RSS Wanita

Subscribe to RSS Wanita feed
Updated: 20 hours 49 min ago

Enam Cara untuk Membantu Anak Anda Bijak Menggunakan Media Sosial

Sen, 22/05/2017 - 15:14
edisi - 131 Mendampingi Anak Generasi Digital

Orangtua pada masa kini bertumbuh dalam budaya yang sama sekali berbeda dengan budaya anak-anak mereka. Teknologi telah secara radikal mengubah cara kita hidup.

Setiap anak yang masih tinggal bersama orangtua mereka adalah salah satu dari golongan digital native (generasi digital - Red.), yang tidak memiliki konsep kehidupan prainternet atau zaman sebelum semua orang aktif di media sossial. Generasi milenium dan sesudahnya hanya tahu bagaimana rasanya dikelilingi oleh dunia yang sangat terhubung melalui koneksi internet, yang penuh dengan aktivitas membagi swafoto (selfie - Red.), topik yang sedang tren di Twitter, dan teman-teman di Facebook.

Menurut Pew Research, 92 persen dari anak usia 13 hingga 17 tahun memiliki aktivitas daring setiap hari. Hampir 3 dari 4 orang (73 persen) memiliki ponsel pintar sendiri, dan 88 persen setidaknya memiliki satu ponsel pintar. Dengan mudahnya akses ke internet, 89 persen remaja dilaporkan menggunakan setidaknya satu situs media sosial atau aplikasi, dan 71 persen mengatakan bahwa mereka menggunakan dua situs atau lebih.

Namun, semua pengalaman di dunia itu tidak secara otomatis membuat seseorang mampu menggunakannya secara bijak. Ambil contoh berita heboh ancaman bom di penerbangan yang di-tweet oleh seorang remaja tahun lalu, yang mengakibatkan satu orang ditangkap.

Sumber gambar: http://brand24.com/blog/wp-content/uploads/2014/10/socialm.jpg

Ini menggambarkan perbedaan antara pengetahuan dan kebijaksanaan. Remaja (dan banyak orang lainnya) memiliki pengetahuan yang luas tentang media sosial, tetapi sering kurang bijaksana ketika menggunakannya.

Menyadari hal tersebut, berikut adalah enam cara orangtua dapat membantu anak-anak mereka agar pengetahuan media sosial mereka terbentuk sampai mereka sendiri menjadi bijaksana.

1. Mulai pada usia yang tepat.

Setiap anak berbeda, tidak ada usia yang tepat untuk mulai menggunakan media sosial. Anda mengenal anak Anda lebih baik daripada orang lain. Anda yang paling tahu kapan mereka siap memasuki dunia media sosial. Ingat, menunggu tidak akan merugikan siapa pun, bahkan ketika "semua orang" sudah aktif di media sosial.

2. Teliti semua aplikasi.

Sebuah aplikasi media sosial dirilis setiap minggu. Hal ini mungkin terlihat menakutkan, tetapi sebelum Anda mengizinkan anak-anak Anda mulai menggunakan media sosial, Anda harus tahu aplikasi populer, seperti: Facebook, Twitter, Instagram, Snapchat, dan Vine.

Lebih dari itu, orangtua perlu mengetahui aplikasi baru, seperti: Kik, Whisper, Yik Yak, Periscope, dan YouNow. Anda tidak perlu menguasai semuanya, ketahui saja apa fungsi aplikasi itu dan apa fitur-fiturnya.

3. Batasi jumlah platform.

Meskipun Anda harus tahu apa saja aplikasi-aplikasi yang populer, anak-anak Anda tidak perlu memiliki semua aplikasi tersebut di ponsel mereka. Biarkan mereka menghabiskan waktu pada satu aplikasi dan menunjukkan bahwa dirinya bisa dipercaya sebelum menambah aplikasi lainnya.

Dan, sebelum mereka mulai menggunakan platform baru, pastikan Anda mengetahui platform itu dengan baik. Pelajari luar dan dalamnya, dan putuskan apakah itu tepat untuk anak Anda. Jika mereka tidak siap untuk satu platform, tunggu sampai mereka siap sebelum Anda memberi mereka izin.

Sumber gambar: https://pixabay.com/en/icons-symbols-family-button-847273/

4. Beri tahu mereka perangkapnya.

Ini bukan soal menakut-nakuti anak Anda; ini tentang mengajar kebijaksanaan kepada anak-anak Anda dalam segala hal. Mereka perlu tahu ada risiko ketika mereka menggunakan media sosial. Bicaralah dengan mereka tentang hal itu.

Apa yang mereka tulis sebagai remaja akan tetap ada di sana ketika mereka mencari pekerjaan pada usia 20-an tahun, dan pada usia 30-an setelah memiliki keluarga. Tidak peduli secanggih apa aplikasi tersebut, selalu ada cara bagi seseorang untuk melihat atau mengambil apa yang seharusnya sudah terhapus.

5. Mengetahui semua kata sandi.

Untuk setiap situs jejaring sosial yang mereka ikuti, Anda harus mengetahui kata sandi apa yang mereka pakai. Hal ini bukan berarti Anda memeriksanya setiap hari, itu hanya berarti bahwa Anda dapat memeriksanya jika diperlukan.

Ini seperti menggunakan sepeda latih untuk membantu mereka belajar naik sepeda sungguhan, Anda menyediakan jaring pengaman pada saat mereka belajar untuk menavigasi sesuatu yang sama sekali baru. Berikan koreksi dan dorongan yang diperlukan.

6. Tunjukkan kemurahan hati.

Pikirkan kembali ke masa-masa Anda sebagai seorang siswa SMP atau SMA. Hal apa yang akan Anda tulis di media sosial andaikan saat itu media sosial sudah ada? Mudah-mudahan, itu dapat memberi Anda perspektif yang lebih baik ketika Anda melihat anak remaja Anda mencoba menavigasi media sosial saat ini.

Mereka tidak sempurna di dunia nyata sehingga sadarilah bahwa mereka tidak akan sempurna juga di dunia maya. Ketika mereka tersandung -- dan mereka akan tersandung -- gunakan saat-saat kegagalan sebagai kesempatan untuk belajar dan bertumbuh. Ingat, Anda mencoba untuk mendisiplinkan mereka, bukan hanya menghukum.

Masa remaja selalu penuh gejolak dan menambahkan media sosial ke dalam kehidupan yang dinamis tidak membuat segalanya lebih mudah, tetapi Anda dan anak-anak Anda tidak boleh sekadar menerimanya, berkembanglah dalamnya. (t/Jing-Jing)

Sumber asli: Nama situs : Factsandtrends.net Alamat situs : http://factsandtrends.net/2015/05/29/6-ways-to-help-your-kids-survive-social-media/ Judul asli artikel : 6 Ways to Help Your Kids Survive Social Media Penulis artikel : Aaron Earls Tanggal akses : 2 Februari 2016


Diambil dari: Nama situs : Apps4god.org Alamat situs : http://apps4god.org/artikel/6-Cara-untuk-Membantu-Anak-Anda-Bijak-Menggunakan-Media-Sosial.php Tanggal akses : 17 Februari 2017 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: WAWASAN WANITAkategori: KELUARGA

Teknologi dan Batasan yang Sesuai untuk Anak-Anak Anda

Sen, 22/05/2017 - 15:12
edisi - 131 Mendampingi Anak Generasi Digital

Teknologi adalah realitas yang tidak akan berlalu. Penting mengajarkan kepada anak-anak untuk membuat keputusan yang baik tentang teknologi, membatasi frekuensi penggunaannya, dan menjaga akses pada konten yang sesuai dan aman.

"Jika orangtua melihat teknologi sebagai musuh, mereka akan menjadi orang yang frustasi selama bertahun-tahun dan bergumul dengan anak-anak mereka. Daripada melihatnya sebagai penjelmaan Setan, orangtua perlu bekerja sama dengan anak-anak dan memungkinkan mereka menikmati manfaat dari teknologi, tanpa membiarkan hal itu mengambil alih kehidupan anak-anak. Sering kali, ketakutan terhadap teknologi berasal dari kurangnya pengetahuan orangtua. Sulit untuk mengikuti istilah baru yang terkait dengan teknologi media sosial, seperti: Instagram, Twitter, hashtag, dll.. Biarkan anak Anda mengajarkannya kepada Anda. Mereka sering kali senang menjadi ahlinya!

Adalah ide yang baik untuk membatasi jumlah waktu yang diperbolehkan bagi anak-anak Anda untuk menggunakan teknologi. Hal ini biasanya berarti membatasi penggunaan ketika mereka sedang bersiap-siap sebelum ke sekolah, dan sampai pekerjaan rumah dan tugas selesai setelah pulang sekolah. Juga, sebaiknya jangan membiarkan anak-anak yang lebih kecil bermain video game sebelum tidur. Video game sangat merangsang otak dan menyulitkan anak Anda untuk tenang dan siap untuk tidur.

Sumber gambar: http://www.smarterservices.com/wp-content/uploads/2013/09/21.jpg

Pikirkan tentang apa yang dilewatkan anak Anda ketika mereka menghabiskan waktu bermain video game. Banyak anak sekarang ini tidak menghabiskan waktu bermain dengan mainan. Ini adalah kesalahan besar, karena memainkan permainan yang besifat nonteknologi memiliki beberapa keunggulan, yaitu meningkatkan keterampilan motorik halus dan kasar, meningkatkan kemampuan verbal, dan mendorong kreativitas imajinatif (tidak seperti video game, tempat "kreativitas" sudah ditentukan), misalnya.

Jangan biarkan teknologi mengurangi waktu keluarga. Jika Anda mendapati anak Anda menghabiskan lebih banyak waktu bermain video game daripada berinteraksi dengan orang lain, mereka mungkin bermain terlalu banyak. Waktu keluarga membutuhkan usaha, tetapi itu layak diperjuangkan dan sangat penting bagi perkembangan anak.

Jangan naif tentang konten video game. Bahkan, permainan dengan sedikit kekerasan pun, jika dimainkan secara berulang-ulang, akan memiliki efek signifikan pada perkembangan otak. Salah satu fakta yang paling terkenal dalam psikologi perilaku adalah bahwa koneksi otak dilakukan melalui pengulangan dan penguatan, yang merupakan ciri khas dari video game. Efek kekerasan video game pada anak-anak ini diperparah dengan sifat interaktif game tersebut. Dalam banyak permainan, anak-anak diberi hadiah karena menjadi lebih ganas. Tindakan kekerasan dilakukan berulang-ulang. Anak mengendalikan kekerasan dan melihat kekerasan dengan matanya sendiri (membunuh, menendang, menusuk, dan menembak). Studi juga mengaitkan permainan video game dengan kontrol dorongan hati yang buruk.

Di atas segalanya, pikirkan tentang nilai-nilai yang terkandung dalam video game. Apakah itu adalah nilai-nilai yang Anda inginkan untuk dimiliki oleh anak Anda? Sebagian besar video game mungkin tidak.

