyewa, penawaran pembangunan, atau proyek konstruksi raksasa yang sangat mengilhami. Namun, saya suka bertemu dan berhubungan dengan orang lain. Jadi, ketika sebuah kesepakatan atau proyek baru muncul, saya memusatkan perhatian pada kesempatan yang ada untuk bekerja dengan orang-orang baru dan belajar bagaimana melayani mereka dengan baik. Melakukan hal itu membuat pekerjaan lebih menyenangkan bagi saya, dan ini membuat saya lebih baik dalam pekerjaan saya.

Tempat Kerja Anda: Lahan Misi Anda

Banyak orang Kristen yang saya ketahui sepertinya membayangkan sebuah pemisah antara pekerjaan fisik dan pekerjaan yang Allah pedulikan. Orang-orang ini tidak meninggalkan prinsip-prinsip Kristen mereka di pintu kantor, tetapi mereka cenderung memandang waktu mereka di tempat kerja sebagai sesuatu yang kurang berharga atau bermakna daripada waktu yang digunakan bersama dengan keluarga, relawan, atau menghadiri studi Alkitab.

Jika Anda bekerja 30-40 jam seminggu selama karier Anda, itu akan menambah sekitar 80.000 jam seumur hidup Anda. Itu berjam-jam lebih banyak daripada yang mungkin Anda habiskan di gereja atau bahkan bersama keluarga Anda. Itu lebih dari waktu yang Anda miliki untuk menjadi relawan, pengembangan diri, atau hobi lainnya. Allah bisa melakukan perhitungannya. Jika Dia memanggil Anda untuk bekerja, itu bukan karena Dia ingin mengisi waktu Anda di bumi ini dengan aktivitas yang "kurang signifikan".

Untuk bekerja dengan tujuan, Anda harus mengerti bahwa pekerjaan Anda bukanlah gangguan atau pengalihan dari rencana Allah. Ketahuilah bahwa pekerjaan Anda adalah bagian penting dari tujuan dan misi Allah yang sempurna untuk hidup Anda, dan mulailah menganggapnya seperti itu. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari: Nama situs : Today's Christian Woman Alamat situs : http://www.todayschristianwoman.com/articles/2015/august/god-blesses-9-to-5-workers.html Judul asli artikel : God Blesses The 9 to 5 Workers Penulis artikel : Diana Paddison Tanggal akses : 13 Juni 2017 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: DUNIA WANITAkategori: KARIER

Pekerjaan dan Misi

Rab, 27/06/2018 - 16:22

Salam dalam kasih Kristus,

Beberapa orang Kristen mungkin tidak menyadari bahwa tempat kita bekerja adalah lahan misi sehingga banyak di antara mereka yang menyia-nyiakan kesempatan untuk bermisi di sana. Sebagai orang percaya, kita seharusnya memiliki perspektif yang baru, yaitu untuk bermisi di tempat kerja kita. Ketika bekerja dan bertemu dengan banyak orang, kita pasti pernah bertemu dengan orang-orang yang belum mengenal Tuhan. Injil harus diberitakan di tempat kerja kita dan kita perlu menjadi berkat sehingga banyak orang berkesempatan mendengar dan menjadi percaya kepada Kristus. Dalam edisi kali ini, publikasi e-Wanita menyajikan sebuah artikel dan wawasan wanita yang bisa mendorong kita untuk berani memulai bermisi di tempat kerja. Beranikah Anda untuk memulainya? Percayalah bahwa Tuhan Allah, sang Empunya ladang, akan memberi kekuatan dan pertolongan kepada kita untuk menjadi saksi-Nya di tempat kerja kita. Selamat bermisi. Imanuel!



Staf Redaksi e-Wanita,
Amidya

Aplikasi Konseling Mobile - HE Cares

Rab, 23/05/2018 - 10:46

Kabar gembira! Yayasan Lembaga SABDA baru saja meluncurkan aplikasi Konseling untuk Android.

Tidak dapat dimungkiri bahwa kebutuhan akan konseling makin bertambah seiring dengan bertambah banyaknya masalah dalam kehidupan manusia. Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, permasalahan manusia selalu ada sepanjang zaman, bahkan cenderung semakin banyak dan semakin kompleks. Sebagai orang percaya, kita mengerti bahwa solusi permasalahan manusia ada di dalam firman Tuhan. Firman Tuhanlah yang merupakan jawaban atas permasalahan kehidupan manusia, dan konseling alkitabiah membawa manusia yang bergumul dengan masalahnya kepada firman Tuhan.

