RSS Wanita

Subscribe to RSS Wanita feed
Updated: 2 months 2 weeks ago

Mendampingi Para Lanjut Usia

Sen, 03/06/2019 - 11:40
edisi - 191 Teknologi dan Kehidupan Kristen

1. Mendorong Perencanaan yang Realistis

Menurut seorang konsultan keuangan, tidaklah terlalu cepat untuk merencanakan pensiun. Kebanyakan konsultan pasti setuju. Masalah usia lanjut kadang timbul dengan intensitas yang hebat karena masalah tersebut datang tidak terduga dan tanpa persiapan dini. Di dalam gereja, kita bisa mendorong orang untuk mengevaluasi perilaku mereka dalam menghadapi penuaan, membicarakan cara menggunakan waktu luang, mempertimbangkan hubungan dengan orang tua yang lanjut usia dan anak-anak yang bertumbuh, membicarakan kematian, dan merencanakan pensiun. Pembicaraan seperti itu bukan sesuatu yang tidak wajar. Malahan topik pembicaraan tersebut bisa menjadi latihan yang positif, menyenangkan, sehat, dan berguna. Perencanaan untuk masa depan ini bisa terjadi dalam konsultasi muka dengan muka atau mungkin lebih baik jika perencanaan itu dilakukan secara berkelompok, seperti lokakarya, retret, atau kelas Minggu. Beberapa kelompok diskusi bisa berperan sebagai vaksin pencegah trauma kejiwaan terhadap penuaan.

Contoh perencanaan yang realistis adalah dengan memikirkan bagaimana orang bisa terbantu dalam merencanakan pensiun. Paling baik jika kita mulai dengan mereka yang berumur 40-an atau 50-an. Cobalah menghilangkan kesalahpahaman tentang pensiun dan mendorong orang untuk memikirkan masa depan, walaupun mereka masih sehat secara fisik dan tidak menyadari perubahan yang berangsur-angsur akan terjadi seiring dengan bertambahnya umur.

Saat merencanakan untuk pensiun, beberapa pertanyaan berikut harus dipertimbangkan.

  • Kapan kita akan pensiun?
  • Apa yang Tuhan ingin kita lakukan setelah pensiun?
  • Di mana kita tinggal setelah pensiun?
  • Di mana kita akan tinggal dalam masa pensiun?
  • Bagaimana kita menghabiskan waktu setelah pensiun?
  • Bagaimana agar kita tetap sehat setelah pensiun?
  • Apa yang harus kita lakukan agar pikiran kita tetap tajam dan aktif?
  • Berapa banyak uang dan sumber keuangan yang kita punya?
  • Kebutuhan keuangan apa yang kita perlukan dalam masa pensiun?
  • Bagaimana kita membayar kebutuhan kesehatan pada masa pensiun?
  • Apakah kita punya asuransi yang cukup?
  • Apakah keinginan kita lengkap dan tak ketinggalan zaman?
  • Secara spesifik, apa yang bisa kita lakukan sekarang dalam menyiapkan diri untuk pensiun?

Diskusi atas pertanyaan-pertanyaan di atas dapat mencegah masalah masa mendatang dan membantu untuk lebih memperhatikan kehidupan pada masa tua. Kadang, orang akan mencari bantuan dari buku-buku yang ditulis untuk menyiapkan diri menghadapi masa tua mereka.

2. Mendorong Perilaku yang Realistis

Dari mimbar sampai kelompok kecil dan dalam pertemuan gereja lain, prasangka dan mitos mengenai penuaan harus dilawan. Alkitab secara gamblang menghormati yang lebih tua dan pengikut Kristus diharapkan melakukan hal yang sama. Jika seluruh gereja bisa merawat orang tua dengan kasih sayang dan mengembangkan perilaku positif terhadap para tetua, orang yang lebih tua akan membalas dengan cara yang sama.

Satu cara mengembangkan perilaku yang baik terhadap orang tua adalah membuat jemaat dan para orang tua berkomunikasi dan saling membantu. Gray dan Moberg sudah mendaftarkan beberapa hal yang dapat dilakukan gereja bagi para orang tua. Mereka mengatakan bawah gereja bisa melakukan hal-hal di bawah ini.

  • Merencanakan program yang spesifik untuk jemaat senior. (Coba buat rencana yang menarik, bukan rencana seperti "Menjaga dan menghibur anak-anak yang dalam hal ini adalah orang-orang tua".)
  • Membicarakan kebutuhan rohani para tetua, termasuk rasa tidak aman, disepelekan, menjauh dari Tuhan, penyesalan terhadap kegagalan masa lalu, dan ketakutan akan kematian.
  • Mendidik orang agar mereka bisa menanggulangi masalah hidup dengan lebih baik.
  • Mendorong komunikasi sosial, spiritual, dan rekreasional dengan teman sebaya dan yang lebih muda.
  • Membantu memecahkan masalah pribadi sebelum makin buruk.
  • Membantu memenuhi kebutuhan fisik dam material.
  • Bertemu orang-orang di panti jompo.
  • Memengaruhi masalah rakyat dan program pemerintah untuk para tetua.
  • Menyediakan fasilitas fisik sehingga orang tua dapat datang ke gereja tanpa mengalami kesulitan.
  • Menciptakan kesempatan bagi orang tua untuk terlibat dalam pelayanan -- mengajar, mengunjungi, berdoa atau mengetik, pemeliharaan gedung gereja, atau kegiatan pelayanan yang bermanfaat lainnya.

Program tersebut menunjukkan kepada semua orang bahwa orang tua itu berguna. Hal ini bisa mengurangi ketakutan dan memberi penyesuaian terhadap masa tua yang lebih mudah untuk dilakukan.

3. Mendorong Pendidikan dan Kegiatan

Orang bisa menghindari masalah penuaan jika mereka bisa didorong untuk menggunakan pikiran mereka, melatih tubuh mereka, merencanakan menu makan, membuat waktu senggang mereka bermanfaat, dan untuk mencari cara kreatif dalam melayani sesama. Kesimpulan ini berdasar asumsi bahwa kegiatan mental dan fisik berpengaruh besar dalam menjaga seseorang untuk tidak lesu, malas-malasan, dan pikun.