Pedoman Penggunaan Teknologi yang Aman:

1. Sebelum memberikan anak Anda ponsel, tablet, komputer, atau akses lainnya terhadap teknologi, duduklah bersama dengan mereka dan diskusikan pedoman-pedomannya, lalu dapatkan masukan dari mereka. Anda mungkin akan terkejut melihat betapa baiknya ide-ide mereka. Dan, mereka akan lebih cenderung mengikuti aturan jika mereka membantu pembuatannya. Bicarakan dengan mereka tentang isu-isu di bawah ini.

2. Pastikan semua teknologi memiliki kontrol pengasuhan yang baik, yang tidak dapat disusupi oleh anak-anak yang cerdas teknologi. Tidak masuk akal bagi saya melihat berapa banyak orangtua memberikan akses internet kepada anak-anak mereka tanpa kontrol. Bahkan, anak-anak yang dibesarkan dengan nilai-nilai yang sangat baik adalah anak-anak yang sangat ingin tahu dan dapat mengakses konten yang tidak pantas dengan satu klik tetikus. Setelah gambar-gambar tersebut terlihat, secara permanen gambar-gambar itu akan terukir di dalam memori mereka. Pornografi saat ini bersifat jauh lebih grafis dan menyesatkan dibanding apa yang tersedia ketika kita masih muda. Perangkat lunak keamanan internet, seperti Net Nanny (memiliki biaya sekitar 50 dollar), dapat membantu memblokir situs-situs, serta mencari dan memblokir gambar-gambar eksplisit; itu juga mampu memblokir pesan instan. Program-program gratis lainnya juga tersedia.

3. Diskusikan pornografi dan dampaknya dengan anak-anak Anda sebelum mereka menjadi remaja. Anak-anak punya akses yang mudah ke konten pornografi melalui perangkat teman-teman mereka, yang mungkin tidak memiliki kontrol orangtua. Bantulah mereka memikirkan cara-cara agar mereka dapat berpaling dari godaan tanpa merasa tidak nyaman.

Sumber gambar: https://pixabay.com/p-1073638/?no_redirect

4. Biasakan melihat bagian histori internet di komputer Anda dan pertahankan akses ke akun-akun surel. Kemudian, tinjaulah secara teratur. Jelaskan bahwa Anda memiliki akses ke apa pun pada komputer atau perangkat lain dan bisa meninjau bagian histori setiap saat. Jika anak-anak bersikeras meminta privasi, ingatkan mereka bahwa itu adalah tugas Anda untuk menjaga mereka tetap aman, dan itu bukan masalah kepercayaan, melainkan masalah perlindungan dan cinta. Jangan terpengaruh untuk percaya bahwa anak-anak memiliki "hak", yang akan menghambat Anda melakukan pekerjaan Anda.

5. Paksa diri Anda untuk mengenal cara-cara terbaru berkomunikasi secara daring, seperti Twitter, perpesanan instan, Snapchat, dan lain-lain. Jangan biarkan anak Anda menjadi lebih cerdas komputer dibanding Anda. Teruslah mengikuti perkembangan terbaru!

6. Ajarkan anak Anda bahwa jika ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman, hal terbaik untuk dilakukan adalah tidak meresponsnya dan mematikan komputer. Penelitian menunjukkan bahwa kurang dari 5% dari anak-anak yang mendapatkan pesan yang membuat mereka merasa tidak nyaman memberi tahu orangtua mereka. Hal ini mungkin disebabkan anak-anak merasa takut bahwa mereka akan kehilangan hak istimewa untuk menggunakan komputer. Pastikan anak-anak Anda tahu bahwa mereka seharusnya tidak pernah setuju untuk bertemu tatap muka dengan siapa pun yang mereka temui secara daring. Buatlah aturan bahwa anak-anak Anda mengenal teman-teman mereka dalam kehidupan nyata, demikian juga dengan orang-orang yang mereka kirimi pesan instan.

7. Satu-satunya orang yang harus ditambahkan dalam daftar pesan instan anak adalah orangtua. Beri tahu anak-anak Anda supaya jangan pernah memberi nama keluarga mereka, desa atau kota tempat mereka tinggal, sekolah mereka, atau informasi lain yang bisa digunakan oleh predator (istilah bagi para pedofil - Red.) untuk mencari anak Anda.

Catatan khusus: Situs Jejaring Sosial (Facebook, MySpace, Twitter, dll.) memungkinkan pengguna mengirim informasi tentang diri mereka sendiri, seperti: lokasi, tanggal lahir, minat, sekolah, dan foto. Predator internet akan memiliki semua informasi yang mereka butuhkan untuk mencari anak Anda jika diberikan akses ke informasi ini. Orangtua dapat menetapkan aturan untuk anak-anak mereka, seperti tidak mengizinkan untuk mengirim foto. Orangtua juga dapat membatasi akses ke halaman anak mereka hanya untuk "teman" mereka (pengguna lain yang telah meminta untuk dihubungkan ke halaman anak Anda dan disetujui).

8. Jangan pernah membiarkan anak Anda untuk melakukan pembelian secara daring! Mereka bisa, secara tidak sengaja, mengungkapkan informasi keuangan pribadi.

Kesimpulan

Jika Anda tahu bahwa Anda perlu membuat perubahan, mulailah dengan memikirkan satu hal yang perlu Anda lakukan secara berbeda. Mungkin itu dengan menghentikan penggunaan teknologi setelah makan malam dan meluangkan lebih banyak waktu bersama keluarga. Mungkin anak remaja Anda menggunakan telepon selama 24 jam setiap hari, dan telepon harus dihentikan pada waktu tertentu pada siang hari. Sekali kita memberikan anak-anak kita sedikit terlalu banyak kebebasan dengan teknologi mereka, sulit untuk memperketat penguasaan. Bagaimanapun juga, berkaitan dengan hal itu, wajar jika dalam seminggu pertama mereka merengek dan mengeluh. Buatlah satu aturan baru. Berkomunikasilah dengan jelas dan penuh kasih sayang. Dengarkan keluhan mereka dengan penuh kasih, kemudian lakukan terus dengan ketat dan tidak menyerah. Setelah beberapa minggu atau bulan, Anda menjadi frustrasi dengan iPhone mereka, video game dan iPads, dll., bukan tidak masuk akal jika sekarang adalah giliran mereka yang merasa tertekan. Itu mungkin berarti Anda melakukan pekerjaan Anda!

Semua didikan, pada saat diberikan, memang tidak menyenangkan dan menyakitkan. Akan tetapi, sesudah itu akan menghasilkan buah kebenaran yang memberi damai sejahtera kepada mereka yang telah dilatih oleh didikan itu. (Ibrani 12:11, AYT) (t/Jing-Jing)

Download Audio

Diterjemahkan dari: Nama situs : Agape Christian Counseling Alamat situs : http://www.agapechristiancounselingservices.org/technology-and-your-kids-how-to-set-appropriate-boundaries/ Judul asli artikel : Technology and Your Kids Appropriate Boundaries Penulis artikel : Carolyn Knarr, MSW, LCSW Tanggal akses : 30 Oktober 2015 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: DUNIA WANITAkategori: KELUARGA

Mendampingi Anak Generasi Digital

Sen, 22/05/2017 - 15:06

Salam dalam kasih Kristus,

Teknologi berasal dari Tuhan. Oleh karena itu, teknologi harus digunakan untuk memuliakan nama Tuhan. Meski ada banyak pandangan yang miring tentang pemakaian teknologi, terutama karena ekses-ekses negatif yang disebabkannya, sesungguhnya teknologi memiliki banyak dampak positif bagi anak-anak jika orangtua dapat memberikan bimbingan yang tepat dalam pengaplikasiannya. Edisi ini akan memberikan wawasan kepada kita, sebagai orangtua, untuk mendampingi putra-putri kita pada era digital, yang dengan cepat terus-menerus mengalami perubahan. Nah, tanpa berpanjang-panjang lagi, mari segera simak kedua sajian kami yang kiranya akan memperlengkapi peranan Anda sebagai orangtua. Tuhan Yesus memberkati.

Pemimpin Redaksi e-Wanita,
N. Risanti

Memperlengkapi Diri melalui Bahan-Bahan dari Situs Apps4god

Jum, 21/04/2017 - 09:08

Teknologi merupakan anugerah dari Allah yang dapat kita manfaatkan untuk melayani sesama, mengabarkan Injil, serta mendukung pertumbuhan rohani kita. Lantas, sejauh manakah perkembangan teknologi yang bisa digunakan, dan bagaimanakah kita bisa menerapkannya dalam pelayanan kita secara maksimal? Dapatkan berbagai materi dan bahan seputar pelayanan digital dan pemanfaatan teknologi yang sesuai dengan prinsip-prinsip firman Tuhan di situs Apps4God.org.

Mari semakin memperlengkapi diri dengan informasi terkini seputar pelayanan pada era digital. Tunggu apa lagi? Segera kunjungi situs Apps4God.org!

Tiga Wanita dan Salib

Jum, 21/04/2017 - 09:06
edisi - 163 Karya Salib Kristus bagi Wanita Kristen

Saat kita mempersiapkan hati kita untuk merayakan kebangkitan Tuhan kita pada hari Minggu ini, saya teringat dengan tiga wanita yang berdiri di sekitar salib Kristus -- para wanita seperti Anda dan saya. Meski kita mungkin tidak benar-benar mengetahui apa yang mereka pikirkan dan katakan, barangkali kita bisa membayangkan ....

Ia berdiri dari kejauhan, tetapi setidaknya, ia masih berdiri. Ia tidak membiarkan lututnya rebah ... tidak sekarang. Bertekad untuk berdiri di sana, untuk melihat, untuk menjadi kuat bagi Dia, tidak peduli betapa pun sulitnya, ia tidak akan memalingkan pandangannya dari anaknya, Mesiasnya.

Pada saat Maria berdiri di sana dikelilingi oleh teman-temannya, mungkin pikirannya melayang pada banyak kenangan sejak 30 tahun lebih terakhir. Semenjak dirinya menyadari bahwa ia sedang mengandung dan berdoa bahwa Yusuf akan mengerti, hingga pada malam yang paling ajaib di dalam kandang tempat ia tidak bisa berkata-kata, saya membayangkan ia mengulang kembali perjalanan yang kelihatannya berakhir di sini ... di kayu salib.

Bayangkan Maria mengenang masa hidupnya membesarkan seorang anak yang berbeda dari yang lainnya. Apakah ia mencoba mengingat dengan keras dalam pemikirannya saat mengenang hari ketika mereka kehilangan Yesus dan kemudian menemukan-Nya kembali di Yerusalem, dalam sebuah percakapan seru di Bait Suci dengan para rabi? Respons dari anak laki-laki itu pastinya menggema dengan keras di hatinya saat ini. "Tidak tahukah engkau bahwa Aku pasti berada di rumah Bapa-Ku?" (Lukas 2:49b, AYT). Pada saat Maria berdiri dengan tabah untuk putranya tanpa ragu, ia menyadari bahwa walaupun dirinya bisa menyelamatkan-Nya, dia tetap tidak bisa. Terlebih sekarang, Ia sedang berurusan dengan rencana Bapa-Nya.

Perjalanan Maria menuju kayu salib membawanya ke titik ia dapat berdiri teguh ketika rencana Bapa diselesaikan.

