RSS Wanita

Subscribe to RSS Wanita feed
Updated: 1 hari 11 hours ago

Bagaimana Saya Menjelaskan Allah Tritunggal kepada Anak-Anak?

Kam, 21/01/2021 - 13:08

Bagaimana kita mengajar anak-anak kita tentang Allah Tritunggal?

Allah Tritunggal itu misterius, tentu saja, bagi kita orang dewasa. Allah tidak terbatas. Kita tidak pernah bisa sepenuhnya memahami Dia atau sampai ke dasar misteri-Nya. Apalagi Allah itu unik. Dia sendiri adalah Pencipta. Dia sendiri tidak bergantung pada dunia atau apa pun di dalamnya. Tidak ada di dunia ciptaan yang berfungsi sebagai model atau analogi yang lengkap untuk menjelaskan Dia.

Salah satu hal yang dapat kita katakan kepada anak-anak kita hanyalah ini. Tidak ada yang seperti Allah. Tidak ada dalam ciptaan yang memberi kita gambaran lengkap tentang siapa Allah itu. Yesus adalah gambaran lengkap tentang Allah (Yohanes 14:9; Kolose 2:9). Akan tetapi, meskipun kita dapat mengenal Dia dengan benar, kita tidak mengenal Dia sepenuhnya. Dia adalah Allah dan sangat dalam.

Haruskah Kita Menggunakan Analogi?

Analogi tidak pernah menjadi model transparan yang sempurna untuk konsep Allah Tritunggal.

Karena tidak ada di dunia ini yang merupakan model yang memadai untuk Allah Tritunggal, kita harus berhati-hati dalam menggunakan analogi. Analogi tidak pernah menjadi model transparan yang sempurna untuk konsep Allah Tritunggal. Beberapa orang menggunakan segitiga untuk melambangkan Allah Tritunggal. Segitiga adalah satu segitiga dengan tiga sisi. Akan tetapi, itu bukanlah analogi yang memadai. Setiap sisi adalah bagian dari segitiga. Namun, Allah tidak memiliki bagian.

Bapa bukanlah bagian dari Allah, tetapi Allah itu sendiri. Demikian juga, Putra bukanlah bagian dari Allah, tetapi Dia adalah Allah (Yohanes 1:1). Ketidakcukupan ini menyoroti fakta bahwa, jika kita akan mengajar anak-anak kita tentang Allah Tritunggal, pertama-tama kita harus belajar tentang Allah Tritunggal sendiri, sehingga tidak membuat kesalahan ketika menjelaskannya. Ini bukan berarti bahwa kita tidak dapat menggunakan segitiga sebagai contoh. Akan tetapi, jika kita menggunakannya, kita harus memberi tahu anak-anak kita bahwa itu sebenarnya tidak mewakili Allah dengan baik.

Demikian pula, beberapa orang telah menggunakan contoh air. Air memiliki tiga wujud, padat (es), cair, dan gas (uap air). Namun, analogi ini juga tidak memadai. Tidak terjadi bahwa Allah hanya muncul dalam tiga bentuk, satu demi satu. Sebaliknya, Allah senantiasa adalah Bapa, Putra, dan Roh Kudus, bahkan sebelum Ia menampakkan diri kepada kita.

Seperti yang telah kita perhatikan, ini misterius. Kita tidak pernah bisa membubarkan misteri ini menjadi representasi transparan tentang Allah.

Mengandalkan Ajaran Ilahi

Jadi, apa yang kita lakukan? Kita bisa menggunakan apa yang Alkitab sendiri berikan. Beberapa orang tua mungkin merasa terbebani untuk membuat cara-cara yang kreatif untuk mengkomunikasikan Allah kepada anak-anak mereka. Namun, syukurlah, kita memiliki Alkitab. Allah telah berbicara kepada kita. Dia telah memberi tahu kita tentang diri-Nya. Dia telah memberi tahu kita bahwa Dia adalah satu Allah dan tiga Pribadi – Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Alkitab memberi kita komunikasi yang jelas dan benar tentang Allah.

Ada beberapa bagian dalam Kitab Suci yang secara langsung menyajikan kepada kita ketiga pribadi Allah Tritunggal. Perhatikan baptisan, misalnya – baptisan Kristus dan juga baptisan kita. Tentang baptisan Yesus, Matius menulis:

"Setelah dibaptis, Yesus langsung keluar dari air, dan lihat, surga terbuka dan Dia melihat Roh Allah turun seperti burung merpati datang ke atas-Nya. Dan, dengarlah suara dari surga yang berkata, 'Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.'- (Matius 3:16-17)

Suara dari surga adalah suara Bapa. Putra dibaptis. Roh Kudus "turun seperti burung merpati". Kesatuan dari satu Allah tidak langsung terlihat dalam bagian ini. Namun, bagian itu menggambarkan satu tahap dalam rangkaian tindakan di mana Allah – satu-satunya Allah – menyempurnakan keselamatan bagi umat-Nya.

Allah Tritunggal juga termanifestasi dalam satu nama yang kita dibaptis dalam nama itu: -Pergilah dan muridkanlah semua bangsa, baptiskanlah mereka dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus- (Matius 28:19). Ada satu -- nama, -- yang menggarisbawahi keesaan Allah. Nama tersebut terikat pada masing-masing tiga pribadi.

Penyingkapan Lainnya

Kita melihat penyebutan eksplisit lain tentang Allah Tritunggal di luar baptisan. Misalnya, pekerjaan keselamatan Allah, jika diterapkan pada orang percaya secara individu, melibatkan ketiga pribadi dalam satu pekerjaan.

"Ketika Penolong itu datang, yang akan Aku [Yesus] utus kepadamu dari Bapa, yaitu Roh kebenaran yang berasal dari Bapa, Dia akan bersaksi tentang Aku." (Yohanes 15:26)

Pemberian Roh kepada gereja melibatkan semua ketiga pribadi itu.

"Oleh karena itu, setelah ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima janji dari Bapa tentang Roh Kudus, Ia telah mencurahkan, baik apa yang kamu lihat maupun dengar." (Kisah Para Rasul 2:33)

Kebangkitan Yesus melibatkan ketiga pribadi Allah Tritunggal.

"Namun, jika Roh Dia yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati tinggal dalam kamu, Dia yang membangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati juga akan memberi hidup kepada tubuhmu yang fana melalui Roh-Nya yang tinggal dalam kamu." (Roma 8:11)

Saat kita membuka Alkitab dengan anak-anak kita, kita tidak boleh mengabaikan untuk berdoa bagi mereka, agar Allah mengajari mereka tentang diri-Nya melalui firman-Nya dan melalui Roh Kudus. Tidak mungkin bagi setiap manusia untuk benar-benar memahami hal-hal rohani di luar Roh Kudus (1 Korintus 2:14-16).

