Pengumpul Berita

Tinggalkan Komentar


Praraker SABDA 2022: Padat, tetapi Sangat Membekali

RSS Blog SABDA - Rab, 08/12/2021 - 14:36

Tidak terasa, akhir tahun 2021 sudah menjelang. Di Yayasan Lembaga SABDA (YLSA), masa-masa akhir tahun seperti ini merupakan waktu untuk melakukan refleksi, perayaan, dan ucapan syukur atas apa yang sudah Allah kerjakan lewat pelayanan YLSA sepanjang tahun ini. Namun, pada saat yang sama, masa-masa ini juga menjadi momen penting untuk mengatur strategi pelayanan untuk tahun yang akan datang. Itulah mengapa SABDA terbiasa mengadakan Rapat Kerja (Raker) pada akhir tahun untuk mengevaluasi kinerja selama setahun ke belakang sekaligus menyusun rencana kerja selama setahun ke depan. Dan, pada penghujung tahun ini, bahkan sebelum Raker utama dimulai, semua staf SABDA sudah melakukan pemanasan lewat kegiatan praraker selama 1 jam setiap hari, yang dilakukan sejak akhir November lalu. Lewat tulisan ini, saya ingin berbagi tentang beberapa hal yang kami bahas pada pertemuan-pertemuan tersebut.

Rangkaian kegiatan praraker dimulai pada Senin, 29 November 2021, ketika Ibu Yulia membawakan presentasi singkat tentang strategic planning kepada semua staf dengan penekanan khusus pada visi dan misi Yayasan Lembaga SABDA. Dalam pertemuan ini, beliau menekankan kembali tentang tiga inti dalam visi SABDA, yaitu Alkitab, Teknologi, dan Kekristenan, dan tiga domain dalam misi SABDA, yaitu Biblical Computing, Biblical Engagement, dan Digital Ministry. Visi dan misi ini berasal dari Tuhan dan merupakan aspek yang tidak akan pernah berubah dalam pelayanan SABDA. Karena itu, hal-hal inilah yang harus menjadi acuan dalam menentukan proyek, produk, atau program pelayanan SABDA ke depan. Jadi, meski nilai-nilai inti pelayanan SABDA tidak akan pernah berubah, tetapi penerapannya harus bisa menyesuaikan dengan kebutuhan masa kini. Itulah intisari pembahasan pertemuan praraker yang pertama.

Pembahasan praraker selanjutnya adalah mimpi untuk pelayanan SABDA ke depan. Mimpi ini mencakup berbagai area, seperti: produk pelayanan, engagement, kepemimpinan, struktur organisasi, sumber daya manusia serta sarana, prasarana, dan keuangan. Dan, karena banyaknya area yang perlu dicakup, kami perlu waktu 2 hari untuk membahas semuanya ini secara tuntas.

Pada Selasa, 30 November 2021, kami membahas mimpi untuk empat area pertama dari urutan yang dibalik, mulai dari sarana, prasarana, dan keuangan hingga kepemimpinan. Setiap staf membagikan mimpi-mimpi mereka untuk area-area tersebut, dan selama masih ada waktu, kami saling menanggapi mimpi yang disampaikan. Saya sendiri mengungkapkan mimpi saya terkait infrastruktur yang lebih memadai dan lebih banyak SDM spesialis untuk mendukung pelayanan SABDA, khususnya dalam divisi Information Technology Services (ITS). Lalu, karena tidak cukup waktu, pembahasan tentang mimpi terkait dua area berikutnya, engagement dan produk pelayanan SABDA, dilanjutkan dalam pertemuan keesokan harinya pada Rabu, 1 Desember.

Setiap mimpi yang kami bahas dalam kedua pertemuan tersebut mencerminkan satu kebutuhan, dan kumpulan mimpi tersebut memberikan bayangan tentang ke arah mana SABDA perlu melangkah. Tentunya, semua hal ini tetap harus diuji kesesuaiannya dengan visi dan misi SABDA. Itulah intisari pembahasan pertemuan praraker yang kedua dan ketiga.

Setelah itu, pada Kamis, 2 Desember, kami kembali bertemu untuk membahas tentang berbagai situasi atau tren yang berpotensi berdampak terhadap pelayanan SABDA selama 2 -- 3 tahun ke depan. Beberapa situasi atau tren yang sempat dibahas dalam pertemuan ini, di antaranya: pandemi COVID-19 yang masih berlangsung, kemajuan teknologi informasi dan jaringan internet, perkembangan media sosial, sikap dan perilaku masyarakat Kristen terkait Alkitab dan teknologi, kelelahan digital (digital fatigue), dan masih banyak lagi. Mengamati dan mempertimbangkan berbagai situasi atau tren ini akan sangat menolong kami untuk melihat berbagai kesempatan sekaligus mengantisipasi beragam tantangan yang ada di depan, khususnya ketika menyusun rencana kerja selama Raker nanti. Itulah intisari pembahasan pertemuan praraker yang keempat.

Kemudian, pada Jumat, 3 Desember, kami melakukan analisis SWOT guna mengevaluasi berbagai kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam pelayanan Yayasan Lembaga SABDA. Lewat pertemuan ini, kami dapat melihat bahwa meski hal-hal yang menjadi kekuatan pelayanan SABDA masih cukup solid untuk tahun-tahun yang akan datang, tetapi masih ada juga beberapa kelemahan yang perlu dicari solusinya. Selain itu, SABDA juga harus berhati-hati agar sesuatu yang seharusnya menjadi kekuatannya tidak berubah menjadi kelemahan karena pengelolaan yang kurang baik. Ditambah lagi, berbagai peluang dan kesempatan yang telah Tuhan sediakan harus bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk dampak yang lebih besar. Namun, pada saat yang bersamaan, SABDA juga tidak boleh lengah terhadap berbagai ancaman yang berpotensi memengaruhi mutu pelayanannya. Itulah intisari pembahasan pertemuan praraker yang kelima.

Padat sekali, bukan? Namun, saya kira hasil dari setiap pertemuan ini cukup memberi bekal kepada kami untuk mempersiapkan Raker akhir tahun dengan lebih baik lagi. Kiranya SABDA dapat terus menjaga agar pelayanannya tetap relevan dan efektif untuk tahun 2022 yang akan datang dan seterusnya. Dan, kiranya Tuhan terus menuntun dan membimbing Yayasan Lembaga SABDA untuk tetap setia berada dalam jalur-Nya, terus dipakai untuk memuliakan Dia dan memberkati sesama.

Bagaimana Menghabiskan 1 Jam Bersama Allah: Merencanakan Doa Malam

RSS Kesaksian Doa - Rab, 08/12/2021 - 14:06

Bayangkan diri Anda dalam skenario ini: doa malam Tahun Baru yang Anda rencanakan untuk jemaat Anda tahun lalu mengecewakan. Satu-satunya orang yang mendaftar -- selain Anda -- adalah tiga wanita yang setia dan pendeta muda, yang berutang budi kepada Anda karena telah membantu menjalankan acara Natal remaja. Anda perlu 3 bulan untuk tahu bahwa gagasan untuk menghabiskan 1 jam penuh dalam doa mengintimidasi jemaat Anda. Menghabiskan begitu banyak waktu dalam doa tampaknya merupakan prospek yang mustahil dan membosankan.

read more

Para Ibu Ini Tidak Akan Merindukan Pandemi

RSS Wanita - Rab, 08/12/2021 - 13:30

Para Ibu Ini Tidak Akan Merindukan Pandemi. Namun, Kebiasaan Selama Masa Karantina Tetap Dipertahankan.

Sepuluh penulis membagikan praktik-praktik pemuridan yang membentuk keluarga mereka tahun ini.

"America's Mothers Are in Crisis" melansir berita utama New York Times pada bulan Februari tentang sebuah artikel yang menyatakan bahwa para ibu di seluruh negeri "putus asa". Diperkirakan untuk mengerjakan segala hal, baik bekerja, homeschooling, menjaga rumah, maupun merawat keluarga mereka, banyak wanita harus meninggalkan tempat kerjanya atau mengalami gangguan mental selama tahun 2020. Namun, di tengah kekacauan ini banyak ibu Kristen mencari cara untuk bersandar pada iman mereka dengan cara yang baru. Beberapa ibu berdoa dengan cara baru bagi dan bersama anak-anak mereka. Mereka juga menemukan kebiasaan pembinaan rohani yang terinspirasi karena harus tinggal di rumah selama pandemi. Kami bertanya kepada sepuluh ibu tentang kebiasaan-kebiasaan pemuridan keluarga mereka yang diilhami oleh pandemi yang ingin mereka tanamkan atau pertahankan dalam beberapa bulan dan tahun mendatang.

Devi Abraham, Melbourne, Australia, penulis dan pembawa acara "Where Do We Go from Here?", sebuah podcast tentang etika seksual.

Selama tahun-tahun pandemi, anak laki-laki kami belajar di rumah dan suami saya bekerja dari rumah. Jadi, kami bisa makan bersama untuk pertama kalinya. Makan bersama dua anak laki-laki, usia tujuh dan sembilan tahun, tak lepas dari keributan lucu suara kentut hingga percakapan yang lebih dalam tentang iman dan kematian akibat COVID-19. Kami berdoa untuk keluarga kami di Jerman, Sri Lanka, dan Australia. Kami berdoa untuk saudara perempuan saya, keduanya hamil. Kami berdoa agar Allah menghilangkan virus.

Hari ini, kehidupan kami di Melbourne kembali normal, tetapi kami tetap berkumpul di meja makan. Ini adalah praktik yang bertahan bahkan ketika makan malam hanya semangkuk mie instan. Mustahil untuk mengabaikan kondisi di mana kita hidup. Kondisi ketika tampaknya kekuatan dapat menghilang begitu saja dengan cara apa pun dan suara orang-orang yang sedang berjuang ada di sekitar kita serta sangat butuh dipedulikan. Setiap hari, saya berdoa agar anak-anak saya menyadari kelemahan mereka dan Allah membentuk di dalam diri mereka kerendahan hati yang akan terus ada. Saya berdoa agar mereka menyadari ketika mereka melakukan sesuatu di tengah dunia ini, mereka akan berusaha untuk tidak membahayakan siapa pun.

Tara Edelschick, Cambridge, Massachusetts, ibu rumah tangga dan penulis.

Suatu hari di tahun 2009, Zach, Ezra, dan saya duduk di lantai sambil menangis. Kami telah melakukan homeschooling selama enam bulan dan itu tidak berjalan dengan lebih mudah. Mereka membenci kegiatan keluarga menghafal ayat Kitab Suci dan studi Alkitab. Mereka memberontak kode-kode berwarna di jadwal saya, yang terdiri atas segmen-segmen selama 15 menit. Sebelas tahun berlalu begitu cepat dan saya melihat pandemi sebagai kesempatan lain untuk menyesuaikan diri dengan semua disiplin ilmu yang tidak kami kuasai saat pertama kali kami homeschooling. Seharusnya saya sudah tahu lebih baik. "Ini adalah kesempatan kami untuk membaca seluruh Alkitab sebelum Zach berangkat kuliah tahun depan!", pikir saya. Saya membuat bagan yang tidak masuk akal dengan kode perekat-perekat berwarna untuk segala hal, mulai dari pelayanan, doa, dan Alkitab hingga soal-soal latihan dan tugas-tugas.

Itu tidak berjalan dengan baik. Anak-anak laki-laki saya sering berkelahi soal makanan karena jarang keluar dari rumah. Mereka mengeluh setiap kali saya menyuruh mereka menggantung catatan di pintu tetangga kami menawarkan untuk membantu melakukan tugas-tugas atau membuat kue. Dan, meskipun memiliki jadwal yang jauh lebih bebas, kami hanya membaca Alkitab dan berdoa sedikit lebih banyak daripada yang pernah kami lakukan.

Terlepas dari kegagalan kami, kami mengalami kebaikan Allah secara mendalam. Sebagian besar, kami mengalami -- sekali lagi -- bahwa Allah tinggal dalam realita kehidupan kami, bukan yang saya impikan dalam bagan kode berwarna. Eugene Peterson menulis bahwa pemuridan adalah "ketaatan jangka panjang menuju arah yang sama." Ketika kita keluar dari pandemi, saya ingin memegang pemahaman bahwa, bagi kami pemuridan adalah ketaatan jangka panjang, tak terduga, dan sebagian besar menuju ke arah yang sama, kepada Allah yang menemukan kami di mana pun kami berada.

Courtney Ellis, California Selatan, pendeta dan penulis "Almost Holy Mama: Life-Giving Spiritual Practices for Weary Parents

Homeschooling pada awalnya sulit -- sebelum semua orang terbiasa. Ada banyak perkelahian saudara kandung. Di luar itu, kami lebih menghargai waktu bersama-sama. Hari-hari ini telah menjadi berharga. Saya tahu kami tidak akan pernah memilikinya lagi. Saya harus mengakui bahwa saya rindu pergi ke gereja sebagai sebuah keluarga. Saya senang dengan gereja virtual, tetapi itu tidak sama. Saya lebih suka berada di sana secara langsung. Saya berdoa agar anak-anak perempuan saya akan mengenal dan mencintai Allah secara mendalam, terpikat dengan Kristus, dan memperlakukan orang lain seperti yang Ia lakukan.

Rachel Kang, Charlotte, Carolina Utara, penulis dan pencipta "Indelible Ink Writers".

Tidak lagi sering melakukan tamasya keluarga dan acara gereja mingguan benar-benar memaksa kami untuk memperlambat, menerima ritme istirahat, dan benar-benar menghabiskan waktu ketika sebuah keluarga berkumpul di sekitar meja makan. Televisi dimatikan, peralatan makan disiapkan, telepon disingkirkan, percakapan yang disengaja, dan berdoa ucapan syukur sebelum makan dengan doa syukur Korea kami. Kami akan memegang erat kebiasaan ini, bahkan ketika dunia berubah dan terbuka lagi.

Kami menantikan untuk menjalani hidup tanpa bersembunyi di balik masker dan tidak sabar untuk dapat benar-benar melihat anak laki-laki kami tersenyum saat mereka keluar dan menikmati hidup. Setiap malam, saya mendapati diri saya menaikkan doa yang sama dengan dan untuk anak laki-laki saya yang berusia tiga tahun: "Tuhan Yesus, tolong saya dan semua orang." Ini menjadi ucapan yang paling mudah dibisikkan ketika begitu banyak hal terjadi di dunia ini -- di waktu yang tidak mudah untuk dijelaskan kepada seorang balita. Ketujuh kata ini adalah doa yang paling aman dan paling pasti, paling spesifik yang dapat kami doakan, dan akan terus kami panjatkan.

Rebecca McLaughlin, Cambridge, Massachusetts, penulis "10 Questions Every Teen Should Ask (And Answer) About Christianity".

..."Pandemi mengingatkan kami bahwa kami tidak tahu yang akan terjadi di masa depan." (Rebecca McLaughlin)

Sebelum pandemi melanda, kami memiliki rutinitas membaca Alkitab keluarga sebelum tidur. Saya akan bermain piano (sangat buruk), atau suami saya akan bermain gitar. Kami akan menyanyikan satu lagu, membaca bagian Alkitab yang pendek (melakukannya perlahan dengan menggunakan sebuah buku), mengajukan beberapa pertanyaan kepada anak perempuan kami yang berusia delapan dan sepuluh tahun, kemudian berdoa. Anak kami yang berumur satu tahun akan bergabung (dan mengganggu) sebanyak yang ia bisa.

