RSS Wanita

Subscribe to RSS Wanita feed
Updated: 2 hours 49 min ago

Permasalahan dengan Uang

Jum, 16/11/2018 - 17:03

Salam dalam kasih Kristus,

Ketika dihadapkan dengan kondisi keuangan yang sulit, bagaimana kita akan bersikap? Akankah kekhawatiran menguasai kita, atau kita akan berpaling kepada Allah, Sang Pemelihara kehidupan? Adalah manusiawi untuk menjadi khawatir, karena uang adalah salah satu hal yang penting dalam kehidupan yang kita jalani. Akan tetapi, uang bukanlah juru selamat atau dasar dari iman kita. Jika kemudian kita dilumpuhkan oleh kekhawatiran tersebut, dapat dipastikan bahwa sesungguhnya uang sudah menjadi berhala dalam hati atau kehidupan kita, sesuatu yang olehnya kita bergantung dan menempatkan keamanan atau kepercayaan diri. Allah haruslah selalu menjadi Tuhan dalam hidup kita, Pribadi yang kepada-Nya kita memercayakan segenap masa depan serta kelangsungan hidup ini. Kehidupan mungkin akan sulit ketika krisis keuangan menimpa, tetapi dengan iman yang hidup, kita tetap dapat melihat tangan Allah terus bekerja dan memelihara. Bahkan, sering kali Allah memakai kesempatan dalam krisis keuangan itu untuk membangun karakter dan iman percaya kita, sebab pertumbuhan keduanya sering kali muncul dari situasi yang sulit, bukan situasi yang mudah. Situasi sulit dalam keuangan sesungguhnya dapat menjadi kesempatan yang baik untuk semakin mengenal Allah dan kesetiaan-Nya, serta siapa Allah dalam kehidupan kita. Seperti dinyatakan dalam Matius 6:24, “Tidak ada orang yang dapat melayani dua tuan karena ia akan membenci tuan yang satu dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada tuan yang satu dan meremehkan yang lain.” Mulai hari ini tetapkan dan arahkan hati kita kepada Tuan yang sesungguhnya, yang berkuasa tidak hanya atas tubuh dan kehidupan, melainkan juga atas jiwa kita.



Pemimpin Redaksi e-Wanita,
N. Risanti

Saat Kondisi Keuangan Sulit?

Jum, 16/11/2018 - 17:02
edisi - 183 Permasalahan dengan Uang

Iman saat berhadapan dengan pengangguran dan tekanan finansial.

Saya duduk terkaget-kaget seakan tidak percaya, mencoba memproses kebenaran keras di balik kata-kata yang jauh lebih lembut yang baru saja disampaikan oleh bos saya. Saya dipecat.

Dengan terjadinya penurunan ekonomi, saya melihat kedua teman dan anggota keluarga kehilangan pekerjaan mereka. Dan, setiap kali saya berdoa -- untuk mereka, tentu saja, tetapi juga untuk diri saya sendiri. “Tolong, Tuhan, jangan biarkan hal itu terjadi kepada saya.” Tiba-tiba, ketakutan saya menjadi kenyataan, dan terjadi pada saat keuangan kami dalam keadaan tersulit dari yang pernah dihadapi keluarga kami selama bertahun-tahun. Putra kami di perguruan tinggi, dan pada tahun berikutnya, putri kami juga akan menyusul. Bagaimana kami bisa membayar satu biaya kuliah dengan gaji guru suami saya, apalagi untuk dua anak?

Pada hari-hari dan bulan berikutnya, saat usaha saya untuk mengamankan posisi lain gagal, saya mengalami perasaan panik dan tidak aman. Bagaimana jika saya tidak dapat mendapatkan pekerjaan lain? Bagaimana kami akan membayar tagihan? Bagaimana agar anak-anak kami tetap bersekolah? Saya merenungkan Alkitab saya, berjuang untuk menemukan ketenangan dan penghiburan dalam ayat-ayat seperti Roma 8:28, “Dan kita tahu, bahwa segala sesuatu bekerja bersama-sama demi kebaikan orang-orang yang mengasihi Allah, yaitu mereka yang dipanggil sesuai dengan rencana Allah.”

Namun, iman saya guncang. Masalahnya bukan karena saya tidak percaya Allah akan membuat “segala sesuatu bekerja bersama-sama”. Akan tetapi, karena saya takut rencana utama Allah akan membawa saya melewati tempat-tempat yang menyakitkan dan sulit sebelum saya mencapai “kebaikan” itu. Tempat yang saya benar-benar tidak ingin ke sana.

Dua Puluh Empat Jam Berikutnya

Kemudian, pada suatu pagi, Allah memberi sebuah ayat yang sudah dikenal dan membuat saya tiba-tiba tersadar. “Percayalah kepada TUHAN dengan sepenuh hatimu, janganlah engkau bersandar kepada pengertianmu sendiri” (Amsal 3:5, penekanan ditambahkan). Saya menyadari jika ada orang yang mencondongkan diri kepada pemahamannya sendiri, itulah saya: pemahaman saya tentang apa yang terbaik untuk saya dan keluarga saya. Dari sudut pandang saya, itu berarti kehidupan yang nyaman dan aman.

Walaupun saya suka menganggap diri saya sebagai otoritas tertinggi atas siapa diri saya, tetapi Allah mengenal saya dengan lebih baik. Mazmur 139:16 mengatakan, “Mata-Mu telah melihat janinku, di dalam kitab-Mu semua tertulis, hari-hari yang akan disusun bagiku, ketika belum ada satupun darinya.” Sebagai seorang Kristen, saya tahu bahwa saya perlu memberikan kendali penuh atas hidup saya jika saya mau menjadi lebih serupa dengan Dia. Namun, terkadang saya lupa bahwa menempatkan Allah sebagai yang memerintah memiliki manfaat praktis dan juga spiritual. Allah tahu setiap hal yang akan menimpa saya -- baik dan buruk -- sepanjang hidup saya di bumi ini. Seolah-olah, Dia memiliki peta lengkap dan terperinci (atau saat ini, GPS yang benar-benar bagus) ke tujuan akhir saya. Dengan tidak memercayai Dia, dengan mengkhawatirkan apa yang akan terjadi setiap hari dan “bersandar pada pengertian saya sendiri”, pada dasarnya saya menolak pimpinan dari Dia yang merencanakan semua rute saya, saya yang keras kepala tersandung dalam kegelapan.