4. Mendorong Pertumbuhan Rohani

Tidak ada orang yang terlalu tua untuk datang kepada Kristus dan dewasa secara rohani. Hubungan yang bertumbuh dengan Kristus tidak mencegah masalah hidup, tetapi orang yang benar-benar percaya harus dapat menghadapi stres dengan lebih efektif karena mereka memercayai Tuhan yang Mahabesar dan Mahakuasa. Selama hidup, bahkan orang yang telah lama menjadi Kristen bisa belajar lebih banyak tentang seseorang yang dengan-Nya kita akan hidup abadi. Orang-orang dengan segala umur butuh dorongan untuk berdoa, membaca Alkitab, menyembah secara rutin, persahabatan dengan saudara seiman, dan terlibat sejauh mungkin dalam pelayanan. Orang percaya yang bisa bersukacita di masa muda juga akan bersukacita pada masa tua mereka, tentu saja dengan bantuan Tuhan. (t/Dian)

Download Audio

Diambil dari: Nama situs : Christian Counseling Center Indonesia (C31) URL : http://c3i.sabda.org/15/jan/2007/konseling_mencegah_masalah_masalah_dalam_usia_lanjut Judul asli artikel : Mendampingi Para Lanjut Usia Penulis artikel : Gary R. Collins, Ph.D Tanggal akses : 8 Oktober 2018 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: WAWASAN WANITAkategori: KASIH

Menjadi Tua dengan Anggun

Sen, 03/06/2019 - 11:37
edisi - 191 Teknologi dan Kehidupan Kristen

Dunia Wanita
Menjadi Tua dengan Anggun

Mungkin Anda sedang membangun rumah yang akan terlihat cantik dan nyaman untuk melalui musim dingin yang panjang dari usia tua Anda. Anda menghiasnya dengan penuh selera, mengisinya dengan ornamen yang dirancang untuk membawa kesenangan dan kenyamanan pada masa yang akan datang -- perbuatan baik dari rasa syukur dan anugerah, tindakan kemurahan hati dan kasih tanpa pamrih. Di setiap dinding, Anda menggantung gambar-gambar yang sama berartinya dengan keindahannya -- persahabatan yang hangat dalam Kristus, hubungan yang membimbing dan pemuridan, anak-anak dan cucu-cucu yang mengenal dan mengasihi Tuhan. Mereka memandang Anda dari kejauhan untuk memberikan penghiburan, dorongan semangat, dan kekuatan. Anda memiliki persediaan kesalehan dan anugerah untuk memastikan Anda akan kenyang dan mendapat asupan, untuk setia pada hari-hari yang mengkhawatirkan. Anda telah mengumpulkan banyak persediaan firman Tuhan untuk menyalakan api yang akan tetap menyala terang melalui hari-hari dan malam-malam musim dingin yang panjang. Anda telah menyiapkan tempat tidur yang nyaman tempat Anda dapat berbaring dan beristirahat. Ketika Anda menarik napas terakhir Anda, Anda akan dapat melihat dari tempat tidur Anda untuk melihat hiasan-hiasan itu, lukisan-lukisan itu, masa hidup harta berharga itu, dan Anda akan tahu: Anda telah menjalani kehidupan yang bermakna.

Atau, mungkin Anda membangun rumah bagi diri Anda sendiri yang akan menjadi kurang lebih sama seperti penjara yang dingin dan suram selama musim dingin yang panjang pada usia tua Anda. Anda menghiasinya dengan keburukan dan kedangkalan -- pencapaian yang tidak berarti, perbuatan jahat, usaha membenarkan diri sendiri. Anda menutupi dinding dengan gambar-gambar aneh -- persahabatan yang berbahaya, hubungan yang berantakan, anak-anak dan cucu-cucu yang nakal dan memberontak. Mereka memandang Anda dari kejauhan dan memberikan rasa yang menghantui, kutukan, rasa takut, dan kedukaan. Anda telah menimbun persediaan yang sedikit untuk dikonsumsi pada hari-hari yang melelahkan, membuat Anda mengunyah kepahitan, penyesalan, dan seribu sifat buruk yang kosong. Anda telah mengumpulkan sedikit firman Tuhan untuk menyalakan api sehingga akan terbakar habis dan padam, membuat Anda dingin dan sengsara. Anda telah menyiapkan tempat tidur duri tempat Anda akan berbaring dan mati-matian mencoba untuk beristirahat. Saat Anda menarik napas terakhir, Anda akan melihat dari tempat tidur Anda yang menyakitkan untuk melihat ornamen-ornamen yang mengerikan, lukisan-lukisan gelap, penyesalan yang ditumpuk seumur hidup, dan Anda akan tahu: Anda telah menyia-nyiakan hidup Anda.

Rumah mana yang sedang Anda bangun? Apakah Anda membangun istana atau penjara? Apakah Anda membangun tempat yang penuh sukacita, kenyamanan, dan keamanan, atau tempat kedukaan, kesedihan, dan bahaya? Setiap hari, Anda meletakkan batu bata ke rumah Anda. Sejak kecil, Anda telah mendekorasinya. Dengan berlalunya hari demi hari, Anda menambahkan ornamen baru dan Anda menyimpan -- atau tidak menyimpan -- untuk beberapa hari mendatang. Dan, ketika musim dingin mendekat, Anda akan tinggal di rumah yang telah Anda bangun. Jadi, saya bertanya lagi, rumah mana yang Anda bangun? (J.R. Miller)

Ketakutan yang Mendalam, Kerinduan yang Mendalam

Ada perilaku tertentu yang membuat saya takut pada hal-hal tertentu sejak kecil. Saya melihat orang bertindak dengan cara tertentu, saya melihat konsekuensi dari tindakan mereka, dan saya memutuskan bahwa saya tidak akan pernah melakukan hal-hal itu. Saya memutuskan saya tidak akan jadi seperti orang-orang itu.

Sewaktu kecil, saya melihat penyalahgunaan alkohol. Saya melihat kemabukan penuh dalam segala keburukannya, semuanya memalukan. Saya melihat itu pada orang yang saya cintai, orang-orang dalam keluarga besar saya. Saya melihat bagaimana mereka berperilaku, saya melihat bagaimana orang lain memperlakukan mereka, saya melihat bagaimana reputasi mereka hancur. Bahkan, sebagai anak dan remaja, saya mendapati diri saya bersikap sangat waspada terhadap alkohol sehingga itu tidak pernah menarik bagi saya. Bahkan, saat ini, saya tidak minum alkohol, dan itu bukan karena saya memiliki kasus alasan alkitabiah melawan alkohol. Itu hanya karena saya tidak tertarik. Tidak pernah.

Sejak kecil, saya juga dikondisikan untuk takut pada penuaan yang buruk. Saya melihat orang-orang lanjut usia yang berperilaku memalukan, yang menampilkan begitu sedikit martabat yang seharusnya dikaitkan dengan usia. Saya melihat wanita tua yang sakit hati, yang tampaknya tidak memiliki maksud atau tujuan nyata bagi kehidupan mereka. Saya melihat orang-orang tua yang mabuk, yang murtad, yang penuh kebencian terhadap Allah. Tentu saja, saya melihat contoh-contoh yang positif juga, para pria dan wanita tua terkasih yang saling mengasihi, yang mengasihi Yesus lebih dari apa pun, yang meneladani kesalehan dan anugerah. Beberapa dari mereka yang saya kenal dan beberapa yang saya temui di buku-buku atau biografi mereka. Saya mengembangkan rasa takut akan penuaan yang buruk dan kerinduan yang mendalam untuk menjadi tua dengan baik.

