RSS Wanita

Subscribe to RSS Wanita feed
Updated: 3 weeks 6 days ago

Membuahkan Masa Lalu

Rab, 23/09/2020 - 15:50

Orang yang lanjut usianya atau lansia sudah tidak punya masa depan. Rupanya Anda kurang menyetujui pernyataan itu. Baiklah, mari kita lihat duduk perkaranya.

Masa depan adalah deretan cita-cita dan target. Orang mempersiapkan diri dengan langkah jangka pendek dan jangka panjang demi terwujudnya cita-cita itu. Seorang murid SD patut punya target.

Akan tetapi, apakah itu realistis untuk lansia? Masa Tante masih punya cita-cita jadi dokter misionaris di pedalaman Afrika? Apa Tante tahan sekolah lagi bertahun-tahun di kedokteran? Apa Tante sanggup naik gajah keluar masuk hutan Afrika? Apa Tante mau tidur bareng gajah di bawah pohon? Tante, yang bener aja!

Kita tidak punya masa depan. Meskipun begitu kita punya sesuatu yang lebih berharga daripada masa depan, yaitu masa lalu. Mengapa lebih berharga? Karena masa depan masih berupa kemungkinan, sedangkan masa lalu adalah kemungkinan yang sudah berubah menjadi kenyataan.

Rupanya Anda masih kurang setuju dengan pernyataan bahwa kita tidak punya masa depan. Anda betul, kita pun masih punya masa depan. Akan tetapi, coba bandingkan. Masa depan kita jauh lebih pendek dari pada masa lalu. Masa lalu kita sudah 60 atau 80 tahun, padahal masa depan tidak sepanjang itu.

Anak kecil punya masa depan, namun tidak punya masa lalu. Sebaliknya, kita tidak punya masa depan namun punya masa lalu. Masa lalu adalah aset yang berharga untuk kita.

Soalnya, apa yang mau kita perbuat dengan aset itu? Ada beberapa pilihan bagaimana kita menyikapi masa lalu.

Pertama, mencueki masa lalu. Kita tidak mau berpikir tentang masa lalu. Kita tidak tahu mau diapakan masa lalu itu. Kita berkata, "Mau diapakan lagi? Yang sudah ya sudah!"

Kedua, menyembunyikan masa lalu. Mungkin kita malu karena pernah terjadi aib menimpa kita. Atau mungkin dulu kita miskin. Orang lain tidak boleh tahu masa lalu kita. Seperti kacang lupa kulit, kita menyangkal asal-usul kita.

Ketiga, menyesali masa lalu. Kita dulu telah menyia-nyiakan kesempatan. Atau kita telah membuat keputusan keliru. Atau kita merasa bersalah.

Keempat, membenci masa lalu. Mungkin kita dulu diperlakukan kejam. Kita merasa diri korban ketidakadilan. Akibatnya kita sengaja melupakan masa lalu. Semua potret dan kenangan kita buang.

Kelima, mendewakan masa lalu. Dulu kita hidup dalam kemudahan. Kita dimanja. Tidak ada kesusahan. Alangkah enaknya kalau bisa kembali ke tempo dulu.

Keenam, mensyukuri masa lalu. Apa pun yang telah terjadi, namun kita sudah melewatinya dengan selamat. Kini tinggal bersantai. Kita mensyukurinya.

Ketujuh, membuahkan masa lalu. Kita mengintegrasikan apa yang dulu terjadi dengan apa yang sekarang bisa kita lakukan. Kita memetik hikmah dari suka duka masa lalu. Kita menjadikan masa lalu berguna baik untuk kita sendiri maupun orang lain dan generasi berikutnya.

Agaknya, membuahkan masa lalu itulah yang dimaksud oleh Musa ketika ia berpisah dan berpesan kepada umat, "Tetapi waspadalah dan berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan hal-hal yang dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hilang dari ingatanmu seumur hidupmu. Beritahukanlah kepada anak-anakmu dan kepada cucu cicitmu itu ..." (Ul. 4:9). Perhatikan verba terakhir, yaitu "beritahukanlah".

Salah satu unsur PAK (Pendidikan Agama Kristen), dalam hal ini PAK Lansia dan PAK Kepribadian adalah menolong lansia untuk menjalani tahap generatif sesuai dengan delapan perkembangan kepribadian teori Erikson. Generatif berarti mewariskan teladan dan nilai-nilai hidup kepada generasi berikut (lih. bab "Perkembangan Kepribadian" di buku Selamat Berkembang).