Saat saya berusaha untuk memercayai Allah melalui ketidakpastian finansial ini, saya telah menemukan penghiburan dalam beberapa hal. Pertama, saya telah berhenti melihat ke depan. Bila Anda hidup dari gaji sampai gaji, mudah untuk merasa terbebani oleh masa depan yang mungkin akan Anda hadapi. Akan selalu ada tagihan uang kuliah, pembayaran mobil, atau alat yang perlu diganti, tetapi saya tidak lagi mempersiapkannya. Saya tidak berbicara tentang mengabaikan rencana anggaran atau keuangan -- itu adalah alat-alat yang hebat. Akan tetapi, ketika saya mempraktikkan tekad saya yang baru untuk memercayai Allah, saya telah mengadopsi pendekatan satu-hari-demi-satu-hari sesuai iman saya. Entah bagaimana, mengandalkan Dia sepenuhnya selama 24 jam berikutnya -- daripada 24 minggu, bulan, atau tahun ke depan -- terasa jauh lebih bisa dilakukan. Matius 6:34 mengatakan yang terbaik, “Jangan khawatir tentang hari esok, karena hari esok akan mengkhawatirkan dirinya sendiri. Cukuplah satu hari dengan kesusahannya sendiri.” Amin!

Melihat ke Belakang

Kedua, saya mulai menengok ke belakang. Selama bertahun-tahun, saya sebagai seorang Kristen, Allah telah berulang kali menunjukkan kesetiaan-Nya. Menyediakan untuk keluarga saya ketika ayah saya meninggal. Memungkinkan saya untuk menjalani delapan tahun sebagai ibu yang tinggal di rumah, ketika semua fakta dan hitungan mengatakan bahwa kami tidak pernah bisa cukup jika saya keluar dari pekerjaan saya. Memimpin saya untuk karier baru yang memenuhi mimpi pada masa lalu. Daftarnya terus berlanjut.

Bukti nyata tentang kebaikan dan perhatian Allah yang dinyatakan berulang-ulang dalam hidup saya meyakinkan saya. Kami memiliki sejarah yang kaya, Allah dan saya, dan Dia selalu ada saat saya membutuhkan-Nya. Saya memiliki bukti bahwa kepercayaan saya tidak salah; Allah telah setia, dan Dia akan “memenuhi segala keperluan (saya)” (Filipi 4:19). Ketika saya mengalami hari yang buruk dan merasa terbebani oleh masalah, baik mental, emosional, maupun finansial, saya merasa terhibur dengan mengingat masa lalu ketika jalan di depan sepertinya tidak mungkin, tetapi Allah membawa saya melewatinya.

Anda Tidak Bisa Memberi Lebih daripada Tuhan

Yang terakhir, saya menemukan berkat yang tidak terduga dalam melanjutkan persepuluhan meskipun keadaan keuangan kami terkadang kacau. Menulis cek itu bisa jadi sulit -- lagi pula, saya tahu gereja tidak akan mengirim kolektor tagihan jika uang kita tidak muncul di tempat persembahan. Namun, itu adalah ekspresi fisik dari rasa syukur saya bahwa Allah telah menyediakan untuk keluarga kami dan kepercayaan saya bahwa Dia akan terus melakukannya.

Ibu saya memiliki sebuah kalimat favorit: “Engkau tidak bisa memberi lebih banyak daripada Tuhan.” Pada minggu terakhir ini, saya mengalami sendiri pernyataan itu. Setelah melakukan pembayaran uang sekolah ganda pertama, kami kehabisan uang, dan gaji bulanan suami saya untuk mengarahkan band pujian gereja kami tidak akan dijadwalkan seminggu lagi. Meski begitu, saat berpakaian pada Minggu pagi, saya bisa merasakan Allah mengingatkan saya untuk mempersiapkan persembahan kami. “Kami tidak punya uang, Tuhan,” bantah saya. "Saya akan melakukannya nanti." Namun, perasaan yang mengganggu itu tidak hilang; jauh di lubuk hati, saya tahu apa yang Allah kehendaki untuk saya lakukan. Dengan menarik napas panjang, saya menulis cek sejumlah yang biasa kami berikan dan memasukkannya ke dalam amplop persembahan.

Sebelum ibadah, suami saya dan saya berada di kantor gereja membuat fotokopi. Duduk di meja dengan beberapa dokumen, salah satu dewan pengurus kami mendongak dan berkata, “Saya sedang menandatangani cek. Maukah Anda menerima cek pembayaran Anda sekarang?”

“Sebab, Aku mengetahui rencana-rencana yang Aku miliki bagi kamu,’ firman TUHAN, ‘rencana-rencana untuk kesejahteraan dan bukan untuk kemalanganmu, untuk memberimu masa depan dan pengharapan.” (Yeremia 29:11). Allah itu setia. Bahkan, saat kita tidak bisa melihatnya, atau memahaminya, Dia punya rencana. Saya menanti-nantikan hari ketika saya bisa melihat kembali masa-masa yang sulit ini sebagai bukti lain dari kebaikan-Nya yang dapat diandalkan. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari: Nama situs : Today's Christian Woman Alamat situs : http://www.todayschristianwoman.com/articles/2010/september/moneytight.html Judul asli artikel : When Money Tight Penulis artikel : Dawn Zemke Tanggal akses : 13 Juni 2017 Tipe Bahan: Tokoh WanitaKolom e-Wanita: DUNIA WANITAkategori: KELUARGA

Mengatur Keuangan Keluarga

Jum, 16/11/2018 - 16:59
edisi - 183 Permasalahan dengan Uang

Salah satu sumber pertikaian dalam rumah tangga adalah uang. Karena kurang uang, kita bertengkar; kelebihan uang kita pun bertengkar. Bagaimanakah caranya mengatur masalah keuangan sehingga tidak harus menjadi penyebab perselisihan?

