RSS Wanita

Tinggalkan Komentar


Subscribe to RSS Wanita feed
Updated: 9 hours 23 min ago

Kumpulan Sorotan Baru pada Elisabeth Elliot

Sen, 04/10/2021 - 10:53

Berikut ini hal yang dapat kita pelajari tentang kehidupan dan karya Elisabeth Elliot dari dua tulisan yang rilis sebelumnya tidak diterbitkan.

Bertahun-tahun yang lalu, saya perlu menulis biografi singkat Elisabeth Elliot sebagai bagian dari sebuah proyek yang lebih besar. Saya mencari buku-buku biografi panjang yang dapat saya ambil untuk memperoleh informasi tentang hidupnya. Hingga, sampailah pada kenyataan yang mengejutkan bahwa, terlepas dari status Elliot sebagai salah satu orang Kristen Amerika yang paling terkenal pada abad ke-20, tidak ada biografi yang tersedia tentang dirinya. Karena itu, untuk menyelesaikan proyek saya, saya harus beralih kepada sumber-sumber primer.

Elliot suka membaca biografi. Ia sendiri menulis tiga buku biografi. Ia pernah berkata, "Kita membaca biografi untuk keluar dari diri kita sendiri dan masuk ke dalam kehidupan orang lain untuk memahami peristiwa menegangkan yang membentuk, memotivasi, dan muncul dari kehidupan lain tersebut." Saya menduga alasan itulah yang juga membuat kita menulis biografi. Saya menemukan bahwa setelah sketsa biografi singkat ditulis, saya terus memikirkan Elliot sembari merenungkan hal-hal yang telah "membentuk, memotivasi, dan muncul dari" kehidupannya. Suatu waktu, selama proses meneliti salinan buruk artikel majalah lama yang diperoleh melalui pinjaman antarperpustakaan, saya telah terpancing dan terpikat oleh proses mencoba "memahami ... kehidupan lain itu."

Gambaran yang Lebih Lengkap

Sulit untuk menulis tentang kehidupan. Tidak ada yang memiliki gambaran lengkap, bahkan seseorang yang memiliki hidupnya sendiri. Orang tua saya, yang telah mengenal saya lebih lama daripada saya sendiri, melihat saya dengan cara yang tidak pernah saya bisa. Hanya saudara-saudara saya yang mengetahui rasanya tumbuh bersama saya. Setiap teman saya mengenal saya dengan cara yang sedikit berbeda karena tanggapan saya terhadap kepribadian mereka tidaklah sama. Dari definisinya, saya bahkan hanya bisa berharap untuk mengenal diri saya ketika hanya sendirian. Masing-masing "diri" ini adalah satu sisi dari keseluruhan pribadi.

Salah satu tugas penulis biografi adalah mengarahkan lampu panggung pada sisi tertentu, demikian dikatakan, sehingga memunculkan sebanyak mungkin segi kehidupan. Dan, setiap sorotan yang baru memungkinkan kita melihat lebih banyak lagi. Jadi, saya telah menantikan penerbitan dari kumpulan baru tulisan Elliot. Tulisan tersebut disusun oleh putrinya, Valerie Elliot Shepard, yang dirilis dengan judul "Devotedly: The Personal Letters and Love Story of Jim and Elisabeth Elliot."

Saya tidak kecewa. Shepard menggabungkan kutipan dari berbagai surat dan jurnal orang tuanya, foto-foto yang indah, dan kenangan serta refleksinya sendiri untuk menghasilkan buku yang menyenangkan dan menggugah pikiran. Dengan mengintegrasikan bagian-bagian dari sumber bacaan-bacaan yang tidak tersedia untuk pembelajar, melalui tanggapannya sendiri kepada mereka sebagai seseorang yang mengenal baik Elliot dalam waktu yang lama, ia memancarkan terang yang berharga pada kedua orang tuanya dan pada hubungan mereka.

Banyak di antara garis besar yang mendasar dari buku ini akan akrab bagi pembaca "This Strange Ashes"(1975), "The Journals of Jim Elliot"(1978), dan "Passion and Purity" (1984) karya Elliot. Namun, tulisan Elliot cenderung pada bentuk esai sastra dibandingkan naratif murni. Shepard mengisi celah untuk memberi kita sebuah kisah.

"Kita membaca biografi untuk keluar dari diri kita sendiri dan masuk ke dalam kehidupan orang lain untuk memahami peristiwa menegangkan yang membentuk, memotivasi, dan muncul dari kehidupan lain tersebut." Elisabeth Elliot

Dengan penuh dedikasi, Elliot mengikuti Betty Howard muda karena, begitu juga dirinya, lulus dari perguruan tinggi lalu masuk di program linguistik musim panas dan sekolah Alkitab. Kemudian, melalui berbagai tugas singkat sebagai misionaris di negaranya, guru pidato, tutor, kasir pusat perbelanjaan, penasihat kamp, dan asisten kantor, ia kemudian menemani Howard ke Ekuador dan memulai pekerjaan linguistiknya di sana. Shepard menempatkan kehidupan dan hubungan ibunya dengan Jim Elliot dalam konteks sejarah (bayangkan melakukan argumen dengan pasangan Anda melalui surat yang membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk sampai!). Selain itu, menempatkan mereka dengan latar belakang yang sangat berbeda dari keluarga Howard dan Elliot.

Kita melihat Elliot yang sedang bertumbuh dan menjadi seorang gadis remaja. Ia tidak percaya diri dengan penampilannya dan berusaha menyembunyikan tinggi badannya yang berpostur buruk. Seorang mahasiswi yang dengan cermat menjaga nuraninya dan berkonflik dengan keinginannya akan cinta romantis. Seorang dewasa muda yang tengah mengembangkan dasar-dasar intelektual dan teologisnya sembari menunjukkan kacamata hitam dan kulit cokelatnya yang indah. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari: Nama situs : Christianity Today Alamat situs : https://www.christianitytoday.com/ct/2019/march-web-only/elisabeth-elliot-devotedly-suffering-never-nothing.html Judul asli artikel : A New Set of Spotlights on Elisabeth Elliot Penulis artikel : Lucy S. R. Austen

Apa Itu Gosip?

Rab, 22/09/2021 - 10:49

Mengungkap Dosa yang Umum dan Berbahaya

Anda tentu tidak ingin menjadi tukang gosip. Tidak ada untungnya menjadi bagian dari gosip. Gosip melukai tetangga, memecah belah teman, serta merusak reputasi dan hubungan. Alkitab melabeli gosip sebagai hal tidak dapat dipercaya dan mengganggu (Amsal 11:13; 20:19; 26:20; 1 Timotius 5:13) -- bahkan patut dihukum mati (Roma 1:29, 32). Dalam kondisi terbaik Anda dalam Kristus, Anda tentu tidak ingin menjadi salah satunya.