Kami baru saja melanjutkan kebiasaan ini sejak dunia ditutup. Namun, pada Jumat malam, ketika kami tahu anak-anak kami tidak akan kembali ke sekolah dan gereja kami tidak akan dibuka secara tatap muka beberapa waktu ke depan, saya ingat berkata dalam hati, "Inilah gereja kami sekarang." Tentu saja, kami mengikuti siaran kebaktian di ruang tamu kami pada hari Minggu itu (dan semua hari Minggu berikutnya) sampai kami akhirnya dapat kembali ke gereja secara langsung, memakai masker, dan menjaga jarak. Namun, waktu membaca Alkitab keluarga, dengan segala keindahannya yang berantakan dan diobrak-abrik oleh balita, menjadi satu-satunya kegiatan tatap muka yang kami miliki. Pandemi mengingatkan kami bahwa kami tidak tahu yang akan terjadi di masa depan. Saya berdoa agar anak-anak saya berpegang erat pada Yesus saat mereka merenungkan kebenaran yang sering terlupakan ini.

Sharon Hodde Miller, Durham, North Carolina, pendeta pengajar di Bright City Church.

Ketika saya melihat kembali tahun lalu dan masa itu telah mengubah keluarga kami, saya harus jujur dan mengakui betapa sedikitnya hal-hal itu disengajakan. Ada banyak bulan ketika kami hanya melakukan yang terbaik untuk bertahan. Saya dan suami saya memimpin gereja kami dan melakukan homeschooling untuk anak-anak kami di rumah. Semuanya pada waktu yang sama, yang berarti kami menjalani setiap hari dengan panik dan tidak teratur. Kami bukanlah teladan kebijaksanaan atau disiplin spiritual. Sebaliknya, saya hanya banyak berteriak.

Syukurlah, Roh Kudus jauh lebih merencanakannya daripada yang mampu kami lakukan. Pelan tapi pasti, Allah menggunakan tahun ini untuk mengajari kami agar hadir bagi anak-anak kami, yaitu hadir ke dalam pikiran, pertanyaan, dan emosi mereka. Juga, cara melepaskan keinginan kami untuk mengendalikan mereka. Kami telah, sederhana saja, menjadi orang tua yang lebih baik karena tahun ini. Dan, ini adalah anugerah yang sempurna. Kami membawa kekurangan kami kepada Allah dan Ia dengan setia menemui kami di dalamnya. Ada banyak kesempatan ketika saya gagal, baik sebagai seorang ibu dan sebagai seorang istri. Namun, yang Allah minta dari saya hanyalah kerendahan hati untuk meminta maaf kepada suami dan anak-anak saya, serta ketaatan untuk membawa kelemahan saya kepada-Nya.

Sasha Parker, Winfield, Illinois, pembawa acara podcast "Christianity Today's Adopting Hope".

Suami saya dan saya memiliki sembilan anak, lima di antaranya kami dapatkan melalui adopsi. Minggu kedua karantina, anak laki-laki bungsu kami, Jude, dilarikan ke rumah sakit untuk operasi otak darurat setelah mengeluh sakit kepala. Dokter memutuskan bahwa ia perlu mengganti "shunt" (tabung fleksibel yang disebut kateter, yang ditempatkan di area otak tempat cairan serebrospinal diproduksi - Red.) untuk menangani hidrosefalusnya. Pembatasan terkait pandemi memperbolehkan hanya satu orang tua untuk menemaninya ke rumah sakit.

Anak laki-laki kami yang pemberani berusia tujuh tahun itu menahan air mata ketika ia menyadari bahwa ia akan dipaksa untuk naik ambulans dua jam sendirian ke rumah sakit lain di mana seorang ahli bedah saraf anak akan menunggu untuk melakukan operasi. Suami saya mengikuti di belakang paramedis pada malam yang gelap itu sambil berdoa dengan sungguh-sungguh untuk anak laki-laki kami yang manis. Paramedis terus mengingatkan Jude untuk melihat ke cahaya di belakang jendela ambulans untuk melihat lampu depan ayahnya. Mereka meyakinkannya bahwa ayahnya tidak akan meninggalkannya.

Hampir 13 bulan setelah cobaan berat dan pandemi yang mengerikan itu, inilah pesan yang saya ingin keluarga saya pegang. Betapa kuatnya gambaran ini bagi kami sebagai anak-anak Allah. Meskipun malam sangat gelap dan hari-hari itu penuh dengan ketidakpastian, ada cahaya yang menyinari. Sama seperti Jude yang diperintahkan untuk tetap menatap ayahnya, kita juga diingatkan dalam Kitab Suci, "Yang hatinya teguh Engkau jagai dengan kedamaian yang sempurna, karena dia percaya kepada-Mu. Percayalah kepada TUHAN untuk selama-lamanya, karena di dalam TUHAN Allah ada batu karang yang kekal" (Yes. 26:3-4, AYT).

Courtney Reissig, Little Rock, Arkansas, penulis, pengajar Alkitab, dan direktur pelaksana Risen Motherhood.

Kami menghafal Kitab Suci bersama sebagai sebuah keluarga. Kami juga membaca kitab-kitab dari Alkitab saat sarapan. Kami juga memulai kencan setiap minggu dengan satu anak selama pandemi dan berharap menjadi sesuatu yang terus berlanjut. Ini adalah kesempatan manis untuk memperlambat dan menghabiskan waktu dengan satu anak. Kami juga berdoa agar kami tidak menyia-nyiakan musim isolasi dan "new normal" ini. Selain itu, agar anak-anak kami akan mengingat waktu luang dan memperhatikannya dengan sungguh-sungguh. Saya berdoa agar anak-anak kami dapat menyesuaikan diri dengan baik untuk berubah, mungkin lebih baik daripada ibu mereka! Saya benci perubahan!

Chandra White-Cummings, Virginia Beach, Virginia, penulis lepas dan pendiri CWC Media Group dan Race@Home project.

Saya biasa mengatakan bahwa keluarga saya memiliki "gaya hidup pandemi" sebelum virus corona menyerang Amerika Serikat. Sistem kekebalan yang dikompromikan dan penyakit kronis ditambah keuangan yang tidak stabil setelah menjadi pekerja lepas penuh waktu sering membatasi pergerakan harian kami dan membuat tekanan anggaran ketat menjadi kenyataan hidup. Namun, selama melalui periode ini dalam skala nasional, tetap saja ada sesuatu tentang hidup yang telah membentuk kami kembali secara spiritual. Dan, tidak setiap perubahan memberikan pencapaian yang positif.

Hal yang paling jelas saya perhatikan adalah bahwa saya dan anak laki-laki saya melihat waktu secara berbeda sekarang. Momok harian tentang penyakit yang berpotensi menjadi fatal telah mengubah pemikiran kami. Kami melihat waktu sebagai menit dan jam yang berlalu untuk tunduk pada kenyataan yang terjadi bahwa waktu apa pun yang kami miliki, benar-benar pemberian Allah kepada kami. Kami sering berbicara tentang tanggung jawab kami sebagai pengelola waktu yang kami miliki, saling menantang diri sendiri untuk berbuah, bukan hanya produktif. Pengampunan bukan lagi kemewahan yang kami bagikan hanya ketika kami merasa mampu. Kami tidak pikir panjang untuk menilai satu sama lain karena kami merasakan urgensi ketaatan yang harus dilakukan dengan segera, yaitu bagaimana jika ini adalah perselisihan terakhir kami? Kami berdoa memohon hikmat untuk memilih dengan bijak tentang cara kami melewati hari-hari kami. (t/Jing-jing)

Diterjemahkan dari: Nama situs : Christianity Today Alamat situs : https://www.christianitytoday.com/ct/2021/may-web-only/moms-wont-miss-pandemic-quarantine-habits-mothers-day.html Judul asli artikel : These Moms Won't Miss the Pandemic. But Their Quarantine Habits Are Keepers. Penulis artikel : Kara Bettis

Bagaimana Menjadi Istri yang Baik (di Mata Allah)

RSS Wanita - Rab, 08/12/2021 - 13:24

Apakah Anda menganggap diri Anda sebagai istri yang baik ... di mata Allah? Jika Anda berdiri di hadapan Allah hari ini dan mempertanggungjawabkan tindakan, sikap, dan peran Anda secara keseluruhan sebagai istri bagi suami Anda, menurut Anda, apa yang akan Allah katakan? Apakah Ia berkata, "baik sekali kamu hamba yang baik dan setia"?

Postingan ini bukan tentang menjadi keras pada diri sendiri. Rasa bersalah bukan pendorongnya. Saya juga tidak sempurna. Saya juga berjuang. Tidak mudah menjalankan peran sebagai istri dengan sikap yang tidak mementingkan diri sendiri dan rendah hati. Namun, inilah yang Allah inginkan dari kita. Bukan hanya bagi para istri, tetapi orang Kristen pada umumnya, dan itu berlaku untuk peran Anda sebagai seorang istri juga.

Kabar baiknya dalam semua ini adalah bahwa hal yang orang lain pikirkan tentang Anda tidaklah penting. Yang penting adalah pikiran Allah. Anda di sini untuk menyenangkan Allah, bukan manusia. Ini termasuk teman-teman Anda, dan ini termasuk suami Anda. Menjadi istri yang baik di mata Allah bukan berarti menyenangkan suami. Meski dalam batas wajar, tidak ada salahnya mencoba melakukan itu, selama hal yang menyenangkan hati suami tidak bertentangan dengan kehendak Allah.

Namun, secara keseluruhan Anda berada di sini untuk menjalankan tugas Anda sebagai istri untuk memuliakan Allah dan menjadi representasi hidup dari Mempelai Kristus, Gereja.

Jadi, mari kita lihat seperti apa menjadi istri yang baik di mata Allah.

Luruskan prioritas Anda

Belajar menjadi istri yang baik di mata Allah sungguh bermuara dengan melihat suami Anda melalui mata Allah.

Ini bisa jadi hal yang sulit, tetapi mungkin yang paling penting dalam daftar ini. Dalam kehidupan seorang istri, ibu, dan ibu rumah tangga Kristen, prioritas Anda harus diluruskan. Ini berarti bahwa Allah SELALU yang pertama, lalu suami Anda, berikutnya anak-anak Anda, dan akhirnya segala sesuatu yang lain.

Apakah Anda merasa Allah menjadi yang utama dalam hidup dan hari-hari Anda? Mendahulukan Allah berarti Anda meluangkan waktu untuk bersama-Nya setiap hari. Bahwa Anda melakukan segala sesuatu dengan memuliakan Allah dalam pikiran. Dan, bahwa Anda membuat hubungan Anda dengan Allah menjadi yang paling penting. Ini bukan menjadi faktor negosiasi Anda sehari-hari. Saya tahu, ini bisa jadi sulit. Namun, saya pernah membaca postingan blog yang benar-benar membantu saya untuk menempatkan segala sesuatunya ke dalam perspektif yang benar. Di dalamnya, penulis mengatakan sesuatu seperti, "Yesus mati dengan kematian yang menyiksa dan mengerikan demi menyelamatkan Anda dari dosa-dosa Anda ... dapatkah Anda benar-benar memberitahukan saya bahwa Anda tidak dapat memiliki waktu 30 menit setiap hari untuk dihabiskan bersama Dia?" Wow. Itu benar-benar meyakinkan.

Nah, setelah Allah, barulah suami Anda. Saya benar-benar berpikir di sinilah banyak wanita menjadi bingung (termasuk saya sendiri, kadang-kadang). Sebab, anak-anak kita sangat menuntut waktu kita dan sangat berisik untuk itu (ha.ha.ha) sehingga mudah untuk mengesampingkan suami Anda demi memenuhi kebutuhan anak-anak sepanjang waktu, sembari mengabaikan kebutuhan suami Anda.

Akan tetapi, meskipun suami Anda mungkin tidak menuntut kebutuhannya, ia masih memiliki kebutuhan tersebut. Dan, meluangkan waktu setiap hari untuk memastikan Anda menghabiskan waktu bersama suami Anda dan melakukan berbagai cara untuk memastikan kebutuhannya terpenuhi dan bahwa Anda hadir untuknya merupakan hal yang sangat penting untuk menjadi istri yang baik.

Jagalah agar sikap batin Anda tetap terkendali

Pikiran dan sikap batin kita memiliki kekuatan untuk membentuk dan mengubah kita. Sikap-sikap ini dapat menciptakan benteng dalam hidup kita atau meruntuhkannya untuk selamanya. Jadi, penting untuk tidak mengabaikan seperti apa aktivitas pemikiran Anda terhadap suami Anda.

Apakah Anda menyimpan kepahitan dan kebencian terhadapnya? Apakah pikiran Anda terhadapnya penuh kasih dan baik? Meskipun Anda mungkin tersenyum, yang terjadi di dalam pikiran Anda sama pentingnya. Allah tahu hal yang Anda pikirkan. Dan, tidak hanya itu, aktivitas berpikir Anda dapat berdampak negatif atau positif bagi Anda dan keluarga Anda secara keseluruhan.

Jadi, meskipun sikap lahiriah Anda tetap harus dijaga, memastikan Anda memperhatikan sikap batin Anda secara teratur adalah sama pentingnya. Jika Anda merasakan katakepahitan, dendam, kemarahan, atau hal negatif apa pun yang tengah merayap ke dalam pikiran Anda, bawalah pikiran-pikiran itu ke dalam ketaatan kepada Kristus (2 Korintus 10:5). Dan, ubahlah pemikiran-pemikiran tersebut menjadi pemikiran-pemikiran yang baik terhadap suami Anda.

Inilah latihan yang baik yang dapat Anda lakukan ketika Anda merasakan pikiran negatif itu merayap masuk: Atur penghitung waktu selama 5 menit dan tulislah (dalam pikiran Anda atau berbicara dengan lantang) hal-hal baik tentang suami Anda. Teruslah melakukannya sampai penghitung waktu berbunyi, dengan tidak memikirkan pikiran negatif apa pun terhadapnya. Melakukan hal ini benar-benar membantu untuk menahan pikiran negatif itu, membantu Anda melihat semua hal baik tentang suami Anda, dan menghilangkan pikiran negatif yang tidak baik bagi Anda (dan pernikahan Anda).

Perlakukan dia dengan rasa hormat dan penghargaan

Sekarang, setelah kita mengendalikan sikap batin kita, penting untuk memeriksa bagaimana Anda memperlakukan suami Anda secara lahiriah. Ini bisa menjadi tantangan lain yang sulit, terutama jika Anda sudah terbiasa bersikap tidak baik satu sama lain. Akan tetapi, penting bagi Anda untuk menunjukkan rasa hormat dan penghargaan kepada suami Anda, bahkan ketika ia tidak pantas mendapatkannya. Sebab, Allah memberitahu kita dalam Firman-Nya bahwa istri harus tunduk kepada suaminya dan menghormati mereka (1 Petrus 3:1-6; Efesus 5:22-24).

Alkitab tidak berkata, "hormati suamimu ... kecuali ketika dia berengsek". Tidak, bukan begitu caranya. Salah satu cara terbaik untuk menggambarkan hal ini dari yang pernah saya dengar berasal dari pelajaran terkenal dalam buku "Love & Respect". Dan, itu adalah "tanggapan saya merupakan tanggung jawab saya". Allah ingin melihat Anda merespons seperti yang Ia minta, bahkan di tengah pergumulan.