  1. Kita harus menyamakan persepsi tentang uang dan kita harus kembali kepada firman Tuhan. Amsal 11:24 menyebutkan, “Seseorang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, yang lain menahan melebihi seharusnya, tetapi menjadi kekurangan.” Kesimpulannya adalah bahwa Tuhan adalah pemberi berkat dan bahwa usaha manusia terbatas, serta tidak menentukan pemasukannya. Jadi, kita harus selalu menyadari keterbatasan diri dan bergantung kepada Tuhan, bukan kepada kekuatan sendiri.
  2. Kendati berkat berasal dari Tuhan, kita diminta untuk hidup rajin dan tidak malas. Firman Tuhan mengingatkan, “Jangan menyukai tidur supaya kamu tidak menjadi miskin; bukalah matamu, maka kamu akan kenyang dengan makanan.” (Amsal 20:13). Dengan kata lain, kemalasan adalah jalan tercepat menuju kepada kemiskinan.
  3. Uang harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga sendiri sebelum digunakan untuk kepentingan orang lain. Firman Tuhan mengingatkan, “Akan tetapi, jika seseorang tidak memelihara sanak keluarganya sendiri, khususnya keluarga dekatnya, berarti ia telah menyangkali imannya dan ia lebih buruk daripada orang yang tidak percaya.” (1 Timotius 5:8).
  4. Setelah memenuhi kebutuhan pokok keluarga, kita harus memikirkan kebutuhan sesama. Tuhan menjanjikan berkat bagi orang yang murah hati. Amsal 22:9 berkata, “Orang yang baik matanya akan diberkati karena dia membagi rotinya dengan orang miskin.”
  5. Menyimpan uang adalah sebuah kebiasaan hidup yang bijaksana untuk mengantisipasi pengeluaran tidak terduga dan merupakan tanda hidup berdisiplin. Itu sebabnya, firman Tuhan mengajak kita untuk belajar dari “Semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi menyediakan makanannya pada musim panas;” (Amsal 30:25).

  6. Setelah menyisihkan uang untuk pengeluaran tidak terduga, hiduplah sebagai orang beriman, bukan seperti orang tidak beriman. Jangan sampai kita menumpukkan harta demi berjaga-jaga, seakan-akan tidak ada Tuhan yang memperhatikan dan memelihara kita. Firman Tuhan mengingatkan, “Jadi, jika rumput di padang, yang ada hari ini dan besok dilemparkan ke dalam perapian, Allah mendandaninya sedemikian rupa, bukankah terlebih lagi kamu, hai kamu yang kurang iman?” (Matius 6:30) Melalui perumpamaan orang kaya yang bodoh, yang membangun lumbung yang lebih besar untuk menyimpan gandum dan barang-barangnya, Tuhan Yesus mengingatkan, “Berjaga-jagalah dan waspadalah atas segala bentuk keserakahan karena hidup seseorang tidak bergantung pada banyaknya harta yang ia miliki.” (Lukas 12:15).
  7. Singkat kata, uang adalah titipan Tuhan kepada kita untuk digunakan, terutama untuk kepentingan-Nya, bukan kita. Jadi, janganlah kita menggenggamnya sebagai milik pribadi.

Download Audio

Diambil dari: Nama situs : Christian Counseling Center Indonesia (C3I) Alamat situs : http://c3i.sabda.org/mengatur_keuangan_keluarga Judul asli artikel : Mengatur Keuangan Keluarga Penulis artikel : Pdt. Dr. Paul Gunadi Tanggal akses : 10 Januari 2018 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: WAWASAN WANITAkategori: KEUANGAN

DAPATKAN BAHAN-BAHAN NATAL YLSA MELALUI SABDA BOT!

Jum, 16/11/2018 - 16:56

Bagi Anda yang memiliki aplikasi chat Telegram, bahan-bahan Natal dari YLSA dapat diperoleh melalui SABDA Bot. SABDA Bot adalah pelayanan mesin otomatis berbasis chat yang dapat memberikan ayat Alkitab dalam berbagai versi dan bahan-bahan biblika yang berguna untuk mempelajari dan menggali Alkitab. Selain itu, melalui SABDA Bot, Anda juga bisa memperoleh bahan-bahan Natal berupa artikel, renungan, cerita bergambar tentang kelahiran Yesus, ayat-ayat Natal, video Natal, himne Natal serta berbagai quotes gambar yang dapat Anda kirimkan kepada teman-teman dan kerabat Anda.

Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang cara penggunaan SABDA Bot, silakan kunjungi http://labs.sabda.org/SABDABot_untuk_Telegram.

Mari kita menyambut Natal 2018 dengan bahan-bahan YLSA di SABDA Bot!

Batsyeba

Kam, 25/10/2018 - 10:29
edisi - 182 Dibentuk oleh Firman

Batsyeba, istri Daud (memerintah c. 1005-965 SM) dan ibu dari Salomo (memerintah c. 968-928 SM), ditampilkan dalam setiap peranan ini dalam satu urutan narasi utama dalam cerita Daud, dan dia dicirikan cukup berbeda dalam masing-masing peranan.