Namun, terlalu sering, Anda dan saya ingin bergosip. Bergosip bisa menyenangkan dan membuat ketagihan serta memberikan ledakan singkat 'guilty pleasure' (secara harfiah 'kesenangan bersalah', yaitu kegiatan atau hal yang kita gemari, tetapi kita tidak terlalu bangga untuk mengakui bahwa kita menyukainya - Red.). Kitab Amsal menyamakan kata-kata gosip dengan "potongan makanan", suguhan lezat yang menjanjikan kesenangan bagi mereka yang memanjakan diri (Amsal 18:8; 26:22). Kita bosan dan ingin menghibur diri dengan mengemil cerita memalukan dari kehidupan orang lain. Atau, kita bangga karena kita mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain dan ingin memamerkan berita rahasia kita. Atau, kita sedang marah dan mendambakan kepuasan dari pembunuhan karakter dari jauh, menembak jitu musuh kita saat mereka bahkan tidak tahu bahwa mereka berada dalam bahaya. Gosip bisa menjadi hal yang sulit ditolak.

Namun, gosip tidak hanya sulit untuk ditolak; itu juga sulit didefinisikan. Kita tidak selalu tahu kapan kita menjadi tukang gosip. Gosip menyelinap ke dalam percakapan kita, dan definisinya terlewatkan oleh kita. Lantas, apa sebenarnya yang membuat gosip menjadi gosip? Kita membutuhkan panduan.

Apa Itu Gosip?

Alkitab tidak memberikan definisi gosip di satu tempat. Sebaliknya, Alkitab menggambarkan gosip dalam tindakannya dan secara erat mengaitkannya dengan karakter orang-orang yang berpartisipasi dalam dosa yang menggiurkan ini. Alkitab sering menggunakan kata gosip untuk menggambarkan seseorang lebih dari sekedar pola komunikasi.

Cara saya meringkas ajaran Alkitab tentang topik ini adalah dengan mengatakan bahwa dosa bergosip adalah membawa kabar buruk di belakang seseorang yang timbul dari hati yang buruk. Definisi fungsional ini mempertimbangkan tindakan bergosip itu sendiri, isi dari komunikasinya yang korup itu, situasi ketika hal itu terjadi, dan mungkin yang paling penting, motivasi orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Membawa Kabar Buruk

Gosip adalah kebalikan dari Injil. Yang terdapat pada mulut dan telinga tukang gosip adalah sepenggal kabar buruk, bukan kabar baik. Kabar buruk ini -- kisah tentang dosa atau rasa malu orang lain -- bisa berdampak buruk setidaknya dalam dua cara.

Informasi buruk. Ceritanya bisa saja salah, dan jika Anda mengetahui itu sebelumnya, maka menyebarkannya bukan lagi sekadar tindakan gosip, melainkan fitnah (Imamat 19:16; Mazmur 15:3; Amsal 19:5). Atau, Anda mungkin hanya mengira bahwa ceritanya benar (mungkin tanpa alasan yang jelas), tetapi ternyata salah -- hanya desas-desus, rumor, setengah kebenaran (Amsal 18:13, 17).

Kabar buruk tentang seseorang. Anda mungkin pernah diajari bahwa "jika itu benar, itu bukan gosip." Namun, membagikan kebenaran yang memalukan tentang orang lain secara tidak perlu bisa menjadi gosip. Salah satu frasa alkitabiah untuk jenis perkataan ini adalah "laporan tentang kejahatan," seperti yang dibawa Yusuf terhadap saudara-saudaranya (Kejadian 37:2). Hanya karena seseorang benar-benar melakukan kesalahan tidak berarti kita perlu, atau segera, membicarakannya dengan orang lain.

Pada kesempatan lain, kita mungkin menyebarkan cerita jahat tentang apa yang mungkin akan menimpa orang lain. Suatu hari, ketika Raja Daud sakit, musuh-musuhnya bertindak prihatin ketika mereka mengunjunginya, tetapi kemudian diam-diam merayakan kejatuhannya yang tidak akan lama lagi dan menyebarkan cerita bahwa dia akan mati (Mazmur 41:5-8). Itu juga merupakan gosip.

Jadi, dalam benak Anda, ketika percakapan mulai mengarah pada topik membicarakan orang lain, Anda bisa bertanya kepada diri sendiri, "Apakah cerita ini benar? Bagaimana saya bisa tahu?" "Apakah saya berhak menceritakan hal ini? Apakah dia harus memberitahuku?" "Apakah cerita ini berita buruk?"

Di Belakang Seseorang

Tukang gosip membawa kabar buruk ini di belakang korbannya. Menurut definisi, gosip hanya muncul jika subjek cerita itu tidak ada. Jauh lebih mudah dan lebih menarik untuk mendiskusikan orang lain ketika mereka tidak hadir.

Gosip bersifat rahasia, tersembunyi, sembunyi-sembunyi, mencuri-curi, licik (Amsal 25:23; Mazmur 101:4-5). Versi Alkitab ESV sering menyebut tukang gosip sebagai "pembisik", yang menekankan sifat rahasia dari dosa ini (Amsal 16:28; 18:8; 26:20, 22). Terkadang, Anda bisa mendapati diri Anda bergosip ketika Anda tiba-tiba merendahkan suara Anda, melihat sekeliling untuk melihat siapa yang mungkin mendengarkan, dan melangkah lebih dekat ke teman Anda sebelum berbicara.

Kita dapat bertanya kepada diri sendiri pada saat-saat seperti itu, "Apakah saya akan menceritakan kisah ini jika dia ada di sini? Mengapa? Mengapa tidak?" "Apakah saya menyembunyikan percakapan ini dari seseorang? Apakah saya malu karenanya?" "Apakah saya ingin orang lain membicarakan saya seperti ini jika saya tidak ada di ruangan ini?"

Tentu, ada kalanya kita dapat, dan bahkan harus, berbicara tentang orang yang tidak hadir. Anda tidak sedang bergosip ketika Anda menelepon polisi tentang kejahatan yang Anda saksikan, ketika Anda dengan sungguh-sungguh mencari nasihat tentang bagaimana menjalin relasi dengan seseorang dalam hidup Anda, atau ketika Anda dengan hati-hati memperingatkan orang lain tentang seseorang yang berbahaya (2 Timotius 4:14-15; Roma 16:17; Filipi 3:2). Kehadiran gosip sangat bergantung pada bagaimana Anda berbicara tentang orang yang tidak hadir dan mengapa Anda membicarakan mereka. Itu membawa kita ke inti gosip.

Timbul dari Hati yang Buruk

Gosip muncul ketika ada yang tidak beres dengan kita, pada inti penyembahan keberadaan kita.

Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita bahwa semua perkataan yang kita ucapkan, baik dan buruk, timbul dari melimpahnya kebaikan atau kejahatan yang tersimpan dalam hati kita (Matius 12:33-37). Hal yang sama berlaku terhadap alasan mengapa kita ingin mendengarkan gosip. Dua hal yang cocok akan saling tertarik. Kita tertarik pada kejahatan karena kejahatan sudah ada dalam diri kita (Amsal 17:4, Matius 15:18-19).