Jika saya ingin menjadi saleh nanti, saya harus belajar untuk menjadi saleh sekarang.

Ketika saya masih muda, saya memutuskan bahwa saya akan menjadi tua dengan anggun. Saya tidak akan menjadi lelaki yang cabul, lelaki yang sakit hati, lelaki yang mabuk, lelaki tanpa tujuan. Saya memutuskan bahwa pada masa tua, saya akan menjadi bermartabat dan saleh, saya akan meneladani karakter dan hidup yang bertujuan sampai akhir. Bahkan kemudian, saya mengerti bahwa resolusi ini diperlukan untuk membentuk seluruh hidup saya. Saya tidak dapat hidup dalam kehidupan yang tidak bermoral dan mengharapkan Allah memberi saya karunia kesalehan pada hari ulang tahun saya yang ke-65. Saya tidak dapat hidup apatis atau suam-suam kuku dan mengharapkan usia tua yang bermakna memiliki tujuan dan bermakna. Jika saya ingin menjadi saleh nanti, saya harus belajar untuk menjadi saleh sekarang. Jika saya ingin menjalani hari-hari itu dengan tujuan, saya pertama-tama harus hidup hari ini dengan tujuan. Untuk alasan-alasan ini dan banyak lagi, subjek menjadi tua sangat berharga bagi saya.

Menjadi Tua dan Usia Tua

Penting untuk membedakan di sini antara menjadi tua dan usia tua. Sementara usia tua adalah posisi, menjadi tua adalah proses -- proses perjuangan keras, investasi kecil yang dilakukan dari waktu ke waktu yang menentukan posisi akhir kita. Tujuan saya dalam artikel ini dan beberapa artikel berikutnya adalah untuk membawa perhatian pada menjadi tua: realitas universal dan seumur hidup bahwa sejak kita lahir, kita akan menjadi semakin tua, bahwa dari napas pertama kita, kita berjalan menuju napas terakhir kita, bahwa setiap keputusan kita sedang memuncak ke arah pria atau wanita tua macam apakah kita. Menjadi tua adalah tanda pada batu nisan, garis kecil yang dalam perkembangannya dari kiri ke kanan, dari sukacita kelahiran ke dukacita kematian, merangkum seluruh kehidupan. Menjadi tua datang dengan banyak kesedihan dan banyak kegembiraan, dan di antaranya adalah tanggung jawab yang dapat kita pilih untuk dianut dijalankan atau diabaikan.

Saya telah menulis ini dengan banyak air mata -- air mata yang cukup untuk mengejutkan saya dan untuk menunjukkan betapa dalam saya merasakan hal ini, seberapa banyak itu telah menjadi lagu yang diputar pada latar belakang hidup saya, seberapa besar hal itu tetap menjadi hasrat yang mendalam. Ini adalah air mata kesedihan karena kesempatan yang sia-sia, air mata sukacita untuk bukti-bukti anugerah yang tidak layak saya terima, air mata harapan bahwa Allah akan mengabulkan doa-doa saya. Sebab, ada sedikit kerinduan dalam hati saya yang lebih mendalam daripada ini: bahwa Allah akan membiarkan saya hidup dalam usia tua secara saleh, terarah, dan bermartabat.

Melalui beberapa artikel, saya bermaksud mengeksplorasi apa yang Alkitab katakan tentang menjadi tua. Pada akhirnya, saya ingin mendorong Anda dan saya untuk menjadi tua dengan anggun, menjadi tua dengan bijaksana, menjadi tua dengan pasti bagi kemuliaan Tuhan. (t/N. Risanti)

Download Audio

Diterjemahkan dari: Nama situs : Challies URL : https://www.challies.com/articles/aging-with-grace/ Judul asli artikel : Aging Gracefully Penulis artikel : Tim Challies Tanggal akses : 1 Oktober 2018 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: DUNIA WANITAkategori: KEHIDUPAN ROHANI

Perempuan dalam Kitab Injil Lukas

Sel, 21/05/2019 - 12:18
edisi - 190 Teknologi dan Kehidupan Kristen

Dalam tahun-tahun belakangan ini, ilmu pengetahuan tentang Alkitab melihat meningkatnya ketertarikan terhadap peran perempuan dalam Alkitab. Sayangnya, ketertarikan ini terlalu sering didorong oleh atau bercampur dengan mentalitas feminis modern yang berupaya untuk membebaskan perempuan dari penindasan patriarkal yang dibayangkan terhadap signifikansi dan kontribusi mereka dalam sejarah. Akibatnya, sering kali adalah melebih-lebihkan, salah penerapan, atau perluasan yang dipaksakan dari apa yang mungkin menjadi sebuah pengamatan yang logis. Kecenderungan ini, karenanya, menciptakan reaksi otomatis dan tidak dipikir panjang yang kolot, menentang semua gagasan tentang peran perempuan dalam Kitab Suci. Reaksi apa pun yang tak terelakkan seperti itu menjadikan kita lebih buruk ketika kita melepaskan konsep logis hanya karena kesalahan penerapannya oleh orang lain.

Perempuan dalam Kitab Injil Lukas

Jelas tanpa dipengaruhi oleh gerakan perempuan modern, penafsir abad ke-19 Alfred Plummer menyebut kitab Injil Lukas sebagai "Kitab Injil Kaum Perempuan." Dalam kitab-kitab Injil sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas), hanya ada dua kisah yang melibatkan perempuan yang tidak dicatat oleh Lukas -- peristiwa dengan perempuan Siro-Fenisia dan Maria yang mengurapi kaki Yesus. Lukas menceritakan beberapa kisah lain dibandingkan satu atau lebih dari yang ada dalam kitab-kitab Injil sinoptik lainnya. Akan tetapi, Lukas juga mencatat sejumlah bagian signifikan yang mengejutkan yang melibatkan perempuan yang unik dalam kitab Injilnya, baik dalam keseluruhannya maupun dalam pengembangan fokus mereka pada perempuan.

Misalnya, kisah kelahiran Kristus (pasal 1 dan 2) unik dalam detail perhatian pada kata-kata, emosi, dan tindakan Elisabet dan Maria. Perhatikan, misalnya, Elisabet mengandung Yohanes, pemberitahuan Gabriel kepada Maria dan dia mengandung Sang Mesias, kunjungan Maria kepada Elisabet, dan puji-pujian Maria, peran Elisabet yang tidak biasa dalam pemberian nama untuk Yohanes, tanggapan Maria kepada berita para gembala, dan kata-kata Simeon yang ditujukan secara khusus kepada Maria. Banyak sekali detail dari Lukas yang bisa dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya tanya jawab dengan Maria dan mungkin Elisabet, yang memberi Lukas bahan materi secara langsung. Bagaimanapun dia mendapatkannya, kenyataannya adalah tetap, yaitu Roh Kudus mengarahkan dimasukkannya materi ini dalam catatan kitab Injil Lukas untuk sebuah alasan. Bagan-bagian ini kaya dengan detail yang penuh informasi yang menyampaikan kebenaran, kekuatan, dan inspirasi kepada semua pembaca dan kepada para perempuan khususnya; mereka hanya memerlukan penyelidikan dan perenungan pribadi.