Dalam konteks kebutuhan konseling, Yayasan Lembaga SABDA mengembangkan aplikasi konseling dengan nama HE Cares (DIA Peduli). Dengan satu praanggapan pemahaman bahwa Allah itu ada: Dia mendengar; Dia berbicara kepada kita melalui firman-Nya; Dia peduli; kami mengumpulkan bahan-bahan alkitabiah seputar masalah konseling di dalam aplikasi HE Cares ini.

Anda bisa mengunduh aplikasi HE Cares melalui tautan berikut ini:

Aplikasi HE Cares »

Saat Anda Menginginkan Apa yang Dimilikinya

Rab, 23/05/2018 - 10:45
edisi - 176 Konflik dengan Keluarga

Anda bangun pagi ini dalam suasana hati yang sangat baik. Semua sepertinya berjalan sesuai keinginan Anda. Sepatu baru yang Anda beli akhir pekan ini telah menambahkan sedikit pantulan di langkah Anda. Anda yakin jeans Anda membuat Anda terlihat sepuluh pon lebih langsing hari ini. Rambut Anda tampil selaras dengan apa yang Anda inginkan, akhirnya. Anda merasa percaya diri.

Dan, kemudian, itu terjadi -- apa pun itu. Mungkin Anda memperhatikan bahwa pelayan di tempat makan siang Anda sangat cantik. Dia lebih kurus. Tiba-tiba, jeans yang membuat Anda terlihat sepuluh pon lebih langsing, sekarang Anda benci. Mungkin ada seorang gadis baru di tempat kerja menerima penghargaan tidak terhitung jumlahnya, dan Anda telah melakukan pekerjaan Anda dengan baik selama lima tahun tanpa menerima ucapan terima kasih yang sama. Atau, mungkin sebelumnya Anda sangat bersyukur atas Honda Civic 1992 Anda, sampai seorang perempuan berambut pirang berada di samping Anda pada lampu merah dengan mengendarai Mercedes 2014-nya.

Apa yang dia miliki yang tidak saya miliki? Jarang sekali kita mengungkapkannya dengan terus terang, tetapi kita pasti memikirkannya. Kita terus-menerus membandingkan apa yang dimiliki orang lain dan apa yang tidak kita miliki. Perbandingan adalah pencuri sukacita. Itu adalah jurang keraguan diri dan penghinaan diri sendiri. Perbandingan adalah perasaan mengingini, dan itu menggantikan rasa syukur. Hal itu dengan egoisnya mengarahkan pikiran kepada diri sendiri. Andai saja saya memiliki tubuh seperti dia, pekerjaannya, kehidupannya, suaminya. Yang benar adalah ketika kita bersikeras membandingkan kehidupan kita dengan orang lain, hidupnya, pekerjaannya, dan suaminya, hal itu tetap tidak akan pernah cukup. Rumput akan selalu lebih hijau di tempat lain.

Jika Anda menemukan diri Anda berada di lubang itu, berikut beberapa hikmat Alkitab tentang cara menanganinya:

1. Perhatikan baik-baik pekerjaan Anda sendiri karena dengan begitu, Anda akan mendapatkan kepuasan atas pekerjaan yang dilakukan dengan baik dan tidak perlu membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Sebab, kita masing-masing bertanggung jawab atas tindakan kita sendiri (Galatia 6:4-5).

Dengan kata lain, lakukan apa yang Allah ingin Anda lakukan. Jalankan pertandingan Anda. Tetaplah di jalur Anda. Berfokuslah melakukan pekerjaan Anda dengan baik daripada berfokus pada jalan yang ditempuh orang lain.

2. Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah dalam Tuhan (3-1a). Menuliskan hal ini lagi kepadamu tidaklah berat bagiku dan memberi kepastian kepadamu (Filipi 3:1).

Sungguh-sungguh bersukacitalah dengan orang lain saat mereka diberkati. Saat teman Anda menikah, bersyukurlah atas pasangan barunya yang Anda tahu telah dia doakan, daripada memusatkan perhatian pada kesepian Anda sendiri. Saat tetangga mendapat mobil baru, bersukacitalah dengan mereka. Bersyukurlah ketika melihat Allah bergerak dalam kehidupan seseorang. Dia juga memiliki rencana baik untuk Anda. Mungkin terlihat berbeda. Mungkin pada waktu yang berbeda. Namun, rencana itu tetap saja baik.

3. Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan (Filipi 4:11-12).

Belajarlah untuk bersyukur atas apa yang Allah taruh di tangan kita, bukan apa yang kita pikir seharusnya kita miliki. Percayalah bahwa Allah menaruh perhatian terbesar pada hati kita. Dia mengenal kita sebelum kita dilahirkan. Dia memilih kita. Dia mencintai kita.

Perbandingan menyebabkan perpecahan. Hal itu mengakibatkan kita tidak menyukai pelayan cantik yang melayani kita, gadis baru di tempat kerja, dan pemilik Mercedes. Kita semua memiliki salib kita sendiri untuk ditanggung. Kita semua memiliki kemenangan dan kekalahan, kegembiraan dan sakit hati. Jangan diam-diam berharap memiliki kehidupan seperti dia. Jadilah penuh dengan rasa syukur atas diri Anda sendiri. (t/N. Risanti)

Download Audio

Diterjemahkan dari: Nama situs : Crosswalk Alamat situs : http://www.crosswalk.com/blogs/jennifer-maggio/what-does-she-have-that-i-dont.html Judul asli artikel : When You Want What SHE Has Penulis artikel : Jennifer Maggio Tanggal akses : 2 Agustus 2017 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: WAWASAN WANITAkategori: KEHIDUPAN ROHANI

katan Keluarga: Ketika Konflik Menyerang Dekat dengan Rumah

Rab, 23/05/2018 - 10:42
edisi - 176 Konflik dengan Keluarga

Keluarga penting bagi Allah. Itu sebabnya, hanya sedikit hal yang lebih menyakitkan daripada konflik keluarga yang belum terselesaikan. Mertua yang mendominasi, remaja yang bandel, atau anak tiri yang cemburu dapat mengubah setiap keluarga yang bahagia menjadi zona perang. Isu-isu seperti giliran siapa yang bertugas mengambil sampah dan apakah anak remaja Anda telah menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum menyalakan komputer adalah masalah yang relatif kecil mengganggu, yang umumnya dapat diselesaikan dengan gangguan minimal terhadap kehidupan keluarga.

Masalah-masalah lainnya menghadirkan tantangan yang lebih besar -- putra yang mengabaikan ajaran Kristennya, tetapi malah melakukan hubungan homoseksual; pelecehan dan manipulasi dari ibu mertua yang mengancam menghancurkan perkawinan dan kesehatan seorang wanita; ayah dengan penyakit mental yang melakukan kekerasan kepada anak-anaknya. Situasi ini nyata; sayangnya, hal-hal itu terjadi dalam keluarga Kristen. Sementara beberapa situasi dapat diselesaikan seiring berjalannya waktu, yang lain dapat berlangsung selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Tanya saja Karen.

Kisah Karen

Karen dan suaminya, Paul, seorang pendeta, baru saja menerima tawaran di sebuah gereja besar di sebuah komunitas baru.* Hal-hal tampaknya berjalan dengan baik sampai Sarah, putri mereka yang berumur 17 tahun, mengumumkan bahwa dia hamil di luar nikah. Yang membuat masalah jadi lebih rumit, Sarah jatuh cinta pada pria muda yang berasal dari ras lain; bayinya blasteran. Menurut gereja baru mereka, kencan antarras adalah terlarang. Kehamilan itu mengakibatkan pertengkaran antara Karen dan putrinya. Ketika ketegangan meningkat, diskusi berakhir dengan argumen yang hebat. Karen bersikeras agar Sarah menyerahkan bayi itu untuk diadopsi.

Setelah persalinan, Sarah menyerahkan bayi itu kepada seorang pekerja sosial yang menempatkan bayinya di sebuah panti asuhan. Sebagai ibu kandung, Sarah diberi masa tenggang lima belas hari untuk menyerahkan hak asuhnya. Selama lima belas hari itu, Allah berbicara kepada Karen melalui firman-Nya, menghukumnya akan keegoisan prasangkanya, dan kemunafikannya. "Saya mengubah pikiran saya tentang adopsi," kata Karen. Dia dan Paul berbicara dan setuju bahwa bayi Sarah akan pulang untuk tinggal bersama mereka. "Kami melihat ini sebagai kehendak Allah yang sempurna untuk bayi laki-laki yang berharga ini dan ibunya yang baik."