Terpesona dalam Tritunggal

Di luar teks eksplisit, kita juga melihat pola yang lebih luas dalam Alkitab. Terutama, Bapa yang berbicara. Akan tetapi, Bapa mengucapkan Firman, menurut Yohanes 1:1. Pola ini yang menjadi latar belakang ketika Allah berbicara kepada kita di dalam Alkitab. Roh Kudus adalah seperti napas Tuhan (Yehezkiel 37:10, 14). Roh Kudus juga tinggal di dalam kita dan memampukan kita untuk memahami (1 Korintus 2:14-16). Kita dapat memberi tahu anak-anak kita bahwa proses ini sedang berlangsung ketika mereka membaca atau mendengar Alkitab dibacakan.

Doa melibatkan ketiga pribadi Allah Tritunggal. Kita berdoa terutama kepada Allah Bapa (Matius 6:9). Yesus menjadi Perantara bagi kita, membuat doa kita dapat diterima (Ibrani 7:25). Roh Kudus tinggal di dalam kita dan memperkuat doa kita (Roma 8:26). Kita dapat memberi tahu anak-anak kita bahwa proses ini sedang berlangsung saat kita berdoa.

Pengangkatan menjadi anak Allah melibatkan ketiga pribadi Tritunggal. Allah adalah Bapa kita, kepada siapa kita terhubung sebagai anak. Yesus adalah saudara sulung kita (Roma 8:29). Dia adalah Putra yang kekal, dan kita memiliki hak istimewa untuk menjadi anak hanya karena Dia adalah Putra yang pertama (Galatia 4:4–5). Roh Kudus tinggal di dalam kita, mengajar kita untuk berseru, "Abba, Bapa!" (Roma 8:15; Galatia 4:6).

(t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari: Nama situs : Desiring God URL : https://www.desiringgod.org/articles/how-do-i-explain-the-trinity-to-children Judul asli artikel : How Do I Explain the Trinity to Children? Penulis artikel : Vern Poythress

Wanita yang Lebih Tua, Anggota Gereja Muda Membutuhkan Anda

Sel, 19/01/2021 - 16:35

Sesaat sebelum putri kedua saya lahir, saya menghadapi kemungkinan melahirkan lebih awal karena komplikasi kesehatan. Tiba-tiba, saya terburu-buru mencari seseorang untuk merawat putri pertama saya sebelum ibu saya tiba. Adik saya, yang berencana membantu, sedang keluar kota pada akhir pekan itu. Dan ternyata, begitu pula hampir setiap teman yang memiliki pengalaman mengasuh anak.

Tidak ada wanita lebih tua yang cukup untuk mendukung. Itu adalah salah satu momen paling sendirian dalam hidup saya.

Kita Membutuhkan Wanita yang Lebih Tua

Saya yakin bahwa banyak gereja kita yang kesulitan karena kurangnya wanita yang lebih dewasa dan lebih tua. Saya berusia pertengahan 30-an, dan saya sebagian besar telah menjadi bagian dari gereja pusat kota, gereja perintisan, dan gereja universitas. Setiap hari Minggu, saya melihat tiga, mungkin empat kepala abu-abu ketika saya beribadah.

Namun, kepala abu-abu adalah yang kita butuhkan. Wanita muda membutuhkan wanita yang lebih tua. Kita mungkin tidak pandai mengomunikasikannya, tetapi itu benar. Kita sering tidak menyadari betapa kita membutuhkan bantuan sampai kita berada dalam krisis.

Krisis yang dihadapi wanita, besar dan kecil, bisa jadi sulit dibicarakan dengan pemimpin laki-laki. Saya merasa sangat sulit untuk datang dan berbicara ke seorang pendeta laki-laki tentang kehidupan seks saya dengan suami saya, penderitaan fisik dan penampilan tubuh pasca persalinan saya, kemarahan yang sering saya rasakan tentang mencoba menyeimbangkan hidup dan pekerjaan sebagai seorang ibu, atau pertengkaran saya dengan saudara saya.

Dan, ini tidak termasuk kemandulan, keguguran, pelecehan emosional dan seksual, kegagalan pernikahan, dan masalah kesehatan mental yang pernah saya lihat diperjuangkan sendirian oleh teman-teman wanita saya. Betapa kita merindukan wanita yang lebih tua dan bijaksana untuk mencari kita.

Kekhawatiran ini mengingatkan pada kata-kata yang ditulis Paulus kepada Titus. Dia menulis bahwa wanita yang lebih tua "harus menunjukkan tingkah laku yang saleh, bukan pemfitnah atau hamba anggur, tetapi harus mengajarkan apa yang baik. Dengan demikian, mereka dapat menasihati perempuan-perempuan muda untuk mencintai suaminya, mengasihi anak-anaknya, menguasai diri, saleh, mengurus urusan rumah tangganya, ramah, dan tunduk pada suaminya, supaya firman Allah tidak dilecehkan.- (Titus 2:3–5). Wanita lebih tua yang membimbing, memuridkan, dan merawat wanita yang lebih muda adalah bagian penting dari komunitas yang alkitabiah.

Apakah Anda Wanita yang Lebih Tua?

Berikut adalah kualifikasi utama untuk tipe wanita yang saya harap kita miliki lebih banyak pada jemaat muda kita:

Tersedia dan fleksibel. Hal nomor satu yang menurut para milenial tidak mereka miliki adalah waktu. Ini berarti kita membutuhkan orang yang tidak memiliki pola pikir yang sama dan dapat menantang kesadaran kita akan waktu. Mereka yang memiliki lebih banyak jadwal terbuka dapat menahan desakan budaya bahwa kita tetap sibuk. Terutama, jika Anda sudah pensiun dan memiliki komitmen yang fleksibel, Anda akan menjadi berkat bagi gereja yang masih muda.

Dewasa secara rohani. Menjadi dewasa secara rohani bukan berarti Anda harus menjadi seorang guru atau pemimpin. Itu berarti Anda memperlihatkan buah Roh (Gal. 5:22-23) dan kualifikasi yang tercantum dalam Titus (Titus 2:3–5). Itu berarti Anda mencintai Tuhan, Firman-Nya, dan umat-Nya.

Tunduk pada kepemimpinan gereja. Gereja membutuhkan wanita lebih tua yang menghormati dan mendukung pendeta dan penatua, dan yang dapat mendorong wanita yang lebih muda untuk melakukan hal yang sama. Buah rohani yang besar pengaruhnya lahir dalam kehidupan jemaat wanita yang lebih muda ketika seorang wanita yang lebih tua secara aktif melayani dengan bekerja sama dan tunduk pada kepemimpinan gereja.

Kepuasan. Kita membutuhkan wanita lajang yang lebih tua dan wanita lebih tua yang sudah menikah yang bersukacita dalam kehidupan yang telah Tuhan berikan kepada mereka dan dapat menjadi teladan kepuasan. Kita juga membutuhkan wanita lebih tua yang bercerai dan bisa menjadi model yang sama. Jika Anda dapat bersyukur kepada Tuhan atas kehidupan yang telah Dia berikan kepada Anda, termasuk pencobaan yang telah Anda alami, Anda akan memiliki banyak kebijaksanaan untuk dibagikan.