Kitab Lukas terdiri dari banyak bagian lain, yang menjadikan kitab Injilnya unik, yang memfokuskan perhatian pada perempuan. Hana, nabi perempuan (2:36-38); janda di Nain yang anaknya dibangkitkan oleh Yesus (7:11-15); seorang perempuan berdosa yang mengurapi kaki Yesus (7:36-50); perempuan-perempuan yang bepergian bersama, melayani, dan menyediakan keperluan Yesus dari pebendaharaan mereka sendiri selama pelayanan-Nya (8:1-3); kunjungan Yesus ke Marta dan Maria (10:38-42); perempuan yang berkata-kata saat Yesus sedang mengajar (11:27-28); perempuan bungkuk yang disembuhkan Yesus pada hari Sabat (13:10-17); kata-kata Yesus kepada para perempuan yang mengikuti Dia ke Golgota (23:27-28). Semua catatan dan pengetahuan yang membangkitkan minat ini hanya terdapat di Kitab Lukas. Kitab Lukas adalah satu-satunya Kitab Injil yang menggunakan perempuan untuk menggambarkan kepedulian dan sukacita Allah (perumpamaan tentang uang perak yang hilang), bahayanya hati yang mencintai dunia (Ingat istri Lot!), atau upah atas doa yang dinaikkan terus-menerus (perumpamaan tentang hakim yang tidak adil). Contoh-contoh lain di kitab Lukas yang tidak sama dengan kitab-kitab Injil lainnya karena menekankan perempuan tersedia bagi pembaca Alkitab yang ingin tahu.

Sebagai contoh, catatan tentang perempuan berdosa yang mengurapi kaki Yesus (7:36-50) memiliki implikasi yang sangat besar untuk kedalaman kasih kita dan ekspresi pengabdian kita kepada Kristus. Benar-benar tidak takut dengan pandangan berani dari orang-orang Farisi yang adalah pemimpin dan merasa diri-benar, perempuan berdosa dari jalanan ini memasuki rumah dan menginterupsi jamuan makan untuk mengekspresikan pengabdiannya dan utang kepada Yesus atas kasih sayang-Nya yang tidak bersyarat untuk dirinya. Tidak mampu menahan emosinya, dia menangis di kaki Yesus, membasuhnya dengan air matanya, dan mengeringkannya dengan rambutnya sendiri!

Bisakah Anda bayangkan potret yang lebih jelas dari kasih yang hina dina/rendah, menyangkali diri sendiri, dan yang tidak terbatas bagi Yesus Kristus? Mengurapi kaki Yesus dengan hadiah yang mahal menekankan rasa terima kasihnya, perempuan ini mewujudnyatakan apa artinya mengasihi Yesus Kristus dengan pengabaian mutlak. Dan, Tuhan memakai semangatnya dan tindakannya untuk mengajar teolog-teolog yang sedang menyaksikan dengan keraguan di sekitar meja itu bahwa mereka yang paling mengasihi adalah mereka yang paling sadar akan utang yang atasnya mereka telah dibebaskan oleh Yesus, dan akan ikatan yang daripadanya mereka telah dilepaskan. Mereka yang mengasihi Kristus dengan sungguh adalah mereka yang memikirkan dengan mendalam tentang kasih Kristus bagi mereka. Mereka yang sedikit mengasihi, mereka yang tidak tahu apa-apa tentang pengalaman jiwa perempuan ini, mereka yang melihatnya hanya sebagai bentuk aneh dari perbuatan agamawi, hanya menunjukkan kikirnya jiwa mereka sendiri; kesadaran mereka tentang apa yang telah diperbuat Yesus bagi mereka benar-benar dangkal. Salah satu kebenaran paling besar dari pengalaman orang Kristen diajarkan melalui seorang perempuan -- dan hanya Lukas yang mencatatnya.

Plummer melakukan pengamatan yang menarik bahwa tidak ada peristiwa dalam kitab Lukas atau kitab-kitab Injil lainnya mengenai "seorang perempuan yang dimusuhi oleh Kristus". Ini juga signifikan bahwa dengan satu pengecualian dari Rasul Yohanes, kita tidak memiliki catatan yang jelas ke mana murid-murid yang lain selama penyaliban Yesus terjadi. Akan tetapi, ketiga kitab Injil sinoptik memberikan perhatian khusus pada perempuan yang hadir saat penyaliban sebagai "saksi terhadap peristiwa yang merupakan inti berita Injil". Kita tahu di mana para perempuan saat itu; tetapi di manakah para laki-laki?

Perempuan dalam Kitab Kisah Para Rasul

Penekanan Lukas yang istimewa pada perempuan tidak dibatasi pada kitab Injilnya. Kisah Para Rasul, juga ditulis oleh Lukas, berisikan beberapa macam referensi tentang perempuan yang sangat menarik juga dan cocok dengan pola Lukas sebelumnya yang berfokus pada tindakan, sikap, tanggapan, dan peran perempuan. Frasa "laki-laki dan juga perempuan" sering muncul di Kisah Para Rasul untuk menegaskan fakta bahwa perempuan dan juga laki-laki berdoa (1:14), percaya (5:14), dibaptis (8:12), dipenjara (8:3; 22:4), dan dianiaya (9:2). Juga ada banyak referensi mengenai perempuan-perempuan secara khusus dan tindakan mereka: Maria (ibu Yesus), Safira yang berkomplot melakukan kebohongan, Dorkas yang murah hati, Rode yang mudah bersemangat, Lidia petobat Eropa yang pertama, seorang gadis yang dirasuki roh jahat, seorang di Athena yang bertobat bernama Damaris, Prisilla istri Akwila, termasuk janda-janda yang terabaikan, janda teman-teman Dorkas, dan perempuan yang berkumpul untuk berdoa dengan Lidia di Filipi. Ada juga beberapa referensi yang menarik mengenai perempuan tertentu yang tidak disebutkan namanya tetapi adalah "perempuan-perempuan yang menonjol" (13:50; 17:4, 12).

Kesimpulan

Kiranya survei singkat ini cukup membangkitkan hasrat Anda. Lukas menunjukkan perhatian dan pengetahuan yang unik mengenai perspektif, pengalaman, tanggapan, karakteristik, keterlibatan, dan bahkan contoh peran perempuan. Sebuah studi pribadi tentang perempuan dalam tulisan Lukas menghasilkan banyak hal untuk dipikirkan, kebenaran untuk diaplikasikan, dan nilai untuk ditiru. Mulailah eksplorasi Anda sendiri secara sistematis dan dengan sungguh-sungguh melalui bahan ini dan temukan betapa Allah ingin melayani Anda dari bagian-bagian khusus dalam Firman-Nya ini.

