RSS Wanita

Tinggalkan Komentar


Subscribe to RSS Wanita feed
Updated: 18 hours 49 min ago

Bagi Ibu Muda: Pelayanan, Rasa Bersalah, dan Musim Kehidupan

Kam, 22/09/2022 - 15:30

Rasa bersalah adalah hal yang membayangi rutinitas seorang ibu muda. Rasa bersalah memiliki cara yang buruk untuk masuk ke dalam berbagai usaha yang dilakukan ibu muda dalam memelihara, melayani, dan mengasihi orang lain. "Apakah saya melakukan cukup untuk anak-anak saya? Untuk orang lain? Apa yang mereka pikirkan tentang saya? Apa yang Allah pikirkan tentang saya?"

Sebagai seorang ibu muda, semua orang menginginkan sesuatu dari Anda -- keluarga Anda, gereja Anda, atasan Anda, tetangga Anda. Dan kemungkinan besar, Anda memberi lebih banyak dari yang Anda pikir bisa Anda berikan. Namun, dalam perjalanannya, rasa bersalah menggerogoti jiwa Anda, menggerogoti kedamaian dan sukacita batin Anda. Dan, itu sering bertahan selama bertahun-tahun, bahkan setelah anak-anak Anda dewasa dan pergi.

Ibu muda yang terkasih, jangan sia-siakan rasa bersalah Anda!

JANGAN SIA-SIAKAN RASA BERSALAH ANDA

Jangan sia-siakan rasa bersalah Anda, tetapi dengarkan dan evaluasilah hal itu. Tariklah keluar hal itu dari bayang-bayang dan ujilah dalam terang Kitab Suci. Ungkapkan perasaan Anda di hadapan Kristus. Apakah rasa bersalah ini ada karena tuduhan dari dosa? Maka akui dosa Anda, terima pengampunan-Nya dan tanyakan di bagian mana dan bagaimana Dia ingin Anda berubah.

Namun, mungkin rasa bersalah Anda adalah ketakutan terus menerus yang berfokus pada diri sendiri, sehingga jika Anda sedikit lebih baik atau bekerja sedikit lebih keras, maka Anda akan diperhatikan dan dikagumi dan merasa baik tentang diri Anda sendiri. Itu adalah rasa bersalah palsu, yang berakar pada kesombongan. Itu akan menyakiti keluarga Anda dan menghalangi hubungan Anda dengan Bapa, Sang pemberi kasih karunia. Jika ini yang menyebabkan rasa bersalah Anda, maka ingatkan diri Anda bahwa melalui kematian dan kebangkitan Kristus, Anda telah diterima oleh Allah. Solusi untuk rasa bersalah palsu, seperti rasa bersalah sejati, adalah Injil.

Paulus berbicara tentang dua jenis rasa bersalah ini dalam 2 Korintus 7:10. Ada dukacita ilahi yang menghasilkan pertobatan, dan dukacita duniawi yang menghasilkan kematian. Tanyakan pada diri Anda pertanyaan ini: apakah saya memberi waktu dan energi saya kepada rasa bersalah yang menuntun pada pertobatan yang memberi hidup atau kesombongan yang melemahkan hidup?

LADANG MISI UTAMA IBU MUDA

Salah satu alasan seorang ibu muda dapat merasakan rasa bersalah yang keliru adalah karena dia lupa bahwa ladang misi pertama dan utamanya haruslah anak-anaknya.

Allah menghargai anak-anak. Dia sangat mementingkan pengajaran kita kepada anak-anak kita untuk mengasihi dan melayani Dia (Ul. 6:7-9). Yesus menjadi marah ketika para murid tidak menghargai anak-anak dalam kerajaan Allah yang berkembang (Mrk. 10:13-16). Dan, Allah memberi tahu kita bahwa anak-anak adalah berkat-Nya bagi kita (Mzm. 127:3).

Menjadi ibu memerlukan yang terbaik dari diri kita sebagai wanita. Sebagai ibu, kita membentuk jiwa anak-anak kita dan pada akhirnya memengaruhi dunia. Anak-anak adalah hadiah kita untuk masa depan. Jadi, terimalah panggilan Anda dari Allah untuk melayani keluarga Anda. Bisa dipastikan rasa bersalah yang menjauhkan Anda dari investasi sepenuh hati ke dalam diri anak-anak Anda untuk kepentingan-Nya bukanlah rasa bersalah ilahi. Jangan merasa bersalah karena menjadikan anak-anak Anda investasi pelayanan utama Anda ketika mereka masih muda. Anda sedang mengajar generasi muda untuk membentuk ikatan emosional yang intim dengan orang lain. Kepekaan, kesediaan, pengabdian, kasih sayang, dan perhatian Anda yang tidak tergesa-gesa tidak tergantikan bagi mereka.

PERAN SEBAGAI IBU: MURNI KERJA KERAS

Pada sisi lain, kata-kata Paulus kepada saya sebagai wanita yang lebih tua adalah untuk "... menasihati perempuan-perempuan muda untuk mencintai suaminya, mengasihi anak-anaknya, menguasai diri, saleh, mengurus urusan rumah tangganya, ramah, dan tunduk pada suaminya, supaya firman Allah tidak dilecehkan." (Tit. 2:4-5, AYT).

Mengapa Rasul Paulus harus memberi tahu kita wanita yang lebih tua untuk mengajarkan hal-hal ini kepada wanita yang lebih muda? Sebab, mungkin sulit untuk mengasihi suami dan anak-anak Anda. Bahkan, lebih mudah melayani di luar rumah. Mengapa lebih berharga bagi kita untuk merencanakan retret bagi dua ratus wanita dibandingkan merencanakan piknik dalam ruangan dengan anak-anak prasekolah kita pada sore yang hujan? Saya pikir itu karena hasilnya lebih cepat terlihat dan tuntutannya tidak terus menerus.

Menjadi seorang ibu muda adalah murni kerja keras. Terkadang, rasanya seperti kerja paksa! Para ibu muda dapat merasakan situasinya sama dengan kartun seorang balita yang melihat album foto pernikahan bersama ayahnya dan berkata, "Jadi, itulah hari Ibu datang untuk bekerja bagi kita!"

Akan tetapi, Allah telah memanggil Anda untuk pelayanan ini. Dia tahu tidak ada momen-momen netral dalam kehidupan seorang anak kecil, yang pengalamannya adalah salah satu kebutuhan dan perkembangan yang berkelanjutan. Anak-anak Anda akan membawa pola pengasuhan Anda sepanjang hidup mereka karena banyak perilaku manusia muncul dari peniruan.

Anda adalah satu-satunya ibu yang dimiliki anak-anak Anda. Pelayanan Anda kepada mereka adalah ungkapan terdalam dari kasih Anda kepada mereka. Membesarkan anak-anak Anda harus dilakukan dengan benar sejak awal. Ini adalah salah satu dari sedikit tempat dalam hidup di mana Anda tidak dapat berkata, "Jika pada awalnya Anda tidak berhasil, coba, coba lagi."

Anda telah menerima tugas ini dari Allah. Sebagai seorang ibu, hak istimewa Anda adalah mengajar mereka bagaimana menghormati ayah mereka dan bersikap baik kepada saudara-saudara mereka, bagaimana memilih nutrisi yang baik dan hiburan yang sehat, mengapa mereka harus menghargai kesopanan dan ketertiban, dan hal apa yang layak atas usaha mereka, reputasi mereka, dan bahkan darah mereka sendiri.

Apakah Anda putus asa saat Anda menghabiskan hari demi hari tenggelam dalam tugas-tugas biasa sebagai ibu? Maka pikirkan tentang kehormatan membimbing perkembangan spiritual dan intelektual dan sosial dari pikiran serta hati kaum muda. Pikirkan tentang serunya mengajari mereka kebenaran abadi dari firman Tuhan. Pikirkan tentang pentingnya mengajari anak-anak kecil Anda bagaimana hidup di bawah otoritas, dan mempersiapkan mereka untuk hubungan masa depan dengan mengajari mereka tentang kasih dan kepercayaan. Pikirkan sukacita mengirim satu lagi orang muda yang saleh, bersemangat, kuat, aman, dan penuh kasih ke dunia yang membutuhkan ini dengan keberanian untuk hidup baik demi Kristus. Betapa itu suatu investasi yang berharga!

YANG DIBUTUHKAN IBU MUDA: HATI BAGI KELUARGA

Tantangan lain bagi seorang ibu muda adalah memupuk kasih bagi keluarga.

Allah telah memanggil kita untuk mengasihi anak-anak kita di dalam keluarga dan rumah tangga (Tit. 2:4-5). Kita tidak dapat membuat rancangan lebih baik dari rancangan Allah! Ini berarti lebih dari sekadar tinggal di rumah. Ini berarti menetapkan hati Anda bagi keluarga Anda. Wanita dapat meninggalkan keluarga mereka dengan banyak cara selain karena alasan pekerjaan atau pelayanan di luar. Telepon seluler, email, dan ruang obrolan juga dapat menjauhkan seorang ibu dari pelayanan utamanya.

Layani Allah secara baik dengan melayani anak-anak Anda terlebih dahulu. Dengan segera, mereka akan menjadi dewasa dan pergi, dan semua momen unik di mana Anda bisa mengajar itu akan hilang.


Pelayanan berarti berada "di sana sepenuhnya." Itu berarti bersukacita karena Anda bisa mengajari anak-anak Anda cara mengayuh sepeda roda tiga, merapikan tempat tidur, membangun kenangan indah, dan berbagi mainan dengan orang lain. Anda melayani keluarga Anda, dan juga Bapa surgawi Anda, dengan membantu anak Anda menyusun 'puzzle' untuk ketujuh belas kalinya, dengan mencuci jari-jari lengket mereka, dengan menanami sebuah taman kecil, dengan bermain peran menggunakan cerita-cerita Alkitab dan berdoa bersama, dan dengan mempersiapkan rumah sebelum ayah mereka pulang sebagai puncak hari Anda!

Apa pilihan lainnya? "... anak yang dibiarkan akan mempermalukan ibunya." (Ams. 29:15, AYT).

Ingat ini: Anda memiliki hak istimewa untuk menurunkan pengertian tentang keberadaan Allah kepada anak-anak muda! Haruskah Anda merasa bersalah untuk itu? Ketika Anda membiarkan anak-anak Anda mengalami keintiman, kedekatan, dan keberadaan Anda pada tahun-tahun awal mereka bersama Anda, Anda dapat mengarahkan mereka untuk menemukan kebutuhan jiwa itu di dalam Kristus, Juru Selamat mereka, saat mereka dewasa. Lalu, Anda dengan senang hati akan mengirim mereka keluar dengan terang di dalam jiwa mereka untuk memberkati dunia yang gelap ini.

Seseorang akan memengaruhi anak-anak Anda, menanamkan nilai-nilai, dan menetapkan standar pada pikiran muda mereka yang mudah dipengaruhi. Biarkan Anda jadi orang yang melakukannya!

MUSIM INI HANYALAH SATU MUSIM

Apakah ini berarti Anda tidak akan pernah berinvestasi pada orang lain di luar keluarga Anda? Tentu saja tidak. Akan tetapi, jika Anda seorang ibu muda, gunakan pelayanan utama dari peran sebagai ibu untuk memilih tempat Anda melayani Kristus saat ini. Jangan biarkan apa pun menjauhkan Anda dari peran unik Anda sebagai seorang istri dan ibu.

Musim ini dalam kehidupan Anda hanyalah satu musim saja. Dan, setiap musim adalah panggilan ilahi dari Pencipta dan Raja kita. Mengatur acara gereja baru itu penting. Mengajarkan anak laki-laki Anda untuk bersikap baik kepada saudara perempuannya juga penting. Akan tetapi, mana yang paling bisa Anda lakukan selama musim ini? Layani Allah secara baik dengan melayani anak-anak Anda terlebih dahulu. Dengan segera, mereka akan menjadi dewasa dan pergi, dan semua momen unik di mana Anda bisa mengajar itu akan hilang. Dan, Anda akan memiliki banyak kesempatan untuk melayani Kristus di luar rumah Anda pada musim-musim mendatang.

"Namun kamu, jadilah kuat dan jangan biarkan tanganmu menjadi lemah. Ada upah untuk pekerjaanmu!" (2Taw. 15:7, AYT). (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari: Nama situs : 9 Marks Alamat situs : https://9marks.org/article/young-mother-ministry-guilt-and-seasons-life Judul asli artikel : For the Young Mother: Ministry, Guilt, and Seasons of Life Penulis artikel : Jani Ortlund

Para Ibu di Gereja

Kam, 22/09/2022 - 15:26

Salah satu buku favorit saya saat masih kanak-kanak adalah cerita klasik karya P.D. Eastman, "Are You My Mother?" (Apakah Kamu Ibuku? - Red). Ini adalah cerita tentang anak burung yang jatuh dari sarangnya dan kemudian pergi mencari induknya. Saya dengan penasaran membalik halaman saat anak burung itu bertanya kepada seekor anjing pemburu, sebuah mobil tua, dan sejumlah makhluk serta objek lain, pertanyaannya yang mendalam: "Apakah kamu ibuku?". Sembari burung kecil itu mencari, dia lewat sangat dekat dengan induknya tanpa menyadarinya. Dituliskan di sana: "Dia tidak tahu bagaimana rupa induknya. Dia melewatinya. Dia tidak melihatnya." Setelah terus menerus kecewa dan berhadapan dengan berbagai bahaya, dia menemukan induknya di akhir cerita, tepat ketika hati saya yang saat itu berusia 4 tahun sangat bersedih karena ketegangan ceritanya. Eastman menulis sebuah buku yang menunjukkan kebenaran yang jelas: para bayi membutuhkan ibunya.

Saya sekarang berusia lebih dari 40 tahun dan ibu dari empat orang anak yang hampir dewasa. Sembari saya menulis, mereka semua "berada di luar sarang" sepanjang minggu, dan keheningan rutin yang tak biasa di rumah kami seperti sedikit kecapan rasa dari tahapan hidup selanjutnya yang menyongsong saya. Sejujurnya, saya tidak tahu perasaan saya akan hal tersebut. Menjadi induk di sarang keluarga kami telah saya lakukan selama dua puluh tahun, dan saya menyukainya. Istilah "sarang kosong" terasa janggal.

Namun, saya tahu bahwa hari-hari saya sebagai ibu belum akan berakhir. Saya mengetahuinya sebab Allah memanggil setiap wanita percaya untuk menjadi seorang ibu, Pikirkan tentang perintah yang diberikan kepada Adam dan Hawa dalam Kejadian 1: beranakcuculah dan berlipatgandalah. Penuhi bumi dengan pembawa rupa Allah. Perintah kepada laki-laki dan perempuan pertama dimaksudkan agar mereka menjadi orang tua secara harfiah. Namun, dalam Perjanjian Baru, kita melihat bahwa perintah ini juga dinyatakan dalam makna spiritual Amanat Agung: pergi dan muridkanlah semua bangsa. Berbuahlah dan berlipatgandalah. Penuhi bumi dengan pembawa rupa Allah. Namun, kali ini panggilan ini juga untuk menjadi orang tua rohani, yang memelihara orang-orang percaya baru menjadi dewasa, untuk membantu mereka menjadi serupa dengan Kristus.

Saya tahu peran pengasuhan saya belum berakhir, karena sepanjang saya masih bernapas, panggilan untuk memenuhi bumi dengan pembawa rupa Allah akan terus menjadi tanggung jawab saya. Seperti halnya anak-anak kandung saya membutuhkan saya untuk melatih mereka dalam pengendalian diri, keterampilan bekerja, dan ketaatan, begitu pula orang-orang percaya muda di gereja membutuhkan mereka yang lebih dewasa untuk melatih mereka dalam kesalehan. Setiap wanita percaya yang bertumbuh dalam kedewasaan akan menjadi, pada waktunya, ibu rohani bagi mereka yang mengikutinya, entah dia adalah ibu secara biologis atau tidak. Ia memenuhi panggilan paling mendasar untuk berperan sebagai ibu: mengasuh mereka yang tidak berdaya dan lemah untuk menjadi dewasa dan kuat. Ia membantu orang-orang percaya muda untuk minum susu murni Firman, dengan setia mengajarkan doktrin mendasar dan meneladankan buah-buah roh. Dia mengorbankan diri untuk menyediakan waktu, seperti halnya ibu dari para bayi yang baru lahir, yang mengesampingkan agenda dan kebutuhan pribadinya demi memelihara kerohanian orang-orang yang masih muda dan lemah. Dan, ia memahami tanggung jawabnya bukan sebagai pencobaan, melainkan sebuah tugas sakral, dengan menemukan kesenangan mendalam ketika mendapati 'langkah-langkah goyah pertama' kesetiaan dan 'kata-kata pertama' kebenaran dari para bayi rohaninya.

Namun, menghubungkan para bayi rohani dengan ibu rohani tidak selalu mudah. Seperti halnya anak burung dalam cerita Eastman, orang-orang Kristen baru mungkin tidak mengenali induknya meski mereka berdiri tepat di hadapannya. Mereka mungkin melewatinya. Mereka mungkin bertanya, "Apakah kamu ibuku?" pada orang yang salah dan menerima jawaban, "Ya." Banyak pengajar-pengajar sesat yang ingin memangsa kaum muda Kristen yang belum mengembangkan iman mereka. Para pemuda dan pemudi Kristen, apakah kamu menyadari kebutuhanmu akan hikmat dari para ibu rohani? Yang kepadanya kamu dapat mendekat, untuk membantumu bertumbuh menjadi dewasa dalam relasimu dengan Allah dan sesama?

Setiap wanita percaya yang bertumbuh dalam kedewasaan akan menjadi, pada waktunya, ibu rohani bagi mereka yang mengikutinya, entah dia adalah ibu secara biologis atau tidak.


Bukan hanya para bayi rohani yang mungkin gagal mengenali ibu rohani, tetapi juga para ibu rohani dapat gagal memahami perannya. Kita mungkin merendahkan kebutuhan atau mempertanyakan kemampuan kita dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Atau, kita mungkin ragu-ragu mengembangkan diri ketakutan terhadap komitmen. Namun, gereja tanpa pengasuhan ibu sama tragisnya seperti keluarga tanpa pengasuhan ibu. Membimbing orang kepada kedewasaan rohani bukan hanya menjadi tugas bagi pendeta, penatua, atau guru sekolah minggu. Gereja membutuhkan para ibu untuk mengurus keluarga Allah. Kita harus bangkit melakukan tanggung jawab kita, bersungguh-sungguh mencari orang yang Tuhan percayakan untuk kita asuh. Tidak ada kemandulan di antara wanita yang percaya. Melalui Injil, semua dapat menjadi ibu dalam kedewasaan rohani mereka. Dan, tidak seperti ibu biologis, ibu rohani memiliki potensi untuk mengasuh ratusan, bahkan ribuan keturunan. Para wanita yang lebih dewasa dalam iman, apakah Anda menyadari pentingnya pengaruh dan teladan Anda? Kepada siapa Anda memberi ruang dalam hidup Anda untuk membimbingnya ke dalam kedewasaan iman? Siapa saja yang membutuhkan hikmat yang telah Anda peroleh dengan susah payah? Para bayi rohani membutuhkan bantuan untuk menyingkap firman Tuhan, untuk hidup dalam damai dengan Allah dan sesama, untuk menjadi terang dalam tempat yang gelap. Para bayi membutuhkan ibu.

Merupakan panggilan bagi setiap wanita percaya, untuk tunduk pada perintah berbuah dan berlipatganda, untuk memenuhi bumi dengan para pembawa rupa Allah. Ini artinya, istilah "sarang kosong" tidak berlaku bagi kita. Ada penghiburan bagi saya dalam kebenaran ini saat saya menyaksikan anak-anak biologis saya dewasa dan meninggalkan rumah. Saya mengira dan berharap ada penghiburan dalam kebenaran ini bagi setiap wanita percaya, baik yang menjadi ibu biologis ataupun tidak. Tidak seorang pun dari kita yang perlu mempertanyakan fungsi kita dalam rumah tangga Allah. Kita hanya perlu mencari anak burung selanjutnya yang perlu kita bawa ke bawah sayap kita. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari: Nama situs : Ligonier Alamat situs : https://ligonier.org/learn/articles/mothers-church Judul asli artikel : Mothers in the Church Penulis artikel : Jen Wilkin

Ketika Menjadi Ibu Terasa Membosankan

Rab, 21/09/2022 - 12:53

Diam-diam saya menghitung waktu sampai tiba jam tidur: sembilan jam lagi. Saat itu baru pukul 11 pagi. Saya sudah berjuang melawan kebosanan -- bukan karena saya tidak mencintai anak-anak saya, tetapi karena hari yang terbentang di depan saya berisi kegiatan sama yang telah saya lakukan beberapa hari sebelumnya dan masih akan saya lakukan berhari-hari setelahnya.

Saya sangat bersyukur menjadi seorang ibu. Namun, kalau boleh jujur, terkadang pekerjaan itu terasa ... membosankan.