Mampu berbicara tentang seks dan seksualitas. Terutama jika mereka dibesarkan dalam keluarga non-Kristen, wanita yang lebih muda seringkali tidak memiliki pemahaman alkitabiah tentang seks dan seksualitas. Bahkan, jika mereka dibesarkan dalam keluarga Kristen, mereka sering membutuhkan tempat selain budaya arus utama untuk membahas seks. Kita membutuhkan wanita yang dapat berbicara tentang seks tanpa merasa canggung dan yang akan berbelas kasih ke mana pun percakapan berlangsung.

Bersedia melayani. Saya tidak bermaksud bahwa kita membutuhkan wanita yang lebih tua untuk melakukan semua tugas praktis gereja. Maksud saya, kita membutuhkan wanita yang melayani adik wanita mereka seperti yang Yesus kehendaki: lambat menghakimi, dengan baik hati gigih dalam menegur dosa, hadir dalam kebutuhan fisik kita, dan konstan dalam memajukan pengabdian kepada Tuhan.

Diperlukan Pengorbanan

Untuk wanita yang lebih tua, menjadi bagian dari gereja tertentu mungkin tidak nyaman. Bepergian ke pusat kota atau kota universitas akan menjadi rintangan besar. Saat Anda masuk ke dalam pintu, tidak akan langsung terlihat jelas di mana Anda masuk. Ini dibutuhkan inisiatif untuk mencari tahu. Singkatnya, itu akan menjadi sebuah pengorbanan.

Akan tetapi, mengingat wanita yang tak terhitung jumlahnya di seluruh Amerika Serikat menghadiri gereja-gereja di mana mereka bertumbuh secara rohani tanpa ibu rohani, saya meminta Anda untuk dengan sungguh-sungguh mempertimbangkan apakah ini adalah pengorbanan yang Tuhan panggil untuk Anda lakukan. Jika Anda memiliki hikmat dan ketersediaan yang berlimpah, pertimbangkanlah untuk mempersembahkan waktu Anda kepada jemaat yang lebih muda (lihat 2 Kor. 8:13–15).

Upah itu Kekal

Wanita lebih tua yang membimbing, memuridkan, dan merawat wanita yang lebih muda adalah bagian penting dari komunitas yang alkitabiah.

Orang muda Kristen terkadang kacau. Belakangan dalam suratnya kepada Titus, Paulus menulis tentang jenis-jenis masalah yang harus dihadapi orang Kristen yang lebih tua ketika mengajar orang percaya yang lebih muda: "Ingatkan mereka agar tunduk kepada pemerintah dan penguasa, taat dan siap melakukan setiap perbuatan baik, tidak memfitnah siapa pun, tidak bertengkar, ramah, serta benar-benar bersikap lemah lembut terhadap semua orang.- (Titus 3:1–2).

Akan tetapi, inilah cara Kerajaan Allah berjalan maju — dengan memperlihatkan kepada generasi berikutnya kasih karunia yang sudah kita sendiri terima (Titus 3:3-8). Dan, untuk wanita lebih tua yang berinvestasi pada wanita yang lebih muda, upahnya tidak akan berakhir.

Saat Anda berkorban untuk memastikan generasi yang lebih muda di gereja kita tidak dibiarkan sendiri, ingatlah bahwa Anda melakukannya demi kecantikan mempelai Kristus, gereja, agar ia bisa tampil sempurna saat Dia kembali. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari: Nama situs : The Gospel Coalition URL : https://www.thegospelcoalition.org/article/older-women-young-churches/ Judul asli artikel : Older Women, Young Churches Need You Penulis artikel : Hannah Nation

Haruskah Saya Bertahan dalam Pekerjaan yang Menghancurkan Jiwa Saya?

Sen, 11/01/2021 - 13:51

Saya telah menjadi RN (Registered Nurse/Perawat terdaftar - Red.) di departemen medis dari sebuah penjara yang berpenghuni 400 orang selama delapan tahun. Pada tahun lalu, keadaan menjadi lebih sulit — narapidana yang menggunakan program narkoba semakin mengancam, jumlah staf berkurang, dan jam lembur wajib bertambah sementara waktu liburan sering kali ditolak. Saya dulu tahu Allah menyuruh saya di sini untuk tujuan-Nya, tetapi sekarang saya tidak yakin. Saya sangat peduli dengan populasi yang kurang terlayani ini dan telah melihat Allah melakukan hal-hal yang luar biasa, tetapi saya bergumul dengan semangat yang hancur. Pada usia saya, pekerjaan tidak datang dengan mudah, dan pikiran untuk menemukan yang lain melelahkan saya hanya dengan memikirkannya. Apa yang harus saya lakukan?

Mencari kehendak Allah dalam situasi tertentu bisa jadi sulit, terutama jika itu melibatkan keputusan pribadi seperti hubungan dan pekerjaan. Keputusan ini memiliki konsekuensi jangka panjang; kita tidak ingin sembarangan. Syukurlah, Allah tidak meninggalkan kita tanpa nasihat.

Sebelum saya memaparkan perspektif alkitabiah yang mungkin memberikan beberapa hikmat praktis, saya ingin memuji Anda atas sejumlah hal yang telah Anda lakukan untuk mengintegrasikan iman Kristen Anda ke dalam perjalanan karier Anda.

Allah Telah Melakukan Hal-Hal Luar Biasa

Anda berada di jalan yang sulit sekarang. Kekhawatiran Anda — potensi kekerasan dan peningkatan jumlah lembur — bisa dibenarkan. Ini adalah tantangan yang nyata, tanpa jawaban yang mudah.

Di sisi lain, bertahun-tahun yang lalu Anda memilih untuk mengejar gelar di bidang keperawatan. Itu juga bukan jalan yang mudah. Iman Anda kepada Allah pasti memainkan peran besar dalam keputusan itu, dan Anda, tidak diragukan lagi, harus bergantung pada-Nya untuk melewatinya. Profesi Anda ditandai dengan kerendahan hati yang Yesus tunjukkan saat Dia membasuh kaki murid-murid-Nya. Anda memiliki hati seorang hamba.

Anda bilang Anda "dulu tahu Allah menyuruh saya di sini untuk tujuan-Nya." Itu adalah fondasi penting dalam teologi kerja — mengetahui bahwa Allah akan bekerja di dalam dan melalui Anda untuk mengasihi sesama Anda. Ada tujuan dalam situasi Anda, bahkan sekarang.

Anda menceritakan bahwa Anda "sangat peduli terhadap populasi yang kurang terlayani ini". Ini menunjukkan hati yang penuh kasih yang telah berkembang saat Anda mulai memahami bagaimana Allah memiliki belas kasihan pada Anda. Anda juga "melihat Tuhan melakukan hal-hal yang luar biasa" dalam pekerjaan, yang memberi tahu saya bahwa Anda telah menjalani karier Anda dengan iman, melihat bukti kehadiran-Nya dalam pekerjaan Anda.

Apa Kata Alkitab?

Nasihat Paulus kepada gereja di Korintus — tentang apakah orang harus berganti karier ketika mereka diselamatkan — mungkin dapat diterapkan pada situasi Anda. Dalam 1 Korintus 7:21, Paulus mengajarkan: "Jika kamu juga dapat menjadi orang merdeka, lebih baik gunakanlah kesempatan itu."

