RSS Wanita

Subscribe to RSS Wanita feed
Updated: 3 days 4 hours ago

Memahami Kedaulatan Allah

Sel, 19/11/2019 - 08:46



Memahami Kedaulatan Allah */

Kita hidup pada zaman yang sangat tidak pasti. Baik secara lokal maupun global, ada banyak volatilitas/ketidakstabilan politik dan ekonomi. Sangat mudah untuk menjadi muram dan merasa tidak aman pada saat-saat seperti ini. Namun, sebagai orang Kristen, harapan utama kita bukanlah pada penguasa zaman ini, atau dalam keadaan ekonomi kita, tetapi pada Pencipta alam semesta yang berdaulat.

Kebenaran bahwa Allah memang berdaulat harus menjadi penghiburan luar biasa dan sumber kekuatan bagi kita. Apa sebenarnya arti kedaulatan Tuhan? Singkatnya - Allah yang berkuasa, Dia yang memegang kendali. Mari kita melihat empat hal yang dinyatakan Alkitab tentang kedaulatan Allah.

Karena Allah berdaulat, Dia melakukan apa yang Dia inginkan dan mencapai semua tujuan-Nya. Tidak ada yang bisa menghentikan Allah melakukan kehendak-Nya. Mazmur 115: 3 menyatakan dengan jelas, "Allah kami ada di surga, Dia melakukan semua yang disukai-Nya." Allah sendiri berbicara dalam Yesaya 46:10, firman-Nya, "Rencana-Ku akan tetap teguh dan Aku akan menyelesaikan semua kehendak-Ku." Allah tidak dibatasi oleh apa pun di luar diri-Nya, juga tidak ada yang dapat menggagalkan kehendak-Nya, baik itu dosa manusia, pemberontakan atau kurangnya iman, atau bahkan rancangan jahat Iblis. Allah kita melakukan apa yang Dia inginkan dan akan selalu mewujudkan tujuan-Nya, hanya karena Dia adalah Allah!

Karena Allah berdaulat, Dia mengendalikan urusan dunia ini. Daniel 2:21 berkata bahwa "Dialah yang mengubah waktu dan masa; Dia memecat raja dan mengangkat raja. Dialah yang memberi hikmat kepada orang-orang bijaksana dan akal budi diberitahukan-Nya kepada orang yang memahami pengertian." Tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang terjadi secara kebetulan, Allah juga tidak membiarkan kita bergantung pada kemampuan kita sendiri untuk melanjutkan hidup secara mandiri tanpa Dia. Dia adalah penguasa dunia ini, dan sungguh, Dia berkuasa atas perubahan musim, membangkitkan raja dan presiden, dan juga mengawasi kejatuhan mereka - Allah membuat semuanya terjadi. Kita dapat bersandar pada kebenaran yang luar biasa ini bahwa pemerintahan memang terletak di bahu Tuhan (Yesaya 9:6).

Dia mampu menggunakan setiap keadaan untuk bekerja demi kebaikan dan kemuliaan-Nya.

Karena Allah berdaulat, Dia telah memilih umat untuk diri-Nya sendiri "sebelum dunia dijadikan." (Efesus 1: 4). Terlepas dari tiadanya kebaikan atau iman yang melekat di dalam diri kita, melainkan semata-mata karena Dia memilih untuk menetapkan kasih-Nya kepada kita, "Ia menetapkan kita dari semula untuk diangkat menjadi anak-anak-Nya melalui Kristus Yesus sesuai dengan kesukaan kehendak-Nya." (Efesus 1: 5). Allah dengan berdaulat memilih kita untuk memperoleh karya penebusan di dalam Kristus, terlepas dari (kehendak) diri kita sendiri! Allah tetap sepenuhnya berdaulat atas keselamatan kita - itu semua adalah pekerjaan-Nya - dan karena itu Dia tidak akan pernah membiarkan kita lepas; dan memang, tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya di dalam Kristus Yesus. Ini adalah kabar baik bagi kita!

Karena Allah berdaulat, Dia tetap memegang kendali bahkan dalam menghadapi kejahatan, penderitaan dan ketidakadilan. Kisah Para Rasul 2:23 menyatakan, "Yesus ini, yang diserahkan menurut rencana yang sudah ditentukan dan pengetahuan Allah sebelumnya, kamu bunuh dengan menyalibkan-Nya melalui tangan orang-orang durhaka." Meski Allah tidak pernah menjadi pencipta atau sumber dari kejahatan, Dia mengizinkan hal itu terjadi. Penyaliban Kristus adalah contoh sempurna dari hal tersebut. Ketidakadilan terbesar dalam sejarah dilakukan oleh orang-orang jahat; tetapi itu terjadi sesuai dengan "rencana dan pengetahuan pasti" Allah. Ketidakadilan terbesar dalam sejarah akhirnya menjadi kemenangan terbesar Allah dalam menebus umat-Nya. Meskipun sulit untuk menanggung penderitaan, fakta bahwa Allah tetap berdaulat, kenyataan itu harus sangat menghibur kita. Dia mampu menggunakan setiap keadaan untuk bekerja demi kebaikan dan kemuliaan-Nya. (t/N.Risanti)

Diterjemahkan dari: Nama situs : klooftheology.org URL : https://www.klooftheology.org/understanding-the-sovereignty-of-god.html Judul asli artikel : Understanding the Sovereignty of God Penulis artikel : Antonio Coppola

Diskusi Artikel "Mengapa Kita Mendidik Anak-Anak Perempuan Kita"

Kam, 22/08/2019 - 12:20

Bulan Juli lalu, diadakan diskusi di Facebook Grup Wanita Kristen bertema "Mengapa Kita Mendidik Anak-Anak Perempuan Kita". Berkenaan dengan hari Anak Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli, diskusi ini diselenggarakan dengan tujuan agar para wanita, khususnya ibu-ibu Kristen, semakin memahami peranan pendidikan bagi anak-anak perempuan. Berlangsung dalam waktu hampir 2 minggu, diskusi dipimpin oleh saya sebagai moderator, serta diikuti secara aktif oleh beberapa anggota komunitas Wanita Kristen.