Khususnya tahun ini, banyak dari kita yang telah bersama anak-anak kita, dan hanya anak-anak kita, untuk sebagian besar hari kita. Hari-hari dan minggu-minggu terbentang di depan dan di belakang dalam kesamaan yang buram. Sebagian besar pekerjaan kita sebagai ibu -- baik sebagai ibu rumah tangga penuh waktu atau tidak -- melakukan tugas yang berulang. Mandi dan mencuci pakaian serta piring, menyiapkan makanan dan makanan ringan serta minuman, mengemudi melalui rute yang sama ke supermarket dan apotek dan sekolah dan gereja, lagi dan lagi.

Akan tetapi, pada musim menjadi ibu ini, saya mendapat dorongan besar dari cara Firman Allah membantu membingkai ulang apa yang sering terasa seperti kebosanan bagi saya.

Kesamaan Tidak Sama Dengan Monoton

Dari perspektif alkitabiah, kesamaan tidak sama dengan monoton. Firman menyatakan bahwa "Yesus Kristus tetap sama, kemarin, hari ini, dan sampai selama-lamanya." (Ibr. 13:8, AYT), dan bahwa setiap karunia yang telah diberikan kepada kita berasal dari Bapa "pada-Nya tidak ada perubahan atau pertukaran bayangan." (Yak. 1:17, AYT). Allah, yang luar biasa, selalu sama. Dia tidak berubah pikiran tentang kita. Dia konsisten dalam karakter-Nya dan tak tergoyahkan dalam kemuliaan-Nya. Hukum-Nya tetap, dan kebenaran-Nya akan bertahan selama-lamanya.

Namun, Allah jauh dari membosankan! Konsistensi-Nya sama sekali tidak mengurangi kemegahan dan keindahan-Nya. Kita dapat menghabiskan seumur hidup untuk mengagumi kebaikan, kebenaran, dan terang-Nya.

Jadi, meskipun saya mungkin menganggap kesamaan dalam hidup saya setara dengan kebosanan, Allah menunjukkan kepada kita bahwa itu bukan masalahnya. Karakter-Nya yang tidak berubah memungkinkan kita untuk menjelajahi dunia tempat kita tinggal tanpa tersesat. Selain itu, anak-anak kita membutuhkan rutinitas yang stabil dan interaksi yang dapat diprediksi untuk mengarahkan mereka kepada Allah dan membantu mereka memahami dunia. Pengulangan harian yang tampaknya membosankan bagi kita adalah karunia untuk anak-anak kita.

Kegembiraan Tidak Sebanding Dengan Nilai

Dalam budaya yang mengutamakan kegairahan, perubahan, kebaruan, dan sensasi, kenyataan mengasuh anak bisa jadi tampak sangat tidak menarik. Jika kita membandingkan pekerjaan sehari-hari sebagai ibu dengan gambaran yang kita lihat tentang perjalanan eksotis dan makanan mewah, kita mungkin mulai percaya bahwa hidup kita tidak semenarik -- dan karena itu tidak sepenting -- sebagaimana hidup mereka yang kita lihat di layar.

Namun, apa yang mungkin kita anggap membosankan, Allah anggap berharga. Ia bahkan menyamakan dirinya dengan seorang ibu (Yes. 66:13; Mat. 23:37). Tindakan mengasuh anak-anak setiap hari adalah tugas yang berharga dan indah yang mencerminkan pemeliharaan-Nya sehari-hari bagi kita: "Pujilah Tuhan, yang setiap hari menanggung kita." (Mzm. 68:19, AYT; bdk. Yes. 46:3-4). Allah tidak lalai memelihara kita, bahkan untuk satu hari pun. Saat kita merawat anak-anak kita, kita mencerminkan karakter-Nya.

Ini memberi sensasi paling nyata dalam pekerjaan kita sebagai ibu: mengetahui bahwa kita menaati Allah dan menampilkan kebaikan-Nya di bumi ini kepada keluarga kita.

Kelelahan Tidak Menghilangkan Tujuan Kita

Terkadang, kebosanan kita berasal dari rasa lelah. Tanggung jawab yang diemban para ibu tampaknya tidak pernah berakhir -- setidaknya selama bertahun-tahun ke depan. Akan tetapi, kelelahan dan kebosanan yang kita alami dalam peran kita sebagai ibu, sebenarnya dapat membantu menjaga hati kita dari penyembahan berhala.

Kelelahan dan kebosanan yang kita rasakan mengingatkan kita bahwa apa yang kita lakukan di dunia ini bukanlah untuk kepuasan atau kesenangan kita sendiri; itu bertujuan untuk memuliakan Allah dan menghasilkan murid.


Jika menjadi ibu selalu dapat dilakukan dengan sempurna, dan anak-anak kita memenuhi kebutuhan kita, akan terlalu mudah bagi kita untuk mengidolakan anak-anak kita dan menjadikan mereka fokus utama dalam hidup kita. Bahkan, ketika anak-anak kita jauh dari sempurna, banyak dari kita bergumul untuk menyesuaikan hidup kita di sekitar mereka daripada di sekitar Kristus. Akan tetapi, ketika kita bosan dengan tanggung jawab keibuan kita, dan ya, bahkan merasa terkuras oleh anak-anak kita sendiri, itu mengingatkan kita yang tidak taat bahwa hanya Yesus yang dapat memuaskan hati kita.

Hanya karena kita lelah menjadi ibu tidak berarti tujuan pekerjaan kita sia-sia: "Jangan kita menjadi lelah berbuat baik. Jika musimnya tiba, kita akan menuai asalkan kita tidak menyerah" (Gal. 6:9, AYT). Kelelahan dan kebosanan yang kita rasakan mengingatkan kita bahwa apa yang kita lakukan di dunia ini bukanlah untuk kepuasan atau kesenangan kita sendiri; itu bertujuan untuk memuliakan Allah dan menghasilkan murid.

Menemukan Allah yang Setia dalam Kebosanan

Syukurlah, musim-musim kehidupan -- termasuk menjadi ibu -- tidak berlangsung selamanya. Setiap situasi hidup memiliki tantangan dan karunia -- dan Allah membentuk kita dalam musim khusus untuk bertumbuh dan membentuk kita menjadi serupa dengan Kristus.

Ketika hidup terasa membosankan karena hal-hal selalu terasa sama, kita dapat meminta Allah kita yang konstan untuk memberi kita mata yang segar agar dapat melihat keindahan dan kemuliaan-Nya di tengah hari-hari kita. Saat kita membuat makanan keempat belas dalam seminggu, kita dapat meminta Allah untuk memberi kita kerinduan baru akan pesta pernikahan Anak Domba yang besar itu (Why. 19:6-9).

Saat kita menempelkan plester pada lutut yang luka lagi, kita dapat meminta Allah untuk membantu kita mengingat bagaimana Dia menghibur kita (Yes. 66:13). Dan, ketika kita melihat daftar tugas yang sama persis dengan hari kemarin, kita dapat berdoa agar Roh Kudus memberi kita perspektif kekal yang memungkinkan kita untuk hidup dan bekerja bagi Kristus, bukan untuk diri kita sendiri.

Tuhan tengah bekerja dalam hari-hari kita yang mungkin selalu sama, dan karena Dia adalah Allah yang tidak berubah, kita memiliki kesempatan untuk bertemu dengan-Nya dalam peran kita sebagai ibu. Dan, Dia tidak pernah membosankan. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari: Nama situs : The Gospel Coalition Alamat situs : https://thegospelcoalition.org/article/when-mothering-feels-boring Judul asli artikel : When Mothering Feels Boring Penulis artikel : Ann Swindell Tipe Bahan: Artikelkategori: KELUARGA

Cara Menemukan Kedamaian Saat Anda Merasa Tersinggung

Rab, 14/09/2022 - 07:50

Kapan Anda merasa tersinggung?

Bertahun-tahun yang lalu, saya membantu mengatur retret wanita tahunan di gereja kami. Saya suka mengajar dalam acara dan konferensi wanita, dan dalam salah satu pertemuan perencanaan kami, wanita lain mengemukakan kemungkinan untuk meminta saya menjadi pembicara. Saya senang ketika semua orang tampak bersemangat tentang hal itu. Akan tetapi, beberapa minggu kemudian, tim memutuskan untuk meminta orang lain dari jemaat kami untuk mengajar, bukan saya.

Respons awal saya adalah merasa sakit hati. Selama beberapa hari berikutnya, rasa sakit itu berkembang menjadi kemarahan dan ketersinggungan. Mereka pikir siapa mereka, memilih wanita lain ini daripada saya? Dia lebih muda -- dan kurang berpengalaman!

Namun, ketika saya berdoa tentang segala sesuatu yang berkecamuk dalam hati saya, Tuhan menunjukkan kepada saya bahwa kesombongan ada di balik semua rasa sakit dan kemarahan saya. Saya sakit hati karena saya merasa ditolak -- emosi yang bisa dimengerti. Akan tetapi, saya marah dan tersinggung karena saya merasa berhak; Saya pikir saya hebat dan harus dihargai dengan undangan untuk mengajar.

Kesombongan Menghasilkan Ketersinggungan

Peluang untuk tersinggung -- dan kesombongan -- tetap ada dalam hubungan kita dengan orang lain. Di tempat kerja, kita mungkin tersinggung karena seorang manajer lebih memilih ide rekan kerja daripada ide kita, atau karena atasan kita pelit dengan pujian. Di rumah, rasa tersinggung mungkin muncul ketika pasangan kita tidak menunjukkan rasa terima kasih atas semua yang kita lakukan untuk menjaga fungsi keluarga. Kita bisa merasa tersinggung oleh seorang teman yang pandangan politiknya bertentangan dengan kita, atau oleh tetangga yang terus-menerus mengharapkan kita melakukan sesuatu untuknya tanpa pernah membalas budi.

Terkadang, tindakan orang lain itu berdosa -- dan kita memang benar telah dilukai. Akan tetapi, sama seringnya, kita menjadi tersinggung karena kita tidak percaya bahwa kita mendapatkan apa yang kita pikir seharusnya kita miliki, terutama jika itu adalah sesuatu yang diperoleh orang lain. Dan, itu menyinggung.

Sering kali, rasa tersinggung ditopang oleh kenyataan perasaan sombong yang buruk. Kita mungkin berpikir bahwa kita lebih baik daripada orang yang menyakiti kita -- entah karena kita lebih pintar, atau karena kita bekerja lebih keras, atau karena kita lebih dewasa secara rohani atau emosi.

Kerendahan Hati Melayani

Kedamaian datang ketika kita mengakui dan bertobat dari kesombongan kita sehingga kita dapat menghampiri Allah dan orang lain dengan kerendahan hati melalui pelayanan.


Dalam Markus 10:35-45, kita melihat kenyataan pelanggaran dan kesombongan diperlihatkan dengan jelas dalam hubungan di antara para murid. Yakobus dan Yohanes meminta kekuasaan dan posisi kepada Yesus berdasarkan persepsi mereka sendiri tentang kedudukan rohani: "Dan mereka berkata kepada [Yesus], 'Izinkan kami duduk, satu di sebelah kanan-Mu, dan yang satu lagi di sebelah kiri-Mu, bagi kemuliaan-Mu.'" (Markus 10:37, AYT). Sebagai orang-orang yang dekat dengan Yesus, kedua bersaudara itu merasa layak mendapatkan tempat terhormat di samping Tuhan. Akan tetapi, keadaan menjadi lebih buruk: "Ketika sepuluh murid mendengar hal itu, mereka menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes" (Markus 10:41, AYT).

Tanggapan Yesus terhadap murid-murid yang tersinggung dan berselisih ini adalah pengingat yang sama yang perlu kita dengar hari ini: "Sebaliknya, siapa yang ingin menjadi besar di antara kamu, harus menjadi pelayanmu, dan siapa yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, harus menjadi pelayan dari semuanya. Sebab, bahkan Anak Manusia pun datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani, dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Markus 10:43-45, AYT).

Kristus menunjukkan perlunya umat-Nya untuk saling melayani dalam kerendahan hati sambil menunjuk pada kematian-Nya di kayu salib sebagai satu-satunya cara yang pada akhirnya mampu mengatasi ketersinggungan terbesar yang ada.

Injil Mengatasi Pelanggaran

Yang benar adalah, sebagai orang berdosa, tidak peduli seberapa pintar atau dewasanya kita, apa yang sebenarnya layak kita terima dalam hidup ini adalah murka dan penghukuman -- karena dosa pelanggaran kita terhadap Allah yang Kudus. Sebaliknya, melalui Kristus, kita menerima kasih karunia yang tak terukur dari Bapa surgawi kita:

"Akan tetapi, Allah, yang kaya dengan belas kasih dan karena kasih-Nya yang besar itu Ia mengasihi kita, bahkan ketika kita mati dalam pelanggaran-pelanggaran kita, Ia menghidupkan kita bersama dengan Kristus -- oleh anugerah kamu telah diselamatkan -- , dan Ia membangkitkan kita dengan Dia dan mendudukkan kita bersama dengan Dia di tempat surgawi dalam Yesus Kristus" (Efesus 2:4-6, AYT)

Kabar baik ini ajaib dan luar biasa -- Allah telah menghapus dosa serta pelanggaran kita terhadap-Nya.

Namun, tetap saja, Injil tidak selalu memengaruhi cara kita melihat dan berinteraksi dengan orang-orang yang menyakiti kita. Setiap kali kita mendapati diri kita berpikir, "Beraninya dia!" atau, "Dia pikir dia siapa?" itu adalah sinyal bagi kita untuk melihat ke cermin dan merenungkan kembali siapa kita sebenarnya. Kita harus memandang diri kita sendiri dengan kerendahan hati, tidak menganggap diri kita lebih tinggi daripada diri kita yang sebenarnya (Roma 12:3).

Menemukan Kedamaian

Ketika kita memandang diri kita dengan benar -- sebagai orang berdosa yang putus asa yang membutuhkan Juru Selamat -- rasa sakit hati yang kita rasakan dari orang lain dapat mulai mencair. Yesus membawa kedamaian di antara mereka yang tersinggung, karena Dia meminta kita untuk memandang Dia sebagai standar kita, bukan satu sama lain.

Kedamaian datang ketika kita mengakui dan bertobat dari kesombongan kita sehingga kita dapat menghampiri Allah dan orang lain dengan kerendahan hati melalui pelayanan. Itulah posisi kebesaran sejati yang dicari oleh Yakobus dan Yohanes -- cara untuk memiliki jiwa yang damai dengan Allah dan sesama. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari: Nama situs : The Gospel Coalition Alamat situs : https://thegospelcoalition.org/article/peace-offended Judul asli artikel : How to Find Peace When You Feel Offended Penulis artikel : Ann Swindell

Cara Menemukan Kedamaian Saat Anda Merasa Tersinggung

Sen, 05/09/2022 - 14:14

Kapan Anda merasa tersinggung?

Bertahun-tahun yang lalu, saya membantu mengatur retret wanita tahunan di gereja kami. Saya suka mengajar dalam acara dan konferensi wanita, dan dalam salah satu pertemuan perencanaan kami, wanita lain mengemukakan kemungkinan untuk meminta saya menjadi pembicara. Saya senang ketika semua orang tampak bersemangat tentang hal itu. Akan tetapi, beberapa minggu kemudian, tim memutuskan untuk meminta orang lain dari jemaat kami untuk mengajar, bukan saya.

Respons awal saya adalah merasa sakit hati. Selama beberapa hari berikutnya, rasa sakit itu berkembang menjadi kemarahan dan ketersinggungan. Mereka pikir siapa mereka, memilih wanita lain ini daripada saya? Dia lebih muda -- dan kurang berpengalaman!

Namun, ketika saya berdoa tentang segala sesuatu yang berkecamuk dalam hati saya, Tuhan menunjukkan kepada saya bahwa kesombongan ada di balik semua rasa sakit dan kemarahan saya. Saya sakit hati karena saya merasa ditolak -- emosi yang bisa dimengerti. Akan tetapi, saya marah dan tersinggung karena saya merasa berhak; Saya pikir saya hebat dan harus dihargai dengan undangan untuk mengajar.

Kesombongan Menghasilkan Ketersinggungan

Peluang untuk tersinggung -- dan kesombongan -- tetap ada dalam hubungan kita dengan orang lain. Di tempat kerja, kita mungkin tersinggung karena seorang manajer lebih memilih ide rekan kerja daripada ide kita, atau karena atasan kita pelit dengan pujian. Di rumah, rasa tersinggung mungkin muncul ketika pasangan kita tidak menunjukkan rasa terima kasih atas semua yang kita lakukan untuk menjaga fungsi keluarga. Kita bisa merasa tersinggung oleh seorang teman yang pandangan politiknya bertentangan dengan kita, atau oleh tetangga yang terus-menerus mengharapkan kita melakukan sesuatu untuknya tanpa pernah membalas budi.

Terkadang, tindakan orang lain itu berdosa -- dan kita memang benar telah dilukai. Akan tetapi, sama seringnya, kita menjadi tersinggung karena kita tidak percaya bahwa kita mendapatkan apa yang kita pikir seharusnya kita miliki, terutama jika itu adalah sesuatu yang diperoleh orang lain. Dan, itu menyinggung.

Sering kali, rasa tersinggung ditopang oleh kenyataan perasaan sombong yang buruk. Kita mungkin berpikir bahwa kita lebih baik daripada orang yang menyakiti kita -- entah karena kita lebih pintar, atau karena kita bekerja lebih keras, atau karena kita lebih dewasa secara rohani atau emosi.

Kerendahan Hati Melayani

Dalam Markus 10:35-45, kita melihat kenyataan pelanggaran dan kesombongan diperlihatkan dengan jelas dalam hubungan di antara para murid. Yakobus dan Yohanes meminta kekuasaan dan posisi kepada Yesus berdasarkan persepsi mereka sendiri tentang kedudukan rohani: "Dan mereka berkata kepada [Yesus], 'Izinkan kami duduk, satu di sebelah kanan-Mu, dan yang satu lagi di sebelah kiri-Mu, bagi kemuliaan-Mu.'" (Markus 10:37, AYT). Sebagai orang-orang yang dekat dengan Yesus, kedua bersaudara itu merasa layak mendapatkan tempat terhormat di samping Tuhan. Akan tetapi, keadaan menjadi lebih buruk: "Ketika sepuluh murid mendengar hal itu, mereka menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes" (Markus 10:41, AYT).

Tanggapan Yesus terhadap murid-murid yang tersinggung dan berselisih ini adalah pengingat yang sama yang perlu kita dengar hari ini: "Sebaliknya, siapa yang ingin menjadi besar di antara kamu, harus menjadi pelayanmu, dan siapa yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, harus menjadi pelayan dari semuanya. Sebab, bahkan Anak Manusia pun datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani, dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Markus 10:43-45, AYT).

Kristus menunjukkan perlunya umat-Nya untuk saling melayani dalam kerendahan hati sambil menunjuk pada kematian-Nya di kayu salib sebagai satu-satunya cara yang pada akhirnya mampu mengatasi ketersinggungan terbesar yang ada.

Injil Mengatasi Pelanggaran

Yang benar adalah, sebagai orang berdosa, tidak peduli seberapa pintar atau dewasanya kita, apa yang sebenarnya layak kita terima dalam hidup ini adalah murka dan penghukuman -- karena dosa pelanggaran kita terhadap Allah yang Kudus. Sebaliknya, melalui Kristus, kita menerima kasih karunia yang tak terukur dari Bapa surgawi kita:

"Akan tetapi, Allah, yang kaya dengan belas kasih dan karena kasih-Nya yang besar itu Ia mengasihi kita, bahkan ketika kita mati dalam pelanggaran-pelanggaran kita, Ia menghidupkan kita bersama dengan Kristus -- oleh anugerah kamu telah diselamatkan -- , dan Ia membangkitkan kita dengan Dia dan mendudukkan kita bersama dengan Dia di tempat surgawi dalam Yesus Kristus" (Efesus 2:4-6, AYT)

Kabar baik ini ajaib dan luar biasa -- Allah telah menghapus dosa serta pelanggaran kita terhadap-Nya.

Namun, tetap saja, Injil tidak selalu memengaruhi cara kita melihat dan berinteraksi dengan orang-orang yang menyakiti kita. Setiap kali kita mendapati diri kita berpikir, "Beraninya dia!" atau, "Dia pikir dia siapa?" itu adalah sinyal bagi kita untuk melihat ke cermin dan merenungkan kembali siapa kita sebenarnya. Kita harus memandang diri kita sendiri dengan kerendahan hati, tidak menganggap diri kita lebih tinggi daripada diri kita yang sebenarnya (Roma 12:3).

Menemukan Kedamaian

Kedamaian datang ketika kita mengakui dan bertobat dari kesombongan kita sehingga kita dapat menghampiri Allah dan orang lain dengan kerendahan hati melalui pelayanan.


Ketika kita memandang diri kita dengan benar -- sebagai orang berdosa yang putus asa yang membutuhkan Juru Selamat -- rasa sakit hati yang kita rasakan dari orang lain dapat mulai mencair. Yesus membawa kedamaian di antara mereka yang tersinggung, karena Dia meminta kita untuk memandang Dia sebagai standar kita, bukan satu sama lain.

