Natal

Batu Bara yang Banyak Sekali

Di malam Natal tahun 1948, salju turun terus-menerus, berputar, dan bergerak di sekeliling truk pembuangan sampah saya yang sudah tua saat saya menyetir menuju Gunung West Virginia. Salju sudah turun berjam-jam dan kedalamannya telah mencapai 20 hingga 25 cm. Tugas saya saat itu adalah mengantarkan batu bara untuk para penambang yang tinggal di perkampungan batu bara. Saya selesai lebih cepat dari waktu yang seharusnya dan sedang dalam perjalanan pulang. Read more... about Batu Bara yang Banyak Sekali

Kategori: 

Dalam Dia Ada Hidup

Saya selalu menyukai cerita kelahiran Kristus yang ditulis Lukas dan Matius. Tetapi cara Yohanes menuliskan tentang kedatangan-Nya selalu membangkitkan semangat saya. "Pada mulanya adalah Firman ... Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita ...", "Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia" (Yohanes 1:1, 14; 1:4). Read more... about Dalam Dia Ada Hidup

Kategori: 

Dua Malaikat Kecil

Pada malam Natal, setelah menyelesaikan ketikan, saya berdiri dengan hati sedih di tengah kerumunan orang banyak, sambil menunggu datangnya kereta api bawah tanah. Sepanjang pagi saya bekerja sendiri karena semua teman kerja saya sudah mulai berlibur hari itu. Read more... about Dua Malaikat Kecil

Kategori: 

Bersinar

Saat kami menyantap makan malam sembari membaca kalender adven, tokoh orang Majus hampir tiba di kota Bethlehem. Kini giliran Sanna yang berusia 15 tahun untuk membaca dengan suara nyaring, namun pikirannya melayang-layang sehingga ketiga orang Majus tersebut sepertinya tidak bisa sampai ke palungan di kandang domba secepatnya. Read more... about Bersinar

Kategori: 

Lagu Kesukaan Bagi Dunia

Dari tahun 1712 sampai dengan tahun 1748, kota London adalah tempat kediaman dua orang pria yang terkenal semasa hidupnya, dan yang masih tetap terkenal sampai sekarang. Mereka adalah Isaac Watts dan George F. Handel. Kedua orang itu hidup melajang. Dalam Westminster Abbey, yaitu gereja kenegaraan di Britania Raya, terdapat ukiran yang mengingatkan orang-orang akan mereka. Read more... about Lagu Kesukaan Bagi Dunia

Kategori: 

Apa yang Didapat di Hari Natal?

Beberapa saat sebelum membuat tulisan ini aku mengirimkan SMS ke abangku yang tinggal di tanah kelahiranku. Aku bertanya padanya, apakah tradisi khusus perayaan Natal di kota pesisir itu masih ada? Lalu ia menjawab, "Tradisi perayaan Natal seperti itu sudah tidak ada lagi. Kami pergi ke gereja pukul 17.00 WIB, dan pulang larut malam, pada saat itu, kota telah sepi." Wah ... aku kaget mendengar jawaban itu! Jauh dalam lubuk hatiku muncul rasa kehilangan sesuatu. Apa yang terjadi dengan kota kelahiranku? Apakah di kota itu, Natal tidak lagi menjadi momen penting yang harus diperingati? Read more... about Apa yang Didapat di Hari Natal?

Kategori: 

Natal -- Waktu Untuk Beribadah

Setiap tahun menjelang liburan Natal, pelukis-pelukis di kota kami membuat gambar suasana Natal pada jendela-jendela toko. Saya dan suami saya baru saja mengamat-amati dari dalam toko kami sewaktu seorang wanita muda mulai melukis jendela toko kami.

Mula-mula, di satu sudut jendela, ia melukis sebuah bintang. Lalu di sudut yang lain ia menggambar seekor domba putih, dan sedikit demi sedikit dengan rasa ingin tahu yang semakin besar, kami mulai melihat sketsa seorang manusia. Akhirnya pelukis itu mengajak kami pergi ke luar melihat lukisan yang sudah selesai: Hari Natal pertama. Ia menggambar Maria, dan bayi Yesus tidur di pangkuannya. Lukisan itu memang bukan karya seni yang besar, tetapi lukisan itu menggambarkan kasih yang begitu tulus yang menyentuh hati saya. Read more... about Natal -- Waktu Untuk Beribadah

Kategori: 

Paman Max yang Kikir

Ketika berusia sebelas tahun saya merasa Paman Max (dilafalkan "Mox" di keluarga kami) adalah orang teraneh yang pernah ada. Max Maegdefessel menikah dengan Bibi Gustie sejak zaman dahulu kala dan ia bukanlah paman favorit saya. Mungkin penyebabnya adalah karena karena foto dirinya sebagai tentara Prusia yang dipajang di rumah mereka. Dengan kumis, jenggot, rambut abu-abunya yang terpotong cepak, ia terlihat seperti seorang pemimpin tentara musuh yang memimpin tentaranya untuk menghancurkan lawan dalam peperangan. Atau, mungkin karena saya terlalu sering dipaksa menonton Gesangverein karya Richard Wagner, yang beberapa pemainnya sangat mirip dengan Paman Max. Mereka berdiri bersama di panggung sambil menyemprotkan ludah, meneriakkan lagu-lagu yang terdengar sangat bodoh di telinga saya. Read more... about Paman Max yang Kikir

Kategori: 

Pages

Tinggalkan Komentar