Konflik berbulan-bulan itu pun berakhir karena ketiganya bersukacita atas hasil yang tidak terduga. Kasih karunia Tuhan mengubah situasi yang menyakitkan menjadi berkat yang luar biasa.

Sayangnya, situasi dari Tom tidak berubah menjadi baik.

Kisah Tom

Setelah dituntun kepada Tuhan oleh bibinya, Tom terkejut mengetahui bahwa bibinya itu telah mencuri uang dari rekening pensiunan neneknya. Bibinya telah diberi kuasa oleh pengacara ketika neneknya meminjam uang untuk beberapa tahun. "Salah satu rekening, yang memiliki lebih dari $100.000 di dalamnya, dikuras menjadi $3.000 dalam tiga tahun," kata Tom. Bibi Tom terus menghamburkan-hamburkan uang, sementara rumah neneknya dibiarkan terbengkalai -- toilet rusak, rayap memenuhi rumah, dan rumah itu dibiarkan sepenuhnya rusak. Setelah banyak berdoa, Tom menemui bibinya. "Saya disebut lancang, motif saya dipertanyakan, dan iman saya ditantang," katanya. Dapat dimengerti, situasinya sangat memengaruhi Tom dan berdampak negatif pada pernikahannya. Dia mampu memaafkan bibinya, tetapi sampai hari ini, konflik tetap tidak terselesaikan.

Mengelola Konflik Keluarga

Kedekatan hubungan keluarga membuat pengelolaan konflik menjadi lebih sulit. Ketika menghadapi konflik keluarga, berikut ini beberapa panduan umum yang perlu diingat:

Buat batasan yang tepat. Konflik keluarga sering melibatkan batasan-batasan yang kabur -- seorang pemuda menikah, tetapi gagal "meninggalkan orang tuanya dan bersatu dengan istrinya"; seorang anak yang sudah dewasa pindah dari rumah, tetapi terus-menerus menelepon ke rumah untuk mendapatkan uang; seorang anak perempuan yang sudah dewasa meninggalkan ketiga anaknya bersama ibunya setiap hari meskipun ibunya telah memintanya untuk tidak melakukannya. Batasan yang tepat bersifat alkitabiah dan memungkinkan Anda menetapkan batasan dengan tetap mengasihi orang lain.

Selalu mengutamakan hubungan. Ketika menghadapi konflik keluarga, selalu tegaskan hubungan, dan lakukan semua yang Anda bisa untuk mempertahankannya. Misalnya, ketika berbicara dengan putra Anda yang sudah dewasa, Anda dapat berkata:

"Eric, aku mengasihimu. Kuharap kamu mengetahuinya. Aku menyesal bahwa kamu terlibat dengan obat-obatan. Kamu dapat tinggal di sini selama beberapa bulan, tetapi hanya jika kamu bertanggung jawab atas masalahmu dan mendapatkan bantuan atasnya. Jika kamu menginginkan bantuanku, kamu perlu menemui konselor atau menjalani rehabilitasi. Terlepas dari apa yang kamu putuskan untuk dilakukan, aku akan selalu mencintaimu."

Kenali batasan Anda dan serahkan hubungan itu kepada Allah. Dibutuhkan dua hati yang lembut agar rekonsiliasi terjadi. Jika satu orang terus berperilaku dosa dan menolak koreksi, hubungan itu akhirnya akan rusak. Kadang-kadang, individu lain yang terlibat akan keluar dari relasi itu. Jika Anda menemukan diri Anda dalam situasi seperti ini, jangan menyerah. Teruslah berdoa, berharap, dan mengasihi. "Jika mungkin, sekiranya hal itu tergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang," (Roma 12:18, AYT) kata firman Allah. Ketika Anda telah melakukan semua yang Anda bisa untuk memulihkan hubungan, tetapi konflik tetap tidak terselesaikan, serahkan hubungan itu kepada Allah. Anda bebas dalam Kristus.