Kedamaian datang ketika kita mengakui dan bertobat dari kesombongan kita sehingga kita dapat menghampiri Allah dan orang lain dengan kerendahan hati melalui pelayanan. Itulah posisi kebesaran sejati yang dicari oleh Yakobus dan Yohanes -- cara untuk memiliki jiwa yang damai dengan Allah dan sesama. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari: Nama situs : The Gospel Coalition Alamat situs : https://thegospelcoalition.org/article/peace-offended Judul asli artikel : How to Find Peace When You Feel Offended Penulis artikel : Ann Swindell

Apakah Materialisme Mengganggu Hati Anda?

Kam, 04/08/2022 - 10:14

Adven merupakan masa refleksi dan keagungan. Masa itu mengungkapkan semua penantian dan harapan yang terbungkus dalam kelahiran Kristus. Dengan kelahiran-Nya, kita memperingati kedatangan Juru Selamat kita. Namun, jika kita tidak berhati-hati, keagungan itu bisa dibayangi oleh materialisme.

Sulit untuk tidak terhanyut dalam pencarian untuk mendapatkan lebih. Kita diperhadapkan dengan pasar secara konstan (tayangan iklan, iklan cetak, Black Friday, Cyber Monday, Amazon Prime Day). Internet, ponsel cerdas kita, dan berbagai pengeras suara kecil di rumah kita mendengarkan dan melacak kita dengan tujuan untuk menargetkan kita pada iklan.

Dan, semua iklan ini menjanjikan sesuatu kepada kita -- kesenangan, status, kemudahan, kenyamanan.

Hati kita mengejar iming-iming dari hal-hal yang baru dan berkilau. Secara bersamaan, kita menginginkan lebih dari yang kita miliki dan takut bahwa kita tidak memiliki kecukupan. Mungkin tidak ada musim lain yang lebih menyoroti kecenderungan kita terhadap materialisme dibandingkan masa Natal.

Yesus memiliki banyak hal untuk dikatakan mengenai kekayaan dan harta benda, dan bagaimana hal itu sering kali bertentangan dengan prioritas rohani kita (Mat. 19:16-30; Luk. 16:13).

Yesus Mengingatkan tentang Keserakahan

Dalam Lukas 12, Yesus sedang mengajar ketika seorang pria di antara kerumunan memintanya untuk menyelesaikan perselisihan keluarga. Pria itu ingin agar Yesus memaksa saudaranya untuk membagi warisan dengannya. Sebagaimana cara-Nya, Yesus mengabaikan permintaannya guna membahas masalah yang lebih berbobot, dan Dia mengajar kita semua tentang bahaya materialisme.

Alih-alih menyelesaikan masalah keluarga pria itu, Yesus malah mengeluarkan peringatan, "Berjaga-jagalah dan waspadalah atas segala bentuk keserakahan karena hidup seseorang tidak bergantung pada banyaknya harta yang ia miliki" (Luk. 12:15, AYT).

Yesus menggambarkan maksud-Nya dengan perumpamaan tentang seorang kaya yang ingin membangun lumbung yang lebih besar untuk menyimpan barang-barangnya (Luk. 12:16-21). Pria itu begitu senang dengan kekayaannya sehingga dia mengejar kehidupan yang menyenangkan dan penuh pesta. Allah menyela kesenangannya untuk memberitahukan bahwa ini akan menjadi malam terakhirnya di bumi. Semua yang dia kumpulkan akan ditinggalkan untuk dinikmati orang lain. Yesus menekankan perumpamaan itu dengan mengatakan, "Demikianlah yang akan terjadi pada orang yang menyimpan harta bagi dirinya sendiri, tetapi tidaklah kaya di hadapan Allah" (Luk. 12:21, AYT).

Jadi, apakah Yesus menyukai tradisi bertukar hadiah yang menjadi kesukaan Anda? Belum tentu. Materialisme mengemukakan bahaya yang timbul saat kita memberi makan kecenderungan kita terhadap keserakahan yang berdosa -- yaitu keinginan untuk memiliki lebih. Kita menginginkan lebih banyak hal dan lebih sedikit Allah. Itulah sebabnya Paulus menantang kita dalam Kolose 3:1-5 (AYT), "carilah hal-hal yang di atas" dan mengaitkan keserakahan dengan penyembahan berhala dengan mendesak kita agar "mematikannya". Hasrat kita terhadap berbagai hal mengalahkan hasrat kita akan Allah.

Yesus Mengingatkan tentang Kekhawatiran

Kemudian, Yesus berbicara secara tersendiri dengan para murid untuk mengajar tentang ciri materialisme lainnya: kekhawatiran. Yesus mengatakan kepada mereka supaya tidak khawatir tentang hidup mereka -- tentang makanan, pakaian, dan sejenisnya. Sementara keserakahan berasal dari keinginan kita untuk memiliki lebih banyak, kekhawatiran timbul dari ketakutan kita akan ketidakcukupan. Kekhawatiran adalah kesibukan atau ketakutan kita tentang kesejahteraan masa depan kita.

Yesus memberi murid-murid-Nya pelajaran tentang pemeliharaan Allah, menunjukkan bahwa Allah memelihara burung gagak dan bunga bakung, dan kita jauh lebih berharga daripada semua ini (Luk. 12:24-28). Jika itu benar, mengapa kita sering merasa khawatir? Yesus menjawab, "Hai kamu yang kurang percaya!" (Luk. 12:28). Kita khawatir karena kita tidak selalu memercayai Allah untuk menjaga kita. Sebagian dari kita tidak mau menyerahkan hidup kita sepenuhnya dan memercayai Allah dan pemeliharaan-Nya.

Kekhawatiran kita tentang kebutuhan kita dan kefanaan hidup hanya dapat ditenangkan dengan berpegang teguh pada Kristus -- perwujudan tertinggi dari pemeliharaan Allah (Flp. 4:6-7).

Kemurahan Hati Berjaya

Perumpamaan dan pengajaran Yesus menyoroti pentingnya menghargai upah kekal melebihi kekayaan duniawi. Apa yang kita lakukan untuk kerajaan dan untuk kemuliaan Allah berlangsung selama-lamanya (Luk. 12:33).


Jadi, bagaimana kita melawan tarikan ke arah materialisme selama masa-masa ini? Yesus memberi kita jawabannya: "Sebaliknya, carilah dahulu Kerajaan Allah, maka semuanya ini juga ditambahkan kepadamu. Jangan takut, hai kawanan kecil, karena Bapamu berkenan memberikan kepadamu Kerajaan itu" (Luk. 12:31-32, AYT).

Yesus menawarkan alternatif selain mengumpulkan lebih banyak hal atau mengkhawatirkan kebutuhan kita. Kita mencari kerajaan (Allah): kita mengejar Allah dan kehendak-Nya di bumi. Alih-alih takut, kita percaya pada karakter Allah dan bahwa Dia senang memberi kita kerajaan-Nya. (Seperti yang memang sudah Dia lakukan.) Kita mengembangkan perspektif Kerajaan Allah. Alih-alih berusaha keras, carilah. Alih-alih terus-menerus menyimpan, carilah. Alih-alih khawatir, percayalah. Kemudian, semua hal yang kita butuhkan akan menyusul.

Perintah Yesus untuk menjual harta benda guna diberikan kepada orang miskin langsung menghunjam pada inti kehidupan kerajaan (Luk. 12:33; Kis. 2:44-45). Kita disapu masuk ke dalam kerajaan Allah oleh kasih pengorbanan Allah. Dan, kerajaan itu terus dimajukan melalui proklamasi kasih Allah dalam Kristus dan pembuktian kita terhadapnya.

Kehidupan dalam kerajaan Allah adalah tentang mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Materialisme adalah tentang kita. Pemberian dengan pengorbanan memanggil kita untuk menyerahkan hal-hal yang kita hargai untuk membantu orang lain. Ia membuat kita tidak nyaman. Ia meminta kita untuk memercayakan masa depan kita kepada Allah. Memberi dengan rela membantu kita waspada terhadap materialisme dengan memupuk kemurahan hati, kepuasan, dan kepercayaan (Luk. 6:38; Flp. 4:11-13; 1Tim. 6:6-12). Memberi membalikkan kecenderungan apa pun yang kita miliki terhadap keserakahan dengan membantu melonggarkan cengkeraman kita di dunia ini. Ketika kita merasakan sedikit rasa sakit saat berpisah dengan harta benda atau menjatuhkan sesuatu ke kantung persembahan, penolakan itu adalah kecemasan kita yang menimbulkan setiap kemungkinan dari tindakan yang negatif.

Yesus memanggil kita untuk melepaskan beberapa hal dan menerima kerajaan Allah. Perumpamaan dan pengajaran Yesus menyoroti pentingnya menghargai upah kekal melebihi kekayaan duniawi. Apa yang kita lakukan untuk kerajaan dan untuk kemuliaan Allah berlangsung selama-lamanya (Luk. 12:33).

Yesus berkata bahwa hati kita akan mengikuti apa yang kita hargai (Luk. 12:34). Mencari kerajaan Allah berarti hati kita menginginkan Allah lebih dari segalanya, kita melayani orang lain lebih dari diri sendiri, dan kita berfokus pada yang kekal, bukan hanya pada yang duniawi. Masalah dengan materialisme bukan tentang mendapatkan harta, tetapi tentang kehilangan perspektif. Adven bisa menjadi waktu penantian alih-alih akumulasi atau kecemasan, asalkan hati kita berada di tempat yang tepat. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari: Nama situs : The Gospel Coalition Alamat situs : https://thegospelcoalition.org/article/materialism-distracted-heart Judul asli artikel : Has Materialism Distracted Your Heart? Penulis artikel : Immanuel Marsh

Apakah Materialisme Mengganggu Hati Anda?

Kam, 04/08/2022 - 10:14

Adven merupakan masa refleksi dan keagungan. Masa itu mengungkapkan semua penantian dan harapan yang terbungkus dalam kelahiran Kristus. Dengan kelahiran-Nya, kita memperingati kedatangan Juru Selamat kita. Namun, jika kita tidak berhati-hati, keagungan itu bisa dibayangi oleh materialisme.

Sulit untuk tidak terhanyut dalam pencarian untuk mendapatkan lebih. Kita diperhadapkan dengan pasar secara konstan (tayangan iklan, iklan cetak, Black Friday, Cyber Monday, Amazon Prime Day). Internet, ponsel cerdas kita, dan berbagai pengeras suara kecil di rumah kita mendengarkan dan melacak kita dengan tujuan untuk menargetkan kita pada iklan.

Dan, semua iklan ini menjanjikan sesuatu kepada kita -- kesenangan, status, kemudahan, kenyamanan.

Hati kita mengejar iming-iming dari hal-hal yang baru dan berkilau. Secara bersamaan, kita menginginkan lebih dari yang kita miliki dan takut bahwa kita tidak memiliki kecukupan. Mungkin tidak ada musim lain yang lebih menyoroti kecenderungan kita terhadap materialisme dibandingkan masa Natal.

Yesus memiliki banyak hal untuk dikatakan mengenai kekayaan dan harta benda, dan bagaimana hal itu sering kali bertentangan dengan prioritas rohani kita (Mat. 19:16-30; Luk. 16:13).

Yesus Mengingatkan tentang Keserakahan

Dalam Lukas 12, Yesus sedang mengajar ketika seorang pria di antara kerumunan memintanya untuk menyelesaikan perselisihan keluarga. Pria itu ingin agar Yesus memaksa saudaranya untuk membagi warisan dengannya. Sebagaimana cara-Nya, Yesus mengabaikan permintaannya guna membahas masalah yang lebih berbobot, dan Dia mengajar kita semua tentang bahaya materialisme.

Alih-alih menyelesaikan masalah keluarga pria itu, Yesus malah mengeluarkan peringatan, "Berjaga-jagalah dan waspadalah atas segala bentuk keserakahan karena hidup seseorang tidak bergantung pada banyaknya harta yang ia miliki" (Luk. 12:15, AYT).

Yesus menggambarkan maksud-Nya dengan perumpamaan tentang seorang kaya yang ingin membangun lumbung yang lebih besar untuk menyimpan barang-barangnya (Luk. 12:16-21). Pria itu begitu senang dengan kekayaannya sehingga dia mengejar kehidupan yang menyenangkan dan penuh pesta. Allah menyela kesenangannya untuk memberitahukan bahwa ini akan menjadi malam terakhirnya di bumi. Semua yang dia kumpulkan akan ditinggalkan untuk dinikmati orang lain. Yesus menekankan perumpamaan itu dengan mengatakan, "Demikianlah yang akan terjadi pada orang yang menyimpan harta bagi dirinya sendiri, tetapi tidaklah kaya di hadapan Allah" (Luk. 12:21, AYT).

Jadi, apakah Yesus menyukai tradisi bertukar hadiah yang menjadi kesukaan Anda? Belum tentu. Materialisme mengemukakan bahaya yang timbul saat kita memberi makan kecenderungan kita terhadap keserakahan yang berdosa -- yaitu keinginan untuk memiliki lebih. Kita menginginkan lebih banyak hal dan lebih sedikit Allah. Itulah sebabnya Paulus menantang kita dalam Kolose 3:1-5 (AYT), "carilah hal-hal yang di atas" dan mengaitkan keserakahan dengan penyembahan berhala dengan mendesak kita agar "mematikannya". Hasrat kita terhadap berbagai hal mengalahkan hasrat kita akan Allah.

Yesus Mengingatkan tentang Kekhawatiran

Kemudian, Yesus berbicara secara tersendiri dengan para murid untuk mengajar tentang ciri materialisme lainnya: kekhawatiran. Yesus mengatakan kepada mereka supaya tidak khawatir tentang hidup mereka -- tentang makanan, pakaian, dan sejenisnya. Sementara keserakahan berasal dari keinginan kita untuk memiliki lebih banyak, kekhawatiran timbul dari ketakutan kita akan ketidakcukupan. Kekhawatiran adalah kesibukan atau ketakutan kita tentang kesejahteraan masa depan kita.

Yesus memberi murid-murid-Nya pelajaran tentang pemeliharaan Allah, menunjukkan bahwa Allah memelihara burung gagak dan bunga bakung, dan kita jauh lebih berharga daripada semua ini (Luk. 12:24-28). Jika itu benar, mengapa kita sering merasa khawatir? Yesus menjawab, "Hai kamu yang kurang percaya!" (Luk. 12:28). Kita khawatir karena kita tidak selalu memercayai Allah untuk menjaga kita. Sebagian dari kita tidak mau menyerahkan hidup kita sepenuhnya dan memercayai Allah dan pemeliharaan-Nya.

Kekhawatiran kita tentang kebutuhan kita dan kefanaan hidup hanya dapat ditenangkan dengan berpegang teguh pada Kristus -- perwujudan tertinggi dari pemeliharaan Allah (Flp. 4:6-7).

Kemurahan Hati Berjaya

Perumpamaan dan pengajaran Yesus menyoroti pentingnya menghargai upah kekal melebihi kekayaan duniawi. Apa yang kita lakukan untuk kerajaan dan untuk kemuliaan Allah berlangsung selama-lamanya (Luk. 12:33).


Jadi, bagaimana kita melawan tarikan ke arah materialisme selama masa-masa ini? Yesus memberi kita jawabannya: "Sebaliknya, carilah dahulu Kerajaan Allah, maka semuanya ini juga ditambahkan kepadamu. Jangan takut, hai kawanan kecil, karena Bapamu berkenan memberikan kepadamu Kerajaan itu" (Luk. 12:31-32, AYT).

Yesus menawarkan alternatif selain mengumpulkan lebih banyak hal atau mengkhawatirkan kebutuhan kita. Kita mencari kerajaan (Allah): kita mengejar Allah dan kehendak-Nya di bumi. Alih-alih takut, kita percaya pada karakter Allah dan bahwa Dia senang memberi kita kerajaan-Nya. (Seperti yang memang sudah Dia lakukan.) Kita mengembangkan perspektif Kerajaan Allah. Alih-alih berusaha keras, carilah. Alih-alih terus-menerus menyimpan, carilah. Alih-alih khawatir, percayalah. Kemudian, semua hal yang kita butuhkan akan menyusul.

Perintah Yesus untuk menjual harta benda guna diberikan kepada orang miskin langsung menghunjam pada inti kehidupan kerajaan (Luk. 12:33; Kis. 2:44-45). Kita disapu masuk ke dalam kerajaan Allah oleh kasih pengorbanan Allah. Dan, kerajaan itu terus dimajukan melalui proklamasi kasih Allah dalam Kristus dan pembuktian kita terhadapnya.

Kehidupan dalam kerajaan Allah adalah tentang mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Materialisme adalah tentang kita. Pemberian dengan pengorbanan memanggil kita untuk menyerahkan hal-hal yang kita hargai untuk membantu orang lain. Ia membuat kita tidak nyaman. Ia meminta kita untuk memercayakan masa depan kita kepada Allah. Memberi dengan rela membantu kita waspada terhadap materialisme dengan memupuk kemurahan hati, kepuasan, dan kepercayaan (Luk. 6:38; Flp. 4:11-13; 1Tim. 6:6-12). Memberi membalikkan kecenderungan apa pun yang kita miliki terhadap keserakahan dengan membantu melonggarkan cengkeraman kita di dunia ini. Ketika kita merasakan sedikit rasa sakit saat berpisah dengan harta benda atau menjatuhkan sesuatu ke kantung persembahan, penolakan itu adalah kecemasan kita yang menimbulkan setiap kemungkinan dari tindakan yang negatif.

Yesus memanggil kita untuk melepaskan beberapa hal dan menerima kerajaan Allah. Perumpamaan dan pengajaran Yesus menyoroti pentingnya menghargai upah kekal melebihi kekayaan duniawi. Apa yang kita lakukan untuk kerajaan dan untuk kemuliaan Allah berlangsung selama-lamanya (Luk. 12:33).

Yesus berkata bahwa hati kita akan mengikuti apa yang kita hargai (Luk. 12:34). Mencari kerajaan Allah berarti hati kita menginginkan Allah lebih dari segalanya, kita melayani orang lain lebih dari diri sendiri, dan kita berfokus pada yang kekal, bukan hanya pada yang duniawi. Masalah dengan materialisme bukan tentang mendapatkan harta, tetapi tentang kehilangan perspektif. Adven bisa menjadi waktu penantian alih-alih akumulasi atau kecemasan, asalkan hati kita berada di tempat yang tepat. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari: Nama situs : The Gospel Coalition Alamat situs : https://thegospelcoalition.org/article/materialism-distracted-heart Judul asli artikel : Has Materialism Distracted Your Heart? Penulis artikel : Immanuel Marsh

Anugerah Mendapatkan Istri yang Luar Biasa

Jum, 22/07/2022 - 12:44

Pengaruh seorang istri memberikan dampak lebih banyak daripada pengaruh lainnya bagi hati seorang pria terhadap Allah, baik atau buruk. Istri akan mendorong pengabdian rohani suami kepada Tuhan atau justru akan menghalanginya. Istri akan mengobarkan gairah suaminya untuk Allah atau menuangkan air dingin ke atasnya. Istri seperti apa yang mendorong pertumbuhan rohani suaminya? Amsal 31:10-31 memberikan profil istri yang layak dipercaya oleh suaminya. Istri seperti itu adalah perwujudan kebijaksanaan sejati dari Allah, yang membuat suami percaya kepadanya dengan keyakinan penuh.

"Istri yang cakap, siapa yang dapat menemukan? Dia jauh lebih berharga daripada permata" (ay. 10, AYT). Istri yang baik seperti itu sulit ditemukan. Kata cakap (hayil) dapat berarti "kekuatan, kesanggupan, keberanian, atau martabat". Wanita ini mencontohkan masing-masing kualitas tersebut, memiliki kompetensi yang besar, penuh kebajikan, dan komitmen yang kuat kepada Allah dan keluarganya. Hanya Tuhan yang dapat menganugerahkan wanita yang luar biasa seperti itu: "Rumah dan harta adalah warisan nenek moyang, tetapi istri yang bijaksana adalah dari TUHAN" (Ams. 19:14, AYT). "Dia yang mendapat istri menemukan sesuatu yang baik, dan beroleh perkenanan TUHAN" (18:22, AYT). Wanita berbudi luhur ini adalah hadiah yang tak ternilai dari Allah.

Apakah mengherankan bahwa "hati suaminya memercayainya" (ay. 11, AYT)? Sang suami percaya kepadanya karena "dia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat" (ay. 12). Istri membawa banyak kelebihannya ke dalam pernikahan mereka, masing-masing secara unik tepat untuk melengkapi kekurangan suaminya. Karunia istri segera menjadi keuntungan suami, dan istri memberikan banyak hal yang menyebabkan suami memercayainya.

Pelayanannya

Pertama, istri yang luar biasa ini tanpa lelah melayaninya. Tidak duduk diam, dia aktif "mencari bulu domba dan rami," kemudian "dengan senang hati bekerja dengan tangannya" (ay. 13, AYT) untuk memintal benang dan membuat kain. Dia "seperti kapal-kapal pedagang" (ay. 14, AYT), pergi untuk menemukan kain terbaik, dengan harga terbaik, untuk membuat pakaian terbaik. Istri yang tidak mementingkan diri ini "bangun selagi masih malam" (ay. 15, AYT) untuk menyiapkan makanan bagi keluarganya. Seperti seorang manajer yang sangat baik, dia mengawasi "pelayan-pelayan perempuannya" saat mereka bekerja dengannya mengurus rumah tangga.