Dan, yang menakjubkan adalah bahwa Allah dapat bekerja melalui Anda dan rasa hormat yang Anda tunjukkan kepada suami Anda untuk membentuk dan mengubahnya juga. Ini mungkin tidak terjadi dalam semalam, dan dalam beberapa kasus mungkin tidak terjadi sama sekali. Namun, bagaimanapun juga, adalah tanggung jawab kita untuk bertahan sampai akhir (Matius 24:13) dan melakukan sesuatu yang kita bisa untuk menghormati Allah dalam hidup kita sebagai persembahan yang hidup bagi Tuhan (Roma 12:1). Dan, Anda dapat melakukannya dengan melakukan yang Allah minta dan memperlakukan suami Anda dengan rasa hormat dan penghargaan, bahkan ketika ia tidak patut mendapatkannya.

Membantu dan menjadi pendukungnya

Ketika Allah pertama kali menciptakan wanita, Ia berkata bahwa Ia menciptakannya untuk menjadi "penolong" bagi pria (Kejadian 2:18). Istilah ini terkadang dianggap menghina, padahal sebenarnya itu hanya berarti rekan untuk membantunya.

Pikirkan seperti ini. Hidup itu menantang. Sebab, keluarga bukan hanya perlu mencari uang untuk bertahan hidup, tetapi mereka juga perlu dirawat secara fisik dan mental. Itu adalah pekerjaan yang sulit untuk dilakukan seorang diri. Untuk melakukan segala sesuatunya. Saya tahu bahwa, sayangnya, ada orang-orang yang harus melakukannya. Dan, saya prihatin Anda melakukannya jika kebetulan itu terjadi pada Anda. Sebab, itu tidak mudah.

Ketika Allah menciptakan wanita, Ia tahu bahwa menjalani hidup sendirian akan sangat menantang. Dan, jika kedua rekanan ini bersatu untuk saling membantu, itu akan menjadi jauh lebih mudah bagi mereka. Yang satu bisa melakukan satu hal, sementara yang lain berfokus pada hal lain. Dengan demikian, hidup akan jauh lebih lancar dan beban akan lebih ringan bagi mereka berdua.

Jadi, ketika Anda menjalani tugas sehari-hari Anda, ketika Anda memasak, membersihkan, mencuci pakaian, atau peran lain apa pun yang Anda miliki dalam pernikahan Anda, pikirkan hal itu sebagai cara untuk menjadi rekannya, yang hadir untuk meringankan bebannya. Sebab, suami Anda ada di sana untuk meringankan beban Anda dengan cara yang lain.

Dukung ia dalam pekerjaan dan kehidupannya sehingga ia dapat merasa terdorong dan diperlengkapi untuk menjalani hidup dan melakukan apa pun tugasnya dengan keyakinan dan kepastian bahwa ia tidak sendirian. Ia tidak hanya memiliki Allah, tetapi juga seorang istri yang mengasihi dan mendukungnya dengan cara ia telah diperlengkapi.

Jaga hubungan Anda dengannya

Pernah terjadi pada suatu saat dalam hubungan Anda dengan suami Anda, bahwa ia merupakan dunia Anda. Ia mungkin satu-satunya yang dapat Anda pikirkan dan menghabiskan waktu bersamanya membawa ketegangan dalam diri Anda serta kegembiraan di hati Anda. Kemungkinan besar perasaan itu telah memudar. Namun, jangan sampai hubungan Anda dengannya juga memudar. Pada satu titik, ia bahkan mungkin pernah menjadi teman terbaik Anda. Mudah-mudahan masih demikian, tetapi jika tidak, inilah saatnya untuk benar-benar mundur dan memikirkan hal yang dapat Anda lakukan untuk mengubahnya.

Hidup bisa menjadi sangat cepat dan hasrat antara suami dan istri dapat hilang. Ini menyedihkan, tetapi ini benar. Namun, saya suka memikirkan fakta bahwa sesuatu yang berbeda menggantikan perasaan tersebut. Alih-alih mengalami kebaruan yang mengasyikkan, Anda sekarang memiliki keakraban yang hangat. Ada kenyamanan mengetahui bahwa apa pun yang terjadi, Anda bersama-sama dalam situasi yang sama. Sebuah kenyamanan bahwa orang ini mengenal Anda lebih baik daripada mungkin siapa pun yang hidup di bumi ini. Ada sesuatu yang sangat istimewa mengenai hal ini. Namun, itu sering diabaikan.

Jadi, luangkanlah waktu untuk menikmati musim pernikahan yang tengah Anda jalani saat ini. Lakukan kencan secara teratur dengan suami Anda, tetaplah intim dengannya sehingga godaannya berkurang (1 Korintus 7:5). Dan, yang terpenting, bersenang-senanglah bersama. Buatlah lelucon rahasia, saling menggoda, dan bermain-main. Hal-hal semacam ini adalah hal-hal yang membuat hasrat tetap ada dan yang membuat menjalani hidup ini bersama-sama terasa nikmat dan menyenangkan.

Jadilah pejuang doanya

Ketika saya pertama kali membaca "The Power of the Praying Wife" karya Stormie Omartian beberapa tahun yang lalu, itu benar-benar berdampak besar pada perspektif saya terhadap berdoa bagi suami saya. Doa itu membantu saya untuk melihat, bahwa bahkan di tengah tantangan, saya bukannya tidak berdaya. Mungkin itu adalah argumen yang buruk atau perjuangan di tempat kerja, atau kecanduan, atau bahkan perselingkuhan. Apa pun masalahnya, selalu ada sesuatu yang dapat Anda lakukan. Dan, sesuatu itu harus termasuk pula berdoa.

Mengangkat suami Anda dalam doa secara teratur adalah hadiah berharga yang dapat Anda berikan kepadanya. Apa pun yang menjadi pergumulannya yang Anda lihat atau ketika ia membutuhkan bantuan, bawalah itu kepada Allah di dalam doa. Jadilah pejuang doa pribadinya, dan seiring waktu, Anda akan melihat dampak doa terhadap dirinya secara pribadi dan pada pernikahan Anda secara keseluruhan.

Menjadi istri yang baik dimulai dengan tunduk kepada Allah

Ketika kita berpikir tentang menjadi istri yang baik, kita sering berpikir untuk membuat suami kita bahagia. Dan, meski itu tentu saja adalah baik, itu bukanlah yang utama. Hal pertama adalah mengikuti perintah Allah bagi para istri yang diberikan kepada kita dalam Firman-Nya. Dan, dengan melakukannya dalam cara yang tidak tergantung pada tindakan suami kita.

Ini bisa menjadi sulit karena sering kali kita bereaksi berdasarkan perasaan kita. Akan tetapi, penting untuk mengubah pola pikir tersebut dan beralih untuk melakukan sesuatu karena itulah yang Allah inginkan untuk kita lakukan. Bukan karena suami kita pantas mendapatkannya atau karena itu yang mereka sukai. Namun, karena itulah yang Allah inginkan dari kita sebagai wanita dan sebagai istri.

Namun, sering kali Anda akan mendapati bahwa ketika Anda taat kepada Allah dalam peranan Anda sebagai istri, suami Anda pada gilirannya akan bahagia juga, dan (percaya atau tidak) Anda juga.

Belajar menjadi istri yang baik di mata Allah sungguh bermuara dengan melihat suami Anda melalui mata Allah. Dan, perlakukan ia seperti yang Allah inginkan untuk Anda lakukan, yaitu dengan kasih, hormat, dan penghargaan. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari: Nama situs : Ministry Minded Mom Alamat situs : https://ministrymindedmom.com/how-to-be-a-good-wife-in-gods-eyes/ Judul asli artikel : How to Be a Good Wife (in God's Eyes) Penulis artikel : Sarah

SABDA Merayakan Thanksgiving Day

RSS Blog SABDA - Kam, 02/12/2021 - 17:47

Mendengar kata 'ucapan syukur' tidaklah asing bagi kita karena kita seharusnya menjalani hari-hari kita dengan rasa syukur. Namun, menyediakan hari khusus untuk mengingat segala kebaikan Tuhan akan menyadarkan kita betapa hebat, dahsyat, dan mengagumkannya Tuhan kita. Karena itu, pada Kamis, 25 November 2021, SABDA mengadakan acara Thanksgiving. SABDA ingin mengajak setiap staf menyediakan waktu khusus untuk mensyukuri segala kebaikan Tuhan dalam hidupnya. Nah, pada hari itu, setiap staf SABDA terlihat begitu bersemangat dan senang mengikuti acara ini. Ya, saya juga begitu bersemangat.

Acara Thanksgiving dimulai dengan menyanyikan lagu pujian dan doa syukur secara umum untuk pertemuan hari ini. Setelah sekian lama kami tidak bernyanyi bersama, kali ini kami bisa bernyanyi kembali ... wah, suatu anugerah nih (flashback ke pandemi COVID-19 yang membuat kami memutuskan untuk tidak bernyanyi bersama demi mengurangi penyebaran virus). Pujian bersama kali ini terasa istimewa. Lagu syukur terlantun indah yang dipimpin oleh Roma dan teman-teman. Setelah itu, kami berbagi rasa syukur melalui beragam cara, ada yang menyampaikannya melalui cerita, puisi, nyanyian, sharing, dan audio feature.

Pada saat teman-teman mulai berbagi rasa syukur yang mereka alami sepanjang tahun ini, saya secara pribadi mulai flashback akan setiap kebaikan Tuhan yang diberikan kepada saya. Saya mulai teringat betapa hebatnya Tuhan menyatakan kehadiran-Nya dalam hidupku. Tahun 2021, bukanlah tahun yang mudah bagi saya karena tahun ini banyak masalah saya alami yang membuat saya harus keluar dari zona nyaman. Seorang yang senang berada di posisi pengikut harus maju untuk memimpin orang lain. Bukan hanya itu, saya juga mengalami kehilangan seseorang yang sangat berharga, tempat saya bergantung. Namun, Tuhan setia, Tuhan peduli, Dia Tuhan yang selalu ada, Dialah tempatku bergantung dan tempatku bersembunyi. Ia mengajariku melewati semuanya satu demi satu.

Di balik itu, Tuhan memberi kepercayaan mulai dari yang kecil hingga bagian yang saya merasa tidak mampu. Namun, semua itu membuat saya semakin ingin bergantung kepada Tuhan. Itu juga yang saya sharingkan kepada teman-teman SABDA.

Mengingat setiap kebaikan Tuhan sangatlah istimewa karena membuat saya sadar akan keberadaan Tuhan dalam hidupku. Teman-teman pun merasakan hal yang sama. Acara Thanksgiving ini tidak hanya berisi sharing, tetapi ada pula permainan seru-seruan yang kami sebut 'komunikata'. Kami semua terbagi menjadi 5 tim dan setiap tim terdiri dari 4 - 5 orang. Cara bermainnya adalah setiap tim berbaris, dan orang di barisan paling belakang harus menghafalkan kutipan ayat. Setelah hafal, dia harus mengungkapkannya kembali ke anggota tim di depannya tanpa melihat catatan. Begitu seterusnya sampai anggota yang paling depan mendapat giliran untuk menghafalkan. Jika anggota paling depan keliru mengungkapkan isi kutipan ayatnya, maka tim tersebut akan kalah dan mendapat hukuman. Nah, tim saya berakhir dengan mendapatkan hukuman ... hehe ... kami diminta menyanyikan lagu "Sungai Sukacita-Mu" sambil menari.

Tidaklah lengkap jika acara ditutup hanya dengan bersenang-senang. Sebelum semua rangkaian acara berakhir, kami mendapatkan renungan singkat dari salah seorang senior di SABDA. Isi renungan itu membuat saya bukan hanya berfokus kepada rasa syukur diri, melainkan untuk semua ciptaan Tuhan dan pelayanan-pelayanan yang Tuhan percayakan.

Nah, sekarang saya ingin bertanya kepada para pembaca Blog SABDA. Sudahkah Anda bersyukur hari ini? Mari kita belajar mengingat kebaikan Tuhan, mulai dari hal yang sepele hingga yang tak pernah dibayangkan. Sekian sharing dari saya. Terpujilah Tuhan!



Belajar Menulis Skrip untuk Video Kreatif

RSS Blog SABDA - Sel, 30/11/2021 - 07:55

Berawal dari mendapatkan brosur digital webinar tentang penulisan skrip di salah satu grup penulisan, saya langsung terpikir "Wah, sepertinya bagus nih kalau teman-teman di SABDA juga ikutan". Akhirnya, pada Kamis, 18 November 2021, 12 staf yang biasanya terlibat dalam proses penulisan skrip mengikuti webinar ini via Zoom. Asyik!!! Karena SABDA sendiri juga sedang giat membuat video-video tutorial, edukasi, promosi, dan lain-lain, webinar ini akan menjadi salah satu kesempatan bagi kami untuk belajar lagi dan mengembangkan diri. Secara internal, kami sendiri sudah mendapatkan training-training seperti ini. Namun, kami tetap perlu belajar juga dari orang lain untuk referensi.

Webinar berjudul "Temu Online Belajar Penulisan Skrip untuk Video Kreatif" ini diselenggarakan oleh Forum Koordinasi Kehumasan Ditjen Ketenagalistrikan. Meski SABDA adalah lembaga pelayanan, tetapi kami tidak menutup kesempatan untuk bisa belajar dari banyak sumber. Acara ini memang bersifat umum/sekuler, tetapi kami ingin menambah wawasan atau referensi untuk bisa menulis skrip video dengan lebih baik lagi dalam konteks pelayanan SABDA.

Selama dua jam, pkl. 10.00 - 12.00 WIB,  acara yang dihadiri lebih dari 250 orang ini berlangsung lancar.  Presentasi pertama disampaikan oleh Udd Sondakh, pemegang rekor 100 kali juara 1 kompetisi video nasional. Materinya menitikberatkan pada bagaimana menggali ide, mengolah ide, dan membuat skrip dasar. Menggali ide kreatif bisa didapat dari pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, dan media, baik televisi, YouTube, maupun radio. Ide-ide yang didapat bisa diolah sesuai kepentingan, bisa dijadikan entertainment, edukasi, atau kontroversi. Perlu kreativitas dalam pembuatannya untuk menghasilkan skrip yang baik. Oh ya, skrip harus memiliki komponen opening (hook 3 - 10 detik di awal supaya menarik), konflik dan solusi, dan penutup. Untuk peralatan, bisa menggunakan beragam jenis software (Kine Master, In Shot, Adore Premiere Clip, Carve, app dari iOS atau Android).

Melanjutkan presentasi pertama, Adiep Haryadi, Chief of Information Officer (CIO) Awrago, menyampaikan mengenai "Membuat Story Board". Ibarat bepergian memerlukan peta, membuat video juga memerlukan story board supaya nantinya kita tidak tersesat dalam cerita. Story yang dimaksud adalah cerita yang menghubungkan titik awal (alasan atau masalah) dan tujuan (target atau solusi). Adieb menekankan adanya 4 proses penting dalam membuat produk kreatif, yang disebutnya dengan 4P Pembuatan Produk Kreatif:

Persiapan:
• Aktivitas: Menyusun konsep, mencari/memilih/memilah sumber informasi, menentukan prioritas informasi.
• Hasil: Taklimat (brief), sumber informasi.

Penyusunan:
• Aktivitas: Membuat storyline, membuat storyboard, mengolah informasi, dan menyusun skrip.
• Hasil: Storyboard, informasi olahan, naskah/skrip, daftar aset produksi

Pengembangan:
• Aktivitas: Produksi, pascaproduksi.
• Hasil: Draft, hasil revisi.