Tulisan dalam 2 Samuel 11-12 tentang bagaimana Batsyeba menjadi menjadi istri Daud memberikan kejelasan bahwa keadaan tersebut memiliki masalah secara moral. Namun, karena dia mendapat tekanan, dia muncul dengan ternoda karena perzinaan dan pembunuhan yang menjadi tanggung jawab penuh dari Daud. Batsyeba, putri Eliam dan istri Uria, orang Het, menjadi objek tatapan penuh nafsu dari Daud. Cerita menyiratkan bahwa Daud seharusnya berada di medan perang, memimpin pasukannya, tetapi dia malahan berada di rumahnya di Yerusalem. Dari atap, dia melihat seorang wanita mandi; lalu, Daud membawa perempuan itu ke kediamannya di istana dan tidur dengan dia. Setelah itu, dia kembali ke rumahnya. Hasil perzinaan tersebut menyebabkan kehamilannya; ini menyebabkan Daud berencana untuk membuatnya sebagai anak Uria dan, ketika hal itu gagal, untuk melegitimasi anak tersebut sebagai anaknya, maka dia memastikan bahwa Uria akan tewas dalam pertempuran sehingga Daud bisa menikah dengan jandanya, Batsyeba.

Batsyeba tampaknya tidak mengetahui apa-apa tentang rencana Daud, dan, memang, hal itu terbentang di luar lingkupnya. Batsyeba sangat jarang menjadi “pemeran utama” dalam cerita ini dan bersikap diam kecuali untuk mengumumkan kehamilannya, yang tidak dikatakannya secara langsung. Tidak ada tanda-tanda yang memberitahukan mengenai kehidupan batinnya atau dari keterlibatan dirinya atau penolakannya terhadap tindakan Daud. Kita melihatnya selanjutnya setelah suaminya, Uria, tewas, dan dia bereaksi dengan tepat sebagai seorang istri. Dalam 2 Samuel 11:26 menekankan statusnya sebagai istri Uria: “Ketika istri Uria mendengar bahwa Uria, suaminya, sudah mati, dia meratapi suaminya.” Segera setelah masa berkabung, Daud menikahinya, dan dia mengandung seorang putra.

Anak yang lahir untuk Daud dan Batsyeba menjadi sakit dan segera meninggal. Daud digambarkan sebagai seorang ayah yang putus asa, berdoa dan berpuasa supaya anak itu bisa hidup. Mengenai sang ibu, kita tidak mendengar apa-apa, kecuali bahwa setelah anak itu meninggal, “Lalu, Daud menghibur Batsyeba, istrinya. Dia menghampirinya dan bersetubuh dengannya. Lalu, perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki, dan dia dinamai Salomo. TUHAN mengasihinya.” (2 Samuel 12:24).

Kita tidak harus menyimpulkan bahwa Batsyeba adalah seorang wanita yang tidak berperasaan, melainkan bahwa narator telah sengaja membentuk penggambaran karakternya untuk suatu tujuan. Peran Batsyeba sengaja diminimalkan agar cerita berfokus pada Daud. Daud menanggung tanggung jawab dan kutukan, dan dari sanalah, dia dilanda masalah di dalam keluarganya yang memiliki implikasi politik bagi pemerintahannya. Daud dalam bagian ini sangat berbeda dari orang yang digambarkan dalam cerita Abigail.

Jika Batsyeba digambarkan sebagai seorang yang pasif dalam hubungan awalnya dengan Daud, dia menjadi sangat aktif menjelang akhir hidup Daud dalam upayanya yang berhasil untuk memastikan bahwa putranya, Salomo, akan mewarisi takhta. 1 Raja-Raja 1 menunjukkan alurnya, yang bersama dengan Nabi Natan dan pendukung Salomo lainnya, dia datang untuk meyakinkan Daud bahwa dia telah menjanjikan takhta kerajaan kepada Salomo. Pada saat itu, Daud menjadi sosok yang menyedihkan, yang telah lama kehilangan kendali atas anak-anaknya. Tiga dari anak-anak Daud yang pertama telah meninggal, dan suksesi akan diputuskan di antara anak keempat, Adonia, dan pewaris yang ditakdirkan, Salomo. Hubungan kekeluargaan yang berjalan adalah hubungan ibu-anak, dan itu ditekankan dalam cara narator mengacu pada karakter tokoh-tokohnya: “Adonia, anak Hagit” (1 Raja-Raja 1:5), dan “Batsyeba, ibu Salomo” (1 Raja-Raja 1:11).

Batsyeba berhasil membuat anak laki-lakinya ditunjuk sebagai pengganti Daud, tetapi peran pentingnya dalam cerita tidak berhenti ketika dia telah menjadi raja, seperti yang kita lihat dalam 1 Raja-raja 2. Ketika Daud meninggal, Adonia yang gagal, yang telah diyakinkan oleh Salomo bahwa tidak ada bahaya yang akan terjadi kepadanya jika dia dapat membuktikan bahwa dirinya layak, meminta Batsyeba untuk menyampaikan permintaannya kepada Salomo karena dia dianggap berpengaruh. Adonia meminta agar salah satu selir Daud, Abisag, diberikan kepada Adonia untuk menjadi istrinya. Kedengarannya cukup baik –– hadiah hiburan kecil dari raja kepada saudaranya yang telah kehilangan takhta. Batsyeba menyampaikan permintaan tersebut, dengan mengubah sedikit penyampaiannya kepada Salomo, yang atasnya Salomo bereaksi keras, menafsirkan permintaan itu sebagai serangan terhadap posisinya sebagai raja. Permintaan itu meminta nyawa Adonia sebagai harganya.

Mengapa Batsyeba setuju untuk menyampaikan permintaan ini? Ada beberapa penjelasan yang mungkin. Mungkin Batsyeba memahami ketidakwajaran dari permintaan tersebut (itu telah ditafsirkan sebagai sama saja dengan mengklaim takhta) dan tahu bagaimana Salomo akan bereaksi. Dia mungkin senang melihat Adonia dibunuh sehingga dia tidak bisa tetap menjadi saingan anaknya.