Kesuksesannya

Kedua, wanita pengusaha ini melakukan penilaian yang baik dalam banyak urusannya. Dia dengan cerdik "menimbang-nimbang ladang," lalu membelinya. Di sana, dia menanam "kebun anggur" (ay. 16, AYT). Dengan tekadnya yang "kuat" (ay. 17, AYT), dia mendapatkan penghasilan yang dapat dibelanjakan untuk keluarganya. Transaksi bisnis ini "menguntungkan" (ay. 18, AYT), menyediakan sumber daya tambahan untuk dibagikan kepada orang lain. Dia bekerja sampai "malam" dengan "roda pemintal" dan "tangkai pemintal" (ay. 19, AYT) untuk membuat pakaian bagi keluarganya.

Pengorbanannya

Ketiga, wanita yang rajin ini memberi dengan murah hati kepada "yang miskin" dan "yang melarat" (ay. 20, AYT). Saat "salju" akan tiba, dia juga memberi kepada keluarganya. Dia telah merencanakan sebelumnya, membuat pakaian "kain kirmizi" (ay. 21, AYT) untuk isi rumahnya. Dia tidak menahan usaha atau pengorbanan dalam memberikan yang terbaik yang dia bisa. Setelah memberi untuk kebutuhan orang lain, istri yang rajin ini membuat "permadani" dan pakaian "untuk dirinya sendiri" dengan "lenan halus dan kain ungu" (ay. 22, AYT). Kemampuannya untuk memberi pakaian yang mahal adalah bukti nyata dari kebaikan Allah atas jerih payahnya.

Kecerdasannya

Keempat, banyak kemampuannya yang menaikkan posisi suaminya di "pintu-pintu gerbang" (ay. 23, AYT), di mana para pemimpin kota bertemu. Dengan kecerdasan yang tajam, istri yang luar biasa ini "membuat," "menjual," dan "menyerahkan" (ay. 24, AYT) barang-barangnya. Meskipun sangat kompeten, dia tidak bersaing dengan kepemimpinan suaminya, tetapi menopangnya dengan ketundukan yang rendah hati -- dan semua orang tahu itu.

Kekuatannya

Kelima, istri yang berharga ini menatap masa depan dengan "kekuatan" dan "kehormatan" batiniah (ay. 25, AYT). Meskipun dia mengantisipasi banyak tantangan, dia tetap "tertawa" (ay. 25, AYT) dengan keyakinan positif dalam pemeliharaan Tuhan. Dia berharap bahwa penyediaan dari Bapa di surga akan memenuhi setiap kebutuhan keluarganya. Saat orang-orang meminta nasihatnya, dia mengucapkan kata-kata "hikmat" dan "kebaikan" (ay. 26, AYT) kepada mereka. Meskipun sibuk di luar rumah, dia tidak mengabaikan "seisi rumahnya" (ay. 27, AYT).

Keunggulannya

Keenam, dia adalah seorang ibu yang baik sehingga ketika anak-anaknya mengamati keunggulannya, mereka "menyebutnya berbahagia" (ay. 28, AYT). Suaminya melihat sifat karakternya dalam mengasuh anak dan "memujinya." Dia membanggakan diri bahwa di antara wanita-wanita, "[dia] melebihi mereka semua" (ay. 29, AYT). Menurutnya, tidak ada seorang pun yang dapat benar-benar mengklaim dirinya sama seperti istrinya.

Kerohaniannya

Istri membawa banyak kelebihannya ke dalam pernikahan mereka, masing-masing secara unik tepat untuk melengkapi kekurangan suaminya.


Ketujuh, kehebatan sejati wanita ini adalah kesalehannya. Dia "takut akan TUHAN" (ay. 30, AYT). "Pesona" dan "kecantikan" saja adalah "penipu" dan "sia-sia." Ketertarikannya yang sebenarnya bagi pria itu adalah rasa hormatnya kepada Allah. Bahkan, para pemimpin kota "memujinya" di "pintu-pintu gerbang" (ay. 31, AYT), menghormati integritas hidupnya. Suaminya menghargai kesetiaan dan ketekunannya. Dia adalah manusia yang paling diberkati.

Apakah mengherankan bahwa suaminya memercayainya? Realitas Allah dalam hidupnya membuatnya layak mendapatkan kepercayaan penuh dari suaminya. Kesimpulannya, dia adalah "mahkota suaminya" (12:4, AYT). Hanya Allah yang bisa memberikan pendamping yang sangat baik.

Apakah Tuhan telah memberi Anda istri yang luar biasa? Apakah Anda melihat bagaimana dia secara khusus tepat bagi Anda? Apakah Anda mengenali bagaimana dia telah meningkatkan keefektifan Anda bagi Tuhan? Maka bersyukurlah kepada Allah untuk wanita seperti itu yang hati Anda percayai. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari: Nama situs : Ligonier Alamat situs : https://ligonier.org/learn/articles/blessing-excellent-wife Judul asli artikel : The Blessing of an Excellent Wife Penulis artikel : Steven Lawson

Anugerah Mendapatkan Istri yang Luar Biasa

Jum, 22/07/2022 - 12:44

Pengaruh seorang istri memberikan dampak lebih banyak daripada pengaruh lainnya bagi hati seorang pria terhadap Allah, baik atau buruk. Istri akan mendorong pengabdian rohani suami kepada Tuhan atau justru akan menghalanginya. Istri akan mengobarkan gairah suaminya untuk Allah atau menuangkan air dingin ke atasnya. Istri seperti apa yang mendorong pertumbuhan rohani suaminya? Amsal 31:10-31 memberikan profil istri yang layak dipercaya oleh suaminya. Istri seperti itu adalah perwujudan kebijaksanaan sejati dari Allah, yang membuat suami percaya kepadanya dengan keyakinan penuh.

"Istri yang cakap, siapa yang dapat menemukan? Dia jauh lebih berharga daripada permata" (ay. 10, AYT). Istri yang baik seperti itu sulit ditemukan. Kata cakap (hayil) dapat berarti "kekuatan, kesanggupan, keberanian, atau martabat". Wanita ini mencontohkan masing-masing kualitas tersebut, memiliki kompetensi yang besar, penuh kebajikan, dan komitmen yang kuat kepada Allah dan keluarganya. Hanya Tuhan yang dapat menganugerahkan wanita yang luar biasa seperti itu: "Rumah dan harta adalah warisan nenek moyang, tetapi istri yang bijaksana adalah dari TUHAN" (Ams. 19:14, AYT). "Dia yang mendapat istri menemukan sesuatu yang baik, dan beroleh perkenanan TUHAN" (18:22, AYT). Wanita berbudi luhur ini adalah hadiah yang tak ternilai dari Allah.

Apakah mengherankan bahwa "hati suaminya memercayainya" (ay. 11, AYT)? Sang suami percaya kepadanya karena "dia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat" (ay. 12). Istri membawa banyak kelebihannya ke dalam pernikahan mereka, masing-masing secara unik tepat untuk melengkapi kekurangan suaminya. Karunia istri segera menjadi keuntungan suami, dan istri memberikan banyak hal yang menyebabkan suami memercayainya.

Pelayanannya

Pertama, istri yang luar biasa ini tanpa lelah melayaninya. Tidak duduk diam, dia aktif "mencari bulu domba dan rami," kemudian "dengan senang hati bekerja dengan tangannya" (ay. 13, AYT) untuk memintal benang dan membuat kain. Dia "seperti kapal-kapal pedagang" (ay. 14, AYT), pergi untuk menemukan kain terbaik, dengan harga terbaik, untuk membuat pakaian terbaik. Istri yang tidak mementingkan diri ini "bangun selagi masih malam" (ay. 15, AYT) untuk menyiapkan makanan bagi keluarganya. Seperti seorang manajer yang sangat baik, dia mengawasi "pelayan-pelayan perempuannya" saat mereka bekerja dengannya mengurus rumah tangga.

Kesuksesannya

Kedua, wanita pengusaha ini melakukan penilaian yang baik dalam banyak urusannya. Dia dengan cerdik "menimbang-nimbang ladang," lalu membelinya. Di sana, dia menanam "kebun anggur" (ay. 16, AYT). Dengan tekadnya yang "kuat" (ay. 17, AYT), dia mendapatkan penghasilan yang dapat dibelanjakan untuk keluarganya. Transaksi bisnis ini "menguntungkan" (ay. 18, AYT), menyediakan sumber daya tambahan untuk dibagikan kepada orang lain. Dia bekerja sampai "malam" dengan "roda pemintal" dan "tangkai pemintal" (ay. 19, AYT) untuk membuat pakaian bagi keluarganya.

Pengorbanannya

Ketiga, wanita yang rajin ini memberi dengan murah hati kepada "yang miskin" dan "yang melarat" (ay. 20, AYT). Saat "salju" akan tiba, dia juga memberi kepada keluarganya. Dia telah merencanakan sebelumnya, membuat pakaian "kain kirmizi" (ay. 21, AYT) untuk isi rumahnya. Dia tidak menahan usaha atau pengorbanan dalam memberikan yang terbaik yang dia bisa. Setelah memberi untuk kebutuhan orang lain, istri yang rajin ini membuat "permadani" dan pakaian "untuk dirinya sendiri" dengan "lenan halus dan kain ungu" (ay. 22, AYT). Kemampuannya untuk memberi pakaian yang mahal adalah bukti nyata dari kebaikan Allah atas jerih payahnya.

Kecerdasannya

Keempat, banyak kemampuannya yang menaikkan posisi suaminya di "pintu-pintu gerbang" (ay. 23, AYT), di mana para pemimpin kota bertemu. Dengan kecerdasan yang tajam, istri yang luar biasa ini "membuat," "menjual," dan "menyerahkan" (ay. 24, AYT) barang-barangnya. Meskipun sangat kompeten, dia tidak bersaing dengan kepemimpinan suaminya, tetapi menopangnya dengan ketundukan yang rendah hati -- dan semua orang tahu itu.

Kekuatannya

Kelima, istri yang berharga ini menatap masa depan dengan "kekuatan" dan "kehormatan" batiniah (ay. 25, AYT). Meskipun dia mengantisipasi banyak tantangan, dia tetap "tertawa" (ay. 25, AYT) dengan keyakinan positif dalam pemeliharaan Tuhan. Dia berharap bahwa penyediaan dari Bapa di surga akan memenuhi setiap kebutuhan keluarganya. Saat orang-orang meminta nasihatnya, dia mengucapkan kata-kata "hikmat" dan "kebaikan" (ay. 26, AYT) kepada mereka. Meskipun sibuk di luar rumah, dia tidak mengabaikan "seisi rumahnya" (ay. 27, AYT).

Keunggulannya

Keenam, dia adalah seorang ibu yang baik sehingga ketika anak-anaknya mengamati keunggulannya, mereka "menyebutnya berbahagia" (ay. 28, AYT). Suaminya melihat sifat karakternya dalam mengasuh anak dan "memujinya." Dia membanggakan diri bahwa di antara wanita-wanita, "[dia] melebihi mereka semua" (ay. 29, AYT). Menurutnya, tidak ada seorang pun yang dapat benar-benar mengklaim dirinya sama seperti istrinya.

Kerohaniannya

Istri membawa banyak kelebihannya ke dalam pernikahan mereka, masing-masing secara unik tepat untuk melengkapi kekurangan suaminya.


Ketujuh, kehebatan sejati wanita ini adalah kesalehannya. Dia "takut akan TUHAN" (ay. 30, AYT). "Pesona" dan "kecantikan" saja adalah "penipu" dan "sia-sia." Ketertarikannya yang sebenarnya bagi pria itu adalah rasa hormatnya kepada Allah. Bahkan, para pemimpin kota "memujinya" di "pintu-pintu gerbang" (ay. 31, AYT), menghormati integritas hidupnya. Suaminya menghargai kesetiaan dan ketekunannya. Dia adalah manusia yang paling diberkati.

Apakah mengherankan bahwa suaminya memercayainya? Realitas Allah dalam hidupnya membuatnya layak mendapatkan kepercayaan penuh dari suaminya. Kesimpulannya, dia adalah "mahkota suaminya" (12:4, AYT). Hanya Allah yang bisa memberikan pendamping yang sangat baik.

Apakah Tuhan telah memberi Anda istri yang luar biasa? Apakah Anda melihat bagaimana dia secara khusus tepat bagi Anda? Apakah Anda mengenali bagaimana dia telah meningkatkan keefektifan Anda bagi Tuhan? Maka bersyukurlah kepada Allah untuk wanita seperti itu yang hati Anda percayai. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari: Nama situs : Ligonier Alamat situs : https://ligonier.org/learn/articles/blessing-excellent-wife Judul asli artikel : The Blessing of an Excellent Wife Penulis artikel : Steven Lawson

Pasangan Anda Tidak Harus Menjadi Sahabat Anda

Kam, 14/07/2022 - 14:35

C.S. Lewis dan Kebingungan Budaya Kita Tentang Cinta

Mungkin Anda telah memperhatikan pendefinisian ulang yang populer bahwa pernikahan utamanya adalah sebuah persahabatan yang sangat dekat. Pasangan muda (seringnya ketika mengunggah foto satu sama lain di media sosial) akan berkata, "Saya menikahi sahabat saya." Mereka memaksudkan hal ini sebagai pujian yang sangat tinggi untuk pasangan mereka. Mereka yang mengatakannya biasanya mengartikan pernikahan mereka sebagai kelanjutan dari hubungan persahabatan yang sudah ada, dan yang melampaui ketertarikan seksual. Menikah dengan "sahabat" mereka berarti menambahkan lapisan pada hubungan bersifat platonis yang sudah terjalin dengan baik.

Ada beberapa pendapat yang dikemukakan mengenai sikap ini. Namun, bertentangan dengan apa yang banyak orang pikirkan, ada juga sesuatu yang bermasalah ketika kita memperlakukan persahabatan sebagai puncak cinta pernikahan -- sesuatu yang merupakan gejala kebingungan budaya kita tentang arti cinta, dan bahwa menurut saya, C.S. Lewis -- yang membedakan beberapa jenis cinta -- dapat membantu kita dengan hal ini.

Menikahi Sahabat Anda Memang Baik

Saya mengenal sejumlah pasangan yang benar-benar memulai hubungan mereka sebagai teman. Mereka menikmati minat, tujuan hidup, atau tempat ibadah yang sama. Mereka cenderung tertarik satu sama lain dalam percakapan, karena mereka menganggap satu sama lain menarik. Barulah kemudian hal-hal lain timbul.

Sering kali, ketertarikan muncul di salah satu pihak sebelum kemudian muncul di pihak satunya. Pada titik tertentu, faktanya menjadi jelas, dan karena tidak bijaksana untuk membiarkan serta tidak menghiraukan kekuatan luar biasa semacam itu, keduanya harus membuat keputusan: menutup kemungkinan romansa, atau menerimanya. Pasangan yang memilih menerimanya (terutama pihak pria) sering merasa mengalami pencerahan.

"Saya telah lama menikmati kehadiran dan kebersamaan dengan wanita ini, tetapi saya tidak pernah mempertimbangkan kemungkinan ia menjadi pasangan saya." Terkadang, hal ini karena teman wanitanya ini tidak memiliki fisik seperti "tipe" idealnya. Saya pernah mendengar wanita mengatakan hal yang sama tentang suami mereka.

Bisa juga salah satu atau keduanya begitu asyik mengejar hal-hal lain, termasuk ketertarikan romantis pada orang lain, sehingga persahabatan tidak pernah memiliki kesempatan untuk berkembang ke arah yang baru. Bagi Lewis, yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyadari dan mengakui ketertarikannya pada calon istrinya, Joy Davidman, tampaknya romansa sama sekali tidak ada dalam radarnya. Meskipun demikian, persahabatan murni dapat melahirkan sesuatu yang baru dan indah. Bukan hal yang buruk untuk menikahi sahabat Anda.

Mengacaukan Kategori Cinta Kita

Akan tetapi, tidak baik memperlakukan persahabatan sebagai puncak atau cita-cita dari kasih pernikahan, atau menyiratkan bahwa pernikahan yang tidak didasarkan pada persahabatan erat tidaklah sempurna. Bahkan, untuk secara tidak sengaja menyatakan bahwa pernikahan adalah, atau seharusnya menjadi, semacam persahabatan yang sangat intens (dengan keuntungan tambahan adanya seks dan keluarga) sama saja dengan salah mengartikan kata-kata dan konsep yang berbeda yang digunakan Kitab Suci untuk mendeskripsikan cinta -- atau, lebih tepatnya, berbagai jenis kasih. Empat jenis kasih.

Sepanjang sejarah, sebagian besar pernikahan tidak didasarkan, pertama-tama dan terutama, pada persahabatan. Banyak pernikahan terbesar dalam sejarah didasarkan pada kebutuhan ekonomi, sosial, atau bahkan politik. Pernikahan Maria dengan Yusuf, yang bisa dibilang merupakan penyatuan paling penting antara dua orang yang pernah terjalin, kemungkinan besar diatur oleh para ayah. Dan, tidak ada satupun bagian pengajaran tentang pernikahan dalam Perjanjian Baru di mana kita temukan pasangan diperintahkan atau didorong untuk memupuk persahabatan.

Apa yang kita temukan adalah visi kemitraan dalam kekuasaan dan kemuliaan -- pria dan wanita bersama-sama menunjukkan gambar Allah dan mewujudkan misteri kudus akan inti penciptaan dan penebusan. Yang kita temukan diresmikan dalam Kejadian, dirayakan dalam Kidung Agung, ditegaskan dan dipertahankan dalam Injil, dikuduskan dalam Paulus, dan digenapi dalam Wahyu adalah hal yang jauh lebih dari sekadar pengaturan tinggal bersama. Untuk menggambarkan pernikahan -- seperti yang Allah maksudkan untuk memiliki eros di dalamnya -- hanya sebagai salah satu jenis persahabatan berarti mengambil risiko merendahkan, baik kasih pernikahan maupun kasih persahabatan.

Mengatakan "Saya menikahi sahabat saya" mungkin benar. Akan tetapi, membiarkannya berhenti di situ saja berarti menurunkan gelar tertinggi pasangan saya yang seharusnya sebagai pengantin dan penolong.

Jangan Membuat Persahabatan Menjadi Erotis

Kebiasaan modern kita yang menjadikan persahabatan sebagai standar emas dalam pernikahan, sama dengan percampuran atau kebingungan serius nan populer antara berbagai jenis kasih. Pertimbangkan fenomena sebaliknya, di mana persahabatan dilihat sebagai sesuatu yang erotis. Baru-baru ini di Twitter saya melihat seseorang mengulangi klaim lama dan menjengkelkan bahwa The Lord of the Rings menyampaikan pesan tersirat tentang ketertarikan sesama jenis. Katanya, "(J.R.R.) Tolkien hanya menulis dua jenis pria: pria beristri yang berseri-seri dan pria homoseks yang tidak terang-terangan." Seorang pengguna Twitter yang jauh lebih bijak menjawab dengan mengutip buku Lewis, The Four Loves: "Mereka yang tidak dapat memahami Persahabatan sebagai kasih yang sejati, tetapi hanya sebagai penyamaran atau perpanjangan dari Eros, mengkhianati fakta bahwa mereka tidak pernah memiliki seorang Teman."

Dalam buku itu, Lewis melanjutkan kutipannya, menjelaskan sesuatu tentang perbedaan antara persahabatan dan cinta romantis, atau philia dan eros, menggunakan istilah Yunani:

"Kita semua tahu bahwa meskipun kita dapat merasakan cinta erotis dan persahabatan terhadap orang yang sama, tetapi dalam beberapa hal tidak ada yang kurang dari sebuah Persahabatan dibandingkan dengan sebuah hubungan romantis. Pasangan kekasih selalu berbicara satu sama lain tentang cinta mereka; Teman hampir jarang berbicara tentang Persahabatan mereka. Pasangan kekasih biasanya bertatap muka, fokus terhadap satu sama lain; Teman berdampingan, fokus dalam beberapa kesamaan minat. Di atas segalanya, Eros (selama itu berlangsung) tentu saja hanya terjadi di antara dua pribadi. Namun dalam Persahabatan, dua orang bukanlah persyaratan yang diperlukan, bahkan bukan jumlah yang terbaik.

Demiseksualitas dan Kematian Eros Sejati

Untuk menggambarkan pernikahan -- seperti yang Allah maksudkan untuk memiliki eros di dalamnya -- hanya sebagai salah satu jenis persahabatan berarti mengambil risiko merendahkan, baik kasih pernikahan maupun kasih persahabatan.


Atau pertimbangkan upaya untuk menyelamatkan definisi eros itu sendiri dari sekadar ketertarikan fisik belaka dengan mendefinisikannya kembali sebagai identitas atau orientasi seksual yang mirip dengan gay, lesbian, atau biseksual. Michaela Kennedy-Cuomo, putri gubernur New York yang berusia 23 tahun, baru-baru ini mengunggah video wawancara ke Instagram, di mana dia mendeskripsikan dirinya sebagai "demiseksual". Bagi mereka yang tidak terbiasa dengan neologisme ini, seorang kolumnis Guardian mendefinisikan demiseksual sebagai "orang yang tidak tertarik secara seksual kepada orang lain, kecuali mereka menjalin ikatan emosional yang kuat dengan orang tersebut lebih dahulu".