Di sini nampak pentingnya pelayanan PAK dengan lansia. Namun, agak disayangkan bahwa kebanyakan program gereja dengan lansia hanya sebatas menghibur dan menguatkan iman. Itu tentu penting namun tugas gereja lebih dari cuma itu. Lansia juga membutuhkan pelayanan yang bersifat mendidik.

Kelemahan itu mungkin disebabkan karena sekolah-sekolah teologi kurang membekali pendeta dengan pengetahuan mengajar dan mendidik. Akibatnya banyak pendeta mengira bahwa PAK hanya menyangkut anak kecil, padahal PAK mencakup semua golongan usia dan meliput berbagai bidang seperti PAK Lingkungan Hidup, PAK Kemajemukan, PAK Kedamaian, dan sebagainya.

Salah satu tujuan PAK Lansia adalah menolong lansia untuk bukan hanya mensyukuri melainkan juga membuahkan masa lalu. Lansia manakah yang mampu berbuat begitu? Tiap lansia! Kakek yang buta huruf pun mampu membuahkan masa lalunya. Tadi sudah dijelaskan bahwa generatifitas berarti mewariskan teladan dan nilai-nilai hidup yang luhur. Tanpa kecuali, tiap lansia bisa berbuat itu.

Tentu tiap individu mempunyai cara dan kecakapan yang berbeda dalam menceritakan nilai-nilai hidupnya. Tidak ada ukuran tunggal. Ada yang menceritakan perjuangannya mencari sesuap nasi untuk anak-anak yang masih kecil. Ada yang mewariskan keuletan dan ketangguhan. Ada yang menurunkan kepintaran membuat sesuatu, atau lainnya.

Cara yang saya pilih adalah menulis Seri Selamat. Seri Selamat adalah buah integrasi masa lalu dengan masa kini saya. Apa yang dulu saya alami dipadu dengan apa yang sekarang saya imani.

Ambillah contoh tentang dongeng. Dalam Seri Selamat terdapat banyak dongeng Tolstoy, Andersen, Dickens, dan lainnya. Semua cerita itu dulu bacaan di perpustakaan SD. Akan tetapi, sebagai anak SD saya hanya bisa membaca dalam arti menikmati sensasinya. Ketika itu mustahil saya bisa mengolah abstraksi, simbolisasi, dan karakterisasi cerita. Sekarang saya mengolahnya sebagai pewarisan nilai-nilai hidup.

Menulis Seri Selamat bagi saya adalah berdamai dengan masa lalu. Artinya, saya tidak menyembunyikan, membenci dan menyesali masa lalu meskipun dulu saya loper koran, anak diakoni GKI Kebon Jati dan murid miskin yang uang sekolahnya dibebaskan oleh BPK Penabur. Saya menggali hikmah dari semua yang dulu dirasakan dan membuahkannya dalam bentuk Seri Selamat. Orang bisa menulis buku bukan karena punya masa depan, melainkan karena punya masa lalu.

Oleh karena itu sekarang tiap subuh saya menulis. Apa saya punya target? Sama sekali tidak! Pokoknya tiap hari menulis.

Semoga kini Anda menyetujui pernyataan pada awal tulisan ini bahwa yang dipunyai lansia bukan masa depan melainkan masa lalu. Bukankah justru masa lalu itu yang lebih berguna?

Diambil dari: Judul Artikel : Membuahkan Masa Lalu Judul Buku : Selamat Berbuah Penulis Buku : Andar Ismail Hal : 57 -- 60 Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta

Tipe Bahan: Artikelkategori: KEHIDUPAN ROHANI

Bangsa Semut

Rab, 23/09/2020 - 15:47

Dalam keseluruhan naskah kitab Mazmur yang puitis, tidak didapati kata "semut" sebagai kosakata dalam pujian Mazmur. Bahkan, Tuhan Yesus tidak memakai "semut" di dalam ilustrasi pengajaran-Nya ataupun dalam perumpamaan-Nya. Paulus pun tidak menggunakan kata "semut" di keseluruhan surat yang dia tulis. Sepertinya, semut itu sungguh-sungguh kecil yang patut diabaikan. Benarkah demikian?

Ilmuwan yang menyelidiki semut menuliskan bahwa ada lebih dari 12.000 jenis semut. Sebagian besar hidupnya di daerah tropis. Sebagian besar semut dikenal sebagai serangga sosial.