Oleh karena itu, pertanyaan paling penting yang harus muncul dalam benak Anda ketika Anda berbicara tentang siapa pun yang tidak hadir adalah pertanyaan kunci tentang motivasi dan niat: "Mengapa saya mengatakan ini?" "Apakah kata-kata ini penuh kasih terhadap orang yang saya ajak bicara?" "Apakah kata-kata ini penuh kasih terhadap orang yang kita bicarakan?"

Motivasi hati kita tidak selalu jelas dan, pada sisi kemuliaan ini, hal itu akan selalu bercampur (Amsal 20:5). Anda mungkin tidak dapat melihat motif Anda sendiri pada saat yang panas itu. Kadang-kadang, Anda perlu meninjaunya kembali dengan doa yang sungguh-sungguh, atau bahkan meminta seorang teman yang bijak untuk membantu Anda melakukan analisis mendalam terhadap percakapan sebelumnya.

Gosip muncul ketika ada yang tidak beres dengan kita, pada inti penyembahan keberadaan kita.

Beberapa motivasi buruk lebih jahat dari yang lain. Gosip fitnah yang mengarah pada balas dendam lahir dalam kedengkian dan mengancam untuk menenggelamkan seluruh persekutuan (2 Korintus 12:19-13:2; 3 Yohanes 9-10). Gosip seperti itu lebih buruk daripada menjadi orang sibuk yang terlalu tertarik dengan urusan orang lain (2 Tesalonika 3:11; 1 Petrus 4:15). Namun, Yesus mengatakan bahwa kita akan memberikan pertanggungjawaban atas setiap perkataan sia-sia yang kita ucapkan (Matius 12:36), tidak hanya atas perkataan kita yang jahat.

Syukurlah, motivasi kita juga bisa baik dan penuh kasih. Tidak semua percakapan tentang orang lain, bahkan tentang dosa-dosa mereka, timbul dari hati yang buruk. Tidak mustahil bagi kita untuk berbicara jujur tentang kabar buruk orang lain demi kebaikan mereka dan dengan berharap bahwa keadilan akan ditegakkan. Yesus melakukannya tanpa pernah terpeleset ke dalam gosip, dan Dia akan memampukan kita untuk melakukannya juga. Kristus juga memberdayakan kita untuk mengucapkan perkataan membangun yang memberikan kasih karunia kepada pendengar dan untuk memutar kembali percakapan yang mengarah pada gosip (Efesus 4:29-5:17). Kita dapat membawa kabar baik, terbuka terhadap orang lain, dan berbicara serta mendengarkan dari hati yang diubahkan, yang mengasihi Allah dan mengasihi orang-orang yang diciptakan menurut gambar-Nya.

Berita yang Lebih Baik

Kabar baiknya adalah Anda tidak perlu menjadi tukang gosip. Anda tidak hanya dapat diampuni karena telah melakukannya pada masa lalu, tetapi dengan iman, Anda juga dapat ditemukan dalam Kristus, berdiri dalam kebenaran-Nya yang bebas gosip (Filipi 3:9; 2 Korintus 5:21). Yesus sendiri menanggung semua gosip kita "pada tubuh-Nya di kayu salib" (1 Petrus 2:24). Dia mati dengan kematian yang pantas bagi kelakuan bergosip kita.

Dan terlebih lagi, perayaan Injil-Nya memberi kita janji-janji yang lebih besar dan lebih berharga daripada apa pun yang ditawarkan makanan beracun dari gosip (2 Petrus 1:3-4). Injil menyediakan semua sumber yang Anda butuhkan untuk secara teratur menolak gosip dalam waktu yang nyata (1 Korintus 10:13).

Dengan adanya setiap godaan untuk bergosip, Allah menyediakan jalan keluar melalui janji-janji Injil. Godaan mungkin tidak hilang dengan mudah -- potongan makanan yang ditawarkan mungkin terus membuat Anda menahan air liur -- tetapi karena Anda percaya pada kasih karunia Allah, Anda tidak perlu menyerah. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari: Nama situs : Desiring God Alamat situs : https://www.desiringgod.org/articles/what-is-gossip Judul asli artikel : What is Gossip? Penulis artikel : Matt Mitchell

Berkat Menjadi Ibu pada Usia yang Lebih Tua

Rab, 25/08/2021 - 12:22

Di negara maju, semakin banyak yang menjadi ibu pada usia yang lebih tua. Banyak wanita memilih untuk menunda memiliki anak agar mereka dapat mempersiapkan keamanan finansial atau hubungan, atau untuk mengejar karir atau tujuan pribadi. Beberapa wanita lainnya tidak pernah berharap menjadi "ibu pada usia yang lebih tua", tetapi berakhir dalam situasi itu karena infertilitas, pernikahan yang tertunda, atau kehamilan yang tidak terduga.

Saya tentu saja tidak pernah merencanakan untuk memiliki bayi ketika memasuki usia yang lebih tua -- saya terlalu takut dengan risikonya. Saya tahu bahwa hamil pada usia yang lebih tua akan memperbesar kemungkinan saya untuk keguguran atau mengalami komplikasi selama kehamilan dan kelahiran; Saya tahu itu akan memperbesar kemungkinan bayi saya memiliki kelainan bawaan. Saya ingat ketika ibu saya pernah mengucapkan, "Tubuh seorang wanita dirancang untuk memiliki anak di usia 20-an."

Ternyata saya hampir tidak masuk dalam kategori "ideal" untuk memiliki anak -- mulai dari usia 28 dan selesai (atau begitulah menurut saya) pada usia 34. Namun, tahun ini, pada usia 39, saya hamil lagi dan sekarang terpaksa menghadapi ketakutan saya.

Di dunia yang sudah jatuh dalam dosa ini, kita semua harus memercayakan anak-anak kita ke dalam pemeliharaan Allah kita, satu-satunya Bapa yang sangat bijaksana dan besar.

Pada tahap awal kehamilan, saya berharap itu salah; saya bahkan tidak memberi tahu beberapa teman terdekat saya bahwa saya hamil sampai trimester kedua. Sekarang, setelah bayi itu tampak sehat dan bertumbuh, saya mulai mengkhawatirkan hal-hal yang berbeda. Saya berbaring terjaga di malam hari menghitung berapa usia saya dan suami saya (tua!) ketika bayi kami selesai sekolah menengah, menikah, atau berusia 40 tahun. Saya merasa iri melihat wanita hamil yang lebih muda yang tampaknya memiliki jauh lebih banyak energi (dan rambut beruban jauh lebih sedikit!) daripada saya.

Di tengah rasa ketakutan, saya mencoba memulihkan perspektif yang saleh dan seimbang. Berikut adalah tiga kebenaran dari Kitab Suci yang dapat menguatkan wanita seperti saya yang, apa pun rencana atau tujuan kita, melihat catatan medis kita ditandai dengan kata-kata "ibu usia tua"

1. Kita berada dalam Kelompok yang Baik

Ada antrean panjang wanita di dalam Alkitab -- termasuk sebagian besar ibu leluhur Israel -- yang tidak dapat memiliki anak sampai usia tuanya.