Maria meraih dan memegang tangan sahabatnya, Salome, yang terhilang dalam pikirannya sendiri. Sebagai ibu Yakobus dan Yohanes, Salome mungkin tidak memandang Yesus. Sebaliknya, matanya lebih berfokus pada kedua pria yang berada di sebelah kanan dan kiri Yesus, mengulangi pertanyaan yang sama lagi dan lagi, "Apa yang aku tanyakan?"

Belum terlalu lama ketika ibu ini, yang menginginkan hal terbaik untuk anak-anaknya, mengumpulkan keberanian untuk bertanya kepada Yesus apakah Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, bisa mendapatkan kehormatan untuk duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus di kerajaan-Nya. Namun, sekarang, kenyataan dari pertanyaan tersebut ditampilkan secara grafis di depannya. Yesus memperingatkannya bahwa ia tidak tahu apa yang sedang ditanyakannya. Melihat kedua pria di sebelah kanan dan kiri Yesus, mungkin Salome sekarang sedang bertanya-tanya apakah ia benar-benar ingin membiarkan kedua anaknya terus mengikuti Dia, terlebih jika hal ini berarti mengalami penderitaan yang sama (Matius 20:21-22). Respons Yesus selebihnya terhadap permintaan Salome kembali dengan sama kuatnya ketika tentara-tentara Romawi menaikkan secangkir anggur pahit ke mulut-Nya .... "Kamu memang akan minum dari cawan-Ku." (Matius 20:23, AYT)

Perjalanan Salome menuju kayu salib membawanya ke titik ia berserah, tidak hanya hidupnya sendiri, tetapi juga hidup orang-orang yang paling dikasihinya.

Salome dan Maria saling memandang dan keduanya berbalik untuk melihat Maria Magdalena mengambil satu langkah ke depan, menjauh dari kumpulan para wanita. Wajah Maria masih menyandang tepi tajam sebuah kehidupan yang sulit. Belum terlalu lama sejak Maria Magdalena bergabung dengan kelompok wanita yang berjalan bersama-sama dengan Yesus. Dia mungkin menjadi seperti seorang saudari kecil bagi Maria dan Salome karena pengaruh Yesus dalam hidupnya sangat dramatis ketika Ia mengusir tujuh Iblis yang telah menyiksa dia sekian lama dan dia mengalami kehidupan yang nyata untuk pertama kalinya.

Maria Magdalena berdiri, memandang Juru Selamatnya dengan tidak percaya bahwa ia tidak memiliki pemikiran maupun perkataan; hanya emosi yang sangat kasar sehingga ia hampir tidak bisa menjaganya. Yesus, satu-satunya orang yang secara literal menyelamatkan hidupnya dan yang kepada-Nya ia telah memberikan semua yang ia punya, harus diambil darinya. Bayangkan ia berdiri, tercengkeram dalam ketakutan bahwa sekali lagi ia tidak akan memiliki apa-apa. Ia benar-benar tidak bisa mengalihkan pikirannya dari hal itu.

Menyaksikan bahwa Tuhannya mengembuskan napas terakhir-Nya dan badan-Nya diturunkan dari salib, orang-orang lain pergi dan pulang ke rumah. Mungkin, ia juga berniat begitu ... tetapi ia tidak bisa. Ia justru mengikuti mereka untuk melihat di mana Yesus akan dikuburkan. Maria Magdalena melihat Yusuf Arimatea dan Nikodemus sangat hati-hati membaringkan Yesus di dalam makam dan ia berpikir bahwa pastilah orang-orang ini juga mengasihi-Nya. Dengan matahari terbenam yang menandakan dimulainya hari Sabat, Maria Magdalena terpaksa pulang untuk memulai waktu pribadinya dengan beristirahat dan berdoa, tetapi berjanji akan kembali untuk merawat tubuh-Nya ....

Hari Sabat ini mungkin terlihat seperti sesuatu yang buram. Pastinya, Maria Magdalena merasa sangat tak berdaya, hanya memikirkan tentang kematian-Nya dan makam tersebut, sangat terdorong untuk merawat tubuh Yesus, dia bahkan tidak dapat menunggu matahari segera terbit pada hari ketiga (Yohanes 20:1). Kemudian, sepertinya ketidakberdayaannya tenggelam dalam keputusasaan mutlak ketika ia mendapati tubuh-Nya telah hilang, dan yang dapat ia lakukan hanyalah memandang makam-Nya dan meratap dengan tangisan penuh putus asa (Yohanes 20:12-13).

Hanya ketika ia mendengar-Nya mengucap satu kata, "Maria," maka ia melihat-Nya. Seperti seekor domba yang mendengar suara gembalanya di tengah kekacauan, ia tahu itu adalah suara-Nya. Pada waktu itulah, ia berhenti memandang makamnya dan berbalik melihat Yesus, Mesiasnya, Juru Selamatnya, Tuhannya.

Perjalanan Maria Magdalena menuju kayu salib dan kemudian menuju makam yang kosong membawanya ke titik bahwa ia tidak lagi melihat kehilangan dan kematian, melainkan hanya melihat harapan dan hidup.

Dapatkah Anda berdiri teguh saat pekerjaan Bapa diselesaikan?

Apakah Anda masih berpegang pada sesuatu atau seseorang yang Allah telah meminta Anda untuk menyerahkannya?

Apakah Anda masih memandang pada kematian dan keputusasaan, atau sudahkah Anda menemukan kehidupan?

Minggu ini, jika seandainya Anda bergabung dengan sekelompok wanita di kayu salib dan berdiri bersama-sama dengan mereka, melihat dari kejauhan, apa yang akan menjadi cerita Anda? (t/Illene)

Download Audio Tiga Wanita & Salib

Diterjemahkan dari: Nama situs : Biblical Woman Alamat situs : http://biblicalwoman.com/three-women-and-the-cross/ Judul asli artikel : Three Women and The Cross Penulis artikel : Terri Stovall Tanggal akses : 14 Oktober 2016 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: DUNIA WANITAkategori: PASKAH

Mengingat Pengorbanan-Nya

Jum, 21/04/2017 - 09:04
edisi - 163 Karya Salib Kristus bagi Wanita Kristen Kemudian, mereka menyalibkan Dia . . ." (Markus 15:24)

Seorang dokter pernah memberikan penjelasan rinci tentang apa yang terjadi ketika seseorang disalibkan:

"Salib ditempatkan di tanah dan orang yang kelelahan itu dengan cepat dibalik dengan bahunya di kayu. Anggota legiun meraba-raba bagian terendah di pergelangan tangan bagian depan. Dia memukulkan paku berat, paku persegi dari besi tempa melalui pergelangan tangan dan jauh menembus ke dalam kayu. Cepat-cepat, ia bergerak ke sisi lain dan mengulangi tindakan itu dengan berhati-hati agar tidak menarik lengan terlalu kencang, tetapi memungkinkan untuk beberapa kelenturan dan gerakan. Salib ini kemudian diangkat ke tempatnya.

Kaki kiri ditekan ke belakang kaki kanan, dan dengan kedua kaki diulurkan, jari-jari kaki ke bawah, paku dipukulkan melalui lengkungan masing-masing, membuat lutut jadi tertekuk. Korban sekarang disalibkan. Saat ia perlahan merosot ke bawah dengan berat badan lebih pada paku di pergelangan tangan, menyiksa, tembakan rasa sakit yang berapi-api sepanjang jari dan sampai lengan meledak di otak -- paku di pergelangan tangan menempatkan tekanan pada saraf median. Saat ia mendorong dirinya ke atas untuk menghindari siksaan peregangan, ia menempatkan berat penuh pada paku melalui kakinya. Sekali lagi, ia merasakan penderitaan membakar dari paku yang merobek melalui saraf di antara tulang-tulang kakinya.

Saat lengan kelelahan, kram menjalar melalui otot, mengikat mereka dengan rasa nyeri yang sangat, terus-menerus, dan berdentam. Dengan kram ini, dia tidak mampu mendorong tubuhnya ke atas untuk bernapas. Udara dapat ditarik ke dalam paru-paru, tetapi tidak diembuskan. Ia bertarung untuk mengangkat dirinya untuk mendapatkan bahkan satu napas kecil. Akhirnya, karbon dioksida menumpuk di paru-paru dan dalam aliran darah. Dengan tidak teratur, ia mampu mendorong dirinya ke atas untuk bernapas dan membawa oksigen yang memberi hidup.

Berjam-jam ... sakit, siklus kram yang memelintir dan mengoyak-oyak sendi, sesak napas parsial yang sebentar-sebentar, rasa nyeri yang membakar ketika jaringan tubuh terkoyak kembali saat ia bergerak naik dan turun bergesekan dengan kayu yang kasar. Kemudian, penderitaan lain dimulai. Rasa sakit yang mendalam di dada, menghujam saat kantong jantung perlahan terisi dengan darah dan mulai menekan jantung.

Sekarang, hampir berakhir -- hilangnya cairan jaringan tubuh telah mencapai tingkat kritis -- jantung yang tertekan sedang berjuang untuk memompa darah yang berat, tebal, lembam ke dalam jaringan tubuh -- paru-paru yang tersiksa berusaha dengan kalut menghirup tegukan-tegukan kecil udara. Dia bisa merasakan dinginnya kematian merayap melalui urat daging-Nya ... akhirnya Dia bisa membiarkan tubuh-Nya mati."

Alkitab mencatat proses kematian melalui penyaliban ini hanya dalam kata-kata sederhana. Seberapa sering kita menganggap biasa rasa sakit dan penderitaan yang dialami Yesus ketika Dia mati di kayu salib bagi Anda dan saya. Pada Paskah ini, mari kita mengingat pengorbanan yang telah Dia lakukan.

Tantangan Doa: Bersyukurlah kepada Yesus atas harga yang Ia bayar untuk dosa-dosa Anda melalui kematian-Nya yang menyakitkan di kayu salib. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari: Nama situs : Crosswalk Alamat situs : http://www.crosswalk.com/devotionals/easter-devotionals/easter-devotional-march-21.html Judul asli artikel : Remembering His Sacrifice Penulis artikel : Tidak dicantumkan Tanggal akses : 8 Juli 2016 Tipe Bahan: RenunganKolom e-Wanita: RENUNGAN WANITAkategori: PASKAH

Karya Salib Kristus bagi Wanita Kristen

Jum, 21/04/2017 - 08:59

Salam dalam kasih Kristus,

Paskah datang silih berganti dalam kehidupan kita. Setelah bertahun-tahun melaluinya, masihkah kita merasakan perasaan syukur yang besar atas karya Kristus di kayu salib? Ketika Kristus memilih untuk mati di kayu salib, terhitung di antara penjahat, di depan pandangan para pembenci dan orang-orang yang ingin diselamatkan-Nya, sesungguhnya Ia tengah membayar harga untuk meredakan murka Allah atas dosa-dosa kita demi menjadi jalan pendamaian bagi kita kepada Allah. Ia, "yang walaupun memiliki rupa Allah, Ia tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah itu sebagai sesuatu yang harus dipertahankan." (Filipi 2:6, AYT), telah menuntaskan rencana Allah yang sedari semula telah ditetapkan dalam kekekalan. Dalam momen Paskah kali ini, mari kita kembali merenungkan sedalam-dalamnya makna karya penebusan Kristus bagi kita. Kiranya apa yang sudah dikerjakan Allah dalam Kristus bagi kita dapat menjadikan perubahan mendasar pada kehidupan yang kita bawa.