Atau, mungkin Batsyeba hanya terlalu senang untuk membuat Abisag dihapus dari keluarga Salomo dan diberikan kepada Adonia. Abisag telah berada di tempat tidur Daud ketika Batsyeba datang untuk meyakinkan raja tua yang lemah itu untuk menunjuk Salomo sebagai penggantinya. Dan, meskipun Daud tidak memiliki hubungan seksual dengan Abisag, dia, sepertinya, saingan yang lebih muda untuk Batsyeba dari menjadi favorit Daud dan mungkin memiliki pengaruh pada masa depan atas Salomo. Apa pun penjelasannya, Batsyeba memainkan peran penting dalam suksesi takhta Salomo. (t/N. Risanti)

Bibliography

Bailey, Randall C. David in Love and War: The Pursuit of Power in 2 Samuel 10-12. Sheffield, England: 1990.

Berlin, Adele. Poetics and Interpretation of Biblical Narrative. Sheffield, England, 1983; Indiana: 1994.

Gunn, David M. The Story of King David: Genre and Interpretation. Sheffield, England: 1978.

Levenson, Jon D., and Baruch Halpern. “The Political Import of David's Marriages”. Journal of Biblical Literature 99 (1980): 507-518.

Meyers, Carol, General Editor. Women in Scripture. New York: 2000.

Sternberg, Meir. The Poetics of Biblical Narrative. Bloomington, Indiana: 1985. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari: Nama situs : Jewish Women's Archaive Alamat situs : http://jwa.org/encyclopedia/article/bathsheba-bible Judul asli artikel : Bathsheba: Bible Penulis artikel : Adele Berlin Tanggal akses : 16 Mei 2017 Tipe Bahan: Tokoh WanitaKolom e-Wanita: POTRET WANITAkategori: TOKOH

Apa yang Membentuk Anda?

Kam, 25/10/2018 - 10:27
edisi - 182 Dibentuk oleh Firman

Akhir-akhir ini, ada suatu bagian di department store yang disebut shapewear. Bagian itu terdapat baik pada pakaian untuk wanita maupun pria. Toko-toko ini memberi harapan kepada perhatian kita mengenai bentuk tubuh kita dan kesediaan kita untuk membeli pakaian yang menjanjikan akan memberi kita bentuk tubuh yang kita inginkan.

Namun, ketika kita membaca surat Paulus kepada gereja di Roma, kita menemukan bahwa bukanlah yang membentuk tubuh kita yang paling dia pedulikan. Dia lebih memperhatikan pada apa yang membentuk perspektif kita, prioritas kita, usaha kita, dan pendapat kita. Dia menulis:

“Janganlah menjadi sama dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan akal budimu, sehingga kamu dapat membedakan apa yang menjadi kehendak Allah; apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna.” (Roma 12:2, AYT)

Kata-katanya mendorong kita untuk bertanya kepada diri sendiri: Kekuatan eksternal apa yang membentuk dialog internal saya tentang apa yang penting? Apa yang mendorong saya untuk membuat pilihan tentang bagaimana saya menghabiskan uang, waktu, dan energi saya? Apakah saya cukup sadar untuk mengetahuinya?

Sejak kita dilahirkan ke dunia ini, dunia telah bekerja untuk menekan kita ke dalam cetakannya.

Tentu saja, kita tidak suka menganggap diri kita sebagai orang yang sedemikian mudah dipengaruhi. Kita suka berpikir bahwa kita mandiri dalam pemikiran kita. Namun sebenarnya, kita adalah produk lingkungan yang kita tinggali sehingga kita sering tidak mengenali apa yang sedang ditekankan kepada kita. Atau, mungkin kita tidak merasakan tekanan karena kita hanya mengikuti hal itu. Akan tetapi, itu tidak masuk akal bagi Paulus, karena kehidupan orang-orang yang telah dipanggil dan dimuliakan dan ditetapkan harusnya adalah menjadi serupa dengan citra Anak-Nya, bukan untuk menyesuaikan diri dengan dunia ini.

Alih-alih menjadi sama dengan dunia, Paulus memerintahkan kita untuk diubah. Ada kontras di sini antara sesuatu yang mendesak kita dari luar yang menyebabkan kita menyerupai (dunia) dan sesuatu yang terjadi di dalam yang menyebabkan kita diubahkan. Di mana itu terjadi? Dalam pikiran kita. Dan, apa yang terjadi dalam pikiran kita? Itu sedang diperbarui. Ada proyek renovasi yang sedang berlangsung.

Apakah Anda pernah merenovasi sesuatu? Kata yang digunakan oleh Paulus untuk “pembaruan” pikiran kita secara harfiah berarti “merenovasi” –– untuk mengeluarkan yang lama dan memasukkan yang baru. Yang melakukan pekerjaan renovasi adalah Roh Kudus. Akan tetapi, ada sesuatu yang harus kita lakukan di sini. Alat yang digunakan Roh Kudus adalah firman. Ini berarti kita harus membawa diri kita di bawah pengaruh firman.

Dalam bukunya, Growing Your Faith, almarhum Jerry Bridges menjelaskan proses ini sama seperti apa yang kita katakan kepada anak laki-laki kita saat dia pulang dari bermain di tumpukan kotoran: “Pergilah mandi!” Sabun dan air yang akan membasuh keringat dan kotoran. Akan tetapi, Tommy harus membawa dirinya ke dalam tindakan pembersihan supaya bersih. Jadi, kita katakan kepadanya, “Pergilah mandi!”