Kita tidak terjebak dalam pekerjaan seumur hidup. Beberapa pekerjaan atau karier hanya dimaksudkan untuk satu musim. Bahkan, jika pekerjaan Anda adalah satu panggilan Allah untuk Anda, Dia mungkin sekarang memanggil Anda ke arah yang berbeda, untuk kebaikan Anda dan untuk kemuliaan-Nya.

Kita bebas di dalam Kristus untuk mencari pekerjaan dan membuat keputusan bijak yang dipimpin oleh Roh ketika sebuah pekerjaan ditawarkan.

Ini sesuai dengan pengambilan keputusan Paulus dalam Kisah Para Rasul 13-20, karena dia mempertimbangkan pilihannya dalam mengejar misinya untuk mengkhotbahkan Injil kepada orang bukan Yahudi di Asia Kecil. Ada saat-saat langka ketika Roh Kudus berbicara kepadanya secara langsung atau dia menerima sederetan perintah dalam mimpi. Akan tetapi, seringkali dia hanya memutuskan untuk pergi ke kota tertentu, lalu ke kota lain, dan kemudian ke kota lain. Kita bebas di dalam Kristus untuk mencari pekerjaan dan untuk membuat keputusan bijak yang dipimpin oleh Roh ketika sebuah pekerjaan ditawarkan.

Ide tentang kepuasan, yang disorot dalam Filipi 4:11, juga berlaku di sini. Kita, seperti Paulus, dapat belajar untuk merasa cukup dalam situasi apa pun. Namun, ini bukan berarti kita tidak dapat mengambil tindakan untuk memperbaiki situasi jika kita mampu. Ini tentu bukan berarti bahwa kita tidak mencari pengobatan ketika kita sakit, bahwa kita tidak menempatkan diri kita di luar sana ketika kita sedang mencari jodoh, atau bahwa kita tidak seharusnya mencari Allah untuk menyediakan sarana alternatif pekerjaan ketika pekerjaan kita menjadi tak tertahankan.

Apa yang bisa Anda lakukan?

Allah mungkin mengubah keadaan Anda, atau Dia mungkin mengubah Anda. Apa pun yang terjadi, Dia bekerja demi Anda karena Dia selalu setia kepada anak-anak-Nya.

Lihatlah semua pilihan Anda. Adakah peluang untuk beralih ke peran pengawas dengan lebih sedikit kontak langsung dengan pasien ini? Apakah ada fasilitas serupa di dekatnya yang mungkin lebih terkendali? Apakah ada bidang keperawatan lain yang Anda pertimbangkan untuk dimasuki? Apakah Anda tertarik untuk mengejar gelar pascasarjana yang mungkin membuka pintu ke lingkungan kerja lain di mana Anda masih bisa membuat perbedaan (mungkin mengajar)?

Perhatikan ketidakpuasan suci yang Anda rasakan — Allah mungkin sedang mempersiapkan Anda untuk memulai babak lain dalam hidup Anda. Dan ingat: jika Anda memutuskan untuk pergi, Allah akan menyertai Anda. Jika Anda tinggal, Dia akan bersama Anda. Dia mungkin mengubah keadaan Anda, atau Dia mungkin mengubah Anda. Apa pun yang terjadi, Dia bekerja demi Anda karena Dia selalu setia kepada anak-anak-Nya.

Sangat penting untuk menggunakan waktu merenungkan sifat-sifat Allah, terutama kuasa-Nya untuk memberi Anda kekuatan untuk bertahan dan kemampuan-Nya untuk menyelamatkan Anda dari keterikatan. Pujilah Dia di tengah pencobaan ini dan mintalah hikmat dan rahmat saat Anda menavigasi itu. Berserah sepenuhnya pada ketuhanan Kristus. Percayai Dia dan biarkan Dia memimpin. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari: Nama situs : The Gospel Coalition URL : https://www.thegospelcoalition.org/article/remain-in-a-job-crushes-spirit/ Judul asli artikel : Should I Remain in a Job That Crushes My Spirit? Penulis artikel : Russ Gehrlein

Tipe Bahan: Artikelkategori: KARIER

Wanita ala Covid-19: Kesempatan dalam Krisis

Sel, 22/12/2020 - 16:39

Bagaimana Pandemi Covid-19 Bisa Menjadi Kesempatan Bagi Wanita Kristen untuk Bertumbuh dalam Krisis?

Jika kita memakai kaca mata minus atau plus, kita memakainya dengan tujuan supaya kita bisa semakin melihat dengan jelas. Kalau kacamata itu baik, maka objek yang kita lihat bisa terlihat dengan jelas. Sebaliknya, jika suatu saat kacamata itu jatuh dan retak dan kita nekat memakainya, mungkin Anda tetap dapat melihat objek tertentu, misalnya objek itu adalah wajah saya. Mungkin wajah saya itu masih kelihatan, tetapi tidak utuh lagi karena wajah saya terlihat jadi ikut retak.

Jadi, makna dari suatu peristiwa itu tergantung bagaimana cara pandang kita. Kalau kacamata tadi baik dan berfungsi dengan baik, kita bisa melihat objek itu dengan jelas, dengan tepat. Akan tetapi, ketika kacamata itu retak, maka kita melihat objek itu seperti retak juga. Bagaimana kita memaknai suatu peristiwa akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana cara pandang kita terhadap peristiwa itu.

Satu contoh yang jelas adalah peristiwa pada waktu Musa dan bangsa Israel akan masuk ke tanah Kanaan, kemudian Musa mengutus dua belas pengintai. Mungkin Anda semua sudah tahu cerita ini. Dua belas pengintai itu berangkat sama-sama. Kemudian, mereka berada di tempat itu selama 40 hari. Mereka melihat hal yang sama dan situasi yang sama. Kemudian, mereka sama-sama membawa hasil pertanian dari tanah Kanaan itu kembali ke kepada Musa. Mereka memberi laporan kepada Musa dan bangsa Israel.

Kedua belas pengintai ini kembali pada waktu yang sama juga, tetapi kita lihat bahwa kesepuluh pengintai orang itu mengatakan kepada Musa dan di depan bangsa Israel seperti ini: "Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu karena manusianya lebih kuat daripada kita." Kemudian mereka berkata lagi, "Negeri yang telah kami lalui untuk diintai itu adalah suatu bangsa yang memakan penduduknya dan semua orang yang kita lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi perawakannya. Juga, kami lihat di sana, orang-orang raksasa (orang Enak itu berasal dari orang-orang raksasa), dan kami melihat diri kami seperti belalang dan demikian juga mereka terhadap kami."