Seluruh staf redaksi publikasi e-Wanita mengucapkan Selamat Paskah 2017 kepada segenap pembaca e-Wanita di mana pun Anda berada. Kristus sudah mati bagi kita, maka mari kita hidup dan berkarya bagi Dia.

Ia sendiri telah menanggung dosa kita pada tubuh-Nya di kayu salib supaya kita mati terhadap dosa, dan hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya, kamu disembuhkan. (1 Petrus 2:24, AYT).

Pemimpin Redaksi e-Wanita,
N. Risanti

Tujuh Langkah untuk Menggunakan Teknologi bagi Kemuliaan Allah

Sel, 04/04/2017 - 11:46

Tidak ada orang tua yang ingin memberikan anaknya akses Internet yang bebas sama sekali. Akan tetapi, bagaimana pun juga tidaklah realistis atau bijaksana untuk melarang akses ke apapun. Lalu, bagaimana kita merencanakan jalan yang menghindari dua ekstrim ini namun memaksimalkan keamanan moral dan rohani mereka?

1. Mendidik.

Pertama, mendidik diri sendiri. Menyembunyikan kepala di pasir, yaitu gaya dari burung unta, bukan merupakan pilihan bagi orang Kristen yang serius. Anda harus mengenal Internet dan mulai belajar. Mulailah dengan website yang mencakup teknologi pada tingkat populer. Salah satu yang terbaik adalah www.getnetwise.org. Situs itu memiliki artikel yang menyoroti situs yang baik dengan saran tentang bagaimana untuk menghindari situs berbahaya. Mereka akan mencakup hal-hal seperti phishing, scam, virus, firewall, perangkat lunak filter dan situs-blocking.

Kedua, didiklah anak-anak Anda. Jelaskan bahwa Internet adalah seperti hutan. Internet memiliki banyak bahaya tersembunyi yang kita harus belajar bagaimana untuk menghindarinya, atau bagaimana untuk melarikan diri jika kita tersandung karena mereka. Kita ingin menjelajahi dunia baru yang menarik, tetapi kita ingin kembali tanpa cedera. Jika anak-anak Anda memahami beberapa bahaya dan konsekuensinya maka mereka akan lebih bersedia untuk menerima batas-batas dan kontrol.

2. Pagar.

Pagar pertama yang kita harus tegakkan adalah perangkat lunak anti-virus. Saya heran melihat betapa banyak orang masih mempertaruhkan komputer mereka dengan tidak memasang software ini. Sebagian besar layanan dibayar dengan biaya 50-100 dollar per tahun. Jika Anda diberitahu bahwa Anda pasti akan mendapatkan virus yang merusak di dalam tubuh Anda kecuali Anda mengambil obat secara gratis, atau yang biayanya 1 dollar per minggu, apa yang akan Anda lakukan?

Kedua, Anda juga harus menginstal firewall, terutama untuk keamanan. Software anti-virus menghentikan orang-orang jahat mendapatkan hal-hal yang jahat ke dalam mesin Anda. Firewall menghentikan orang-orang jahat mendapatkan informasi pribadi Anda dari mesin Anda. Dan dengan kedua anti-virus dan firewall, Anda harus terus memperbarui mereka.

Ketiga, tetapkan beberapa batas waktu. Internet dan teknologi lainnya dapat menjadi sangat adiktif, dan melahap berjam-jam waktu kita. Batasi frekuensi dan lamanya penggunaan teknologi. Sekali lagi, Anda bisa mendapatkan software untuk mengukur ini dan menghentikan perangkat setelah periode waktu tertentu. Atau Anda dapat menggunakan password Administrator untuk memastikan bahwa tidak ada yang dapat mengakses Internet atau menggunakan komputer tanpa Anda sign in.

Keempat, tetapkan beberapa batasan situs. Ketika mulai dengan anak-anak Anda, Anda mungkin harus mulai dengan satu situs anak yang aman dan hanya memungkinkan mereka untuk mengklik dan surfing di situs tersebut. Jika mereka terbukti dapat dipercaya dan diandalkan, maka Anda dapat menambahkan yang lain. Anda dapat memeriksa aktivitas browsing mereka dengan menggunakan catatan sejarah browser.

Kelima, batasi jumlah informasi pribadi yang anak-anak Anda diizinkan untuk membocorkannya. Saya akan menyarankan Anda untuk menetapkan aturan ketat bahwa mereka tidak boleh menggunakan nama asli mereka, dan tentu saja alamat asli mereka atau nomor telepon. Alamat email mereka hanya harus diberikan kepada mereka yang Anda setujui.

Keenam, atur batasan-batasan untuk apa yang dapat diunggah. Jangan biarkan mereka untuk mengunggah apa pun tanpa izin sebelumnya.

3. Menjadi mentor.

Setelah mendidik diri sendiri dan anak-anak Anda, dan setelah menyiapkan beberapa batasan dan pagar, tahap selanjutnya adalah menjadi mentor mereka saat mereka menggunakan Internet. Tidak cukup mengajari mereka beberapa aturan, dan kemudian meinggalkan mereka. Anda harus duduk dengan mereka dan surfing (berkeliling dalam situs - Red.) dengan mereka. Membimbing mereka saat mereka bekerja dalam batasan-batasan. Tanyakan kepada mereka mengapa mereka mengklik ini dan tidak itu. Soroti dan berikan pujian untuk penggunaan yang baik, tetapi jauhkan mereka dari apa yang berbahaya.

4. Mengawasi.

Anda tidak dapat menjadi mentor mereka selamanya. Jadi, ketika Anda merasa mereka siap, Anda dapat mulai untuk mengawasi dari sedikit kejauhan. Ini bukan waktu untuk menyerahkan segalanya dan mempercayai mereka. Banyak orang tua melakukan hal itu. 84% dari orang tua bergantung pada kesepakatan verbal untuk memastikan anak-anak mereka berselancar dengan aman. Menurut saya itu sama sekali tidak bijaksana atau bertanggung jawab. Kita perlu melangkah mundur sedikit tapi masih mengawasi.

Tingkat pertama dari pengawasan fisik. Sederhananya, semua layar (TV, komputer, laptop, ipad, telepon, dll) harus terlihat oleh orang lain di rumah. Anda bisa meletakkan komputer Anda semua di satu tempat yang cukup terbuka.

Tingkat kedua dari pengawasan adalah digital. Ada banyak program perangkat lunak yang menawarkan berbagai cara untuk mengawasi anak-anak kita. Beberapa bertindak seperti filter, menghentikan mereka mengakses halaman web yang mengandung kata-kata pemicu tertentu seperti "sex," "kasino," dll. Yang lain akan memblokir situs-situs dengan kategori tertentu yang Anda dapat tentukan. Anda juga dapat menyebutkan situs tertentu yang tidak ingin diakses. Anda mungkin ingin memblokir layanan Instant Messaging atau chatting. Program lainnya akan memantau penggunaan dan mengirim laporan rinci kepada Anda baik secara langsung atau mingguan.

Saat anak-anak Anda tumbuh lebih besar Anda mungkin dapat mengurangi tingkat pengawasan fisik dan lebih mengandalkan pengawasan digital. Namun, jangan mengandalkan pengawasan digital saja. Hal ini bukannya sangat mudah dan aman dan anak-anak tech-savvy (tahu banyak tentang teknologi modern, terutama komputer - Red.) kadang-kadang dapat menemukan cara untuk mengambil jalan memutar.

5. Ulasan.

Adalah sangat menggoda untuk sampai ke titik ini, dan kemudian menyerahkan semuanya kepada perangkat lunak untuk melakukan tugasnya. Namun, saya pikir adalah penting untuk menjaga komunikasi berjalan. Duduklah dengan anak-anak Anda dan bertanyalah kepada mereka tentang pengalaman daring mereka. Tanpa ancaman terhadap reaksi, tanyakan apakah mereka memiliki sesuatu yang mereka ingin ceritakan kepada Anda. Adakah situs bagus yang mereka akan rekomendasikan? Adakah website yang membuat mereka khawatir? Apakah mereka membuat kesalahan? Mungkin duduk melihat laporan Akuntabilitas Internet dan membicarakannya dengan mereka. Dorong mereka jika mereka mendapatkan peringkat yang baik, dan berbicara dengan mereka tentang apa yang mungkin menyebabkan alarm berdering. Biarkan mereka tahu bahwa Anda masih terlibat dan peduli.

6. Kepercayaan.

Program pelatihan langkah-demi-langkah ini mengasumsikan bahwa saat Anda maju, Anda semakin jarang melakukan langkah-langkah sebelumnya. Saat anak-anak kita bertambah besar, dan mudah-mudahan lebih matang dan dapat dipercaya, kita bisa melangkah mundur lagi, dan membiarkan mereka menjadi filter dan blocker mereka sendiri. Kita sedang mempersiapkan mereka untuk "meninggalkan ayah dan ibunya" dan "bersatu dengan istrinya/suaminya." Namun, saya percaya bahwa kita semua harus memiliki mitra akuntabilitas untuk penggunaan teknologi kita. Jadi Anda harus sangat menyarankan mereka untuk menggunakan Akuntabilitas Software dan memiliki laporan yang dikirim kepada suami atau istri mereka di masa depan, atau Pastor mereka, atau teman Kristen yang kuat.

7. Menjadi contoh.

Mungkin yang paling kuat dari semua langkah adalah menjadi contoh dalam penggunaan teknologi yang saleh. Tunjukkan dan juga beritahu. Dengan contoh Anda menunjukkan kepada mereka manajemen waktu yang baik. Tunjukkan bahwa Anda juga bertanggung jawab kepada suami atau istri, melalui pengawasan fisik dan digital.

Hati baru untuk teknologi baru

Namun, akhirnya, kita harus berdoa agar anak-anak kita memiliki hati yang baru untuk menghadapi teknologi baru dengan benar. Anak-anak kita dilahirkan dengan hati yang sudah rusak. Oleh karena itu mereka akan mencintai kegelapan daripada terang. Mereka akan tertarik ke sisi gelap dari internet. Jadi kita harus berdoa bagi mereka untuk dilahirkan kembali. Kita harus berdoa agar Tuhan akan menggantikan cinta kegelapan dengan cinta untuk terang.

Hanya dengan itu kemudian mereka akan berpaling dari komunikasi yang jahat, yang merusak kebiasaan yang baik. Hanya dengan itu kemudian mereka akan ingin untuk berpikir tentang apapun yang baik, benar dan untuk laporan yang baik. Kita bisa melatih, mengatur, mengarahkan, dll, tetapi di atas semuanya, kita harus berdoa agar anak-anak kita pada akhirnya akan hidup dan mematuhi bukan karena takut hukum tetapi karena kasih kepada Kristus.