Penyelesaian:
• Aktivitas: Publikasi
• Hasil: Produk final

Menyimak materi di sepanjang acara ini, meski hampir 2 jam, tetap terasa santai. Ada beberapa contoh video yang diputar di sela-sela presentasi dapat membuat peserta bersemangat dan tidak jenuh mengikuti sesi demi sesi. Oh ya, di bagian terakhir presentasi, Adieb menyampaikan beberapa tips membuat story board:
• Metode membuat video: mulai dari subtansi atau mulai dari ide kreatif (riding the wave, momentum).
• Buat struktur inti: isi, penutup (kembangkan cerita dan tambahkan elemen pelengkap, misal humor atau lainnya).
• Sebagai referensi visual, cari foto free license untuk video shooting atau buat sketsa sederhana untuk animasi.
• Beda bentuk video (lifeshoot, animasi, dll.), beda detail pembuatannya.

Saya belajar banyak dari webinar ini. Salah satunya diingatkan lagi untuk memiliki kreativitas dalam menemukan dan mengolah ide, serta ketika menuangkannya menjadi skrip video. Selain saya, tentunya teman-teman SABDA lainnya yang mengikuti webinar ini juga belajar sesuatu dari materi ini. Semoga kami dapat menerapkan prinsip-prinsip baik dari materi kali ini untuk diterapkan dalam proses penulisan skrip supaya pelayanan SABDA dapat semakin maju.

Mengapa Saya Tidak Dapat Melihat Allah?

RSS Kesaksian Doa - Sel, 23/11/2021 - 11:33

Pernah merasa seolah-olah Anda sedang bermain petak umpet dengan Sang Pencipta?

read more

Menanamkan Pelayanan Misi kepada Diri Anak-Anak

RSS Blog SABDA - Sen, 22/11/2021 - 08:35

Shalom pembaca setia Blog SABDA, bagaimana kabar Anda? Semoga selalu sehat dan terus dalam perlindungan Tuhan. Kali ini, saya akan berbagi apa yang saya dapatkan ketika mengikuti presentasi dalam acara EMDC Indonesia pada 9 November 2021. Acara EMDC memberi wadah bagi lembaga-lembaga pelayanan untuk berbagi visi dan misi mereka kepada sesama pelayan, terkhusus dalam bidang misi. Acara EMDC kali ini bertema 50+ Tahun Misi untuk Anak di Indonesia, yang materinya disampaikan oleh Yayasan Sunfokus Indonesia. Mengapa tema ini menarik? Karena saya dapat melihat betapa luas pelayanan misi itu, tidak hanya menjangkau orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Ternyata pelayanan Yayasan Sunfokus Indonesia pun telah berumur lebih dari 50 tahun. Sungguh luar biasa!

Bapak Lexi dan Ibu Eunike menyampaikan materinya dengan sangat antusias. Mereka berdua adalah hamba Tuhan yang sangat "concern" melayani bidang misi bagi anak. Semangat pelayanan yang terasa melalui materi presentasi ini mencerminkan betapa pentingnya pelayanan misi bagi anak-anak. Sharing dari Pak Lexi dimulai dengan latar belakang: Mengapa menanamkan misi kepada anak itu penting? Karena anak-anak memiliki potensi memberitakan Injil. Mengapa harus sejak kecil? Sebab dengan cara tersebut dapat membangun dasar iman yang kukuh sejak dini dan menolong anak menjangkau teman-teman sebayanya yang belum mengenal Kristus.

Kemudian, Pak Lexi memberikan langkah-langkah bagaimana memulai misi anak ini. Berdasarkan pengalaman beliau, ada beberapa hal yang bisa dilakukan, mulai dari memperkenalkan anak tentang ladang misi, mendidik anak berdoa bagi pekerjaan misi, memperkenalkan anak dengan tokoh-tokoh misi di dunia maupun di Alkitab, mendorong anak untuk berkontribusi dalam pekerjaan misi dengan memberikan persembahan, memperluas pengertian tentang misi melalui bercerita, mendorong anak untuk berani bersaksi tentang iman mereka, bernyanyi, sampai beberapa kegiatan lainnya yang bermanfaat untuk membangun kerinduan bermisi.

Tidak hanya kegiatan-kegiatan yang membangun iman, tim Sunfokus Indonesia juga menyediakan modul yang dapat mendukung pelayanan anak. Selain itu, tersedia juga buku-buku cerita mengenai misi yang sangat baik untuk memberi pandangan yang luas mengenai pelayanan misi.

Sharing berikutnya disampaikan oleh Ibu Eunike, yang diawali dengan cerita ketika ia melakukan tugas misi di daerah-daerah, bekerja sama dengan gereja-gereja lokal setempat dan sekolah minggu untuk menyampaikan kerinduan ini kepada anak-anak. Selain itu, beliau dapat mengenal anak-anak yang dilayani, mendengarkan cerita mereka dan latar belakang mereka, dan masih banyak hal lagi yang beliau sampaikan. Itu semua menjelaskan kepada saya bahwa pekerjaan misi dimulai dari kerinduan, yang diwujudkan dengan kepedulian terhadap yang dilayani dan pastinya butuh komitmen yang kuat dalam menjalaninya.

Pernah terbesit di pikiran saya, apakah hal ini mungkin membebani anak yang notabene masih sangat dini untuk menerima komitmen pelayanan seperti ini? Apakah kelak mereka harus fokus dalam menjalani profesi pelayanan semacam ini? Namun, dari penjelasan Pak Lexi dan Bu Eunike, justru menanamkan kerinduan misi ini penting disampaikan sejak dini dengan porsi yang tepat sesuai kebutuhan anak. Hal ini bertujuan supaya kelak ketika mereka tumbuh dewasa, mereka memiliki dasar dan kerinduan untuk menjalankan pelayanan misi melalui profesi mereka, apa pun itu profesinya dan di mana pun mereka ditempatkan.

Pandangan saya tentang misi ini perlahan mulai diperbarui. Tidak hanya orang dewasa yang bisa, tetapi anak-anak pun bisa melakukan pelayanan misi sesuai porsi mereka. Nah, semangat inilah yang perlu ditanamkan pada diri pelayan Tuhan saat ini, baik itu pelayan misi maupun guru sekolah minggu, untuk mengajarkan pentingnya penginjilan kepada anak.

Akhirnya, dengan kesadaran ini, kita seharusnya semakin termotivasi untuk maju memberitakan Kabar Baik. Memang tantangan selalu ada dalam setiap langkah, tetapi ingatlah selalu bahwa Tuhan Yesus menyertai kita semua. Amin.

Biblical Computing di Indonesia

RSS Blog SABDA - Jum, 12/11/2021 - 08:51

Oleh: Renata Sandra

Dalam rangka ulang tahun ke-27, yang dirayakan selama satu bulan penuh, SABDA mengadakan beberapa program live yang tidak hanya mengangkat topik-topik seputar Spiritual Wellness, tetapi juga seputar Biblical Computing. Dewasa ini, sistem pelayanan kekristenan dituntut untuk dapat beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang tengah terjadi, termasuk perkembangan teknologi digital dan terjadinya pandemi selama 2 tahun terakhir. Saat pelayanan tidak dapat dilakukan secara tatap muka, untuk beribadah juga tidak bisa pergi ke gereja. Karena itu, saya sangat bersyukur karena dapat lebih diperlengkapi tentang pelayanan dalam konteks masa kini saat mengikuti acara SABDA MLC TechTalk "20+ Biblical Computing di Indonesia" yang diadakan pada Selasa, 26 Oktober 2021.

TechTalk tentang Biblical Computing yang dibawakan oleh Hadi dan Ody ini diawali dengan pembahasan yang disampaikan oleh Ody bahwa Biblical Computing sendiri merupakan jantung dari pelayanan Yayasan Lembaga SABDA dan tertuang dalam visi SABDA. SABDA memiliki visi untuk menjadi hamba elektronik bagi Tubuh Kristus (Gereja), yaitu dengan menjadi "Fasilitator" untuk menyediakan bahan-bahan kekristenan yang bermutu secara mudah dan gratis, menjadi "Katalisator" antara Alkitab dan masyarakat Kristen Indonesia sehingga jemaat dapat belajar Alkitab dengan lebih mudah dan bertanggung jawab dengan menggunakan sarana digital yang mutakhir, dan membangun "Infrastruktur" untuk memudahkan tubuh Kristus menemukan komunitas online yang bersinergi sehingga dapat memajukan pelayanan. 

Dalam presentasi yang dipaparkan oleh Ody, disebutkan bahwa SABDA secara luas mendefinisikan Biblical Computing sebagai titik temu antara dua domain, yaitu domain Biblical Studies dan Computer Science. Pertemuan kedua domain tersebut membuka banyak pintu peluang dan kesempatan yang memungkinkan banyak hal yang tadinya tidak mungkin dilakukan. Pada era digital ini, banyak hal dapat dipelajari untuk menambah wawasan, bahkan oleh orang awam sekalipun. Orang dapat mengakses banyak hal hanya dengan satu genggaman, dan gadget yang kita gunakan sehari-hari sudah menjadi seperti pintu untuk akses ke mana saja.

SABDA menawarkan banyak cara untuk mempermudah pengguna belajar dan memahami firman Tuhan sebagaimana dijelaskan oleh Hadi dalam pemaparan selanjutnya tentang pengenalan puluhan proyek Biblical Computing yang sudah dikerjakan oleh SABDA. Di antaranya, dijelaskan mengenai Interlinear (+Builder) untuk menolong pengguna menguji terjemahan Alkitab kata per kata sehingga pengguna dapat lebih mudah memahami konteks ayat tersebut melalui banyak referensi, bahasa aslinya, berbagai terjemahannya, dan nomor Strong. Interlinear sendiri tersedia dalam berbagai versi. Selain itu, saat ini SABDA juga sedang mengerjakan Biblical Recommendation System untuk mempermudah pengguna menemukan ayat-ayat apa saja yang terkait dengan topik atau pencarian tertentu. Proyek-proyek lain yang SABDA kerjakan termasuk Alkitab Kuno, Intelligent Search, Karaoke, YOLO (Object Detection), Simple Suku Bible Study Maker, dan masih banyak lagi proyek yang dapat memperlengkapi setiap orang percaya untuk bertumbuh dalam pengenalan akan firman Tuhan.

Melalui pemaparan yang disampaikan, saya sangat terkagum atas begitu kayanya materi dan fasilitas yang SABDA sediakan untuk membantu para pengguna memahami firman Tuhan. SABDA telah mempersiapkan berbagai macam materi dalam bentuk teks, audio, video, komik, kamus, dan masih banyak lagi alat studi Alkitab lainnya, baik untuk kalangan remaja hingga dewasa maupun untuk anak-anak. Menariknya, bahan-bahan ini sudah mulai dikerjakan dan disiapkan jauh sebelum era digital belum terlalu berdampak seperti saat ini ketika kebutuhan manusia terhadap internet begitu dominan.

Dari sesi tentang Biblical Computing kali ini, saya banyak belajar bahwa dunia kini sudah berubah. Digital menguasai berbagai macam aspek kehidupan manusia. Pertanyaannya adalah bagaimana kita dapat memanfaatkan teknologi digital yang semakin maju dengan sebaik-baiknya untuk kemuliaan Tuhan dan membantu orang-orang di sekitar kita lebih mengenal Kristus, seperti yang sudah dilakukan oleh SABDA selama ini.

Belajar Mengoptimalkan Media Sosial Melalui Training YASKI

RSS Blog SABDA - Kam, 11/11/2021 - 10:25

Shalom Pembaca Blog SABDA, saya akan berbagi pengalaman dan ilmu yang saya dapat dari mengikuti training media sosial. Media sosial bukanlah hal asing bagi kita saat ini. Banyak pelayanan rohani kini menggunakan media sosial sebagai sarana untuk memberitakan Kabar Baik. Jika kita tidak tahu cara mengoptimalkan media sosial dengan baik, pelayanan kita tidak akan sampai ke pendengar/pengguna seperti yang kita rindukan. Bersyukur pada Senin, 1 November 2021, YASKI mengadakan webinar mengenai "Social Media Optimization" oleh Edhozell, Youtuber dan pendiri SAGA Esports. Pria kelahiran 1986 ini pernah mengalami masa remaja yang sulit.

Sebagai seorang Youtuber dan influencer yang cukup dikenal masyarakat luas, beliau menyampaikan materinya dengan sangat bagus. Melalui materi tersebut, saya makin memikirkan dengan serius media sosial SABDA yang saya kelola, SABDA Resources. Komunitas ini membawa kita terkoneksi dengan bahan-bahan kekristenan dalam berbagai bidang pelayanan. Selama presentasi berjalan, saya berpikir strategi konten organizer sangat diperlukan, yaitu Hero, Hub, dan Help. Apakah SABDA Resources sudah melakukannya? Pertanyaan ini membuatku berpikir lebih jauh lagi. Apakah hubungan akun tersebut sudah erat dengan penggunanya?

Seorang social media manager harus mengetahui hal-hal mendasar ini:
1. Harus tahu apa yang sedang trending: yang lagi ramai dibicarakan.
2. Sebelum membuat konten, kita harus kenali diri terlebih dahulu (point of you/branding): sudut pandangmu.
3. Opini kita terhadap sesuatu yang lagi trending: apa pendapatmu terhadap itu?

Nah, media sosial ini akhirnya dapat digunakan secara efektif dan mencapai target yang diimpikan. Secara pribadi, saya merasa senang, banyak anak muda ingin melayani Tuhan dengan memanfaatkan media sosial. Hal ini terlihat dari banyaknya anak muda yang bertanya secara aktif, baik secara langsung maupun melalui ruang komentar. Banyaknya materi mengenai media sosial yang diberikan Edhozell membuka pikiran saya untuk melihat pelayanan yang Tuhan percayakan kepadaku. Media sosial yang dikelola bukan sekadar posting konten, melainkan memiliki tujuan yang benar untuk menjadi terang dan garam dunia.

Bersyukur sekali, baik Instagram maupun Facebook SABDA Resources, dapat membantu kita untuk melayani dan memperlengkapi pengguna untuk semakin giat dalam mengikut dan melayani Tuhan. Saya juga belajar untuk memperhatikan setiap konten dan caption, bahkan hashtag yang digunakan, supaya dapat menjadi berkat, bukan malah menjadi batu sandungan.

Kalau Edhozell menyajikan video dengan variasi yang kreatif dan menyenangkan, kita perlu membawa variasi konten yang selaras dengan kebenaran Alkitab tanpa kehilangan ketertarikan pengguna. Caranya dengan menyajikan bahan-bahan sekreatif mungkin dan menyegarkan.

Jadi, jika teman-teman ingin menjadi influencer, terlebih dahulu tentukan prinsip dan target orang yang ingin dicapai 10 - 25 tahun ke depannya. Tujuan kitalah yang membawa kita untuk terus memperjuangkan apa yang kita harapkan. Yuk semangat terus mengerjakan bagian kita dan terus layani Tuhan dalam tiap bidang pelayanan yang Tuhan percayakan! To God be the Glory!