Kesepuluh pengintai ini melihat dan membawa hasil pengintaian dari tanah Kanaan. Mereka berkata tanah Kanaan itu kaya dengan susu, kaya dengan madu kemudian mereka juga membawa hasilnya. Akan tetapi, yang terfokus di dalam pandangan mereka adalah orang-orang yang besar itu. Dan, mereka melihat orang-orang itu adalah orang-orang yang menakutkan, yang memakan penduduk. Kemudian, mereka melihat seperti yang dikatakan tadi bahwa, "kami lihat diri kami seperti belalang dan demikian juga mereka terhadap kami." Walaupun mereka melihat hasilnya, tetapi yang menjadi fokus mereka adalah orang-orang yang besar itu dan mereka merasa seperti belalang. Ya, itu yang membuat mereka takut. Sehingga, mereka berkata untuk tidak usah masuk ke tanah Kanaan karena itu berbahaya.

Kemudian, kita akan melihat bagaimana kedua orang lainnya, yaitu Yosua dan Kaleb. Yosua dan Kaleb berkata, "Negeri yang kami lalui untuk diintai adalah luar biasa. Jika Tuhan berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk itu dan akan memberikannya kepada kita suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya ...," dan seterusnya. Jadi, di sini menarik sekali bahwa Yosua dan Kaleb itu melihat negeri itu luar biasa. Kemudian, mereka melihat juga bahwa, "Jika Tuhan berkenan maka ia akan membawa kita masuk ke negeri kita akan masuk ke negeri itu." Jadi, Yosua dan Kaleb bukan melihat orangn-orangnya yang besar dan mereka yang kecil seperti belalang. Yosua dan Kaleb berpandangan bahwa orang-orangnya itu memang besar, orang-orang itu memang menakutkan, dan itu juga yang dilihat oleh mereka, tetapi fokus mereka adalah kepada Tuhan. Jika Tuhan berkenan, Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu. Meskipun memang orang-orangnya menakutkan, tetapi Yosua dan Kaleb melihat ini justru sebagai kesempatan. Kesempatan untuk mengalami bahwa Tuhan itu secara ajaib akan membawa mereka dan akan memberikan negeri itu kepada mereka. Nah, menarik sekali bahwa kedua belas orang itu melihat perkara yang sama, tetapi karena cara pandang yang berbeda maka keputusan yang diambil dan bagaimana cara menjalaninya pun berbeda.

Kita sudah memahami situasi Covid-19, karena kita semua sudah mengalaminya selama 4 bulan (artikel ini dibuat 4 bulan semenjak pemberlakukan situasi PSBB di Indonesia - Red.). Pandemi Covid-19 sangat berdampak pada kesehatan, pekerjaan, dan lain sebagainya. Sekarang, orang menjadi takut jika ingin pergi ke dokter. Takut kalau sakit gigi nanti akan ditahan. Ada beberapa orang yang kehilangan pekerjaan karena terkena PHK, tetapi ada juga yang gajinya dipotong menjadi 50%, dan lain sebagainya.

Di bidang pendidikan, bagi ibu-ibu yang anaknya masih kecil, sangat merasakan dampaknya karena tidak tahu lagi kapan anak-anak akan sekolah lagi dan lain sebagainya. Relasi dalam keluarga juga banyak terpengaruh. Lalu, dalam hal ibadah, sekarang ibadah menjadi hal yang rumit sekali. Ada banyak yang pernikahannya diundur karena Covid-19, sementara yang lain harus menyelenggarakan pernikahan secara sederhana.

Itulah gambaran dampak dari pandemi ini. Dan, yang istimewa dari pandemi ini adalah karena dampaknya itu dialami oleh semua orang, termasuk oleh orang Kristen. Tidak membedakan apakah itu orang Kristen palsu atau orang Kristen sejati. Kristen KTP atau Kristen yang hidupnya sungguh-sungguh. Pandemi tidak membedakan-bedakan, karena semua mengalami dampaknya. Ini sesuatu yang istimewa juga karena biasanya dampaknya hanya kepada kelompok tertentu. Akan tetapi, dalam krisis ini, para pendeta serta gereja-gereja dibuat pusing.

Jadi, bagaimana kita harus memandang pandemi Covid-19 ini?

Kita bisa memiliki dua pandangan dalam memandang situasi pandemi Covid-19 ini.

Yang pertama, kita bisa memandang itu sebagai petaka, bencana. Mengapa bencana? Sebab, contohnya saja penghasilan suami sekarang dipotong, sementara anak masuk sekolah harus ada biaya dan lain sebagainya. Ataukah, kita justru memandang situasi krisis ini sebagai kesempatan untuk memiliki pengalaman bertumbuh bersama Tuhan.

Poin kesempatan ini justru terdapat pada saat sulit ini, di mana kita bisa memiliki pengalaman bersama dengan Tuhan dan bertumbuh dengan-Nya. Namun, hal ini bergantung pada bagaimana kita memandang situasi krisis dan apa yang dihasilkan dari sana. Bagaimana cara kita memandang akan mempengaruhi dampaknya terhadap hidup kita. Apakah hidup kita menjadi hancur, remuk, putus asa? Atau sebaliknya, hidup kita justru semakin dekat dengan Tuhan. Hidup kita menjadi hidup yang berjuang dan kita menjadi tahan banting. Kemudian, semua potensi kita muncul, sehingga kita bisa memiliki daya tahan dan sebagainya. Semua hal itu bergantung pada bagaimana kita memandangnya.

Jika kita memandang masa pandemi ini sebagai satu kesempatan bertumbuh, kita bisa bertumbuh di dalam hal apa?

Kita bisa bertumbuh secara spiritual, psikis, fisik, dan sosial. Lalu, bagaimana kita bisa bertumbuh dalam hal-hal ini?

Yang pertama, bertumbuh dalam hal spiritual.

Bertumbuh dalam hal spiritual meliputi apa saja?

1. Memercayai Allah

Saat ini kita sedang diuji, apakah kepercayaan kita kepada Allah itu hanya merupakan pengetahuan saja atau merupakan kepercayaan yang sesungguhnya? Apakah saya betul-betul mempercayai Allah?

Anda mungkin pernah mendengar berita pada saat krisis ini baru berlangsung. Ada seorang dokter muda, namanya dokter Michael Robert. Dia merencanakan akan menikah tanggal 11 April. Akan tetapi, karena dia menangani Covid, dia memutuskan bahwa dia akan melayani para pasien dahulu. Maka, pernikahannya diundur dari 11 April menjadi 12 Desember, kalau tidak salah. Kemudian, di tengah-tengah peristiwa itu, sebelum akhirnya dapat menikah, dokter ini malah meninggal. Dokter ini adalah dokter yang sungguh-sungguh mencintai Tuhan, hidupnya sungguh-sungguh fokus kepada Tuhan (Anda bisa mencari informasinya di Youtube, dengan judul Mencintai Tuhan).

Pada hari ke-8, ketika dia diopname, dia membuat video untuk memberikan semangat kepada dokter-dokter lain, "Ayo tetap semangat!" Dokter ini mencintai Tuhan dengan luar biasa, tetapi Tuhan justru memanggil dia. Ini tentu mengguncang keluarganya. Demikian juga kita. Kita mungkin juga mengalami kegoncangan-kegoncangan ini. "Saya takut akan Tuhan, saya berdoa, saya hidup dengan sungguh-sungguh, tetapi kenapa saya di-PHK ? Kenapa suami saya di-PHK?" Ini tentu akan menggoncangkan kita. Di mana Allah? Kok, Allah tidak mendengarkan saya? Mengapa Allah diam saja ?