Kolumnis yang sama dengan tepat menyatakan bahwa tidak ada yang spesial dari orientasi ini, dan cara Cuomo mendeklarasikannya sebagai identitas seksual esoteris terkesan sebagai usaha mencari perhatian dari seorang wanita muda yang sudah kaya dan memiliki hak istimewa. Akan tetapi, dia terus mengamati betapa seksual dan mesumnya budaya kita sehingga siapa pun merasa perlu menyatakan bahwa emosi dan relasi memengaruhi seksualitasnya. Saya berpikir bahwa kebutuhan Cuomo untuk memperkenalkan kembali eros yang sebenarnya dalam percakapan tentang seks adalah contoh lain dari betapa kacau dan tercampurnya pemahaman kita tentang berbagai jenis cinta.

Kasih yang Menebus

Budaya kita, terutama pada zaman ini, tidak tahu apa artinya "cinta". Terkadang, budaya kita memperlakukan cinta sebagai sesuatu yang hanya setingkat lebih tinggi daripada nafsu seksual. Pada lain waktu, budaya kita menawarkan paham gnostik di mana semua cinta -- bahkan cinta antara suami istri -- tidak lain adalah bentuk persahabatan yang intens antara orang-orang yang telah memutuskan untuk hidup dan tidur bersama. Kita terombang-ambing antara Playboy dan Hallmark (media yang banyak mengekspos tentang nafsu dan hal-hal romantis - Red.), meninggikan nafsu binatang pada satu saat dan sentimen schmaltz (perasaan sentimental yang berlebihan - Red.) pada saat yang lain.

Dalam baku tembak ini, konsep seperti persahabatan yang nyata dan tanpa pamrih difitnah sebagai "homoseksualitas yang ditekan," jika tidak dilupakan sepenuhnya. Dan, yang terbesar dari semua kasih, agape -- kasih ilahi dan kemurahan hati spiritual yang mendorong Kristus untuk menyerahkan nyawa-Nya bagi gereja dan yang Allah maksudkan untuk menghidupkan dan menguduskan cinta kasih lainnya -- tidak ditemukan di mana pun.

Four Loves karya Lewis menyajikan visi besar yang menolong kita untuk melihat bahwa membedakan antara Storge, Eros, Philia, dan Agape dengan benar dapat memperbaiki kerusakan yang telah dilakukan budaya kita terhadap pemahaman kita pada masing-masing jenis kasih. Akan tetapi, yang lebih penting, Lewis menunjukkan kepada kita sumber alkitabiah tempat ia memperoleh pengetahuannya yang kaya dan memuaskan tentang kasih -- dan kepada Sang Kekasih yang melalui hubungannya dengan umat-Nya, kita dapat mengalami keempat kasih itu secara sempurna dan dengan pembedaan yang jelas. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari: Nama situs : The Gospel Coalition Alamat situs : https://thegospelcoalition.org/article/spouse-best-friend Judul asli artikel : Your Spouse Doesn't Have to Be Your Best Friend Penulis artikel : Shane Morris Tipe Bahan: Artikel

Pasangan Anda Tidak Harus Menjadi Sahabat Anda

Kam, 14/07/2022 - 14:35

C.S. Lewis dan Kebingungan Budaya Kita Tentang Cinta

Mungkin Anda telah memperhatikan pendefinisian ulang yang populer bahwa pernikahan utamanya adalah sebuah persahabatan yang sangat dekat. Pasangan muda (seringnya ketika mengunggah foto satu sama lain di media sosial) akan berkata, "Saya menikahi sahabat saya." Mereka memaksudkan hal ini sebagai pujian yang sangat tinggi untuk pasangan mereka. Mereka yang mengatakannya biasanya mengartikan pernikahan mereka sebagai kelanjutan dari hubungan persahabatan yang sudah ada, dan yang melampaui ketertarikan seksual. Menikah dengan "sahabat" mereka berarti menambahkan lapisan pada hubungan bersifat platonis yang sudah terjalin dengan baik.

Ada beberapa pendapat yang dikemukakan mengenai sikap ini. Namun, bertentangan dengan apa yang banyak orang pikirkan, ada juga sesuatu yang bermasalah ketika kita memperlakukan persahabatan sebagai puncak cinta pernikahan -- sesuatu yang merupakan gejala kebingungan budaya kita tentang arti cinta, dan bahwa menurut saya, C.S. Lewis -- yang membedakan beberapa jenis cinta -- dapat membantu kita dengan hal ini.

Menikahi Sahabat Anda Memang Baik

Saya mengenal sejumlah pasangan yang benar-benar memulai hubungan mereka sebagai teman. Mereka menikmati minat, tujuan hidup, atau tempat ibadah yang sama. Mereka cenderung tertarik satu sama lain dalam percakapan, karena mereka menganggap satu sama lain menarik. Barulah kemudian hal-hal lain timbul.

Sering kali, ketertarikan muncul di salah satu pihak sebelum kemudian muncul di pihak satunya. Pada titik tertentu, faktanya menjadi jelas, dan karena tidak bijaksana untuk membiarkan serta tidak menghiraukan kekuatan luar biasa semacam itu, keduanya harus membuat keputusan: menutup kemungkinan romansa, atau menerimanya. Pasangan yang memilih menerimanya (terutama pihak pria) sering merasa mengalami pencerahan.

"Saya telah lama menikmati kehadiran dan kebersamaan dengan wanita ini, tetapi saya tidak pernah mempertimbangkan kemungkinan ia menjadi pasangan saya." Terkadang, hal ini karena teman wanitanya ini tidak memiliki fisik seperti "tipe" idealnya. Saya pernah mendengar wanita mengatakan hal yang sama tentang suami mereka.

Bisa juga salah satu atau keduanya begitu asyik mengejar hal-hal lain, termasuk ketertarikan romantis pada orang lain, sehingga persahabatan tidak pernah memiliki kesempatan untuk berkembang ke arah yang baru. Bagi Lewis, yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyadari dan mengakui ketertarikannya pada calon istrinya, Joy Davidman, tampaknya romansa sama sekali tidak ada dalam radarnya. Meskipun demikian, persahabatan murni dapat melahirkan sesuatu yang baru dan indah. Bukan hal yang buruk untuk menikahi sahabat Anda.

Mengacaukan Kategori Cinta Kita

Akan tetapi, tidak baik memperlakukan persahabatan sebagai puncak atau cita-cita dari kasih pernikahan, atau menyiratkan bahwa pernikahan yang tidak didasarkan pada persahabatan erat tidaklah sempurna. Bahkan, untuk secara tidak sengaja menyatakan bahwa pernikahan adalah, atau seharusnya menjadi, semacam persahabatan yang sangat intens (dengan keuntungan tambahan adanya seks dan keluarga) sama saja dengan salah mengartikan kata-kata dan konsep yang berbeda yang digunakan Kitab Suci untuk mendeskripsikan cinta -- atau, lebih tepatnya, berbagai jenis kasih. Empat jenis kasih.

Sepanjang sejarah, sebagian besar pernikahan tidak didasarkan, pertama-tama dan terutama, pada persahabatan. Banyak pernikahan terbesar dalam sejarah didasarkan pada kebutuhan ekonomi, sosial, atau bahkan politik. Pernikahan Maria dengan Yusuf, yang bisa dibilang merupakan penyatuan paling penting antara dua orang yang pernah terjalin, kemungkinan besar diatur oleh para ayah. Dan, tidak ada satupun bagian pengajaran tentang pernikahan dalam Perjanjian Baru di mana kita temukan pasangan diperintahkan atau didorong untuk memupuk persahabatan.

Apa yang kita temukan adalah visi kemitraan dalam kekuasaan dan kemuliaan -- pria dan wanita bersama-sama menunjukkan gambar Allah dan mewujudkan misteri kudus akan inti penciptaan dan penebusan. Yang kita temukan diresmikan dalam Kejadian, dirayakan dalam Kidung Agung, ditegaskan dan dipertahankan dalam Injil, dikuduskan dalam Paulus, dan digenapi dalam Wahyu adalah hal yang jauh lebih dari sekadar pengaturan tinggal bersama. Untuk menggambarkan pernikahan -- seperti yang Allah maksudkan untuk memiliki eros di dalamnya -- hanya sebagai salah satu jenis persahabatan berarti mengambil risiko merendahkan, baik kasih pernikahan maupun kasih persahabatan.

Mengatakan "Saya menikahi sahabat saya" mungkin benar. Akan tetapi, membiarkannya berhenti di situ saja berarti menurunkan gelar tertinggi pasangan saya yang seharusnya sebagai pengantin dan penolong.

Jangan Membuat Persahabatan Menjadi Erotis

Kebiasaan modern kita yang menjadikan persahabatan sebagai standar emas dalam pernikahan, sama dengan percampuran atau kebingungan serius nan populer antara berbagai jenis kasih. Pertimbangkan fenomena sebaliknya, di mana persahabatan dilihat sebagai sesuatu yang erotis. Baru-baru ini di Twitter saya melihat seseorang mengulangi klaim lama dan menjengkelkan bahwa The Lord of the Rings menyampaikan pesan tersirat tentang ketertarikan sesama jenis. Katanya, "(J.R.R.) Tolkien hanya menulis dua jenis pria: pria beristri yang berseri-seri dan pria homoseks yang tidak terang-terangan." Seorang pengguna Twitter yang jauh lebih bijak menjawab dengan mengutip buku Lewis, The Four Loves: "Mereka yang tidak dapat memahami Persahabatan sebagai kasih yang sejati, tetapi hanya sebagai penyamaran atau perpanjangan dari Eros, mengkhianati fakta bahwa mereka tidak pernah memiliki seorang Teman."

Dalam buku itu, Lewis melanjutkan kutipannya, menjelaskan sesuatu tentang perbedaan antara persahabatan dan cinta romantis, atau philia dan eros, menggunakan istilah Yunani:

"Kita semua tahu bahwa meskipun kita dapat merasakan cinta erotis dan persahabatan terhadap orang yang sama, tetapi dalam beberapa hal tidak ada yang kurang dari sebuah Persahabatan dibandingkan dengan sebuah hubungan romantis. Pasangan kekasih selalu berbicara satu sama lain tentang cinta mereka; Teman hampir jarang berbicara tentang Persahabatan mereka. Pasangan kekasih biasanya bertatap muka, fokus terhadap satu sama lain; Teman berdampingan, fokus dalam beberapa kesamaan minat. Di atas segalanya, Eros (selama itu berlangsung) tentu saja hanya terjadi di antara dua pribadi. Namun dalam Persahabatan, dua orang bukanlah persyaratan yang diperlukan, bahkan bukan jumlah yang terbaik.

Demiseksualitas dan Kematian Eros Sejati

Atau pertimbangkan upaya untuk menyelamatkan definisi eros itu sendiri dari sekadar ketertarikan fisik belaka dengan mendefinisikannya kembali sebagai identitas atau orientasi seksual yang mirip dengan gay, lesbian, atau biseksual. Michaela Kennedy-Cuomo, putri gubernur New York yang berusia 23 tahun, baru-baru ini mengunggah video wawancara ke Instagram, di mana dia mendeskripsikan dirinya sebagai "demiseksual". Bagi mereka yang tidak terbiasa dengan neologisme ini, seorang kolumnis Guardian mendefinisikan demiseksual sebagai "orang yang tidak tertarik secara seksual kepada orang lain, kecuali mereka menjalin ikatan emosional yang kuat dengan orang tersebut lebih dahulu".

Kolumnis yang sama dengan tepat menyatakan bahwa tidak ada yang spesial dari orientasi ini, dan cara Cuomo mendeklarasikannya sebagai identitas seksual esoteris terkesan sebagai usaha mencari perhatian dari seorang wanita muda yang sudah kaya dan memiliki hak istimewa. Akan tetapi, dia terus mengamati betapa seksual dan mesumnya budaya kita sehingga siapa pun merasa perlu menyatakan bahwa emosi dan relasi memengaruhi seksualitasnya. Saya berpikir bahwa kebutuhan Cuomo untuk memperkenalkan kembali eros yang sebenarnya dalam percakapan tentang seks adalah contoh lain dari betapa kacau dan tercampurnya pemahaman kita tentang berbagai jenis cinta.

Kasih yang Menebus

Budaya kita, terutama pada zaman ini, tidak tahu apa artinya "cinta". Terkadang, budaya kita memperlakukan cinta sebagai sesuatu yang hanya setingkat lebih tinggi daripada nafsu seksual. Pada lain waktu, budaya kita menawarkan paham gnostik di mana semua cinta -- bahkan cinta antara suami istri -- tidak lain adalah bentuk persahabatan yang intens antara orang-orang yang telah memutuskan untuk hidup dan tidur bersama. Kita terombang-ambing antara Playboy dan Hallmark (media yang banyak mengekspos tentang nafsu dan hal-hal romantis - Red.), meninggikan nafsu binatang pada satu saat dan sentimen schmaltz (perasaan sentimental yang berlebihan - Red.) pada saat yang lain.

Dalam baku tembak ini, konsep seperti persahabatan yang nyata dan tanpa pamrih difitnah sebagai "homoseksualitas yang ditekan," jika tidak dilupakan sepenuhnya. Dan, yang terbesar dari semua kasih, agape -- kasih ilahi dan kemurahan hati spiritual yang mendorong Kristus untuk menyerahkan nyawa-Nya bagi gereja dan yang Allah maksudkan untuk menghidupkan dan menguduskan cinta kasih lainnya -- tidak ditemukan di mana pun.

Four Loves karya Lewis menyajikan visi besar yang menolong kita untuk melihat bahwa membedakan antara Storge, Eros, Philia, dan Agape dengan benar dapat memperbaiki kerusakan yang telah dilakukan budaya kita terhadap pemahaman kita pada masing-masing jenis kasih. Akan tetapi, yang lebih penting, Lewis menunjukkan kepada kita sumber alkitabiah tempat ia memperoleh pengetahuannya yang kaya dan memuaskan tentang kasih -- dan kepada Sang Kekasih yang melalui hubungannya dengan umat-Nya, kita dapat mengalami keempat kasih itu secara sempurna dan dengan pembedaan yang jelas. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari: Nama situs : The Gospel Coalition Alamat situs : https://thegospelcoalition.org/article/spouse-best-friend Judul asli artikel : Your Spouse Doesn't Have to Be Your Best Friend Penulis artikel : Shane Morris Tipe Bahan: Artikel

Mengasuh Anak Kecil dengan Allah yang Besar

Kam, 14/07/2022 - 14:10

Saya mengingat malam itu dengan jelas. Untungnya, Ray tidak. Bayi nomor tiga menangis pukul satu dini hari, meskipun pada usia 9 bulan Dane seharusnya tidur sepanjang malam. Khawatir dia akan membangunkan Eric dan Krista, yang juga ada di kamar itu, saya bangun untuk tidur dan menyusuinya, dan sekarang ia terbiasa menantikan kunjungan tengah malam itu.

Saya kelelahan karena siang hari mengasuh tiga anak yang masih kecil dan setiap malam harus bangun untuk mengurus bayi, dan malam itu saya habis kesabaran. Saat bayi kami memulai tangisan rutinnya, saya melihat Ray, yang bisa tidur seperti bayi dengan semua suara itu, dan kelelahan serta kekesalan mulai meluap menjadi isakan di bantal saya. Ketika semua itu tidak membangunkan Ray (bagaimana mungkin seorang ayah muda dapat tidur melalui semua hal itu?), saya mencoba mengguncang bahunya dan menangis di telinganya. Kaget, dia terbangun tiba-tiba. "Sayang, ada masalah apa?" dia bertanya, terkejut melihat saya menangis. "Aku lelah. Aku sangat lelah," saya meratap. "Aku belum tidur bermalam-malam selama beberapa bulan, dan kamu justru mendengkur sementara anakmu menangis di kamar sebelah! Aku tidak bisa melakukannya lagi!"

Saya beruntung, Allah memberi saya seorang pria yang sabar dan pengertian. Kami dapat melalui malam itu, dan keesokan harinya Ray dengan baik hati mengatur agar saya dapat memiliki waktu menginap di rumah seorang teman yang lebih tua. Menolak protes saya bahwa saya dibutuhkan oleh bayi yang menangis, Ray mengirim saya pergi untuk dapat tidur malam nyenyak tanpa terganggu sementara ia mengurus anak kecil kami. Kemudian, saya pulang ke rumah dengan lebih segar -- dan saya tidak pernah tahu seberapa sering Dane terbangun malamnya, karena tentu saja, Ray dapat tidur melewati semua itu.

Bagaimanapun, kenyataan dalam membesarkan anak bagi Kristus tidak pernah memasuki khayalan keibuan saya. Namun, segera setelah kami menyambut kelahiran anak pertama kami di rumah, saya menyadari bahwa pengasuhan membutuhkan lebih banyak dari yang dapat saya berikan. Di mana saya akan menemukan sumber daya yang saya perlukan untuk menyerahkan harapan saya, untuk tidur saat saya lelah, atau keinginan saya untuk makan tanpa gangguan, atau kerinduan untuk undur saat saya merasa kewalahan? Selama tahun-tahun awal tersebut, Allah menggunakan beberapa kebenaran untuk menolong saya bersandar pada kekuatan-Nya saat rasa lelah dan ketakutan saya mengendalikan saya.

Allah Menyambut Mereka yang Membutuhkan

Menjadi ibu adalah masa ketika banyak wanita belajar untuk melayani. Saat kita berjuang dengan berbagai tanggung jawab dan tantangan dalam menjadi ibu, masalah terdalam kita bukan sekadar suami yang sibuk dan tidak peka, bayi yang mengalami kram perut, atau anggaran yang ketat. Masalah terdalam kita adalah kecendererungan untuk mementingkan diri sendiri. Peran sebagai ibu itu melelahkan, berantakan, dan seringnya tak diapresiasi.

Setiap anak membutuhkan -- dan berhak mendapatkan -- komitmen tanpa syarat dan usaha dari setidaknya satu orang dewasa dalam kehidupannya. Komitmen semacam itu mahal harganya. Namun, segala sesuatu yang berharga pasti mahal: hati yang sepenuhnya taat kepada Kristus, hidup yang berintegritas, pernikahan yang penuh kasih -- dan menjadi ibu dari anak-anak kecil. Menjadi ibu menuntut yang terbaik dari kita sebagai wanita -- di sini tempat kita belajar melayani, untuk menjadi serupa dengan Kristus. Kita meneladani Dia yang "mengosongkan dirinya, dan mengambil rupa sebagai seorang hamba" (Flp. 2:7, AYT).

Saat kita melayani anak-anak kita yang masih kecil, kita dapat bersandar pada sambutan bagi hamba Tuhan (Yes. 42:1). Lengan-Nya selalu terbuka bagi ibu yang lelah dan membutuhkan. Tidak hanya lengan-Nya terbuka bagi para ibu yang lelah -- Dia memeluk anak-anak kita sangat dekat dengan hati-Nya. Yesaya 40:11 menyatakan kepada kita bahwa Ia mengumpulkan domba-domba di lengan-Nya dan menggendong mereka di dada-Nya, dengan lembut mengarahkan mereka yang memiliki anak-anak domba. Juru Selamat kita yang menghamba adalah juga Gembala kita yang lembut. Sehingga, saat tubuh kita kelelahan, Dia memahaminya dan akan membimbing kita pada jalan yang akan memulihkan jiwa kita (Mzm. 23:2-3), memperkuat kita dengan "... segala kekuatan sesuai dengan kemuliaan kuasa-Nya supaya kamu mendapat segala ketekunan dan kesabaran dengan sukacita" (Kol. 1:11, AYT).

Saat kita sebagai ibu merasa terkuras, terasing, dan frustrasi, kita memiliki pilihan. Kita dapat memilih untuk menolak gangguan terus menerus yang memasuki waktu dan ruang kita, membiarkan kepahitan tertimbun. Atau, kita dapat memilih untuk menyambut anak-anak kecil yang membutuhkan itu, yang menyoroti kelemahan dan memperlihatkan kebutuhan kita. Kita, yang mengenal Kristus adalah kepunyaan Juru Selamat yang menyambut mereka yang membutuhkan (Mat. 11:28). Yang kuat tidak membutuhkan-Nya. Marilah terus bersandar kepada-Nya.

Hak Istimewa Menjadi Seorang Ibu

Para Ibu meletakkan dasar untuk iman pada masa mendatang. Seorang ibu adalah orang yang pertama-tama dan terutama memengaruhi kehidupan seorang anak. Dia yang menentukan warna emosi di rumahnya, membentuk jiwa anak-anak, dan memiliki peran paling penting di dunia karena kedudukannya yang diberkati Allah. Anak-anaknya adalah tabungannya pada masa mendatang, membawa pola pengasuhan ibunya sepanjang hidupnya.