"Penampilan Anda Menentukan Siapa Anda"

RSS Wanita - Rab, 10/11/2021 - 08:11

Kebohongan yang Sering Diberitahukan Cermin

Anak berusia 9 tahun akan berkata dengan jujur. Seorang anak laki-laki di kelas pagi saya pernah bertanya kepada saya, "Bu, mengapa Ibu terlihat seperti baru bangun tidur?" Pada hari yang lain, dia berjalan masuk sambil menghela napas panjang dan memegangi dadanya. "Saya sangat senang Ibu tidak memakai wig lagi hari ini!" Wig? Yang dia maksud adalah poni baru saya, yang tersembunyi di balik ikat kepala.

Tidak seperti orang dewasa, kebanyakan anak-anak tidak memiliki kategori topik pembicaraan terlarang tentang penampilan. Sementara kebanyakan orang dewasa akan menganggapnya buruk untuk dibicarakan, tetapi potongan rambut buruk, bertambahnya berat badan, dan kerontokan rambut justru merupakan hal-hal yang wajar dibicarakan bagi siswa kelas empat. Mengapa anak-anak merasa bebas untuk menggambarkan kecantikan, baik dalam keberadaan maupun ketiadaannya?

Sebagian alasan mengapa anak-anak berbicara tentang penampilan adalah karena, dalam pandangan mereka, itu bukan apa-apa. Ketika siswa tadi memberi tahu saya bagaimana penampilan saya, hanya itulah yang mereka lakukan -- memberi tahu saya bagaimana penampilan saya. Mereka tidak membuat klaim tentang siapa saya. Jika kuncir kuda saya terlihat "sangat aneh hari ini", mereka akan mengatakannya -- karena gaya rambut saya tidak merusak identitas saya sebagai guru mereka yang tercinta.

Namun, terlalu sering, kita menginvestasikan kecantikan fisik sebagai hal yang jauh lebih penting. Kita memperlakukan kecantikan sebagai sarana untuk harga diri: penampilan kita menentukan siapa kita. Akan tetapi, seandainya kita hanya memandang firman Tuhan dengan mata seorang anak kecil, kita mungkin akan melepaskan keindahan dari liuk-liuknya yang duniawi dan mengikatkannya pada Allah, yang adalah Keindahan itu sendiri.

Kecantikan Duniawi

Mengandalkan pemahaman kita sendiri, kita mendefinisikan kecantikan sangat mirip seperti sang Ratu Jahat. Kita berdiri terpesona di depan cermin, menunggunya untuk memberi tahu kita betapa penampilan kita sesuai dengan pandangan orang lain di seluruh negeri. Dalam kerajaan yang dililit dosa, menjadi cantik berarti menarik sebanyak mungkin mata manusia.

Namun, di bawah semua mata itu, terdapat banyak hati yang selera visualnya tak pernah terpuaskan. Mereka berpindah dari satu postingan ke postingan lainnya, layar ke layar, tren ke tren -- idola ke idola -- menunggu untuk dipuaskan. Tidak satu pun dapat memuaskan mereka. Itu sebabnya, penampilan yang menarik dan karenanya indah, baik dalam konteks pribadi maupun definisi budaya, bisa kadaluwarsa. Kita menua, dan akan kehilangan kecantikan. Generasi demi generasi berlalu, dan kecantikan pun berubah. Tetap cantik sangatlah melelahkan (dan mahal).

Saat menggambarkan masa remaja saya kepada sekelompok gadis, saya menyebutkan betapa "ceking dan kurusnya" saya dulu. Mereka menatap saya dengan ngeri. Memotong saya, seorang siswa berseru, "Bu, Ibu tidak kurus! Ibu itu sempurna." Gadis-gadis lain setuju. "Ya, Bu! Jangan katakan itu. Ibu tidak kurus. Ibu cantik." Kata-kata mereka membuat saya terdiam. Diri saya yang remaja telah hidup di dunia tempat kecantikan menuntut badan yang langsing; dalam dunia mereka, kecantikan tidak membutuhkan badan kurus. Bukan pujian yang saya dengar dalam kata-kata mereka, tetapi klaim kebenaran: standar kecantikan duniawi berubah-ubah.

Allah telah memperingatkan kita. Ribuan tahun yang lalu, Dia berkata, "kecantikan itu sia-sia" (Amsal 31:30, AYT) -- atau menurut beberapa terjemahan, "sekejap" (NIV). Arti harfiah dari kata sifat ini mengandung tonjokan keras, karena kata Ibrani 'hebel' menunjukkan 'napas'. Dari sudut pandang Allah yang kekal, kecantikan menghilang seiring kita bernapas. Jika kita menaruh harapan pada kecantikan, ia akan mengkhianati kita -- dan ia melakukannya dengan cepat.

Apakah itu berarti Allah ingin wanita Kristen menghapus maskara dengan menggunakan kain lap? Tanpa riasan, tanpa rambut yang diwarnai, tanpa pakaian baru, tanpa keanggotaan dalam klub kebugaran -- tidak satu pun? Haruskah kita menyerahkan diri kita dalam hidup dengan rambut yang acak-acakan, wig, dan kuncir kuda yang sangat aneh? Pertanyaan-pertanyaan ini tidaklah buruk, tetapi itu adalah pertanyaan yang salah. Sebaliknya, kita harus bertanya, "Bagaimana definisi Allah tentang kecantikan mengubah pengejaran kita terhadap kecantikan?"

Kecantikan dari Allah

Dalam perhitungan Allah, kecantikan tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri, atau berbicara tentang dirinya sendiri, atau melakukan pembelian untuk dirinya sendiri, atau berlama-lama memikirkan rupa dirinya sendiri. Sebab, kecantikan yang Allah tentukan tidak dapat dilihat di cermin. Sebaliknya, kecantikan itu berdenyut: "... sebab manusia melihat yang ada di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati" (1 Samuel 16:7, AYT). Kecantikan mengalir dari hati yang berdetak dengan kebaikan moral -- kasih, kesenangan, dan ketundukan kepada Allah (Kisah Para Rasul 13:22).

Tidak seperti pengejaran kita akan kecantikan fisik, kita tidak dapat merasa resah, membicarakan, membeli, atau menyunting cara kita untuk mengupayakan kecantikan pada tingkat hati. Kecantikan -- dengan huruf K besar -- yang untuknya kita harus mengerahkan energi paling banyak, Kecantikan yang untuknya kita harus paling banyak menghabiskan waktu dan sumber daya kita, adalah Kecantikan yang tidak bisa kita taburkan pada wajah kita. Yang harus kita kejar adalah suatu Pribadi.

Pribadi ini adalah Yesus, satu-satunya manusia yang hati-Nya mencari Allah dengan sempurna seumur hidup. Dalam Dia, kita menemukan, dan dari Dia, kita menerima, Kecantikan sejati. Dan, itu bukanlah kecantikan penampilan:

Dia tidak memiliki bentuk ataupun kemuliaan sehingga kita harus memandangnya;
ataupun memiliki keindahan sehingga kita menginginkannya.
Dia sangat dihina dan ditolak oleh manusia;
orang yang penuh dengan kesengsaraan dan menderita kesakitan.
Orang lain menutup muka mereka kepadanya,
dia sangat direndahkan dan kita pun tidak menghargainya. (Yesaya 53:2-3, AYT)

Sebaliknya, itu adalah Kecantikan yang mengasihi dan mengorbankan dirinya untuk orang lain, yang disukai Allah:

Dia ditikam karena pelanggaran-pelanggaran kita.
Dia diremukkan karena kejahatan-kejahatan kita.
Hukuman yang mendatangkan kesejahteraan bagi kita ditimpakan ke atasnya,
dan oleh bilur-bilurnya kita disembuhkan. (Yesaya 53:5, AYT)

Inilah Kecantikan yang tidak musnah saat riasan dihapus atau menjadi tidak berlaku dari satu tren ke tren berikutnya. Ini adalah Kecantikan yang bertahan dengan tawa proses penuaan dan komentar polos anak-anak (Amsal 31:25). Sebab, terlepas dari penampilannya, identitasnya tetap aman: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan" (Matius 3:17, AYT).

Kecantikan sebagai Kepunyaan Sekaligus Pengejaran

Para wanita terkasih: Jika kita menyebut Sang Anak terkasih "Juru Selamat" dan "Tuhan" (Roma 10:9), kita memiliki Kecantikan ini untuk selama-lamanya. Sebab, di mata Allah, kita telah diselubungi sepanjang waktu dengan kasih Kristus yang berkorban (Galatia 2:20). Tidak perlu repot untuk menjadi cantik dan tetap cantik di bumi ini. Kristus adalah Keindahan kekal itu sendiri -- dan hidup kita tersembunyi dalam Dia (Kolose 3:3).

Kita masih mengusahakan kecantikan -- tetapi tidak lagi untuk kecantikan dalam penampilan. Jika kita memiliki Kecantikan dalam Kristus, kita akan mengejar Keindahan Kristus. Kita akan berusaha, sebagaimana mereka yang bebas dari mode dunia yang berubah-ubah, untuk meniru Keindahan yang abadi -- untuk hidup seolah kemuliaan Allah itu nyata, berharga, dan layak dikejar, sekarang dan selalu.

Memiliki hati serupa dengan dengan Anak terkasih Allah tidak akan pernah ketinggalan zaman. Kita dapat melelahkan diri sendiri dalam mengejar Keindahan Kristus dengan merasa yakin bahwa "kita semua, yang dengan wajah tidak terselubung mencerminkan kemuliaan Tuhan, sedang diubah kepada gambar yang sama dari kemuliaan kepada kemuliaan ..." (2 Korintus 3:18). Pada penghujung hari, kita tidak akan merangkak ke tempat tidur dengan lebih sedikit uang dan lebih banyak produk. Kita akan hanyut memancarkan Keindahan Allah dalam Kristus, dengan merasa puas.

Kecantikan sebagai Sarana

Jika kita memiliki Kecantikan dalam Kristus, kita akan mengejar Keindahan Kristus.

Ketika Keindahan semakin menjadi milik kita dalam Kristus, kecantikan -- dengan huruf k kecil -- akan mengambil tempat sebagaimana mestinya sebagai pemberian Allah, pemberian yang Allah tinggikan. Allah peduli dengan keindahan visual karena Dia membuat dan menopang setiap ekspresinya. Dia menciptakan kita menurut gambar-Nya, untuk menggambarkan Dia. Yang menjadi bagian kita, kita harus dengan rendah hati dan senang hati menggunakan apa yang telah dibuat-Nya untuk meninggikan Dia yang membuatnya (Kolose 1:16).

Seperti halnya hobi apa pun yang netral secara moral, kita berusaha menggunakan keindahan duniawi untuk menerangi realitas surgawi. Saat kita mengusap wajah kita pada pagi hari, kita dapat bertanya-tanya bagaimana Allah melukis langit (Mazmur 19:1). Kita dapat mengadopsi gaya baru dengan hati yang terpesona oleh Allah yang telah memberi kita pakaian yang tidak dapat binasa -- kebenaran Kristus (Yesaya 61:10). Kita dapat menikmati keindahan tanpa obsesi terhadap diri sendiri ketika kita berusaha menikmati Sumbernya.

Saya tidak mengatakan bahwa kita harus menyandingkan Kitab Suci dan meditasi untuk semua keindahan kita. Banyak kegiatan terjadi di sekitar kita tanpa teruji. Namun, kita semua bisa setuju bahwa kecantikan -- sebagaimana banyak usaha lainnya, seperti atletik atau karier -- mengandung kapasitas besar untuk mementingkan diri sendiri. Jika kita tidak memerhatikan diri kita sendiri, kita hanya akan melihat diri kita sendiri.

Saat siswa saya mengenakan lip gloss dan berbagai jenis T-shirt, saya berdoa agar mereka belajar menggunakan kecantikan sebagai sarana untuk menikmati dan memuliakan Allah dibandingkan memuliakan diri sendiri. Saya berharap mereka mengetahui keindahan yang telah diciptakan Allah untuk mereka dan Keindahan yang Dia berikan kepada mereka. Meskipun demikian, mereka tidak dapat mempelajari apa yang tidak dipahami oleh wanita Kristen bagi diri mereka sendiri atau untuk menjadi teladan bagi orang lain. Mari kita lihat keindahan sebagaimana adanya, saat kita berpegang pada Pribadi yang merupakan Keindahan itu sendiri. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari: Nama situs : Desiring God URL : https://www.desiringgod.org/articles/how-you-look-is-who-you-are Judul asli artikel : "How You Look Is Who You Are" Penulis artikel : Tanner Swanson

Menjadi Ibu Pada Batas Diri Kita

RSS Wanita - Rab, 10/11/2021 - 07:45

Saya memasuki peran sebagai ibu dengan harapan tertentu. Saya pikir saya akan lebih bahagia daripada saya sebelumnya, dan saya pikir menjadi ibu akan terjadi lebih alami dan mudah. Saya masih senang menjadi seorang ibu, tetapi saya dapat mengatakan bahwa Allah menggunakan peran sebagai ibu untuk mengubah saya -- dan terkadang perubahan itu menyakitkan. Terkadang saya sampai pada batas diri saya sendiri.

Ketika saya pertama kali memiliki anak, saya menumpuk beban yang tidak perlu pada diri saya sendiri, memercayai kebohongan bahwa saya harus melakukan semuanya dan menjadi segalanya (dan sepanjang waktu). Dalam harga diri dan rasa bersalah saya, saya tidak ingin meminta pertolongan. Allah menggunakan kesulitan dalam hal keibuan untuk menunjukkan sikap saya yang mengandalkan diri sendiri dalam menjadi ibu. Semakin banyak anak yang saya miliki, dan semakin sulit perilaku yang muncul dalam diri mereka, semakin sulit saya menjaga topeng kekuatan saya agar tidak terlepas. Ini adalah bagian dari rancangan kasih Allah bagi saya (dan bagi semua ibu).

Bagian dari panggilan kita sebagai ibu adalah merangkul kebergantungan kita pada Allah -- untuk menerima dan mengakui kelemahan kita dan bersandar pada keterbatasan manusiawi kita dengan pertolongan-Nya. Kelemahan kita adalah tempat Kristus bertemu dengan kita dengan kasih karunia, kuasa, dan kekuatan yang lebih besar. Kita menemukan kekuatan sejati, seperti yang dikatakan Rasul Paulus, ketika kita lemah (2 Korintus 12:10). Satu-satunya harapan seorang ibu adalah pada Juru Selamat yang akan cukup bagi kita ketika kita merasa tidak cukup.

Ibu yang Lemah dan Membutuhkan

Ketika Anak Allah datang ke bumi, Dia tidak hanya menunjukkan kepada kita siapa Allah itu, tetapi juga apa artinya menjadi manusia.

Ia membuat diri-Nya tidak memiliki apa-apa dan menghambakan diri sebagai budak untuk menjadi sama dengan rupa manusia. Dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Ia merendahkan diri-Nya dengan taat sampai mati, bahkan mati di atas kayu salib. (Filipi 2:7-8, AYT)

Dia merangkul keterbatasan umat manusia, termasuk kebutuhan kita untuk beristirahat (Markus 4:38; 6:31-32), sambil mencurahkan diri-Nya demi orang lain sampai kelelahan. Dia lelah karena Dia sepenuhnya manusia. Dia membutuhkan Bapa, jadi kita tidak perlu heran bahwa kita juga membutuhkan Dia. "Pagi-pagi benar, ketika hari masih gelap, Yesus bangun dan pergi ke tempat yang sunyi, lalu Dia berdoa di sana" (Markus 1:35, AYT).