Keluarga adalah gagasan Allah. Dia sanggup menjaga apa yang Anda percayakan kepada-Nya (2 Timotius 1:12). Kita dapat merasa tenang karena mengetahui bahwa Allah mengasihi kita dan akan terus menyusun mengerjakan rencana dan tujuan-Nya dalam keluarga kita. (t/N. Risanti)

*beberapa nama telah diubah untuk menjaga identitas pribadi

Diterjemahkan dari: Nama situs : Focus on The Family Alamat situs : https://www.focusonthefamily.com/lifechallenges/relationship-challenges/conflict-resolution/family-tieswhen-conflict-strikes-close-to-home Judul asli artikel : Family Ties: When Conflict Strikes Close to Home Penulis artikel : Mary J. Yerkes Tanggal akses : 6 April 2018 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: DUNIA WANITAkategori: KELUARGA

Konflik dengan Keluarga

Rab, 23/05/2018 - 10:39

Salam dalam kasih Kristus,

Keluarga sering kali justru menjadi asal atau sumber konflik dalam kehidupan kita. Meski sesungguhnya, Allah menciptakan keluarga untuk menjadikan orang-orang di dalamnya saling menopang dan mendukung dalam kehidupan, tetapi kita hidup dalam situasi dosa yang menyebabkan kita saling menyakiti, termasuk dengan sesama anggota keluarga. Tidak sedikit keluarga menjadi hancur dan menjadi musuh satu dengan yang lain karena adanya konflik. Lalu, bagaimana kita sebagai wanita Kristen menyikapi konflik dalam keluarga ini? Bagaimana kita dapat menghadapi konflik di tengah-tengah keluarga dan melakukan apa yang benar di hadapan Allah? Untuk membantu kita semua dalam menghadapi atau menyikapi konflik dalam keluarga ini, maka kolom Dunia Wanita edisi kali ini menyajikan artikel yang sangat inspiratif bagi Anda terkait dengan permasalahan tersebut. Baca juga kolom Wawasan Wanita yang akan memberi kita beberapa hikmat Alkitab tentang cara menangani perasaan iri hati terhadap orang lain. Menarik bukan? Nah, tanpa berlama-lama lagi, mari kita simak bersama e-Wanita edisi 176 di bawah ini. Tuhan Yesus memberkati.

Pemimpin Redaksi e-Wanita,
N. Risanti

Dapatkan Publikasi 40 Hari Doa, Mengasihi Bangsa Dalam Doa!

Jum, 04/05/2018 - 08:28
Dapatkan Publikasi 40 Hari Doa, Mengasihi Bangsa Dalam Doa!

Yayasan Lembaga SABDA melalui publikasi 40 Hari Doa mengajak Anda bersatu hati untuk mendoakan saudara-saudara kita yang akan melaksanakan ibadah puasa pada Mei-Juni mendatang. Dengan bergabung dalam gerakan doa ini, kita akan bersama-sama memohon kuasa Tuhan dinyatakan bagi saudara-saudara kita sehingga mereka dapat beroleh jalan kepada Kristus, sang Kebenaran Sejati.

Jika Anda rindu untuk bergabung dalam gerakan doa ini, silakan kirimkan alamat e-mail Anda ke: subscribe-i-kan-buah-doa@hub.xc.org. Anda juga dapat mengajak teman-teman Anda untuk bergabung menjadi pendoa dengan mengirimkan alamat e-mail mereka ke Redaksi e-Doa di: doa@sabda.org. Setelah terdaftar menjadi pelanggan, Anda akan menerima kiriman publikasi kami melalui email.

Mari, kita bersatu hati dan berdoa supaya setiap suku bangsa memuliakan nama-Nya. Amin.

"... supaya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa." (Mazmur 67:2)

Delapan Hal yang Orang Kristen Perlu Lakukan Lebih Banyak di Media Sosial

Jum, 04/05/2018 - 08:26
edisi - 175 Dampak Media Sosial

Internet tidak harus menjadi tempat yang mengerikan.

Saya takut bahwa karena media sosial, seluruh dunia dapat melihat kata-kata saya. Itu berarti saya bisa menyakiti lebih dari sekadar hanya orang-orang yang berada di hadapan saya setiap kali saya memilih untuk tidak hidup seperti Yesus.

Namun, apa yang kemudian saya temukan adalah, banyak orang tidak menyadari risiko ini. Kita masih memperlakukan media sosial seolah-olah itu merupakan pengecualian untuk bertanggung jawab atas kata-kata dan tindakan kita.