Dalam peran Anda sebagai ibu, yang sangat menuntut seperti pada tahun-tahun awal, Anda memberkati anak Anda dengan kenyamanan komitmen dan kedamaian dari keamanan. Anda mengajari anak Anda semua nilai yang harus diwariskan kepada generasi mendatang: kasih, kesetiaan, ketaatan, rasa hormat, kejujuran, kemurahan hati. Ketika kita melayani anak-anak kita dengan baik, kita mengajarkan mereka untuk menerima kewajiban moral yang pada akhirnya akan membantu mereka membangun hubungan yang kukuh, pernikahan yang sehat, dan keluarga yang aman. Kepekaan, kasih sayang, dan perhatian Anda yang tidak tergesa-gesa seperti benih yang tertanam dan akan menghasilkan buah yang saleh pada tahun-tahun mendatang.

Anda dapat mengatur warna emosi di rumah Anda. Anda dapat membantu membangun lingkungan yang mendukung penemuan dan pertumbuhan serta kreativitas. Anda bisa menasihati dan mendorong anak Anda untuk melawan konsumerisme yang berpusat pada "saya" yang meliputi dunia kita saat ini. Anda mempersiapkannya untuk hubungan masa depan saat Anda menjadi ibu baginya. Kerja keras dan upaya berharga Anda akan mengajarinya cara menghormati ayahnya dan mengasihi saudara-saudaranya, cara untuk memilih nutrisi yang baik dan hiburan yang sehat, cara menghargai kebersihan dan kesopanan, dan yang terpenting menolongnya untuk memilah hal apa patut diperjuangkan yang layak bagi energi dan reputasinya.

Seseorang Akan Memengaruhi Anak Anda

Kepekaan, kasih sayang, dan perhatian Anda yang tidak tergesa-gesa seperti benih yang tertanam dan akan menghasilkan buah yang saleh pada tahun-tahun mendatang.


Pikirkan hak istimewa untuk membimbing pikiran dan hati anak yang masih muda dalam perkembangan spiritual dan intelektual dan sosialnya. Pikirkan berkat memperkenalkan anak Anda kepada Allah alam semesta dan kebenaran abadi dalam firman-Nya. Pikirkan sukacita saat melihat anak Anda mengatakan kebenaran ketika keadaan sulit, dan menunjukkan kasih alih-alih keegoisan, dan memperlihatkan kebaikan dengan ketulusan. Nikmati hak istimewa untuk mengirimkan satu lagi pria atau wanita muda yang kuat, yang bersemangat, dan mengasihi Kristus ke dunia yang penuh dosa ini dengan keberanian untuk menjalani hidup yang baik demi Kristus. Jangan berputus asa!

Seseorang akan memengaruhi anak Anda selama tahun-tahun awalnya, menanamkan nilai-nilai, dan menetapkan standar pada jiwa muda yang mudah dipengaruhi itu. Biarlah Anda yang melakukannya. Sebagai nenek dari lima belas cucu, saya dapat meyakinkan Anda bahwa harga yang akan Anda bayar untuk menjadi ibu akan memudar semakin tidak berarti ketika Anda melihat anak-anak Anda bertumbuh di dalam Kristus, dan akhirnya menyatakan dia sebagai Tuhan dan Juru Selamat mereka. "Jangan kita menjadi lelah berbuat baik. Jika musimnya tiba, kita akan menuai asalkan kita tidak menyerah." (Gal. 6:9, AYT)

Sambil kita menyambut hak istimewa menjadi ibu, marilah kita menjadi wanita yang bersedia membayar harga dan tunduk pada pengorbanan yang diminta dari ibu yang saleh. Janganlah kita mengabaikan panggilan Allah untuk kita lakukan atau mengabaikan permintaan-Nya agar kita menjadi hamba-Nya bagi generasi mendatang. Hal ini layak untuk diperjuangkan. "Kristus Tuhanlah yang sedang kamu layani." (Kol. 3:24, AYT) (t/N. Risanti)

Download Audio

Diterjemahkan dari: Nama situs : Desiring God Alamat situs : https://desiringgod.org/articles/mothering-little-children-with-a-big-god Judul asli artikel : Mothering Little Children with a Big God Penulis artikel : Jani Ortlund Tipe Bahan: Artikel

Mengasuh Anak Kecil dengan Allah yang Besar

Kam, 14/07/2022 - 14:10

Saya mengingat malam itu dengan jelas. Untungnya, Ray tidak. Bayi nomor tiga menangis pukul satu dini hari, meskipun pada usia 9 bulan Dane seharusnya tidur sepanjang malam. Khawatir dia akan membangunkan Eric dan Krista, yang juga ada di kamar itu, saya bangun untuk tidur dan menyusuinya, dan sekarang ia terbiasa menantikan kunjungan tengah malam itu.

Saya kelelahan karena siang hari mengasuh tiga anak yang masih kecil dan setiap malam harus bangun untuk mengurus bayi, dan malam itu saya habis kesabaran. Saat bayi kami memulai tangisan rutinnya, saya melihat Ray, yang bisa tidur seperti bayi dengan semua suara itu, dan kelelahan serta kekesalan mulai meluap menjadi isakan di bantal saya. Ketika semua itu tidak membangunkan Ray (bagaimana mungkin seorang ayah muda dapat tidur melalui semua hal itu?), saya mencoba mengguncang bahunya dan menangis di telinganya. Kaget, dia terbangun tiba-tiba. "Sayang, ada masalah apa?" dia bertanya, terkejut melihat saya menangis. "Aku lelah. Aku sangat lelah," saya meratap. "Aku belum tidur bermalam-malam selama beberapa bulan, dan kamu justru mendengkur sementara anakmu menangis di kamar sebelah! Aku tidak bisa melakukannya lagi!"

Saya beruntung, Allah memberi saya seorang pria yang sabar dan pengertian. Kami dapat melalui malam itu, dan keesokan harinya Ray dengan baik hati mengatur agar saya dapat memiliki waktu menginap di rumah seorang teman yang lebih tua. Menolak protes saya bahwa saya dibutuhkan oleh bayi yang menangis, Ray mengirim saya pergi untuk dapat tidur malam nyenyak tanpa terganggu sementara ia mengurus anak kecil kami. Kemudian, saya pulang ke rumah dengan lebih segar -- dan saya tidak pernah tahu seberapa sering Dane terbangun malamnya, karena tentu saja, Ray dapat tidur melewati semua itu.

Bagaimanapun, kenyataan dalam membesarkan anak bagi Kristus tidak pernah memasuki khayalan keibuan saya. Namun, segera setelah kami menyambut kelahiran anak pertama kami di rumah, saya menyadari bahwa pengasuhan membutuhkan lebih banyak dari yang dapat saya berikan. Di mana saya akan menemukan sumber daya yang saya perlukan untuk menyerahkan harapan saya, untuk tidur saat saya lelah, atau keinginan saya untuk makan tanpa gangguan, atau kerinduan untuk undur saat saya merasa kewalahan? Selama tahun-tahun awal tersebut, Allah menggunakan beberapa kebenaran untuk menolong saya bersandar pada kekuatan-Nya saat rasa lelah dan ketakutan saya mengendalikan saya.

Allah Menyambut Mereka yang Membutuhkan

Menjadi ibu adalah masa ketika banyak wanita belajar untuk melayani. Saat kita berjuang dengan berbagai tanggung jawab dan tantangan dalam menjadi ibu, masalah terdalam kita bukan sekadar suami yang sibuk dan tidak peka, bayi yang mengalami kram perut, atau anggaran yang ketat. Masalah terdalam kita adalah kecendererungan untuk mementingkan diri sendiri. Peran sebagai ibu itu melelahkan, berantakan, dan seringnya tak diapresiasi.

Setiap anak membutuhkan -- dan berhak mendapatkan -- komitmen tanpa syarat dan usaha dari setidaknya satu orang dewasa dalam kehidupannya. Komitmen semacam itu mahal harganya. Namun, segala sesuatu yang berharga pasti mahal: hati yang sepenuhnya taat kepada Kristus, hidup yang berintegritas, pernikahan yang penuh kasih -- dan menjadi ibu dari anak-anak kecil. Menjadi ibu menuntut yang terbaik dari kita sebagai wanita -- di sini tempat kita belajar melayani, untuk menjadi serupa dengan Kristus. Kita meneladani Dia yang "mengosongkan dirinya, dan mengambil rupa sebagai seorang hamba" (Flp. 2:7, AYT).

Saat kita melayani anak-anak kita yang masih kecil, kita dapat bersandar pada sambutan bagi hamba Tuhan (Yes. 42:1). Lengan-Nya selalu terbuka bagi ibu yang lelah dan membutuhkan. Tidak hanya lengan-Nya terbuka bagi para ibu yang lelah -- Dia memeluk anak-anak kita sangat dekat dengan hati-Nya. Yesaya 40:11 menyatakan kepada kita bahwa Ia mengumpulkan domba-domba di lengan-Nya dan menggendong mereka di dada-Nya, dengan lembut mengarahkan mereka yang memiliki anak-anak domba. Juru Selamat kita yang menghamba adalah juga Gembala kita yang lembut. Sehingga, saat tubuh kita kelelahan, Dia memahaminya dan akan membimbing kita pada jalan yang akan memulihkan jiwa kita (Mzm. 23:2-3), memperkuat kita dengan "... segala kekuatan sesuai dengan kemuliaan kuasa-Nya supaya kamu mendapat segala ketekunan dan kesabaran dengan sukacita" (Kol. 1:11, AYT).

Saat kita sebagai ibu merasa terkuras, terasing, dan frustrasi, kita memiliki pilihan. Kita dapat memilih untuk menolak gangguan terus menerus yang memasuki waktu dan ruang kita, membiarkan kepahitan tertimbun. Atau, kita dapat memilih untuk menyambut anak-anak kecil yang membutuhkan itu, yang menyoroti kelemahan dan memperlihatkan kebutuhan kita. Kita, yang mengenal Kristus adalah kepunyaan Juru Selamat yang menyambut mereka yang membutuhkan (Mat. 11:28). Yang kuat tidak membutuhkan-Nya. Marilah terus bersandar kepada-Nya.

Hak Istimewa Menjadi Seorang Ibu

Para Ibu meletakkan dasar untuk iman pada masa mendatang. Seorang ibu adalah orang yang pertama-tama dan terutama memengaruhi kehidupan seorang anak. Dia yang menentukan warna emosi di rumahnya, membentuk jiwa anak-anak, dan memiliki peran paling penting di dunia karena kedudukannya yang diberkati Allah. Anak-anaknya adalah tabungannya pada masa mendatang, membawa pola pengasuhan ibunya sepanjang hidupnya.

Dalam peran Anda sebagai ibu, yang sangat menuntut seperti pada tahun-tahun awal, Anda memberkati anak Anda dengan kenyamanan komitmen dan kedamaian dari keamanan. Anda mengajari anak Anda semua nilai yang harus diwariskan kepada generasi mendatang: kasih, kesetiaan, ketaatan, rasa hormat, kejujuran, kemurahan hati. Ketika kita melayani anak-anak kita dengan baik, kita mengajarkan mereka untuk menerima kewajiban moral yang pada akhirnya akan membantu mereka membangun hubungan yang kukuh, pernikahan yang sehat, dan keluarga yang aman. Kepekaan, kasih sayang, dan perhatian Anda yang tidak tergesa-gesa seperti benih yang tertanam dan akan menghasilkan buah yang saleh pada tahun-tahun mendatang.

Anda dapat mengatur warna emosi di rumah Anda. Anda dapat membantu membangun lingkungan yang mendukung penemuan dan pertumbuhan serta kreativitas. Anda bisa menasihati dan mendorong anak Anda untuk melawan konsumerisme yang berpusat pada "saya" yang meliputi dunia kita saat ini. Anda mempersiapkannya untuk hubungan masa depan saat Anda menjadi ibu baginya. Kerja keras dan upaya berharga Anda akan mengajarinya cara menghormati ayahnya dan mengasihi saudara-saudaranya, cara untuk memilih nutrisi yang baik dan hiburan yang sehat, cara menghargai kebersihan dan kesopanan, dan yang terpenting menolongnya untuk memilah hal apa patut diperjuangkan yang layak bagi energi dan reputasinya.

Seseorang Akan Memengaruhi Anak Anda

Pikirkan hak istimewa untuk membimbing pikiran dan hati anak yang masih muda dalam perkembangan spiritual dan intelektual dan sosialnya. Pikirkan berkat memperkenalkan anak Anda kepada Allah alam semesta dan kebenaran abadi dalam firman-Nya. Pikirkan sukacita saat melihat anak Anda mengatakan kebenaran ketika keadaan sulit, dan menunjukkan kasih alih-alih keegoisan, dan memperlihatkan kebaikan dengan ketulusan. Nikmati hak istimewa untuk mengirimkan satu lagi pria atau wanita muda yang kuat, yang bersemangat, dan mengasihi Kristus ke dunia yang penuh dosa ini dengan keberanian untuk menjalani hidup yang baik demi Kristus. Jangan berputus asa!

Seseorang akan memengaruhi anak Anda selama tahun-tahun awalnya, menanamkan nilai-nilai, dan menetapkan standar pada jiwa muda yang mudah dipengaruhi itu. Biarlah Anda yang melakukannya. Sebagai nenek dari lima belas cucu, saya dapat meyakinkan Anda bahwa harga yang akan Anda bayar untuk menjadi ibu akan memudar semakin tidak berarti ketika Anda melihat anak-anak Anda bertumbuh di dalam Kristus, dan akhirnya menyatakan dia sebagai Tuhan dan Juru Selamat mereka. "Jangan kita menjadi lelah berbuat baik. Jika musimnya tiba, kita akan menuai asalkan kita tidak menyerah." (Gal. 6:9, AYT)

Sambil kita menyambut hak istimewa menjadi ibu, marilah kita menjadi wanita yang bersedia membayar harga dan tunduk pada pengorbanan yang diminta dari ibu yang saleh. Janganlah kita mengabaikan panggilan Allah untuk kita lakukan atau mengabaikan permintaan-Nya agar kita menjadi hamba-Nya bagi generasi mendatang. Hal ini layak untuk diperjuangkan. "Kristus Tuhanlah yang sedang kamu layani." (Kol. 3:24, AYT) (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari: Nama situs : Desiring God Alamat situs : https://desiringgod.org/articles/mothering-little-children-with-a-big-god Judul asli artikel : Mothering Little Children with a Big God Penulis artikel : Jani Ortlund Tipe Bahan: Artikel

Perkataan yang Menandai Wanita yang Penuh Kebajikan

Rab, 13/07/2022 - 14:48

Percakapan Seorang Teman yang Penuh Kebajikan

Teman yang penuh kebajikan tidak hanya dikenal dari karakternya, tetapi juga dari perkataannya. Raja Salomo dengan bijaksana mengamati, "Minyak dan wewangian itu menyenangkan hati, begitu juga manisnya seorang teman datang dari nasihatnya yang tulus" (Ams. 27:9, AYT). Sama seperti minyak dan parfum dapat menyegarkan tubuh atau hati yang gelisah, percakapan seorang teman yang penuh kebajikan membawa kenyamanan, penyembuhan, dan kekuatan. Dia belajar dari pengalaman pribadi dan melalui banyak pengamatan bahwa "percakapan yang paling menyenangkan ... mendorong kesejahteraan jiwa."[1] Perkataan seorang teman yang penuh kebajikan adalah pengendalian diri, bijaksana, dan penuh pengharapan, dan mereka yang mendengar perkataannya akan menjadi lebih baik.

1. Seorang teman yang penuh kebajikan berbicara dengan pengendalian diri.

Pernahkah Anda mendengar seorang anak menekan tuts piano dengan keras dan sembarangan, mengarang musiknya sendiri? Hal itu lucu selama beberapa menit, tetapi kemudian bisa menjadi menjengkelkan. Akan tetapi, berikan pelajaran piano kepada anak itu, maka dalam beberapa tahun Anda akan senang mendengarnya bermain. Pengajaran yang cermat dan disiplin diri akan memberinya kontrol yang terlatih terhadap alat musik sehingga ketika dia memainkan piano, orang lain benar-benar menikmatinya.

Pengendalian diri berarti "pengendalian yang dilakukan terhadap impuls, emosi, atau hasratnya."[2] Sama seperti seorang pianis ulung telah mempelajari teknik yang tepat untuk mengekspresikan dirinya dengan indah di piano, seorang teman yang penuh kebajikan telah belajar pengendalian diri sehingga dia dapat dengan penuh perhatian mengekspresikan dirinya dengan kata-kata yang memberkati orang lain. Akan tetapi, wanita yang kurang menahan diri dalam ucapannya berbahaya bagi semua orang. Amsal 25:28 (AYT) memperingatkan bahwa "bagaikan kota yang roboh tanpa tembok, seperti itulah orang yang tidak bisa mengendalikan diri". Kecuali pengendalian diri menjaga mulut, ucapan yang bodoh dan penuh dosa dengan mudah terlontar.

Bagaimana Anda bisa mengendalikan diri atas ucapan Anda? Pertama, periksalah hati Anda, karena ucapan Anda berasal dari dalam diri Anda (Lukas 6:45). Ucapan yang mengendalikan diri dimulai dengan menyerahkan kendali hati Anda kepada Tuhan. Akui dan berbaliklah dari pikiran, motif, dan sikap yang tidak saleh di dalam hati Anda, dan kata-kata Anda akan mulai mencerminkan perubahan serupa dengan Kristus di dalam diri Anda.

Kedua, berpikirlah sebelum berbicara. Sangat menggoda untuk mengungkapkan pikiran Anda dan bahkan memberi selamat kepada diri sendiri karena menjadi penembak jitu, tetapi sikap itu mengarah pada kehancuran. Sebaliknya, jagalah kata-kata Anda dengan cermat (Ams. 13:3). Tanyakan pada diri sendiri: "Apakah yang akan saya katakan benar, baik, dan perlu?"[3] Agar benar, kata-kata Anda harus bebas dari kepalsuan dan berlebihan. Agar baik, kata-kata Anda harus penuh perhatian dan lembut. Agar perlu, kata-kata Anda harus diperlukan pada saat itu untuk mencapai apa yang baik dan benar.

Ketiga, berbicaralah dengan pengendalian diri dengan menggunakan kata-kata Anda untuk mendorong kesatuan, dan bukan perpecahan: "berusahalah sekuat tenaga untuk memelihara kesatuan Roh dalam ikatan damai sejahtera" (Ef. 4:3). Mengusahakan dan memberikan pengampunan, memuji orang lain, dan belajar menyelesaikan konflik secara alkitabiah.[4] Hindari gosip dengan menjaga kepercayaan orang lain terhadap diri Anda sendiri, tidak menyebarkan desas-desus, dan menolak untuk menerima informasi yang merusak. Jaga nama baik orang lain, karena teman yang murah hati tidak memfitnah, tetapi dapat dipercaya dengan kata-katanya (Ams. 11:13).

2. Seorang teman yang penuh kebajikan berbicara dengan kebijaksanaan.

Kata-kata yang bijaksana digambarkan dengan "pengertian yang dalam, daya pengamatan yang tajam, dan ... penilaian yang baik."[5] Mereka mengomunikasikan penerapan dari pengetahuan pada situasi kehidupan nyata. Ini seperti teman saya (Cheryl), Sheila, yang baru-baru ini memberi saya dan anak perempuan saya pelajaran menjahit. Kami bisa saja mencoba belajar menjahit sendiri, tetapi Sheila adalah penjahit berpengalaman yang mampu membantu kami menghindari kesalahan pemula dan menguasai dasar-dasarnya. Demikian pula, kata-kata bijak dari seorang teman yang penuh kebajikan mengajarkan kita bagaimana hidup dengan baik untuk kemuliaan Allah. Dia menunjukkan kepada kita bagaimana menerapkan firman Tuhan. Dia "membuka mulutnya dengan hikmat, dan hukum kebaikan ada pada lidahnya" (Ams. 31:26, AYT).

Untuk menjadi wanita yang berhikmat, mulailah dengan takut akan Tuhan (Ams. 1:7). Takut akan Tuhan adalah:

perpaduan tak terlukiskan antara rasa hormat dan kesenangan, kegembiraan dan kekaguman yang memenuhi hati kita ketika kita menyadari siapa Allah itu dan apa yang telah Dia lakukan bagi kita. Itu adalah kasih kepada Allah yang begitu besar sehingga kita akan malu untuk melakukan apa pun yang tidak menyenangkan atau mendukakan Dia, dan itu membuat kita paling bahagia ketika kita melakukan apa yang menyenangkan Dia.[6]

Untuk memahami siapa Allah itu dan apa yang telah Dia lakukan untuk Anda, lihatlah ciptaan-Nya dan kagumilah kekuasaan dan keagungan-Nya. Pandanglah kasih karunia-Nya dalam Injil dan kagumilah keadilan dan belas kasihan-Nya. Jika Anda sangat menghormati dan mengasihi Tuhan, sukacita hidup Anda adalah menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan Dia dan mengejar hal-hal yang memuliakan Dia.

Selanjutnya, pelajarilah Kitab Suci: "Sebab, TUHAN mengaruniakan hikmat; pengetahuan dan pengertian datang dari mulut-Nya" (Ams. 2:6, AYT). Seperti Ezra, bertekadlah untuk mengetahui firman Allah sehingga Anda dapat menaatinya dalam hidup Anda sendiri dan kemudian membagikannya kepada orang lain (Ezra 7:10). Melalui pembelajaran Alkitab yang rajin dan konsisten, selaraskan pikiran dan ucapan Anda dengan sumber hikmat yang sejati.