Meskipun mereka menerima janji Allah akan keturunan, Abraham dan Sara tetap tidak memiliki anak sampai pada titik di mana "tubuh [Abraham] sudah hampir mati . . . atau kemandulan rahim Sara" (Rm. 4:19, AYT). Ketika Allah akhirnya menyatakan bahwa sudah waktunya bagi Sarah untuk hamil, pasangan tua itu tertawa (Kej. 17:17; 18:12, AYT). Sarah bertanya-tanya, "Setelah aku begini tua, apakah aku akan berahi, sementara suamiku juga sudah tua?"

Dalam Perjanjian Baru, kita menjumpai Elisabet dan suaminya, Zakharia, yang akan menjadi orang tua Yohanes Pembaptis. Lukas menggambarkan mereka sebagai orang yang benar di hadapan Allah, tidak memiliki anak, dan "sudah sangat tua" (Lukas 1:7). Ketika seorang malaikat memberitahukan bahwa Elisabet akan hamil, Zakharia tidak dapat memahami berita itu: "Bagaimanakah aku akan mengetahui tentang hal ini? Sebab aku ini sudah tua dan istriku juga sudah lanjut usia" (Lukas 1:18, AYT).

Kita "ibu usia tua" berada dalam kelompok yang baik.

2. Semakin Bertambah Usia Semakin Bijaksana

Ketika saya melihat ke belakang saat pertama kali menjadi ibu yang perfeksionis, saya berusia 28, saya dapat melihat betapa saya kemudian lebih dewasa dalam dekade berikutnya. Melewati gunung dan lembah kehidupan -- dalam iman, keluarga, pernikahan, dan pelayanan -- telah menguatkan saya. Idealisme saya yang muluk telah berubah menjadi kebijaksanaan yang membumi.

Saya tidak lagi terkejut dengan pencobaan dan tragedi; Saya telah belajar untuk percaya bahwa bagaimanapun Allah akan menarik kita melaluinya. Saya tidak lagi terkejut ketika dosa saya yang memalukan terungkap; Saya telah belajar untuk berlari kepada Yesus, Juru Selamat saya yang tidak berdosa. Saya tidak lagi terkejut ketika orang lain gagal dan mengecewakan saya; saya telah belajar untuk memberikan dengan tangan terbuka anugerah yang telah saya terima.

Tahun-tahun ini juga mengajarkan kepada saya bahwa melakukan kehendak Allah tidak selalu menyenangkan dan spektakuler. Biasanya, itu terdiri dari tindakan ketaatan sehari-hari yang tenang.

Meskipun saya mungkin memiliki lebih banyak uban daripada waktu saya berusia 20-an, dan senyum saya mungkin diwarnai oleh kerutan-kerutan, hidup dan iman saya sekarang berlabuh di dunia nyata. Tentunya bayi kami akan mendapat keuntungan dari memiliki ibu yang lebih realistis, pemaaf, dan tangguh daripada ketika dirinya lebih muda.

Ibu-ibu yang lebih tua, mari kita bersemangat karena Amsal mengatakan, "Rambut yang telah memutih adalah mahkota kehormatan, yang ditemukan di jalan kebenaran" (Ams. 16:31, AYT).

3. Ketakutan yang Lebih Besar Membutuhkan Iman yang Lebih Besar

Memiliki bayi pada usia yang lebih tua memunculkan rasa takut yang wajar. Akan tetapi, saya mencoba untuk membawa setiap ketakutan kembali kepada Allah seperti para pahlawan iman yang hidup sebelum saya.

Sebagai ibu pada usia yang lebih tua, Sarah harus memercayakan anaknya kepada Allah, karena mengetahui hidupnya di bumi terbatas. Pada akhirnya, Sarah tidak hidup cukup lama untuk melihat Ishak menikah dan memiliki anak. Abraham juga harus menyerahkan hidup Ishak kepada Allah dalam demonstrasi iman yang nyata:

"Oleh iman, ketika Tuhan mengujinya, Abraham mempersembahkan Ishak; ia yang sudah menerima janji-janji itu bahkan rela mempersembahkan anak tunggalnya. Tentang hal itu, dikatakan, "bahwa dalam Ishaklah keturunanmu akan disebut." Abraham menaruh percaya kepada Allah, bahwa Allah pun sanggup membangkitkan orang yang sudah mati. Dari gambaran yang sama inilah dia menerima Ishak kembali." (Ibr. 11:17-19, AYT)

Sesungguhnya, berapa pun usia kita, semua ibu dan ayah harus menerima keterbatasan sebagai manusia. Kita tidak bisa selalu menjaga anak-anak kita aman dan sehat. Kita tidak bisa hadir selamanya untuk membimbing dan melindungi mereka. Di dunia yang sudah jatuh dalam dosa ini, kita semua harus memercayakan anak-anak kita ke dalam pemeliharaan Allah kita, satu-satunya Bapa yang sangat bijaksana dan besar.

Saya bersyukur kepada Allah atas pemberian-Nya yang berharga: bayi untuk suami saya dan saya pada usia kami yang lebih tua. Semoga saya menghargai pemberian ini seperti para ibu yang lebih tua pada masa lalu dan berusaha untuk terus dewasa -- tidak hanya dalam usia, tetapi juga dalam kebijaksanaan dan iman. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari: Nama situs : The Gospel Coalition Alamat situs : https://www.thegospelcoalition.org/article/blessing-older-mom/ Judul asli artikel : The Blessing of Being an Older Mom Penulis artikel : Harriet Connor

Panggilan Mulia Kaum Wanita

Rab, 25/08/2021 - 12:11

Dalam huruf besar dan tebal pada sampul majalah TIME tanggal 20 Januari 1992 diajukan pertanyaan: "Mengapa Pria dan Wanita Berbeda?" Dalam huruf-huruf yang jauh lebih kecil, hampir seolah-olah ditutupi, pendapat di keterangan sampul menyatakan: "Ini bukan hanya pengasuhan. Studi baru menunjukkan mereka terlahir seperti itu."

Tidak diragukan lagi, sedikit informasi tersebut adalah berita bagi banyak orang yang telah menyerap doktrin feminis selama tiga puluh tahun sebelumnya. Tetapi bagi siapa pun yang akrab dengan ajaran Alkitab, penemuan-penemuan seperti itu tampaknya hampir tidak relevan. Allah merancang pria dan wanita untuk menjadi berbeda dan untuk memenuhi peran yang berbeda di rumah dan gereja.

Sayangnya, perbedaan antara pria dan wanita telah digunakan untuk membenarkan perlakuan buruk terhadap "jenis kelamin yang cantik" sepanjang sejarah. Bahkan, dalam budaya yang dianggap maju dan beradab, wanita sering mengalami penindasan yang parah dan terkadang pelecehan.