Menjadi manusia berarti bergantung. Menjadi manusia berarti menjadi lemah. Menjadi seorang ibu adalah menjadi manusia yang lemah dan membutuhkan, yang memerlukan kekuatan dari luar dirinya.

Semua yang Lelah

Beberapa beban dan keletihan kita dapat berakar pada kesombongan. Kita pikir kita bisa menjadi seperti Allah dengan cara yang hanya diperuntukkan bagi Allah. Ditambah lagi, banyak dari beban yang kita letakkan pada diri kita sendiri sebagai ibu adalah beban yang tidak seharusnya kita tanggung -- beban yang tidak dibebankan kepada kita oleh hukum Allah, tetapi oleh hukum buatan manusia dalam masyarakat atau ekspektasi yang memberatkan di gereja. Yesus mengundang kita untuk menanggalkan hal-hal itu dan belajar tentang kerendahan hati untuk bergantung kepada-Nya:

Datanglah kepadaku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, dan Aku akan memberimu kelegaan. Pikullah kuk yang Kupasang, dan belajarlah dari-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati, dan kamu akan mendapatkan ketenangan dalam jiwamu. (Matius 11:28-29, AYT)

Paulus memberi tahu kita untuk mempelajari pola pikir rendah hati yang sama seperti yang dimiliki Kristus (Filipi 2:5). Kita kembali ke rancangan asli Allah bagi kita sebagai ibu ketika kita mengakui dan menerima kelemahan kita -- bahwa kita membutuhkan seseorang di luar diri kita. Ketika kita mengingat bahwa Dia adalah Pencipta kita, dan bahwa kita adalah ciptaan-Nya, kita akan menemukan ketenangan dalam Dia, bahkan ketika hari-hari kita padat.

Cara Melatih Kebergantungan

Doa adalah salah satu cara praktis untuk mengungkapkan kebergantungan yang rendah hati kepada Allah. Saya sering mengabaikan pertolongan Roh Kudus ketika saya merasa sedih dan lemah atau lelah dalam mengasuh anak. Akan tetapi, tidak datang kepada Allah dalam doa justru semakin melemahkan kita, karena Allah bermaksud menyegarkan dan menguatkan kita melalui doa.

Janganlah khawatir tentang apa pun juga. Namun dalam segala sesuatu nyatakan keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan serta ucapan syukur. Damai sejahtera Allah yang melampaui segala pengertian akan memelihara hati dan pikiranmu di dalam Yesus Kristus. (Filipi 4:6-7, AYT)

Kedamaian dan ketenangan yang kita dambakan sebagai ibu dapat ditemukan ketika kita membawa permintaan dan kebutuhan kita ke hadapan-Nya.

Kita tidak perlu menjadi ibu super yang tangguh dan kuat, tetapi ibu yang rendah hati yang tahu kebutuhan kita akan Dia.

Kita juga dapat mengekspresikan kebergantungan kepada Allah melalui istirahat fisik: menjauh untuk mengumpulkan kembali tenaga, tidur siang, meninggalkan tugas yang belum selesai untuk tidur malam yang nyenyak, berolahraga, melakukan hobi, atau bergabung dengan klub buku atau kelompok belajar Alkitab. Ketika kita meluangkan waktu untuk semua aspek istirahat dalam hidup kita (fisik, spiritual, mental, dan emosional), kita mengatakan, "Saya telah melakukan apa yang saya bisa; sekarang saya menyerahkan apa yang tidak dapat saya lakukan kepada-Mu, Tuhan."

Kebutuhan kita akan istirahat mengingatkan kita bahwa pada akhirnya, mengelola rumah tangga kita bukanlah tergantung pada kita. Kita harus memercayakan keluarga kita kepada Allah, bukan berusaha mempertahankan kendali sampai pada titik kelelahan. Secara konsisten dan sengaja terlibat dalam kegiatan yang penuh ketenangan adalah tindakan untuk percaya.

Menemukan Dia di Batas Diri Anda

Allah memiliki tujuan bagi kita untuk mencapai batas dari diri kita sendiri. Jika kita selalu merasa kuat dan tegak, kita tidak akan merasakan kebutuhan kita akan Yesus. Seperti himne kuno yang mengatakan, "Tiap jam 'ku memerlukan-Mu." Menjadi ibu bisa membuat kita merasa membutuhkan setiap waktu. Allah secara teratur membawa kita ke tempat ini sehingga kita dapat meletakkan beban kita di hadapan-Nya dan belajar untuk menerima kebergantungan yang rendah hati yang dicontohkan oleh Juru Selamat kita bagi kita.

Jadi, meskipun wajar bagi kita untuk benci terhadap kelemahan kita, mari kita bermegah dalamnya. Mari bersandar pada keterbatasan kita. Allah tahu semua bagian sulit menjadi ibu berada di luar jangkauan kita. Kita tidak perlu menjadi ibu super yang tangguh dan kuat, tetapi ibu yang rendah hati yang tahu kebutuhan kita akan Dia. Kita akan mulai menemukan kedamaian dan ketenangan ketika kita dengan rendah hati mengandalkan kekuatan Roh untuk menolong kita daripada berpikir bahwa semuanya bergantung pada apa yang dapat kita lakukan sebagai ibu. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari: Nama situs : Desiring God Alamat situs : https://www.desiringgod.org/articles/mothering-at-the-end-of-me Judul asli artikel : Mothering at the End of Me Penulis artikel : Liz Wann

Lomba Vlog/Blog untuk Memeriahkan HUT #SABDA27

RSS Blog SABDA - Sen, 08/11/2021 - 22:18

Dalam rangka memeriahkan hari ulang tahun SABDA yang ke-27, Divisi SABDA Resources (SR) mengadakan lomba vlog dan blog bertema Spiritual Wellness. Tema ini sejalan dengan tema ulang tahun SABDA, yaitu "Wellness and Family/Ministry". Lomba yang seru ini bertujuan untuk mengajak banyak orang terlibat aktif dan mengambil bagian dalam serangkaian acara kolaborasi bertema Spiritual Wellness (Kebugaran Rohani) untuk merayakan kesetiaan Tuhan sekaligus membantu menjaga kesehatan rohani orang percaya.

Saya, sebagai salah satu anggota tim SABDA Resources, sangat bersyukur dengan adanya lomba ini. Saya sangat senang karena bisa terlibat dalam membuat contoh vlog tentang spiritual wellness. Saat ngevlog bersama Ody, teman sepelayanan saya, itu menjadi refleksi bagi diri saya apakah saya sendiri sudah well. Banyak hal masih harus saya perjuangkan supaya kehidupan spiritual saya bisa well sekalipun mengalami jatuh bangun. Selain itu, saya juga bertugas di bagian pendaftaran. Saya mengontak setiap peserta, mengingatkan, dan memastikan peserta mengumpulkan karya-karya mereka. Senang sekali bisa berelasi dengan rekan-rekan pembuat vlog dan blog.

Antusias dari Sahabat SABDA cukup baik dalam menyambut lomba vlog/blog kali ini. Terdapat 18 peserta yang mengikuti lomba ini. Setiap peserta membuat vlog/blog tentang spiritual wellness, sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh panitia. Dalam lomba kali ini, SABDA merangkul tiga juri yang sangat berkompeten dalam bidang ini, ada Pak Purnawan Kristanto, Pak Mikael Rinto, dan Sdr. Gina Yap Lai Yoong. Tepat pada 21 Oktober 2021, para peserta dari berbagai domisili sudah mengirimkan karya-karya mereka. Dari belasan karya yang telah dikirimkan dipilihlah karya-karya terbaik untuk menjadi pemenang. Pengumuman pemenang ini kami tayangkan pada acara penutupan #unHACK 2021 pada Jumat, 22 Oktober 2021, pkl. 19.30 - 20.30 WIB. Ingin tahu siapa saja pemenangnya? Ini nih:

Pemenang vlog:
Juara 1 vlog: Bp. Budiarto dengan judul "Tetap Fit di Era COVID"
Juara 2 vlog: Sdr. Rialdi Pasaribu dengan judul "Spiritual Wellness", dan
Juara 3 vlog: Sdr. Feby Let Fanny dengan judul "Spiritual Wellness",

Pemenang blog:
Juara 1 blog: Sdr. Adiana Yunita dengan judul "Teruntuk, Diriku"
Juara 2 blog: Sdr. Darwis L dengan judul "Diam atau Bangkit"
Juara 3 blog: Sdr. Markus Hans dengan judul "Spiritual Wellness Berdasarkan Inspirasi dari Peirasmos dan Pain"

Selamat untuk para pemenang lomba vlog/blog SABDA!! Karya-karya tersebut juga berkesempatan dipasang di situs The Well atau menjadi bagian dalam Proyek Wellness Kristen. Kiranya setiap karya yang telah peserta buat dapat menginspirasi masyarakat Kristen untuk terus aware dengan spiritual wellness. Amin!

#unHACK2021 — Kolaborasi Wellness

RSS Blog SABDA - Sel, 02/11/2021 - 13:07

Setiap tahun, selalu saja ada yang baru dalam kegiatan merayakan HUT SABDA. Begitu pula dengan tahun 2021. Nah, tahun ini, untuk memperingati HUT-nya yang ke-27, Yayasan Lembaga SABDA mengadakan acara khusus yang disebut #unHACK 2021 - Kolaborasi Wellness. Acara ini merupakan undangan untuk berkolaborasi bagi setiap anak Tuhan (hamba Tuhan, aktivis pelayanan, programmer, designer, media specialist, content creator, dll.) guna mengerjakan satu proyek bersama yang dinamakan Proyek Wellness Kristen.

Rangkaian acara #unHACK2021 sendiri sudah berlangsung sejak September, diawali dengan acara bincang-bincang "Spiritual Wellness, Mungkinkah?" pada 3 September 2021. Acara ini menjadi pengantar dan pembukaan dari perayaan ulang tahun SABDA yang ke-27. Yang melaluinya, Sahabat SABDA diajak untuk berbagi ide bagaimana membangun "Pusat Wellness Kristen". Setelah itu, diadakan lagi acara "Spiritual Wellness and Family!" yang mengajak partisipan untuk belajar dan ngobrol seru bersama, melanjutkan bincang-bincang "Spiritual Wellness: Tsunami Digital". Kemudian, seminar "Design Thinking" diadakan untuk memperkenalkan metode pemecahan masalah yang praktis dan kreatif yang berfokus pada orang/pengguna. Metode Design Thinking sendiri digunakan dalam event #unHACK 2021 -- Kolaborasi Wellness untuk menjawab tantangan masalah Spiritual Wellness yang dihadapi tubuh Kristus pada masa pandemi dan era digital ini.

Nah, acara #unHACK2021 -- Kolaborasi Wellness dibuka pada Jumat malam, 15 Oktober 2021. Keesokan harinya, semua peserta melakukan kerja bareng selama sehari untuk mengimplementasikan cara kerja Design Thinking dalam versi "mini" (sprint). Dalam sehari itu, sampai pukul 16.00 WIB, seluruh peserta bersama-sama mengerjakan seluruh tahapan, yaitu Empati, Mendefinisikan, Mengidekan, Prototipe, dan Tes. Hasil dari mini sprint tersebut menghasilkan 70+ ide hasil empati dengan definisi masalah/kebutuhannya. Kemudian 70+ ide tersebut dikerucutkan menjadi 20+ solusi, dan akhirnya dipilih 2 solusi untuk dikerjakan prototipenya, yaitu "Spiritual Wellness Assessment Board" dan "Spiritual Wellness Resources" yang dibagi menjadi Resources Text dan Resources Media.

Sesudah itu, mulai 16 -- 22 Oktober 2021, kerja bareng semua peserta untuk Proyek Wellness Kristen dilakukan. Dalam aktivitas ini, semua partisipan berkomitmen mengerjakan kedua proyek situs yang sudah disepakati sampai akhir. Dalam kurun waktu tersebut, terasa sekali setiap peserta, baik peserta luar maupun staf YLSA sendiri, memiliki semangat kolaborasi dan kerja sama yang baik untuk menyelesaikan proyek Wellness Kristen ini. Dan, selama seminggu itu, diadakan pula Office Hours setiap pkl. 19.00 -- 20.00 WIB agar setiap grup dapat melaporkan perkembangan dari proyek yang dikerjakan.

Akhirnya, setelah selama kurang lebih seminggu bekerja bersama menyusun dan membangun Proyek Wellness Kristen, rangkaian acara #unHACK2021 -- Kolaborasi Wellness ditutup pada Jumat malam, 22 Oktober 2021. Selain penutupan kerja bareng proyek pembuatan situs Wellness Kristen, dalam acara tersebut diumumkan pula pemenang lomba blog dan vlog dengan tema Spiritual Wellness, yang materinya juga akan mengisi The Well, situs hasil proyek kolaborasi Wellness Kristen ini.

Ada banyak pelajaran yang saya pribadi dapatkan dalam rangkaian acara HUT SABDA ke-27 tahun ini. Selain pengetahuan dan praktik menggunakan metode Design Thinking, saya bersama teman-teman SABDA juga dapat berkolaborasi dengan peserta lain yang datang dari berbagai gereja dan daerah, sekaligus semakin diperkaya dengan bahan-bahan bertema Wellness Kristen. Melalui kerja bareng ini, kami dapat melihat Tuhan mengajarkan kami untuk peduli, berempati, dan turut berperan sebagai tubuh Kristus untuk mengambil bagian dalam situasi tidak "well" yang banyak dialami oleh orang percaya dalam masa pandemi dan digital ini.

Acara #unHACK2021 -- Kolaborasi Wellness boleh berakhir. Namun, kerja sama antara YLSA, gereja, dan komunitas orang percaya tidak ikut berakhir. Masih banyak pekerjaan Tuhan di ladang-Nya yang harus diselesaikan dan mesti dikerjakan bersama-sama oleh tubuh Kristus. Karena itu, mari terus berkolaborasi dan bergandeng tangan untuk mewujudkan misi Tuhan bagi gereja-Nya dan dunia.

Ngomong-ngomong, selamat ulang SABDA. Kiranya YLSA makin dipakai oleh Tuhan untuk menjadi berkat bagi masyarakat Kristen Indonesia melalui ladang teknologi-Nya.

To God be the Glory!

Ratapan Yeremia Adalah Ratapan Kita

RSS Blog SABDA - Kam, 07/10/2021 - 11:27

Sebelum Bedah Kitab Ratapan dimulai, saya terlibat dalam proses rekaman promosi kelas ini. Saat membaca kalimat pengantar yang memperkenalkan kelas ini, saya bisa merasakan beban Tuhan atas umat-Nya. Namun, ternyata itu hanya sedikit rasa yang dihadirkan dalam Bedah Kitab Ratapan. Tidak lama setelah itu, saya ditunjuk untuk menjadi admin kelas BK_Ratapan 2, yang beranggotakan 22 peserta.

Pada Rabu, 22 September, kelas pun dimulai dengan perkenalan peserta. Senang rasanya bisa mengenal lebih banyak sahabat dalam sesi perkenalan dalam kelas tersebut. Selaku admin, saya juga bertanggung jawab untuk mengingatkan dan mengiring peserta untuk saling mengenal. Sungguh disayangkan karena pada hari kedua dan ketiga, delapan orang peserta harus dikeluarkan dari grup diskusi karena tiga orang mengalami kesibukan kerja dan lima orang tidak mengirimkan hasil penggalian kitab Ratapan. Rasanya sedih kehilangan delapan orang dalam diskusi.