Kemudian mereka akan berdoa lebih banyak daripada membuka Twitter. Mereka akan mencari wajah Kristus dalam kitab buku, dan mengisi ruang mereka dengan Dia yang mengisi semua ruang.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai program pelatihan Tujuh Langkah ini Anda dapat melihat God’s Technology DVD and Study Guide.(t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Christianity Alamat URL : http://www.christianity.com/christian-life/discipleship/7-steps-to-using... Judul asli artikel : 7 Steps to Using Technology for God’s Glory Penulis artikel : David Murray Tanggal akses : 27 September 2016

Pelayanan Literatur Sangat Penting! Dapatkan Bahannya Secara Gratis

Kam, 16/03/2017 - 12:37

Pelayanan literatur sangat penting! Pelayanan literatur berperan penting untuk pemberitaan firman Allah dan menuliskan apa yang baik, bermanfaat, dan berguna bagi kehidupan umat Allah. Publikasi e-Penulis hadir untuk mendukung pelayanan literatur Kristen di Indonesia. Dapatkan artikel, tip, resensi buku, pojok bahasa, tokoh penulis, dll. melalui publikasi ini, yang dikirim secara gratis ke email Anda setiap Kamis minggu pertama. Ayo, kembangkan potensi Anda di bidang literatur dengan berlangganan publikasi ini, caranya kirim email kosong ke subscribe-i-kan-penulis@hub.xc.org. Kiranya gairah Anda untuk terlibat dalam pelayanan literatur Kristen semakin berkobar sehingga memberi dampak bagi gereja, persekutuan, dan masyarakat Kristen Indonesia.

Jangan lupa, perluas wawasan Anda dan temukan relasi nyata dengan sesama penulis di komunitas e-Penulis!

Informasi: Situs Pelitaku e-Penulis @sabdapenulis

Dekat dengan Teknologi

Kam, 16/03/2017 - 12:35
edisi - 162 Melayani dengan Teknologi

Mobil berpikir sendiri. Drone terbang di atas wilayah musuh, membunuh tentara musuh sesukanya. Akan jadi apakah dunia ini? Apakah kita tahu batas teknologi, dan apakah kita yakin teknologi itu baik bagi kita?

Mungkin Anda pernah mendengar tentang mobil buatan Google yang dapat mengemudi sendiri. Mesin-mesin robot yang luar biasa itu mampu mengemudi sepenuhnya secara otonom. Jalan-jalan dan persimpangan sibuk, penggabungan lalu lintas dan pejalan kaki yang menyeberang sembarangan -- mobil-mobil itu dapat menangani semuanya itu. Versi modifikasi dari Toyota Prius, mobil-mobil ini dilengkapi dengan berbagai kamera, radar, unit GPS, dan sensor lain yang memungkinkan berkendara dengan aman.

Baru-baru ini, negara bagian Nevada memberikan lisensi pertama untuk menguji kendaraan otonom semacam itu di jalan raya umum. Bagi banyak orang, ini adalah berita menarik. Orang buta dan yang lain mungkin sekarang memiliki kesempatan untuk bepergian sendiri. Melampaui kenyamanan dan kesempatan, mobil berteknologi tinggi ini bisa juga secara drastis mengurangi kecelakaan. Mobil-mobil tersebut, secara teori, jauh lebih aman daripada mobil yang dikemudikan oleh manusia. Bagaimanapun, sebagian besar kecelakaan disebabkan oleh kesalahan manusia.

Namun, tidak semua orang senang. Apa yang hilang dengan menyerahkan tanggung jawab kita kepada mesin? Semakin kita membiarkan mesin-mesin itu melakukan hal-hal, semakin kita menjadi tergantung padanya. Jika salah satu dari mobil-mobil ini harus memilih antara menabrak seorang anak atau mobil lain, siapa yang harus disalahkan untuk keputusan yang diambilnya? Seberapa besar kendali yang benar-benar ingin kita serahkan?

Kata robot berasal dari Robotnik dalam bahasa Republik Ceko yang berarti "budak", tetapi pada titik apa budak-budak ini bisa menjadi tuan kita?

Untuk Kebaikan atau Kejahatan?

Ada pro dan kontra yang jelas untuk teknologi tersebut. Apa yang harus dipikirkan oleh seorang Kristen? Firman Allah harus selalu menjadi panduan kita (Mazmur 119:105; 2 Timotius 3:16-17). Sementara Alkitab mungkin tidak menyebutkan robot secara khusus, Alkitab memang cukup banyak mengatakan tentang teknologi.

Kata technology berasal dari kata Yunani techne (seni, kerajinan, atau keterampilan) dan logia (studi tentang). Teknologi mencakup alat atau kerajinan, tidak peduli seberapa pun sederhananya, serta proses pengembangan alat-alat tersebut. "Alat" buatan manusia yang pertama kali dicatat adalah pakaian, yang dibuat Adam dan Hawa untuk menutupi ketelanjangan mereka. Mereka mencoba untuk memecahkan masalah mereka dengan daun ara, tetapi itu tidak cukup. Untuk memberikan penutup penuh, Allah dalam kemurahan-Nya membuatkan pakaian dari kulit binatang.

Hal ini mungkin kedengarannya kecil, tetapi itu memiliki arti yang besar. Ini adalah sebuah contoh. Teknologi ini tidak buruk secara inheren, tetapi harus dilakukan dengan cara Allah. Sejak insiden Taman Eden, kita telah mengembangkan alat untuk mengatasi masalah. Teknologi tidak hanya membantu kita melakukan tugas, tetapi juga secara sementara mengurangi efek dari kejatuhan dosa. Setelah Allah membuat pakaian pertama, yang melindungi tubuh kita dari cuaca, manusia terus menggunakan kemampuan yang diberikan Allah untuk membuat alat.

Teknologi hanyalah salah satu cara bagi mereka yang diciptakan menurut gambar Allah meniru Pencipta mereka. Meskipun manusia tidak mampu menciptakan dalam arti yang sama seperti yang Allah lakukan (Ibrani, bara), sebagai penyandang gambar Allah, mereka mampu membuat (Ibrani, asah) alat-alat baru untuk mengubah lingkungan mereka dan membantu mereka bertahan hidup di dunia yang terkutuk oleh dosa ini.

Untuk Menyembuhkan atau Membunuh?

Teknologi robot adalah salah satu perkembangan terbaru dalam gudang peralatan manusia yang semakin kompleks untuk mengatasi efek dari kutukan tersebut. Misalnya, penyakit kanker.

Robot mikroskopis, atau nanorobots, sedang dikembangkan oleh para peneliti di Harvard untuk mencari dan menghancurkan sel kanker. Mereka dibuat dengan menggunakan sebuah teknik yang dikenal sebagai origami DNA, yang membangun struktur dari molekul DNA. Mesin-mesin robot ini dirancang khusus untuk membawa antibodi yang tepat ke sel-sel kanker. Meski masih sedang diuji, mereka memiliki potensi yang sangat besar.

Beberapa akan membantah kebijaksanaan teknologi itu membantu orang lain. Namun, bagaimana dengan robot yang memajukan pekerjaan manusia lainnya yang sudah dilakukan sejak zaman kuno: membunuh tentara musuh? Drone Robot pembunuh -- terdengar seperti fiksi ilmiah? Pikirkan lagi!

Militer AS telah mengerahkan unmanned aerial vehicles (UAV) (kendaraan udara tak berawak - Red.) selama hampir dua dekade. Terutama untuk pengintaian, mereka juga dapat dilengkapi dengan rudal mematikan. Model asli dikendalikan oleh remote, tetapi MQ-9 Reaper yang terbaru (juga dikenal sebagai Predator B) mampu terbang secara otonom dan mungkin akan segera dapat terbang menjalankan misi-misi pencarian dan penghancuran tanpa arahan dari manusia yang mengendalikannya.

Jenderal T. Michael Moseley menjelaskan, "Kami sudah berganti dari menggunakan UAV, terutama di intelijen, pengawasan, dan peran pengintaian sebelum Operasi Kebebasan Irak, ke peran pembunuh pemburu yang sesungguhnya dengan Reaper."

Terdengar menakutkan? Ya! Apakah kita benar-benar siap untuk menyerahkan tugas membunuh kepada mesin tanpa kemampuan untuk membuat penilaian moral?

Dilema moral itu mungkin terdengar tidak masuk akal. Namun, sebagian orang berpendapat bahwa robot-robot itu sudah sedang membunuh orang sekarang ini tanpa perlu menembakkan senjata apa pun. Setiap hari, semakin banyak robot melakukan pekerjaan yang berharga tanpa memerlukan gaji. Tidak seperti karyawan manusia, mereka tidak perlu banyak istirahat, dan mereka tidak mengambil cuti sakit.

Saat teknologi meningkat dan menjadi lebih terjangkau, tak heran bahwa banyak perusahaan yang memilih robot. Foxconn, produsen iPad dan iPhone yang berbasis di Taiwan, baru-baru ini mengumumkan rencana untuk pengerahan besar-besaran 1 juta tenaga kerja robot pada tahun 2015. Itu bisa berarti semakin sedikitnya pekerjaan dalam ekonomi dunia yang sudah tengah berjuang.

Jadi, apakah bidang teknologi ini buruk? Haruskah orang Kristen menghindari semua teknologi? Kita harus berhati-hati karena Paulus memperingatkan untuk "tidak diperbudak oleh apa pun" (1 Korintus 6:12), termasuk teknologi. Namun, pertanyaan utamanya adalah apakah itu akan membantu kita memuliakan Allah.

Untuk Kemuliaan Allah

Teknologi itu sendiri amoral. Ia tidak memaksa kita untuk berbuat baik atau jahat, tetapi teknologi memberikan pilihan yang bisa baik atau jahat. Ada banyak contoh di Alkitab. Nuh membangun bahtera untuk kebaikan -- untuk memberikan keselamatan fisik. Sebaliknya, orang-orang di Babel membangun menara untuk alasan buruk -- untuk merampok kemuliaan Allah. Bagi banyak orang, teknologi bahkan dipandang sebagai bagian dari keselamatan akhir manusia atau bahkan berhala. Namun, bagi orang percaya, teknologi harus melayani kebaikan yang lebih tinggi: Kerajaan Allah.

Dalam pemeliharaan-Nya yang luar biasa, Allah telah menggunakan kemajuan teknologi untuk membantu pekerjaan-Nya, bahkan menyebarkan Injil. Penginjil pertama menggunakan jalan Romawi, sementara percetakan Johannes Guttenberg memungkinkan Alkitab untuk direproduksi dengan cepat dan murah. Pada akhirnya, ini memungkinkan Alkitab dicetak dalam bahasa umum, yang membuka jalan bagi Reformasi Protestan.

Hari ini, World Wide Web telah membuat firman Allah tersedia dengan mudah -- dalam ratusan bahasa yang berbeda -- kepada siapa pun dengan koneksi ke internet. Mereka dengan ponsel pintarnya dapat mengakses Alkitab di mana saja setiap saat melalui aplikasi gratis.

Gereja dan pelayanan Kristen lainnya juga menggunakan beragam teknologi untuk melayani Allah. Website sangat berharga untuk menyampaikan informasi alkitabiah. Hampir setiap mimbar dan acara ceramah Kristen lainnya menggunakan presentasi yang diproyeksikan dan audio yang diperkuat. Smartphone dan tablet telah mengaktifkan interaksi baru di antara sejumlah besar orang percaya.