Situasi ini justru merupakan kesempatan bagi kita. Jika berada di zona nyaman kita, mungkin Allah itu hanya jadi pengetahuan. Namun, menghadapi situasi semacam ini sesungguhnya bisa menjadi tantangan bagi kita untuk belajar. Saya akan belajar mempercayai Allah di dalam situasi ini. Walaupun tampaknya Allah diam. Walaupun tampaknya Allah bersembunyi. Walaupun tampaknya Allah cuek-cuek saja, saya akan belajar percaya kepada Allah.

Kita sudah hampir 4 bulan berada dalam situasi pandemi Covid-19. Apakah kita sudah semakin memercayai Allah atau semakin ragu-ragu? Ini merupakan kesempatan bagi kita untuk mengalami sendiri bahwa Allah itu nyata. Allah itu tidak diam. Allah itu ada. Mari kita mengalami ini supaya sungguh-sungguh kepercayaan kita bukan hanya sekadar pengetahuan, melainkan sungguh-sungguh berasal dari hati kita. Allah itu adalah Allah yang bisa dipercaya.

2. Pengalaman Mengandalkan Allah

Dalam waktu-waktu seperti ini, kita semua tidak bisa mengandalkan segala sesuatu. Uang tidak bisa diandalkan. Banyak pengusaha gulung tikar dan lain sebagainya. Kemudian, profesi-profesi banyak yang menjadi terlantar. Ini kesempatan kita mengandalkan Allah.

Sebelumnya, mungkin kita bisa mengandalkan gaji yang rutin setiap bulan. Tanpa sadar, selama ini kita sudah mengandalkan hidup pada gaji. Namun, kita tidak tahu kapan pandemi ini akan berakhir. Kita mungkin masih dalam keadaan baik-baik saja saat ini, tetapi pandemi ini masih terus berlangsung. Artinya, kasus positif masih terus bertambah, dan kita tidak tahu kapan situasi ini akan berakhir. Saat ini, kita mungkin tidak bisa mengandalkan gaji kita, mengandalkan kemampuan kita sendiri. Ini adalah kesempatan di mana kita belajar mengandalkan Allah, betul-betul mengandalkan Allah. Mari pakai kesempatan ini untuk semakin bersandar kepada Allah.

3. Belajar untuk Berdiam dan Mendengarkan Suara Allah

Jika kita membaca berbagai berita, kita menjadi khawatir dan sebagainya. Apakah selama ini dengan banyaknya berita, dengan banyaknya cerita orang, kita lebih banyak mendengar suara-suara yang terdengar, atau justru ini menjadi kesempatan bagi kita untuk berdiam, mendengarkan suara Allah? Dahulu, waktu kita banyak disibukkan dengan pekerjaan. Sekarang, kita memiliki banyak waktu di rumah, mungkin karena bekerja di rumah atau bekerja setengah hari dari yang biasanya. Ini justru menjadi kesempatan yang baik untuk berdiam dan mendengar suara Allah.

Mari, kita gunakan satu kesempatan untuk berdiam dan mendengar suara Allah, supaya suara Allah itu lebih terdengar daripada suara kita sendiri. Supaya suara Allah itu lebih terdengar daripada suara orang-orang lain. Mari kita berkata, "Tuhan saya berada dalam situasi yang tidak menentu, di dalam situasi yang tidak jelas. Saya ingin mendengar suara-MU yang jelas, suara-Mu yang pasti. Saya ingin mendengar itu dan saya ingin mengalami suara-Mu itu."

4. Kesempatan Belajar Memaknai Segala Peristiwa dan Segala Sesuatu

Ketika kita mendengar suara Tuhan. kita akan dimampukan memaknai segala sesuatu yang terjadi. Biasanya kita mungkin menganggap semua peristiwa berlalu begitu saja, mengalir begitu saja. Mari kita gunakan kesempatan ini untuk belajar memaknai setiap peristiwa. Kalau Anda terkena PHK, mari maknai peristiwa itu dengan mendengar suara Tuhan. "Tuhan mengapa ini boleh terjadi? Saya diPHK saat ini." Dengarlah suara Tuhan. Dari suara Tuhan yang terdengar, mari kita memaknai kembali hal-hal dalam hidup kita. Apa makna kita bekerja? Berangkat pagi, pulang malam, dan pada tanggal tertentu kita menerima gaji. Akan tetapi, kita belajar memaknai mengapa saya harus terkena PHK sekarang? Mari kita memaknai apa makna pekerjaan itu buat kita?

Lalu, jika kita sekarang sedang berada di rumah dan sedang ribut dengan suami/istri, mari kita memaknai, apa sih sebetulnya makna dari relasi suami istri? Apa yang Tuhan inginkan di dalam relasi suami istri ini? Mari kita temukan makna-makna itu sehingga setiap proses kehidupan kita memiliki makna dan bukan hanya mengalir begitu saja. Jika kita dapat memaknai setiap peristiwa, maka ada monumen-monumen di dalam kehidupan kita dan monumen-monumen itu menjadi sesuatu yang indah buat hidup kita.

5. Belajar Bersyukur

Dengan segala sesuatu yang terjadi, mari kita menggunakan kesempatan ini untuk belajar bersyukur atas perkara-perkara kecil maupun perkara- perkara besar.

6. Belajar Membangun Mazbah Keluarga

Ketika pergi ke gereja itu dilarang, mari gunakan kesempatan ini untuk membangun mazbah keluarga di mana kita bisa beribadah bersama dengan keluarga.

7. Keluarga Sebagai Gereja Kecil

Mari kita gunakan masa pandemi ini, kesempatan krisis ini untuk membangun spiritualitas kita untuk menjadi semakin kokoh dan kuat, sebab kita mendengar suara Tuhan, memercayai Tuhan, dan mengandalkan Tuhan.

Ini juga kesempatan agar gereja menjadi gereja kecil. Sesungguhnya, jika masing-masing keluarga bisa membangun mezbah keluarga, maka keluarga-keluarga Kristen ini bisa menjadi gereja-gereja kecil. Oleh karena itu, ketika pandemi ini sudah selesai, ketika gereja kembali dibuka, maka gereja yang besar ini bisa menjadi kuat karena di dalamnya terdiri dari gereja-gereja kecil.

Mari kita gunakan masa pandemi ini, kesempatan krisis ini untuk membangun spiritualitas kita untuk menjadi semakin kokoh dan kuat, sebab kita mendengar suara Tuhan, memercayai Tuhan, dan mengandalkan Tuhan.

Bagian yang lain adalah secara psikis, yaitu untuk membangun karakter kita serupa dengan Kristus.

Jadi, jika kita membiarkan situasi krisis ini begitu saja, itu justru akan merusak karakter kita. Kita mudah marah, kita mudah berpikir negatif dan lain sebagainya. Namun, mari kita gunakan kesempatan ini, masa sulit ini untuk menemukan karakter kita supaya kita menjadi serupa dengan Kristus.