Diskusi hari demi hari berjalan, peserta saling menimpali sharing dari peserta lainnya. Walau peserta yang saling berbagi, tetapi saya selaku admin pun ikut membaca dan belajar dari hasil penggalian yang mereka berikan. Betapa hancurnya hati Yeremia terhadap bangsa pilihan Tuhan yang melakukan dosa. Dia melihat bagaimana Yerusalem diruntuhkan dan banyak dari mereka dilenyapkan dan dibawa menjadi budak. Tuhan menunjukkan keadilan-Nya atas umat-Nya. Dia membenci dosa dan menentang musuh-musuh yang menghina-Nya. Perlu kita perhatikan bahwa Allah bukan hanya adil, tetapi juga penuh kasih. Dia menghibur umat-Nya dengan menjanjikan keselamatan atas dosa dan perbudakan yang terjadi. Saya juga melihat bagaimana Yeremia, seorang nabi yang dipakai Tuhan pada masa itu, tidak berfokus pada kesukaran yang dia alami. Sebaliknya, hatinya tertuju pada kesengsaraan orang lain/jiwa-jiwa.

Dalam kelas ini, setiap anggota tidak hanya diajak untuk menambah pengetahuan dengan menggali firman Tuhan, tetapi juga melihat relevansi dari hasil penggalian tersebut pada masa kini. Dari relevansi tersebut, saya bisa melihat hati setiap peserta, bukan hanya di BK_Ratapan 2, tetapi juga di grup-grup diskusi lainnya. Saya bisa melihat bagaimana Tuhan menunjukkan betapa banyak gereja Tuhan yang terlelap membiarkan keruntuhan yang sedang terjadi. Mengapa saya menuliskan seperti ini?

Hampir keseluruhan gereja pada masa kini dilakukan secara online karena pandemi. Meski gereja sudah dibuka kembali, banyak umat-Nya sudah tidak merindukan Dia. Bahkan, ibadah online pun terkadang dihadiri sambil makan dan bermain gawai, bahkan tiduran. Betapa hati Tuhan bersedih karena umat-Nya tidak menyadari keilahian-Nya. Banyak yang tidak menyadari bahwa bisa saja pandemi ini terjadi karena murka Allah atas umat-Nya, yang memilih hidup sesuai keinginan mereka, bukan seturut kehendak-Nya, dan tidak mau peduli dengan hati Tuhan.

Saya sendiri menyadari bahwa ratapan untuk suatu bangsa seharusnya dirasakan oleh setiap gereja Tuhan, yaitu kita sendiri. Gereja Tuhan terasa semakin sepi. Banyak orang tidak merasakan ada yang hilang meski dia tidak datang kepada Tuhan atau tidak memberikan diri untuk datang beribadah. Dalam keseharian, kita juga lebih memilih untuk memikirkan masalah-masalah hidup yang kita alami dibandingkan memikirkan segala pekerjaan tangan Tuhan yang dipercayakan kepada kita, yaitu untuk memberikan diri untuk berdoa bagi bangsa dan pemimpin-pemimpin negeri. Meski kita menyadari bahwa setiap orang memiliki penderitaannya masing-masing, ketika kita saling mendoakan, di situlah kita mengakui keberadaan serta kemahakuasaan Tuhan dalam mengatur setiap kehidupan. Namun, kita tidak boleh memungkiri keadaan Yeremia saat melayani Tuhan kala itu, saat menyampaikan Firman kepada bangsanya. Dia tertolak dan kesepian, tetapi tidak menjadi kecewa akan Tuhan, melainkan terus berharap kepada Tuhan akan adanya pemulihan bagi bangsanya.

Jika saat ini kita merasa tertolak atau kesepian, padahal kita bekerja di ladang Tuhan, mari tidak mudah kecewa ataupun menyerah karena untuk segala sesuatu ada masanya. Mari terus bergiat mengerjakan ladang Tuhan meski buahnya tidak terlihat, meski banyak orang tidak menyukainya, karena prinsip injil Kristuslah yang kita tegakkan. Allah kita adalah Allah yang tidak akan menyerah terhadap umat-Nya. Dia akan terus mengingatkan, menegur, dan mengajar hingga umat-Nya menyadari keberadaannya dan berbalik kepada Tuhan. Jangan biarkan ratapan itu hanya sebatas kesedihan, tetapi biarlah ratapan itu dibawa kepada Tuhan.

Jadilah Yeremia-Yeremia yang tidak lekas lelah untuk memperjuangkan umat-Nya dalam doa dan mengajar umat Israel akan kebenaran Firman Allah.

Christian Wellness, Kondisi Penting Bagi Para Pelayan Tuhan

RSS Blog SABDA - Rab, 06/10/2021 - 01:00

Pada hari Selasa, 5 Oktober 2021, program Live Zoom EMDC hadir dengan mengetengahkan topik Spiritual Wellness. Setelah senantiasa menghadirkan isu yang terkait dengan media serta penginjilan, topik kali ini cukup berbeda. Namun, meski tidak berbicara tentang pelayanan media atau penjangkauan, topik ini merupakan isu yang cukup penting untuk dibahas. Mengingat ada banyak pelayan Tuhan yang memiliki persoalan ini di tengah hidup dan pelayanannya. Dengan mengangkatnya, diharapkan setiap peserta dapat semakin terbuka wawasannya tentang Spiritual Wellness, sekaligus mampu menghadapi tantangan yang terkait dengan isu tersebut.

Dibawakan oleh Ibu Yulia Oeniyati, presentasi diawali dengan definisi dari Christian Wellness. Apa sih sebenarnya Christian Wellness itu? Menurut Ibu Yulia, itu bukan sekadar kondisi rohani yang sehat, melainkan kebugaran rohani dari orang-orang percaya untuk dapat bertumbuh dan berbuah. Definisi ini beliau ambil berdasarkan dua ayat Alkitab, yaitu 2 Petrus 3:18 dan Yohanes 15:8. Jadi, Christian Wellness bukan hanya berbicara tentang kondisi rohani orang percaya yang baik-baik saja, melainkan suatu kondisi yang memampukan diri mereka untuk terus bertumbuh dan menghasilkan buah seperti yang Allah kehendaki. Dengan demikian, kita akan menyadari bahwa kita tidak sedang "well" secara spiritual jika kita mengalami kemandekan/stagnansi dalam kerohanian kita dan tidak menghasilkan buah dalam hidup maupun pelayanan kita.

Ada banyak hal yang menyebabkan ketidakbugaran rohani ini bagi orang percaya. Masalah pribadi, keluarga, pelayanan, bahkan pandemi yang sedang kita alami saat ini dapat menjadi penyebabnya. Dan, sedihnya, ada banyak pelayan atau hamba Tuhan yang mengalaminya sehingga menjadi mandek secara spiritual. Meski dari luar tampak baik-baik saja, tetapi sesungguhnya kondisi mereka sangat rentan dan membutuhkan perhatian. Kondisi ini kemudian diperparah dengan ketidakterbukaan mereka untuk membagikan beban, kondisi, atau permasalahannya kepada yang lain. Sebagai pemimpin jemaat, pelayanan, maupun komunitas kristiani, mereka mungkin terbelenggu oleh stigma bahwa pemimpin harus baik-baik saja dan memiliki iman yang lebih. Atau, mungkin ada banyak orang tidak nyaman untuk terbuka dengan persoalannya, karena takut dihakimi, dinilai, atau dibandingkan dengan yang lain. Jika tidak dibereskan, masalah ini dapat mengancam kehidupan pelayanan dan kerohanian pelayan Tuhan dan orang-orang percaya.

Dari sana, peserta diajak untuk memeriksa kebugaran rohaninya dengan spiritual check up. Di dalamnya, terdapat beberapa poin pertanyaan yang perlu dijawab untuk mengetahui seberapa jauh kondisi kebugaran rohani orang percaya. Kita pun perlu membantu orang-orang yang tengah bergumul dengan masalah ini, agar mereka mendapat dukungan yang tepat untuk menyelesaikan permasalahannya. Bagaimana caranya? Bukan dengan menghakimi, menyalahkan, atau memberikan khotbah, melainkan dengan kepedulian, doa, dan perhatian kita. Orang-orang yang tengah mengalami masalah dan tidak sedang bugar rohaninya perlu mendapat sapaan, kasih, dan perhatian kita. Mereka perlu dibantu untuk melihat kasih Tuhan, melalui keberadaan kita.

Agar semakin relate dengan topik yang dipresentasikan, peserta kemudian masuk dalam sesi Breakout Rooms untuk diskusi peserta dalam kelompok-kelompok kecil. Dalam kelompok yang terdiri dari 4-5 orang, peserta diajak untuk menjawab dua pertanyaan ini kepada peserta yang lain: how are you? dan how's your ministry?. Dalam sesi ini, tiap peserta dapat menceritakan kondisi kerohaniannya saat ini sekaligus mengetahui masalah pribadi maupun pelayanan yang tengah dialami oleh peserta lain. Sesi yang hanya berlangsung sekitar 10 menit ini kemudian dilanjutkan dengan presentasi perwakilan kelompok dalam grup besar. Melaluinya, kami dapat melihat bahwa terdapat beberapa pergumulan yang sedang dialami oleh peserta, sehingga kami diajak turut mendukung mereka dalam doa.

Ada banyak pelajaran yang saya dapat melalui EMDC Zoom live kali ini. Selain memahami lebih dalam tentang isu Christian Wellness, saya juga belajar tentang bagaimana kita bisa mengalami kondisi tidak "well" dalam kerohanian tanpa disadari. Spiritual check up menjadi alat bantu yang berguna dalam menunjukkan bagaimana sesungguhnya kondisi kerohanian kita. Sebab, sebagai orang Kristen, kita tidak selalu akan mengalami grafik yang terus naik dalam kehidupan kerohanian kita. Penting untuk mengetahui kondisinya secara tepat, agar kita dapat mengevaluasi diri, berubah, berbenah, dan terus bertumbuh serta menghasilkan buah dalam hidup dan pelayanan. Tidak lupa, kita juga perlu peka dan peduli pada mereka yang tengah mengalami persoalan ini agar mereka memperoleh dukungan yang diperlukan untuk terus maju.

Mari kita terus memeriksa kondisi kerohanian kita, berbagi beban dan pergumulan, serta mengalami pertolongan Tuhan yang memammpukan kita untuk terus bertumbuh dan berdampak bagi kerajaan-Nya.

Kaum Awam “Membangun” Situs, Bisa Tidak Ya?

RSS Blog SABDA - Sen, 04/10/2021 - 12:44

 

Sebanyak 14 staf SABDA berkumpul di ruang training pada Jumat, 10 September 2021, untuk mendapat penjelasan mengenai training membuat situs yang bisa diikuti oleh orang-orang dengan berbagai latar belakang, tidak harus dari bidang IT. Training ini diadakan oleh Yayasan Kalaam Media, yang merupakan penyedia layanan pembuatan web dan hosting untuk situs web multibahasa dan aplikasi seluler. Pelayanan ini bertujuan untuk memungkinkan akses digital ke konten literasi, budaya, dan spiritual bagi anggota komunitas dalam berbagai bahasa di seluruh dunia. Bagi saya, ini menjadi hal baru karena saya belum pernah mengenal Yayasan Kalaam Media.

Bersyukurnya dalam mengerjakan situs ini, kami dibagi menjadi dua kelompok, yaitu tim cewek dan tim cowok, yang masing-masing terdiri dari tujuh orang. Pertemuan awal ini dimulai dengan perkenalan Kalaam Media dan pelayanan yang dikerjakannya. Sistemnya disebut Wildfire. Rasanya mustahil untuk membangun sebuah situs tanpa seorang ahli IT. Karena itu, saya sempat ragu apakah saya dan teman-teman akan bisa membuat situs dalam waktu singkat. Hal ini mengingatkan saya tentang bahtera Nuh yang dibangun dengan rasa percaya kepada Tuhan. Nuh pada awalnya tidak tahu seperti apa bentuk sebuah bahtera yang akan dia bangun. Dia hanya percaya dan membangun sebuah bahtera yang begitu kuat dan tangguh. Bukan untuk memamerkan kemampuannya, melainkan untuk menyatakan betapa hebatnya hikmat Tuhan yang disampaikan kepada Nuh. Keraguan itu pun memudar saat David Johnson (trainer dari Kalaam yang berasal dari California) mengajari kami cara membuat sebuah situs.

Untuk memahami pengerjaan situs, kami diperkenalkan dengan beberapa situs yang bisa menjadi gambaran/contoh/inspirasi dalam membuat situs, istilah umum dalam situs, dan seni mendesain situs. Kemudian, kami diajarkan bagaimana mengatur pembagian tugas dan merencanakan pengerjaannya. Penjelasan yang diberikan sangat jelas dan akurat sehingga tidak sulit bagi kami untuk mengatur strategi. Setelah setiap kelompok memiliki beberapa ide untuk membuat situs, kami mengerjakannya berdua-dua. Mengapa? Karena setiap kelompok akan memiliki user untuk membuat situs sendiri sampai mendengarkan penjelasan dari David. Strategi pelatihan ini menurut saya sangat baik sehingga tidak ada satu pun dari kami hanya menjadi orang yang ikut-ikutan, melainkan benar-benar saling mencoba dan memahami sistem Wildfire.

Pada pertemuan kedua, kami membuat halaman web, memasukan gambar ke dalam situs, cara mengedit halaman template, dan membuat halaman baru serta menu-menu yang ditawarkan oleh Wildfire. Semua hal itu dijelaskan dengan begitu baik, dan pertanyaan dari peserta training sangat menolong lain untuk membangun situs ini. Untuk memastikan peserta mencoba mengerjakan dan mengenali situs, mereka menyediakan video tutorial dan tugas-tugas yang membantu kita mengetahui sudah sampai mana kita menguasai situs. Tugas-tugas itu kami kerjakan pada hari Selasa dan Rabu. Pada Kamis, kami harus mengikuti Zoom Meeting dengan tim Kalaam dan peserta training lainnya. Banyak pertanyaan diajukan dan kami mendengarkannya sembari mengerjakan situs. Kadang ada beberapa hal yang tidak kami pahami, bersyukur ada Kak Hadi (salah seorang staf ITS SABDA) yang membantu kami. oh ya, nama situs yang kami bangun adalah "Spiritual Wellness". Walau "bangunan" situs belum kokoh, tetapi kami bisa melihat ada harapan situs ini akan baik. Sebab, kami bisa membangun situs tanpa menghafalkan rumus coding atau menguasai bahasa pemrograman yang sangat asing bagi saya.

Mengikuti training ini membuat kami kagum. Betapa baiknya mereka yang bersedia menyediakan training untuk menolong pelayan Tuhan di Asia untuk membangun sebuah situs. Kami yang sangat awam dengan situs akhirnya bisa mendesain situs hanya dalam waktu seminggu. Seminggu kemudian, kami mendesain situs dalam kelompok besar yang terdiri dari kelompok cewek dan cowok. Tim kami (cewek) akhirnya mengatur strategi untuk mengisi situs yang kami buat, dengan berbagai pertimbangan dan diskusi. Kami harus mengerjakannya sebelum hari Kamis tiba. Teman-teman bersemangat mengerjakan situs ini hingga situs ini memiliki beberapa kategori/menu.