Kita perlu mengatasi kekuatan yang membuat kita merasa bisa mengatakan apa pun yang kita inginkan di media sosial, dan malah merangkul kekuatan untuk mengatakan apa yang baru saja dibangun. Ketika kita melakukan ini, kita bisa menggunakan media sosial sebagai alat untuk perubahan -- sesuatu yang akan menghormati kehidupan Yesus dan bukannya mempermalukannya.

Sangat mungkin untuk hidup dan mencintai seperti Yesus di media sosial. Adalah mungkin untuk memuliakan Allah dengan aktivitas media sosial kita. Kita hanya memerlukan beberapa panduan untuk mengarahkan kita ke arah yang benar:

1. Berjuang untuk Koneksi, Bukan Perhatian

Ada dua jenis pengguna media sosial: Orang dengan perspektif "Lihatlah saya!" dan orang dengan perspektif "Mari terhubung!". Media sosial dibuat untuk yang terakhir.

Ini tidak berarti Anda tidak dapat berbagi karya Anda dengan orang lain secara daring. Ini berarti Anda tidak boleh menggunakan suka dan berkomentar sebagai validasi untuk diri Anda sendiri. Bertujuanlah untuk terhubung.

2. Jadilah Transparan, Tetapi Jangan Terlalu Transparan

Yesus mengungkapkan informasi pribadi kepada murid-murid-Nya, bukan untuk semua orang. Ini berarti kita harus berusaha untuk bersikap transparan dengan orang-orang yang mencintai kita dan berada di sekitar kita dalam kehidupan nyata. Sementara media sosial membuka hidup kita ke seluruh dunia, seluruh dunia tidak perlu mengetahui tentang segala hal. Jadilah transparan, tetapi kebanyakan dengan teman dekat Anda dalam kehidupan nyata.

3. Tanyakan pada Diri Sendiri: Bisakah Saya Mengatakan Hal yang Sama Ini di Depan Seseorang?

Media sosial menjauhkan kita dari dampak kata-kata kita. Kita bisa mengatakan sesuatu dan kemudian berjalan menjauh dari keyboard kita, menjadi buta terhadap bagaimana orang lain bereaksi terhadapnya.

Namun, hanya karena kita tidak bisa melihat dampak kata-kata kita dalam kehidupan nyata tidak berarti kata-kata kita tidak membuat percikan. Jika kita mengatakan hal-hal yang tidak akan menjadi kata-kata yang akan kita katakan di depan wajah seseorang, kita seharusnya tidak mengatakannya sama sekali.

4. Jangan Terpengaruh dengan Budaya "Katakanlah Apa yang Harus Dikatakan"

Pada media sosial, semua orang "mengatakan apa yang perlu dikatakan". Namun, ketika semua orang melakukannya, sulit untuk menyaring apa yang sebenarnya perlu dikatakan. Cara yang lebih baik untuk menyampaikan pesan adalah mengatakan apa yang perlu dikatakan, tetapi juga menghayatinya dalam kehidupan nyata. Inilah yang Yesus lakukan. Dia memberikan Khotbah di Bukit, dan kemudian segera sesudahnya, Dia mulai menyembuhkan orang. Sebuah pesan lebih baik dikomunikasikan bila tidak hanya dikatakan, tetapi juga dilakukan.

5. Belajar Mendengarkan Lebih Baik

Ketika orang melihat status yang tidak mereka setujui, mereka dengan cepat menyatakan pendapat mereka pada bagian komentar. Namun, ini membuat kita tidak bisa mendengarkan. Dalam kehidupan nyata, kita harus menunggu giliran kita untuk berbicara, tetapi dengan adanya bagian komentar, kita hanya perlu menggulir ke bawah. Beginilah cara beberapa artikel dan diskusi daring bisa begitu lepas kendali -- orang menolak untuk mendengarkan dan malah mengalihkan topik menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda.

Alih-alih cepat menyuarakan pendapat Anda, cernalah kata-kata yang Anda baca terlebih dahulu. Tawarkan tanggapan yang bijaksana hanya setelah mendengarkan.