Amsal sebagai kitab hikmat menulis semut dalam 2 ayatnya. Pertama, Amsal 6:6, "Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak." Kedua, Amsal 30:25, "semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas."

Sebagai bakul nasi, aku punya seribu satu cerita. Ada saja kisah sukses. Dan, jujur saja, ada banyak cerita gagal. Stttt......

Suatu hari aku menerima pesanan nasi yang agak banyak porsinya. Sehingga, aku harus memasak nasi 2 kali di rice cooker. Nasi masakan pertama sudah rampung. Kupindahkan ke baskom yang besar. Lalu, aku tutupi dengan serbet.

Aku cuci mangkuk rice cooker untuk memasak nasi kedua kalinya.

Lalu, aku menyiapkan bumbu bawang bombai. Aku juga memotong semua daging sebagai racikan nasi itu. Kusimpan daging itu di kulkas.

Acar ketimun sudah kuracik dan juga sudah dipacking. Aman dan segar di kulkas.

Setelah semua beres, aku buru-buru pergi ke pasar untuk beberapa keperluan. Karena kulihat waktuku masih sangat cukup dan sangat berlebih, entar pulang pasar, aku akan mengolah racikan nasi itu.

Sekitar 1 jam aku meninggalkan dapurku. Dengan riang gembira aku menghampiri dapurku, akan mengolah masakan yang lezat.

Nasi di rice cooker sudah matang sebagai ronde ke dua.

Lalu, aku buka serbet di baskom besar yang berisi nasi. Betapa terkejut, ratusan semut menyerbu nasiku itu. Terlihat ada beberapa ratu semut yang membawa bangsanya. Waduhhhh piye iki?

Ini namanya musibah di siang bolong yang terik lagi panas itu.

Setidaknya ada dua alternatif, yaitu memasak nasi lagi atau menyelamatkan nasi dari ratusan semut itu.

Pendek kata, musibah itu bisa kuatasi. Stay cool begitu acapkali kudengar di suasana kantor yang memuncak.

Dari musibah itu, tersadarlah aku, bahwa sebaiknya dan selayaknya aku membeli termos nasi. Ohhhhh...

Selama ini, pesanan nasiku paling banyak 15 porsi yang tidak perlu termos nasi.

Jika lebih dari itu, bukan hanya perlu tambahan garam, tetapi perlu juga tambahan kecerdasan. Setidaknya menyelamatkan nasi dari serbuan bangsa semut.

Dua minggu sudah berlalu, aku sungguh-sungguh membeli termos nasi. Sebagai persiapanku menerima orderan berikutnya, nasi ayam saus asam manis, di kala orderanku lebih dari 15 porsi. Aku sungguh tergugah oleh ayat 6 dari Amsal pasal 6, "jadilah bijak," setelah bangsa semut menggelitik inspirasiku.

Yvonne Sumilat,

16 September 2020

Berjaga-jaga

Sel, 28/07/2020 - 15:48

Ada 5 gadis yang bijaksana. Disebut bijaksana karena mereka berjaga-jaga dengan cara ada ketersediaan minyak yang memadai ketika sedang menunggu datangnya mempelai pria. Supaya pelita mereka tetap menyala.

Ternyata, berjaga-jaga berlaku juga untuk bakul nasi amatiran seperti saya.

Pagi ini saya tidak sedang berjualan nasi. Akan tetapi, ada pesanan sup susu (warisan penjajahan Belanda yang dilestarikan di tanah Minahasa) porsi family, volumenya sekitar 6 liter atau satu panci.

Kentang, wortel, daging ayam, dan bakso sapi sudah dipotong dadu sejak kemarin malam. Pagi ini saya tinggal mengolahnya dengan air mendidih. Lalu, menambahkan susu dan bumbu-bumbunya.

Sup susu itu memang enak. Apalagi berpadanan dengan sambal bawang yang disertai cuka. Lalu disantap dengan irisan roti tawar yang tebal. Pantas saja gengku selalu merindukan sup susu bikinanku.

Akan tetapi, pagi ini sungguh malang. Sup susu yang matang itu rasanya tidak berkenan di lidahku.

Bakso sapi yang biasa saya pakai tidak ada di toko. Terpaksa saya membeli bakso sapi yang lain. Celakanya, walaupun tidak murah, tetapi rasanya tidak enak.

Wah, bagaimana ini. Pasti mengecewakan.