Apa saja yang perlu dibangun?

1. Cara berpikir

Jika kita melihat cara berpikir orang dalam situasi saat ini, ada sebagian orang yang sudah cuek. Mereka piknik ke mana-mana, makan ke mana-mana, bergerombol ke mana-mana tanpa peduli. Akan tetapi, di sisi lain, ada orang yang demikian paranoid, demikian takutnya. Ini adalah tentang cara berpikir. Mari, kita coba berpikir secara tepat. Bagaimana situasi yang sesungguhnya? Bagaimana saya harus menempatkan diri?

Beberapa waktu lalu terjadi panic buying. Ada berita-berita yang mengatakan bahwa situasi pandemi akan menyebabkan kesulitan pangan dan bahan pokok, dan mencari barang-barang lainnya pun akan sulit. Lalu, terjadilah panic buying. Toko-toko diserbu, masker-masker diborong, dan lain sebagainya. Apa yang menyebabkan hal itu?

Itu adalah karena cara berpikir, karena tidak bisa menata cara berpikir. Sehingga, banyak orang hanya mengikuti apa kata orang lain. Filipi 4:8 ini menyatakan bahwa Tuhan ingin bahwa pikiran kita itu tidak diisi dengan sampah-sampah, tetapi diisi dengan yang baik, yang mulia, yang adil dan lain sebagainya. Seperti yang ada dalam Filipi 4:8, mari dalam posisi saat ini kita mengatur cara berpikir kita. Jangan menerima semua berita begitu saja. Jangan langsung membagikan berita yang kita terima di media sosial. Ini adalah salah satu cara mengatur pola pikir. Kalau kita terima berita, bacalah dahulu berita itu baik-baik. Apakah berita itu benar? Kalau sumbernya tidak jelas, jangan dibagikan. Ini termasuk cara praktis bagaimana mengatur pola berpikir.

2. Cara mengelola perasaan

Tentunya banyak perasaan muncul saat ini. Banyak ibu-ibu sekarang sudah bosan karena harus mengajari anak dan sudah tak tahu lagi bagaimana mengatur anak-anak. Mungkin ada perasaan marah, khawatir, atau perasaan apa pun yang muncul karena situasi saat ini. Karena itu, tidak heran kalau banyak webinar yang membahas tentang bagaimana mengelola stres dan lain sebagainya. Sesungguhnya, ini adalah kesempatan untuk menata perasaan kita. Apa yang dinyatakan dalam Filipi 4:6 menarik sekali, yaitu bahwa perasaan apa pun yang muncul jangan dibiarkan, jangan dipendam. Perasaan apa pun yang muncul, jangan dibiarkan untuk menguasai diri kita, tetapi nyatakanlah itu kepada Tuhan, sampaikan kepada Tuhan. "Tuhan, aku marah karena diperlakukan tidak adil. Kenapa ya dia tidak kena PHK, sementara saya kena PHK?" " Tuhan saya sudah bosan karena harus di rumah terus." "Tuhan saya khawatir karena tidak tahu bagaimana untuk bisa hidup bulan depan, tabungan sudah mulai habis." Nyatakan semua perasaan itu, curahkan itu kepada Tuhan. "Tuhan inilah semua perasaan saya. Saya serahkan semua kepada Tuhan. Silakan Tuhan tata perasaan saya supaya semua perasaan itu tepat pada tempatnya, dan mari Tuhan tolong saya supaya saya bisa mengekspresikan dengan tepat semua perasaan saya."

Selama ini, bagaimana dengan perasaan kita? Perasan kita muncul dengan tidak karuan, atau selama ini kita sudah belajar mengelola perasaan kita? Mari gunakan kesempatan ini untuk belajar mengelola perasaan kita.

3. Mengelola keinginan

Ini sudah jelas. Sekarang, semua dibatasi tidak seperti dahulu. Pergi ke gereja saja dibatasi. Mungkin kita protes "ke gereja saja kok sulit, aturannya banyak," tetapi, inilah kesempatan untuk bisa mengelola keinginan kita.

4. Menggali dan mengembangkan semua potensi

Bersyukur, sekarang sudah banyak perempuan-perempuan yang sadar bagaimana mengatasi rasa bosan dengan menggali potensinya. Ada yang mulai membuat masker yang dilukis dengan bagus. Itu sesuatu yang baik sekali. Mungkin, dahulu tidak punya waktu atau tidak punya fasilitas. Sekarang, ada waktu ada fasilitas sehingga bisa dikembangkan. Ada juga yang mulai menanam tanaman yang sedang ngetren, ada yang masak-masak, ada yang mulai buat quotes, tulisan-tulisan yang dibagikan di IG, FB dan sebagainya. Ada yang juga mengembangkan potensinya dengan mengadakan seminar-seminar, webinar, dan lain sebagainya.

5. Kesempatan mengembangkan kreativitas serta meng-update diri

Mungkin, saat ini ada berbagai webinar yang bisa kita kunjungi secara langsung dan murah. Ini kesempatan mengupdate diri, ini kesempatan untuk kita bisa mengembangkan diri dan bukan hanya tenggelam di dalam kemarahan dan kebosanan kita.

6. Mengembangkan kesehatan/kemampuan fisik

Saat ini, kita harus meningkatkan sistem imun kita. Sebab, imunitas tubuh yang kuat sangat berpengaruh agar kita tidak mudah tidak tertular Covid-19. Pakai kesempatan ini dengan hal-hal yang positif, contohnya makan makanan yang sehat. Sekarang, mari kita tidak jajan ke luar, tetapi memasak sendiri di rumah, dan lain sebagainya.

Saat ini juga menjadi kesempatan kita untuk bisa berolahraga, kesempatan memperbaiki gaya hidup, kesempatan hidup dengan menjaga kebersihan. Momen-momen ini sebetulnya kesempatan bagi kita semua untuk betul-betul memperhatikan fisik. Kalau selama ini karena kesibukan bekerja atau hal-hal yang, kita jadi tidak menjaga kesehatan fisik dan sebagainya, sekarang, kondisi fisik kita justru menentukan daya tahan tubuh kita terhadap serangan virus. Gunakan kesempatan ini untuk memperbaiki gaya hidup kita supaya tetap sehat.

7. Kesempatan untuk bertumbuh secara sosial

Relasi suami istri - kalau selama ini mungkin bertemu hanya pagi atau malam saja, tetapi sekarang karena lebih banyak ketemu, justru bisa terdeteksi bagaimana relasi antara suami istri. Komunikasi kita selama ini baik-baik atau tidak. Setelah kumpul bersama dengan waktu yang lama, apakah kita malah mudah marah-marah? Dari sana, kita mengerti, bahwa ternyata komunikasi kita bersama pasangan tidak baik. Ini merupakan kesempatan untuk memperbaiki komunikasi. Jangan dibiarkan menjadi konflik, marah-marah dan lain sebagainya. Kalau memang ada konflik disadari, bahwa ternyata itu dahulu komunikasinya yang tidak sehat, tetapi tidak diketahui karena hanya bertemu sebentar saja.