Salah satu doa pagi yang dicatat dalam Talmud untuk membimbing pria (tentu saja) Yahudi pada awal hari menyatakan, "Terberkatilah Engkau, Tuhan, Allah kami, penguasa alam semesta yang tidak menciptakan saya sebagai seorang wanita." Berkat itu mirip -- meski tidak sama -- dengan sikap angkuh yang tercermin dalam sebuah surat yang ditulis oleh seorang pria Romawi yang sedang bepergian kepada istrinya yang sedang hamil di rumah pada 1 SM. Setelah menasihatinya untuk merawat janin yang semakin besar dalam kandungan istrinya, dia menulis, "Jika kamu melahirkan sebelum saya kembali, kalau itu laki-laki, biarkan dia hidup; kalau perempuan, tinggalkan dia," yang mengacu pada praktik meninggalkan anak di tempat umum baik untuk dipungut oleh orang lain atau mati.

Terhadap praktik misoginis (memiliki kebencian atau rasa tidak suka terhadap wanita secara ekstrem - Red.) semacam ini, Kekristenan muncul dengan etika yang sama sekali berbeda mengenai nilai dan status wanita. Banyak dari pengikut mula-mula Yesus adalah wanita, dan wanita ada di antara orang-orang yang berkumpul berdoa saat mereka menantikan Roh Kudus dicurahkan pada hari Pentakosta (Kisah Para Rasul 1:14).

Rasul Paulus dengan simpatik memuji wanita-wanita tertentu (Rom. 16:1-16; Kol. 4:15; 2 Tim. 1:5) dan menggambarkan wanita di Filipi sebagai rekan kerja dalam pekerjaan Injil (Flp. 4:3). Dia juga membuat pernyataan tegas tentang kesetaraan spiritual pria dan wanita di Perjanjian Baru ketika dia menulis, "Tidak ada lagi orang Yahudi atau orang Yunani, budak atau orang merdeka, laki-laki atau perempuan, karena kamu semua satu dalam Yesus Kristus" (Gal. 3:28, AYT).

Penghormatan terhadap nilai dan martabat yang melekat pada kewanitaan ini adalah konteks ajaran Perjanjian Baru tentang peran-peran berbeda yang diberikan kepada pria dan wanita di dalam gereja. Kegagalan untuk mengenali ini dapat menyebabkan orang-orang yang jarang membaca Alkitab salah mengartikan beberapa pengajaran Paulus kepada Timotius sebagai chauvinistik. (kepercayaan irasional pada superioritas atau dominasi kelompok yang dianggap lebih kuat dan berbudi luhur, sementara yang lain dianggap lemah, tidak layak, atau inferior - Red.)

Sang rasul mengajarkan kepada rekannya yang masih muda apa yang harus dan tidak boleh dilakukan wanita dalam pertemuan ibadah di gereja. "Seorang perempuan haruslah belajar dalam ketenangan dan dalam segala ketaatan. Akan tetapi, aku tidak mengizinkan perempuan mengajar atau memerintah laki-laki. Namun, perempuan harus tetap tenang" (1 Tim. 2:11-12, AYT).

Penghormatan terhadap nilai dan martabat yang melekat pada kewanitaan ini adalah konteks ajaran Perjanjian Baru tentang peran-peran berbeda yang diberikan kepada pria dan wanita di dalam gereja.

Karena begitu kuatnya larangan dalam ayat 12, banyak yang sering melewatkan peringatan penting yang terdapat dalam ayat 11. Wanita Kristen harus menjadi pembelajar, sesuatu yang umumnya tidak disarankan oleh orang Yahudi. Di gereja, wanita didorong untuk bertumbuh dalam pengetahuan dan pemahaman. Sikap pendiam dan penurut yang menjadi ciri pembelajaran mereka bukanlah hal yang remeh untuk kepribadian perempuan. Di tempat lain Paulus mendorong semua orang percaya untuk mengembangkan kualitas yang pertama (2 Tes. 3:12) serta menganjurkan yang terakhir (2 Kor. 9:13).

Orang Kristen harus selalu menunjukkan ketaatan kepada otoritas yang tepat (Roma 13:1; Titus 3:1) termasuk mereka yang melayani sebagai penatua di gereja (Ibr. 13:17). Seperti yang Paulus jelaskan kemudian dalam suratnya yang pertama kepada Timotius, jabatan itu harus diisi hanya oleh seorang "suami dari satu istri" (3:2). Seperti yang dikatakan oleh Council on Biblical Manhood and Womanhood, meskipun "pria dan wanita adalah setara menurut gambar Allah", mereka tetap "mengakui perbedaan yang saling melengkapi dalam peran dan fungsi" di rumah dan di gereja.

Pembatasan yang melarang wanita mengajar pria atau memegang jabatan lebih tinggi dari pria di gereja bukanlah penyangkalan nilai rohani, itu adalah parameter pelayanan yang ditetapkan secara ilahi. Bolehkah wanita mengajar di gereja? Sangat. Bahkan, ada yang diperintahkan untuk melakukannya. "Perempuan-perempuan yang lebih tua ... harus mengajarkan apa yang baik. Dengan demikian, mereka dapat menasihati perempuan-perempuan muda untuk mencintai suaminya, mengasihi anak-anaknya" (Titus 2:3-4, AYT).

Meskipun pembatasan Paulus pada peran perempuan tidak sejalan dengan semangat egaliter zaman kita, dasar argumennya memperjelas bahwa ajarannya tidak dikondisikan secara budaya. "Karena Adam diciptakan pertama, baru kemudian Hawa; dan bukan Adam yang ditipu, melainkan perempuan yang ditipu dan jatuh dalam pelanggaran" (1 Tim. 2:13-14, AYT).

Urutan penciptaan dan urutan kejatuhan memberikan alasan bahwa wanita tidak boleh memegang jabatan lebih tinggi dari pria di dalam gereja. Sejak awal Allah menghendaki agar manusia memimpin di rumah dan di gereja. Ini bukan hal yang remeh bagi wanita. Adalah hikmat Allah yang menetapkan apa yang terbaik bagi umat-Nya dan dunia-Nya. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari: Nama situs : Ligonier Alamat situs : https://www.ligonier.org/learn/articles/high-calling-women/ Judul asli artikel : The High Calling of Women Penulis artikel : Tom Ascol

Tipe Bahan: Artikelkategori: KEHIDUPAN ROHANI

Hawa Kedua

Rab, 25/08/2021 - 12:05

Bagaimana Wanita Kristen Menghapuskan Kutukan

Saya kira tidak ada cerita yang lebih menyedihkan di dunia daripada Kejadian pasal tiga. Meskipun fakta kejatuhan manusia dicatat dengan singkat, apa yang kita baca di sana adalah asal mula semua kesedihan dan kematian, penyakit, dan sakit hati manusia. Semua hal menyedihkan yang pernah terjadi dimulai dari sana. Kita membaca tentang rusaknya hubungan antara manusia dan Allah, dan bagaimana hal itu akan mempengaruhi hubungan antara pria dan wanita, serta pekerjaan kita dan dunia kita (Kejadian 3:16-19).