Demikian juga, ketika Paulus berkata kepada kita: “berubahlah oleh pembaruan akal budimu,” dia menginstruksikan kita untuk membawa diri kita di bawah pengaruh transformasi firman Allah. Saat firman Tuhan menguasai kita, Roh akan menggunakannya untuk menyelesaikan pekerjaan pembersihan, pembaruan, dan renovasi dalam pikiran kita. Kita akan mulai berpikir dengan benar. Pikiran kita akan semakin dekat dengan pikiran Allah. Cara kita menilai hal-hal akan diselaraskan lebih dekat dengan cara Allah menilai sesuatu. Dengan demikian, kita akan lebih mampu untuk mengetahui apa yang Allah inginkan.

Kita tidak perlu menunggu beberapa firman Allah tambahan dari Alkitab dan yang supernatural untuk diucapkan ke dalam pikiran bawah sadar kita demi mengetahui apa yang harus dilakukan. Kita akan bisa memilah tindakan bijak. Allah tidak memutuskan untuk kita dan kemudian mengirimkan keputusan-Nya kepada kita. Seperti ayah yang baik, Dia mengajari kita untuk mengetahui apa yang baik dan dapat diterima dan sempurna. Bagaimana? Dia memperbarui pikiran kita saat kita berada di bawah firman-Nya. Dia memberi kita pikiran Kristus.

Dunia di sekitar kita mencoba untuk menekan kita ke dalam cetakannya yang sangat individualis. Akan tetapi, firman Tuhan mengubah kita menjadi orang-orang yang identitasnya sekarang menjadi seorang hamba bagi Yesus Kristus dan tidak lagi menjadi budak kemandirian kita sendiri atau pemenuhan diri sendiri.

Dunia di sekitar kita mencoba untuk menekan kita ke dalam cetakan konsumennya. Periklanannya berusaha meyakinkan kita bahwa kita tidak akan puas tanpa apa pun yang dijual. Akan tetapi, firman Tuhan mengubah kita menjadi orang-orang yang dapat berkata, “Aku tahu apa artinya kekurangan, dan aku juga tahu apa artinya kelimpahan. Dalam segala dan setiap keadaan, aku telah belajar rahasia hidup berkecukupan, apakah dengan kenyang atau lapar, apakah hidup banyak uang atau tidak punya uang. Aku dapat melakukan segala sesuatu melalui Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:12-13, AYT)

Dunia di sekitar kita mencoba untuk menekan kita ke dalam cetakan pemikirannya bahwa tujuan hidup ini adalah kenyamanan dan keamanan. Akan tetapi, firman Tuhan memperbarui pikiran kita sehingga kita memiliki aspirasi yang sangat berbeda dari sekadar kehidupan yang nyaman dengan masa pensiun yang nyaman. Kita ingin mencurahkan diri kita untuk Injil sampai kita mati. Kita sangat percaya bahwa Bapa surgawi memperhatikan kita dan memberikan masa depan bagi kita di mana kita akan mendapatkan segalanya, kita tidak begitu khawatir kehilangan di sini. Kita terus maju kepada tujuan untuk mendapatkan hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

Dunia di sekitar kita berusaha untuk menekan kita ke dalam cetakannya. Dan, kita hanya bisa mengalah. Kita bisa dibentuk oleh dunia di sekitar kita. Namun, kita tidak harus menjadi seperti itu. Kita bisa menolak. Kita bisa dibentuk oleh firman Tuhan. Saat kita menerimanya, pikirkanlah dan jalanilah, itu akan mengubah kita dengan cara yang mendalam dan menyenangkan. Kita akan semakin tahu bagaimana menjalani hidup di dunia sekitar kita. (t/Jing-Jing)

Download Audio

Diterjemahkan dari: Nama situs : Ligonier Ministries Alamat situs : http://www.ligonier.org/learn/articles/what-shaping-you/ Judul asli artikel : What Is Shaping You? Penulis artikel : Nancy Guthrie Tanggal akses : 15 Juni 2017 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: DUNIA WANITAkategori: KEHIDUPAN ROHANI

Aplikasi Publikasi SABDA

Kam, 20/09/2018 - 11:14

Publikasi elektronik YLSA merupakan salah satu wujud pelayanan literatur yang diselenggarakan oleh Yayasan Lembaga SABDA. Selain melalui sistem jaringan milis I-KAN (Internet -- Komputer Alkitab Network), kini Anda bisa mendapatkan publikasi elektronik YLSA melalui aplikasi Android Publikasi SABDA. Sebanyak lebih dari 20 publikasi dari berbagai bidang pelayanan, dengan jadwal terbit publikasi yang bervariasi (mingguan, dwimingguan, dan bulanan), bisa Anda nikmati di mana saja dan kapan saja. Dengan adanya aplikasi Publikasi SABDA, bahan-bahan kekristenan yang bermutu dan alkitabiah ini pun bisa lebih mudah disebarkan kepada rekan-rekan Anda. Segeralah mengunduh aplikasi Publikasi SABDA dan mari kita bersama-sama bertumbuh dalam Kristus.

Anda bisa mengunduh aplikasi Publikasi SABDA melalui tautan berikut ini:

Download Aplikasi Publikasi SABDA

Kepedulian Tuhan kepada Ibu Tunggal

Kam, 20/09/2018 - 11:13
edisi - 180 Menjadi Ibu Tunggal

Minyak Janda

2 Raja-Raja 4:1-7

Dia sangat putus asa. Seorang janda dengan dua anak laki-laki. Suaminya telah meninggal dan meninggalkan dia dengan utang yang tidak dapat dia bayar. Oh, dia orang yang baik, bahkan orang religius. Dan, dia berusaha keras untuk melakukan pembayaran. Namun, hari ini, dompetnya kosong dan lemarinya kosong. Berita telah sampai kepadanya bahwa penagih utang menuntut pembayaran dan akan mengambil kedua anaknya untuk bekerja sebagai budak guna melunasi utang suaminya.