Ada lima pertanyaan yang saya ajukan sebagai moderator kepada para peserta sebagai bahan dalam diskusi kali ini. Masing-masing adalah:

  1. Mengapa beberapa budaya dan agama di dunia menentang pendidikan bagi anak-anak perempuan?
  2. Bagaimana pendidikan bagi anak-anak, khususnya anak-anak perempuan, berperan dalam pengenalan mereka akan Allah?
  3. Dalam artikel paragraf terakhir disebutkan, "Allah tidak memanggil anak-anaknya, para pria atau wanita, ke dalam ketidakmatangan" Apa arti dari ketidakmatangan dalam konteks ini?
  4. Menurut Anda, apa tanggung jawab orang tua dan gereja dalam pendidikan anak?

Setiap pertanyaan dijawab dengan pemikiran serta pengalaman dari peserta diskusi, yang diharapkan akan menambah wawasan dan pemikiran bagi yang lain. Tentu saja, tujuan akhir dari diskusi bukanlah menarik satu kebenaran yang harus disepakati oleh yang lain, melainkan untuk berbagi pikiran dan pendapat atas satu isu yang dikemukakan. Dengan begitu, setiap peserta diskusi dapat menerima wawasan dan pemikiran dari pendapat yang lain, dan sebaliknya, saat mereka mengungkapkan pendapat atau pengalamannya. Dan, saya pikir, dalam diskusi komunitas Wanita Kristen semangat ini sudah dapat ditangkap oleh setiap peserta sehingga diskusi dapat berlangsung dengan cukup hidup dan dinamis.

Yang menarik, ada satu peserta yang berprofesi sebagai Guru PAUD dari kota Binjai, yang tentu sudah bergumul dan sudah menjadikan isu ini sebagai "makanan" sehari-hari. Selain itu, hampir semua peserta sudah memahami pentingnya peran pendidikan bagi anak perempuan, terutama untuk mendukung pertumbuhan rohani dan iman mereka kepada Tuhan. Sayang sekali, hanya ada beberapa gelintir anggota komunitas yang aktif mengikuti diskusi ini. Jika saja ada lebih banyak anggota komunitas yang berpartisipasi, tentu diskusi akan berlangsung dengan lebih hidup dan semakin memperkaya wawasan dari setiap peserta, termasuk saya sebagai moderator.

Berikut saya lampirkan beberapa kesan dan pesan dari anggota diskusi Wanita Kristen pada akhir diskusi:

Riani Brahmana: Saya juga sangat berterimakasih atas diikutsertakannya saya dalam diskusi ini sehingga bertambahlah wawasan saya akan pentingnya pengetahuan buat anak-anak perempuan dan lelaki akan pengajaran tentang Tuhan.

Melli Lo: Saya sangat bahagia menjadi bagian dalam grup ini, khususnya saat mengikuti diskusi pendidikan anak. Saya berharap e-Wanita mengadakan diskusi-diskusi lagi dengan topik berbeda, khususnya bagaimana kita harus hidup layak di hadapan Tuhan dan manusia sebagai WANITA ALLAH, agar grup ini benar-benar dapat memunculkan wanita-wanita teguh dan kukuh dalam iman. Juga menjadi ibu-ibu yang kuat dalam mempersiapkan generasi yang takut akan Tuhan, menjadi penolong bagi suami, dan pribadi yang melayani dan mengasihi Tuhan dengan segenap hati, bukan sekadar pelayan gereja. Saya berharap grup ini benar-benar menjadi wadah yang bermanfaat bagi kita semua, tidak sekadar buang-buang waktu percuma. Salam Kasih.

Magrita Indah: Kesan saya mengikuti diskusi ini: Seperti kalimat yang terdapat dalam artikel, "Dia memanggil mereka semua untuk mendapatkan pendidikan secara penuh", wanita juga berhak mendapatkan pendidikan yang penuh untuk mencapai kematangan sebagai pendidik generasi selanjutnya. Terima kasih.

Neti Estin Ria: "Nasib anak-anak ada di tangan Sang Ibu." - NN. Saya sendiri memperhatikan keluarga saya. Ibu yang memiliki iman yang kuat dan rajin/bertanggung jawab, punya anak-anak yang berhasil dibandingkan ibu yang malas dan malas juga ke gereja. Ibu yang mendidik anak-anaknya, meskipun mungkin dengan cara yang terlihat keras, anaknya juga berbeda. Saya sendiri melihat ibu angkat saya mendidik saya. Memang agak keterlaluan, tapi sekarang saya bisa melihat bahwa didikan ibu membuat saya jadi pejuang. Kadang orang tua tidak tega menyuruh anak, "melepas" anak berusaha sendiri, tapi justru itu yang mereka perlu. Ibu yang percaya Tuhan dan menaruh ke dalam tangan Tuhan segala yang terjadi dalam hidup anaknya, akan dituntun oleh Tuhan dalam mendidik anak-anaknya. Dan, kadang Tuhan sendiri yang menolong anak-anak kita. Ini pengalaman saya.

Nah, sampai jumpa lagi dalam diskusi komunitas e-Wanita maupun Wanita Kristen pada lain kesempatan. Kiranya para wanita Kristen akan semakin diperlengkapi dan berdampak melalui diskusi komunitas ini. Tuhan Yesus memberkati.

Tinggalkan Komentar