Selain itu, berdoalah memohon hikmat: "Bukalah mataku, sehingga aku boleh melihat hal-hal ajaib dari taurat-Mu" (Mazmur 119:18, AYT). Mintalah Tuhan untuk membantu Anda memahami dan menerapkan Kitab Suci dalam hidup Anda. Doa memohon hikmat adalah doa yang Tuhan senang menjawabnya (1 Raja-raja 3:10-12). Anda dapat berdoa dengan yakin karena mengetahui bahwa Allah akan memberi Anda hikmat saat Anda menyelidiki firman-Nya dan meminta dengan iman.

3. Seorang teman yang penuh kebajikan berbicara dengan penuh pengharapan.

Akui dan berbaliklah dari pikiran, motif, dan sikap yang tidak saleh di dalam hati Anda, dan kata-kata Anda akan mulai mencerminkan perubahan serupa dengan Kristus di dalam diri Anda.


Kata-kata teman yang penuh kebajikan menumbuhkan pengharapan karena penuh dengan pengharapan. Kata-katanya dicirikan dengan keyakinan akan sifat-sifat dan janji-janji Allah. Dia menghormati Allah, dan dia mengilhami orang lain untuk memercayai Dia dengan hal-hal yang mengingatkan tentang kesetiaan-Nya. Pengharapannya kepada Tuhan menular dan membawa sukacita bagi orang-orang di sekitarnya (Ams. 10:28). Bagi orang percaya, kata pengharapan bukanlah ekspresi keraguan atau ketidakpastian. Sebaliknya, itu mengomunikasikan iman yang pasti kepada Allah. Seorang pendeta menjelaskan bahwa pengharapan "bukanlah sekadar 'keinginan' (saya berharap ini dan itu terjadi); sebaliknya, itu adalah yang melekat pada kepastian janji-janji masa depan yang telah Allah berikan."[7] Pengharapan adalah ekspektasi yang penuh keyakinan akan kebaikan dan kesetiaan-Nya. Apakah kata-kata Anda menginspirasi pengharapan kepada Allah?

Apakah Anda menguatkan orang lain dengan kesetiaan Allah pada masa lalu dan janji-janji masa depan? Bicaralah dengan kepastian yang penuh sukacita tentang kasih-Nya yang kekal. Kita semua membutuhkan pengingat bahwa Tuhan akan menjadi penolong kita dalam setiap keadaan dan bahwa Dia akan selalu setia. Sama seperti Harun menopang lengan yang lelah dari saudaranya, Musa, di sepanjang pertempuran (Kel. 17:11-13), kuatkan dan topanglah iman orang lain dengan Kitab Suci dan ekspresi pengharapan pribadi Anda kepada Allah.

Kadang-kadang, Anda mungkin memberikan pengharapan dengan komentar sederhana, dan kadang-kadang Anda mungkin memiliki kesempatan untuk membagikan ayat-ayat Alkitab tertentu untuk memperkuat pengharapan orang lain kepada Allah. Agar tulus, bagikan kepada orang yang Anda kasihi ayat-ayat yang secara pribadi telah menolong Anda pada masa lalu. Jelaskan secara singkat bagaimana ayat tertentu telah memperkuat pengharapan Anda sendiri kepada Allah. Misalnya, Matius 11:28 telah menjadi penghiburan bagi saya (Caroline) dalam melalui banyak cobaan. Saya sering membagikannya kepada orang lain yang berbeban berat untuk menguatkan iman mereka kepada Yesus: "Datanglah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, dan Aku akan memberimu kelegaan."

Kami memiliki satu pemikiran lagi untuk dibagikan kepada Anda tentang menguatkan pengharapan pada orang lain: lanjutkanlah dengan hati-hati. Ingatlah bagaimana kata-kata penuh pengharapan Anda bisa dianggap tidak berperasaan atau menyinggung bagi teman yang sedang menderita. Jadilah cerdas ketika memberikan pengharapan: Apakah Anda peka terhadap waktu dan isi dari apa yang Anda katakan? Apakah Anda mengizinkan orang yang Anda kasihi untuk mengungkapkan keprihatinannya dan memproses kebenaran alkitabiah yang sudah dia ketahui? Waspadalah untuk tidak membombardirnya dengan perkataan klise Kristen alih-alih meluangkan waktu untuk melakukan percakapan yang berarti tentang pencobaan dan kesetiaan Allah. Terkadang yang terbaik adalah diam, dan terkadang yang terbaik adalah menaburkan pengharapan dalam apa yang Anda katakan. Jika ragu, tanyakan dengan lembut kepada teman Anda apakah Anda dapat berbagi dengannya pengharapan yang telah Allah berikan kepada Anda. (t/Jing-Jing)

Catatan:

  1. Matthew Henry, Matthew Henry's Commentary on the Whole Bible: Complete and Unabridged in One Volume (Peabody, MA: Hendrickson, 1994), 1016.
  2. Merriam-Webster, sv "self-control," diakses 29 September 2019, www.merriam-webster.com/dictionary/self-control.
  3. Pertanyaan ini adalah tema puisi dalam Mary Ann Pietzker, Miscellaneous Poems (London: Griffith & Farran, 1872), 55.
  4. Untuk lebih lanjut tentang resolusi konflik alkitabiah, kami merekomendasikan Ken Sande, The Peacemaker (Grand Rapids, MI: Baker, 2004).
  5. Merriam-Webster, sv "wise", diakses 29 September 2019, www.merriam-webster.com/dictionary/wise.
  6. Sinclair Ferguson, Grow in Grace (Edinburgh, UK: Banner of Truth, 1989), 29.
  7. RC Sproul, The Purpose of God: Ephesians (Fearn, Ross-shire, UK: Christian Focus, 1994), 40.
Diterjemahkan dari: Nama situs : Crossway Alamat situs : https://crossway.org/articles/words-that-mark-a-gracious-woman Judul asli artikel : Kata Kata Yang Menandai Wanita Pemurah Penulis artikel : Cheryl Marshall dan Caroline Newheiser

Perkataan yang Menandai Wanita yang Penuh Kebajikan

Rab, 13/07/2022 - 14:48

Percakapan Seorang Teman yang Penuh Kebajikan

Teman yang penuh kebajikan tidak hanya dikenal dari karakternya, tetapi juga dari perkataannya. Raja Salomo dengan bijaksana mengamati, "Minyak dan wewangian itu menyenangkan hati, begitu juga manisnya seorang teman datang dari nasihatnya yang tulus" (Ams. 27:9, AYT). Sama seperti minyak dan parfum dapat menyegarkan tubuh atau hati yang gelisah, percakapan seorang teman yang penuh kebajikan membawa kenyamanan, penyembuhan, dan kekuatan. Dia belajar dari pengalaman pribadi dan melalui banyak pengamatan bahwa "percakapan yang paling menyenangkan ... mendorong kesejahteraan jiwa."[1] Perkataan seorang teman yang penuh kebajikan adalah pengendalian diri, bijaksana, dan penuh pengharapan, dan mereka yang mendengar perkataannya akan menjadi lebih baik.

1. Seorang teman yang penuh kebajikan berbicara dengan pengendalian diri.

Pernahkah Anda mendengar seorang anak menekan tuts piano dengan keras dan sembarangan, mengarang musiknya sendiri? Hal itu lucu selama beberapa menit, tetapi kemudian bisa menjadi menjengkelkan. Akan tetapi, berikan pelajaran piano kepada anak itu, maka dalam beberapa tahun Anda akan senang mendengarnya bermain. Pengajaran yang cermat dan disiplin diri akan memberinya kontrol yang terlatih terhadap alat musik sehingga ketika dia memainkan piano, orang lain benar-benar menikmatinya.

Pengendalian diri berarti "pengendalian yang dilakukan terhadap impuls, emosi, atau hasratnya."[2] Sama seperti seorang pianis ulung telah mempelajari teknik yang tepat untuk mengekspresikan dirinya dengan indah di piano, seorang teman yang penuh kebajikan telah belajar pengendalian diri sehingga dia dapat dengan penuh perhatian mengekspresikan dirinya dengan kata-kata yang memberkati orang lain. Akan tetapi, wanita yang kurang menahan diri dalam ucapannya berbahaya bagi semua orang. Amsal 25:28 (AYT) memperingatkan bahwa "bagaikan kota yang roboh tanpa tembok, seperti itulah orang yang tidak bisa mengendalikan diri". Kecuali pengendalian diri menjaga mulut, ucapan yang bodoh dan penuh dosa dengan mudah terlontar.

Bagaimana Anda bisa mengendalikan diri atas ucapan Anda? Pertama, periksalah hati Anda, karena ucapan Anda berasal dari dalam diri Anda (Lukas 6:45). Ucapan yang mengendalikan diri dimulai dengan menyerahkan kendali hati Anda kepada Tuhan. Akui dan berbaliklah dari pikiran, motif, dan sikap yang tidak saleh di dalam hati Anda, dan kata-kata Anda akan mulai mencerminkan perubahan serupa dengan Kristus di dalam diri Anda.

Kedua, berpikirlah sebelum berbicara. Sangat menggoda untuk mengungkapkan pikiran Anda dan bahkan memberi selamat kepada diri sendiri karena menjadi penembak jitu, tetapi sikap itu mengarah pada kehancuran. Sebaliknya, jagalah kata-kata Anda dengan cermat (Ams. 13:3). Tanyakan pada diri sendiri: "Apakah yang akan saya katakan benar, baik, dan perlu?"[3] Agar benar, kata-kata Anda harus bebas dari kepalsuan dan berlebihan. Agar baik, kata-kata Anda harus penuh perhatian dan lembut. Agar perlu, kata-kata Anda harus diperlukan pada saat itu untuk mencapai apa yang baik dan benar.

Ketiga, berbicaralah dengan pengendalian diri dengan menggunakan kata-kata Anda untuk mendorong kesatuan, dan bukan perpecahan: "berusahalah sekuat tenaga untuk memelihara kesatuan Roh dalam ikatan damai sejahtera" (Ef. 4:3). Mengusahakan dan memberikan pengampunan, memuji orang lain, dan belajar menyelesaikan konflik secara alkitabiah.[4] Hindari gosip dengan menjaga kepercayaan orang lain terhadap diri Anda sendiri, tidak menyebarkan desas-desus, dan menolak untuk menerima informasi yang merusak. Jaga nama baik orang lain, karena teman yang murah hati tidak memfitnah, tetapi dapat dipercaya dengan kata-katanya (Ams. 11:13).

2. Seorang teman yang penuh kebajikan berbicara dengan kebijaksanaan.

Kata-kata yang bijaksana digambarkan dengan "pengertian yang dalam, daya pengamatan yang tajam, dan ... penilaian yang baik."[5] Mereka mengomunikasikan penerapan dari pengetahuan pada situasi kehidupan nyata. Ini seperti teman saya (Cheryl), Sheila, yang baru-baru ini memberi saya dan anak perempuan saya pelajaran menjahit. Kami bisa saja mencoba belajar menjahit sendiri, tetapi Sheila adalah penjahit berpengalaman yang mampu membantu kami menghindari kesalahan pemula dan menguasai dasar-dasarnya. Demikian pula, kata-kata bijak dari seorang teman yang penuh kebajikan mengajarkan kita bagaimana hidup dengan baik untuk kemuliaan Allah. Dia menunjukkan kepada kita bagaimana menerapkan firman Tuhan. Dia "membuka mulutnya dengan hikmat, dan hukum kebaikan ada pada lidahnya" (Ams. 31:26, AYT).

Untuk menjadi wanita yang berhikmat, mulailah dengan takut akan Tuhan (Ams. 1:7). Takut akan Tuhan adalah:

perpaduan tak terlukiskan antara rasa hormat dan kesenangan, kegembiraan dan kekaguman yang memenuhi hati kita ketika kita menyadari siapa Allah itu dan apa yang telah Dia lakukan bagi kita. Itu adalah kasih kepada Allah yang begitu besar sehingga kita akan malu untuk melakukan apa pun yang tidak menyenangkan atau mendukakan Dia, dan itu membuat kita paling bahagia ketika kita melakukan apa yang menyenangkan Dia.[6]

Untuk memahami siapa Allah itu dan apa yang telah Dia lakukan untuk Anda, lihatlah ciptaan-Nya dan kagumilah kekuasaan dan keagungan-Nya. Pandanglah kasih karunia-Nya dalam Injil dan kagumilah keadilan dan belas kasihan-Nya. Jika Anda sangat menghormati dan mengasihi Tuhan, sukacita hidup Anda adalah menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan Dia dan mengejar hal-hal yang memuliakan Dia.

Selanjutnya, pelajarilah Kitab Suci: "Sebab, TUHAN mengaruniakan hikmat; pengetahuan dan pengertian datang dari mulut-Nya" (Ams. 2:6, AYT). Seperti Ezra, bertekadlah untuk mengetahui firman Allah sehingga Anda dapat menaatinya dalam hidup Anda sendiri dan kemudian membagikannya kepada orang lain (Ezra 7:10). Melalui pembelajaran Alkitab yang rajin dan konsisten, selaraskan pikiran dan ucapan Anda dengan sumber hikmat yang sejati.

Selain itu, berdoalah memohon hikmat: "Bukalah mataku, sehingga aku boleh melihat hal-hal ajaib dari taurat-Mu" (Mazmur 119:18, AYT). Mintalah Tuhan untuk membantu Anda memahami dan menerapkan Kitab Suci dalam hidup Anda. Doa memohon hikmat adalah doa yang Tuhan senang menjawabnya (1 Raja-raja 3:10-12). Anda dapat berdoa dengan yakin karena mengetahui bahwa Allah akan memberi Anda hikmat saat Anda menyelidiki firman-Nya dan meminta dengan iman.

3. Seorang teman yang penuh kebajikan berbicara dengan penuh pengharapan.

Kata-kata teman yang penuh kebajikan menumbuhkan pengharapan karena penuh dengan pengharapan. Kata-katanya dicirikan dengan keyakinan akan sifat-sifat dan janji-janji Allah. Dia menghormati Allah, dan dia mengilhami orang lain untuk memercayai Dia dengan hal-hal yang mengingatkan tentang kesetiaan-Nya. Pengharapannya kepada Tuhan menular dan membawa sukacita bagi orang-orang di sekitarnya (Ams. 10:28). Bagi orang percaya, kata pengharapan bukanlah ekspresi keraguan atau ketidakpastian. Sebaliknya, itu mengomunikasikan iman yang pasti kepada Allah. Seorang pendeta menjelaskan bahwa pengharapan "bukanlah sekadar 'keinginan' (saya berharap ini dan itu terjadi); sebaliknya, itu adalah yang melekat pada kepastian janji-janji masa depan yang telah Allah berikan."[7] Pengharapan adalah ekspektasi yang penuh keyakinan akan kebaikan dan kesetiaan-Nya. Apakah kata-kata Anda menginspirasi pengharapan kepada Allah?

Apakah Anda menguatkan orang lain dengan kesetiaan Allah pada masa lalu dan janji-janji masa depan? Bicaralah dengan kepastian yang penuh sukacita tentang kasih-Nya yang kekal. Kita semua membutuhkan pengingat bahwa Tuhan akan menjadi penolong kita dalam setiap keadaan dan bahwa Dia akan selalu setia. Sama seperti Harun menopang lengan yang lelah dari saudaranya, Musa, di sepanjang pertempuran (Kel. 17:11-13), kuatkan dan topanglah iman orang lain dengan Kitab Suci dan ekspresi pengharapan pribadi Anda kepada Allah.

Kadang-kadang, Anda mungkin memberikan pengharapan dengan komentar sederhana, dan kadang-kadang Anda mungkin memiliki kesempatan untuk membagikan ayat-ayat Alkitab tertentu untuk memperkuat pengharapan orang lain kepada Allah. Agar tulus, bagikan kepada orang yang Anda kasihi ayat-ayat yang secara pribadi telah menolong Anda pada masa lalu. Jelaskan secara singkat bagaimana ayat tertentu telah memperkuat pengharapan Anda sendiri kepada Allah. Misalnya, Matius 11:28 telah menjadi penghiburan bagi saya (Caroline) dalam melalui banyak cobaan. Saya sering membagikannya kepada orang lain yang berbeban berat untuk menguatkan iman mereka kepada Yesus: "Datanglah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, dan Aku akan memberimu kelegaan."

Kami memiliki satu pemikiran lagi untuk dibagikan kepada Anda tentang menguatkan pengharapan pada orang lain: lanjutkanlah dengan hati-hati. Ingatlah bagaimana kata-kata penuh pengharapan Anda bisa dianggap tidak berperasaan atau menyinggung bagi teman yang sedang menderita. Jadilah cerdas ketika memberikan pengharapan: Apakah Anda peka terhadap waktu dan isi dari apa yang Anda katakan? Apakah Anda mengizinkan orang yang Anda kasihi untuk mengungkapkan keprihatinannya dan memproses kebenaran alkitabiah yang sudah dia ketahui? Waspadalah untuk tidak membombardirnya dengan perkataan klise Kristen alih-alih meluangkan waktu untuk melakukan percakapan yang berarti tentang pencobaan dan kesetiaan Allah. Terkadang yang terbaik adalah diam, dan terkadang yang terbaik adalah menaburkan pengharapan dalam apa yang Anda katakan. Jika ragu, tanyakan dengan lembut kepada teman Anda apakah Anda dapat berbagi dengannya pengharapan yang telah Allah berikan kepada Anda. (t/Jing-Jing)

Catatan:

  1. Matthew Henry, Matthew Henry's Commentary on the Whole Bible: Complete and Unabridged in One Volume (Peabody, MA: Hendrickson, 1994), 1016.
  2. Merriam-Webster, sv "self-control," diakses 29 September 2019, www.merriam-webster.com/dictionary/self-control.
  3. Pertanyaan ini adalah tema puisi dalam Mary Ann Pietzker, Miscellaneous Poems (London: Griffith & Farran, 1872), 55.
  4. Untuk lebih lanjut tentang resolusi konflik alkitabiah, kami merekomendasikan Ken Sande, The Peacemaker (Grand Rapids, MI: Baker, 2004).
  5. Merriam-Webster, sv "wise", diakses 29 September 2019, www.merriam-webster.com/dictionary/wise.
  6. Sinclair Ferguson, Grow in Grace (Edinburgh, UK: Banner of Truth, 1989), 29.
  7. RC Sproul, The Purpose of God: Ephesians (Fearn, Ross-shire, UK: Christian Focus, 1994), 40.
Diterjemahkan dari: Nama situs : Crossway Alamat situs : https://crossway.org/articles/words-that-mark-a-gracious-woman Judul asli artikel : Kata Kata Yang Menandai Wanita Pemurah Penulis artikel : Cheryl Marshall dan Caroline Newheiser

Apa yang Dimaksud Paulus dengan Aku Tidak Mengijinkan Perempuan Mengajar

Rab, 13/07/2022 - 14:24

Dalam episode TGC Q&A ini, Tim Keller dan Don Carson menjawab pertanyaan, "Apa maksud Paulus dengan 'Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar'?" Mereka membahas:

  • Apa yang sebenarnya dilarang oleh Paulus (0:29)
  • Perdebatan tentang apakah dia melarang satu hal atau dua hal (2:21)
  • Ketidaktahuan yang sangat luas -- tidak dapat diketahui (3:43)
  • Nasihat lintas budaya (4:15)

Transkrip

Berikut ini adalah transkrip yang tidak dikoreksi yang dihasilkan oleh layanan transkripsi. Sebelum mengutip untuk media cetak, harap periksa audio yang sesuai supaya akurat.

Tim Keller: Ya, 1 Timotius 2 adalah bagian yang kontroversial, dan saya sangat senang bahwa saya di sini bersama dengan seorang sarjana Perjanjian Baru.

Don Carson: Itu disebut sentakan.

Tim Keller: Karena saya hanya seorang amatir. Apa yang Paulus larang di sana, menurut Anda?

Don Carson: Baiklah, saya akan memakai kesempatan ini untuk menyampaikan iklan dahulu.

Tim Keller: Oke.

Don Carson: Ada komentar terbaru oleh Robert Yarbrough, Bob Yarbrough pada seri PNTC tentang Surat-surat Pastoral yang sangat tegas dalam mengikuti jejak argumen melalui teks, dan ini adalah salah satu pendekatan terbaik untuk 1 Timotius 2 yang pernah saya temukan selama ini, hanya karena itu mengikuti jejak dari hal tersebut.

Tim Keller: Ya. Itu di serial apa? Ini dalam -

Don Carson: Serial The Pillar.

Tim Keller: Ya, benar.

Don Carson: Ya. Nah, jika Anda ingin ekspositori yang lebih detail, di situlah saya akan melihat terlebih dahulu. Kemudian hal berikutnya yang akan saya katakan, Anda dapat mengonfigurasinya sebagai dua larangan atau satu. "Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar atau memerintah." Apakah itu dua hal atau satu hal?

Tim Keller: Betul.