Dengan putus asa, dia berlari ke rumah Elisa. Dia adalah “orang suci”, seorang nabi, seorang pria yang dikhususkan oleh Allah. Pendeta lokal hari ini. Dia mengenal suaminya dari komunitas religius tempat mereka bekerja sama. Janda muda itu menumpahkan kesedihannya kepada Elisa. “Hambamu, yaitu suamiku, sudah mati,” isaknya, “dan engkau mengetahui bahwa hambamu itu takut akan TUHAN. Namun, sekarang penagih utang datang untuk mengambil kedua anakku untuk menjadi budaknya.”

Elisa bertanya kepadanya, “Apa yang dapat aku perbuat? Beritahukanlah apa yang kamu punya di rumah.”

“Tidak ada sesuatu apa pun di rumah hambamu ini,” katanya, “selain hanya sebuah buli-buli berisi minyak.”

Lalu, Elisa menyuruhnya melakukan hal yang aneh. Dia menyuruhnya, “Pergi, dan mintalah bejana-bejana dari luar, dari semua tetanggamu bejana-bejana yang kosong. Namun, jangan mengumpulkan sedikit. Sesudah itu, masuk dan tutuplah pintu sesudah anak-anakmu masuk. Kemudian, tuanglah minyak itu ke dalam seluruh bejana dan angkatlah yang sudah berisi penuh.”.

Mengetahui sedikit minyak yang dimilikinya di rumah, wanita ini bisa dengan mudah menuliskan nasihat aneh ini sebagai pikiran yang tidak berguna dari seorang fanatik religius. Namun, ternyata tidak. Dia memiliki iman dalam dirinya dan situasi yang benar-benar membutuhkan keajaiban. Jadi, dia pergi bersama anak-anaknya untuk mengumpulkan bejana-bejana. Dan, bukan hanya sedikit! Tidak bisakah Anda membayangkan gumaman di lingkungan ini karena ibu muda dan anak-anaknya itu mengetuk pintu demi pintu dengan pertanyaan, “Bisakah saya meminjam bejana cadangan yang Anda miliki?”

Kemudian, ketika mereka punya banyak bejana, saat meja mereka tertutup oleh bejana-bejana itu seperti juga di lantai, ibu menutup pintu setelah anak-anaknya masuk. Dia meraih ke dalam lemari berisi sebotol kecil minyak dan mulai menuangkannya. Satu bejana terisi, lalu dua, lalu tiga. Anak-anak membawa bejana-bejana kepadanya dan dia terus menuang.

Bayangkan kegembiraan yang muncul di rumah kecil itu karena masing-masing bejana diisi dari botol kecil itu. Bayangkan semua bejana di atas meja penuh dan anak-anak mulai mengangkat bejana-bejana dari lantai. Ibu melirik ke buli-buli minyak kecil itu. Masih ada minyak di sana! Dia tersenyum kepada anak-anaknya dan mereka membalas senyumnya. Sebuah kegembiraan yang diam-diam muncul saat mereka menyadari bahwa mereka menyaksikan sebuah keajaiban, sebuah demonstrasi pribadi tentang kemurahan dan anugerah Allah. Keajaiban yang diam-diam itu hanya bisa terjadi karena iman dan ketaatan seorang ibu yang mengambil risiko.

“Dekatkanlah kepadaku bejana lainnya,” katanya kepada anaknya. Akan tetapi, anaknya menjawab, “Tidak ada lagi bejana.” Kemudian, minyak itu pun berhenti mengalir.

Dengan gembira, wanita itu berlari kembali ke rumah Elisa dan memberi tahu Elisa apa yang telah terjadi. Kata-katanya pasti berantakan saat dia menceritakan keajaiban itu. Elisa berkata, “Pergi dan juallah minyak itu untuk membayar utangmu, sehingga kamu dan anak-anakmu dapat hidup dari sisanya.”

Bagaimana lingkungannya pasti membicarakan desas-desus saat ibu dan anak-anaknya membawa bejana-bejana ke pasar dan menjual minyaknya. Betapa iman pasti tumbuh dalam hati wanita dan anak-anaknya saat uang dikumpulkan, masuk ke dalam sakunya. Betapa bersyukurnya dia saat dia dengan penuh syukur membayar penagih utang yang mengejar.

Betapa nyenyak tidurnya malam itu karena mengetahui bahwa dia memiliki Allah yang dapat melakukan mukjizat. Dia memiliki Allah yang peduli kepadanya dan kedua anaknya. Ya, dia punya Allah yang bisa diandalkan. Betapa bersyukurnya dia bahwa dia telah mengambil risiko mengumpulkan bejana-bejana tersebut saat dia tahu dia tidak memiliki minyak untuk mengisinya. Betapa luar biasa keajaiban yang mungkin saja mereka lewatkan!

Bayangkan bagaimana dia dan anak laki-lakinya menceritakan ulang kisah itu berulang-ulang pada tahun-tahun mendatang. Allah bisa diandalkan!!

Allah yang kemarin masih tetap adalah Allah hari ini. Allah dari janda itu masih tetap adalah Allah yang sama, yang peduli dengan Anda dan anak-anak Anda. Dia masih melakukan keajaiban. Dia masih mencari hati yang akan memercayai Dia, hati yang akan mengambil risiko untuk percaya dan taat.

Jika Anda membutuhkan keajaiban hari ini, datanglah kepada Allah dan mintalah pertolongan dari Dia. Temukan orang yang saleh untuk berdoa bersama Anda. Percayalah kepada-Nya, taatilah Dia, dan perhatikan Dia bekerja.