6. Hindari Mengaduk Pot dengan Artikel yang Anda Bagi

Banyak orang Kristen suka mengaduk pot (memperburuk masalah - Red.) melalui artikel yang mereka bagikan pada isu-isu hot-button (isu-isu yang mengundang kontroversi - Red.). Akan tetapi, saya akan mendesak Anda untuk memantau berapa banyak artikel yang Anda bagikan yang sesuai dengan ideologi Anda. Bila Anda melakukannya, Anda dapat mengarah pada bahaya membuat keyakinan Anda murni hanya tentang berdebat pendapat daripada hidup untuk Kristus, yang merupakan pesan buruk untuk dinyatakan kepada orang-orang yang tidak percaya.

Anda tidak perlu mengaduk panci untuk menunjukkan kepada orang-orang tentang Kristus; Anda hanya perlu hidup dan mengasihi seperti diri-Nya.

7. Jangan Berkomentar Rasis

Yang ini sudah jelas, tetapi rupanya perlu dikatakan. Hanya karena teman Anda di media sosial berbagi nilai yang sama tidak berarti Anda dapat mengatakan apa pun yang Anda inginkan kepada mereka. Sebenarnya, saat Anda berada di media sosial, Anda tidak hanya berbicara kepada teman Anda -- Anda sedang berbicara kepada dunia. Dan, satu hal yang dunia tidak butuhkan adalah kata-kata untuk mengabadikan stereotip dan kebencian rasial.

8. Hindari Menjadi Kejam bagi Para Blogger

Media sosial bukanlah jalan keluar di mana Anda dapat menjadi kejam kepada yang lain karena Anda tidak setuju dengan mereka. Jika kita tidak menyukai karya seni seseorang, kita harus secara konstruktif mengasahnya untuk berpikir lebih baik, tetapi kita seharusnya tidak merobeknya. Seni adalah hal yang pribadi, dan Anda merobek jiwa seseorang setiap kali Anda memilih untuk mengutuk pekerjaan mereka dibanding mempertajamnya. Sebagai gantinya, dorong mereka untuk menjadi lebih baik dengan cara yang lembut.

Media sosial adalah wilayah yang berbahaya, tetapi adalah mungkin untuk hidup seperti Yesus di tengah komplikasinya. Kuncinya adalah melepaskan akal palsu yang membuat kita berpikir bahwa kita dapat melakukan apa pun yang kita inginkan secara daring, dan malah mengadopsi kasih dan karakter Yesus Kristus untuk mengasah kata-kata kita. Pada akhirnya, itulah kata-kata yang akan membuat perbedaan. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari: Nama situs : Relevant Magazine Alamat situs : https://relevantmagazine.com/culture/tech/8-things-christians-need-do-more-social-media Judul asli artikel : 8 Things Christians Need to Do More on Social Media Penulis artikel : Neal Samudre Tech Tanggal akses : 21 September 2017 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: WAWASAN WANITAkategori: PELAYANAN

Yesus dan Media Sosial

Jum, 04/05/2018 - 08:22
edisi - 175 Dampak Media Sosial

Dalam masyarakat modern, ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk berkomunikasi satu sama lain. Akibatnya, dunia menjadi semakin kecil, atau begitulah tampaknya. Namun, bahkan dengan kemajuan teknologi, beberapa hal tidak akan pernah berubah, terlepas dari jumlah tahun-tahun yang telah berlalu.

Apa yang sedang saya bicarakan? Saya mengacu pada kebutuhan manusia untuk diakui dan diterima. Sebelumnya, ini tidak pernah lebih terasa dibandingkan dengan zaman kita hidup sekarang, dengan berbagai cara untuk mem-posting apa yang kita lakukan dan hal-hal yang kita nikmati atau benci di internet.

Kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain dan dihubungi kembali oleh mereka yang mengenal kita adalah sesuatu yang akan selalu kita rindukan. Saya teringat kisah tentang bagaimana seorang wanita Samaria yang pergi ke sumur pada siang hari dan menemui Orang yang tidak hanya memulai percakapan dengannya, tetapi juga menerimanya sebagaimana dirinya. Orang itu tidak lain adalah Tuhan dan Juru Selamat kita, Yesus Kristus.

Apakah Yesus hanya kebetulan datang ke sumur karena Dia haus? Saya memilih untuk berpendapat bahwa bukan itu yang terjadi; sebenarnya, saya ingin menyodorkan pemikiran bahwa Dia datang ke sumur, tidak hanya untuk minum, tetapi juga untuk bertemu dengan orang-orang. Sebab, sumur adalah tempat di mana orang berkumpul dan mengobrol saat mereka mengambil air di sana.