Namun, bahkan dalam pengenalan tragis tentang kematian dan kesulitan ini kepada dunia, ada cahaya. Melahirkan akan menimbulkan banyak rasa sakit -- tetapi kutukan itu tidak menghilangkan sukacita kita atas anak-anak kita. Ada rasa sakit, tetapi masih ada banyak keindahan dan pengharapan. Meskipun ketegangan telah diperkenalkan pada hubungan antara pria dan wanita, cinta belum hilang. Bahkan, dalam kutukan, Allah memberi kita pengharapan besar karena Dia akan menghancurkannya. Allah menjadikan kita musuh ular untuk selamanya, tetapi bukan musuh satu sama lain (Kejadian 3:15). Dan, bahkan pada saat yang mengerikan itu, Dia memulai rencana-Nya yang besar untuk mengembalikan kita kepada diri-Nya sendiri.

Menghapuskan Kutukan

Apa yang kita lihat di dalam Alkitab adalah bagaimana Allah telah menghapus kutukan ini.

Pada akhirnya, kutukan itu dipatahkan dalam pribadi Kristus Yesus. Dalam kematian-Nya, kita melihat apa yang pantas kita dapatkan; dalam kebangkitan-Nya kita melihat apa yang telah diberikan kepada kita di dalam Dia. Kita memiliki jawaban akhir untuk kutukan itu. Akan tetapi, Allah tidak menghancurkan kutukan itu dalam sekejap -- melainkan seperti ragi yang diambil seorang wanita dan disembunyikan dalam tiga takaran tepung (Matius 13:33). Ia melakukannya perlahan, terus-menerus, tanpa henti.

Ketika kita diubahkan di dalam Kristus, kita masih harus mengerjakan apa yang Dia kerjakan. Kita menjalani sisa hidup kita menjadi serupa dengan gambar Kristus (Roma 12:2). Kita memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan di sini, saat ini, di dalam Dia. Ketika kita dijadikan umat-Nya, kita dijadikan pekerja-pekerja yang Dia pakai sekarang untuk membangun kerajaan-Nya (Efesus 2:19-22).

Ketika Paulus memberi tahu gereja bagaimana menjalani hidup bersama dalam 1 Timotius, dia menyebutkan kutukan sebagai alasan dasar untuk arahannya -- dalam sebuah ayat yang menyebabkan banyak kecemasan dan pertengkaran saat ini.

Kita Tidak Bisa Kembali

Paulus menulis,

"Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar atau memerintah laki-laki. Namun, perempuan harus tetap tenang karena Adam diciptakan pertama, baru kemudian Hawa, dan bukan Adam yang ditipu, melainkan perempuan yang ditipu dan jatuh dalam pelanggaran." (1 Timotius 2:12-14, AYT)

Apa yang dilakukan Paulus dengan merujuk pada urutan di mana kita diciptakan, atau kesalahan yang dibuat Hawa, seolah-olah fakta-fakta ini relevan dengan sesuatu? Kecuali mereka jelas relevan, karena Paulus menyebutkan hal-hal itu!

Mereka relevan dengan kehidupan kita sekarang karena hidup kita sekarang adalah tentang menghapus kutukan di dalam Kristus. Kita tidak bisa kembali ke taman sebagai Hawa dan memilih untuk tidak mendengarkan ular itu sejak awal. Kita tidak bisa kembali ke saat itu dan tidak tertipu. Kita tidak bisa kembali ke momen kepemimpinan hebat pertama kaum wanita dan membuatnya sukses. Pria tidak bisa kembali ke sana dan menolak untuk mengikuti Hawa yang tertipu. Mereka tidak bisa kembali dan berseru kepada Allah untuk mengambil mereka sebagai ganti istri mereka. Mereka tidak bisa kembali dan menolak untuk mengantarkan kematian ke dalam dunia. Sebaliknya, kita di sini, itu sudah terjadi dan tidak bisa diubah.

Penghancuran dari momen ini akan dituntaskan di dalam Kristus, melalui ketaatan yang dimampukan oleh Roh Kudus. Kita tidak dapat tidak ditipu oleh ular di taman, tetapi kita dapat tidak ditipu oleh ular sekarang. Kita dapat menolak untuk mendengarkan setiap percakapan "Apakah Allah benar-benar berkata ..." sekarang.

Ketidaktaatan Setua Dunia itu Sendiri

Apa yang menarik adalah bahwa begitu banyak percakapan hari ini tentang ayat ini yang membawa kita kembali ke taman.

"Apakah Allah benar-benar mengatakan bahwa Anda tidak bisa berkhotbah?"
"Allah tidak ingin Anda melakukan sesuatu yang penting, bukan?"
"Allah sedang mencoba untuk menjauhkan Anda dari kebaikan besar yang akan terjadi jika suara Anda terdengar dari mimbar."

Wanita Kristen, Anda harus belajar mengenali ular dalam percakapan-percakapan ini. Tidak ada pengetahuan yang memperkaya gereja akan ditemukan dalam mendengarkan wanita yang telah memutuskan untuk tidak mendengarkan Allah. Dalam gereja hari ini, kita memiliki pola ketidaktaatan yang setua dunia, secara harfiah. Wanita masih ditipu untuk tidak mempercayai maksud Allah dalam firman-Nya, dan pria lebih memilih wanita itu daripada Allah. Ini adalah jalan kematian, dan telah banyak diinjak. Akan tetapi, ada jalan lain -- jalan kehidupan.

Adam Kedua, Hawa Kedua

Tidak ada hal yang remeh dengan ketaatan kita sekarang, sama seperti tidak ada yang remeh dengan ketidaktaatan Hawa saat itu.

Bagaimana kita bisa mencapai jalan kehidupan? Itu ada dalam hadirat Allah. Itu ada dalam ketaatan, dipersembahkan kepada Allah yang memperlengkapi kita untuk itu. Hal ini ada dalam memercayai tujuan-Nya. Semakin kita melakukan itu, semakin kita melihat bahwa kemuliaan besar yang Allah capai dengan kita semua di dalam Dia adalah pembatalan kegagalan pertama kita di taman itu. Dia sedang membangun bersama kita sebuah taman baru, tempat kediaman baru Allah di dalam Roh (Efesus 2:22).

Apakah Hawa mengerti semua maksud Allah di taman itu? Tidak, dan itulah sebabnya dia bisa ditipu. Apakah Anda mengerti dengan sempurna mengapa Allah memanggil Anda untuk memuliakan Dia dengan bertindak seperti seorang wanita Kristen yang tunduk pada firman-Nya? Momennya mirip, dan kita juga rentan. Mari kita tidak memainkan peran Hawa pertama terhadap Adam pertama, tetapi mengambil bagian dari Hawa kedua terhadap Adam kedua.