Tentu saja, ada lebih banyak lagi bahan untuk dan tentang perempuan dalam seluruh Kitab Suci selain dalam tulisan Lukas. Bagaimanapun, sebuah penekanan seperti tulisan Lukas seharusnya memberikan kepada perempuan pada segala zaman dan kondisi sebuah dorongan yang lebih untuk mempelajari perempuan yang kisah dan pengalamannya dengan Allah jelas-jelas dimasukkan sebagai pelayanan khusus kepada anak-anak-Nya perempuan. (t/Jing-Jing)

Download Audio

Diterjemahkan dari: Nama situs : Proclaim & Defend (A Ministry of The FBFI) URL : http://www.proclaimanddefend.org/2013/10/21/women-in-lukes-gospel/ Judul asli artikel : Women in Luke's Gospel Penulis artikel : Layton Talbert Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: DUNIA WANITAkategori: PELAYANAN

Enam Langkah Sederhana untuk Menghadapi Gangguan Digital

Sel, 14/05/2019 - 16:00
edisi - 189 Teknologi dan Kehidupan Kristen

Dalam dunia kita yang serba cepat dan canggih, gangguan perhatian adalah masalah besar bagi banyak dari kita. "Jika kita ingin memiliki hidup yang sarat makna, hidup yang sungguh berarti, pertama-tama kita harus mengisi hati dan pikiran kita dengan pemikiran mendalam mengenai apa yang penting. Gangguan pikiran adalah musuh dari pemikiran yang mendalam, dan itu adalah musuh yang harus kita temukan lalu hancurkan," kata Tim Challies dalam bukunya, "The Next Story: Faith, Friends, Family and the Digital World" (Cerita Selanjutnya: Iman, Teman-Teman, Keluarga, dan Dunia Digital - Red.). Berikut adalah enam tip yang Challies berikan dalam bukunya untuk mengatasi gangguan perhatian.

1. Kenali pengganggu perhatian Anda.

Sebelum Anda dapat mengatasi gangguan perhatian dalam hidup Anda, Anda perlu menemukan di mana dan dengan cara apa pikiran Anda terganggu.

2. Ukur cara Anda menggunakan media.

Ambil waktu untuk mengukur jumlah dan jenis media yang Anda gunakan dalam kehidupan Anda. Sering kali, kita telah membuang waktu berjam-jam tanpa kita menyadarinya.

3. Temukan bunyinya.

Setelah Anda mengukur medianya, temukan media mana yang secara khusus mengganggu Anda. Apa yang selalu "berbunyi" dan mengalihkan perhatian Anda dari hal-hal yang penting dalam kehidupan?

4. Temukan apa yang membuat Anda tumpul.

Carilah hal-hal yang cenderung membuat pikiran Anda bosan dan bukan mengasahnya. Apa saja kegiatan yang Anda lakukan dengan pikiran kosong?

5. Hapus dan berhenti berlangganan.

Mulailah untuk menjauhkan diri dari apa yang mengganggu perhatian Anda. Jika itu aplikasi telepon pintar, hapuslah. Jika itu televisi atau media sosial, tentukan batasan waktu penggunaannya.

6. Berfokus pada substansi.

Carilah hal-hal yang lebih baik untuk menggantikan gangguan-gangguan itu. Pastikan Anda mengisi pikiran Anda dengan pikiran yang berkontribusi pada pengembangan karakter ilahi dan sebuah kehidupan yang dipersembahkan kepada Allah.

Gangguan perhatian oleh alat-alat digital seharusnya tidak membuat kita menolak kemajuan teknologi. Dalam karyanya yang berjudul "Using Technology Wisely" (Menggunakan Teknologi dengan Bijak - Red.), Challies menulis, "Kesadaran akan kelebihan dan kekurangannya tidak dimaksudkan untuk membuat kita meninggalkan teknologi, tetapi untuk menggunakannya dengan kebijaksanaan dan segenap perhatian." (t/ Jing-Jing dan Aji)

Diambil dari: Nama situs : Apps4God Alamat situs : http://apps4god.org/index.php/artikel/6-langkah-sederhana-untuk-menghadapi-gangguan-digital Tanggal akses : 15 November 2018 Sumber asli: Nama situs : Facts and Trends Alamat situs : http://factsandtrends.net/2015/11/02/6-simple-steps-for-dealing-with-digital-distractions/#.VrBJwVL-m2x Judul asli artikel : 6 Simple Steps for Dealing With Digital Distractions Penulis artikel : Redaksi Facts and Trends Tanggal akses : 2 Februari 2016 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: WAWASAN WANITAkategori: PENGEMBANGAN DIRI

Bagaimana Teknologi Membuat Saya Menjadi Seorang Kristen yang Lebih Baik

Sel, 14/05/2019 - 15:56
edisi - 189 Teknologi dan Kehidupan Kristen

Ada terlalu banyak kenegatifan orang Kristen yang mengitari teknologi. Tampaknya, semua hal yang kita pikirkan dan baca tentang teknologi adalah tentang berbagai bahaya dan kesulitan dalam revolusi digital. Namun, bagaimana jika kita memikirkan sedikit keseimbangan? Bagaimana jika kita mengakui dan menghargai berbagai karunia teknologi luar biasa yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada generasi kita?

Saya baru saja membaca artikel berjudul "Bagaimana Teknologi Menjadikan Saya Seorang Ibu yang Lebih Baik", dan saya berpikir, "Mengapa orang-orang Kristen tidak menulis hal semacam ini?" Kemudian, "Mengapa saya tidak menulis tentang topik ini?" Jadi, inilah hasilnya, "Bagaimana Teknologi Menjadikan Saya Seorang Kristen yang Lebih Baik".

Sumber-Sumber yang Terjangkau

Saya tidak akan memiliki setengah dari buku-buku yang saya punya tanpa munculnya Logos, Ages Software, eBooks, Kindle Daily Deals, dll.. Betapa miskinnya hidup dan pelayanan saya tanpa sumber-sumber itu! Kemudian, tambahkan juga semua blog, situs web, khotbah dan video daring, dan podcast, dan semuanya itu menjadi hal baik yang hampir terlalu banyak jumlahnya. Di mana Anda memulai? Ada kurator daring yang andal, seperti: Tim Challies dan Justin Taylor, yang hadir untuk membantu kita menemukan harta karun yang terbaik.