Tiba-tiba saya mendapat ide untuk menambahkan bakso udang yang ada di kulkasku.

Akhirnya selamatlah sup susuku. Syukurlah. Untunglah ada ketersediaan alternatif.

Puji Tuhan, pagi ini sudah diselamatkan dari kekecewaan.

Berbahagialah orang yang berjaga-jaga.

Yvonne Sumilat,

Catatan harian,

21 Juli 2020

Memandang Segala Sesuatu dengan Perspektif-Ku

Jum, 19/06/2020 - 10:13

Oleh: Prita Atria

"... semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu." (Filipi 4:8)

Renungan yang kubaca kali ini berkisah tentang atlet basket yang bernama Curt Brinkman yang ia kehilangan kedua kakinya dalam sebuah kecelakaan saat ia berusia 16 tahun. Mungkin, sebagian banyak orang termasuk saya sendiri akan merasa sangat terpukul jika melihat diri saya kehilangan kedua kaki. Bagaimana tidak, saya mungkin tidak akan bisa berjalan lagi. Saya mungkin tidak bisa melakukan banyak hal dengan diri saya sendiri. Dan pastinya, saya akan merepotkan banyak orang di sekitar saya. Namun, tidak bagi Brinkman. Brinkman melihat musibah tersebut dengan cara pandang yang berbeda. Ia memandang bahwa musibah tersebut sebagai jalan untuk meraih kesuksesan dalam bidang olahraga yang lain. Dan, kenyataan membuktikan ketekunan dan kerja kerasnya. Brinkman berhasil menjuarai perlombaan maraton di Boston pada tahun 1980 dalam divisi kursi roda pria. Brinkman juga memecahkan rekor dunia dengan mencapai garis finish dalam waktu 115 menit atau 17 menit lebih cepat dari rekor maraton yang pernah ada.

Ketika kita bisa mengubah cara pandang kita akan suatu masalah, ketika kita punya niat yang kuat, dan mau berusaha dengan sungguh-sungguh, tidak ada yang tidak mungkin bagi siapa pun untuk meraih yang terbaik dalam hidupnya. Meski kita memiliki keterbatasan sekali pun, kita pasti mampu meraih yang kita impikan. Akan tetapi, banyak juga orang yang melihat keterbatasan tersebut menjadi penghalang, menjadikannya sebagai alasan untuk tidak memberanikan diri menghadapi hidup dan melangkah maju. Sebenarnya, bukan karena keterbatasan yang menjadi penghambat kita meraih impian. Justru, sikap kita memandang dan memahami keterbatasan tersebut yang memampukan kita untuk mempunyai perspektif lain melihat kehidupan.

Renungan yang kubaca hari ini, menceritakan tokoh Alkitab yang mengalami perasaan rendah diri karena keterbatasan fisiknya. Ia adalah Mefiboset, keturunan Saul. Dilahirkan dengan memiliki cacat fisik pada kedua kakinya, membuatnya merasa rendah diri dan tidak berharga lagi sebagai manusia. Apalagi, pada zaman tersebut ada pandangan negatif terhadap orang cacat yang dianggap sebagai kelompok orang yang terbuang. Keterbatasan fisik yang dimiliki Mefiboset membuatnya kehilangan gairah hidup.

Jika pada saat ini kita sedang mengalami masalah, keterpurukan, kesedihan, yang membuat diri kita merasa tertekan, ambillah respons yang tepat. Kuatkan iman dan serahkan seluruh pergumulan kita kepada Tuhan. Jika kita hanya berfokus pada masalah, itu hanya akan membuat kita menjadi ragu, tidak bersemangat, dan putus asa dalam memandang kehidupan. Sebaliknya, jika kita memfokuskan diri kita untuk melihat kemampuan Tuhan yang luar biasa, itu akan membuat kita memiliki pengharapan yang besar untuk menjalani hidup.

Seperti ayat yang kita baca hari ini, "... semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu." (Filipi 4:8). Daripada berfokus untuk memikirkan masalah yang berada di luar kendali dan kekuatan kita, lebih indah apabila kita selalu memikirkan semua yang Tuhan katakan. Sebab, apa yang Tuhan katakan adalah janji-Nya untuk selalu menyertai kehidupan kita.

Serahkanlah segala kekhawatiran kita pada diri-Nya, karena rencana-Nya adalah rencana yang membawa damai sejahtera dalam hidup kita.

Tinggalkan Komentar