Adam kedua menyerahkan nyawa-Nya untuk mempelai wanita-Nya yang tertipu. Dia menanggung hukuman kita, dan melalui kematian dan kebangkitan-Nya telah menghidupkan kita. Pilihlah untuk mengingat apa yang telah Allah katakan, dan untuk menaatinya dengan sukacita. Percayalah pada rencana-Nya. Karena melalui karunia misterius ketaatan kita kepada suami kita, kegembiraan kita dalam melakukan peran kita, kita akan dipakai dalam pembuatan ulang taman baru itu. Tidak ada hal yang remeh dengan ketaatan kita sekarang, sama seperti tidak ada yang remeh dengan ketidaktaatan Hawa saat itu.

Kemuliaan seperti apa yang akan ada di taman jika Hawa tidak mendengarkan ular itu? Cara kita untuk mengetahuinya adalah dengan tidak mendengarkannya sekarang. Karena apa yang menanti kita dalam ketaatan kepada Allah selalu adalah kemuliaan -- lebih mengejutkan, lebih memuaskan, lebih menyenangkan dan indah daripada yang bisa kita bayangkan. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari: Nama situs : Desiring God Alamat situs : https://www.desiringgod.org/articles/the-second-eve Judul asli artikel : The Second Eve Penulis artikel : Rachel Jankovic

Tipe Bahan: Artikelkategori: KEHIDUPAN ROHANI

Pelacur, Wanita Simpanan, dan Mesias

Rab, 25/08/2021 - 11:53

Tujuh Wanita Hebat dengan Reputasi Buruk

Terdapat sederetan wanita tidak biasa yang sangat penting, yang dihubungkan dengan Yesus: mereka semua adalah wanita, bisa dikatakan, dengan reputasi buruk. Sebagian besar reputasi buruk mereka berasal dari skandal seksual. Apa yang dikatakan hal ini tentang Kristus? Banyak sekali.

Jika Anda memiliki kebiasaan melewatkan silsilah dalam pasal pertama Kitab Injil Matius, maka Anda mungkin telah melewatkan harta karun yang terkubur dalam daftar empat puluh leluhur yang merupakan nenek moyang Yesus (jika kita memasukkan Yusuf), yang ditelusuri jauh sampai ke Abraham. Harta terpendam itu adalah lima wanita: Tamar, Rahab, Rut, Batsyeba, dan ibu Yesus, Maria. Mengapa mereka ada dalam daftar? Dan, apa yang membuat mereka sama berharganya dengan laki-laki yang disebutkan? Itulah tepatnya yang Matius ingin kita tanyakan.

Lima Wanita dengan Reputasi Buruk

Pertama, Tamar (Matius 1:3). Tamar adalah nenek moyang yang kebanyakan dari kita tidak akan sebutkan ketika menceritakan sejarah keluarga kita. Apakah Anda ingat kisahnya (Kejadian 38)? Dia memasuki garis keturunan Mesianik dengan menyamar sebagai pelacur dan merayu ayah mertuanya, Yehuda. Adegan dan ceritanya rumit. Mengingat adat istiadat budaya pada waktu itu, dia bertindak lebih baik daripada Yehuda, karena Yehuda telah memperlakukannya dengan tidak adil dan dia memiliki pilihan yang terbatas. Namun, tidak dapat disangkal betapa mengerikan kekacauan itu.

Kedua, ada Rahab (Matius 1:5). Dia tidak membutuhkan penyamaran. Dia seorang pelacur (atau setidaknya pernah sebelum pernikahannya). Dia juga seorang non-Yahudi. Dan, bukan hanya orang non-Yahudi, dia orang Kanaan dan penduduk Yerikho, kota pertama yang Yosua lihat di Tanah Perjanjian. Jadi, bagaimana Rahab berhasil menjadi nenek buyut Yesus buyut, buyut, buyut, buyut, -- tambahkan 24 buyut lagi? Dia menyembunyikan mata-mata militer Yahudi dan membantu mereka melarikan diri, dan Yosua pun kemudian menyelamatkan dia dan keluarganya (lihat Yosua 2 dan 6). Setelah dia tergabung dengan Israel, Rahab menikah dengan Salmon, yang memunculkan namanya dalam silsilah . . .

Rut, wanita ketiga dalam daftar kita (Matius 1:5). Dia sendiri tidak terlibat dalam skandal seksual, tetapi dia berasal dari masyarakat yang melakukan skandal seksual. Rut adalah seorang Moab, sebuah bangsa yang lahir dari hubungan sedarah antara Lot dan putri sulungnya (Kejadian 19:30-38). Bangsa Rut adalah pagan politeistik, yang kadang-kadang mempersembahkan kurban manusia kepada dewa-dewa seperti Chemosh. Melalui tragedi pribadi dan kesetiaan yang besar, dia berakhir di Betlehem dan dalam pelukan Boas (yang sah) dan juga masuk pada silsilah keluarga Yesus. Bagaimana itu bisa terjadi, mengingat orang Yahudi dilarang menikahi orang Moab (Ezra 9:10-12)? Anda harus membaca Rut -- seluruh buku Kitab Suci Yahudi yang dinamai menurut nama wanita Moab ini! Akan tetapi, pahami ini: Matius mencatat Boas sebagai anak Rahab dan Salmon. Jika itu benar (silsilah kuno terkadang melewatkan generasi), bayangkan bagaimana Rahab mungkin telah mempersiapkan Boas kecil untuk melihat di dalam diri seorang wanita asing sebuah tunas liar yang Allah ingin cangkokkan ke pohon zaitun Yahudi.

Wanita keempat adalah "istri Uria" (Matius 1:6). Kita mengenalnya sebagai Batsyeba, wanita yang terhadapnya Raja terbesar Israel tidak dapat -- atau sebaiknya, tidak akan -- menyentuhnya. Catatan dalam 2 Samuel 11 tidak menceritakan sisi Batsyeba dari kisah perzinahan ini. Akan tetapi, mengingat fakta bahwa Daud memegang kekuasaan yang hampir mutlak sebagai raja, ini adalah kejahatan berlapis-lapis, jelas dan sederhana. Namun, hasilnya sama sekali tidak sederhana. Semangkuk "makanan" yang tidak bermoral ini (Ibrani 12:16) menghasilkan serangkaian peristiwa tragis yang berturut-turut. Batsyeba hamil. Suaminya dibunuh dengan cara terselubung. Daud mendatangkan atas dirinya sendiri, dan seluruh keluarganya, sebuah kutukan yang mengakibatkan penderitaan yang mengerikan bagi banyak orang, khususnya Batsyeba (lihat 2 Samuel 12). Namun, itulah dirinya, yang merupakan awal sejarah Yesus.