Ketika saya memulai pelayanan saya pada pertengahan tahun 90-an, saya memulai sebuah sistem referensi kartu indeks yang rumit dan memerlukan waktu yang lama untuk semua yang saya baca di buku, majalah, jurnal, dan lain-lain. Namun, sistem itu pun sering mengecewakan saya saat saya berdiri di depan perpustakaan kecil saya dan bertanya-tanya, "Di mana saya membaca kutipan itu? Buku mana yang membahas tentang ayat atau ajaran ini?" Saat ini, saya dapat mencari di Logos, di Kindle, Evernote, dan Dropbox saya, dll. dan menemukan semuanya itu dengan beberapa klik. Hal ini tidak hanya menghemat banyak waktu saya, tetapi juga telah memperkaya hidup dan pelayanan saya secara tidak terukur.

Ekonomi dan Kejelasan Kata-Kata

Saya melewati Universitas Glasgow dan tahun pertama saya di seminari tanpa sebuah komputer. Saya bukan seorang Luddite (istilah untuk orang-orang yang menentang perkembangan industri dan teknologi baru - Red.). Itu dikarenakan komputer personal masih sedikit jarang (dan mahal). Komputer pertama saya adalah Packard Bell, yang memiliki kapasitas 200 MB! Namun, bahkan komputer itu pun membuat perbedaan besar bagi khotbah-khotbah pertama yang saya bawakan. Saya masih memiliki sekitar sepuluh catatan khotbah tulisan tangan terkait usaha-usaha pertama saya. Saya mengingat ada saat-saat ketika saya ingin memotong, mengedit, atau mengatur ulang satu bagian, tetapi saya tidak punya waktu untuk menulis apa pun lagi. Fitur potong-dan-salin yang dimiliki oleh komputer membuat saya menjadi pengkhotbah yang lebih baik dengan membantu saya memadatkan, mengklarifikasikan, dan menyederhanakan bahasa saya. Saya benar-benar berharap John Owen hidup pada zaman kita.

Komentar Saat Ini

Hingga munculnya internet, jika ada krisis moral atau pengembangan kerohanian yang mengkhawatirkan dalam gereja atau bangsa, akan diperlukan waktu satu atau dua bulan bagi majalah Kristen untuk mengemukakannya dan menerbitkannya dengan komen dan bimbingan. Pada waktu itu terbit, isu tersebut seringnya sudah lama hilang dan perdebatan tentang hal itu sudah berlalu. Sekarang, kita punya orang-orang brilian dan penulis-penulis terbaik di dunia kekristenan yang dapat mengomentari dan membimbing kita melalui saat-saat yang penuh dengan moral dan tren yang sangat berbahaya, dan dapat melakukannya hampir pada saat itu juga!

Persekutuan Kristen

Ya, saya percaya bahwa persekutuan Kristen telah bertambah daripada berkurang dengan munculnya internet. Melalui blog dan situs web, orang-orang Kristen "awam" membagikan iman dan pengalaman spiritual mereka dengan cara yang memberkati dan mendorong ratusan, dan terkadang ribuan orang Kristen yang lainnya -- dan juga non-Kristen. Begitu banyak hal yang biasanya disimpan secara pribadi dan tidak terkatakan sekarang menjadi bersifat publik dan dibagikan. Orang-orang Kristen yang terpencil, senior-senior Kristen, orang Kristen berkebutuhan khusus, orang Kristen dalam sektor rumah tangga, dan lain-lain, memiliki akses kepada orang-orang Kristen lainnya dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ditambah lagi, hal tersebut tidak semuanya digital. Kebanyakan dari pertemanan daring saya telah berkembang menjadi pertemanan yang bersifat tatap muka. Orang-orang Kristen menjadi lebih mudah untuk terbuka dan berbagi dalam gereja-gereja lokal mereka juga karena mereka telah "berlatih" secara daring.

Keragaman Kristen

Salah satu aspek yang terkaya dari kehidupan daring adalah belajar tentang orang-orang Kristen lain yang berasal dari latar belakang dan budaya yang berbeda. Sebelum masa internet, saya mungkin telah melihat mereka dari kejauhan, dan menilai secara negatif berdasarkan penampilan luar. Akan tetapi, saat saya membaca blog mereka, mendengarkan khotbah-khotbah mereka, dan berinteraksi dengan mereka di Twitter dan Facebook, dll., saya mendengar dan melihat hati mereka bagi Kristus. Saya menjadi lebih mampu untuk melihat melampaui perbedaan tampilan luar, mengasihi mereka, dan diperkaya oleh mereka dan kesaksian mereka secara tidak terukur.

Penjangkauan dan Misi

Betapa luar biasa mudah dan murahnya sekarang untuk menghasilkan sumber daya pelayanan dan mengirimkannya ke seluruh dunia dengan hanya mengeklik tetikus. Berbagai gereja dan seminari di negara-negara dunia ketiga lebih diperlengkapi dan terdidik daripada sebelumnya. Kelas-kelas dan perkuliahan disiarkan ke gurun-gurun, tempat-tempat kumuh, dan hutan. Para misionaris terhubung dengan keluarga dan gereja mereka di rumah melalui Skype. Pesan Kristen menjangkau negara-negara dan tempat-tempat yang tidak dapat dijangkau oleh orang-orang Kristen.

Kegunaan Bahasa Alkitab

Logo, Bibleworks, NET Bible, dll., telah membantu saya untuk melanjutkan, mempertahankan, dan meningkatkan keterampilan bahasa Alkitab saya. Seperti kebanyakan pendeta, ketika saya keluar dari Seminari, kemampuan berbahasa Yunani dan Ibrani saya mulai tergelincir dan memudar. Namun, ketika saya menemukan Logos pada akhir tahun 90-an, dengan panduan yang mudah digunakan, alat penelitian kata, leksikon, dll., keterampilan bahasa Alkitab saya mulai berlanjut ke tempat yang penting dalam persiapan khotbah saya. Tanpa alat digital yang menghemat waktu, saya tahu bahwa saya tidak akan punya waktu untuk memasukkan hal-hal tersebut ke dalam studi mingguan saya.

Pengudusan Digital

Daftar ini sudah terlalu panjang, dan masih bisa menjadi lebih panjang lagi, tetapi biarkan saya menyimpulkan dengan menekankan bahwa semua hal ini, dan banyak lagi, telah menjadikan Anda dan saya orang-orang Kristen yang lebih baik. Revolusi digital telah meningkatkan pengetahuan teologis kita, keterlibatan budaya kita, jangkauan pelayanan dan efektivitas kita, penginjilan dan apologetika kita, kasih kita terhadap satu sama lain, dan juga kekudusan kita.

Selain itu, siapa yang tidak bisa menyembah Allah dengan lebih lagi ketika mereka duduk setiap hari dengan sebuah Apple (gawai atau perangkat teknologi dari Apple - Red.)?