Don Carson: Dan secara sintaksis, menurut cara kalimat Yunani itu disatukan, itu adalah dua hal, tapi itu cukup dekat dengan satu hal. Artinya, otoritas yang dijalankan pada gereja mula-mula terutama melalui Firman. Itu bukan dari struktur atau status hierarkis. Jadi, kedengarannya seperti otoritas berbasis Firman yang diakui gereja, apa yang kemudian disebut otoritas dogmatis, otoritas mengajar, yang tampaknya merupakan larangan yang ada dalam pikiran Paulus, dan itu sejalan dengan teks-teks lain yang ditemukan dalam Perjanjian Baru. Menurut saya, di situlah terletak fokusnya.

Paulus mendasarkan argumennya pertama dalam urutan penciptaan, dan kedua dalam urutan kejatuhan. Nah, Anda dapat bergumul cukup lama dengan apa artinya itu.


Tim Keller: Menarik. Ya. Pertama-tama, hanya untuk menunjukkan di mana kita berada dalam momen budaya kita, saya membeli "The Pillar Commentary" oleh Bob, dan saya segera membukanya dan membaca bagian itu, dan saya pikir itu sangat bagus. Saya berkata, "Oh, ini dia. Ini bagus." Di sini, saya berbicara sebagai seorang praktisi pendeta. Saya suka fakta bahwa Anda mengatakan ada beberapa perdebatan tentang apakah itu dua hal atau satu hal, dan ada orang, saya telah melihat beberapa orang yang... saya yakin dengan apa yang Anda katakan, bahwa itu satu hal, tetapi ada orang yang bilang dua hal. Apa yang saya lakukan di Redeemer, apa yang telah saya lakukan selama bertahun-tahun, dan itu bukan posisi yang populer, adalah untuk mengatakan bahwa Paulus melarang sesuatu di sini, sesuatu, dan saya terbuka untuk siapa saja yang mungkin memiliki pendapat berbeda dari saya tentang apa itu atau bagaimana itu memperoleh hasil yang dapat diterima tanpa banyak intervensi.

Kita juga harus ingat bahwa denominasi yang berbeda menginvestasikan tingkat otoritas yang berbeda pada jabatan yang berbeda. Oleh karena itu, otoritas seperti apa yang terlihat di gereja Baptis atau gereja Presbiterian atau gereja Anglikan mungkin berbeda, dan (suara tidak terdengar pada menit 00:03:29). Jadi, saya terbuka untuk itu. Saya tidak terbuka untuk seseorang yang berkata, "Tidak ada yang dia larang," atau "Itu bukan pernyataan yang bersifat lintas budaya, dan karena itu tidak mengikat kita lagi."

Don Carson: Atau, "Ini sangat sulit. Oleh karena itu, kita tidak dapat mengetahuinya. Karena itu"-

Tim Keller: Itu menarik. Banyak sekali anak muda Kristen yang melakukan itu. Mereka mengangkat tangan, dan berkata, "Karena saya tidak mengerti, saya hanya akan melakukan apa yang menurut saya benar." Ya, ya.

Don Carson: Teman saya suka menyebutnya sebagai ketidaktahuan yang sangat luas. Artinya, itu adalah pernyataan bahwa bukan hanya saya tidak tahu, tetapi Anda tidak bisa tahu.

Tim Keller: Benar. Itu poin yang bagus, dan itu juga membenarkan diri sendiri. Ini benar-benar mengatakan -

Don Carson: Itu membenarkan diri sendiri. Apa yang sebenarnya dilakukan adalah membuka pintu untuk apa pun.

Tim Keller: Untuk apa pun yang ingin saya lakukan. Saya biasanya akan mengatakan dia melarang sesuatu. Anda menunjukkan sesuatu kepada saya, dan saya akan bekerja dengan Anda dalam hal itu, tetapi jangan bilang dia tidak melarang apa pun, karena dia melarang. Tapi, bagaimana Anda akan menjawab pertanyaan itu? Bagaimana Anda tahu ini adalah bagian yang bersifat lintas budaya dari sebuah ekspektasi yang benar untuk semua zaman dan semua gereja?

Don Carson: Sebagai kebalikan dari saling menyapa dengan ciuman kudus?

Tim Keller: Ya.

Don Carson: Ya. Dua hal. Paulus mendasarkan argumennya pertama dalam urutan penciptaan, dan kedua dalam urutan kejatuhan. Nah, Anda dapat bergumul cukup lama dengan apa artinya itu. Saya siap untuk memberikan saran, tetapi intinya adalah, sulit untuk memikirkan peristiwa apa pun di seluruh ifat Alkitab yang kurang bergantung secara budaya daripada urutan penciptaan.

Tim Keller: Tentu saja.

Don Carson: Bukan seolah-olah Paulus berkata, "Mengingat ketidaktahuan relatif perempuan yang tidak memiliki pendidikan yang cukup, oleh karena itu saya melarang ini dan itu." Bukan itu yang dia katakan.

Tim Keller: Tidak, dia tidak mengatakan itu.

Don Carson: Argumentasinya terkait dengan dua hal yang sangat bersifat lintas budaya.

Tim Keller: Ya. Sepertinya dia mungkin mengenal seseorang yang mungkin bertanya. Setidaknya, tentu saja, itu merepotkan bahwa dia melakukan itu untuk orang-orang yang sangat tidak menyukai ekspektasinya. Satu-satunya hal yang saya katakan, sekali lagi sebagai seorang praktisi, adalah jika seseorang berkata, "Bagaimana Anda tahu itu adalah bagian yang bersifat lintas budaya?" Saya berkata, "Nah, bagaimana Anda tahu itu bukan, terutama ketika Anda sedang berbicara tentang bagian Perjanjian Baru?" Sepertinya bagi saya tugas pembuktian ada pada orang yang mengatakan tidak, dan itu harus menjadi standar yang sangat tinggi. Mengingat cara dia mengaitkannya dengan penciptaan dan kejatuhan, sangat sulit untuk melihat bagaimana seseorang bisa mengatasi itu. Saya pernah mendengar orang mencoba melakukannya, dan menurut saya mereka tidak cukup meyakinkan. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari: Nama situs : The Gospel Coalition Alamat situs : https://thegospelcoalition.org/podcasts/q-a-podcast/what-did-paul-mean-by-i-do-not-permit-a-woman-to-teach Judul asli artikel : What Did Paul Mean by "I Do Not Permit a Woman to Teach"? Penulis artikel : Don Carson dan Tim Keller

Download Audio

--> Tipe Bahan: Artikel

Apa yang Dimaksud Paulus dengan Aku Tidak Mengijinkan Perempuan Mengajar

Rab, 13/07/2022 - 14:24

Dalam episode TGC Q&A ini, Tim Keller dan Don Carson menjawab pertanyaan, "Apa maksud Paulus dengan 'Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar'?" Mereka membahas:

  • Apa yang sebenarnya dilarang oleh Paulus (0:29)
  • Perdebatan tentang apakah dia melarang satu hal atau dua hal (2:21)
  • Ketidaktahuan yang sangat luas -- tidak dapat diketahui (3:43)
  • Nasihat lintas budaya (4:15)

Transkrip

Berikut ini adalah transkrip yang tidak dikoreksi yang dihasilkan oleh layanan transkripsi. Sebelum mengutip untuk media cetak, harap periksa audio yang sesuai supaya akurat.

Tim Keller: Ya, 1 Timotius 2 adalah bagian yang kontroversial, dan saya sangat senang bahwa saya di sini bersama dengan seorang sarjana Perjanjian Baru.

Don Carson: Itu disebut sentakan.

Tim Keller: Karena saya hanya seorang amatir. Apa yang Paulus larang di sana, menurut Anda?

Don Carson: Baiklah, saya akan memakai kesempatan ini untuk menyampaikan iklan dahulu.

Tim Keller: Oke.

Don Carson: Ada komentar terbaru oleh Robert Yarbrough, Bob Yarbrough pada seri PNTC tentang Surat-surat Pastoral yang sangat tegas dalam mengikuti jejak argumen melalui teks, dan ini adalah salah satu pendekatan terbaik untuk 1 Timotius 2 yang pernah saya temukan selama ini, hanya karena itu mengikuti jejak dari hal tersebut.

Tim Keller: Ya. Itu di serial apa? Ini dalam -

Don Carson: Serial The Pillar.

Tim Keller: Ya, benar.

Don Carson: Ya. Nah, jika Anda ingin ekspositori yang lebih detail, di situlah saya akan melihat terlebih dahulu. Kemudian hal berikutnya yang akan saya katakan, Anda dapat mengonfigurasinya sebagai dua larangan atau satu. "Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar atau memerintah." Apakah itu dua hal atau satu hal?

Tim Keller: Betul.

Don Carson: Dan secara sintaksis, menurut cara kalimat Yunani itu disatukan, itu adalah dua hal, tapi itu cukup dekat dengan satu hal. Artinya, otoritas yang dijalankan pada gereja mula-mula terutama melalui Firman. Itu bukan dari struktur atau status hierarkis. Jadi, kedengarannya seperti otoritas berbasis Firman yang diakui gereja, apa yang kemudian disebut otoritas dogmatis, otoritas mengajar, yang tampaknya merupakan larangan yang ada dalam pikiran Paulus, dan itu sejalan dengan teks-teks lain yang ditemukan dalam Perjanjian Baru. Menurut saya, di situlah terletak fokusnya.

Tim Keller: Menarik. Ya. Pertama-tama, hanya untuk menunjukkan di mana kita berada dalam momen budaya kita, saya membeli "The Pillar Commentary" oleh Bob, dan saya segera membukanya dan membaca bagian itu, dan saya pikir itu sangat bagus. Saya berkata, "Oh, ini dia. Ini bagus." Di sini, saya berbicara sebagai seorang praktisi pendeta. Saya suka fakta bahwa Anda mengatakan ada beberapa perdebatan tentang apakah itu dua hal atau satu hal, dan ada orang, saya telah melihat beberapa orang yang... saya yakin dengan apa yang Anda katakan, bahwa itu satu hal, tetapi ada orang yang bilang dua hal. Apa yang saya lakukan di Redeemer, apa yang telah saya lakukan selama bertahun-tahun, dan itu bukan posisi yang populer, adalah untuk mengatakan bahwa Paulus melarang sesuatu di sini, sesuatu, dan saya terbuka untuk siapa saja yang mungkin memiliki pendapat berbeda dari saya tentang apa itu atau bagaimana itu memperoleh hasil yang dapat diterima tanpa banyak intervensi.

Kita juga harus ingat bahwa denominasi yang berbeda menginvestasikan tingkat otoritas yang berbeda pada jabatan yang berbeda. Oleh karena itu, otoritas seperti apa yang terlihat di gereja Baptis atau gereja Presbiterian atau gereja Anglikan mungkin berbeda, dan (suara tidak terdengar pada menit 00:03:29). Jadi, saya terbuka untuk itu. Saya tidak terbuka untuk seseorang yang berkata, "Tidak ada yang dia larang," atau "Itu bukan pernyataan yang bersifat lintas budaya, dan karena itu tidak mengikat kita lagi."

Don Carson: Atau, "Ini sangat sulit. Oleh karena itu, kita tidak dapat mengetahuinya. Karena itu"-

Tim Keller: Itu menarik. Banyak sekali anak muda Kristen yang melakukan itu. Mereka mengangkat tangan, dan berkata, "Karena saya tidak mengerti, saya hanya akan melakukan apa yang menurut saya benar." Ya, ya.

Don Carson: Teman saya suka menyebutnya sebagai ketidaktahuan yang sangat luas. Artinya, itu adalah pernyataan bahwa bukan hanya saya tidak tahu, tetapi Anda tidak bisa tahu.

Tim Keller: Benar. Itu poin yang bagus, dan itu juga membenarkan diri sendiri. Ini benar-benar mengatakan -

Don Carson: Itu membenarkan diri sendiri. Apa yang sebenarnya dilakukan adalah membuka pintu untuk apa pun.

Tim Keller: Untuk apa pun yang ingin saya lakukan. Saya biasanya akan mengatakan dia melarang sesuatu. Anda menunjukkan sesuatu kepada saya, dan saya akan bekerja dengan Anda dalam hal itu, tetapi jangan bilang dia tidak melarang apa pun, karena dia melarang. Tapi, bagaimana Anda akan menjawab pertanyaan itu? Bagaimana Anda tahu ini adalah bagian yang bersifat lintas budaya dari sebuah ekspektasi yang benar untuk semua zaman dan semua gereja?

Don Carson: Sebagai kebalikan dari saling menyapa dengan ciuman kudus?

Tim Keller: Ya.

Don Carson: Ya. Dua hal. Paulus mendasarkan argumennya pertama dalam urutan penciptaan, dan kedua dalam urutan kejatuhan. Nah, Anda dapat bergumul cukup lama dengan apa artinya itu. Saya siap untuk memberikan saran, tetapi intinya adalah, sulit untuk memikirkan peristiwa apa pun di seluruh ifat Alkitab yang kurang bergantung secara budaya daripada urutan penciptaan.

Tim Keller: Tentu saja.

Don Carson: Bukan seolah-olah Paulus berkata, "Mengingat ketidaktahuan relatif perempuan yang tidak memiliki pendidikan yang cukup, oleh karena itu saya melarang ini dan itu." Bukan itu yang dia katakan.

Tim Keller: Tidak, dia tidak mengatakan itu.

Don Carson: Argumentasinya terkait dengan dua hal yang sangat bersifat lintas budaya.

Tim Keller: Ya. Sepertinya dia mungkin mengenal seseorang yang mungkin bertanya. Setidaknya, tentu saja, itu merepotkan bahwa dia melakukan itu untuk orang-orang yang sangat tidak menyukai ekspektasinya. Satu-satunya hal yang saya katakan, sekali lagi sebagai seorang praktisi, adalah jika seseorang berkata, "Bagaimana Anda tahu itu adalah bagian yang bersifat lintas budaya?" Saya berkata, "Nah, bagaimana Anda tahu itu bukan, terutama ketika Anda sedang berbicara tentang bagian Perjanjian Baru?" Sepertinya bagi saya tugas pembuktian ada pada orang yang mengatakan tidak, dan itu harus menjadi standar yang sangat tinggi. Mengingat cara dia mengaitkannya dengan penciptaan dan kejatuhan, sangat sulit untuk melihat bagaimana seseorang bisa mengatasi itu. Saya pernah mendengar orang mencoba melakukannya, dan menurut saya mereka tidak cukup meyakinkan. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari: Nama situs : The Gospel Coalition Alamat situs : https://thegospelcoalition.org/podcasts/q-a-podcast/what-did-paul-mean-by-i-do-not-permit-a-woman-to-teach Judul asli artikel : What Did Paul Mean by "I Do Not Permit a Woman to Teach"? Penulis artikel : Don Carson dan Tim Keller

Download Audio

--> Tipe Bahan: Artikel

Saudari, Injil Adalah Segalanya

Rab, 06/07/2022 - 14:04

Injil bukan hanya satu hal lagi untuk dijadwalkan ke dalam agenda harian atau kalender dapur Anda. Injil membentuk segala sesuatu tentang Anda -- memerlukan Anda untuk datang kepada Allah sesuai syarat-syarat-Nya.

Sebagai wanita yang memahami dan menerima Injil, kita menemukan firman Tuhan begitu dinamis sehingga dapat mendefinisikan, memotivasi, dan memuaskan kita pada saat bersamaan.

Didefinisikan oleh Injil

Ketika kita dilahirkan kembali, hidup mulai masuk akal. Dalam halaman-halaman Kitab Suci, kita menemukan jawaban ilahi untuk pertanyaan yang sudah ada sejak dahulu kala, "Siapakah aku?"

Kita belajar bahwa kita diciptakan menurut gambar Allah. Kita juga belajar bahwa sebagai wanita, kita diciptakan sangat berbeda dari para pria. Yang terpenting, kita menemukan bahwa kita sangat berharga bagi Allah, seperti yang didemonstrasikan dengan kematian Kristus di kayu salib. Injil, oleh karena itu, tidak hanya membawa martabat dan nilai kemanusiaan kita. Itu juga membawa tujuan dan makna pada perbedaan gender.

Kita belajar lebih jauh bahwa kita adalah orang berdosa. Kejadian 3 mencatat keputusan bersama Adam dan Hawa untuk memberontak melawan rencana Allah yang baik, membawa dosa dan kematian kepada umat manusia (Kej. 3; Yes. 53:6; Rm. 3:23). Kita menemukan bahwa kita dapat diselamatkan dari murka Allah terhadap segala kefasikan (Rm. 6:23; Ef. 2:3-9). Kita melihat bahwa kita dapat menjadi anak-anak Allah dan anggota keluarga-Nya, yaitu gereja (Yoh. 1:12; 3:5-8; Mrk. 3:31-35). Akhirnya, kita bermitra dengan semua orang kudus demi Injil (Flp. 1:1-6; 2:14-15).

Selain para malaikat, yang tidak diciptakan menurut gambar Allah, kita adalah satu-satunya makhluk di alam semesta yang dapat mendengar firman Tuhan dan menanggapinya. Kejadian mengungkapkan bahwa hal pertama yang Allah perbuat setelah menciptakan Adam dan Hawa adalah berbicara kepada mereka. Anda dan saya dapat mendengar firman Tuhan!

Karena kita diciptakan menurut gambar-Nya, jiwa kita memiliki pengertian moral yang dapat menanggapi firman-Nya dalam ketaatan. Para wanita, Anda memiliki citra Allah dan merupakan makhluk spiritual yang kompleks, yang dapat mendengar Allah berbicara dan, melalui anugerah-Nya, dapat merespons.

Saudari dalam Kristus, pikirkanlah. Dalam Injil, kita tidak perlu mengalami krisis identitas. Kita tahu siapa diri kita.

Didorong oleh Injil

Injil memotivasi. Itu memberi kita tujuan hidup: "Apa pun yang kamu lakukan, dalam perkataan ataupun perbuatan, lakukan semua itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur kepada Allah Bapa, melalui Dia." (Kol. 3:17, AYT).

Kitab Suci menunjukkan kepada kita tempat kita sesuai dengan rencana Allah bagi dunia dan menjabarkan apa yang harus kita lakukan dengan kehidupan kita. Alkitab adalah panduan untuk mengarahkan hidup kita di bawah disiplin Injil. Kita telah diberi tugas untuk menyebarkan Kabar Baik, menjadi bagian dari keluarga Allah, dalam tanggung jawab untuk mendidik orang lain dan melayani orang miskin dan tak berdaya. Injil menginformasikan setiap aspek kehidupan kita sebagai wanita lajang atau menikah. Injil memberi makna pada apa pun yang kita lakukan karena, sebagai wanita Injil, kita melakukan semuanya dalam nama Tuhan Yesus.

Dipuaskan oleh Injil

Marie Antoinette terkenal karena pernyataannya yang tidak berperasaan tentang orang-orang Perancis yang kelaparan dan tidak memiliki roti: "Biarkan mereka makan kue." Ratu ini, dikelilingi oleh perabotan mewah, pakaian mahal, makanan berlimpah dan eksotis, dan para pelayan yang memenuhi setiap keinginannya, adalah orang yang sama yang dengan putus asa berkata, "Tidak ada yang terasa."

Tidak mengherankan bahwa dia tidak dapat menemukan kepuasan dalam harta benda, tetapi sungguh tragis bagi mereka yang mengaku beriman kepada Injil, tetapi mencari kepuasan di tempat lain.

Para wanita, Anda memiliki citra Allah dan merupakan makhluk spiritual yang kompleks, yang dapat mendengar Allah berbicara dan, melalui anugerah-Nya, dapat merespons.


Sebagai istri seorang pendeta, saya sering mendapati wanita Kristen mengungkapkan kerinduan mereka kepada saya akan sesuatu yang tidak mereka miliki. Dalam pencarian mereka untuk menemukan apa yang kurang, mereka dengan santai mengurangi dan bahkan mengabaikan apa yang telah mereka miliki, tetapi mereka anggap remeh -- pengetahuan tentang Allah dan pemeliharaan-Nya yang penuh kasih bagi kita yang dapat ditemukan di halaman-halaman Kitab Suci.

Inilah kebenaran Injil: "Kuasa-Nya yang ilahi telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berkenaan dengan hidup dan kesalehan, melalui pengetahuan akan Dia yang telah memanggil kita menuju kemuliaan dan kebaikan-Nya" (2Ptr. 1:3, AYT). Pemeliharaan Allah untuk anak-anak-Nya sungguh menakjubkan! Kita memiliki semua yang kita butuhkan! Apakah Anda memercayainya?

Jangan ragukan bahwa Injil sederhana memiliki semua yang Anda butuhkan, bahkan lebih banyak lagi. Yesus berkata kepada wanita di sumur, "Setiap orang yang minum dari air ini akan haus lagi, tetapi orang yang minum dari air yang Kuberikan kepadanya tidak akan pernah haus lagi ..." (Yoh. 4:13-14, AYT). (t/N. Risanti)

Catatan Editor:

Artikel ini diadaptasi dari "Disciplines of a Godly Woman" karya Barbara Hughes (Crossway, 2013).

Diterjemahkan dari: Nama situs : The Gospel Coalition Alamat situs : https://thegospelcoalition.org/article/gospel-everything Judul asli artikel : Sisters, the Gospel Is Everything Penulis artikel : Barbara Hughes Tipe Bahan: Artikelkategori: KEHIDUPAN ROHANI