Dan, ya, bahkan robot dapat secara khusus digunakan untuk membawa kemuliaan bagi Allah. Misalnya, penggunaan robot telah membantu umat manusia memenuhi amanat penciptaan di Kejadian 1:28 untuk memenuhi dan menguasai bumi. Robot memungkinkan kita menjelajahi ciptaan Allah dengan cara yang terlalu berbahaya bagi manusia di dunia yang jatuh dalam dosa. Misalnya, robot bisa masuk gedung yang runtuh setelah gempa bumi untuk menemukan korban yang masih selamat, dan mereka dapat menjelajahi dasar samudera, Arktik yang membeku, dan bahkan planet-planet lainnya.

Robot juga bisa menjadi alat pengajaran yang hebat, membantu orang-orang muda melihat karya Allah dalam penciptaan. Selama beberapa tahun, salah satu penulis artikel ini membantu mengawasi tim robotika Kristen yang melakukan perjalanan ke sekolah-sekolah di seluruh negeri dan datang ke Creation Museum. Tim tersebut mengajarkan kepada orang-orang muda bagaimana membuat dan memprogram robot kecil mereka sendiri. Dalam prosesnya, orang-orang muda itu belajar tentang kerja sama tim, pemecahan masalah, rekayasa yang luar biasa dari hal-hal yang Allah ciptakan, dan landasan alkitabiah untuk menggunakan teknologi bagi memuliakan Allah.

Namun, apa batasan teknologi? Dapatkah kita melepaskan tanggung jawab moral kita dan membiarkan robot membunuh secara mandiri? Seberapa jauh kita bisa bekerja dengan teknologi untuk menghemat waktu dan tenaga kerja? Prinsip-prinsip Alkitab yang sama yang telah membimbing orang-orang percaya selama ribuan tahun masih berlaku hari ini. Jika sebuah pilihan konsisten dengan tujuan Allah yang dinyatakan, maka itu adalah tepat. Jika tidak, itu salah.

Ketika dunia kita menjadi semakin kompleks, sangat penting bagi orang percaya untuk memahami teologi alkitabiah tentang teknologi. Bahaya mempromosikan kemuliaan manusia di atas Pencipta adalah sama besarnya seperti yang lalu-lalu. Namun, potensi untuk kebaikan adalah sama menakjubkannya. Digunakan secara bijak, teknologi dapat memberikan kelegaan sementara dari efek Kutukan, untuk kemuliaan Allah. Itu juga dapat memberitakan Injil kepada orang-orang berdosa--kelegaan dari Allah yang bersifat permanen bagi penderitaan kita.

Jika dipahami secara tepat, teknologi juga adalah merupakan pengingat lain tentang Pencipta yang mengasihi kita, yang menginginkan supaya semua orang mengenal dan menyembah Dia.

*Beberapa inspirasi untuk artikel ini diambil dari karya John Dyer From the Garden to the City (2011). Dalam bukunya yang membangkitkan pemikiran, Dyer menawarkan kepada orang Kristen sebuah perspektif alkitabiah tentang teknologi, bagaimana itu membentuk kita, dan bagaimana hal itu dapat ditebus untuk tujuan Allah. (t/Jing-Jing)

Download Audio Dekat dengan Teknologi

Diterjemahkan dari: Nama situs : Answers in Genesis Alamat situs : https://answersingenesis.org/technology/at-the-edge-of-technology/ Judul asli artikel : At the Edge of Technology Penulis artikel : Chuck Mcknight dan Dan Wooster Tanggal akses : 27 September 2016 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: DUNIA WANITAkategori: PELAYANAN

Melayani dengan Teknologi

Kam, 16/03/2017 - 12:31

Salam dalam kasih Kristus,

Teknologi sudah merambah ke dalam berbagai bidang kehidupan manusia. Namun, sudahkah kita memanfaatkannya untuk memperbesar dampak dari Kerajaan Allah? Sudah sejauh mana kita, sebagai bagian dari gereja, memanfaatkan teknologi dalam panggilan sebagai orang percaya? Atau, kita malah menganggap teknologi sebagai hal yang mengancam dan bersifat negatif sehingga harus dijauhkan penggunaannya dalam pelayanan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin telah menjadi isu yang cukup penting dalam gereja atau pelayanan kita saat ini. Berbagai dampak buruk teknologi yang terpapar kepada kita membuat kita mencap teknologi sebagai sesuatu yang negatif bagi pelayanan atau bagi kehidupan spiritual kita. Benarkah? Nah, untuk semakin memperjelas wacana ini serta mengetahui bagaimana teknologi sesungguhnya dapat menjadi alat yang sangat berguna di dalam pelayanan, maka edisi e-Wanita kali ini akan menyajikan tema yang terkait dengan hal tersebut. Kiranya melalui artikel yang kami sajikan, kita semua akan semakin memahami peranan positif teknologi yang dapat digunakan untuk mendukung pelayanan bagi Kerajaan Allah. Penasaran? Mari, segera saja kita simak artikel di bawah ini.

Pemimpin Redaksi e-Wanita,
N. Risanti

Salib Kristus: Makna Mendalam dari Rangkap Empatnya

Sel, 14/03/2017 - 12:14

Di jantung sejarah kekristenan berdiri sebuah salib. Pesan Injil adalah bahwa Allah mendatangkan penebusan dosa melalui penyaliban Anak-Nya (Kolose 1: 19-20). Salib, karena itu, ada sebagai sebuah ciri khas dari iman Kristen. Namun, bagaimana agar seseorang memahami makna mendalam dari kematian Yesus di kayu salib? Penebusan Kristus telah dipahami untuk mencerminkan beberapa perspektif pada karya penebusan secara keseluruhan.1

1. Kematian Kristus di kayu Salib sebagai Korban Persembahan

Banyak orang telah menafsirkan kematian Mesias yang menebus di kayu salib Kalvari sebagai "korban yang sempurna" bahwa berbagai korban Perjanjian Lama hanya bisa menunjuk dan menyarankan tapi tidak pernah menuntaskan (Ibrani 10). Namun, pengorbanan kematian Yesus adalah unik karena terdiri dari "sekali untuk seluruh penebusan" (Ibrani 10:10) yang secara efektif membawa pengampunan dosa manusia. Selain itu, dalam memberikan diri-Nya di kayu salib, Kristus menjabat sebagai imam sekaligus korban. Dengan kata lain, dalam pengorbanan ini Dia melakukan tugasNya dan juga mempersembahkan diri-Nya. Mengingat penyaliban bersejarah Kristus di tangan Pontius Pilatus, tidak lagi perlu ada korban lain untuk dosa. Dosa menuntut pembayaran yang mengerikan, karena korban yang sempurna menuntut kematian Anak Allah satu-satunya.

2. Kematian Kristus di kayu Salib sebagai Pengampunan

Salib Kristus adalah cara Tuhan mengatasi masalah dosa manusia selamanya dan sepenuhnya. Penebusan Yesus menanggung dosa (Yohanes 1:29) dan membawa akses penuh kepada Allah serta pengampunan dan remisi dari segala pelanggaran. Pengampunan Allah melalui salib menghasilkan penghapusan lengkap dari semua keterpisahan antara Allah dan orang berdosa. Pengampunan Allah mengembalikan orang tersebut ke keadaan diperkenan, dan Tuhan tidak mengingat dosa mereka lagi. Penebusan Kalvari menyucikan seseorang dari segala dosa, sehingga memberikan pengampunan sejati, perdamaian, dan pemulihan kesatuan rohani dengan Tuhan (2 Korintus 5:19). Kemampuan untuk mengampuni sepenuhnya dan selamanya ini berakar di dalam sifat Allah yang pengasih dan penyayang.

3. Kematian Kristus di kayu Salib sebagai Kasih

Kematian Yesus di kayu salib adalah bukti kasih Allah bagi manusia. Meskipun pemberontakan manusia membuat Allah marah dan sedih, Dia tetap merespon dengan menyediakan cara bagi orang berdosa untuk lolos dari murka-Nya yang adil. Bapa mengirimkan Anak-Nya ke dalam dunia untuk mati menggantikan orang-orang berdosa (Yohanes 3:16). Inkarnasi Anak Allah menunjukkan pengabdian-Nya dengan meninggalkan tempat tinggal surgawi dan mengambil untuk diri-Nya sifat manusia sampai akhirnya memberikan nyawa-Nya di kayu salib Romawi. Juru Selamat menerima penghinaan, penderitaan, kematian, dan, akhirnya, keterpisahan dari Bapa untuk menyelesaikan penebusan. Kematian Kristus yang menebus adalah demonstrasi definitif kasih agape-Nya kepada ciptaan-Nya yang berdosa (Roma 5: 8). Teolog Louis Berkhof menggambarkan penebusan sebagai benar-benar didasarkan pada dua atribut Allah: "Pernyataan terbaik adalah bahwa Korban Tebusan berakar dalam kasih dan keadilan Allah, kasih memberikan jalan keluar bagi orang-orang berdosa, dan keadilan menuntut bahwa persyaratan hukum itu harus dipenuhi."2

4. Kematian Kristus di kayu Salib sebagai Kemenangan

Yesus meraih kemenangan akhir. Karya salib-Nya mengalahkan kekuatan tersembunyi dan bermusuhan yang memperbudak dan melecehkan kemanusiaan. Kematian Tuhan yang menebus dan kebangkitan tubuh Tuhan dari kubur secara permanen mengalahkan kekuatan duniawi yang kolosal seperti dosa, kematian, dan iblis.

Tuhan Yesus membebaskan orang-orang yang telah ditawan (Efesus 4:8) dan muncul sebagai pahlawan penakluk yang telah mematahkan ikatan penangkapan. Yesus adalah Anak Domba Allah yang mengalahkan dia yang mengikuti seperti singa yang mengaum berupaya melahap jiwa manusia (1 Petrus 5:8). Kristen merayakan VE-Day baru, "Victory upon the Earth" (Kemenangan atas bumi - Red.)," melalui salib Tuhan dan Juru Selamat.

Entah sebagai aksesoris yang sembrono seperti pernyataan basa-basi atau digunakan dengan hormat sebagai peringatan perang, salib selalu mendapat perhatian. Ini adalah salib Yesus Kristus dan pesan rangkap empatnya tentang penebusan yang membedakan agama Kristen yang historis dari semua agama dan sistem filsafat lain. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Reasons to Believe Alamat URL : http://www.reasons.org/articles/christ-s-cross-its-fourfold-distinctive-... Judul asli artikel : Christ's Cross: Its Fourfold Distinctive Meaning Penulis artikel : Kenneth R. Samples Tanggal akses : 14 Maret 2017

6 Alasan Para Wanita Harus Belajar Teologi

Rab, 01/03/2017 - 10:56

Ketika kata teologi disebutkan dalam sebuah perkumpulan wanita, saya sering mendapat respon yang kurang antusias. Sebutkan buku-buku tentang urusan rumah tangga, pernikahan atau orang tua, maka sebaliknya, semua orang terlihat tertarik. Mengapa demikian? Saya pernah mendengar komentar seperti, "Saya tidak cukup pintar," "Saya akan menyerahkan pelajaran teologi pada para pria," atau "Saya tidak membutuhkan teologi, saya hanya butuh membaca Alkitab."

