Yerusalem: Tomas

Tomas sudah mendengar secara langsung dari murid-murid lainnya yang telah melihat Tuan mereka dalam keadaan hidup. Paling tidak itulah yang dikatakan mereka. "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya, dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya yang terluka oleh tombak Romawi itu, sekali-kali aku tidak percaya," kata Tomas.

Tomas tidak menginginkan mukjizat, tanda-tanda, dan mukjizat besar. Dia hanya ingin melihat bekas luka di tubuh Yesus -- simbol penderitaan-Nya. Meskipun Yesus sudah mengalahkan maut dan hidup dengan tubuh kemuliaan, Dia masih memiliki bekas luka itu -- sebagai pengingat akan harga yang telah dibayar-Nya.

Delapan hari kemudian, Yesus menampakkan diri lagi. Tomas pasti merasa bodoh sekali ketika dia berhadapan muka dengan sang Tuan. Dia menyadari betapa bodoh pernyataan yang telah diungkapkannya ketika murid-murid lain mengingatkan dia akan hal itu. Namun, Yesus tidak memarahi Tomas. Dengan memandang Tomas, Yesus mengulurkan tangan-Nya, mendorong dia untuk menjamah bekas luka dan menjadi percaya.

Bekas luka Yesus tetap ada setelah kebangkitan-Nya sebagai pengingat akan tubuh-Nya yang masih menderita. Karena meskipun Dia telah mengalahkan maut, tubuh-Nya di atas bumi ini masih menderita. Dan Dia dapat ikut merasakan bersama mereka dalam dunia ini yang juga menanggung bekas luka karena iman mereka kepada Kristus.

Tomas mengkhotbahkan Injil ke India dan Afrika Utara dan memertobatkan suku-suku yang menyembah patung matahari. Tomas menghentikan penyembahan berhala. Imam-imam dewa matahari menyeretnya ke hadapan raja. Tomas dilemparkan ke dalam perapian, tapi ia masih hidup. Ia dilempari tombak dan lembing hingga salah satu menusuknya dan ia mati di sana.

*****

Bekas luka adalah guru kita -- mengingatkan kita akan pelajaran yang menyakitkan. Bekas luka ini sering kali tampak buruk dan tidak menarik dilihat oleh orang lain. Demikian pula dengan bekas luka penganiayaan dalam gereja yang sering kali tidak dibahas dalam persekutuan-persekutuan. Kita menganggapnya sebagai hal yang menakutkan. Sebuah misteri. Namun, tujuannya adalah untuk mengajar kita. Penganiayaan memunyai peran penting dalam rencana Allah yang indah bagi seluruh dunia agar dapat mendengar dan merespons Injil. Yesus tidak menyembunyikan bekas lukanya. Malahan, Dia mendorong Tomas agar menjamahnya untuk mengajarnya. Bekas luka-Nya adalah guru kita -- mengingatkan kita akan harga yang telah dibayarkan-Nya bagi keselamatan kita. Kita harus terus belajar, bukan mengabaikan, dari harga yang telah dibayar oleh gereja-gereja yang teraniaya.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Devosi Total
Judul asli : Extreme Devotion
Judul artikel : Yerusalem: Tomas
Penulis : The Voice of The Martyrs
Penerbit : KDP, Surabaya 2005
Halaman : 8
Kategori: 

Tinggalkan Komentar