“Marilah kita datang menghampiri takhta anugerah supaya kita menerima belas kasihan dan menemukan anugerah untuk menolong kita, ketika kita membutuhkannya.” (Ibrani 4:16, AYT)

“Engkau telah menjadi penolong bagi para yatim piatu.” (Mazmur 10:14b, AYT) (t/Jing-Jing)

Download Audio

Diterjemahkan dari: Nama situs : The Christian Woman Alamat situs : http://www.thechristianwoman.com/christian-women-topics/gods-care-single-mom Judul asli artikel : God's Care for A Single Mom Penulis artikel : Gail Rodgers Tanggal akses : 15 Juni 2017 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: DUNIA WANITAkategori: KELUARGA

Menjadi Ibu Tunggal

Kam, 20/09/2018 - 11:06

Salam dalam kasih Kristus,

Menjadi ibu tunggal bukanlah pilihan bagi kebanyakan wanita. Namun, situasi hidup terkadang membuat seseorang harus menyandang gelar tersebut, meski itu bukan kondisi yang ideal untuk membesarkan anak. Selain beban ekonomi yang harus ditanggung sendiri, ibu tunggal juga harus berperan sebagai kepala keluarga sekaligus pengasuh tunggal dalam mendidik dan membesarkan anak. Namun, situasi para ibu tunggal tentu tidak akan terluput dari kasih dan pemeliharaan Allah. Allah adalah tempat perlindungan yang aman bagi mereka yang lemah dan berbeban berat. Dia tidak akan mengabaikan situasi sulit yang harus dihadapi oleh para ibu tunggal jika mereka berseru kepada-Nya. Melalui kisah yang terdapat dalam 2 Raja-Raja 4:17, kita akan melihat bagaimana Allah peduli dan memelihara kehidupan seorang ibu tunggal dengan cara yang luar biasa. Melalui kisah tersebut dan juga kisah para ibu tunggal lain dari Alkitab maupun dari pribadi-pribadi yang kita kenal, kita akan melihat peran Allah sebagai kepala rumah tangga sekaligus Bapa yang baik dalam rumah tangga mereka. Sajian kami kali ini akan menegaskan pernyataan tersebut kepada Anda, sekaligus juga memberikan wawasan tentang kesalahan apa yang harus dihindari oleh para ibu tunggal. Selamat membaca sajian kami. Tuhan Yesus memberkati.



Pemimpin Redaksi e-Wanita,
N. Risanti

Lima Hal untuk Dilakukan Sementara Anda Melajang

Kam, 06/09/2018 - 08:34

Hidup melajang bukanlah sebuah penyakit. Ini adalah sebuah kesempatan bagi Anda untuk bertumbuh, belajar, dan mengalami hidup sedemikian rupa yang tidak bisa Anda lakukan ketika Anda menikah.

Berikut adalah lima hal untuk dilakukan sementara Anda melajang:

1. Jadilah teguh di dalam iman Anda.

Bangunlah iman Anda pada sebuah fondasi yang tidak bisa digoncangkan, siapa pun yang Anda temui. Ini tidak hanya akan mendatangkan damai selama masa melajang Anda, tetapi juga akan menolong Anda di dalam perjalanan Anda menemukan orang yang Anda rencanakan untuk bersama dengan Anda selama sisa hidup Anda. Jangan biarkan kepercayaan Anda berubah tergantung pada siapa yang ingin Anda buat terkesan. Taktik ini akan selalu kembali merugikan Anda dalam jangka panjangnya. Temukan seseorang yang melengkapi pengabdian Anda kepada Allah.

2. Mantap dalam identitas pribadi Anda.

Kenalilah siapa diri Anda sebelum mencoba menjelaskannya kepada orang lain. Yakinlah dengan tujuan Anda, tubuh Anda, identitas Anda dan pilihan-pilihan hidup Anda. Hubungan-hubungan tidak akan memperbaiki masalah identitas Anda, tetapi hal tersebut bisa menjadi tambahan yang besar kepada siapa diri Anda sebagai seseorang.

3. Fokuslah dengan sekolah, atau mulailah karir Anda.

Anda memiliki banyak waktu dengan tangan Anda. Daripada menggunakannya dalam kubangan hidup melajang Anda, pergilah lakukan sesuatu untuk diri Anda sendiri. Anda lebih berharga daripada sekadar duduk-duduk di bangku menantikan signifikansi yang orang lain tentukan bagi Anda. Melangkahlah keluar ke dalam dunia dan jadilah dewasa dengan langsung melakukannya. Mulailah membangun masa depan Anda daripada sekadar memimpikannya.

4. Belajarlah untuk mandiri sampai hal sebaliknya diperlukan.

Tidak ada salahnya menginginkan untuk menjadi ibu yang tinggal di rumah, atau bahkan menjadi seorang laki-laki yang bekerja dari rumah. Akan tetapi, sampai salah satu dari kesempatan itu terjadi, Anda perlu memastikan Anda melakukan segala yang mungkin untuk mencukupi kebutuhan Anda sendiri, keluarga masa depan Anda dan keinginan masa depan Anda. Jangan hidup dari hari ke hari. Rencanakan masa depan, jadilah penatalayan yang baik dari apa yang Anda miliki, dan pandanglah aneka kemungkinan. Anda berutang kepada diri Anda sendiri untuk menjadi dewasa dalam semua aspek hidup Anda.

5. Berhentilah berpacaran dengan orang-orang yang Anda tahu tidak tepat untuk Anda.

Sementara Anda masih melajang, jauhi pengalaman kencan buta. Jika Anda tidak berpacaran dengan kesungguhan, itu akan selalu berakhir dengan kehancuran. Jika Anda mengenal seseorang yang tidak sesuai dengan kriteria Anda, jangan beri waktu kepadanya. Semua yang Anda lakukan akan menyakiti mereka dan mengakibatkan kehancuran pada diri Anda sendiri. Berhentilah berpacaran dengan orang-orang yang salah dan mulailah berfokus untuk menjadi orang yang Allah kehendaki. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Church Leaders URL : https://churchleaders.com/outreach-missions/outreach-missions-articles/3... Judul asli artikel : 5 Things to Do While You Are Single Penulis artikel : Jarrid Wilson Tanggal akses : 27 Juli 2018 Kategori Tips: LAJANGTipe Bahan: Tips

Tinggalkan Komentar