Dalam hal apa teknologi telah menjadikan Anda seorang Kristen yang lebih baik? (t/Illene)

Download Audio

Diambil dari: Nama situs : Apps4God Alamat situs : http://apps4god.org/index.php/artikel/bagaimana-teknologi-menjadikan-saya-seorang-kristen-yang-lebih-baik Tanggal akses : 15 November 2018 Sumber asli: Nama situs : Christianity.com Alamat situs : http://www.christianity.com/blogs/david-murray/how-technology-made-me-a-better-christian.html Judul asli artikel : How Technology Made Me a Better Christian Penulis artikel : David Murray Tanggal akses : 14 Oktober 2018 Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: DUNIA WANITAkategori: KEHIDUPAN ROHANI

Apa yang Begitu Baik tentang Jumat Agung?

Sel, 14/05/2019 - 12:10
edisi paskah

Apa itu Jumat Agung dan mengapa kita menyebut Jumat Agung "Agung", sementara itu merupakan sebuah peristiwa yang gelap dan suram untuk memperingati hari kesengsaraan dan kematian Yesus?

Bagi orang Kristen, Jumat Agung adalah sebuah hari yang sangat penting dalam setahun karena merayakan apa yang kita percayai sebagai minggu yang paling penting dalam sejarah dunia. Sejak Yesus mati dan bangkit, orang Kristen memproklamirkan salib dan kebangkitan Yesus sebagai titik balik yang menentukan bagi semua ciptaan. Paulus menganggapnya sebagai "yang terpenting" bahwa Yesus mati untuk dosa kita, dikuburkan, dan bangkit pada hari yang ketiga, semua sesuai dengan yang Allah janjikan di seluruh Kitab Suci (1 Korintus 15:3).

Pada hari Jumat Agung, kita mengingat hari ketika Yesus rela menderita dan mati disalibkan sebagai korban terbesar untuk dosa-dosa kita (1 Yohanes 1:10). Dilanjutkan dengan Paskah, perayaan mulia akan hari ketika Yesus dibangkitkan dari antara orang mati, menggembar-gemborkan kemenangan-Nya atas dosa dan kematian, dan menunjukkan kebangkitan pada masa yang akan datang bagi semua yang dipersatukan dengan-Nya dalam iman (Roma 6:5).

Arti Sebutan "Jumat Agung"

Tetap saja, mengapa kita menyebut hari kematian Yesus dengan "Jumat Agung", bukannya "Jumat Buruk" atau sesuatu yang mirip semacam itu? Tradisi Kristen melakukan pendekatan ini: di Jerman misalnya, hari itu disebut Karfreitag, atau "Jumat Penuh Sengsara." Dalam Bahasa Inggris, sesungguhnya, istilah asli "Agung" diperdebatkan: beberapa orang yakin itu dikembangkan dari sebutan yang ada sebelumnya, "Jumat milik Allah." Terlepas dari asal-usulnya, sebutan Jumat Baik sepenuhnya tepat karena kesengsaraan dan kematian Yesus, yang memang mengerikan, melambangkan puncak rencana Allah yang dramatis untuk menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.

Rencana Penebusan Allah

Agar kita bisa memaknai kabar baik Injil, pertama-tama kita harus mengerti kabar buruk tentang kondisi kita sebagai orang berdosa yang ada di bawah kutukan. Kabar baik tentang pembebasan hanya masuk akal begitu kita melihat betapa terbelenggunya kita. Cara lain untuk mengatakan ini adalah penting untuk mengerti dan membedakan antara hukum Taurat dan Injil dalam Kitab Suci. Kita membutuhkan hukum Taurat terlebih dahulu untuk menunjukkan betapa tidak berdayanya kondisi kita; kemudian Injil anugerah Yesus datang dan membawa kelepasan dan keselamatan bagi kita.

Demikian juga, Jumat Agung adalah "agung" karena sama seperti mengerikannya hari itu, kengerian itulah yang seharusnya kita alami agar menerima sukacita Paskah. Murka Allah atas dosa harus ditumpahkan kepada Yesus, korban pengganti yang sempurna, agar pengampunan dan keselamatan dicurahkan untuk bangsa-bangsa. Tanpa hari yang sangat mengerikan dari penderitaan, kedukaan, dan darah yang tercurah di kayu salib, Allah tidak akan menjadi "benar dan juga Pembenar" bagi mereka yang percaya kepada Yesus (Roma 3:26). Paradoksnya, hari yang tampaknya menjadi kemenangan iblis yang terbesar, sebenarnya adalah pukulan maut dalam rencana baik Allah yang mulia untuk menebus dunia dari perbudakan dosa.

Kebenaran Sejajar dengan Belas Kasihan

Salib adalah tempat kita melihat perjumpaan antara penderitaan dahsyat dan pengampunan Allah. Mazmur 85:10 menyanyikan sebuah hari ketika "kebenaran dan damai sejahtera" akan "bercium-ciuman". Salib Yesus adalah tempat di mana itu terjadi, syarat Allah, kebenaran-Nya, setara dengan belas kasihan-Nya. Kita menerima pengampunan, belas kasihan, dan damai sejahtera ilahi karena Yesus rela menggantikan hukuman Allah atas kita karena kebenaran Allah bertentangan dengan dosa. "Demi sukacita yang ditetapkan bagi-Nya" (Ibrani 12:2) Yesus menanggung salib pada hari Jumat Agung, tahu bahwa itu akan menuju kepada kebangkitan-Nya, keselamatan kita, dan awal pemerintahan Allah atas kebenaran dan damai sejahtera.

Jumat Agung melambangkan hari ketika murka dan belas kasihan bertemu di kayu salib. Itulah sebabnya, mengapa Jumat Agung begitu gelap sekaligus begitu Agung.

Sebuah Doa Jumat Agung

Hari ini, ya Tuhan, aku mohon agar Engkau mengajarku untuk berduka. Jangan biarkan aku terburu-buru untuk mengalami Paskah pada hari Minggu terlalu cepat. Berikanku anugerah untuk tetap tinggal di sana, di tempat kedukaan bertemu dengan penebusan. Jadikan kematian-Mu sangat nyata bagiku seperti kebangkitan-Mu. Biarlah aku selalu dekat ke salib.

Saat aku menanti di kaki salib, ya Tuhan, singkapkan sekali lagi kepadaku betapa mahalnya harga yang harus dibayar karena dosa-dosaku. Jangan biarkan aku hidup dalam dunia khayalan yang akhir bahagia Paskah membuat keegoisanku menyimpang. Ingatkan aku bahwa anugerah-Mu yang sempurna diperoleh dengan harga yang termahal. Ampuni aku ada masa-masa ketika aku hidup seakan-akan dosa bukanlah sesuatu yang serius, seakan-akan Jumat Baik tidak pernah benar-benar terjadi.