Namun, kebenarannya adalah tidak ada seorang pun yang "cukup pintar" untuk mengenal Allah berdasarkan pemahamannya sendiri. Hal itu dapat terjadi hanya karena Allah telah menyingkapkan diri-Nya pada orang-orang berdosa sehingga kita mengenal-Nya. Dan menyerahkan pelajaran teologi pada para pria artinya seperti berkata "tidak" pada makan malam yang indah yang disiapkan oleh juru masak yang ahli, dengan hanya mengizinkan beberapa tamu untuk makan. Dan membaca Alkitab adalah usaha teologi itu sendiri. Anda tidak dapat membaca Alkitab tanpa teologi. Pada akhirnya, tidak mungkin untuk seorang Kristen mengabaikan teologi (pelajaran tentang Allah) dan bertumbuh kuat dalam iman. Bukan berarti saya percaya kita butuh sedikit buku pada pernikahan dan rumah tangga, tetapi kita butuh lebih banyak teologi dalam apa pun yang kita kerjakan.

Di bawah ini ada 6 alasan mengapa para wanita harus belajar teologi:

1. Untuk Mengenal Allah

Banyak pelayanan dan buku-buku wanita berfokus pada "Kehidupan Kristen yang Praktis." yang terlalu sering berpisah dari pengajaran yang memberi kita pedoman dan aturan dari pada sebuah pemandu dan penebusan. Kita diciptakan dan diselamatkan untuk mengenal Allah. Hal ini merupakan esensi dari kehidupan kekal itu sendiri (Yohanes 17:3). Kita adalah anak-anak Allah yang diadopsi ke dalam keluarga kerajaan-Nya. Tidakkah masuk akal jika kita harus mengenal Bapa kita sedalam mungkin? Petrus memanggil kita untuk bertumbuh di dalam kasih karunia dan pengetahuan akan Allah (2 Petrus 3:18). Apakah Anda ingin mengenal Allah? Jadi, Anda harus menjadi seorang teolog. Hal ini bukan berarti bahwa Anda harus setara dengan R. C. Sproul, tetapi Anda harus berusaha keras untuk mengenal Allah sebaik mungkin. Jika tidak, Anda merampok diri Anda sendiri dari pengetahuan akan Allah dan cenderung untuk mengembangkan pengajaran yang buruk sepanjang jalan.

Jika Anda tidak mendengarkan teologi, itu bukan berarti Anda tidak mendapat gambaran tentang Allah. Itu akan berarti bahwa Anda memiliki banyak hal yang salah- sebuah gambaran yang buruk, kacau, ketinggalan zaman. - C. S. Lewis.

2. Untuk menangani kesulitan hidup

Cara hidup yang praktis mengalir dari teologi kita, baik disadari atau tidak. Hal ini benar sehubungan dengan bagaimana kita menangani hari-hari yang sulit. Bagaimana pikiran dan respon kita pada cara anak-anak kita berargumen satu dengan yang lain atau yang tidak menaati kita secara langsung dipengaruhi oleh apa yang kita percayai tentang Allah. Bagaimana kita berinteraksi dalam pernikahan, bagaimana kita menangani tekanan finansial, penyakit dan tragedi, secara langsung mengalir dari teologi kita. Apakah Allah berada dalam kegelapan ini? Apakah Dia memiliki sebuah rencana? Apakah Dia masih mengasihi saya? Apakah Dia marah? Apakah Dia masih memegang kendali? Apa yang Dia inginkan dari saya melalui hal ini? Itulah teologi.

3. Untuk memberi jawaban dari apa yang kita percayai

Kita diberi tahu dalam 1 Petrus 3:15 bahwa kita perlu dapat bertanggung jawab atas hal-hal yang kita percaya. Tanpa teologi kita tidak dapat menjawab pertanyaan besar mengenai hidup, kematian, penderitaan, dan tujuan dari sudut pandang Alkitab. Itu semuanya merupakan pertanyaan-pertanyaan teologi. Kita juga tidak dapat menyebarkan Injil tanpa teologi. Menceritakan pada orang-orang tentang Yesus adalah percakapan/diskusi teologis. Pertimbangkan lebih dari Anda dipanggil untuk menanggung kesaksian untuk menghidupkan Juru Selamat kembali, dan menjadi sebuah bagian dari orang-orang yang diciptakan untuk menyatakan Allah yang mulia.

4. Untuk menaati Firman

Kita dipanggil untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, kekuatan, dan akal budi kita. (Yeremia 9:23,24; Matius 22:37) Demi mengasihi Allah dengan segenap pikiran, Anda perlu tahu siapa Dia dan apa yang sudah Dia lakukan. Semakin dalam Anda mempelajari karakter-Nya, semakin bertumbuh kuat kasih kita kepada-Nya. Hati yang dingin biasanya adalah hasil dari kurangnya meditasi pada hal-hal yang berkaitan dengan Allah.

5. Untuk memperkuat penyembahan

Bagaimana kita dapat menyembah Allah jika kita tidak tahu banyak tentang Dia? Bagaimana kita memujikan kebaikan-Nya jika kita tidak tahu apa kebaikan-Nya? Dalam penyembahan bersama ataupun sendiri, semakin baik pemahakan teologi Anda, semakin keras Anda memuji. Kita dipanggil untuk menyembah Allah dalam roh dan kebenaran. "Kebenaran" ini ditemukan dalam firman-Nya (Yoh.4:24)

6. Untuk membuat kita rendah hati

Kebanggaan memiliki cara yang membuat kita berpikir bahwa kita sudah mengetahui semuanya. Namun, semakin kita mengenal Allah dalam semua segi yang berbeda, kita akan mulai melihat betapa besarnya Dia dan betapa kecilnya kita. Betapa kudus-Nya Dia dan betapa cemarnya kita oleh dosa-dosa kita; betapa murah hati, lembut, dan baiknya Dia dibandingkan dengan kita yang betapa picik, gampang marah dan tidak sabarnya kita. Teologi menjaga para wanita untuk tetap rendah hati. Jika tidak, ia melakukannya dengan salah.

Ada suatu hal yang sangat meningkatkan pikiran dalam sebuah studi dari Keilahian. Hal itu merupakan suatu subjek yang sangat luas, bahwa semua pikiran kita hilang dalam sedemikian besar; begitu dalam, bahwa kebanggaan kita ditenggelamkan dalam kekekalan. - C. H. Spurgeon.

Teologi sangatlah penting dan juga sangat praktis. Hal itu akan menentukan bagaimana Anda menangani hal-hal keduniawian dalam hidup. Hal itu juga akan menjadi paksaan penggerak di belakang penyembahan Anda. Dan hal itu akan meningkatkan rasa syukur Anda. Juga yang terpenting, hal itu akan menyingkapkan kebesaran dan kekudusan Allah yang menciptakan dan memelihara Anda.(t/Illene)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Christianity.com Alamat URL : http://www.christianity.com/theology/6-reasons-women-should-study-theolo... Judul asli artikel : 6 Reasons Women Should Study Theology Penulis artikel : Jen Thorn Tanggal akses : 23 September 2016

Bertumbuh dan Berbagi Wawasan Bersama dalam Komunitas Diskusi Wanita Kristen

Sen, 20/02/2017 - 14:50

Sebagai wanita Kristen, kita harus bertumbuh, berwawasan luas, dan memiliki banyak relasi dengan sesama wanita Kristen Indonesia lainnya. Untuk itu, mari bergabung bersama kami dalam komunitas diskusi Wanita Kristen dari YLSA!

Melalui komunitas ini, kita akan bersama-sama belajar dan berbagi wawasan dalam topik-topik diskusi yang alkitabiah seputar dunia wanita Kristen. Berbagai topik menarik dan berguna akan didiskusikan melalui FB grup ini sehingga wawasan kita sebagai bagian dari tubuh Kristus akan semakin bertambah dan diperlengkapi. Baik bahan maupun hasil diskusi, tentunya akan sangat berguna bagi pelayanan kita di dalam keluarga, gereja, karier, maupun masyarakat.

Nah, tunggu apa lagi, segera kunjungi dan bergabunglah bersama Facebook Grup Wanita Kristen diskusi kami di Facebook Grup Wanita Kristen.

Kisah Kaum Perempuan

Sen, 20/02/2017 - 14:48
edisi - 161 Kasih yang Tahan Uji

Pernahkah terbayangkan oleh kita serta bertanya dalam hati bagaimana rasanya menjadi seorang wanita, istri, dan ibu, yang percaya pada Kristus, tetapi berlatar belakang kaum SALAM? Sudah tentu itu akan mengandung bahaya bagi semua anggota keluarga.

Berikut ini adalah kisah kaum wanita yang setiap hari terpaksa menanggung derita karena mempertahankan iman dalam Kristus Yesus. Kehadiran Open Doors di tengah-tengah mereka untuk menguatkan melalui program pemuridan yang telah dirancang secara khusus bagi mereka.

Kisah Hosneara: Badai Iman bagi Hosneara

Hosneara Begum, usia 33 tahun, latar belakang SALAM, berkata, "Saya yang pertama percaya kepada Kristus setelah itu suami saya juga menjadi percaya setelah saya memperkenalkan Yesus sebagai jalan keselamatan."

Ia melanjutkan, "Akibat dari komitmen yang kami ambil, keluarga suami saya menolak untuk memberikan rumah dan tanah bagian kami. Orang-orang mulai mengejek kami." Putranya bernama Ahsan Habib, 13 tahun, menderita sakit kantung kemih sejak lahir. Orang-orang itu mengatakan bahwa penyakitnya disebabkan oleh karena orangtuanya percaya Kristus. "Ada kalanya iman saya menjadi lemah, merasa seperti berada dalam badai iman."

"Kemudian, saya ikut dalam pelatihan dan pemuridan yang diselenggarakan oleh Open Doors. Selama pelatihan, saya menemukan kasih Allah bagi saya dan keluarga saya. Saya mulai memahami gambar diri, betapa berharganya saya di mata-Nya. Tuhan menciptakan saya serupa dan segambar dengan-Nya."

"Hal yang penting, saya juga belajar mengetahui bahwa Allah adalah satu-satunya penyembuh. Hanya Dialah yang bisa menyembuhkan anak saya. Jadi, mulai sekarang kami sekeluarga ingin berbuat baik dan bermurah hati kepada semua orang sehingga mereka dapat melihat Yesus dalam hidup kami. Teruslah berdoa bagi kesembuhan anak saya sehingga melalui hal itu Allah dapat diberitakan dan dimuliakan."

Sahana Aktar: Tidak Diakui oleh Keluarga dan Masyarakat

"Seluruh anggota keluarga rumah tangga saya menjadi pengikut Kristus. Namun, hal itulah yang membuat ketika saya datang ke rumah orangtua saya, mereka menolak dan mengunci semua pintu, tidak mengizinkan saya masuk. Di tempat kami tinggal, ketika anak-anakku bermain, pergi ke sekolah, mereka mengejek kami. Terkadang, orang yang lewat depan rumah kami, mereka melemparkan lumpur ke atap rumah dan membuang sampah di depan rumah kami. Setiap hari, tetangga kami berdiri di depan jendela dan mengeluarkan kata-kata penghinaan terhadap agama Kristen dan Yesus. Tolong doakan kami sekeluarga sehingga tetap berdiri teguh dalam iman kami dan cakap menanggung segala perkara dan memuliakan Tuhan melalui kesetiaan."