Dalam konteks zaman ini, "sumur" itu tidak lagi menjadi ruang fisik, tetapi telah menjadi ruang virtual, menjadi apa yang sekarang dikenal sebagai media sosial. Melalui berbagai topik yang menarik, seseorang bisa melempar percakapan ke hampir semua orang di dunia melalui Facebook, Twitter, blog, bahkan game online. Media sosial telah terintegrasi dengan kehidupan kita.

Dan, seperti wanita Samaria di sumur, ada banyak orang di luar sana, di dalam dunia situs yang luas yang mencari penerimaan. Akankah kita mengikuti teladan Yesus untuk melibatkan mereka ke dalam percakapan, mengenal mereka, dan membawa mereka ke Satu Teman yang sejati?

Meskipun saya telah menyebutkan hal virtual, ada banyak "sumur" lainnya -- tempat dan platform -- tempat kita bisa memulai percakapan dengan seseorang. Dan, salah satu tempat seperti itu bisa saja adalah meja makan dan rumah Anda. Saya berharap, suatu hari ibu saya akan datang untuk mengenal Juru Selamat kita yang besar dan ajaib itu. Sampai itu terjadi, saya akan terus berdoa baginya dan mencari peluang dalam menemukan kebutuhan dan kepeduliannya sehingga saya dapat menceritakan Kristus kepadanya.

Maukah Anda bergabung dengan saya, berdoa untuk orang yang Anda kasihi, yang belum mendengar Kabar Baik? Saya tahu bahwa saya akan melakukannya dan saya memilih untuk percaya kepada Dia, yang terlebih dulu telah memercayai kita.

Di sumur saya menunggu,
Siang berlalu hingga matahari makin memanas,
Mencari air abadi,
Yang rasanya tidak saya ketahui,
Mencari Yesus di dekat sumur.
(t/N. Risanti)

Download Audio

Sumber asli: Nama situs : YMI Alamat situs : http://ymi.today/2014/02/jesus-and-social-media/ Judul artikel : Jesus and Social Media Penulis artikel : Shawn Quah Tanggal akses : 2 Maret 2016 Diambil dari: Nama situs : Pelayanan Remaja Kristen Alamat situs : http://remaja.sabda.org/yesus-dan-media-sosial Tanggal akses : 10 November 2017 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: DUNIA WANITAkategori: PELAYANAN

Dampak Media Sosial

Jum, 04/05/2018 - 08:19

Salam dalam kasih Kristus,

Jejaring adalah wajah pada era digital. Itu adalah pernyataan dari salah satu tokoh politik dalam sebuah surat kabar nasional terkemuka, yang mau tidak mau harus kita sepakati kebenarannya. Melalui gawai di tangan, kita dapat berelasi dengan siapa pun, bahkan mengakses informasi apa pun melalui aplikasi media sosial. Semua orang percaya tentu akan ikut dalam arus besar ini, bahkan harus terlibat di dalamnya. Namun, jika dunia menggunakan media sosial sebagai sarana untuk keinginan duniawi, orang-orang percaya justru harus menjadi garam dan terang di ladang yang baru ini. Amanat Agung harus menjadi hal yang kita kerjakan di dalamnya, dan berbagai pelayanan penjangkauan, misi, pemuridan, doa, literatur kristiani, bahkan konseling, semakin terbuka luas untuk digarap. Ada begitu banyak orang yang membutuhkan Kristus dan berita keselamatan-Nya, dan kita bisa menjadi rekan sekerja Allah untuk menghampiri mereka dengan gawai yang kita miliki. Meski dunia nyata masih menjadi tempat berpijak kita untuk melakukan pelayanan bagi orang-orang dalam kehidupan kita, dunia maya menjadi lahan baru yang harus dikerjakan agar terang Allah berada di dalamnya. Ladang baru media sosial sudah terbuka dan membutuhkan banyak pekerja. Karena itu, mari kita turut berkontribusi untuk menjadi dampak yang mewartakan Injil dan kebenaran Kristus di dalamnya.

Pemimpin Redaksi e-Wanita,
N. Risanti

Tinggalkan Komentar