Aku Tidak Mengerti Tentang Cinta Kasih

Aku lahir dalam keluarga yang sangat miskin, dimana orang tuaku harus bekerja dari pagi hingga malam untuk mencukupi kebutuhan keluarga sehingga mereka tidak dirumah sepanjang hari. Hal itu menyebabkan aku terbiasa tinggal dirumah sendiri dan keluyuran di luar rumah bergaul dengan teman-teman sebaya dan senasib. Karena merasa senasib dan sebaya, mulai terjalin persahabaatan yang menjurus ke pembentukan kelompok gang untuk sehidup semati, berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Kehidupan yang menyebabkan aku tidak merasakan kehangatan keluarga dan tidak merasakan apa yang disebut cinta kasih.

Tugas dalam kelompok gang adalah untuk mendapatkan segala kebutuhan dengan menghalalkan segala cara. Kami mulai melakukan tindakan kriminal kecil-kecilan yang semakin berkembang menjadi kejahatan besar. Pada usia yang ke sebelas tahun, aku ditangkap dan dimasukkan ke rumah rehabilitasi dan terulang beberapa kali, tapi tidak sedikitpun aku merasakan malu bahkan aku merasa bangga. Karena siapa yang melakukan kejahatan semakin besar makin dihormati dan makin dianggap sebagai pahlawan.

Suatu ketika aku melakukan perampokan bersenjata karena ingin menunjukkan 'kepahlawananku' yang mengakibatkan aku ditangkap dan dijatuhi hukuman lima tahun penjara.

Aku merasakan penjara membawa perubahan dalam diriku dan merasakan kehampaan yang sangat mencekam, karena tidak ada seorangpun yang menjenguk dan memperhatikan aku. Teman gang yang dikatakan sebagai 'teman sehidup semati' tidak pernah aku ketahui dimana berada dan tidak pernah ada surat ditulis untukku.

Aku sadar bahwa apa yang mereka katakan aku sebagai teman seperjuangan, sebagai orang yang patut dibanggakan hanya bohong belaka. Selama ini aku hanya diperalat untuk mencapai tujuan. Aku sangat marah dan aku berjanji seusai menjalani hukuman akan mencari mereka untuk membuat perhitungan.

Suatu hari saat aku merasakan kehidupan di penjara sangat tidak mengenakkan, sipir penjara memberitahukan ada orang datang mau bertemu denganku. Hatiku tergentar dan bertanya-tanya, siapakah orang yang ingin bertemu denganku? Tidak mungkin teman-teman gangku, kalaupun itu mereka aku akan membuat perhitungan dengan mereka.

Mereka bertiga, satu wanita dua laki-laki yang kesemuanya bersikap sopan dan bertutur kata sangat lembut, dengan perkataan yang membawa penghiburan. Mereka adalah tokoh-tokoh gereja, diantaranya pendeta, pimpinan gereja dan dokter.

Mereka mengutarkan maksudnya dan ternyata mereka mengenal aku karena diperkenalkan salah satu anggota gangku. Mereka memperkenalkan keberadaan Allah dan keberadaan dosa. Kata-kata mereka sederhana tapi bagai pisau menusuk telak kedalam hatiku, karena aku tidak mengenal apa arti kasih,dan apa itu dosa. Aku mengakui baru kali ini merasa digerakkan oleh kasih. Meskipun aku berkecimpung sangat lama dalam masyarakat dengan banyak teman, tapi kehidupanku penuh dengan rasa takut dan cemas.

Melalui percakapan itu aku merasakan kehangatan dan kedamaian yang belum pernah aku rasakan sepanjang hidupku, maka tatkala mereka mengajak aku berdoa dengan senang hati aku menerimanya. Mereka memberikan aku sejilid buku yang berjudul "Injil Masa Kini" sebagai hadiah perpisahan. Aku tidak mengerti apa maksud dari buku itu tetapi akhirnya aku dapat mengerti dan meresapi kasih Tuhan seperti yang dituliskan dalam buku itu melalui perjalanan batin yang panjang. Hidupku sekarang penuh dengan pengharapan dan kekuatan sejak aku mengenal dan membaca buku itu, aku memiliki kekuatan untuk mengatasi kejahatan yang selalu merongrongku.

Seusai menjalani hukuman, teman-teman seiman mulai membantu memikirkan masa depanku. Aku mulai bersuka cita bersama dan berbakti serta mempelajari firman Tuhan. Hidup rohaniku makin bertumbuh karena perhatian saudara seiman, dan aku berdoa agar Tuhan memimpin jalanku.

"Kasih Allah sangat besar, sehinga IA rela mengorbankan Anak Tunggal-Nya untuk menggantikan dosa-dosa kita. Selama kita tidak mau mengakui dosa dihadapan-Nya kita tidak akan mendapat kedamaian, karena kedamaian dan kebenaran sejati hanya ada dalam TUHAN."

Diambil dari:

Judul buku : Jalan Tuhan Terindah
Penulis : Pdt.Paulus Daun,M.Div,Th.M
Penerbit : Yayasan Daun Family, Manado
Halaman : 95 -- 98
Kategori: 

Tinggalkan Komentar