Monira Begum (27): Iman yang Tak Tergoyahkan

"Ketika suami saya dan saya menjadi orang Kristen, tetangga-tetangga mulai membenci dan mengkritik kami. Tidak ada lagi yang mau berbicara dengan kami, tidak diundang ke acara sosial. Penduduk desa memblokir jalan dari rumah kami sehingga kami tidak bisa pergi ke mana-mana. Mereka datang bersama kelompok massa dan memaksa kami keluar dari desa; mereka tidak berhasil. Iman kami tetap teguh dan kami percaya Tuhan selalu bersama kami."

Diambil dari: Judul buletin : Open Doors Frontline Faith Edisi : Mei - Juni 2016 Penulis artikel : Redaksi Open Doors Halaman : 6 -- 7 Kolom e-Wanita: WOMEN TO WOMEN -- A MINISTRY OF OPEN DOORSkategori: KEHIDUPAN ROHANI

Ketekunan: Cinta Tiada Akhir

Sen, 20/02/2017 - 13:08
edisi - 161 Kasih yang Tahan Uji

Ketika Courtney naik ke atas panggung untuk menerima gelar sarjananya, kerumunan kecil di aula meledak dengan suara sorak-sorai. Suaminya, Stan, bersorak dengan keras, berdiri dengan kedua tangannya di atas. Saat keluar panggung, Courtney melihat, menunjuk ke arah Stan, dan memberi kecupan jauh.

Itu mewakili semuanya!

Mereka berdua tahu bahwa momen itu merupakan sebuah kemenangan bersama untuk mereka, puncak dari "serangkaian tindakan yang mantap dan gigih..., terlepas dari kesulitan dan keputusasaan" (perseverance, kamus Webster). Sembari menulis tugas-tugas dan menyelesaikan magang, Courtney bekerja paruh waktu, membagikan rasa kepedulian pada anak mereka yang berumur 18 bulan bersama dengan Stan, yang bekerja dalam satu setengah pekerjaan (satu pekerjaan penuh waktu dan satu pekerjaan paruh waktu - Red.) untuk memenuhi kebutuhan.

Ketika mereka menikah, mereka setuju untuk saling mendukung dalam menyelesaikan rencana pendidikan dan karier mereka. Namun, mereka tidak menduga akan adanya risiko secara keuangan atau emosional: hari-hari tanpa sebuah percakapan yang layak, akhir pekan tanpa waktu untuk relaksasi dan keintiman, sedikit uang untuk baju dan hiburan, periode kebencian, dan mengasihani diri sendiri. Courtney dan Stan menghadapi tantangan tak terduga secara bersama-sama, tetapi mereka berhasil dalam memenuhi mimpi mereka untuk masa depan yang lebih baik.

Stan dan Courtney adalah contoh dari ketekunan. Begitu juga dengan Dick dan Nancy, yang disebabkan oleh kondisi stroke Dick dengan mengubah gaya hidup secara radikal, dan ada pula Imelda dan Jose, yang bekerja siang malam selama tiga tahun untuk memulai bisnis kecil mereka.

Dengan angka perceraian mencapai hampir 50% (di Amerika Serikat -- Red.), merupakan hal yang menginspirasi untuk bertemu dengan pasangan yang berjuang, menghadapi kesulitan dan mengatasinya dengan kebersamaan yang kuat dan dengan berkomitmen pada pernikahan mereka. Apa yang membuat ketekunan menjadi mungkin untuk sebagian orang dan tidak bagi yang lain? Apakah itu hanya karena mereka berani menghadapinya, atau adakah formula ajaib untuk menantang pasangan hidup menjadi lebih kuat?

Setiap pasangan yang pernah saya kenal memiliki waktu-waktu saat mereka dikecewakan, marah, depresi, lelah, atau hanya emosi yang datar, yang siap untuk menyerah. Bisa jadi itu masalah uang, pekerjaan, anak-anak, alkohol, rumah, olahraga, seks, atau hukum. Mengapa beberapa pasangan bertekun dan yang lainnya menyerah untuk mencoba suatu hal berjalan dengan baik?

Ketika saya berbicara, baik dengan pasangan yang baru dan yang sudah lama menikah, ada tiga hal yang tampaknya ada dalam para pasangan yang bertekun dalam masa sulit.

Yang pertama adalah kemauan untuk berharap. Harapan dalam pernikahan berarti percaya pada masa depan bersama, tetapi yang belum terlihat. Harapan merupakan suatu hal yang lebih dari sekadar rasa optimis. Harapan dengan bertekun adalah sebuah orientasi roh yang timbul dari sebuah sumber yang melampaui kita. Untuk bertahan, para pasangan membutuhkan sebuah visi yang positif untuk berjalan dalam situasi yang sekarang terlihat suram.

Ketika Amy sedang beristirahat total pada masa akhir kehamilannya dan Tom mengerjakan semua pekerjaan yang biasanya dikerjakan Amy, harapan mereka pada kemungkinan untuk memiliki bayi yang sehat membuat mereka mampu melewatinya. Ketika Dick tidak bisa berjalan setelah terkena stroke, ia dan Nancy mengharapkan waktu-waktu yang indah pada masa mendatang bersama dengan cucu-cucu mereka. Alkitab menegaskan pentingnya sebuah harapan. "Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Akan tetapi pengharapan yang terlihat, bukan lagi pengharapan; sebab siapakah yang berharap atas sesuatu yang sudah dilihatnya? Akan tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun." (Roma 8:24-25, AYT)

Kunci yang kedua untuk ketekunan adalah kemauan kedua belah pihak untuk berkorban demi masa depan yang lebih baik. Sementara Courtney bekerja pada sore hari, Stan merelakan kegiatannya bermain poker bersama teman-temannya demi menjaga anak mereka. Tidak ada perjalanan, konser mahal atau botol anggur bermerek selama melanjutkan jenjang sekolah.

Peneliti pernikahan yang terkemuka, Scott Stanley, dalam studi tentang pengorbanan dalam pernikahan menunjukkan bahwa ketika kedua pasangan mau berkorban, itu merupakan cara yang ampuh untuk mengungkapkan rasa cinta satu sama lain. Pengorbanan berbicara bahwa apa yang baik untukmu adalah juga penting bagi saya. Saya mencintaimu dan saya mau memberikan waktu dan energi saya demi kebaikanmu. Bagi Imelda dan Jose, itu berarti tidak memiliki baju-baju yang baru atau perabotan yang baik selama hampir tiga tahun sehingga semua sumber penghasilan mereka dapat diinvestasikan dalam pertumbuhan bisnis yang bisa mendukung keluarga mereka pada masa yang akan datang.

Karakteristik yang ketiga dari pasangan yang bertekun adalah iman yang berada di dalam diri mereka, di dalam satu sama lain, dan di dalam Allah. Hingga mereka menghadapi kesulitan, Patrice dan Sheldon tidak sadar bahwa Allah bersama-sama dengan mereka dalam hubungan pernikahan mereka. Namun, ketika beban menjadi berat, mereka mulai meminta pertolongan Allah untuk memberi jalan keluar pada pertengkaran dan argumen pahit di antara mereka. Kemudian, mereka mengalami perubahan melalui doa dan keyakinan pada kekuatan Allah yang ada di dalam mereka.

"Hal itu tidak seperti ledakan petir atau yang lainnya," komentar Sheldon. "Saya telah berdoa meminta pertolongan ketika bekerja dan berolahraga, jadi saya mulai berdoa untuk meminta pertolongan di rumah. Kemudian, kami mulai berdoa bersama. Hal itu menuntun kami untuk belajar berkomunikasi satu sama lain dengan cara yang baru. Pelan-pelan, kami menyadari bahwa kami tidak bisa mengatasi masalah ini dengan diri kami sendiri karena kami adalah salah satu bagian dari masalah tersebut." Bahkan, ketika kita hanya memiliki iman yang kecil pada diri kita maupun pada Allah, doa dapat menopang kita.

Perayaan kelulusan Courtney dan Stan, seperti halnya keberhasilan Jose dan Imelda pada ketekunan dalam masa yang sukar, secara langsung berhubungan pada janji yang mereka buat pada hari pernikahan mereka untuk saling mencintai dan menghormati untuk selamanya. Saat ini, ketika banyak orang telah kehilangan rasa percaya diri dalam cinta pernikahan, mereka membuktikan bahwa hal itu mungkin!

Ketika para pasangan bertekun, mereka membawa kasih yang teguh dan unik ini ke dalam keluarga mereka, komunitas mereka, dan ke dalam dunia. Hal ini mendorong mereka untuk melihat bahwa kasih yang dibicarakan oleh Rasul Paulus dalam surat Korintus merupakan sesuatu yang mungkin bagi kita semua: "Kasih itu tahan menanggung segala sesuatu, mempercayai segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, dan sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak pernah berakhir" (1 Korintus 12:7-8, AYT). (t/Illene)

Download Audio

Diterjemahkan dari: Nama situs : For Your Marriage Alamat situs : http://www.foryourmarriage.org/perseverance-love-never-ends/ Judul asli artikel : Perseverance: Love Never Ends Penulis artikel : Mary Jo Pedersen Tanggal akses : 27 September 2016 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: DUNIA WANITAkategori: KASIH

Kasih yang Tahan Uji

Sen, 20/02/2017 - 13:02

Salam dalam kasih Kristus,

Bulan Februari identik dengan bulan kasih sayang bagi dunia. Namun, sebagai orang-orang Kristen, kita dipanggil untuk menyatakan kasih sejati seperti yang diteladankan Tuhan Yesus setiap hari dan setiap waktu dalam hidup kita. Sebagaimana Kristus telah memberi diri-Nya, hendaknya kita pun dapat memberi diri bagi orang-orang yang ada dalam kehidupan kita. Namun, tentu saja mengasihi dalam bentuk memberi diri bukanlah perkara yang mudah, bahkan dalam kehidupan rumah tangga sekalipun. Ada banyak konflik di dalam rumah tangga yang diawali dari kegagalan pasangan untuk menumbuhkan cinta kasih yang benar, yang berdasar pada Kristus. Lalu, bagaimana setiap pasangan kristiani dapat menumbuhkan jenis kasih yang akan tahan uji dan dapat bertahan melalui waktu-waktu yang sulit? Melalui dua artikel dalam edisi e-Wanita 161 ini, kita diajak untuk melihat contoh-contoh tentang bagaimana kasih yang berdasar pada Kristus itu akan mampu bertahan melalui ujian dan kesukaran, bahkan di tengah-tengah ancaman bahaya dan penindasan sekalipun. Setelah membaca artikel-artikel tersebut, kiranya kita dapat sungguh-sungguh merasakan kebenaran dari perkataan Paulus yang menyatakan, "Kasih itu ... sabar menanggung segala sesuatu." Amin..

Pemimpin Redaksi e-Wanita,
N. Risanti

Tinggalkan Komentar