Saat “sesi show and tell”, Mbak Pingkan mewakili tim kami menyampaikan penjelasan hasil dan progress situs dalam bahasa Inggris. Penjelasan dipaparkan dengan sangat baik, dan ada rasa lega sekaligus gairah yang membuat saya tidak sabar untuk melihat hasil jadi dari situs yang sedang kami kerjakan. Ya, bahtera yang kami bangun sudah mulai terlihat bentuknya. Namun, apa yang kami kerjakan masih harus dilengkapi dan diselesaikan. Doakan pengerjaan situs ini supaya dapat diselesaikan dengan baik dan menjadi wadah yang tepat untuk menolong setiap orang percaya memiliki “kesehatan rohani” yang baik. Sekian sharing dari saya. Tuhan Yesus memberkati.

Kumpulan Sorotan Baru pada Elisabeth Elliot

RSS Wanita - Sen, 04/10/2021 - 10:53

Berikut ini hal yang dapat kita pelajari tentang kehidupan dan karya Elisabeth Elliot dari dua tulisan yang rilis sebelumnya tidak diterbitkan.

Bertahun-tahun yang lalu, saya perlu menulis biografi singkat Elisabeth Elliot sebagai bagian dari sebuah proyek yang lebih besar. Saya mencari buku-buku biografi panjang yang dapat saya ambil untuk memperoleh informasi tentang hidupnya. Hingga, sampailah pada kenyataan yang mengejutkan bahwa, terlepas dari status Elliot sebagai salah satu orang Kristen Amerika yang paling terkenal pada abad ke-20, tidak ada biografi yang tersedia tentang dirinya. Karena itu, untuk menyelesaikan proyek saya, saya harus beralih kepada sumber-sumber primer.

Elliot suka membaca biografi. Ia sendiri menulis tiga buku biografi. Ia pernah berkata, "Kita membaca biografi untuk keluar dari diri kita sendiri dan masuk ke dalam kehidupan orang lain untuk memahami peristiwa menegangkan yang membentuk, memotivasi, dan muncul dari kehidupan lain tersebut." Saya menduga alasan itulah yang juga membuat kita menulis biografi. Saya menemukan bahwa setelah sketsa biografi singkat ditulis, saya terus memikirkan Elliot sembari merenungkan hal-hal yang telah "membentuk, memotivasi, dan muncul dari" kehidupannya. Suatu waktu, selama proses meneliti salinan buruk artikel majalah lama yang diperoleh melalui pinjaman antarperpustakaan, saya telah terpancing dan terpikat oleh proses mencoba "memahami ... kehidupan lain itu."

Gambaran yang Lebih Lengkap

Sulit untuk menulis tentang kehidupan. Tidak ada yang memiliki gambaran lengkap, bahkan seseorang yang memiliki hidupnya sendiri. Orang tua saya, yang telah mengenal saya lebih lama daripada saya sendiri, melihat saya dengan cara yang tidak pernah saya bisa. Hanya saudara-saudara saya yang mengetahui rasanya tumbuh bersama saya. Setiap teman saya mengenal saya dengan cara yang sedikit berbeda karena tanggapan saya terhadap kepribadian mereka tidaklah sama. Dari definisinya, saya bahkan hanya bisa berharap untuk mengenal diri saya ketika hanya sendirian. Masing-masing "diri" ini adalah satu sisi dari keseluruhan pribadi.

Salah satu tugas penulis biografi adalah mengarahkan lampu panggung pada sisi tertentu, demikian dikatakan, sehingga memunculkan sebanyak mungkin segi kehidupan. Dan, setiap sorotan yang baru memungkinkan kita melihat lebih banyak lagi. Jadi, saya telah menantikan penerbitan dari kumpulan baru tulisan Elliot. Tulisan tersebut disusun oleh putrinya, Valerie Elliot Shepard, yang dirilis dengan judul "Devotedly: The Personal Letters and Love Story of Jim and Elisabeth Elliot."

Saya tidak kecewa. Shepard menggabungkan kutipan dari berbagai surat dan jurnal orang tuanya, foto-foto yang indah, dan kenangan serta refleksinya sendiri untuk menghasilkan buku yang menyenangkan dan menggugah pikiran. Dengan mengintegrasikan bagian-bagian dari sumber bacaan-bacaan yang tidak tersedia untuk pembelajar, melalui tanggapannya sendiri kepada mereka sebagai seseorang yang mengenal baik Elliot dalam waktu yang lama, ia memancarkan terang yang berharga pada kedua orang tuanya dan pada hubungan mereka.

Banyak di antara garis besar yang mendasar dari buku ini akan akrab bagi pembaca "This Strange Ashes"(1975), "The Journals of Jim Elliot"(1978), dan "Passion and Purity" (1984) karya Elliot. Namun, tulisan Elliot cenderung pada bentuk esai sastra dibandingkan naratif murni. Shepard mengisi celah untuk memberi kita sebuah kisah.

"Kita membaca biografi untuk keluar dari diri kita sendiri dan masuk ke dalam kehidupan orang lain untuk memahami peristiwa menegangkan yang membentuk, memotivasi, dan muncul dari kehidupan lain tersebut." Elisabeth Elliot

Dengan penuh dedikasi, Elliot mengikuti Betty Howard muda karena, begitu juga dirinya, lulus dari perguruan tinggi lalu masuk di program linguistik musim panas dan sekolah Alkitab. Kemudian, melalui berbagai tugas singkat sebagai misionaris di negaranya, guru pidato, tutor, kasir pusat perbelanjaan, penasihat kamp, dan asisten kantor, ia kemudian menemani Howard ke Ekuador dan memulai pekerjaan linguistiknya di sana. Shepard menempatkan kehidupan dan hubungan ibunya dengan Jim Elliot dalam konteks sejarah (bayangkan melakukan argumen dengan pasangan Anda melalui surat yang membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk sampai!). Selain itu, menempatkan mereka dengan latar belakang yang sangat berbeda dari keluarga Howard dan Elliot.

Kita melihat Elliot yang sedang bertumbuh dan menjadi seorang gadis remaja. Ia tidak percaya diri dengan penampilannya dan berusaha menyembunyikan tinggi badannya yang berpostur buruk. Seorang mahasiswi yang dengan cermat menjaga nuraninya dan berkonflik dengan keinginannya akan cinta romantis. Seorang dewasa muda yang tengah mengembangkan dasar-dasar intelektual dan teologisnya sembari menunjukkan kacamata hitam dan kulit cokelatnya yang indah. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari: Nama situs : Christianity Today Alamat situs : https://www.christianitytoday.com/ct/2019/march-web-only/elisabeth-elliot-devotedly-suffering-never-nothing.html Judul asli artikel : A New Set of Spotlights on Elisabeth Elliot Penulis artikel : Lucy S. R. Austen

Pengalaman Mengikuti Training CyberSecurity Awareness

RSS Blog SABDA - Jum, 01/10/2021 - 21:23

Shalom, Sahabat SABDA. Kali ini, saya akan berbagi tentang pengalaman saya selama mengikuti training "CyberSecurity Awareness -- Apakah Anda Bisa Online dengan Aman?" Pelatihan ini diadakan pada 21 September 2021 dan tentunya diikuti oleh semua staf SABDA. Sebagai yayasan yang bergerak dalam bidang digital, topik-topik seperti ini menjadi topik yang penting untuk diketahui oleh semua staf SABDA. Lebih dari itu, sebenarnya semua orang juga perlu 'melek' terhadap keamanan digital dan kecerdasan digital. Mengingat dunia sudah serba digital, sangat penting bagi kita untuk mengetahui ancaman-ancaman dunia digital dan bagaimana caranya agar aman berselancar di dunia maya.

Pelatihan ini dibawakan oleh Pak Kalpin, yang pernah menyampaikan topik yang sama juga di SABDA Live seri Fun Talks dengan judul "Cyber Security Awareness: Aman Online". Bagi saya, semua yang disampaikan oleh Pak Kalpin, mulai dari keamanan informasi, kasus kebocoran data hingga dampaknya, merupakan materi daging, berbobot, dan penting untuk menjadi perhatian. Meski ada juga materi yang terkesan teknis, seperti saat beliau menyampaikan tip-tip untuk keamanan komputer, tetapi dari semuanya itu, saya sangat terberkati dan semakin sadar akan pentingnya keamanan digital.

Pak Kalpin memulai presentasinya dengan memperkenalkan diri sekaligus menunjukkan pengalaman beliau berkecimpung di dunia keamanan siber selama ini. Sangat terlihat bahwa beliau merupakan ahli di bidangnya, dan hal ini membangun 'trust' peserta training terhadap pembicara dan materi yang akan dibawakan. Saya juga salut dengan Pak Kalpin yang mau menyediakan diri untuk membantu memberikan konsultasi pribadi terkait keamanan siber bagi gereja atau organisasi Kristen yang mengikuti training saat itu. Kesuksesan dan bakat beliau tidak membuat hati melayaninya padam. Semoga semakin banyak gereja dan organisasi Kristen terbantu, khususnya terkait keamanan siber.

Setelah itu, Pak Kalpin melanjutkan materinya terkait keamanan informasi. Di bagian ini, peserta diajak untuk melihat betapa pentingnya melindungi kerahasiaan data pribadi, integritas, dan ketersedian informasi. Sebab, jika kita tidak peduli dengan data-data tersebut, peluang menjadi korban dari kejahatan siber semakin besar. Beberapa ancaman yang menyertai user di dunia digital, antara lain: malware, spam, phishing, pencurian data, dan social engineering. Semua ancaman itu membawa dampak yang merugikan, seperti: kerugian finansial, privasi, nama baik, atau bahkan menjadi ancaman fisik dan psikologis.

Setelah mengerti bahayanya data pribadi yang bocor atau dimanfaatkan oleh oknum jahat, saya menjadi makin khawatir dan gundah-gulana untuk menggunakan internet. Di satu sisi, saya khawatir dengan data saya yang bisa dicuri dan/atau dimanfaatkan, tetapi di sisi lain, saya juga perlu mengakses segala fasilitas internet, mulai dari kesehatan, keuangan, dan hiburan. Untungnya, Pak Kalpin menjawab kekhawatiran saya dengan memberikan tip-tip terkait keamanan data, salah satunya terkait pembuatan, penggunaan, dan pengelolaan password. Pertama, jangan menggunakan password yang sama untuk beberapa akun. Kedua, usahakan untuk membuat password dengan kombinasi karakter angka, huruf, dan simbol agar lebih aman. Ketiga, gunakan program password manager agar password terorganisasi dengan baik dan kita tidak harus menghafal semua password.

Selain itu, memperhatikan perlindungan akun media sosial juga tidak kalah penting, misalnya dengan mengaktifkan two-factor authentication. Tip-tip lain yang beliau bagikan juga mencakup melindungi komputer sampai ke tingkat BIOS dengan memberikan password hingga berbagai konfigurasi untuk mengamankan akses jaringan. Akan tetapi, saya kurang mengerti hal-hal terkait jaringan.

Training kali ini sungguh mengingatkan saya kembali akan pentingnya membangun kesadaran diri untuk lebih peduli dengan keamanan siber, yaitu dengan melakukan berbagai upaya untuk membatasi celah oknum jahat masuk untuk melakukan kejahatan digital. Selain itu, saya menjadi lebih sadar tentang bagaimana harus mengasihi diri sendiri dengan memperhatikan data yang saya miliki, apalagi data yang mencerminkan Sang Pemilik data. Artinya, sebagai orang percaya, data yang kita kelola/hasilkan perlu diperlakukan dengan berhikmat dan itu menjadi bagian dari tanggung jawab kita di tengah dunia digital. Merespons hal ini, mungkin hal kecil yang akan saya terapkan adalah mulai memperhatikan keamanan data pribadi dan cara berperilaku di media sosial, terutama dalam berkomentar, serta selalu menjaga dan meningkatkan terus digital wellness yang dimiliki.

Akhir kata, semoga pembaca semakin sadar dan mulai melek keamanan digital ya! Shalom.

Kecerdasan digital: https://apps4god.org/app-train/app-train-hut-ke-24-yayasan-lembaga-sabda-menggelar-seminar-dq-digital-quotient
"Cyber Security Awareness: Aman Online: https://live.sabda.org/fun-talks.php?id=cyber_security_awareness

#SABDA27: Celebration of God’s Faithfulness!

RSS Blog SABDA - Jum, 01/10/2021 - 14:22

Puji Tuhan! Puji Tuhan!

Seruan itu bahkan tak cukup untuk menyatakan ucapan syukur saya dan seluruh pelayan Tuhan di SABDA memasuki Oktober 2021 ini! Bulan ini menjadi momen istimewa dalam tahun 2021 karena SABDA merayakan ulang tahunnya yang ke-27 kalinya (#SABDA27)! Tidak terhitung kebaikan dan kesetiaan Tuhan dalam memimpin kami melakukan pekerjaan-Nya, khususnya dalam dua tahun terakhir ini.

COVID-19 juga cukup memengaruhi SABDA dalam menjalankan pelayanannya. Kami harus menyesuaikan rencana kerja agar tetap relevan dengan perkembangan yang terjadi. Bersyukur karena hikmat dan bijaksana dari Tuhan mendasari setiap keputusan yang harus kami ambil dengan cepat dan tepat. Kami juga bersyukur karena pemeliharaan dan kesetiaan Tuhan nyata melalui setiap dukungan untuk pelayanan SABDA. Oleh karena itu, dalam event #SABDA27 ini, kami mengadakan Celebration of God's Faithfulness yang kami kemas dalam berbagai event. Event utamanya, sekaligus tema #SABDA27, adalah Wellness and Family/Ministry!

Sebagai ungkapan syukur kami, berikut ini adalah video ucapan syukur staf SABDA dalam rangka #SABDA27. Selamat menyimak dan kiranya menjadi berkat!

Video Ucapan Syukur Staf SABDA

Selamat Ulang Tahun untuk SABDA yang ke-27!

27 tahun bukan sekadar hitungan usia!
27 tahun rajutan cerita tentang Tuhan, Sang Pemilik Masa.
27 tahun berkomitmen mempersembahkan teknologi bagi kemuliaan Allah,
menjawab tantangan "Apa peran teknologi bagi Kerajaan Allah?"

Sang Arsitek Agung merancang segalanya, membuat sesuatu yang vital,
dimulai dengan membangun "bahtera SABDA", mengarungi "samudra digital".
Ketika "tsunami digital" datang, menghantam dengan keras,
Tuhan menopang kami agar tak terhempas!

Berselancar di tengah gelombang tsunami digital yang ganas, berkomitmen menjadi fasilitator, katalisator, dan infrastruktur bagi tubuh Kristus,
agar tetap lancar bersahabat, dekat, erat dengan SABDA-Nya yang berotoritas.

Lalu, pandemi datang memorakporandakan tatanan hidup lama,
tetapi Tuhan memimpin dan mendorong kami untuk bergerak cepat,
ketika semua tak lagi sama,
di tengah perubahan yang pesat.

Kesetiaan Tuhan nyata dalam panggilan-Nya bagi kami,
menjadi e-servant yang tegar dan berenergi,
agar tubuh Kristus tetap bugar dalam "tsunami digital" dan pandemi.

Kami tidak dapat melakukannya sendiri,
sebab pekerjaan Tuhan bukan untuk dilakukan seorang diri!

Karena itu, mari berkolaborasi guna menghadirkan "wellness" bagi keluarga, pelayanan, dan dunia di tengah tsunami digital dan pandemi ini bersama TUHAN!

Mari rayakan kesetiaan Tuhan!

Pages