Madagaskar: Ranavalona

"Siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat." -- 1 Petrus 3:15

Tahun 1828, Ranavalona I, Ratu Madagaskar, membenci orang-orang Kristen di dalam kerajaannya. Ia menyerang gereja seperti yang dilakukan Kaisar Nero. Ratu mengajukan tuntutan kepada orang-orang Kristen karena meremehkan penyembahan berhala, mereka selalu berdoa, tidak bersedia bersumpah, dan menganggap hari Sabat kudus. Dia mengirim pengawalnya untuk mengumpulkan orang-orang yang dicurigai Kristen untuk diadili.

Sebanyak 1.600 orang Kristen ditangkap dan dinyatakan bersalah atas tuduhan itu. Mereka tidak menyangkal tuduhan-tuduhan itu karena mereka tidak bersedia menyangkali Kristus. Sang Ratu menawarkan kesempatan kedua untuk menyangkal Kristus dan menyembah berhala-berhalanya, tetapi mereka semua menolak. Mereka dimasukkan ke lubang bawah tanah yang gelap dan lembab. Banyak yang dihukum mati. Sang Ratu menjadi murka karena untuk 1 orang Kristen yang dibunuhnya, akan bertambah 20 orang yang menjadi percaya.

Kemudian, Ratu memerintahkan pembunuhan 19 orang Kristen dari keluarga berpengaruh. Sebanyak 15 pemimpin Kristen lainnya juga ditangkap. Patung berhala sang Ratu dibawa ke puncak tebing yang memiliki jurang berkedalaman 45 meter penuh bebatuan, dan setiap orang Kristen diikat dengan tali atau diturunkan ke pinggiran tebing itu. Setiap dari mereka ditanyai pertanyaan yang sama, "Apakah engkau akan menyembah Kristusmu atau dewa-dewa Paduka Ratu?" Setiap orang hanya menjawab, "Kristus", tali pun dipotong dan mereka terjatuh ke bebatuan itu. Beberapa orang menyanyi pada saat mereka jatuh menghadap kematian. Seorang gadis muda tidak dihukum dan dinyatakan gila; pada suatu hari kelak, dia mendirikan sebuah gereja yang besar. Peristiwa kemartiran ini berlanjut hinggga tahun 1861 dan beberapa tahun kemudian, Madagaskar justru menjadi Kerajaan Kristen.

Dalam banyak negara, tawanan dianggap tidak bersalah hingga ia terbukti bersalah. Prinsipnya, diperlukan bukti-bukti yang cukup untuk menyatakan seseorang bersalah. Iman kepada Kristus sering dianggap perbuatan melawan pemerintah yang sistem peradilannya terbalik. Orang-orang percaya sudah dinyatakan bersalah sampai bisa dibuktikan kebalikannya. Seseorang harus menolak Kristus agar dapat dinyatakan tidak bersalah di ruang pengadilan manusia di bumi ini. Meskipun demikian, di pengadilan surgawi, keputusan bersalah itu sebenarnya adalah suatu kemenangan. "Rasa bersalah ekstrem" berarti memberikan sebanyak mungkin bukti iman seseorang kepada Kristus sehingga tidak dapat lepas dari tuduhan! Paradoks yang tidak asing ini sebaiknya diulangi: jika sekarang ini Anda diadili karena menjadi orang Kristen, apakah tersedia cukup bukti untuk menyatakan Anda bersalah?

Diambil dan disesuaikan dari:

Judul buku : Devosi Total
Judul buku asli : Extreme Devotion
Penulis : The Voice of the Martyrs
Penerjemah : Fintawati Raharjo dan Irwan Haryanto
Penerbit : KDP, Surabaya 2005
Halaman : 6
Kategori: 

Tinggalkan Komentar