Terakhir dalam daftar, tetapi tentu tidak kalah pentingnya, adalah Maria, ibu Yesus (Matius 1:16). Dia mengandung bayi Yesus sebelum pernikahannya. Ayah anak itu bukan tunangannya, Yusuf. Bayangan kehamilan "tidak sah" ini akan melekat pada reputasinya (dan putranya) di sepanjang kehidupan mereka di dunia.

Wanita-wanita Pertama Yesus

Dua wanita lagi yang penting dalam kehidupan Yesus dan yang layak disebutkan di sini. Kedua reputasi mereka membuat mereka, menurut kebijaksanaan manusia, tidak mungkin mengalami dua pengalaman pertama dengan Yesus yang menakjubkan.

Dalam Yohanes 4, Yesus bertemu dengan seorang wanita Samaria dari Sikhar pada tengah hari di Sumur Yakub (Yohanes 4:6). Seperti Rahab dan Rut (dan mungkin Tamar), wanita ini bukan orang Yahudi. Dan, seperti Tamar, Rahab, dan Batsyeba, wanita ini telah mengenal banyak pria -- lima suami dan setidaknya satu "pasangan" yang tidak terikat perjanjian (Yohanes 4:17-18). Namun, dalam Kitab Injil Yohanes, wanita ini adalah orang pertama yang kepadanya Yesus secara eksplisit mengungkapkan diri-Nya sebagai Mesias (Yohanes 4:25-26). Orang pertama: wanita ini.

Dan, kemudian ada Maria Magdalena. Alkitab memberi tahu kita sedikit tentang Maria selain bahwa dia kerasukan tujuh setan yang kemudian diusir keluar darinya (Lukas 8:1-3), hadir pada penyaliban Yesus (Yohanes 19:25), melihat di mana Yesus dikuburkan (Markus 15:47), dan melihat Yesus yang telah bangkit (Matius 28:1-10). Sejarah, bagaimanapun, cenderung mengingat Maria sebagai seorang wanita dengan masa lalu seksual yang kotor. Kita tidak tahu pasti alasannya. Mungkin karena dia (tampaknya) berasal dari kota Magdala yang buruk. Atau mungkin tulisan-tulisan apokrifa Kristen awal yang aneh itu yang menjadi penyebabnya. Atau mungkin Maria benar-benar memiliki masa lalu yang memang demikian (saya berpandangan ini). Tampaknya masuk akal bahwa sisa-sisa samar dan tertinggal dari apa yang dulunya merupakan aib terbuka yang melekat pada reputasinya adalah untuk menyoroti kasih karunia Juru Selamatnya.

Apa yang begitu menakjubkan tentang Maria Magdalena adalah bahwa dia merupakan orang pertama yang kepadanya Yesus menampakkan diri setelah dibangkitkan dari kematian (Yohanes 20:11-18). Orang pertama! Yesus tidak menampakkan diri pertama kali kepada ibu-Nya, atau kepada Petrus, tetapi kepada seorang wanita yang dulunya tidak bermoral, yang dulu pernah dirasuki setan.

Kelompok Wanita yang Penuh Kasih Karunia

Mengapa Maria Magdalena? Mengapa wanita di sumur? Mengapa Maria dari Nazaret yang tidak menikah? Mengapa Batsyeba, Rut, Rahab, dan Tamar? Mengapa Allah memilih untuk membuat para wanita yang bereputasi buruk ini begitu penting dalam sejarah penebusan?

Untuk memberikan penekanan pada sejarah tentang penebusan.

Semua wanita ini memiliki kesamaan: masa lalu yang memalukan. Mereka melakukan atau menanggung aib. Entah mereka pantas mendapatkannya atau tidak, mereka masing-masing memiliki reputasi yang tercemar. Mereka menanggung penghinaan orang lain dan merasakan sakitnya rasa malu yang sangat nyata. Setidaknya empat dari enam wanita memiliki ingatan yang sangat menyakitkan dan hina.

Akan tetapi, Allah tidak lagi melihat mereka sebagai orang yang memalukan, tetapi penuh kasih karunia. Allah mengubahkan identitas mereka. Alih-alih wanita dengan reputasi buruk, Dia menjadikan mereka nenek moyang atau murid Mesias. Mereka adalah pola dasar dari apa yang Dia lakukan untuk semua anak-anak-Nya. Allah berkata dengan tegas dalam setiap wanita:

"Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru. Hal-hal yang lama sudah berlalu, lihatlah, hal-hal yang baru sudah datang. Semua ini adalah dari Allah, yang memperdamaikan kita dengan diri-Nya melalui Kristus dan memberi kita pelayanan pendamaian itu." (2 Korintus 5:17-18, AYT)

Hal-hal yang Lama Sudah Berlalu

Di dalam Kristus hal-hal yang lama sudah berlalu! Yesus menghilangkan reputasi lama.

Di dalam Kristus hal-hal yang lama sudah berlalu! Yesus menghilangkan reputasi lama. Di dalam Yesus, dosa masa lalu Anda atau kehinaan dan ketidakadilan yang Anda derita, dan cara Anda dulu memandang diri sendiri dan orang lain karena hal-hal itu, bukanlah siapa diri Anda sekarang. Di dalam Yesus, Bapa surgawi Anda berkata,

Kamu adalah anak-anak-Ku (Efesus 1:5). Kamu sudah dibersihkan, sudah dikuduskan, dan sudah dibenarkan (1 Korintus 6:11). Kamu bersih, dan tidak ada yang memiliki kekuasaan untuk mengatakan sebaliknya (Kisah Para Rasul 10:15). Dan, kamu adalah kekasih-Ku (Roma 9:25). Aku telah menyucikanmu dengan hisop, Aku telah menjadikanmu lebih putih daripada salju (Mazmur 51:7).

Allah memiliki ribuan alasan untuk semua yang Dia lakukan. Salah satu alasan utama Dia membuat kelompok wanita yang penuh kasih karunia ini adalah untuk mengingatkan kita akan anugerah-Nya yang tidak layak diterima kepada orang-orang yang tidak pantas dan tidak memenuhi syarat dan yang hina. Ini adalah cara lain untuk memberi tahu kita bahwa Dia memilih untuk menebus orang berdosa, Dia memilih untuk menghasilkan sesuatu yang indah dari sesuatu yang mengerikan, Dia memilih untuk menjadikan orang asing sebagai anak-anak-Nya, dan Dia memilih untuk mendamaikan musuh-musuh-Nya. Dia memilih untuk membuat segala sesuatu bekerja bersama untuk kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya dan dipanggil sesuai dengan rencana-Nya (Roma 8:28), bahkan untuk pelacur, wanita simpanan, dan laki-laki seperti saya. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari: Nama situs : Desiring God Alamat situs : https://www.desiringgod.org/articles/prostitutes-mistresses-and-the-messiah Judul asli artikel : Prostitutes, Mistresses, and the Messiah -- Seven Great Women of Ill Repute Penulis artikel : Jon Bloom

Tipe Bahan: Artikelkategori: KEHIDUPAN ROHANI