Penuhi aku dengan sukacita dan dukacita, rasa takut dan rasa syukur yang hadir sebelum penguburan Jumat Agung: sukacita karena kemenangan-Mu, dukacita karena kematian-Mu, rasa takut karena kekudusan-Mu, rasa syukur karena anugerah-Mu. Jangan biarkan aku hanya menempatkan salah satu dari emosi-emosi itu dengan mengurbankan yang lain. Beri aku hati yang cukup besar untuk memegang semuanya dengan erat. Jadikanku cukup berani untuk mengejar kebenaran yang benar-benar sejati, bukan hanya kebenaran yang sesuai dengan keinginanku.

Ajarlah aku, ya Tuhan, untuk berduka dan merayakan kematian-Mu. Dan tuntunlah aku, pimpin aku ke dalam kematianku, dan ajarku untuk berduka dan merayakan kematian itu juga. Amin. ~ ditulis oleh Gregory Coles


Berikan aku mata, ya Allah, untuk melihat kemenangan salib. Bahkan, ketika semua tampaknya kalah, bahkan saat aku berduka atas kematian-Mu, ingatkan aku bahwa Engkau mengalahkan maut dengan menyelinap masuk ke dalamnya dan membongkarnya dari dalam ke luar. Di tengah kekalahan dan kekecewaan, taruhlah nyanyian kemenangan atasku. Balikkan duniaku ke atas sehingga aku bisa mengenali pembalikan Kerajaan Allah sedang dikerjakan.

Yesus, Engkau mengatakan agar aku memikul salib dan mengikut Engkau. Hari ini lebih dari sebelumnya, aku ingat betapa beratnya undangan itu. Engkau menang dengan cara menempuh kematian -- dan hanya dengan mati aku dapat mengikuti jejak langkah-Mu. Hanya dengan mati, aku akan benar-benar hidup.

Ajarlah aku, ya Tuhan, untuk berduka dan merayakan kematian-Mu. Dan tuntunlah aku, pimpin aku ke dalam kematianku, dan ajarku untuk berduka dan merayakan kematian itu juga. Amin. ~ ditulis oleh Gregory Coles

Ayat-Ayat Alkitab tentang Jumat Agung

Roma 5:6-10. "Ketika kita masih lemah, Kristus mati untuk orang-orang durhaka pada saat yang tepat. Sebab, jarang ada orang yang mau mati untuk orang benar, meskipun mungkin ada juga orang yang mau mati untuk orang baik. Namun, Allah menyatakan kasih-Nya kepada kita, bahwa ketika kita masih menjadi pendosa, Kristus mati bagi kita. Lebih dari itu, setelah dibenarkan oleh darah-Nya, kita akan diselamatkan dari murka Allah melalui Dia. Sebab, ketika kita masih menjadi musuh Allah, kita telah diperdamaikan dengan Allah melalui kematian Anak-Nya, lebih-lebih lagi sekarang karena kita telah diperdamaikan dengan-Nya. Dan kenyataan bahwa sekarang kita sudah diperdamaikan dengan Allah, maka kita juga pasti diselamatkan melalui hidup-Nya."

1 Petrus 2:24. "Ia sendiri telah menanggung dosa kita pada tubuh-Nya di kayu salib supaya kita mati terhadap dosa, dan hidup untuk kebenaran." Oleh bilur-bilur-Nya, kamu disembuhkan.

Yesaya 53:3-5. "Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh." (t/Jing-Jing)

Download Audio

Diambil dari: Nama situs : Crosswalk Alamat situs : https://www.christianity.com/god/jesus-christ/what-s-so-good-about-good-friday.html Judul asli artikel : What is So Good About Good Friday Penulis artikel : Justin Holcomb Tipe Bahan: ArtikelKolom e-Wanita: DUNIA WANITAkategori: PASKAH

Menanggung Salib

Sel, 30/04/2019 - 12:29
edisi paskah

Tuhan, aku tidak akan membuat tanggungan salibku menjadi semacam pemujaan berhala. Salib bertujuan melepaskan aku dari sikap mementingkan dan memikirkan diri sendiri agar berguna bagi orang lain. Akan tetapi, bila aku terus-menerus memusatkan pikiranku pada salibku, aku tidak berguna bagi diriku ataupun orang lain. Oswald Chambers, seorang tokoh Kristen, pernah berkata, "Pengorbanan diri bisa menjadi suatu penyakit." Aku tidak boleh menjadikan salibku sebagai suatu objek pemujaan; aku harus menjadikannya suatu alat penyaliban bagi diriku. Salibku bersaing dengan tuntutan Kristus kepadaku. Salib itu menjadi salib pribadiku bila aku dihadapkan dengan suatu pilihan, yaitu ketika Kristus berkata, "Tinggalkan segala sesuatu yang bisa menyaingi-Ku, lalu ikutlah Aku."

Aku tidak dapat membuat salib bagi diriku sendiri, sebab itu adalah bentuk kemunafikan yang paling buruk. Salib itu ada di sana atau tidak ada sama sekali. Bila aku menyangkal sedikit kesenangan untuk diri sendiri dan aku menjadi sombong karenanya, jelas itu bukan salib yang dibicarakan Yesus.

Aku harus menanggung salibku terus-menerus. Aku tak dapat mati sekali untuk selamanya. Aku harus "mati setiap hari" seperti yang dilakukan Paulus (1 Korintus 15:31). Pada hari ini, yang harus disalibkan dalam hidupku mungkin adalah kesombongan, besok iri hati atau sesuatu yang lain. Sepanjang hidupku dan sepanjang nafsu duniawiku mencari-cari keunggulan diriku, maka aku akan selalu dihadapkan pada pilihan ini: kehendakku atau kehendak Kristus. Dengan demikian, aku tidak pernah bebas dari rasa sakit karena salibku. Sekarang, aku mengerti mengapa Paulus berkata, "Aku ... menggenapkan ... apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat" (Kolose 1:24). Penderitaan salibku adalah penderitaan Kristus yang Ia tanggung bagi orang lain. Hanya, bila aku menderita karena matinya sifat mementingkan diri sendiri, aku dapat hidup (seperti dilakukan Kristus) untuk orang lain. Itulah hidup "megah" yang dinyatakan Paulus dengan gembira, "Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku" (Galatia 6:14).

"Bila aku menyangkal sedikit kesenangan untuk diri sendiri dan aku menjadi sombong karenanya, jelas itu bukan salib yang dibicarakan Yesus."

Itulah sebabnya, Yesus telah menderita di luar pintu gerbang untuk menguduskan umat-Nya dengan darah-Nya sendiri. Karena itu, marilah kita pergi kepada-Nya di luar perkemahan dan menanggung kehinaan-Nya (Ibrani 13:12-13).

Diambil dari: Nama situs : Paskah Alamat situs : http://paskah.sabda.org/menanggung_salib Penulis renungan : W. Glyn Evans Tipe Bahan: RenunganKolom e-Wanita: RENUNGAN WANITAkategori: PASKAH

Tinggalkan Komentar