Dahulu tinggal berjauhan dengan pasangan sehingga mungkin tidak terasa. Sekarang, harus ketemu terus-menerus. Kalau begitu, ini kesempatan untuk memperbaiki keintiman antara suami dan istri. Itu sebabnya kita mendengar berbagai penelitian yang menyebutkan bahwa dalam masa pandemi banyak terjadi KDRT, banyak terjadi keributan pasangan. Mari, kita pakai kesempatan ini untuk memperbaiki komunikasi pasangan suami istri, memperbaiki intimasi pasangan suami istri.

Karena kita berada di rumah terus bersama anak-anak, ini juga menjadi kesempatan untuk memperbaiki relasi orang tua dengan anak-anak.

Begitu juga dengan gereja - ini kesempatan yang baik untuk membangun. Mungkin, sekarang di gereja ada orang yang memiliki kesulitan. Ada orang yang terdampak PHK, ada lansia yang tidak bisa mengikuti ibadah online, dan lain sebagainya. Mari gunakan kesempatan ini. Apa yang bisa saya lakukan untuk menolong semua jemaat gereja ini? Apa yang bisa saya lakukan untuk para lansia yang supaya bisa menikmati ibadah? Bagaimana saya bisa menolong jemaat yang sedang mengalami PHK dan sebagainya? Ini kesempatan untuk bisa terlibat lebih banyak bagi gereja, dan juga masyarakat, tetangga-tetangga kita.

Kita mungkin memiliki tetangga yang positif terkena Covid-19. Apakah kita membuat stigma, atau justru kita menjadi penggalang? Bagaimana kita menyediakan makanan bagi keluarga yang harus mengkarantina diri di rumah, yang tidak bisa keluar rumah?. Bagaimana kita dapat menyediakan makanan, memberikan sembako, dan sebagainya kepada mereka? Bagaimana kita bisa menopang yang lain dan sebagainya. Mari kita terlibat. Apa yang selama ini kita pelajari tentang iman? Berbuat baik. Ini adalah kesempatan kita merealisasikan apa yang telah menjadi teori kita.

Sekarang, mari kita belajar dari siklus hidup burung elang atau rajawali. Mungkin Anda pernah membaca, mendengar, atau melihat tentang rajawali. Ini menarik sekali bahwa rajawali ini bisa hidup 70 tahun. Jadi, masa hidupnya cukup lama, 70 tahun. Akan tetapi, pada waktu rajawali berumur 40 tahun, dia harus mengalami masa di mana paruhnya itu menjadi panjang, kemudian menjadi bengkok sehingga tidak tajam lagi. Kemudian, cakarnya mulai panjang sehingga menjadi tidak runcing. Juga bulunya menjadi tebal, sehingga ketika terbang menjadi berat sekali. Pada waktu berumur 40 tahun, dia dihadapkan pada dua pilihan. Pilihannya adalah apakah dia mau menjadi lemah kemudian mati, atau dia mau berproses sehingga bisa hidup kembali, bisa menambah umur hidupnya 30 tahun lagi?

Apa yang dialami rajawali itu cukup menyakitkan. Burung rajawali ini harus terbang jauh, kemudian pergi ke gunung yang berbatu-batu. Di gunung yang berbatu-batu ini rajawali tadi akan memukul-mukulkan paruhnya agar paruhnya itu lepas. Dia harus menunggu selama beberapa waktu agar paruhnya tumbuh kembali. Setelah paruhnya tumbuh, paruh itu digunakan untuk melepas cakar-cakarnya yang panjang karena sudah tidak tajam. Setelah cakar ini lepas, dia akan menunggu lagi sampai cakarnya itu tumbuh. Setelah cakarnya kembali bertumbuh, dia akan menggunakannya untuk melepaskan bulu-bulunya. Jadi, masa-masa saat dia berproses mengalami perubahan ini membutuhkan waktu sekitar 150 hari. Selama 150 hari rajawali itu akan mengalami semua proses tersebut. Dan, setelah mengalami proses itu, maka dengan paruh yang baru, dengan cakar yang tajam, dan bulu yang baru, dia bisa memperpanjang umurnya 30 tahun lagi. Dan, rajawali itu bisa memiliki kemampuan terbang seperti semula.

Jadi, itu pilihan bagi rajawali ini. Ketika berusia 40 tahun, dia bisa memilih untuk pasrah saja , atau mau mengalami perubahan. Ketika rajawali itu mau berproses, mengalami perubahan dengan mengalami sakit, rasa sakit untuk berubah, maka dia menjadi sesuatu yang baru. Dia bisa kuat lagi, dia bisa terbang lagi, dia punya kemampuan hidup 30 tahun lagi.

Tuhan mengizinkan masa krisis ini terjadi, dan kita tidak tahu akan sampai berapa lama. Sekarang, data untuk Indonesia sudah menembus 60.000 lebih kasus positif Covid-19, dan kita tidak tahu kapan ini akan berakhir. Kita bisa memandang bahwa ini bukan petaka, ini bukan bencana. Namun, ini adalah masa bagi Tuhan untuk memakai situasi yang ada guna mentransformasi hidup kita untuk menjadi manusia yang tidak mudah menyerah, bertumbuh, dan menjadi serupa dengan Kristus. Tuhan sungguh ingin agar kita bertumbuh semakin serupa dengan Kristus dan menjadi pemenang dalam setiap persoalan kehidupan kita.

Dengan pandemi ini, kita dapat berkata bahwa, "Tuhan, Engkaulah Allah yang bisa kupercaya. Engkaulah Allah yang bisa kuandalkan. Engkau adalah Allah yang tidak diam, tetapi Engkau adalah Allah yang suara-Nya mampu kudengar. Engkau Allah yang mampu menata hatiku, mampu menjaga tubuhku. Tuhan, Engkaulah Allah yang mampu membangun relasiku dengan suami/istri, dengan keluarga, dengan masyarakat, dan dengan gereja."

Mari kita menjadi semakin serupa Kristus. Untuk tidak mudah pasrah dan menyerah. Mari bertekad bahwa kita akan memakai situasi krisis ini untuk mentransformasi diri, sehingga setelah pandemi ini kita menjadi pribadi yang kuat, pribadi pemenang, pribadi yang tahan banting, pribadi yang kreatif, pribadi yang potensinya sudah tergali. Mari, kita jalani masa pandemi yang belum kita ketahui kapan berakhirnya ini dengan cara pandang yang benar. Dan, mari kita berkata, "Oke, Tuhan. Saya siap mentransformasi diri."

Diambil dari: Judul artikel : Wanita ala Covid-19: Kesempatan dalam Krisis Pemateri : Monna Rahardjo Arsip : https://live.sabda.org/article.php?title=kesempatan_dalam_krisis Slideshare : https://www.slideshare.net/sabda/wanita-kristen-ala-covid19-kesempatan-dalam-krisis

Download Audio

Tinggalkan Komentar